Piano dalam Pasir
Antologi Cerpen
Bengkel Sastra Indonesia
Sanksi Pelanggaran Pasal 72, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.
1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banya\k Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
Piano dalam Pasir
Antologi Cerpen
Bengkel Sastra Indonesia
2009
BALAI BAHASA YOGYAKARTA
PUSAT BAHASA
PIANO DALAM PASIR
Antologi Cerpen Bengkel Sastra Indonesia 2009
Copyright 2009, Bengkel Sastra Indonesia
Editor:
V. Risti Ratnawati Achmad Abidan H.A.
Pracetak
Willibrordus Ari Widyawan, S.E. Endang Siswanti
Muslim Marsudi Supriyana
Penerbit:
BALAI BAHASA YOGYAKARTA PUSAT BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
Pencetak
Azzagrafika
Jalan Seturan II No. 128 Caturtunggal Depok Sleman Yogyakarta. Telepon 0274-486466
Cetakan Pertama: Agustus 2009
Sebuah pepatah Latin mengatakan: verba valent scripta manent. Artinya, ucapan itu akan segera hilang dan musnah, sedangkan tulisan itu akan abadi dan dikenang. Tanpa harus memandang rendah budaya oral (ucapan, lisan), tanpa harus menganggap budaya literal (tulisan) lebih tinggi, kita tentu akan tetap dungu dan buta terhadap siapa itu Plato, Aristoteles, Mang-kunegara, Ranggawarsita, dan atau filsuf-filsuf besar lainnya tanpa menjumpai dan membaca tulisan-tulisan atau karangan mereka. Dengan begitu, sangatlah jelas, tulisan, terutama tulis-an ytulis-ang didokumentasiktulis-an dtulis-an diabadiktulis-an, merupaktulis-an rtulis-antai yang tak pernah putus yang menjadi jembatan ilmu pengeta-huan. Itulah sebabnya, suatu produk yang berupa “tulisan” (arti-kel, esai, feature, kolom, cerpen, novel, puisi, drama, atau apa pun) perlu mendapatkan tempat yang layak di dalam hati dan kehidupan kita; dan suatu proses yang disebut “menulis” perlu dibina, dikembangkan, dievaluasi, dan direvitalisasi secara terus menerus agar hasil akhirnya menyempurnakan hati dan kehidup-an kita.
Demikian pulalah kiranya, antara lain, yang diharapkan dan akan diusahakan terus oleh Balai Bahasa Yogyakarta mela-lui penerbitan buku ini. Sebagai sebuah lembaga pemerintah yang bergerak di bidang kebahasaan dan kesastraan, Balai Bahasa Yogyakarta mencoba mengabadikan tulisan-tulisan
Prakata Kepala Balai Bahasa Yogyakarta
atau karangan-karangan ini yang –walau seberapa pun kadar atau makna muatannya—semoga kelak menjadi catatan sejarah bagi keberadaan para penulisnya yang dapat bermanfaat dan akan dikenang oleh generasi penerusnya. Lebih dari itu, mudah-mudahan buku berjudul “Piano dalam Pasir: Antologi Cerpen Bengkel Sastra Indonesia 2009” ini memberikan sepercik api yang pada gilirannya dapat membakar semangat kreatif dalam upaya membangun kebermaknaan hidup kita (para pembaca). Selamat membaca!
Cerpen yang terhimpun dalam antologi Piano dalam Pasir
merupakan karya siswa SLTA (SMU, SMK, MAN, dll.) se-Kabupaten Gunungkidul, baik negeri maupun swasta, peserta kegiatan Bengkel Sastra Indonesia yang diadakan oleh Balai Bahasa Yogyakarta. Kegiatan Bengkel Sastra Indonesia 2009 ini diselenggarakan pada tanggal 25 Juni 2009—9 Agustus 2009 di SMA Negeri 2 Wonosari, Gunungkidul dengan tujuan memoti-vasi dan membangun kecintaan siswa dan masyarakat, di wilayah Gunungkidul terhadap sastra Indonesia.
Dipandang dari segi kualitas, hanya ada beberapa cerpen yang bersih dari coretan editor. Hal ini perlu dimaklumi karena karya mereka merupakan karya pemula yang disiapkan dalam waktu singkat. Keterbatasan tersebut telah dapat dimanfaatkan secara baik oleh siswa untuk menggarap berbagai masalah kehidupan di sekitar mereka. Penguasaan bahasa para siswa perlu mendapat perhatian serius, diperlukan bimbingan peng-gunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai modal dasar untuk menghasilkan karya bermutu.
Tutor kegiatan Bengkel Sastra Indonesia 2009 adalah R. Toto Sugiharto (cerpenis dan wartawan); Drs. Hardjanto Sahid (cerpenis, penulis skenario dan penyair), serta Dini Maynanda (praktisi sastra).
V. Risti Ratnawati
BUKU antologi cerpen Piano dalamPasir yang berada di tangan pembaca ini merupakan hasil dari proses kreatif pelajar SMA/SMK/MAN se-Kabupaten Gunungkidul – Provinsi DIY. Cerpen yang diantologikan ini merupakan hasil dari endapan sebuah proses diskusi dan interaksi antara pelajar dengan pe-nyelenggara kegiatan Bengkel Sastra Indonesia, Balai Bahasa Yogyakarta, yang diikuti oleh peserta sejumlah 35 pelajar. Waktu efektif untuk pertemuan pelatihan ini dimulai sejak 25 Juni 2009 sampai 9 Agustus 2009 (penerbitan buku antologi cerpen) dengan pelaksanaan secara periodik pada hari Minggu dan Kamis.
Sebagai produk budaya, cerpen pada awalnya juga sebagai produk personal yang mencerminkan ekspresi dari pengalaman khas dan otentik penulisnya. Sehingga, seperti yang diantologi-kan dalam buku ini, cerita-ceritanya mencermindiantologi-kan kehidupan sosial budaya pelajar berikut nuansa psikologis mereka melalui penceritaan tokoh “aku” maupun melalui sudut pandang pen-ceritaan orang ketiga.
Kegiatan proses kreatif yang diikuti pelajar antara lain membaca, mengapresiasi, berimajinasi, menganalisis, menulis, dan mementaskan karya sastra (cerpen). Sebagaimana yang menjadi target kegiatan, meliputi kemampuan mengapresiasi (memahami dan menghayati cerpen), berekspresi (membaca dan menulis serta bersikap positif terhadap cerpen Indonesia), dan penerbitan buku antologi cerpen karya peserta.
Catatan Pinggir
Investasi Kultural untuk
Masa Depan Sastra
Selama kegiatan berlangsung, antusiasme pelajar sangat tinggi dan mereka memiliki bekal cukup memadai untuk dapat dikembangkan lagi. Maka, tersajilah cerpen sebanyak 25 buah (ditulis oleh 25 pelajar). Mereka adalah generasi kreatif dari dunia sastra yang cenderung masih otentik, yang menyimpan bara potensi untuk mewarnai genre cerpen yang selama ini didomi-nasi produk sastra koran.
Ibarat pohon, pertumbuhan mereka akan lebih subur lagi bila mendapat asupan sari makanan cukup dan lingkungan kondusif. Upaya yang dapat ditempuh antara lain dengan me-nindaklanjuti kegiatan yang mengerucut sebagai komunitas atau kantong-kantong kreatif, dengan menggelar diskusi, penu-lisan karya, pemuatan di media massa cetak ataupun online, maupun kompetisi atau lomba.
Perlu pula diakui, masih ada kendala untuk pengiriman naskah cerpen dari peserta melalui e-mail yang tidak terbaca karena pemrograman. Akibatnya, ada beberapa naskah cerpen yang tidak dapat diakses dan diunduh sehingga tidak dapat diikutkan dalam antologi ini. Namun, diharapkan kendala terse-but tidak mengurangi semangat untuk tetap kreatif dan ber-karya.
Lebih dari itu, diharapkan penerbitan antologi cerpen Piano dalamPasir ini memperkaya khazanah pustaka sastra di Indo-nesia, literatur pengajaran sastra dan perpustakaan sekolah, serta menjadi investasi kultural bagi para penulisnya untuk masa depan kesusastraan dan kebudayaan Indonesia serta bagi pertumbuhan budaya baca dan tulis di negeri kita.
Akhir kata, selamat untuk adik-adik pelajar! Selamat menulis!
Daftar isi
Prakata Kepala Balai Bahasa Yogyakarta ... v
Catatan Editor ... vii
Catatan Pinggir ... ix
Daftar isi ... xi
DANTE LA FORTE Nia Susanti ... 1
PIANO DALAM PASIR Astari Juwita Ningtyas ... 8
HUJAN, AKU JANJI… Arum Danarti Purnomo ... 18
BERINGIN CINTA Astika Nurwidyawati ... 25
KEBURUKAN MENUMBUHKAN KESADARAN Nur Thoyyib Majid ... 30
SATU HARI DALAM HIDUPKU Fr. Anita Dyan K ... 36
BINGKAI KEHIDUPAN Galih ... 45
GANGSAL Kurnia Sridamayanti ... 50
KARANGAN DALAM CERITA Soekamto ... 59
TROUBLE IS A FRIEND
Nuri Fatimah ... 68
ARTI SEBUAH KEHIDUPAN
Anita Puspita Sari ... 74
KESHA DAN KARANG TARUNA
Yekti Ageng Lestari ... 80
TAK DISANGKA TAK DIDUGA
Oki Wiriani ... 85
BONEKA BERUANG
Suratini ... 93
UNTUK SEBUAH JANJI
Ririn Andaryani ... 96
MC2 LOVE
Oky Fatmasari ... 101
SAHABAT BARUKU DULU MUSUHKU
Vilda Umami ... 109
KENANGAN DAN IMAJINASI
Purwanti ... 113
BAHAGIA, DUKA, DAN DOSA
Dedi Susanto ... 116
GEJOLAK
Astika Nurwidyawati ... 120
TAK LEKANG OLEH WAKTU
Theresia Rositasari ... 129
ANTARA AYAHKU DAN KEKASIHKU
Nur Hidayati ... 135
ANAK PUNGUT
Triwik Kristina ... 140
MUTIARA YANG PERNAH HILANG
Puput Puji Lestari ... 156
BIODATA PESERTA BENGKEL SASTRA INDONSIA
M
alam semakin temaram. Dante semakin kedinginan dan mulai menarik selimut hangatnya dan mulai berkhayal. Semakin jauh ia berkhayal semakin lelap pula ia terbawa ke dalam tidur lelapnya.“Aku berada di mana? Mengapa tempat ini begitu terang?” kata Dante tanpa maksud.
