• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUKU PEDOMAN PELAKSANAAN KESEHATAN DAN K

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BUKU PEDOMAN PELAKSANAAN KESEHATAN DAN K"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)

BUKU PEDOMAN PELAKSANAAN

KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

UNTUK PRAKTEK DAN PRAKTIKUM

PROGRAM D3 TEKNIK KESEHATAN GIGI

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS AIRLANGGA

(2)

BUKU PEDOM AN PELAKSANAAN

KESEHATAN DAN KESELAM ATAN KERJA

UNTUK PRAKTEK DAN PRAKTIKUM

PROGRAM STUDI TEKNIK KESEHATAN GIGI

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS AIRLANGGA

(3)

PROGRAM STUDI TEKNIK KESEHATAN GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS AIRLANGGA

Kode Dok. :

01/ PP/ K3-01/ 2008

BUKU PEDOM AN PELAKSANAAN KESEHATAN DAN KESELAM ATAN KERJA

Revisi No. :

Tgl. Terbit : 7/ 4/ 2008 Halam an : 1-68

PEDOM AN PELAKSANAAN

KESEHATAN DAN KESELAM ATAN KERJA

UNTUK PRAKTEK DAN PRAKTIKUM

DI LABORATORIUM TEKNIK GIGI

PROGRAM STUDI TEKNIK KESEHATAN GIGI

DISUSUN OLEH :

ANNASYIATUL UHUD, SKM., A.Md

KURNIAWATI, A.Md

SONYA HARWASIH, Drg., M.Kes

(4)

KATA PENGANTAR

Sesuai dengan Undang-Undang No. 1 t ahun 1970 mengenai Kesehat an dan

Keselamat an Kerja dan mengingat bahw a di Laborat orium/ Ruang Prakt ikum pada Program

St udi Teknik Kesehat an Gigi (PSTKG) beresiko unt uk t erjadinya gangguan kesehat an

lingkungan dan keselamat an kerja, sert a dalam upaya meningkat kan perlindungan maupun

pelest arian lingkungan dalam segala akt ivit as, maka dibut uhkan t indakan pencegahan.

Barkait an dengan hal t ersebut diat as, maka diperlukan Pedoman Pelaksanaan

Kesehat an dan Keselamat an Kerja (K3) maupun penyediaan sarananya. Pedoman

Pelaksanaan K3 ini disusun dan dit ujukan khususnya unt uk kepent ingan dosen, mahasisw a

dan karyaw an di lingkungan PSTKG dengan t ujuan unt uk memast ikan komit men PSTKG

dalam hal penerapan K3 bisa t erlaksana secara rut in dan berkelanjut an.

Unt uk it u seluruh dosen, mahasisw a dan karyaw an maupun pihak-pihak t erkait

diw ajibkan melaksanakan dan ment aat i ket ent uan-ket ent uan st andar K3 yang disyarat kan

dalam buku pedoman ini, dengan demikian pencegahan t erhadap hal-hal yang t idak

diinginkan dapat dihindari.

At as perhat ian dan kerjasama semua pihak, saya ucapkan t erima kasih.

Surabaya,...

Ket ua Program Pendidikan Diploma III

(5)

KEBIJAKAN K3PSTKG

Sudah menjadi kebijaksanaan KPS D3 agar set iap dosen, mahasisw a dan karyaw an

mendapat kan t empat yang aman dan sehat dalam melaksanakan t ugas sehari-hari. Pada

prinsipnya semua pihak harus berupaya sert a mengambil langkah-langkah posit if sehingga

seluruh dosen, mahasisw a dan karyaw an t erjamin dan bekerja dengan aman dan sehat .

Secara garis besar, kebijakan ini adalah:

1. M eningkat kan kesadaran dan memberikan pengert ian bahw a kecelakaan it u dapat

dicegah.

2. M emberikan pengert ian bahw a t arget ut ama K3PSTKG adalah “ zero accident ” .

3. M engut amakan keselamat an dosen, mahasisw a dan karyaw an dari penggunaan

peralat an dan bahan di Laborat orium Teknik Gigi.

4. M enjamin bahw a semua dosen, mahasisw a dan karyaw an t elah menget ahui dan

melaksanakan pekerjaannya secara produkt if yait u dengan cara yang aman melalui

pet unjuk yang benar, inst ruksi pekerjaan yang t epat , inst ruksi pemakaian peralat an

yang t epat , inst ruksi pemakaian bahan yang t epat melalui pengaw asan yang t epat .

5. M enyediakan fasilit as, peralat an, perlengkapan keselamat an kerja yang layak dan

memadai sert a menjamin akan digunakan secara t epat .

6. M emast ikan bahw a yang dimint a dan direkom endasikan dalam kebijakan K3 t elah

diikut i.

7. M eningkat kan perlindungan dan pelest arian lingkungan dalam segala akt ivit as dan

meminimumkan kerusakan yang mungkin t erjadi akibat akt ivit as t ersebut .

Semua dosen, mahasisw a dan karyaw an harus sudah menget ahui akan t anggung

jaw abnya masing-masing t ermasuk peduli akan kesehat annya, keselamat annya dan

lingkungan dit empat kerja, sehubungan dengan kebijakan diat as.

Surabaya,...

Ket ua Program Pendidikan Diploma III

(6)

DAFTAR ISI

BAB 2 KESEHATAN dan KESELAM ATAN KERJA 1.1 Program Pelayanan Kesehat an Kerja ... 8

2.1.1 Pelayanan Prevent if ... 8

2.1.2 Pelayanan Promot if ... 9

2.1.3 Pelayanan kurat if ... 9

2.1.4 Pelayanan Rehabilit at if ... 10

2.2 Bahaya Pot ensial di Laborat orium Teknik Gigi... 10

2.2.1 Chemical Agent ... 10

2.2.4 Psycological Agent ... 17

2.2.5 Ergonom ical Agent ... 17

2.4 Persyarat an Kesehat an Kerja di Perkant oran ... 33

BAB 3 PEDOM AN SISTEM M ANAJEM EN K3 3.1 Tahap Persiapan ... 40

(7)

3.2 Tahap Perencanaan ... 41

3.3 Tahap Pengorganisasian ... 42

3.3.1 Tugas dan Fungsi Organisasi ... 43

3.3.2 Tugas pokok dan fungsi KPS D3 dalam SM K3 PSTKG ... 44

3.3.3 St rukt ur Organisasi K3 PSTKG ... 45

3.3.4 M odel Organisasi ... 45

3.3.5 Keanggot aan ... 46

3.3.6 M ekanisme Kerja ... 46

3.4 Tahap Pelaksanaan ... 47

3.5 Tahap Pemant auan dan Evaluasi ... 48

BAB 4 PENUTUP Daft ar Pust aka ... viii

(8)

DAFTAR BAGAN

Nomor Judul Bagan Hal

Bagan 1.1 Alur K3PSTKG ... 6

Bagan 1.2 Diagram Alur Pengendalian Bahaya Pot ensial ... 7

Bagan 3.1 Prinsip Penerapan SM K3 ... 40

Bagan 3.2 St rukt ur Organisasi K3PSTKG ... 45

(9)

DAFTAR LAM PIRAN

Nomor Judul Bagan Hal

Lampiran 1 Pet unjuk Pengguanaan Alat di LabTekGi

Lampiran 2 Pet unjuk Penggunaan Alat Pemadam Kebakaran

(10)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Penjelasan Umum.

Kesehat an kerja (Occupat ional healt h) merupakan bagian dari kesehat an masyarakat

yang berkait an dengan semua pekerjaan yang berhubungan dengan fakt or pot ensial yang

mempengaruhi kesehat an pekerja (dalam hal ini Dosen, M ahasisw a dan Karyaw an). Bahaya

pekerjaan (akibat kerja), Sepert i halnya masalah kesehat an lingkungan lain, bersifat akut

at au khronis (sement ara at au berkelanjut an) dan efeknya mungkin segera t erjadi at au perlu

w akt u lama. Efek t erhadap kesehat an dapat secara langsung maupun t idak langsung.

Kesehat an masyarakat kerja perlu diperhat ikan, oleh karena selain dapat menimbulkan

gangguan t ingkat produkt ifit as, kesehat an masyarakat kerja t ersebut dapat t imbul akibat

pekerjaanya.

Sasaran kesehat an kerja khususnya adalah para pekerja dan peralat an kerja di

lingkungan PSTKG. M elalui usaha kesehat an pencegahan di lingkungan kerja masing-masing

dapat dicegah adanya penyakit akibat dampak pencemaran lingkungan maupun akibat

akt ivit as dan produk PSTKG t erhadap masyarakat konsumen baik di lingkungan PSTKG

maupun masyarakat luas.

Tujuan kesehat an kerja adalah:

1. M emelihara dan meningkat kan derajat kesehat an masyarakat pekerja di semua

lapangan pekerjaan ket ingkat yang set inggi-t ingginya, baik fisik, ment al maupun

kesehat an sosial.

2. M encegah t imbulnya gangguan kesehat an masyarakat pekerja yang diakibat kan oleh

t indakan/ kondisi lingkungan kerjanya.

3. M emberikan perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaanya dari kemungkinan bahaya

yang disebabkan olek fakt or-fakt or yang membahayakan kesehat an.

4. M enempat kan dan memelihara pekerja di suat u lingkungan pekerjaan yang sesuai

dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjanya.

