• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keluarga Sebagai Fasi litator Pendidikan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Keluarga Sebagai Fasi litator Pendidikan"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Yoga Liberiawan Ganis Yazid NIM : 11/311994/SP/24471 Mata Kuliah : Intitusi Institusi Sosial Ketika kita diberikan sebuah pertanyaaan “apakah institusi keluarga menjadi ruang efektif untuk penididikan nilai anak?” yang bisa saya jawab adalah ya, sebelum menjelaskan lebih jauh mari simak beberapa penjelasan yang coba saya rangkum dari beberapa literatur dan opini saya sendiri.

Keluarga adalah lingkungan terdekat yang dimiliki oleh seorang anak. Keluarga adalah tempat anak pertama kali belajar hal baru dalam hidupnya. beberapa pemikir juga mendefinisikan pengertian keluarga antara lain:

 Menurut Mac Iver dan Page “family is group defined by a sex relationship sufficiently precise and enduring to provide for the procreation and upbringing of children.”  Elliot dan Merril mengatakan “...A group of two or more persons residing together

who are related by blood, marriage or adoption.”

 E.S. Bogardus mengatakan “The family is a small sosial group, normally composed of a father, a mother, and one or more children, in which affection and responsibility are equitably shared and in which the children are reared to become self controlled.”  Dan A.M. Rose “a family is a group of interacting persons who recoqnize a

relationship with each other based on common parentage, marriage, and for adoption.”(Drs. H. Khairuddin, H.SS. 2008)

Dari beberapa definisi saya menarik kesimpulan Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal dalam satu rumah. Keluarga juga merupakan agen sosialisasi pertama yang dilalui oleh seseorang, karena keluarga merupakan lingkungan yang pertama kali dirasakan dalam suatu lingkungan. keluarga pun memiliki beberapa ciri-ciri umum antara lain seperti yang dikemukakan oleh Iver dan Page:

a. Keluarga merupakan hubungan pernikahan;

b. Berbentuk pernikahan atau susunan kelembagaan yang berkenaan dengan hubungan pernikahan yang sengaja dibentuk dan dipelihara;

(2)

d. Ketentuan-ketentuan ekonomi yang dibentuk oleh anggota-anggota kelompok yang mempunyai ketentuan khusus terhadap kebutuhan-kebutuhan ekonomi yang berkaitan dengan kemampuan untuk mempunyai keturunan dan membesarkan anak;

e. Merupakan tempat tinggal bersama, rumah atau rumah tangga yang walau bagaimanapun tidak mungkin menjadi terpisah terhadap kelompok keluarga. (Drs. H. Khairuddin, H.SS. 2008)

Disamping memiliki ciri-ciri umum, keluarga juga memiliki ciri-ciri khusus sebagai berikut:a) Kebersamaan; b) Dasar-dasar emosional; c) Pengaruh perkembangan;d) Ukuran terbatas;e) Posisi inti dalam struktur sosial; f) Tanggung jawab para anggota;g) Aturan kemasyarakatan;h) Sifat kekekalan dan kesementaraan. (Drs. H. Khairuddin, H.SS. 2008)

Terkait dengan keluarga sebagai ruang pendidikan nilai anak, ini merupakan salah satu fungsi pokok keluarga, fungsi-fungsi pokok keluarga antara lain:

1. Fungsi biologik

Keluarga merupakan tempat lahirnya anak-anak, fungsi biologik orang tua adalah melahirkan anak. Fungsi ini merupakan dasar kelangsungan hidup masyarakat.

2. Fungsi afeksi

hubungan afeksi tumbuh sebagai akibat dari hubungan cinta kasih yang menjadi dasar pernikahan. Dari hubungan cinta kasih ini lahirlah hubungan persaudaraan, persahabatan, kebiasaan, identifikasi persamaa pandangan mengenai nilai-nilai. Dasar cinta kasih dan hubungan afeksi ini merupakan faktor penting bagi perkembangan pribadi anak.

3. Fungsi sosialisasi

Fungsi sosialisasi sebenarnya menunjuk peranan keluarga dalam membentuk kepribadian anak.melalui interkasi sosial dalam keluarga itu anak mempelajari pola-pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita, dan nilai-nilai dalam masyarakat dalam rangka perkembangan kepribadiannya. (Drs. H. Khairuddin, H.SS. 2008)

(3)

bermasyarakat diajarkan pertama kali didalam keluarga. Anak-anak pada saat usia dini memiliki sifat mencontoh perilaku orang terdekat mereka (keluarga/orang tua). Bisa dikatakan perilaku pada saat anak masih berusia dini sekitar usia PAUD dan TK anak-anak condong meniru apa yang biasa orang rumah kerjakan dan nmelakukan apa yang orang rumah ajarkan. Dorongan anak untuk meniru/mencontoh adalah pemberian kodrat dari Tuhan sebagai alat anak untuk memperlengkapi dirinya dalam perkembangannya.