“Dante…!” Suara halus mengejutkannya di kala ketidak-pahaman menyita pikirannya.
“Kau yang menciptakan kehadiranku …! Mengapa kau tetap tak mengerti?” Suara pelan itu muncul lagi dengan disertai hembusan angin yang lembut menerpa wajah jelita Dante. Dante tetap tak mengerti apa yang sebenarnya ia alami saat ini. Hal ini benar-benar di luar kendali. Bahkan, ia berpikir tak sedikit pun berani menciptakan seseorang untuk datang dalam kehidupannya, bahkan hanya sekedar menatap pun ia tak kuasa.
Dalam kesunyian yang temaram dan lekat akan keabadian, Dante akhirnya buka bicara.
“Kau…!” Katanya lirih tak berdaya. .
“Forte…Ya, Forte...!” Sambung gadis ayu itu kemudian, setelah sadar atas sesuatu hal yang mengingatkannya akan sebuah khayalan di angannya. Hal ini membuat keterkejutan yang bernaung jauh di relung batinnya.
Dante La Forte
Nia Susanti
Dante masih tetap tak percaya atas apa yang ia alami pada saat ini, dan malam semakin menjadi rumit. Kebingungan serta ketidakpercayaannya masih bersemayam dalam hatinya. Tetapi, ia tidak berputus asa sebab belum juga ia bisa menjawab ke-bingungannya.
“Jika kau tak ciptakan aku, maka aku takkan berani ber-ada di tempat ini ...!” Suara jernih membuyarkan lamunannya. “Ingatlah, bahwa aku adalah bayang semu yang kau datangkan dari khayalanmu. Oleh sebab itu pula kini aku berada di depanmu...!” Sambung Forte penuh kemesraan yang wajar tapi kelembutannya terungkap secara pasti.
Dante terus menelusuri atas apa yang ia khayalkan se-hingga beginilah jadinya. Seseorang muncul dengan tiba-tiba. Dante masih tetap tak mengerti dan berharap jika pria itu benarlah Forte, seseorang yang telah ia bayangkan menjelang tidur malam. Dante tak hentinya berpikir, Dante bingung apa-kah ini anugerah dari Tuhan, sehingga ia benar-benar melu-ruskan khayalannya. Ataukah, ini kutukan dari Tuhan atas dosa yang ia ciptakan, dengan mengkhayalkan seseorang yang sebenarnya adalah kuasa dari Tuhan.
“Apakah Tuhan telah mengutukku?” Tanya Dante pelan. “Apa Tuhan justru mengirimmu untukku...?” Lanjut Dante dengan suara parau penuh keragu-raguan sebab pendapatnya. Forte, pria yang dinamainya, tersenyum melihat Dante. Dante tak tahu dari mana asal-muasal pria tersebut dan atas dasar apa yang menjadikan Dante justru semakin berharap pria itu adalah pujangga hatinya. Entah kenapa Dante menjadi bahagia. Kebingungan berangsur menghilang dan musnah. Dante berpikir, ia dapat merasakan bahwa Forte adalah satu-satunya seseorang yang dapat ia miliki. Seorang dari khayalan-nya.
Forte tak banyak bercakap. Perlakuannya yang lembut serta mata cerlangnya membuat Dante cepat menangkap sebuah kepastian atas setiap pertanyaan dan perintah yang halus dari Dante.
“Pernahkah kau sebahagia ini Dante…?” Suara lembut me-nerpa wajah putih nan halus Dante.
Dante hanya diam, seolah ia menyesali setiap apa yang ia rasakan dan alami dalam kehidupannya, yakni kegelapan. Dan-te hampir tak pernah bahagia. DanDan-te mengingat atas apa yang didapatinya, tak pernah setitik pun ia melihat berkas cahaya yang terang. Rasa itu membuat perasaan Dante ngilu.
“Forte, bagaimana mungkin aku bisa melihatmu...?” Tanya gadis itu dengan suara yang lembut dan polos, dengan semburat kepedihan yang mendalam. Setitik air mata berlinang di antara sudut kelopak matanya yang coklat dan indah. Mungkin ia ber-pikir ini keajaiban, sehingga membuatnya terharu sebab mata-nya tak pernah sekali pun melihat cahaya yang berkilauan dan hanya gelaplah yang ia tahu.
“Kini kau dapat melihat cahaya yang berkilauan bukan…?” Suara jernih menyentuh hati dan mendebarkan dada Dante.
Dante menatap dengan penuh ketajaman seseorang yang ia ciptakan dengan khayalannya. Setelah semakin lama ia baru sadar, ini kehendak dan anugerah dari Tuhan untuknya. Mem-bikin Dante tiba-tiba mengucurkan air mata dengan isak keba-hagiaan yang menggauli jiwanya.
Kini Forte memeluk dan mengecup kelopak mata Dante dengan begitu dalam dan tulus.
“Tuhan memberimu mata yang begitu cantik dan mem-pesona, menawarkan kesejukan bagi yang memandangnya…!” Suara Forte rendah tapi bermakna.
“Akan lebih cantik bila aku benar-benar bisa melihat indah-nya dunia indah-nyata yang kebaindah-nyakan orang mengatakanindah-nya fana…!” Suara Dante penuh penyesalan.
ia melihat seseorang dalam hidupnya. Seumur hidupnya Dante tak pernah sejeli ini memandangi wajah seseorang, tetapi se-karang itu terjadi dilakukanya untuk Forte. Hal ini menguatkan hatinya yang mulai patah oleh keputusasaan yang didasari ke-gelapan.
“Forte…..Kau…. Kau tampan sekali dan gagah!” Kata Dante menelusuri sekujur tubuh Forte dan mulai membelai wajah Forte meskipun dengan sedikit keraguan.
Forte tak menjawab. Ia hanya tersenyum dengan sewajar-wajarnya. Forte tetap menatap Dante dan membelai wajah ayu Dante. Dante merasa sangat bahagia karena hanya Fortelah yang pernah ia lihat.
Cahaya mulai redup dan semakin gelap. Dante mulai takut dan memeluk erat tubuh Forte. Dante menangis dan khawatir penglihatannya mulai kabur.
“Forte…. Aku …. Aku tak dapat melihat Kenapa gelap se-karang ini...?” Suara Dante penuh isak tangis bahkan sedikit menjerit.
“Jangan takut, Kasih…. Aku tetap bersamamu dan akan selalu begitu! Bersama khayalanmu. Aku akan tetap hidup dan telah terukir jauh di lubuk hatimu yang terdalam. Suatu saat nanti bila sudah tepat waktunya, Tuhan akan mempertemukan kita, masih dalam khayalanmu, dalam cahaya yang lebih terang lagi, seterang hatimu tatkala kau bahagia...!”
“Jangan menangis lagi, Kasih. Kesedihanmu akan segera terhapuskan!” Kata-kata Forte dalam sebuah perintah yang tegas tapi tetap lembut.
Dante menangis dan menjerit, seakan Forte benar-benar ada dalam kenyataan yang kemudian diminta kembali oleh Tuhan.
Kegelapan masih bersemayam dalam mata cantiknya. Barulah ia sadar bahwa Forte hanya mimpi manis yang ia kecap dalam semalam saja.
***
Dua hari kemudian Dante diopname di rumah sakit
Jakarta Eyes Center. Dante akan menjalani operasi mata. Dante merasa bahagia karena akhirnya ia akan bisa melihat cahaya terang seperti apa yang diucapkan Forte.
Operasi telah dilaksanakan kurang lebih empat jam. Ope-rasi berjalan lancar sesuai rencana. Kornea mata Dante telah diganti dengan kornea baru yang menyebabkan ia dapat meli-hat. Sejak kecil Dante mengalami kebutaan, sebab ia dilahirkan saat ibunya kecelakaan. Kornea matanya rusak oleh benturan keras sehingga beginilah akibatnya, ia tak kuasa menyaksikan hangar bingar kehidupan manusia yang penuh sesak.
Operasi telah usai. Dante masih mengenakan perban yang melindungi hasil operasi matanya.
Beberapa hari kemudian Dante sudah berada di kamar inap biasa. Matanya masih tertutup rapat dengan perban. Per-ban akan dibuka setelah ada rekomendasi dari dokter bedah mata yang telah menanganinya dengan baik.
Akhirnya waktu pun tiba. Perlahan demi perlahan perban dibuka.
Dante perlahan membuka matanya satu per satu sesuai perintah dokter. Dante terdiam untuk beberapa saat. Dante tak kuasa menahan kebingungan atas apa yang telah dialami-nya saat ini.
“Apa arti dari semua kejadian ini, Tuhan...?” Dante meng-gumam dengan penuh kebimbangan.
“Dokter…?” Dante berbisik.
“Nak, inilah yang kau ingini. Cahaya itu kini bisa kau sapa!” Kata Dokter yang menanganinya sembari tersenyum.
“Inilah cahaya terang itu? Tuhan…?” Dante meneteskan air mata.
“Selamat, Nak. Sekarang kau telah bisa melihat!” Kata Dok-ter yang telah menanganinya.
terhanyut atas lamunannya, saat ia akhirnya bisa menyaksikan dunia dengan penuh cahaya terang. Ia mengamati sekelilingnya, kasurnya, infus yang menempel di tangannya, dokter yang telah membuat impiannya terjadi nyata, vas bunga beserta bunga harum yang tertata rapi dan begitu mempesona. Tapi Dante tetap belum bisa memahami bentuk serta kenyataan atas benda-benda sekelilingnya. Jauh sekali dengan apa yang talah dibayangkannya selama ia belum bisa melihat. Kini ia benar-benar merasa asing dengan dunia barunya.
Di lain sisi ia juga merasa resah atas penanggungan kornea yang telah diberikan kepadanya.
“Siapakah gerangan yang merelakan matanya….untuk penglihatanku?” Kata Dante setengah berbisik. Dante tiba-tiba saja terpikirkan oleh bayangan Forte.
Hari demi hari Dante lewati dengan penuh rasa penasaran yang memberatkan pikirannya. Hingga pasca operasi Dante da-tang ke Rumah Sakit tempat ia dioperasi untuk mencari tahu siapa pendonor kornea untuknya.
“Dokter, aku tak merasa tenang. Ada yang menaungi pikiran-ku yang semakin lama semakin menggejolak!” Celetuk Dante dengan semburat kesedihan pada Dokter itu.
“Kenapa?! Bukankah seharusnya kau bahagia karena kau telah bisa melihat?” Jawab Dokter itu seperti mengalihkan per-hatian.
“Mata ini adalah milik seseorang yang berhati mulia, bu-kan?”
Dante mulai gelisah dan menitikkan air mata. “Tentu…!” Jawab Dokter dengan pelan.
Dante mendesak Dokter itu agar memberitahu tentang pemilik kornea yang kini telah melekat di matanya.
“Baiklah, Saya kira …. Anda memang perlu tahu tentang hal ini. Ini data orang yang telah mendonorkan korneanya untuk penglihatan Anda….!” Ucap Dokter itu dengan penuh haru.
pria, yang telah mati karena kecelakaan, lalu menjelang ajalnya, ia merelakan korneanya kepada gadis itu. Dante menyebut se-buah nama yang tertera di dalam data.
“Forte De La Portha…! Forte…?” Dante tak sadar telah men-jatuhkan sebuah data. Dante mulai tak sadarkan diri.
“Kasih, bukalah matamu!” Bisik suara halus menggugah kegelapan yang kemudian menjadi terang.
“Kasih…,” bisiknya lagi.
“Forte…,” Dante tak dapat berkata-kata lagi. Agaknya sa-ngat berat untuk berucap.
“Begini kau lebih cantik. Matamu lebih indah dan terang! Kini semua menjadi benar-benar abadi, bukan? Aku telah berse-mayam dalam hatimu jauh lebih dalam dan kekal. Mata ini mata hati yang terang, jangan kau gunakan untuk menangis, Kasih….! Karena, sebenarnya kepedihan telah sirna…,” kata-kata terakhir yang lagi-lagi sebuah ketegasan. Kemudian, Forte mencium kedua mata Dante dan mengantarkan Dante kembali ke dunia nyata.
“Forte…. Aku berjanji akan menjaga mata ini dengan baik. Takkan lagi kubasahi mata ini dengan tangisan sebab kepedih-an. Karena, kini aku telah temukan setitik cahaya dalam hidup-ku. Itu kau, Forte. Satu lagi bahwa kaulah khayalanku yang paling berharga. Hingga kini semuanya telah menjadi nyata. Menjadi satu, yakni ‘keabadian’...,” bisik Dante dalam hati. Dante mulai meneteskan air suci yang jernih dan menyejukkan tapi untuk yang terakhir kalinya.
Keesokan harinya Dante pergi ke sebuah pondok ‘Griya Seni Tato’ untuk membuat sebuah tato. Tato itu kini telah usai dibikin dan melekat tepat di jari manisnya pada tangan kanan-nya bertuliskan, ‘Dante La Forte’.
Putih-putih bersih Melati Putih
Wujud kasih nan abadi Tumbuh lah-tumbuh kau Melati Putih
Tebarkan kasih nan suci…
Y
a, bait-bait lagu itu masih mengalun indah di hatiku. Lagu yang sering aku dan ibuku nyanyikan di atas piano hitam ini. Tapi, semua itu hanyalah tinggal kenangan saja. Ibuku adalah semangat hidupku. Bagiku beliau adalah orang yang hebat, yang membesarkan anak gadisnya seorang diri tanpa suami ataukah sanak saudara yang lain. Ya, ibuku adalah orang tua tunggalku sejak aku masih di dalam kandungan. Bukan karena ayahku meninggal ataupun bercerai tapi karena ke-salahan ibuku dulu ketika masih bekerja sebagai wanita peng-hibur. Sebenarnya bukan kenginan beliau untuk bekerja men-jadi wanita rendahan itu. Tapi, ya apalagi kalau bukan karena masalah himpitan ekonomi. Tapi, aku sangat bangga terhadap ibuku karena beliaulah yang membimbingku dan selalu mem-berikan aku semangat hidup dalam mengarungi jalan berdebu selama 17 tahun ini, hingga ajal menjemputnya tadi sore.Piano dalam Pasir
Astari Juwita Ningtyas
Masih teringat pesan terakhir ibu ketika beliau berusaha mencuri udara bumi ini. Beliau berpesan agar aku tak terjeru-mus dalam lubang yang sama seperti beliau dan beliau berharap aku akan terus menjadi melati yang melambangkan kesucian kasih, seperti tujuan beliau memberi nama kepadaku “Melati”. Ya, namaku Melati. Hanya cukup Melati saja. Aku tahu benar apa makna dari namaku itu. Ibu memberi nama aku, Melati, karena ibu tak mau aku terjerumus dalam dosa yang pernah ibu lakukan hingga beliau menjadi kotor. Ibu ingin aku selalu menjaga kehormatanku seperti melati yang selalu putih. Dari ibu pula aku banyak belajar musik, khususnya piano. Karena, ayah dari ibuku adalah seorang pianis. Maka, ibu mewariskan-nya padaku.
♪
♪
♪
Malam itu hujan turun dengan derasnya. Seakan menya-darkan aku bahwa hanya aku yang tinggal di dalam rumah kecil ini. Masih kuingat pemakaman ibu tadi sore yang begitu meng-goncang hatiku. Kerumunan orang yang mengerubungi pusara ibu dengan sigap memapahku dari lamunan masa laluku. Aku masih duduk termenung sendiri di atas piano tua itu sambil terus mengelap tuts-tuts piano yang mulai berdebu. Maklum saja, selama ibu sakit kami tidak pernah memainkan piano ini. Aku ingat betul piano ini kami beli ketika aku masih berumur 3 tahun. Saat itu ibu merelakan gelang dan cincin emasnya hanya demi menuruti rasa penasaranku terhadap piano. Tapi, aku tak sia-siakan pengorbanan ibu. Tak jarang aku memenang-kan berbagai perlombaan piano dari antar sekolah hingga ting-kat provinsi. Dan, semua itu telah aku bungkus dengan cantik di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, yang akan menjadikan elegi dalam hidupku bersama orang yang amat kusayang yang kini telah berpulang.
Ibu…
Mencintai airnya Selamanya…
Hari ini adalah lembaran baru dalam hidupku yang menun-tutku untuk lebih mandiri…
♪
♪
♪
Pagi itu terdengar suara gebrakan pintu yang sangat keras dari depan rumah.
“Melati! Cepat bukakan pintunya!” Teriak seorang laki-laki dari depan rumah.
Dengan bergegas kuturuni ranjangku untuk melihat siapa gerangan yang membangunkanku dari pelabuhan mimpiku.
“Iya, Pak Parjo. Ada apa?” Tanyaku padanya.
“He, apa kau tak ingat akan hutang-hutang ibumu padaku?” “Oh, Pak tentu saja saya masih ingat,” kataku sambil ber-gidik.
Ya, untuk pengobatan ibu, kami memang meminjam uang dari Pak Parjo si lintah darat ini. Mungkin kami sangat bodoh karena meminjam uang padanya. Tapi, kami sudah tak punya pilihan lain lagi harus pinjam pada siapa. Para tetangga pun tak ada yang bisa membantu kami.
“Terus kapan kau akan membayarnya?”
“Berilah waktu kepada saya, Pak. Saya akan berusaha.” “Waktu? Sudah habis waktuku untuk menunggumu.” “Tapi, Pak. Saya mohon. Pemakaman ibu masih pagi. Tolong hargai saya,” kataku dengan sedikit emosi karena merasa sebal dengan perlakuan Pak Parjo.
“Apa, Nak? Kau minta harga?” Kata Pak Parjo sambil me-megang pundakku.
“Maaf, Pak. Bukan itu maksud saya,” kataku sambil meng-elak dari sentuhannya.
“Tapi, Nak, jika kau minta harga akan kuhargai dirimu. Jika kau layani aku semalam saja.”
“Baiklah, Nak. Tapi, ingat waktumu tidak banyak,” kata Pak Parjo seraya pergi dari halaman rumahku yang hanya selidah lalat ini.
Cepat-cepat kututup pintu rumahku, Ibu…aku takut…Aku sungguh takut…tapi sekeras-kerasnya badai menerpa tak akan kulupa janjiku padamu ibu...
Dalam kamar aku terus berpikir apa yang harus aku laku-kan untuk membayar hutang. Janganlaku-kan uang, barang ber-harga pun aku tak punya. Tapi, tiba-tiba mataku tertuju pada seonggok piano tua yang aku letakkan di samping meja makan.
Haruskah aku jual kenangan ini…? Mungkinkah aku tega menjualnya? Hanya piano ini benda berharga bagiku dan juga bagi ibuku,Tapi ah.. bagaimana ini aku bingung…
Kudekati piano itu. ya, masih tercium bau ibu di sini dan masih kurasakan kehangatan matanya itu. Kupegang tuts-tuts piano satu demi satu, masih terasa sentuhan lembut ibu yang selalu membuatku nyaman di dekatnya. Tapi, bayang-bayang Pak Parjo membuatku menitikkan air mata di atas piano itu.
“Ibu, maafkan aku. Aku harus relakan kenangan itu demi menjaga amanahmu,” kataku sambil terisak.
♪
♪
♪
Pagi itu aku pergi ke toko alat musik di pasar kota. Pintu kaca berpigura kayu yang terlihat elegan memanggilku untuk membukanya. Di dalamnya kudapati sebuah harpa yang besar menyambut kedatanganku. Di sisi kanan dan kiri kulihat ba-nyak sekali alat musik yang tersusun rapi. Mulai dari gitar, biola, hingga seruling. Tiba-tiba seorang laki-laki tua menyapaku dari balik etalase.
“Selamat pagi, Nona,” sapanya ramah. “Pagi,” jawabku agak canggung. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Maaf, Pak, maksud kedatangan saya ke sini,saya ingin menjual piano saya.”
“Bapak bisa mengeceknya sendiri di rumah saya.”
“Baiklah. Tinggalkan alamat saudara. Nanti sore pekerja saya akan datang ke rumah saudara.”
“Terima kasih, Pak,” kataku penuh rasa syukur.
Sore itu seorang laki-laki berperawakan tinggi bersih da-tang ke rumah, “Selamat sore, Nona. Nama saya Hensel. Saya diutus Bapak Sam untuk melihat keadaan piano sekaligus ke-sepakatan harganya,” kata laki-laki tadi ramah.
“Oh, ya. Perkenalkan nama saya Melati.”
Kemudian kami berdua menyusuri beberapa kursi dan bunga untuk sampai ke tempat tujuan.
“Ya, inilah piano yang saya maksud,” jelasku. Kemudian, laki-laki yang mengaku bernama Hensel mengecek setiap nada pada piano itu.
“Ya, piano ini masih sangat bagus.”
“Tentu,karena saya dan almarhumah ibuku selalu me-rawatnya seperti anggota keluarga kami sendiri.”
“Kelihatannya piano ini sangat berharga untuk Anda?” “Ya, karena hanya piano inilah elegi antara aku dan ibuku, yang paling berharga,” kataku sambil meneteskan air mata. Karena, aku jadi teringat saat pertama kali piano ini datang dan menjadi anggota keluarga baru kami.
“Maafkan saya, Nona. Saya tidak bermaksud membuat anda bersedih.”
“Sudahlah,ini bukan salah Anda.”
“Baiklah, Nona. Ini kesepakatan harga yang diberikan Bapak Sam,” kata Hensel sambil menyerahkan selember kertas dan beberapa jumlah uang.
“Terima kasih. Harga ini memang yang saya harapkan.” “Baiklah, Nona. Sebentar lagi piano ini akan segera kami angkut.”
“Baiklah.”
berat. Kelak, jika aku punya uang akan kutebus kembali piano itu...
♪
♪
♪
Sudah sebulan sepeninggalan Ibu. Aku terus mencari pe-kerjaan di kota, berharap ada pepe-kerjaan yang dapat menopang hidupku. Karena, di rumah sudah tidak tersisa serupiah pun uang. Hingga aku bertemu dengan teman lamaku Dira.
“Hei, Mel! Kenapa kau terlihat kurus sekali?” Sapa Dira ketika aku sedang duduk di sebuah halte bis.
“He, Dira! Ya, aku sedang berusaha mencari pekerjaan.” “Wah, kebetulan Bosku juga sedang mencari pekerja baru.” “Benarkah? Boleh aku mencobanya?”
“Ya, tentu saja. Ikutlah denganku sekarang.”
Kemudian kami berdua menyusuri kota di siang hari yang sangat panas. Hingga sampailah kami di sebuah kafé. Dari depan kafe ini terlihat sangat kecil tapi ketika kami turun dan memasukinya ternyata di dalamnya adalah sebuah kafé seluas kita-kira 180 meter persegi.
“Kau akan mengajakku berkerja menjadi pramusaji, di sini?” tanyaku pada Dira karena dari tadi Dira terus berjalan menerobos ratusan kursi kafé.
“Tidak, Melati. Ini lebih menjanjikan.”
Kami terus berjalan hingga sampai pada pintu besar ber-warna coklat tua. Kupikir itu adalah tempat pemilik kafé menye-lesaikan tugasnya. Tapi, tidak. Ketika pintu terbuka, puluhan pasang manusia sedang melakukan adegan yang tak senonoh. Aku terdiam mematung di pintu berwarna coklat tua itu.
“Ayo masuk,”ajak Dira.
“Tidak, Dira! Apa-apaan kamu!” Hardikku keras.
Tiba-tiba datang seorang wanita separuh baya yang ber-dandan tak sepadan dengan umurnya, “Oh, jadi ini orangnya?” Tanyanya.
“Iya, Madam.Bagaimana?”
Sementara aku masih terpaku di pintu. Aku tak tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan, hingga kutemukan kesadaranku kalau pekerjaan ini sangat aku benci.
“Maaf, Dir. Tapi, aku tak bisa,” kataku ketus.
“Alah, Mel. Jangan sok suci deh! Ingat siapa sih ibumu itu?” Secara reflek tangan kananku mengayun indah menuju pipi kiri Dira, Plak!
“Sebelumnya terima kasih. Tapi, maaf, kesalahan itu tak akan terulang untuk kedua kalinya. Dan, ingat jangan pernah menghina ibuku,” kataku sambil terus mengatur emosi. Lalu, aku pergi meninggalkan tempat kotor itu.
♪
♪
♪
Pengalaman itu membuatku semakin ciut untuk beranjak dari rumah. Tapi, himpitan ekonomi ini selalu memaksaku. Tibalah aku di tempat kursus piano. Dan di sinilah aku akan mencoba peruntunganku.
“Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya seorang wanita resepsionis.
“Maaf, Mbak. Apakah di sini membuka lowongan kerja untuk guru pengajar?”
“Maaf, tidak.”
Seorang ibu setengah baya menghampiriku. Ibu itu kebe-tulan mendengarkan pembicaraanku, “Apa kau butuh pekerja-an, Nak?” Tanyanya ramah mengagetkanku.
“Iya, Bu.”
“Perkenalkan, nama saya Margaret. Saya membutuhkan pemain piano untuk bermain di restoran saya setiap minggunya.”
“Benarkah,Bu? Saya sangat senang.”
“Baiklah. Mulai sekarang kau menjadi pegawaiku. Datang-lah di restoranku. Ini alamatnya,” kata ibu Margaret sambil me-nyerahkan kartu namanya.
♪
♪
♪
suatu hari, ada seorang Bapak yang baik hati memberiku pe-nawaran yang sangat menarik.
“Nak, siapa namamu?” Tanya Bapak yang sudah terlihat tua – dengan ramahnya.
“Melati,” jawabku dengan halus.
“Permainamu sangat indah. Kau mengingatkanku pada seseorang. Oh ya perkenalkan nama Bapak John.”
“Terima kasih, Bapak John.”
“Melati, aku lihat kamu sangat berbakat menjadi pianis. Apakah kau mau menerima satu permintaanku?”
“Permintaan? Maaf tapi permintaan apa?!” Tanyaku heran. “Aku ingin kau bersekolah di Inggris untuk memperdalam ilmu pianomu.”
“Apa bapak serius?”
“Apakah kau lihat tampang berbohong dari wajah tuaku ini, Nak?”
“Maaf, Pak, tapi ini sangat menakjubkan. Dan, saya pasti menerimanya dengan senang hati.”
Kurang lebih selama satu tahun aku bersekolah di Inggris. Di Inggris aku belajar dengan giat. Sambil belajar, di Inggris aku juga sering bermain piano di pertunjukan-pertunjukan interna-sional. Ya, aku seperti menemukan duniaku.
♪
♪
♪
Sekembalinya di tanah air, aku langsung menuju toko alat musik berharap pianoku belum dibeli seseorang.
“Selamat siang, Melati,” sapa Hensel yang masih saja seper-ti dulu.
“Siang. Tak kusangka kau masih ingat denganku.” “Tak ada yang bisa melupakan wanita secantik dirimu.” “Ah, kau bisa saja merayu.”
sa-ngat pengap. Kulihat keadaan di sekeliling tempat itu. Di bagian pojok kanan kudapati sebuah kain putih menyelimuti sebuah benda, hingga menyerupai gundukan. Kemudian, Hensel me-narikku mendekati gundukan itu.
“Bukalah kain itu,” pinta Hensel.
Dengan hati berdebar aku membukanya. Dan, apa kau tahu isi dari kain putih itu? Ya, pianoku! Kain putih itu berisi pianoku. “Oh..Hensel kau masih menyimpannya?” Kataku sambil menitikkan air mata.
“Ya, tentu karena aku yakin piano ini sangat berharga untukmu.”
“Oh, terima kasih,” kataku sambil memeluk Hensel. Tak lama kulepaskan pelukanku karena aku mendengar suara tepuk tangan dari balik punggungku. Dan, mereka adalah Pak Sam dan Pak John.
“Bapak…,” kataku terkejut.
“Ya, anakku, karena kau, anakku Hensel jadi tak bisa tidur,” kata Pak Sam, saat itu pula muka Hensel berubah seperti tomat.
“Jadi, Hensel ini Putra Anda?” Tanyaku kaget. “Ya, tentu saja. Anakku yang sangat mencintaimu.” “Ayah....,” kata Hensel malu-malu.
“Cepatlah, Nak. Mainkan piano itu. Aku ingin tahu bagai-mana perkembanganmu,” pinta Pak John yang dari tadi diam mematung.
Dengan segera aku menghampiri tuts-tuts piano itu. Kali ini aku ingin memainkan lagu yang paling bersejarah antara aku dan ibu. Ya, apalagi kalau bukan DerVerliebtest – dengan sepenuh hati dan ragaku, kumainkan lagu itu di atas piano ini.
“Hentikan, Nak!” Pinta Pak John ketika lagu ini sudah ham-pir selesai kumainkan.
Kelihatannya tak hanya aku yang bingung, tapi semua yang ada di ruang itu.
“Peluk aku, anakku.”
Dengan rasa bingung aku memeluknya. Dia membalas pe-lukanku dengan hangat.
“Kenanga…aku rindu padamu,” kata Pak John dengan ter-isak.
Ketika itu pula beliau memanggil nama ibuku. Aku sung-guh terkejut.
“Apakah Anda mengenal ibuku?” Tanyaku penasaran. “Nak, dengarlah… Kau adalah anakku, maafkan aku,” kata beliau dengan nada terisak.
“Ayah, aku rindu ayah,” kataku dan semakin erat dekapan ini.
Ibu, kini aku sudah menemukan hidupku…Bersama ayah.... Aku yakin ibu pasti bahagia di sana dan akan kujaga ayah seperti aku menjagamu....
Itulah percakapanku dengan ibu ketika aku dan ayah pergi ke pusara ibu.
Kini segala tirai antara masa lalu kami dengan ayah telah terbuka. Tirai yang bagaikan pasir, yang mengubur piano hingga sepanjang hidupku di dunia ini.
12 Mei 2007
M
alam ini gerimis rintik-rintik mulai membasahi tanah yang telah lama tak merasakan sejuknya guyuran air mata langit. Ya, ... kira-kira hampir enam bulan yang lalu terakhir kali tanah ini merasakan air mata langit yang tumpah. Bersamaan dengan itu bukan hanya air langit yang tumpah tapi air mataku pun ikut tumpah, menyadari bahwa orang yang aku sayang telah pergi dari pandangan mataku dan telah lari dari sisiku.Tak terasa telah enam bulan Kak Rama meninggalkanku di sini. Entah bagaimana kabarnya sekarang. Aku tak tahu… Bukan karena aku tak peduli lagi dengannya. Aku peduli. Bah-kan sangat peduli. Tapi, aku tak tahu pada siapa aku aBah-kan ber-tanya. Karena, setelah dia pergi meninggalkan kota ini, tak ada satu orang pun yang tahu di mana dia sekarang.
Hujan turun semakin deras dan langit semakin pekat oleh awan hitam yang menyelimutinya. Kilatan petir yang menyam-bar-nyambar menerangi semak-semak yang telah basah. Aku beranjak dari tempat tidurku berjalan mendekati jendela . Dari sini kulihat seseorang turun dari mobil yang diparkir di luar garasi. Kemudian, ia berlari menuju pintu rumah dan meng-hilang di balik pintu. Ya, itu papaku. Sepertinya papa baru pulang dari kantor. Tapi, bukan itu tujuanku berdiri di dekat jendela
Hujan, Aku Janji…
Arum Danarti Purnomo
ini. Aku ingin mengingat terakhir kali Kak Rama melambaikan tangannya untukku sebelum pergi meninggalkanku enam bulan yang lalu.
Saat terakhir kali kudengar suara Kak Rama, “Sya…, Aku sayang kamu,” dari balik jendela ini sambil membalas lambaian tangan dan kata-katanya. Saat selembar surat beramplop biru terselip di jendela kamarku. Surat yang selalu kubaca setiap malam menyambut mimpiku. Berharap mimpiku malam ini adalah bertemu dengan Kak Rama. Dan, ternyata harapanku tak sia – sia. Setiap malam Kak Rama selalu hadir dalam mimpi-ku. Dan, setiap malam juga suara lembut Kak Rama selalu me-nyapa saat aku terlelap, “Jaga dirimu, Sya…Kakak akan pulang untuk menemuimu. Kakak janji,” setidaknya aku dapat bahagia walau hanya sekejap dalam mimpi.
Kupandangi lekat-lekat surat yang ada di tanganku .
Dear Nasya Alvelia…
Maafin aku yang telah pergi meninggalkanmu .Aku tak menginginkan semua ini, Sya .Tapi, dunia memaksaku untuk pergi. Tiga hari yang lalu ayah menyuruhku untuk pindah ke Jambi. Kamu tahu, Sya bagaimana hatiku saat itu?Aku tak bisa menerima. Jangan salahkan aku kenapa aku tak menolaknya. Aku udah menolaknya, Sya …Sungguh. Tapi, ayah terus me-maksaku untuk pergi…
Mungkin kamu akan bertanya. Kenapa baru sekarang saat tinggal beberapa jam lagi aku pergi kakak baru memberitahumu . Sekali lagi maafin aku, Sya .Aku takut kamu akan sedih..Aku takut kamu akan sakit .Aku janji, Sya . Aku akan kembali untuk kamu. Tunggu aku, Sya!! Tunggu aku bersama surat ini. Dan dengarkan salam rinduku bersama riuh hujan yang turun. Aku akan kembali, Sya…
Surat ini yang selalu membuatku yakin kalau suatu saat nanti Kak Rama akan datang, bersama puing-puing rindunya. Datang untuk menemui dan kami akan bersama selamanya. Aku begitu yakin.
6 Mei 2008
Satu tahun berlalu begitu cepat . Tak terasa air hujan kem-bali menyambutku lagi. Dan, tak berbeda dari satu tahun lalu, aku masih terdiam dan mengamati hujan dari balik jendela ka-mar. Aku suka hujan karna aku tahu Kak Rama selalu mengi-rimkan lantunan lagu rindunya bersama hujan. Tapi, ada yang berbeda dengan hujan kali ini. Aku merasakan sakit ketika aku mengingat-ingat kenangan-kenanganku saat bersama Kak Rama. Entahlah…. Aku berpikir, apa mungkin Kak Rama lupa menitipkan rindunya lewat hujan? Apa mungkin lagu rindu itu terlalu lirih hingga aku tak mampu mendengarnya? Sampai kapan aku harus menunggu di sini, Kak Rama? Sampai kapan Kakak akan meninggalkanku? Kapan Kakak kembali ke sini lagi? Untuk mencari pelangi di tengah gerimis bersama Sya?
Akan tetapi, ketika merasakan hujan tahun ini, aku ragu. Ragu pada keyakinanku setahun yang lalu. Ragu bahwa Kak Rama akan kembali untuk menemuiku. Aku terlalu takut berharap pada waktu karena aku sering dibuatnya kecewa. Aku terlalu takut menanti sebuah kenyataan karena semua kenyataan selalu memaksaku untuk menangis.
Langit semakin gelap. Matahari telah pergi meninggalkan singgasananya. Malam menjemputku. Guyuran air hujan mem-buatku terjaga dari mimpi walaupun hujan malam ini tak sede-ras tadi siang. Jam dinding menunjuk angka 23.45. Kupandangi foto Kak Rama dan kembali kubaca surat biru Kak Rama. Se-telah selesai membaca kuulangi lagi dan begitulah seterusnya berulang-ulang. Mungkin sampai aku hafal isi surat itu.
tak meminta untuk mengingat kembali kenangan-kenangan itu. Ingin rasanya kupejamkan mataku agar aku dapat lupa sejenak pada kenangan yang membuatku semakin sakit. Agar aku dapat tersenyum sejenak. Tapi, aku tak sadar bahwa ternyata mataku memang sudah terpejam. Tapi, sampai sekarang aku tak pernah mendapatkan senyum itu. Aku ingin berlari dari semua kenyataan yang ada ini, tapi semakin aku berlari kenya-taan-kenyataan pahit itu semakain kencang mengejarku.
Aku berjalan ke arah teras kamarku. Memandangi tetes demi tetes air hujan yang turun malam ini. Merasakan hembus-an hembus-angin malam yhembus-ang tertiup pelhembus-an. Saat itu kubisikkhembus-an puisi dan tembang-tembang cinta untuk Kak Rama. Agar dia datang, agar dia kembali, agar aku dapat memeluknya lagi.
“Kak, biarkan malam ini gelap tanpa cahaya bintang .Tapi, aku tak akan membiarkan langit hatimu gelap tanpa cahaya cintaku.”
Hufffffhhhh….Kutarik nafas panjang-panjang. Kupalingkan pandanganku ke arah kolam kecil di samping rumah. Tapi, tiba-tiba aku melihat seseorang melambaikan tangannya ke arahku. Seseorang itu memakai kaos biru dan celana jeans, persis seperti yang dipakai Kak Rama saat akan pergi meninggalkanku. Ya, tak salah. Itu Kak Rama. Aku berlari menembus hujan.
“Kaaak Raammaa…!” Teriakku.
Aku masih berlari menuju samping kolam kecil tadi menuju tempat Kak Rama berdiri. Tuhan, terima kasih. Akhirnya Kau kembalikan Kak Rama untukku lagi. Tapi, “Kaaak…Kak Rama! Kakak di mana? Kakak jangan sembunyi, donk!” kataku me-manggil-manggil Kak Rama.
“Kakak! Sya tahu Kakak sembunyi, kan, di balik pohon?” Kataku sambil berjalan ke belakang pohon angsana. Tapi, di sana Kak Rama juga tak kutemukan.
Tapi, yang berdiri di belakangku justru seorang laki-laki berumur 47 tahun mengenakan piama dan membawa lampu penerangan. Ya, dia papaku.
“Nasya, Kamu ngapain malam-malam begini ke luar?” “Sya nyari Kak Rama, Pa. Tadi Kak Rama ke sini,” kataku sambil menoleh ke tempat di mana aku melihat Kak Rama tadi. “Rama? Sya, bagaimana mungkin Rama bisa sampai ke sini? Pagar depan sudah Papa kunci dari tadi jam sembilan, Sayang. Sudah, kamu jangan kebanyakan berkhayal. Masuk yuk. Sudah malam. Nanti kamu malah sakit, Sayang,” Papa kemudian meng-gandeng tanganku.
“Tapi, Pa…,” kataku menolak.
“Udah ayo. Keburu hujan tambah deras.”
Aku pun akhirnya mengikuti Papa. Tapi, sepanjang jalan, bahkan sampai aku terbaring di ranjangku, Aku masih memi-kirkan seseorang tadi. Aku nggak mungkin salah. Itu Kak Rama. Tapi, ke mana dia? Apa Papa benar, itu hanya khayalanku saja. Akh …Entahlah. Aku semakin bingung.
Kurasakan sinar matahari pagi mulai masuk ke kamar melalui celah-celah ventilasi udara. Aku beranjak dari tempat tidurku berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka. Kemu-dian menuju balkon untuk merasakan hangatnya mentari pagi.
“Pagi yang indah…”
11 Juni 2008
Musim sepertinya tidak dapat diperkirakan lagi. Bulan Juni yang seharusnya musim kemarau malahan sekarang setiap hari hujan turun dengan derasnya. Mungkin ini akibat dari pemanas-an global ypemanas-ang begitu cepat. Atau mungkin semua ini pertpemanas-anda bahwa Kak Rama telah berubah? Pertanda ada hal buruk yang telah terjadi pada Kak Rama. Pertanda bahwa…
Derttttt…. Dertttt…. Derttttt….
HP-ku bergetar membuyarkan lamunanku. Mama mengi-rim SMS kalau hari ini aku harus pulang sendiri karena Mama harus mengantar Eyang ke rumah sakit. Ya, melelahkan me-mang. Tapi, hari belum begitu sore. Tentunya banyak angkutan umum yang lewat di depan sekolahku.
Hampir dua jam aku menunggu di halte. Sudah tiga kali bus lewat di depanku tapi setiap kali aku melihat ke dalam, bus telah penuh sesak oleh penumpang. Ya, tak heran karena sekarang hujan. Aku masih menunggu bus yang lewat lagi tapi sama saja. Semua bus telah penuh. Jalan depan sekolah adalah jalur bus yang tergolong ramai. Jadi, tak salah kalau semua bus yang lewat telah penuh sesak.
Setelah terlalu lama aku menunggu, kuputuskan untuk berjalan kaki sambil menikmati hujan yang turun. Aku berjalan lurus melewati pinggiran taman kota. Hujan turun semakin lebat. Aku berteduh di halte depan taman kota. Kupandangi titik-titik hujan yang turun. Kemudian kupejamkan mataku. Kudengar-kan irama air hujan yang sangat indah. Yang membuat damai hatiku. Yang membuatku lupa kalau hari ini aku habis dijejali rumus-rumus fisika dan molekul-molekul kimia yang sedikit pun tak ada yang aku pahami. Hari yang membosankan…. Tapi, semua itu hilang. Sekarang yang ada hanyalah merdunya nya-nyian-nyanyian alam lewat derasnya air hujan yang mengalir ini. Tapi, tiba-tiba…
“Kak Rama ...,” kataku sambil melihat sekeliling halte. “Kak Rama …Kakak di mana?” Teriakku sambil mencari-cari si pemilik suara.
“Kak Rama …Kak…,” aku masih memanggil-manggil nama Kak Rama tapi tetap saja tak ada satu pun jawaban.
Derasnya guyuran air hujan tak kuhiraukan lagi. Lama aku mencari suara itu tapi tetap saja tak kutemukan. Tuhan… Apakah aku sekarang telah benar-benar gila. Sampai-sampai aku selalu menganggap Kak Rama datang menemuiku. Padahal di sampingku tak ada siapa-siapa lagi.
Hujan semakin deras. Sederas air mataku yang turun. Lagi-lagi bayangan Kak Rama kembali muncul dan menghantui pikiranku. Tapi, aku tetap di sini di tengah taman kota dan di tengah derasnya guyuran hujan. Akhhh…Aku tak peduli. Entah telah berapa puluh kali aku terdiam di tengah hujan mengharap Kak Rama akan datang membawakanku payung atau sekedar mengajakku berteduh. Tapi, Kak Rama tak pernah tahu bahwa di sini aku menunggunya, bahwa di sini aku terlalu takut sen-diri, bahwa di sini aku kangen Kak Rama. Mungkin aku bodoh terlalu mengharapkan orang yang sekarang ini telah begitu jauh dari pandanganku. Aku memang bodoh. Tapi, aku akan lebih bodoh lagi kalau harus menampik semua rasa yang ada di hati-ku ini …
S
emilir angin menyibak setiap helai rambutku. Kuhirup setiap udara yang melewati hidungku dan kusalurkan semua oksi-gen ke dalam paru-paruku. Ku lihat sekelilingku. Masih seperti dulu. Tak ada yang berubah. Pak Min penjual bakso masih te-tap bertahan di tempatnya. Begitu juga dengan penjual es degan dan rujak juga tak beralih dari tempat mangkalnya. Kutengadah-kan kepalaku. Kulihat beringin dengan bentuk dahan-dahannya yang hampir menyerupai payung masih setia memberikan jasa-nya sebagai tempat berteduh, bersantai, dan rumah yang jasa- nya-man bagi para burung. Kualihkan pandanganku ke tempat duduk akar beringin yang cukup besar di sebelahku. Di sanalah aku dan Randy membubuhkan cinta kami.“Dulu kamu ada di sini, Ran. Tapi, kamu sekarang sudah pergi,” lirihku sambil meraba-raba tempat duduk itu. Tak terasa air mataku telah mengalir membasahi pipiku.
“Seharusnya hari ini kita ada di sini, Ran. Di tempat ini. Tempat kita pertama kali bertemu. Tempat kita mengikat cinta. Tempat kita bercerita dan seharusnya hari ini tempat ini jadi saksi berjalannya cinta kita. Cinta kita yang sudah berjalan se-lama dua tahun. Tapi…,” aku tak kuasa menahan gejolak pe-rasaanku. Aku menangis sejadi-jadinya. Dengan mata sembab, kucoba membuka mataku dan mulai menarik nafas dalam-dalam. Kucoba menenangkan diri dengan mencoba tersenyum
Beringin cinta
Astika Nurwidyawati
kepada langit. Setelah merasa agak tenang, kulihat semua yang ada. Kulihat Pak Min. Dia memandangku dengan tatapan penuh arti. Aku yakin, dia sangat mengerti keadaan dan perasaanku. Satu bulan yang lalu aku masih bisa menikmati suasana indah bersama Randy di tempat ini. Di bawah beringin yang kami beri nama Beringin Cinta ini. Burung-burung menjadi saksi cinta kami. Dan, Beringin Cinta kami pun sepertinya sangat melindungi kesucian cinta kami. Di tempat inilah kami berbagi canda, tawa, dan duka. Di tempat ini pula kami menikmati bakso bersama yang terkadang terlalu pedas, terlalu asin, bahkan terlalu manis karena kebanyakan kecap. Tapi hari-hari bahagia itu sudah berlalu. Randy meninggal dalam kecelakaan. Dia terhantam truk yang melaju kencang. Tubuhnya hancur dan nyaris tak dapat dikenali.
“ Nggak. Itu nggak mungkin…!” Teriakku waktu mendengar kabar Randy telah tiada.
“Kamu harus percaya, Nes.” kata Ibuku.
“Nggak, Bu. Nggaaak…!” Teriakku sambil menangis tak percaya.
Setelah kejadian itu hidupku terasa hampa. Hidupku tak berarti lagi tanpa Randy. Randy adalah segalanya dan tak se-orang pun yang mampu menggantikan posisinya.
Aku masih ingat, sehari sebelum Randy meninggal dia sem-pat bertanya padaku di bawah Beringin Cinta kami, “Nes, temsem-pat apa sih yang ingin banget kamu datangi?”
“Apa, ya? Ehm… aku ingin ke Menara Eiffel sama kamu. Terus, aku mau naik ke puncaknya. Aku ingin lihat keindahan kota Paris dari atas.”
“Eiffel, ya? Tapi, mungkin itu gak akan pernah terwujud,” kata Randy lirih hampir tidak terdengar olehku.
“Apa, Ran?”
“Gak, kok. Gak ada apa-apa,” kata Randy pelan. Suaranya terdengar aneh. Seperti orang yang merintih kesakitan.
Pukul 00:30. Aku belum juga mampu memejamkan mata. Ku-lihat semua yang ada di sekitarku. Aku merasa ada sesuatu yang aneh. Lama-kelamaan, akhirnya aku terlelap. Dalam tidur aku bermimpi bertemu Randy. Dia kelihatan sangat sedih. Wajah-nya muram dan dia melambaikan tanganWajah-nya kepadaku. Aku pun terbangun dengan nafas tersenggal-senggal. Kutenangkan pikiranku dan kucoba tidur kembali. Akan tetapi, setiap meme-jamkan mata aku selalu bermimpi hal yang sama dan terus ber-ulang-ulang. Setelah aku mendapat kabar bahwa Randy telah meninggal, aku sadar bahwa mimpiku semalam adalah suatu pertanda. Pertanda kejadian terpahit yang akan aku hadapi.
Hari ini kuputuskan aku akan berziarah ke makam Randy. Aku ingin berada di sampingnya sekedar untuk merayakan
anniversary cinta kami yang tak akan pernah kami temui. Di sana aku segera berdoa dan kutabur bunga-bunga dengan linang-an air mata. Kucium batu nislinang-an Rlinang-andy dlinang-an kupeluk denglinang-an segenap rasa rindu. Hari telah beranjak senja tapi aku tak peduli. Hingga malam tiba pun aku tak melangkahkan kakiku keluar area pemakaman. Akhirnya aku pun terlelap dengan posisi memeluk makam Randy.
Dalam tidurku aku melihat pemakaman itu menjadi tem-pat yang sangat indah. Pohon-pohon bunga kamboja berdiri can-tik dengan bunga-bunganya yang bermekaran. Bintang-bintang terasa sangat dekat dengan kilaunya yang indah. Langit pun memancarkan cahayanya dengan paduan warna-warna cerah yang artistik. Kunang-kunang berterbangan dengan cahaya ber-warna-warni. Cantik sekali. Aku merasa tidak sedang berada di sebuah pemakaman tapi di surga. Aku terpesona. Dalam keka-gumanku aku mendengar suara Randy memanggil namaku, “Arnes…!”
bahunya. Kemudian ia mengajakku terbang tinggi sekali. Aku bisa melihat semua bagian-bagian dunia. Kulihat Patung Liberty kebanggaan warga Amerika berdiri dengan kokohnya, Menara Condong Roma, Tembok Raksasa China yang indah, dan semua keindahan di dunia aku temui. Tujuan terakhir kami adalah Menara Eiffel, tempat impianku. Aku naik ke puncaknya dan kunikmati keindahan malam Paris dengan lampu-lampu yang menghiasi setiap sudut kota. Kunikmati semua itu dengan Randy. Aku sangat bahagia.
“Aku sayang kamu,” bisiknya.
Darahku mendesir dan jantungku berdetak kencang. Ku-rasakan segar harum nafas Randy yang terasa sejuk di telinga-ku.
“Aku juga sayang kamu,” balasku.
Setelah puas menikmati keindahan dunia, aku pun diantar pulang oleh Randy. Sebenarnya aku tak mau, tapi Randy terus membujukku.
Buram-buram kulihat ayah dan ibu di sampingku. Dengan mata yang sangat berat kucoba membuka mataku secara per-lahan-lahan.
“Arnes, kamu sudah sadar nak,” kata Ibu sambil mengelus rambutku.
“Sadar? Arnes kan cuma tidur semalam, Bu. Lho, bukan-nya aku sekarang ada di makam Randy?” Tabukan-nyaku bingung.
“Nes, kamu itu pingsan, mati suri, selama tiga hari tiga malam. Kamu ditemukan pingsan oleh Pak Marto di makam Randy,” jelas Ayah.
Akhirnya aku sadar bahwa aku telah berkeliling dunia se-lama tiga hari tiga malam dalam keadaan pingsan. Kuingat pesan Randy sebelum mengantarku pulang, “Nes, kalau kamu kangen aku, kamu pergi aja ke Beringin Cinta kita. Terus, kamu pejamkan mata kamu dan kamu hirup udara perlahan-lahan. Aku akan ada buat kamu.”
kulihat Randy datang. Semakin jelas dan semakin jelas. Dia tersenyum padaku. Manis sekali.
K
ala itu langit berhias bintang yang bertaburan di malam hari. Tak jauh berbeda saat dia masih kanak-kanak. Bulan purnama yang begitu memikat. Seandainya bintang ada induknya pastilah bulan yang menjadi induknya. Dan seandai-nya bulan mempuseandai-nyai anak pastilah bintang yang menjadi anaknya.Air mata itu menetes perlahan dari kedua matanya yang indah bagai batu permata turun melewati pipinya yang lesung jika tersenyum dan akhirnya jatuh ke tanah yang kering. Me-mang saat itu adalah musim kemarau. Waktu yang indah untuk melihat perhiasan langit. Dia teringat akan masa lalunya saat hidupnya masih berlumuran lumpur kotor dan dialah penyebab ayahnya meninggal dunia.
Waktu itu pulang sekolah, dia bersama teman-temannya bersiap untuk tawuran dengan sekolah lain. Parang, sabit, pukul, pedang, batu, dan berbagai benda lainnya mereka gunakan untuk tawuran.
Frezan Ahmad namanya. Dia maju kemudian diikuti te-man-temannya. Frezan melempar batu ke arah lawan. Begitu juga lawan melempar batu ke arah Frezan. Suasana saat itu benar-benar sangat kacau. Ada yang terkena di kaki, tangan, dan bah-kan kepalanya sampai berlumuran darah. Hampir setengah jam pihak kepolisian belum ada yang melerai. Frezan maju
se-Keburukan Menumbuhkan
Kesadaran
Nur Thoyyib Majid
bagai provokator teman-temannya, tapi saat ia akan maju, dia terkena lemparan batu dahulu. Kemudian dia mundur.
Ketika Frezan mundur polisi datang dengan tembakan peringatan dilanjutkan dengan semprotan air untuk membubar-kan masa. Dengan barikade yang kuat dan kokoh , akhirnya kepolisian dapat menghentikan tawuran tersebut.
Frezan kemudian pulang ke rumah dengan merasakan rasa sakit yang sangat.
“Assalamualaikum,” Frezan kemudian masuk ke kamar-nya.
Sebelum itu ibunya mencegahnya, “Wa’alaikum salam. Ada apa, Zan?” Tanya ibu dengan lembut, “Kamu dari berkelahi? Terus kenapa kepalamu diperban?” Tanya ibu penasaran.
“Iya, memang kenapa? Tidak boleh?” Bentak Frezan dengan kasar. Frezan menutup pintu dengan keras.
Ibu Frezan yang bernama ibu Anna itu kemudian menangis. Dia merasa sedih tidak dapat mendidik anaknya dengan baik, yang bisa menghormati orang tua, berkata yang lembut dan soleh. Tidak hanya itu saja. Frezan berbicara kasar dengan ibu-nya. Hampir setiap kali ditanya pasti dijawab dengan kasar. Se-sungguhnya ibu Anna sudah mengetahui bahwa anaknya selalu tawuran dengan sekolah lain dan tidak hanya tawuran tetapi juga merokok dan minum-minuman keras. Hampir setiap malam dia keluar dan pulang larut malam.
Pagi harinya saat akan berangkat sekolah, Frezan berbin-cang-bincang dengan ayahnya yang bernama Pak Harun.
“Pak, saya minta dibelikan motor supaya sama dengan te-man-teman,” pinta Frezan.
“Maaf, Nak. Ayahmu ini tidak bisa membelikan motor,” jawab Pak Harun dengan lembut.
“Tidak! Pokoknya Ayah harus membelikan aku motor. Mengapa sih, Pak? Cuma membeli motor saja tidak bisa!”
Tiba-tiba terdengar suara dari dapur, “Ada apa tho, ini? Pagi-pagi sudah bertengkar. Sudah, sana sekolah! Sudah jam se-tengah tujuh nanti terlambat!” Kata ibu Anna.
Di lain waktu, setiap kali Frezan minta ayahnya agar dibeli-kan motor pastilah jawabannya tidak. Hampir setiap minggu dia menanyakan hal itu kepada kedua orang tuanya. Ayahnya yang bekerja sebagai guru honorer dan penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Sedangkan ibunya hanya bekerja sebagai penjahit yang dapat untuk membiayai sekolah Frezan. Sebenarnya kedua orang tua Frezan juga sedih tidak dapat membelikan motor buat Frezan.
“Bu, aku sedih tidak bisa membelikan motor untuk anak kita.” Ibu Anna yang dari tadi tiduran kemudian bangun sambil mengucek-ucek matanya.
“Ibu juga sedih, Pak. Apalagi teman Frezan yang namanya Fadil itu sudah dibelikan motor. Padahal dulu ketika masih SD mereka sering jalan kaki bersama ketika berangkat sekolah.”
“Benar, Bu. Tapi, Pak Abdullah, ayah Fadil itu, selain jadi guru juga mempunyai warung makan yang cukup sukses.”
“Iya, Pak. Tapi, kita memang miskin. Jangankan beli motor, beli beras untuk makan saja susah.”
“Iya benar, Bu…..!”
Frezan tetap bersikukuh agar dibelikan motor. Bahkan dia mempunyai rencana agar ia mendapatkan sepeda motor. Per-tama, yang dilakukannya adalah membuat surat untuk kedua orang tuanya. Kedua, dia harus menyiapkan segala peralatan yang diperlukan.
“Ide cemerlang. Pasti Ayah dan Ibuku akan membelikan motor. Bagus, Zan. Kamu benar-benar anak berbakat untuk menulis naskah,” kata Frezan dalam hati.
***
Malam hari yang gelap menutup matahari yang terang. Frezan belum juga pulang-pulang. Hampir jam sembilan Frezan belum kelihatan batang hidungnya. Ibu Anna kemudian melihat dan masuk ke kamar tidur Frezan.
“Pak . . . !”
Dengan tergopoh-gopoh Pak Harun menuju kamar. Kamar Frezan yang tadinya biasa-biasa saja sekarang disulap menjadi seperti buka praktik dukun Mbah Frezan. Dinding-dinding itu dihias dengan gambar-gambar motor kemudian ditaburi bunga-bunga mawar dan melati disertai sebuah meja kecil dan dilapisi dengan kain batik. Dan, di atasnya terdapat kendi dan sebuah lemper yang terdapat kemenyan dan parfum. Kemudian terdapat peralatan lain layaknya sebuah tempat dukun. Dan, di atas meja itu terdapat sepucuk surat.
Teruntuk
Ayah dan Ibu Yang terhormat
Maaf, mungkin ini lancang, Ayah Ibu….
Tapi, untuk mendapatkan sepeda motor yang Frezan ingin-kan, Frezan tidak akan menyerah walau dengan cara apa pun.
Termasuk dengan menjalankan praktik ini, Frezan tahu ini dosa tapi karena ayah dan ibu memaksa aku untuk melaku-kannya,, memaksa untuk berjuang mendapatkan motor yang Frezan inginkan sendiri, mungkin saat ini aku tidak akan pulang sampai apa yang aku dapatkan bisa tercapai.
Dari
Ayahnya yang dianggap masyarakat sebagai imam masjid di lingkungannya benar-benar kaget bukan kepalang setelah membaca surat tersebut. Pak Harun benar-benar marah besar sekaligus kecewa dan sedih. Marah karena dia diinjak-injak oleh anaknya sendiri. Kecewa karena tidak bisa membelikan motor dan sedih karena tidak ada yang bisa dia lakukan.
Pagi harinya, hujan turun dengan derasnya. Ibu Anna sedang membuatkan kopi untuk Pak Harun sekaligus menyiapkan jas hujan dan payung.
“Hati-hati, Pak. Nanti saja kalau hujan sudah reda,” tanya ibu Anna.
“Tidak, Bu. Anak kita tidak boleh menjadi musyrik walau bagaimanapun juga tetap akan ayah cegah,” jawabnya dengan tegas tidak ada keraguan.
“Terus Bapak mau pergi ke mana?”
“Tadi Bapak diberi tahu Fadil. Katanya, Frezan di rumah temannya dan akan pergi ke bukit Ngarai sekitar jam delapan.”
“Bukit itu kan tempat untuk pesugihan kan, Pak?” “Benar, Bu.”
“Hati-hati kalau begitu, Pak. Katanya tempatnya mengerikan.” “Diminum dulu, Pak.”
Setelah selesai sarapan Pak Harun pamitan kepada ibu Anna.
“Assalamualikum” “Wa’alaikum salam”
***
Frezan tersadar dari lamunannya. Semenjak kejadian itu dia sangat berubah drastis. Dia tidak tawuran lagi, tidak mero-kok dan minum minuman keras. Sekarang setelah 10 tahun dari kejadian itu dia benar-benar merasa berdosa. Dia sekarang menjadi anak yang patuh terhadap orang tua. Berkata yang lemah lembut dan yang penting adalah taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tiba-tiba ia ingin sekali membuat puisi untuk ayahnya,
Ayah …….
Betapa besarnya cintamu padaku Belaian tanganmu yang lembut
Tak pernah kurasakan karna kesombonganku Ayah…….
Betapa hebatnya dirimu
Yang selalu berusaha dengan keras Tak kenal putus asa
Tak kenal menyerah Ayah….
Sungguh, aku sangat mencintaimu
Tak ada kata cinta yang dapat mewakili rasa cimtaku Tapi karna aku
Kamu sekarang tidak ada di sampingku
S
enja. Aku duduk sendiri di kamar atas dan kupandang sebuah sarang kecil di sela dahan pohon beringin yang cukup besar itu. Mungkin jika digunakan untuk bersandar sangat nyamanlah. Senyumku pun semakin merebak ketika terdengar kicauan induk burung hinggap untuk memberi makan anak-anaknya. Iri rasanya melihat kedatangan induk burung itu. Kupejamkan mataku yang seketika terkenang peristiwa 13 tahun silam, akan sebuah hari senja di mana sepasang suami istri menghampiri seorang anak kecil dengan membawa manis-an. Dipeluknya anak kecil itu dengan kasih sayang, digandeng dan diajak anak itu menuju taman di seberang ujung jalan.“Cit…cittt…,” terdengar rem dadakan yang membuat anak kecil itu terpental dan hanya tatapan kosong anak kecil itu yang terbayang, menyaksikan sepasang suami istri tadi tergeletak di depannya. Perlahan kudengar lagi kicauan burung itu sayup-sayup. Ke mana perginya?
Perlahan kuatur nafasku yang semakin tersenggal ketika tak kutemukan kicauan itu. Mataku kubuka perlahan. Kuamati lagi sarang di sela pohon itu. Namun, yang kudapati seorang anak lelaki kecil meraihnya dari dahan.
“Hai, berhenti!” Teriakku pada anak itu.
Tanpa menghiraukanku, anak itu lekas turun dari batang pohon. Hatiku yang tak tega melihat induk burung yang pasti
Satu Hari dalam Hidupku
Fr. Anita Dyan K
akan mencari anak-anaknya itu, segera kuberanikan turun melewati pipa di samping jendela kamarku. Panasnya tangan tidak menghalangiku tuk mengejar anak itu yang sudah turun dari batang pohon. Kukejar tanpa henti. Rupanya gesit pula langkah anak itu hampir aku tertipu oleh derap larinya. Pasar Grenjeng yang terletak tak jauh dari kompleks pohon beringin tersebut merupakan arena yang dimasuki anak kecil itu. pusing aku dibuatnya berputar-putar tanpa henti.
“Grubak!” Tiba-tiba anak kecil itu menabrak seorang anak muda. Langkahku sempat berhenti melihatnya. Yang kukira muda itu akan menghalangi langkah anak itu, namun ternyata bisikan kecil membuat seorang muda itu menuntunnya meng-hilang tanpa kuketahui. Kulihat ke sana-ke mari di sela lemari-lemari yang berjajar yang penuh dengan barang dagangan di dalamnya tentunya dan di bawah meja-meja yang terlihat.
“Permisi, Bapak tadi melihat dua anak laki-laki berlari tadi? Yang satu masih berumur sekitar tujuh tahun dan yang satu….” Belum sempat kuselesaikan pertanyaanku bapak yang kutanya menyela, “Maksud Adik, yang berlari barusan?”
“Iya, Bapak tahu siapa mereka?” “Bukan hanya tahu tapi juga kenal.”
“Siapa mereka, Pak? Mungkin Bapak bisa memberitahu tempat tinggal mereka?”
“Kamu masuk gang sebelah kiri itu. rumah menghadap selatan nomor lima.”
Tanpa banyak bicara Bapak yang sedang sibuk membaca koran tadi langsung meneruskan membacanya.
“Terima kasih, Pak.”
Kutapaki jalan menuju gang itu. Suasana tenang tanpa kebisingan kendaraan bermotor menggiringku terus melangkah. Hari yang semakin larut mengingatkanku untuk segera menye-lesaikan masalah besar yang walau sebenarnya teruntuk hanya padaku saja.
keranjang bertumpukan di kanan rumah itu. Kayu pintu, din-ding, dan atap yang sudah rapuh menyiratkan ketidaklayakan rumah itu untuk dihuni. Bersyukur rasanya aku masih men-dapat rumah yang layak dihuni bersama keluarga tiriku yaitu ayah, nenek, kakek, dan kakak.
“Krompyang, therr…” Terdengar beberapa barang pecah mengagetkanku dari lamunan.
“Keluar! Sebelum kau bisa mengganti barang-barang ini. Sebagai hukuman untuk malam ini jangan berani tidur di rumah!” Teriak seorang Bapak yang menyentakkan pikiranku. Dibukanya pintu oleh anak kecil yang mengambil sarang burung tadi. Segera kuhampiri anak itu. Belum sempat aku me-ngeluarkan kata. Tatapan yang berkaca-kaca tersorot dari anak itu menggugurkan niatku untuk menasihatinya mengembalikan sarang burung itu.
“Kau tidak…”
“Untuk apa kamu datang kemari?” Potong anak itu dengan nada marah.
Belum sempat aku menjawab anak itu pergi tanpa meng-hiraukanku lagi. Dengan sedikit bertanya dalam hati, bukankah seharusnya akulah yang marah? Namun, kenapa tidak sopan sekali itu anak langsung pergi tanpa mendengarkan penjelasan-ku.
Kubalikkan badanku dengan menghela nafas. Terlihat anak itu menangis di pelukan seorang muda yang menuntunnya tadi. Ditatapnya aku dengan tajam oleh anak muda itu.
“Kau apakan anak ini hingga menangis seperti ini?” Gertak-nya.
“Menuduh tanpa bukti.”
“Mau bukti apalagi? Ini dia menangis. Kamu tadi kan yang mengejarnya?”
“Kalau iya kenapa? Tapi, maaf bukannya aku…..”
Sungguh kata-kata anak muda itu menusuk hatiku,” se-enaknya itu orang menuduh tanpa bukti, memang dia siapa sampai berani membentakku? Seruku dalam hati.
“Masih bengong lagi. Pulang sana! Anak gadis sepertimu jangan keluar rum…”
“Apa urusanmu menasihatiku? Asal kamu tahu aku tidak membuat anak itu menangis. Dia sendiri yang berbuat salah.”
“Sudahlah pulang sana sebelum….”
“Tapi, maaf sebelumnya. Sebab aku kemari hanya...” “Siapa suruh berdebat di depan rumahku? Pergi kalian se-mua! Mengganggu orang nonton teve saja!” Bentak Bapak anak kecil itu tiba-tiba yang lagi-lagi memotong omonganku, yang kesekian kalinya membuatku tertegun.
“Tunggu apa lagi? Pergi!” Teriak Bapak itu yang sudah siap-siap akan melempar sandal yang dikenakannya.
Lari pulang adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan diri sendiri. Kecewa yang kubawa, sedih rasanya mengapa aku tidak bisa menggugah anak kecil tadi untuk sekedar mengem-balikan burung-burung kecil itu berkumpul dengan keluarga-nya.
“Plak,,,” jidatku adalah sasaran kepikunanku. Mengapa baru terpikir bahwa wilayah itu adalah baru bagiku. Lupa gang menuju jalan utama adalah masalah berikutnya yang hinggap padaku.
“Kan baru tadi pagi ya aku sampai di sini. Berani-beraninya lagi keluar rumah tanpa izin. Aduh gimana ini?” Linglung tiba-tiba aku di pertigaan gang Melati itu, “Aagh…!” Teriakku ketika tepukan lembut menyentuh bahuku.
“Mbak Dyan kenapa bisa sampai sini?”
“Mbok, aduh kaget saya. Untunglah simbok di sini. Saya tersesat, Mbok,”
“Ya sudah, mari pulang.”
kamar sekarang!” Nada marah sangat terasa ketika kekek melihat-ku saat itu. Nenek yang terlihat mencemaskanmelihat-ku langsung menghampiriku dan memapahku menuju kamar.
“Marti, siapkan makanan dan bawa ke kamar Dyan, ya!” “Ya, permisi.”
Aku hanya diam tanpa kata. Merasa bersalah itulah yang berkecamuk di dalam dadaku. Ketika melintasi ruangan terbuka sebelum menuju tangga, terlihat kamar yang tertata rapi yang jelas tidak mungkin itu kamarku.
“Nenek tidak mau kamu mengulanginya lagi!”
“Maaf Nek, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan izin lebih dahulu sebelum pergi-pergi.”
“Nenek bukannya melarang kamu untuk bepergian, tapi...,” nasihat Nenek terhenti seketika setelah melihat penyesalan yang terlihat dari raut sedihku dan anggukanku.
“Tok…tok...tok…,”
Terlihat sosok laki-laki muda dengan kaos hitam bercelana panjang dan rambutnya masih hitam panjang rapi seperti Rojer Danuarta. Seketika membuatku semakin menahan tangis.
“Baiklah kamu makan, ya. Nenek tinggal dulu. Temani Kakekmu di bawah,”
“Iya, Nek. Makasih.”
Tinggal aku dan Kak Beni yang masih mematung mena-tapku. Jantungku menjadi tak menentu melihat tatapan mata-nya. Kak Beni pun mendekatiku perlahan membawakan makan malamku.
“Nih dimakan! Kakak gak mau kamu sampai sakit dan melihat tindakanmu seperti hari ini lagi.”
“Maaf, bukannya aku tidak mau pamit tapi….,” kataku pun tak dapat kulanjutkan lagi.
“Asal kamu tahu, Kakak mencari kamu di kota yang baru kamu datangi ini.”
ayah dan ibuku saja yang kuingat. Air mata yang dari tadi telah membendung di pelupuk mata tertumpah sudah di kedua tela-pak tanganku sendiri. Ketakutan dan kekecewaan yang mem-buat dadaku terisak-isak.
Belaian tangan Kak Beni terasa membuatku semakin ter-isak.
“Sudahlah, tapi tidak perlu seperti ini dong, Dik! Pasti ada sesuatu. Coba cerita pada kakakmu ini.”
Kuceritakan dengan isakan akan kenangan yang teringat ketika aku melihat induk burung yang memberi makan anak-anaknya di dahan pohon tadi sore.
“Kakak tahu. Sulit melihat orang tua kita pergi secara tiba-tiba. Apalagi itu demi menyelamatkan kita. Tegarlah adikku sayang!” Nasihat Kak Beni langsung memelukku yang menenang-kan tangisku.
“Lalu kenapa sampai kamu tersesat, Dik?”
“Gara-gara anak itu lari kayak kuda lumping. Aku ngejar sampai tak lihat kanan kiri jalan pulang. Mana sempat kehi-langan jejak. Eh, tahunya Kak, setelah ketemu di depan rumah-nya, dia itu dimarahi bapaknya. Entah kenapa, tapi sepertinya karena memecahkan barang. Mana setelah keluar rumah raut wajahnya marah melihat aku dan mangkelnya lagi ada anak muda yang ikut-ikutan membelanya. Kan dia ngajak adu mulut tu, eh bapaknya keluar bawa sandal. Ya udah kita yang kumpul di depan rumah pergi,” curhatku panjang yang didengar dengan sesakma oleh kakakku
“Ya udah, sekarang makan dulu ya!”
“Makasih ya, Kak. Kakak tu selalu ada kalau aku butuh-kan.”
Kecupan Kak Beni di keningku pun menutup curhatanku padanya pada malam itu. Aku yang merasa gerah tidak lang-sung makan namun mandi dulu untuk menyegarkan pikiran dari kesuntukan senja itu.