Kesehat an kerja mempengaruhi manusia dalam hubunganya dengan pekerjaan dan

lingkungan kerjanya, baik secara fisik maupun psikis yang meliput i, ant ara lain: met ode

(11)

bekerja, kondisi kerja dan lingkungan kerja yang mungkin dapat menyebabkan kecelakaan,

penyakit at aupun perubahan dari kesehat an seseorang. Pada hakekat nya ilmu kesehat an

kerja mempelajari dinamika, akibat dan problemat ika yang dit imbulkan akibat hubungan

int erakt if t iga kom ponen ut ama yang mempengaruhi seseorang bila bekerja yait u:

1. Kapasit as kerja: St at us kesehat an kerja, gizi kerja, dan lain-lain.

2. Beban kerja: fisik maupun ment al.

3. Beban t ambahan yang berasal dari lingkungan kerja ant ara lain:bising, panas, debu,

parasit , dan lain-lain.

Bila ket iga komponen t ersebut serasi maka bisa dicapai suat u kesehat an kerja yang

opt imal. Sebaliknya bila t erdapat ket idakserasian dapat menimbulkan masalah kesehat an

kerja berupa penyakit at aupun kecelakaan akibat kerja yang pada akhirnya akan

menurunkan produkt ifit as kerja.

1.2 Tujuan.

Buku pedoman ini disusun dengan t ujuan unt uk memast ikan agar komit men PSTKG

dalam hal penerapan K3 bisa t erlaksana secara rut in dan berkelanjut an.

1.3 Sasaran.

Sasaran kesehat an kerja di lingkungan Laborat orium Teknik Gigi Program St udi Teknik Kesehat an Gigi Fakult as Kedokt eran Gigi Universitas Airlangga adalah Dosen, M ahasisw a dan Karyaw an yang t erlibat langsung dengan peralat an kerja dan m at erial kedokt eran gigi sert a lingkungan sekit arnya. Sasaran yang dit uju dalam penerapan K3PSTKG adalah:

a. M enghindari adanya kecelakaan kerja.

b. M enghindari adanya penyakit akibat kerja.

c. M enyediakan lingkungan kerja yang sehat .

d. M enghindari t erjadinya efek negat if t erhadap lingkungan yang diakibat kan oleh

akt ivit as kerja.

1.1 Ruang Lingkup.

Ruang lingkup kegiat an K3PSTKG mencakup kegiat an K3 di ruang dosen dan

Laborat orium Teknik Gigi (ruang prakt ikum mahasisw a, lab basah, lab pelayanan). Pedoman

(12)

a. M engendalikan resiko K3 dan meningkat kan kinerjanya.

b. M enet apkan SM K3 unt uk mengurangi resiko bagi dosen, mahasisw a dan karyaw an

sert a pihak lain yang berkepent ingan yang mungkin mengalami bahaya K3 akibat

kegiat annya.

c. M enerapkan, memelihara dan melakukan perbaikan SM K3 secara berkelanjut an.

Tingkat penerapannya akan bergant ung pada beberapa fakt or, sepert i kebijakan

organisasi K3, sifat kegiat an dan resiko sert a kerumit an dalam pekerjaan.

1.5 Referensi.

Adapun dasar hukum yang t erkait dengan pelaksanaan sist em manajemen K3

ant ara lain:

a. UU No.1 t ahun 1970 t ent ang Kesehat an dan Keselamat an Kerja.

b. UU No.23 t ahun 1992 t ent ang Kesehat an.

c. Undang-undang Nomor 13 t ahun 2003 t ent ang Ket enagakerjaan.

d. Keput usan M ent eri Tenaga Kerja RI Nomor: Kep-51/ M en/ 1999 Tent ang Nilai Am bang

Bat as Fakt or Fisika di t empat kerja.

e. Keput usan M ent eri Tenaga Kerja RI Nomor: Kep-187/ M en/ 1999 Tent ang Pengendalian

Bahan Kim ia Berbahaya di t empat kerja.

f. Perat uran Pemerint ah Nomor 27 t ahun 1999 t ent ang Analisis M engenai Dampak

Lingkungan.

g. Surat Edaran Dirjen Binaw as No.SE.05/ BW/ 1997 t ent ang Penggunaan Alat Pelindung

Diri.

h. Perat uran M ent eri Tenaga Kerja No: PER.05/ M EN/ 1996 t ent ang Sist em M anajemen

Kesehat an dan Keselamat an Kerja.

i. Keput usan Presiden Nomor 22 t ahun 1993 t ent ang Penyakit yang t imbul Akibat

kesehat an dan keselamat an kerja sekt or kesehat an.

(13)

1.3 Istilah dan Definisi.

Dalam buku pedoman ini digunakan ist ilah dan definisi sebagai berikut :

1. PSTKG (Program St udi Teknik Kesehat an Gigi) adalah Program Pendidikan Diploma III

yang ada di lingkungan Fakult as Kedokt eran Gigi Universit as Airlangga.

2. K3 (Kesehat an dan Keselamat an Kerja) adalah kondisi dan fakt or yang mempengaruhi

kesehat an dan keselamat an pegaw ai at au pekerja lain (t ermasuk pekerja sement ara),

pengunjung at au orang lain di daerah kerja.

3. Organisasi adalah unit kerja dan/ at au unit kegiat an lainnya di lingkungan PSTKG yang

memiliki t ugas dan administ rasinya sendiri.

4. M anajemen puncak adalah seseorang yang memiliki w ew enang dan t anggung jaw ab

t ert inggi dalam organisasi.

5. Kinerja K3 adalah hasil yang dapat diukur dari risiko K3 pada suat u manajemen

organisasi.

Cat at an:

a. Pengukuran kinerja meliput i pengukuran efekt ivit as pengendalian

organisasi.

b. Dalam kont eks SM K3, hasil juga dapat diukur t erhadap kebijakan K3,

sasaran K3, dan persyarat an kinerja K3 lainnya dari organisasi.

6. SM K3 (Sist em M anajemen K3) adalah bagian dari sist em manajemen organisasi yang

digunakan unt uk mengembangkan dan menerapkan kebijakan K3, mengelola risiko

K3-nya sert a menumbuhkembangkan budaya keselamat an kerja.

Cat at an:

a. Sist em manajemen adalah rangkaian unsur saling t erkait yang digunakan

unt uk menet apkan kebijakan dan sasaran, sert a unt uk mencapai sasaran

t ersebut .

b. Sist em manajemen meliput i st rukt ur organisasi, kegiat an perencanaan,

(t ermasuk penilaian risiko dan penet apan sasaran), t anggung jaw ab,

prakt ek, prosedur, proses dan sumber daya.

7. Perbaikan berkelanjut an adalah proses berulang nt uk meningkat kan SM K3 unt uk

mencapai kesempurnaan dalam kinerja k3 secara keseluruhan, konsist en dengan

(14)

8. Risiko adalah gabungan dari kemungkinan t erjadinya bahaya at au paparan dan

keparahan luka at au gangguan kesehat an yang dapat disebabkan oleh kejadian at au

paparan.

9. Sasaran K3 adalah t ujuan K3, dalam hal kinerja K3, yang dit et apkan organisasi unnt uk

dicapai.

10. Prosedur adalah langkah-langkah t ert ent u unt uk melakukan suat u kegiat an at au proses.

11. Insiden adalah perist iw a t erkait pekerjaan yang mengakibat kan at au dapat

menimbulkan cedera at au gangguan kesehat an (t anpa memperhat ikan keparahannya)

at au kemat ian, at au kejadian yang dapat menimbulkan kemat ian.

Cat at an:

a. Kecelakaan adalah insiden yang mengakibat kan cedera, gangguan

kesehat an at au kemat ian.

b. Insiden t anpa t erjadi cedera, gangguan kesehat an at au kemat ian disebut

pula sebagai “ kejedian nyaris celaka” (near-m iss) at au kejadian berbahaya.

c. Keadaan darurat merupakan jenis t ert ent u dari insiden.

12. Audit adalah proses yang sist emat is, independen dan t erdokument asi unt uk

memperoleh bukt i audit dan mengevaluasinya secara obyekt if unt uk menent ukan

sejauh mana krit eria audit t elah dipenuhi.

Cat at an:

a. Independen t idak berart i di luar organisasi. Dalam banyak hal, t erut ama

pada organisasi yang lebih kecil, independen dapat dit unjukkan dengan

ket idakt erlibat an dalam t anggung jaw ab ada kegiat an yang diaudit .

b. Bukt i audit adalah rekaman, pernyat aan t ent ang fakt a at au informasi lain

yang relevan dengan krit eria audit dan dapat diverifikasi.

c. Krit eria audit adalah ekumpulan kebijakan, prosedur at au persyarat an.

(15)

3. Pendidikan dan lat ihan

cara kerja yang benar

dengan bahan kim ia yang bersifat irit at if, m isalnya : processing acrylic, pengadukan bahan t anam .

d. Gunakan sarung t angan kulit pada saat bekerja dengan alat yang m enghasilkan panas, misalnya : ket ika m elakukan boiling out dan pengecoran logam . e. Gunakan kacam at a kerja pada saat melakukan

pekerjaan yang m enghasilkan debu, m isalnya : m enggerinda logam dan akrilik.

f. Gunakan kacam at a hit am pada saat m elakukan pekerjaan yang m enghasilkan efek radiasi, m isalnya : m elakukan pengecoran logam .

(16)
(17)

berhasil

t idak berhasil

berhasil

t idak berhasil

berhasil

t idak berhasil

Bagan 1.2 Diagram alur pengendalian bahaya pot ensial di Labot orat orium t eknik Gigi. Bahaya pot ensial dari bahan dan

peralat an Laborat orium Teknik Gigi

Pengendalian

t eknik

Pengendalian

administ rat if

Pemakaian APD

Analisa resiko kuant it at if

Analisa resiko kuant it at if hanya dilakukan jika t erjadi

insiden

Tidak

diperlukan

pengendalian

lebih lanjut Tidak

diperlukan

pengendalian

lebih lanjut Tidak

diperlukan

pengendalian

(18)

BAB 2

KESEHATAN DAN KESELAM ATAN KERJA

2.1 Program Pelayanan Kesehatan Kerja.

Sebagaimana pelayanan kesehat an masyarakat pada umumnya, pelayanan

kesehat an masyarakat pekerja di Laborat orium t eknik Kesehat an Gigi dilaksanakan dengan

pendekat an menyeluruh (komprehensif) yait u meliput i pelayanan prevent if, promot if,

kurat if dan rehabilit at if.

2.1.1 Pelayanan Preventif.

Pelayanan ini diberikan guna mencegah t erjadinya penyakit akibat kerja, penyakit

menular dilingkungan kerja dengan mencipt akan kondisi pekerja dan mesin at au t empat

kerja agar ergonomis, menjaga kondisi fisik maupun lingkungan kerja yang memadai dan

t idak menyebabkan sakit at au mebahayakan pekerja sert a menjaga pekerja t et ap sehat .

Kegiat annya ant ara lain meliput i:

1. Pemeriksaan kesehat an yang t erdiri at as:

a. Pemeriksaan aw al/ sebelum kerja.

b. Pemeriksaan berkala.

c. Pemeriksaan khusus.

2. Imunisasi.

3. Kesehat an lingkungan kerja.

4. Perlindungan diri t erhadap bahaya dari pekerjaan.

5. Penyerasian manusia dengan mesin dan alat kerja.

6. Pengendalian bahaya lingkungan kerja agar ada dalam kondisi aman (pengenalan,

pengukuran dan evaluasi).

2.1.2 Pelayanan Promotif.

Peningkat an kesehat an (promot if) pada pekerja dimaksudkan agar keadaan fisik dan

ment al pekerja senant iasa dalam kondisi baik. Pelayanan ini diberikan kepada t enaga kerja

(19)

yang sehat dengan t ujuan unt uk meningkat kan kegairahan kerja, mempert inggi efisiensi dan

daya produkt ifit as t enaga kerja di lingkungan Laborat orium Teknik Kesehat an Gigi.

Kegiat annya ant ara lain meliput i:

1. Pendidikan dan penerangan t ent ang kesehat an kerja.

2. Pemeliharaan dan peningkat an kondisi lingkungan kerja yang sehat .

3. Peningkat an st at us kesehat an (bebas penyakit ) pada umumnya.

4. Perbaikan st at us gizi.

5. Konsult asi psikologi.

6. Olah raga dan rekreasi.

2.1.3 Pelayanan Kuratif.

Pelayanan pengobat an t erhadap t enaga kerja yang menderit a sakit akibat kerja

dengan pengobat an spesifik berkait an dengan pekerjaannya maupun pengobat an umum nya

sert a upaya pengobat an unt uk mencegah meluas penyakit menular dilingkungan pekerjaan.

Pelayanan ini diberikan kepada t enaga kerja yang sudah memperlihat kan gangguan

kesehat an/ gejala dini dengan mengobat i penyakit nya supaya cepat sembuh dan mencegah

komplikasi at au penularan t erhadap keluarganya at aupun t eman kerjanya.

Kegiat annya ant ara lain meliput i:

1. Pengobat an t erhadap penyakit umum.

2. Pengobat an t erhadap penyakit dan kecelakaan akibat kerja.

2.1.4 Pelayanan Rehabilitatif.

Pelayanan ini diberikan kepada pekerja karena penyakit parah at au kecelakaan parah

yang t elah mengakibat kan cacat , sehingga menyebabkan ket idakmampuan bekerja secara

permanen, baik sebagian at au seluruh kemampuan bekerja yang baisanya mampu dilakukan

sehari-hari.

Kegiat annya ant ara lain meliput i:

1. Lat ihan dan pendidikan pekerja unt uk dapat menggunakan kemampuannya yang masih

(20)

2. Penempat an kembali t enaga kerja yang cacat secara selekt if sesuai kemampuannya.

3. Penyuluhan pada masyarakat dan pengusulan agar mau menerima t enaga kerja yang

cacat akibat kerja.

2.3 Bahaya Potensial Di Laboratorium Teknik Kesehatan Gigi.

Bahaya pot ensial di Laborat orium Teknik Kesehat an Gigi dibagi menjadi lima

perant ara diant aranya: Chem ical agent , Physical agent , Biological agent , Psycological agent ,

Ergonom ical agent / M ecanical agent .

2.2.1 Chemical agent.

Bahan kimia yang berpot ensi menimbulkan bahaya di Laborat orium Teknik

Kesehat an Gigi adalah:

1.

Gypsum: Kalsium sulfat hemihidrat (CaSO4)2H2O.

2.

Acrylic (polimer dan m onomer): M et hyl m et acrylat e.

3.

Ceram ic: Feldspar (K2OAl2O3.6SiO2), Silica (SiO2), Alumina (Al2O3).

4.

Logam: NiCr, CoCr, Orden (CuAl), Silver alloy, Paladium (Pd), Tit anium (TiAlV), Berilium

(Be), Plat inum (Pt ), Cuprum (Cu), Argent um (Ag), dan lain-lain.

5.

W ax: Parafin (Ceresin), Get ah karet / get ah resin (resin alami).

6.

Bahan t anam: Fosfat bonded invest m en (NH4M gPO4.6H2O), Silica bonded invest men

(SiCOH)4+4C2H5OH).

7.

Bahan abrasive: Al2O3 (alum ina Oksida), Kapur/ calcium carbonat (CaCO2), Silica dari

alumina, Besi, cobalt , magnesim, dan lain-lain.

8.

Cairan elect rolit (H2SO4).

9.

Asap dari burn out manual.

2.2.2 Physical agent. 2.2.2.1 Debu.

Debu merupakan salah sat u sumber gangguan yang t idak dapat diabaikan. Dalam

kondisi t ert ent u debu merupakan bahaya yang dapat menimbulkan kerugian besar. Tempat

kerja yang prosesnya mengeluarkan debu, dapat menyebabkan pengurangan kenyamanan

(21)

kerja, gangguan penglihat an, gangguan fungsi faal paru-paru, bahkan dapat menimbulkan

keracunan um um.

Cont oh debu di Laborat orium Teknik Kesehat an Gigi:

Debu met al: debu hasil gerinda logam: NiCr, CoCr, dan lain-lain.

Debu mineral: bahan abrasive, akrilik, gypsum, debu proses sandblast ing, dan lain-lain.

2.2.2.1.1 Pengontrolan debu dalam ruang kerja:

1. M et ode pencegahan t erhadap t ransmisi ialah:

a.

M emakai met ode basah: Lant ai disiram air supaya debu t ak bert erbangan di udara.

Pengeboran basah (w et drilling) unt uk mengurangi debu yang ada di udara. Debu

jika di semprot dengan uap air akan berflocculasi lalu mengendap.

b.

Dengan alat : Scrubber, Elekt ropresipit at or, Vent ilasi umum.

2. Pencegahan t erhadap sumber: diusahakan debu t idak keluar dari sumber yait u dengan

pemasangan local exhaust er.

3. Perlindungan diri t erhadap pekerja ant ara lain berupa t ut up hidung at au masker.

2.2.2.2 Kebisingan.

Bising dapat diart ikan sebagai suara yang t imbul dari get aran-get aran yang t idak

t erat ur dan periodik, kebisingan merupakan suara yang t idak dikehandaki. M anusia masih

mampu mendengar bunyi dengan frekw ensi ant ara 16-20.000 Hz, dan int ensit as dengan

nilai ambang bat as (NAB) 85 dB (A) secara t erus menerus. Int ensit as lebih dari 85 dB dapat

menimbulkan gangguan dan bat as ini disebut crit ical level of int ensit y. Kebisingan

merupakan masalah kesehat an kerja yang t imbul di Laborat orium Teknik Kesehat an Gigi.

Sumber kebisingan berasal dari suara mesin gerinda dan suara kompresor pada proses

sandblast ing, suara mesin t rimer, dan lain-lain.

2.2.2.2.1 Gangguan Kebisingan di tempat Kerja.

Pengaruh ut ama dari kebisingan t erhadap kesehat an adalah kerusakan pada

indera-indera pendengar, yang menyebabkan ket ulian progresif. Gangguan kebisingan dit empat

(22)

1. Gangguan Fisiologis.

Gangguan fisiologis adalah gangguan yang mula-mula t imbul akibat bising. Dengan kat a

lain fungsi pendengaran secara fisiologis dapat t erganggu. Pembicaraan at au inst ruksi

dalam pekerjaan t idak dapat didengar secara jelas sehingga dapat menimbulkan

kecelakaan kerja. Pembicara t erpaksa bert eriak-t eriak, selain memerlukan t enaga ekst ra

juga menimbulkan kebisingan. Kebisingan juga dapat mengganggu cardiac out put dan

t ekanan darah.

2. Gangguan Psikologis.

Gangguan fisiologis lama-lama bisa menimbulkan gangguan psikologis. Suara yang t idak

dikehendaki dapat menimbulkan st ress, gangguan jiw a, sulit konsent rasi dan berfikir,

dan lain-lain.

3. Gangguan Pat ologis Organis.

Gangguan kebisingan yang paling menonjol adalah pengaruhnya t erhadap alat

pendengaran at au t elinga, yang dapat menimbulkan ket ulian yang bersifat sement ara

hingga permanent .

2.2.2.2.2 Pengendalian Kebisingan dilingkungan kerja.

1.

M enghilangkan t ransmisi kebisingan t erhadap pekerja.

Unt uk menghilangkan at au mengurangi t ransmisi kebisingan t erhadap pekerja dapat

dilakukan dengan isolasi t enaga kerja at au mesin yait u dengan menut up at au menyekat

mesin at au alat yang yang mengeluarkan bising. Pada dasarnya unt uk menut up

mesin-mesin yang bising adalah sebagai berikut :

a. M enut up mesin serapat mungkin.

b. M engolah pint u-pint u dan semua lobang secara akust ik.

c. Bila perlu mengisolasi mesin dari lant ai unt uk mengurangi penjalaran get aran.

2.

M enghilangkan kebisingan dari sumber suara.

M enghilangkan kebisingan dari sumber suara dapat dilakukan dengan menempat kan

perendam dalam sumber get aran.

3.

M engadakan perlindungan t erhadap karyaw an.

Usaha melindungi karyaw an dari kebisingan dilingkungan kerja dengan memakai alat

pelindung t elinga at au personal prot ect ive device yait u berupa ear plugs dan ear m uffs.

(23)

2.2.2.3 Getaran.

Pemaparan t erhadap get aran pada umumnya berasosiasi dengan pemaparan

t erhadap kebisingan, karena get aran dan kebisingan lebih sering berasal dari sumber yang

sama. Get aran dapat diart ikan sebagai gerakan suat u sist em bolak balik, gerakan t ersebut

dapat berupa gerakan yang harmonis sederhana dapat pula sangat kompleks yang sifat nya

dapat periodik at au random, st eady at au t ransient , kont inyu at au int erm it t ent. Sist em

t ersebut dapat berupa gas (udara), cairan (liquid), dan padat (solid). Part ikel-part ikel dari

suat u sist em (gas, cair dan padat ) mempunyai karakt erist ik sebagai berikut yait u

mempuanyai amplit udo, kecepat an dan percepat an (akselerasi). Get aran dapat

menimbulkan gangguan pada jaringan secara mekanik dan gangguan rangsangan resept or

syaraf didalam jaringan. Pada efek mekanis, sel-sel jaringan mungkin rusak at au

met abolismenya t erganggu. Sedangkan pada rangsangan resept or, gangguan t erjadi

mungkin melalui syarap sent ral at au langsung pada sist em aut onom. Kedua mekanisme ini

t erjadi secara bersama-sama.

2.2.2.3.1 Pengaruh Getaran terhadap M anusia.

Dampak get aran t erhadap t ubuh manusia sangat t ergant ung pada sifat pemaparan,

yait u bagian t ubuh yang kont ak dengan sumber get aran. Bent uk pemaparan dapat dibagi

dalam dua kat agori yait u:

1. Pemaparan seluruh t ubuh.

2. Pemaparan yang bersifat segment al yait u hanya bagian t ubuh t ert ent u (m isalnya:

lengan dan bahu) yang mengalami kont ak dengan sumber get aran. Dua gejala t erut ama

dit emukan sehubungan dengan akibat -akibat get aran mekanis pada lengan adalah

kelainan pada peredaran darah dan persyarafan sert a kerusakan pada persendian dan

t ulang.

Cont oh yang t erjadi di Laborat orium t eknik Kesehat an Gigi:

Get aran Handpiece saat menggerinda.

(24)

2.2.2.3.2 M engontrol Getaran:

Beberapa cara unt uk mengont rol at au mengurangi get aran adala sebagai berikut :

1. Isolasi sumber get aran.

M empergunakan bahan isolat or yang mempunyai kemampuan yang baik unt uk

meredam get aran yang dit ransmisikan sumber (mesin) t erhadap isolat or. Isolat or yang

baik unt uk meredam get aran t ersebut dari mat erial yang mempunyai frekw ensi

resonansi lebih kecil dari frekw ensi sumber, biasanya dipergunakan bahan yang t idak

kaku, frekw ensi isolat or akan saling meredam dengan frekw ensi sumber.

2. Damping (meredam get aran).

Damping adalah suat u mekanisme unt uk meredam get aran dengan cara menempelkan

suat u sist em resonan pada sumbu get aran. Dengan sist em resonan ini get aran dapat

dikurangi at au dihilangkan sama sekali. Beberapa cara damping dapat dilakukan sebagai

berikut :

a.

Dengan cara int erface damping.

b.

Dengan cara penerapan suat u lapisan mat erial: dapat dilakukan dengan

mempergunakan bahan yang lunak misalnya asphalt . Asphalt mempunyai

frekw ensi resonansi yang sangat rendah, sehingga dapat meredam get aran yang

3. M engurangi/ menghilangkan gangguan mekanik yang menyebabkan get aran.

Gangguan mekanik yang dit imbulkan get aran dapat dikont rol dengan mengurangi

pengaruh gesekan pada roda-roda dudukan m esin at au keseimbangan/ pemant apan

dudukan mesin dan lain-lain. Seringkali get aran mesin dapat dikurangi dengan cara

mengat ur keseimbangan put aran mesin dan lain-lain.

2.2.2.4 Suhu Udara.

Suhu t ubuh manusia yang dapat kit a raba/ rasakan t idak hanya didapat dari

met abolisme, t et api juga dipengaruhi oleh panas lingkungan. M akin t inggi panas lingkungan,

(25)

semakin besar pula pengaruhnya t erhadap suhu t ubuh. Sebaliknya semakin rendah suhu

lingkungan, makin banyak pula pans t ubuh akan hilang. Dengan kat a lain, t erjadi pert ukaran

panas ant ara t ubuh manusia yang didapat dari met abolisme dengan t ekanan panas yang

dirasakan sebagai kondisi panas lingkungan. Selama pert ukaran ini serasi dan seimbang,

t idak akan menimbulkan gangguan, baik penampilan kerja maupun kesehat an kerja.

Tekanan panas yang berlebihan akan merupakan beban t ambahan yang harus diperhat ikan

dan diperhit ungkan. Beban t ambahan berupa panas lingkungan dapat menyebabkan beban

fisiologis misalnya kerja jant ung menjadi bert ambah. Nilai ambang bat as unt uk cuaca (iklim)

kerja adalah 21

º

-30

º

C suhu basah. Suhu efekt if bagi pekerja di daerah t ropis adalah 22

º

-27

º

C. Yang dimaksud dengan t empert ur efekt if adalah suat u beban panas yang dapat dit erima oleh rt ubuh dalam ruangan. Temperat ur efekt if akan memberikan efek yang

nyaman bagi orang yang berada diluar ruagan. Cuaca kerja yang diusahakan dapat

mendorong produkt ifit as ant ara lain dengan air condit ioning di t empat kerja.

Kesalahan-kesalahan sering dibuat dengan membuat suhu t erlalu rendah yang berakibat

keluhan-keluhan dan kadang diikut i meningkat nya penyakit pernafasan. Sebaiknya diperhat ikan

hal-hal sebagaqi berikut :

a. Suhu dist el pada 25

º

-26

º

C.

b. Penggunaan AC di t empat kerja perlu disert ai pemikiran t ent ang keadaan pengat uran

suhu di rumah.

c. Bila perbedaan suhu di dalam dan luar lebih 5

º

C, perlu adanya suat u kamar adapt asi. Cont oh: suhu panas dari kompor, preheat ing furnace, porcelain furnace, pengecoran

logam, dan lain-lain.

2.2.2.5 Kelembaban Udara.

Kelembaban adalah: banyaknya air yang t erkandung dalam udara, biasa dinyat akan

dalam persent ase. Kelembaban ini berhubungan at au dipengaruhi oleh t emperat ur udara,

dan secara bersama-sama ant ara t emperat ur, kelembaban, kecepat an udara bergerak dan

radiasi panas dari udara t ersebut akan mempengaruhi keadaan t ubuh manusia pada saat

menerima at au melepaskan panas dari t ubunya. Suat u keadaan dengan t emperat ur udara

sangat panas dan kelembaban t inggi, akan menimbulkan pengurangan panas dari t ubuh

(26)

jant ung karena makin akt ifnya peredaran darah unt uk memenuhi kebut uhan oksigen, dan

t ubuh manusia selalu berusaha unt uk mencapai keseimbangan ant ara panas t ubuh dengan

suhu disekit arnya.

2.2.2.6 Pencahayaan.

Pada umumnya pekerjaan memerlukan upaya penglihat an. Unt uk melihat manusia

membut uhkan pencahayaan. Oleh sebab it u salah sat u masalah lingkungan di t empat kerja

yang harus diperhat ikan adalah pencahayaan. Pencahayaan yang kurang memadai

merupakan beban t ambahan bagi pekerja, sehingga dapat menimbulkan gangguan

performance (penampilan) kerja yang akhirnya dapat memberikan pengaruh t erhadap

kesehat an dan keselamat an kerja. Hal ini sangat erat kait annya dan mut lak harus ada karena

berhubungan dengan fungsi indera penglihat an, yang dapat mempengaruhi produkt ifit as

bagi t enaga kerja. Berdasarkan baku m ut u lingkungan kerja, st andar pencahayaan unt uk

ruangan yang dipakai unt uk melakukan pekerjaan yang memerlukan ket elit ian adalah

500-1000 Lux.

2.2.2.7 Radiasi.

Sumber radiasi dapat berasal dari alam dan buat an. Dampak radiasi t erhadap

kesehat an t ergant ung pada: lamanya t erpapar, jumlah yang diserap, t ipe dan lebih spesifik

lagi adalah panjang gelombang. Pancaran yang paling berbahaya adalah gelom bang pendek,

t ermasuk ionisasi dan radiasi sinar ult raviolet . Akibat radiasi ult raviolet pada umumnya

mengenai mat a dan kulit , bila mengenai mat a dapat menyebabkan conjuct ivit is.

Cont oh radiasi yang t erjadi di Laborat orium Teknik Kesehat an Gigi: Sinar mesin Light Cure,

Pengecoran logam, dan lain-lain.

2.2.3 Biological agent.

Fakt or biologi dapat berupa bakt eri, jamur dan mikroorganisme lain yang dibut uhkan

at au dihasilkan dari bahan baku, proses produksi dan proses penyimpanan hasil produksi.

Cont oh paparan biologi di Laborat orium Teknik Kesehat an Gigi adalah:

1. Sumber infeksi: t erpapar mikroorganisme (bakt eri, virus, jamur, dan lain-lain.).

misalnya:

(27)

a.

M odel cet akan yang belum didesinfeksi (bila menerima model cet akan dari dokt er

gigi harus harus direndam dalam larut an desinfekt an t erlebih dulu sebelum

dikerjakan).

b.

Repair dent ure: sebelum dent ure direpir harus direndam dalam larut an

desinfekt an, karena base akrilik muadah dit umbuhi jamur t erut ama candida

albicans.

c.

Penyimpanan model harus dit empat yang kering at au t empat yang t ahan

kelembaban unt uk menghindari t um buhnya jamur.

d.

M odel st one/ gypsum set elah dilepas dari cet akan lebih baik direndam dulu dalam

cairan desinfekt an.

2. Bahan irit an: paparan bahan yang bisa menimbulkan irit asi pada kulit ., m isalnya:

polim er akrilik, larut an elect ropolishing, dan lain-lain.

2.2.4 Psycological agent.

Psycological agent meliput i: t anggung jaw ab pekerjaan t erhadap orang lain, beban

kerja, ket rampilan, dan lain-lain.

Cont oh: perasaan w as-w as saat menunggu hasil set elah proses prakt ikum, dan lain-lain.

2.2.5 Ergonomical agent.

Ergonom i adalah penerapan ilm u-ilmu biologis t ent ang manusia bersama-sama

dengan ilmu-ilmu t eknik dan t eknologi unt uk mencapai penyesuaian sat u sama lain secara

opt imal dari menusia t erhadap pekerjaannya, yang manfaat dari padanya diukur dengan

efisiensi dan kesejaht eraan kerja. Ergonomi merupakan pert emuan dari berbagai lapangan

ilmu sepert i ant ropologi, biomet rika, faal kerja, higeine perusahaan dan kesehat an kerja,

perencanaan kerja, riset t erpakai, dan cybernet ika. Namun kekhususan ut amanya adalah

perencanaan dari cara bekerja yang lebih baik meliput i t at a kerja dan peralat annya.

Ergonom i dapat mengurangi beban kerja. Dengan evaluasi fisiologis, psikologis at au

cara-cara t ak langsung, beban kerja dapat diukur dan dinjurkan modifikasi yang sesuai ant ara

kapasit as kerja dengan beban kerja dan beban t ambahan. Tujuan ut amanya adalah unt uk

menjamin kesehat an kerja dan meningkat kan produkt ivit as.

1. Disain t empat kerja: gambaran dasar unt uk kenyamanan, produkt ifit as dan keamanan.

(28)

b.

Pencahayaan.

c.

Temperat ur, kelembaban dan vent ilasi

d.

M obilisasi (akt ifit as kerja).

e.

Fasilit as sanit asi dan drainase (t empat pembuangan lim bah cair dan padat ).

2. Proses dan disain perlengkapan: unt uk fungsi dan keamanan.

c. Disain t empat dan alat kerja akan mempengaruhi kenyamanan, keamanan dan

produkt ifit as dalam bekerja. M isalnya:

Posisi duduk pada saat membuat klamer, menekuk kaw at , menggerinda, melakukan sand blast ing, melakukan pemolesan, dan lain-lain.

A B

Gambar 1. A. Posisi pada saat m elakukan sand blast ing, B. Posisi pada saat m elakukan pem olesan dent ure

Posisi saat melakukan pengepresan, saat mengangkat handpress dan kuvet , saat mengangkat panci, dan lain-lain.

Gambar 2. Posisi pada saat m elakukan pengepresan

3. Fungsi dan t ugas: fungsi dan t ugas orang dengan pekerjaan yang pant as. M isalnya:

Karyaw an dibagian pengecoran logam, pengepressan harus punya spesifikasi t ert ent u

misalnya berat dan t inggi badan ideal, dan lain-lain.

(29)

2.3 Alat Pelindung Diri (APD).

M enurut hirarki upaya pengendalian diri (cont roling), alat pelindung diri

sesungguhnya merupakan hirarki t erakhir dalam melindungi keselamat an dan kesehat an

t enaga kerja dari pot ensi bahaya yang kemungkinan t erjadi pada saat melakukan pekerjaan,

set elah pengendalian t eknik dan adm inist rat if t idak mungkin lagi dit erapkan. Ada beberapa

jenis alat pelindung diri yang mut lak digunakan oleh t enaga kerja pada w akt u melakukan

pekerjaan dan saat menghadapi pot ensi bahaya karena pekerjaanya, ant ara lain sepert i t opi

keselamat an, safet y shoes, sarung t angan, pelindung pernafasan, pakaian pelindung, dan

sabuk keselamat an. Jenis alat pelindung diri yang digunakan harus sesuai dengan pot ensi

bahaya yang dihadapi sert a sesuai denga bagian t ubuh yang perlu dilindungi.

Sebagaimana t ercant um dalam undang-undang No. 1 t ahun 1970 t ent ang

keselamat an kerja, pasal 12 mengat ur mengenai hak dan kew ajiban t enaga kerja unt uk

mamakai alat pelindung diri. Pada pasal 14 menyebut kan bahw a pengusaha w ajib

menyediakan secara cuma-cuma sesuai alat pelindung diri yang diw ajibkan pada t enaga

kerja yang berada di baw ah pimpinannya dan menyediakan bagi set iap orang lain yang

memasuki t empat kerja t ersebut , disert ai dengan pet unjuk yag diperlukan.

Pot ensi bahaya yang kemugkinan t erjadi di t empat kerja, dan yang bisa dikendalikan

dengan alat pelindung diri adalah:

a.

Terjat uh, t erpeleset , kejat uhan benda, t erant uk.

b.

Terpapar sinar dan gelombang elekt romaknet ik.

c.

Kont ak dengan bahan kimia baik padat maupun cair.

d.

Terpapar kebisingan dan get aran.

e.

Terhirup gas, uap, debu, m ist , fume, part ikel cair.

f.

Kemasukan benda asing, kaki t ert usuk, t erinjak benda t ajam.

Bagian badan yang perlu dilindungi adalah kepala, alat pernafasan, alat

pendengaran, alat penglihat an, kulit , kaki maupun t ubuh pada um umnya.

2.3.1 Alat Pelindung M ata (kaca mata pengaman) dan M uka.

1. Fungsi.

Fungsi kaca mat a pengaman adalah unt uk melindungi mat a dari:

a.

Percikan bahan bahan korosif.

(30)

c.

Lemparan benda-benda kecil.

d.

Panas dan pancaran cahaya

e.

Pancaran gas at au uap kimia yang dapat menyebabkan irit asi mat a.

f.

Radiasi gelom bang elekromaknet ik yang mengion maupun yang t idak mengion

g.

Bent uran at au pukulan benda keras at au benda t ajam.

2. Jenis.

M enurut jenis at au bent uknya alat pelindung mat a dibedakan menjadi:

a.

Kaca mat a (Spect acles/ Goggles).

Gambar 3. Kacam at a pelindung (Prot ect ive Goggles) digunakan pada saat m enggerinda logam / akrilik

Gambar 4. Kacam at a pelindung (Prot ect ive Goggles) digunakan pada saat m elakukan pengecoran logam

b.

Tameng muka (Face Shield).

Gambar 5. Pelindung muka (face shields) yang digunakan pada saat polishing akrilik

3. Spesifikasi.

1. Alat pelindung mat a mempunyai ket ent uan sebagai berikut :

a.

Tahan t erhadap api.

b.

Tahan t erhadap lemparan at au percikan benda kecil.

(31)

c.

Lensa t idak boleh mempunyai efek dest orsi.

d.

M ampu menahan radiasi gelombang elekt romagnet ik pada panjang gelombang

t ert ent u.

2. Alat pelindung muka mempunyai ket ent uan sebagai berikut :

a.

Tahan api

b.

Terbuat dari bahan :

Gelas at au gelas yang dicampur dengan lam inasi alumunium, yang bila pecah t idak menimbulkan bagian-bagian yang t ajam.

Plast ik, dengan bahan dasar selulosa aset at , akrilik, policarbonat at au alil diglikol karbonat .

4. Cara Pemakaian.

a. Kaca mata pengaman.

Pilihan kaca mat a yang sesuai, sm all, m edium , at au large.

Buka t angkai kaca mat a lekat kan bagian t engah kacamat a pada punggung hidung.

Tempelkan lensa kaca mat a.

Kait kan t angkai kaca mat a pada daun t elinga.

Usahakan agar mat a dan sekit ar bet ul-bet ul t ert ut up oleh kacamat a.

Gambar 6. Pem akaian kacam ata pelindung (Protect ive Goggles) digunakan pada saat m enggerinda logam / akrilik

(32)

Gambar 8. Pem akaian kacam at a pelindung (Prot ect ive Goggles) digunakan pada saat m elakukan pengecoran logam

A B

C D

Gambar 9. A,B,C dan D adalah t ahapan m elakukan pengecoran logam

b. Penutup muka (Face Shield)

Penut up muka yang benar adalah yang dapat dikenakan t anpa dipegang dengan

t angan pekerja. Biasanya penut up muka ini dirancang menjadi sat u dengan t opi

pengaman at au penut up rambut .

Pilih ukuran penut up muka, sesuai dengan besarnya lingkar kepala (kecil/ sm all, sedang/ m edium ,at au besar/ large).

Periksa bagian luar dan dalam penut up m uka, apakah sesuai dengan spesifikasinya, apakah t udung dalam keadaaan baik, t idak rusak dan bersih.

Kendorkan klep pengat ur unt uk mempererat kedudukan t opi pengaman t udung at au penut up rambut .

(33)

Pakai t opi pengaman (t udung at au penut up rambut ), erat kan di kepala sehingga t erasa pas dengan cara mengat ur klep pengat ur.

At ur posisi penut up muka sehingga menut upi seluruh permukaan w ajah.

Kencangkan kembali klep pengat ur.

Gambar 10. Pem akaian pelindung m uka (face shields) yang digunakan pada saat polishing akrilik

2.3.2 Pelindung pendengaran.

1. Fungsi.

Unt uk melindungi alat pendengaran (t elinga) akibat kebisingan, dan melindungi t elinga

dari percikan api at au logam-logam yang panas.

2. Jenis.

Secara umum pelindungi t elinga 2 (dua) jenis, yait u:

a.

Sumbat t elinga at au ear plug, yait u alat pelindung t elinga yang cara penggunaannya

dimasukkan pada liang t elinga

b.

Tut up t elinga at au ear m uff, yait u alat pelindung t elinga yang penggunaanya

dit ut upkan pada seluruh daun t elinga.

3. Spesifikasi.

a. Sumbat Telinga atau ear plug.

Sumbat an t elinga yang baik adalah yang bisa menahan at au mengabsorbsi bunyi at au suara dengan frekuensi t ert ent u saja, sedangkan bunyi at au suara

dengan frekw ensi unt uk pembicaraan (komunikasi) t et ap t idak t erganggu.

Biasanya t erbuat dari karet , plat ik ,lilin at au kapas.

Harus bisa mereduksi suara frekw ensi t inggi (4000 dba) yang masuk lubang t elinga, minimal sebesar x-85 dba, dimana x adalah int ensit as suara at au

(34)

b. Penutup Telinga atau Ear M uff.

Terdiri dari sepasang (2 buah, kiri dan kanan) caw an at au cup, dan sebuah sabuk kepala (head band)

Caw an at au cup berisi cairan at au busa (foam ) yang berfungsi unt uk menyerap suara yang frekw ensinya t inggi

Pada umumnya t ut up t elinga bisa meriduksi suara frekw ensi 2800-4000 hz sebesar 35-45 dba

Tut up t eling harus mereduksi suara yang masuk ke lubang t elinga minimal sebesar x- 85 dba, dimana x adalah int ensit as suara at au kebisingan di t empat

kerja yang dit erima oleh t enaga kerja.

4. Cara Pemakaian.

a. Sumbat Telinga atau Ear Plug.

Pilih ear plug yang t erbuat dari bahan yang bisa menyesuaikan dengan bent uk lubang t elinga hingga benar-benar menut up semua lubang t elinga.

Gerak-gerakkan kepala ke at as, ke baw ah, ke samping, ke kiri dan ke samping kanan, buka dan t ut up mulut , unt uk memast ikan bahw a sumbat t elinga t erpakai

secara sempurna.

b. Penutup Telinga atau Ear M uff.

Pilih penut up t elinga yang ukurannya sesuai dengan diamet er/ lebar daun t elinga

Past ikan ahw a posisi caw an at au mangkuk penut up benar benar melingkupi daun t elinga, baik kiri maupun kanan. Bola belum pas (masih ada bagian yang

t erbuka), sesuaikan dengan pengat ur panjang dan pendeknya pengikat kepala

(head band)

Gerak-gerakkan kepala, ke at as, ke baw ah, ke samping kiri dan ke samping kanan, buka dan t ut up mulut unt uk memast ikan bahw a sumbat t elinga t erpakai

secara sempurna.

(35)

5. Pemeliharaan.

a.

Sumbat t elinga yang t elah di selesai digunakan dibersihkan dengan kain lap yang

bersih, basah dan hangat .

b.

Kemudian keringkan dengan kain lap yang bersih dan kering.

c.

Set elah bersih dan kering simpan alam kot aknya.

d.

Simpan kot ak t ersebut di at as di almari at au t empat penyimpanan yang lain.

e.

Penut up t elinga yang t elah selesai digunakan dibersihkan dengan cara diseka dengan

kain lap yang bersih.

f.

Set elah bersih simpan kembali di dalam kot aknya.

g.

Simpan kot ak di almari at au t empat penyimpanan yang lain.

Gambar 11. Alat pelindung telinga, digunakan pada saat berada diruang bising

2.3.3 Pelindung Pernafasan (Respirator).

1. Fungsi.

Alat pelindung pernafasan berfungsi memeberikan perlindungan organ pernafasan

akibat pencemaran udara oleh fakt or kimia sepert i debu, uap, gas, fume, asap, mist ,

kabut , kekurangan oksigen, dan sebagainya.

2. Jenis.

Berdasarkan fungsinya, dibedakan menjadi :

a. Respirat or yang berfungsi memurnikan udara (air purifying respirat or).

(36)

b. Respirat or yang berfungsi memasok oksigen at au udara (air supplying respirat or).

3. Spesifikasi.

a. Respirator Yang M emurnikan Udara.

Respirat or jenis ini dipakai bila pekerja t erpajan bahan pencemar di udara (debu, gas,

uap, fume, m ist , asap, fog) yang kadar t oksisit asnya rendah. Prinsip kerja respirat or ini

adalah membersihkan udara t erkont aminasi dengan cara filt rasi, adsorbsi, at au

absorbsi.

M enurut cara kerjanya dibedakan menjadi :

1. Respirat or yang mengandung bahan kimia (cem ical respirat ors).

2. Respirat or dengan kat rid (cart ridge) bahan kimia.

a.

Prinsip cara kerjanya adalah mengadsorpsi bahan pencemar di udara pernafasan.

b.

Bahan kimia yang digunakan unt uk mengadsorbsi biasanya karbon akt if at au silika

gel.

c.

Biasanya penut up sebagian muka dengan sat u at au dua kat rid yang mengandung

bahan kim ia t ert ent u.

d.

Tidak bisa digunakan unt uk keadaaan darurat .

e.

Hanya mampu memurnikan sat u macam at au sat u golongan bahan kim ia (gas,

uap) saja.

3. Respirat or dengan kanist er yang berisi bahan kimia.

a.

Prinsip cara kerjanya adalah mengadsorbsi bahan pencemar di udara pernafasan

b.

Bahan kimia yang digunakan unt uk mengadsorbsi adalah yang sesuai dengan

bahan-bahan kima t ert ent u saja. M isal kanist er unt uk uap asam klorida (hcl dan

asam sulfat (h2so4) harus menggunakan kanist er yang berisi soda

c.

Bahan kimia kanist er mempuyai bat as w akt u kedaluw arsa. Bat as w akt u

kedaluw arsa ini t ergant ung pada isi kanist er, konsent rasi bahan pencemar, dan

akifit as pemakainya.

d.

Bisa menut up sebagian muka at au seluruh m uka

e.

Tidak bisa digunakan dalam keadaaan udara di lingkungan kerja menggandung

bahan kim ia gas at au uap t oksik dengan kadar yang cukup t inggi.

f.

Sat u t ipe kanist er hanya bisa digunakan unt uk memurniakan udara

t erkont aminasi sat u macam at au sat u golongan bahan kimia (gas, uap) saja.

(37)

4. Respirat or mekanik (M echanical Respirat or).

a.

Digunakan unt uk melindungi si pemakai akibat pemajanan part ikel-part ikel di

lingkungan kerja sepert i debu, asap, fume, mist dan fog.

b.

Prinsip kerja respirat or ini adalah memurnikan udara t erkont aminasi melalui

proses filt rasi memakai bermacam t ipe filt er.

c.

Efisiensi filt er t ergant ung kepada ukuran part ikel dan diamet er pori-pori filt er.

5. Respirat or kombinasi filt er dan bahan kim ia.

a. Respirat or jenis ini dilengkapi dengan filt er unt uk menyaring udara t erkont aminasi

part ikel (debu) dan akt rid (cat ridge) at au kanist er yan mengandung bahan kimia.

b. Respirat or jenis ini biasanya digunakan oleh pekerja pada w akt u melakukan

pengecat an dengan cara semprot (spray paint ing).

b. Respirator dengan pemasok udara atau oksigen.

a. Alat pelindung pernafasan ini t idak dilengkapi dengan filt er, at aupun kat rid dan

kanist er yang mengandung bahan kimia.

b. Pasokan udara bersih at au oksigen, melindungi pekerja dari pemajanan bahan

bahan kimia yang sangat t oksit . Konsent arinya t inggi, mampu melindungi pekerja

dari kekurangan oksigen.

c. Pasokan udara at aupun oksigen dapat melalui silinder, t angki, at au kompresor

yang dilengkapi dengan regulat or (pengukur t ekanan)

d. Respirat or dengan pasokan udara at au oksigen dibedakan menjadi :

Airline respirat or.

Air hose m ask respirat or.

Self-cont ained brat hing apparat us. 4. Cara Pemakaian.

1. Pilih ukuran respirat or yang sesuai dengan ukuran ant ropomet ri t ubuh pemakai.

Ukuran ant ropomet ri t ubuh yang berkait an adalah :

(38)

2. Periksa lebih dahulu dengan t elit i, apakah respirat or dalam keadaan baik, t idak

rusak, dan komponen-komponennya juga dalam keadaan masih baik.

3. Jika t erdapat komponen yang sudah t idak berfungsi maka perlu digant i lebih dahulu

dengan yang baru dan baik.

4. Pilih jenis filt er at au cat rid at au kanist er dengan seksama, agar t idak t erjadi

kebocoran.

5. Singkirkan rambut yang menut upi bagian muka.

6. Pot ong cambang dan jenggot sependek mungkin.

7. Pasang at au kenakan gigi palsu, bila pekerja menggunakan gigi palsu. Pakailah

respirat or dengan cara sesuai dengan pet unjuk operasional (inst ruct ion m anual)

yang harus ada pada set iap respirat or.

8. Gerak gerakkan kepala, unt uk memast ikan bahw a t idak akan t erjadi kebocoran

apabila pekerja bekerja sambil bergerak-gerak.

Gambar 13. Pem akaian respirat or-pelindung pajanan debu yang tidak t oksik/ t oksisit asnya rendah

A B

Gambar 14. A. Pem akaian m asker pada saat prosesing akrilik, B. Pem akaian m asker pada saat mixing bahan t anam

5. Pemeliharaan.

Agar respirat or dapat berfungsi denngan baik dan benar sert a dapat digunakan dalam

w akt u yang relat if lama, maka respirat or perlu pemeliharaan at au peraw at an secara

t erat ur, sebagai berikut :

(39)

a. Set iap kali set elah dipakai, respirat or harus di bersihkan (dicuci) kemudian

dikeringkan.

c.

Apabila suat u respirat or t erpaksa digunakan oleh orang lain, maka harus

dicucihamakan t erlebih dahulu.

d.

Beri t anda set iap respirat or dengan nama pemakainya.

e.

Set elah respirat or bersih dan kering, simpan dalam loker yang bersih, kering dan

t ert ut up.

f.

Tangki-t angki at au silinder-silender udara at au oksigen harus dicek secara berkala,

unt uk menget ahui bahw a persediaan udara at au oksigen masih mencukupi.

g.

Klep-klep, regulat or dan komponen-komponen lainnya perlu juga dicek secara

berkala. Jika t idak berfungsi harus segera digant i dengan yang baru.

2.3.4 Pelindung Tangan.

1. Fungsi.

Unt uk melindungi t angan dan jari-jari t angan dari pajanan api, panas, dingin, radiasi

elekt omagnet ik, radiasi mengion, list rik, bahan kimia, bent uran dan pukulan, t ergores,

t erinfeksi. Alat pelindung t angan biasa disebut dengan sarung t angan.

2. Jenis.

M enurut bent uknya, alat pelindung t angan dibedakan menjadi :

a. Sarung t angan biasa at au gloves.

b. M it t en, yait u sarung t angan dengan ibu jari t erpisah, sedangkan empat jari lainya

menjadi sat u.

c. Hand pad, yait u alat pelindung t angan yang hanya melindungi t elapak t angan.

d. Sleeve, yait u alat pelindung dari pergelangan t angan sampai lengan. Biasanya

digabung dengan arung t angan.

3. Spesifikasi.

Alat pelindung t angan harus sesuai ant ara pot ensi bahaya dengan bahansarung t angan

(40)

Pot ensi bahaya dan bahan sarung t angan yang sesuai, disajikan pada t abel berikut :

Potensi Bahaya Jenis Bahan Sarung Tangan

List rik Karet

Radiasi mengion Karet at au kulit yang dilapisi dengan t im bal (Pb) Benda-benda t ajam at au kasar Kulit at au PVC, kulit yang dilapisi dengan logam

kromium Asam dan alkali yang korosif Karet Pelarut organik (solvent ) Karet sint etis

Benda-benda panas Kulit at au asbes

A B

Gambar 15. A. Disposible rubber gloves digunakan pada saat bekerja dengan bahan irit an, B. Leat her gloves digunakan pada saat bekerja dengan paparan panas

4. Cara Pemakaian.

a. Pilih jenis alat pelindung t angan yang sesuai dengan pot ensi bahaya

b. Pilih ukuran sesuai dengan ukuran t angan pemakai.

c. M asukkan t angan yang bagian pergelangan t angannya bermanset at au berkerut ,

ujung ujung lengen baju pekerja masuk ke dalam manset at au kerut an sarung

t angan, kemudian manset dikancingkan at au kerut an dirapikan.

d. Sarung t angan t anpa manset at au t anpa kerut an, ujung lengan baju panjang

pekerja harus bermanset , dan bagian lengan sarung t angan berda di dalam manset

at au di dalam kerut an. Tidak disarankan memasukkan ujung lengan baju panjang

kedalam sarung t angan.

A B

Gambar 16. A. Pem akaian disposible rubber gloves digunakan pada saat bekerja dengan bahan irit an, B. Pem akaian Leat her gloves digunakan pada saat bekerja dengan alat panas

(41)

Gambar 17. Penggunaan sarung t angan karet pada saat penanam an m odel pada artikulat or

Gambar 18. Penggunaan sarung t angan kulit pada saat bekerja dengan paparan panas

5. Pemeliharaan.

a. Alat pelindung t angan yang t elah selesai dipakai, harus dibersihkan, dicuci dengan

air, bagian luar maupun dalam kemudian dikeringkan.

b. Simpan di dalam kant ong yang bersih dan let akkan di dalam loker at au rak lemari.

2.3.5 Pakaian Pelindung.

1. Fungsi.

Pakaian pelindung berfungsi unt uk melindungi sebagain at au seluruh t ubuh dari

kot oran, debu, bahaya percikan bahan kimia, radiasi, panas, bunga api maupun api.

2. Jenis.

a. Apron, yang menut upi hanya sebagian t ubuh pemakainya, mulai dari dada sampai

lut ut .

(42)

b. Overalls, yang menut upi seluruh bagian t ubuh.

3. Spesifikasi.

M acam-macam pakaian pelindung adalah:

a. Pakaian pelindung dari kulit , unt uk t enaga kerja yang mengerjakan pengelasan.

b. Pakaian pelindung unt uk pemadam kebakaran.

c. Pakaian pelindung unt uk pekerja yang t erpajan radiasi t idak mengion.

d. Pakaian pelindung unt uk pekerja yang t erpajan radiasi mengion.

e. Pakaian pelindung t erbuat dari plast ik, unt uk t enaga kerja yang bekerja kont ak

dengan bahan kimia.

4. Cara pemakaian.

a. Pilih jenis pakaian pelindung yang sesuai dengan pot ensi bahaya yang dihadapi.

b. Pilih ukurannya yang sesuai dengan ukuran t ubuh pemakainya.

c. Cek keadaan fisiknya, apakah dalam keadaan rusak , dan lengkap

komponen-komponennya.

d. Kenakan pakaian pelindung dan kacingkan dengan seksama.

e. Gerak-gerakkan anggot a badan (kaki, t angan), unt uk memast ikan apakah pakaian

pelindung t elah t erpakai dengan nyaman.

Gambar 20. Pem akaian baju lab pada saat praktikum

5. Cara pemeliharaan.

a. Pakaian pelindung yang disposable (sekali pakai dibuang), set elah habis pakai

dimasukkan ke dalam kant ong kert as yang semula unt uk membungkus pakaian

pelindung baru, kemudian dibuang di t empat yang t elah disediakan.

b. Pakaian pelindung yang t idak disposable, sehabis dikenakan dicuci, set elah

dikeringkan diset erika, dilipat dan disimpan dit em pat yang bersih.

(43)

2.4 Persyaratan Kesehatan Kerja Di Perkantoran.

1. Air Bersih.

a. Persyarat an.

M emenuhi persyarat an fisika, kimia, mikrobiologi dan radioakt if sesuai dengan

kepmenkes no. 907/ SK/ VII/ 2002 t ent ang syarat -syarat dan pengaw asan kualit as air

minum.

b. Pengert ian.

Air bersih adalah air yang dipergunakan unt uk keperluan sehari-hari dan

kualit asnya memenuhi persyarat an kesehat an air bersih sesuai dengan perat uran

perundang-undangan yang berlaku dan dapat dim inum apabila dimasak.

c. Tat a cara pelaksanaan.

Air bersih dapat diperoleh dari PAM , sumber air t anah at au sumber lain yang t elah diolah sehingga memenuhi persyarat an.

Dist ribusi harus menggunakan perpipaan.

Sumber air bersih dan saran dist ribusinya harus bebas dari pencemaran fisik, kimia, dan bakt eriologis.

Sampel air bersih unt uk pemeriksaan lab diambil dari sumber at au bak penampungan dan dari kran t erjauh, diperiksa minimal 2 (dua) kali dalam 1

(sat u) t ahun.

2. Udara Ruangan.

Penyehat an udara ruangan adalah upaya yang dilakukan agar suhu dan kelembaban,

debu, pert ukaran udara, bahan pencemar dan mikroba di ruang kerja memenuhi

persyarat an kesehat an.

a. Suhu dan Kelembaban.

Agar ruang kerja perkant oran memenuhi persyarat an kesehat an perlu dilakukan

upaya-upaya sebagai berikut :

Tinggi langit -langit dari lant ai minimal 2,5 m.

Bila suhu > 280C perlu menggunakan alat penat a udara sepert i Air Condit ioner (AC), kipas angin, dan lain-lain.

(44)

Bila kelem baban ruang kerja :

-

> 60% perlu menggunakan alat dehum idifier.

-

< 40% perlu menggunakan alat hum idifier (misalnya: mesin pembent uk

aerosol).

b. Debu.

Agar kandungan debu di dalam ruang kerja perkant oran memenuhi persyarat an

kesehat an maka perlu dilakukan upaya sebagai berikut :

Kegiat an membersihkan ruang kerja perkant oran dilakukan pada pagi dan sore hari dengan menggunakan kain pel basah at au pompa hampa (vacuum pum p).

Pembersihan dinding dilakukan secara periodik 2 (dua) kali dalam 1 (sat u) t ahun dan dicat 1 (sat u) kali dalam 1 (sat u) t ahun.

Sist em vent ilasi yang memenuhi syarat . c. Pert ukaran Udara.

Agar pert ukaran udara ruang perkant oran dapat berjalan dengan baik, perlu

dilakukan upaya sebagai berikut :

Unt uk ruangan kerja yang ber AC harus memiliki lubang vent ilasi minimal 15% dari luas lant ai.

Ruang ber AC secara periodik harus dimat ikan dan diupayakan mendapat pergant ian udara secara alamiah dengan cara membuka seluruh pint u dan

jendela at au dengan kipas angin.

M embersihkan saringan at au filt er udara AC secara periodek sesuai ket ent uan pabrik.

d. Gas Pencemar.

Agar kandungan gas pencemar dalam ruangan kerja perkant oran t idak melebihi

konsent rasi maksimal, maka perlu dilakukan t indakan sebagai berikut :

Pert ukaran udara ruang diupayakan dapat berjalan dengan baik.

Ruang kerja t idak berhubungan langsung dengan dapur.

Dilarang merokok di dalam ruang kerja.

Tidak menggunakan bahan bangunan yang mengeluarkan bau yang menyengat .

(45)

e. M ikroba.

Agar angka kuman di dalam ruang t dak melebihi bat as persyarat an, perlu dilakukan

beberapa t indakan sebagai berikut :

Keryaw an yang menderit a penyakit yang dit ularkan melalui udara unt uk sement ara w akt u t idak boleh bekerja.

Lant ai dibersihkan dengan ant isept ik.

M emelihara sist em vent ilasi agar berfungsi dengan baik.

M emelihara sist em AC sent ral.

3. Limbah.

a. Limbah padat / sampah.

Adalah sebuah buangan yang berbent uk padat t ermasuk buangna yang berasal dari

kegiat an perkant oran.

Set iap perkant oran harus dilengkapi dengan t empat sampah yang kuat , cukup ringan, t ahan karat , kedap air dan mempunyai permukaan yang halus pada

bagian dalam nya sert a dilengkapi dengan penut up.

Sampah kering dan sampah basah dit ampung dalam t empat yang t erpisah.

Tersedia t empat pengumpulan sampah sement ara yang memenuhi syarat .

M embersihkan ruang dan lingkungan perkant oran minimal 2 (dua) kali sehari.

M engumpulkan sampah kering dan basah pada t empat yang berlainan dengan

menggunakan kant ong plast ik w arna hit am.

M engamankan limbah padat sisa kegiat an perkant oran. b. Limbah cair.

Adalah buangan yang berbent uk cair t ermasuk t inja.

Kualit as effluen harus memenuhi syarat sesuai ket ent uan perat uran perundangan yang berlaku.

Saluran lim bah cair harus kedap air, t ert ut up, limbah cair dapat mengalir dengan lancar dan t idak menimbulkan bau.

(46)

4. Pencahayaan.

a. Jumlah penyinaran pada bidang kerja yang diperlukan unt uk melaksanakan

kegiat an secara efekt if.

b. Int ensit as cahaya di ruang kerja minimal 100 lux.

c. Agar memenuhi persyarat an kesehat an, perlu dilakukan t indakan sebagai

berikut :

Pencahayaan alam at au buat an diupayakan t idak menimbulkan kesilauan dan memiliki int ensit as sesuai dengan perunt ukannya.

Penempat an bola lampu dapat menghasilkan penyinaran yang opt imum dan bola lampu harus sering dibersihkan.

Bola lampu yang t idak berfungsi dengan baik segera digant i.

5. Vektor penyakit.

a. Pengert ian:

Vekt or penyakit adalah binat ang yang dapat menjadi perant ara penular berbagai penyakit t et ent u (m isalnya: serangga).

Reservoar (pejamu) penyakit adalah binat ang yang didalam t ubuhnya t erdapat kuman penyakit yang dapat dit ularkan kepada manusia (misalnya: t ikus)

b. Tat a cara pelaksanaan:

1. Pengendalian secara fisika.

Konst ruksi bangunan t idak memungkinkan masuk dan berkembangbiaknya vekt or reservoar penyakit kedalam ruang kerja dengan memasang alat

yang dapat mencegah masuknya serangga dan t ikus.

M enjaga kebersihan lingkungan, sehingga t idak t erjadi penumpukan sampah dan sisa makanan.

Pengat uran peralat an dan arsip secara t erat ur.

M eniadakan t empat perindukan serangga dan t ikus. 2. Pengendalian dengan bahan kimia.

Yait u dengan melakukan:

Penyemprot an.

Pengasapan.

(47)

M emasang umpan.

Abat esasi pada penampungan air bersih.

6. Ruang dan Bangunan.

a. Bangunan kuat , t erpelihara, bersih, dan t idak memungkinkan t erjadinya gangguan

kesehat an dan kecelakaan.

b. Lant ai t erbuat dari bahan ang kuat , kedap air, permukaan rat a, t idak licin, dan

bersih.

c. Set iap orang mendapat kan ruang udara minimal 10 m3 / karyaw an.

d. Dinding bersih dan berw arna t erang, permukaan dinding yang selalu t erkena

percikan air t erbuat dari bahan yang kedap air.

e. Langit -langit kuat , bersih, berw arna t erang, ket inggian minimal 2,50 m dari lant ai.

f. At ap kuat dan t idak bocor.

g. Luas jendela, kisi-kisi at au dinding gelas kaca unt uk masuknya cahaya minimal 1/ 6

kali luas lant ai.

7. Toilet.

Toilet karyaw an w anit a dan pria t erpisah. Set iap kant or harus memiliki t oilet dengan

jumlah w ast afel, jam ban, dan perat usan sesuai dengan jumlah karyaw an.

Toilet w anita

∑ Karyawan

∑ Kamar Mandi

∑ Jamban

∑ Wastafel

Gambar

Gambar 2. Posisi pada saat melakukan pengepresan
Gambar 4. Kacamata pelindung (Protective Goggles) digunakan pada saat melakukan pengecoran logam
Gambar 6. Pemakaian kacamata pelindung (Protective Goggles) digunakan pada saat menggerinda logam/ akrilik
Gambar 8. Pemakaian kacamata pelindung (Protective Goggles) digunakan pada saat melakukan pengecoran logam
+7

Referensi

Dokumen terkait

Bagian kesehatan keluarga propinsi menindak lanjuti laporan kematian ibu dan bayi baru lahir dari kabupaten/kota denagn mengadakan audit maternal perinatal setiap 3 bulan

[r]

Jaw aban dibukt ikan dengan adanya dokum en pelaksanaan kegiat an yang diikut i set idak-t idaknya oleh 90% sisw a dan dapat m em berikan pengalam an t ent ang pem anfaat an

Buku ini merupakan petunjuk pelaksanaan kepaniteraan bagi dokter muda selama menjalani masa kepaniteraan klinik di Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas

Fisrt AID merupakan hal yang cukup penting dalam kesehatan dan keselamatan kerja dan semua pekerjaan yang berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan kerja harus

Lam bung ikan bet ut u akan kosong set elah 6 jam dari saat pem berian pakan, sedangkan profil enzim prot ease m em perlihat kan pola yang sejalan dengan laju pengosongan lam

Setelah penulisan laporan kerja praktek selesai dan telah disetujui dosen pembimbing untuk diujikan, maka mahasiswa mendaftarkan ke BAAK untuk mengikuti ujian seminar

Merupakan kewajiban setiap karyawan, dosen dan mahasiswa di lingkungan LABUH untuk memakai alat pelindung diri sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan, sehingga semua SDM yang ada dapat