Dalam sosiologi kita mengenal dua tipe sosialisasi yaitu sosialisasi primer dan sosialisasi sekunder. Sosialisasi primer terjadi pada awal seorang anak lahir. Artinya tipe sosialisasi ini terjadi di dalam keluarga, karena keluarga menjadi lingkungan pertama dan utama proses sosialisasi terhadap anak. Sedangkan sosialisasi sekunder terjadi diluar keluarga. Pada sosialisasi sekunder lingkungan anak berada diluar keluarga seperti taman bermain, sekolah, dll.

Dalam sosialisasi primer, anak masih belum mampu berdiri sendiri, menjaga dan merawat dirinya sendiri. Oleh karena itu anak membutuhkan orang tua yang dapat membantu dan mengawal pertumbuhan anak hingga dapat memelihara diri sendiri atau dewasa. Dalam sosialisasi primer anak juga dikenalkan budaya, nilai, norma kolektif oleh orang tua. Nilai sosial budaya ini pada nantinya akan memberikan arahan kepada anak bagaimana seharusnya bersikap dalam proses interaksi kepada dunia luar. Pembentukan karakter anak melalui pola asuh orang tua juga menjadi hal penting dalam proses sosialisasi primer ini (kepribadian/watak).

(4)

Lalu yang kedua adalah sosialisasi sekunder, proses sosialisasi sekunder terjadi diluar lingkungan keluarga. Dalam proses sosialisasi tipe ini anak dituntut untuk dapat menempatkan pada posisinya dalam menjalankan peran sebagai individu(berdiri sendiri) atau sebagai bagian dari masyarakat. Dalam aplikasinya kepribadian anak bersinggungan dengan kepribadian anggota-anggota masyarakat lainnya. Banyaknya kepribadian ini akan membentuk begitu banyak perspektif. Bila dalam proses sosialisasi primer tugas-tugas yang diemban keluarga untuk pendidikan karakter tidak dijalankan, maka anak akan selalu terbawa arus pembentukan perspektif yang massif. Kepribadian sang anak akan selalu dapat dipengaruhi. Karena pembentukan pondasinya yang seharusnya dibangun pada proses sosialisasi primer tidak terjadi.

Dalam proses pendewasaan diri pada anak dijelaskan dalam Role Taking Theory/ Teori pengambilan peran yang dijelaskan oleh Goeorge Herbert Mead, teori menjelaskan bahwa pengambilan peran memiliki beberapa tahapan, antara lain:

1. Preparatory Stage (tahap Persiapan)

Tahap ini merupakan tahap peniruan (imitation) murni sebagai objek sosial termasuk “self” dan semua pengertian yang belum sempurna dalam kata-katanya.dalam tahap ini anak dalam posisi sebagai peniru. Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting dalam hal memberikan petunjuk melalui pendefinisian-pendefinisian yang difahami orang tua dan ditransfer kepada sang anak sehingga anak dapat memahami kehidupan sosial disekitarnya melalui bahasa yag ditransfer oleh orang tuanya. Tindakan orang tua dalam mentransfer pengetahuan mengenai definisi kehidupan sosial sang anak akan dibawa sang anak untuk melakukan interaksi.

2. Play Stage (tahap permainan)

(5)

meniru ini tidak akan terjadi ketika sang anak tidak memiliki pengetahuan terhadap peran yang akan ditirunya.

3. Game Stage (tahap perlombaan)

Tahap ini merupakan tahap mulai menuju pendewasaan, ditahap ini anak sudah tidak lagi meniru tapi sudah mulai menunjukkan perannya. Peran-peran ini dibawakan sesuai karakter yang dimiliki oleh anak yang terbentuk dalam tahap-tahap sebelumnya. Peran sungguhan ini bersinggungan dengan peran orang lain ketika berada dalam masyarakat. Dalam tahap ini anak dicoba untuk dewasa dengan memerankan peran social yang bersinggungan langsung dengan masyarakat yang terkadang tidak sesuai dengan kepribadiannya.

4. Generalition Other’s (orang lain pada umumnya)

Tahap ini anak sudah mulai beranjak dewasa dan anak sudah mengikuti beberapa komunitas. Disini anak dilatih utnuk memikirkan peran orang lain. Ditahap ini pula anak sudah menjadi orang tua dan memiliki tugas yang sama seperti orang tuanya pada masa dia anak-anak yaitu menginternalisasi kembali nilai-nilai yang pernah diajarkan orang tuanya terdahulu, walaupun kondisi jaman yang berbeda tiap generasinya. Namun, misinya tetap sama yaitu melakukan sosialisasi terhadap anak mengenai nilai dan norma kolektif yang ada di masyarakat. .(Munandar Sulaeman, 2009).

Dari semua penjelasan diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa keluarga adalah ruang penting yang digunak sebagai ruang pendidikan nilai anak ialah untuk membentuk individu yang berkepribadian kokoh sehingga tidak mudah digoyahkan oleh perkembangan zaman.

Dari penjelasan pendidikan nilai anak ini pastinya akan berlanjut kepada penjelasan tentang moralitas individu. Sosiolog yang sering membicarakan tentang moralitas adalah Emile Durkheim.

Moralitas, bagi durkheim memiliki tiga komponen. Pertama, moralitas melibatkan disiplin yaitu suatu pengertian tentang ototritas yang menghalangi dorongan-dorongan hasrat hati seseorang. Kedua, moralitas menghendaki keterikatan dengan masyarakat karena masyarakat adalah sumber moralitas. Ketiga, melibatkan otonomi, suatu konsep tentang individu yang bertanggung jawab atas tindakan mereka.

(6)

Durkheim selalu mendiskusikan disiplin dari sudut pengekangan terhadap dorongan-dorongan hasrat hati seseorang. Pengekangan diperlukan karena kepentingan individu dan kepentingan kelomok tidak sama dan bisa saja menimbulkan konflik. Bagi Durkheim disiplin menghadapakan seseorang dengan tanggung jawab moral dirinya dan itu merupakan sebuah kewajiban sosial. Kenapa harus ada pengekangan diri? Karena itu memeberikan kesempatan bagi manusia untuk merasa cukup dan tenang sehingga tidak menuntut lebih.

2. Keterikatan

Keterikatan terhadap kelompok sosial –kehangatan, kerelaan yang merupakan aspek positif komitmen kelompok- bukan karena kewajiban eksternal, akan tetapi karena perasaan terikat yang tulus.

Dua komponen moralitas –disiplin dan keterikatan- saling menyempurnakan dan mendukung satu sama lain. Karena keduanya merupakan aspek yang berbeda dalam masyarakat. Disiplin adalah masyarakat yang dilihat sebagai sesuatu yang menuntut kita, sementara keterikatan adalah masyarakat yang dilihat sebagai bagian dari diri kita.

3. Otonomi

Komponen moralitas yang terakhir adalah otonomi. Durkheim mengikuti definis filsafat Kant dan melihat otonomi sebagai dorongan-dorongan kehendak yang memiliki landasan rasional, dengan corak sosiologis di mana dasar rasional itu tidak lain adalah masyarakat.(George Ritzer and Douglas J. Goodman. 2011)

(7)

Daftar Pustaka

 Khairuddin. 2008. Sosiologi Keluarga. Yogyakarta: Liberty.

Referensi

Dokumen terkait

yang mana dikatakan bahwa keluarga merupakan unit terkecil masyarakat terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal disuatu tempat di bawah satu

Sehingga dapat disimpulkan bahwan: keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat, terdiri dari 2 orang atau lebih dalam satu atap yang mempunyai hubungan yang

meningkatkan perkembangan &isik% mental% emsinal% dan ssial dari tiap anggta. Keluarga adalah unit terke#il dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan

Dari ketiga definisi di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa keluarga adalah unit terkecil masyarakat yang terdiri atas dua orang atau lebih, adanya ikatan

Dari beberapa pengertian mengenai keluarga dapat diambil titik tengah bahwa keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari 2 orang atau lebih yang memiliki

Beberapa pokok bahasan yang diulas dalam mata kuliah ini adalah tentang tugas pokok dan fungsi ( tupoksi ) masing-masing anggota keluarga terkecil yang terdiri dari suami, istri

Berdasarkan berbagai pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dikatakan sebagai keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat dan sistem sosial yang terdiri dari 2 orang atau

Menurut Depkes RI 1988 keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap