• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arum Danarti Purnomo

Dalam dokumen PIANO DALAM PASIR Antologi Cerpen Bengke (Halaman 31-38)

ini. Aku ingin mengingat terakhir kali Kak Rama melambaikan tangannya untukku sebelum pergi meninggalkanku enam bulan yang lalu.

Saat terakhir kali kudengar suara Kak Rama, “Sya…, Aku sayang kamu,” dari balik jendela ini sambil membalas lambaian tangan dan kata-katanya. Saat selembar surat beramplop biru terselip di jendela kamarku. Surat yang selalu kubaca setiap malam menyambut mimpiku. Berharap mimpiku malam ini adalah bertemu dengan Kak Rama. Dan, ternyata harapanku tak sia – sia. Setiap malam Kak Rama selalu hadir dalam mimpi- ku. Dan, setiap malam juga suara lembut Kak Rama selalu me- nyapa saat aku terlelap, “Jaga dirimu, Sya…Kakak akan pulang untuk menemuimu. Kakak janji,” setidaknya aku dapat bahagia walau hanya sekejap dalam mimpi.

Kupandangi lekat-lekat surat yang ada di tanganku .

Dear Nasya Alvelia…

Maafin aku yang telah pergi meninggalkanmu .Aku tak menginginkan semua ini, Sya .Tapi, dunia memaksaku untuk pergi. Tiga hari yang lalu ayah menyuruhku untuk pindah ke Jambi. Kamu tahu, Sya bagaimana hatiku saat itu?Aku tak bisa menerima. Jangan salahkan aku kenapa aku tak menolaknya. Aku udah menolaknya, Sya …Sungguh. Tapi, ayah terus me- maksaku untuk pergi…

Mungkin kamu akan bertanya. Kenapa baru sekarang saat tinggal beberapa jam lagi aku pergi kakak baru memberitahumu . Sekali lagi maafin aku, Sya .Aku takut kamu akan sedih..Aku takut kamu akan sakit .Aku janji, Sya . Aku akan kembali untuk kamu. Tunggu aku, Sya!! Tunggu aku bersama surat ini. Dan dengarkan salam rinduku bersama riuh hujan yang turun. Aku akan kembali, Sya…

Love Rama

Surat ini yang selalu membuatku yakin kalau suatu saat nanti Kak Rama akan datang, bersama puing-puing rindunya. Datang untuk menemui dan kami akan bersama selamanya. Aku begitu yakin.

6 Mei 2008

Satu tahun berlalu begitu cepat . Tak terasa air hujan kem- bali menyambutku lagi. Dan, tak berbeda dari satu tahun lalu, aku masih terdiam dan mengamati hujan dari balik jendela ka- mar. Aku suka hujan karna aku tahu Kak Rama selalu mengi- rimkan lantunan lagu rindunya bersama hujan. Tapi, ada yang berbeda dengan hujan kali ini. Aku merasakan sakit ketika aku mengingat-ingat kenangan-kenanganku saat bersama Kak Rama. Entahlah…. Aku berpikir, apa mungkin Kak Rama lupa menitipkan rindunya lewat hujan? Apa mungkin lagu rindu itu terlalu lirih hingga aku tak mampu mendengarnya? Sampai kapan aku harus menunggu di sini, Kak Rama? Sampai kapan Kakak akan meninggalkanku? Kapan Kakak kembali ke sini lagi? Untuk mencari pelangi di tengah gerimis bersama Sya?

Akan tetapi, ketika merasakan hujan tahun ini, aku ragu. Ragu pada keyakinanku setahun yang lalu. Ragu bahwa Kak Rama akan kembali untuk menemuiku. Aku terlalu takut berharap pada waktu karena aku sering dibuatnya kecewa. Aku terlalu takut menanti sebuah kenyataan karena semua kenyataan selalu memaksaku untuk menangis.

Langit semakin gelap. Matahari telah pergi meninggalkan singgasananya. Malam menjemputku. Guyuran air hujan mem- buatku terjaga dari mimpi walaupun hujan malam ini tak sede- ras tadi siang. Jam dinding menunjuk angka 23.45. Kupandangi foto Kak Rama dan kembali kubaca surat biru Kak Rama. Se- telah selesai membaca kuulangi lagi dan begitulah seterusnya berulang-ulang. Mungkin sampai aku hafal isi surat itu.

Setelah selesai membaca – yang mungkin ke-79 kalinya – rasa ragu kembali merasuk. Kenangan-kenangan Kak Rama yang semakin jelas tergambar dalam ingatan, walaupun aku

tak meminta untuk mengingat kembali kenangan-kenangan itu. Ingin rasanya kupejamkan mataku agar aku dapat lupa sejenak pada kenangan yang membuatku semakin sakit. Agar aku dapat tersenyum sejenak. Tapi, aku tak sadar bahwa ternyata mataku memang sudah terpejam. Tapi, sampai sekarang aku tak pernah mendapatkan senyum itu. Aku ingin berlari dari semua kenyataan yang ada ini, tapi semakin aku berlari kenya- taan-kenyataan pahit itu semakain kencang mengejarku.

Aku berjalan ke arah teras kamarku. Memandangi tetes demi tetes air hujan yang turun malam ini. Merasakan hembus- an angin malam yang tertiup pelan. Saat itu kubisikkan puisi dan tembang-tembang cinta untuk Kak Rama. Agar dia datang, agar dia kembali, agar aku dapat memeluknya lagi.

“Kak, biarkan malam ini gelap tanpa cahaya bintang .Tapi, aku tak akan membiarkan langit hatimu gelap tanpa cahaya cintaku.”

Hufffffhhhh….Kutarik nafas panjang-panjang. Kupalingkan pandanganku ke arah kolam kecil di samping rumah. Tapi, tiba- tiba aku melihat seseorang melambaikan tangannya ke arahku. Seseorang itu memakai kaos biru dan celana jeans, persis seperti yang dipakai Kak Rama saat akan pergi meninggalkanku. Ya, tak salah. Itu Kak Rama. Aku berlari menembus hujan.

“Kaaak Raammaa…!” Teriakku.

Aku masih berlari menuju samping kolam kecil tadi menuju tempat Kak Rama berdiri. Tuhan, terima kasih. Akhirnya Kau kembalikan Kak Rama untukku lagi. Tapi, “Kaaak…Kak Rama! Kakak di mana? Kakak jangan sembunyi, donk!” kataku me- manggil-manggil Kak Rama.

“Kakak! Sya tahu Kakak sembunyi, kan, di balik pohon?” Kataku sambil berjalan ke belakang pohon angsana. Tapi, di sana Kak Rama juga tak kutemukan.

Tiba-tiba…Seseorang menepuk pundakku dari belakang “Kak Rama …!” Kataku sambil membalikkan badan.

Tapi, yang berdiri di belakangku justru seorang laki-laki berumur 47 tahun mengenakan piama dan membawa lampu penerangan. Ya, dia papaku.

“Nasya, Kamu ngapain malam-malam begini ke luar?” “Sya nyari Kak Rama, Pa. Tadi Kak Rama ke sini,” kataku sambil menoleh ke tempat di mana aku melihat Kak Rama tadi. “Rama? Sya, bagaimana mungkin Rama bisa sampai ke sini? Pagar depan sudah Papa kunci dari tadi jam sembilan, Sayang. Sudah, kamu jangan kebanyakan berkhayal. Masuk yuk. Sudah malam. Nanti kamu malah sakit, Sayang,” Papa kemudian meng- gandeng tanganku.

“Tapi, Pa…,” kataku menolak.

“Udah ayo. Keburu hujan tambah deras.”

Aku pun akhirnya mengikuti Papa. Tapi, sepanjang jalan, bahkan sampai aku terbaring di ranjangku, Aku masih memi- kirkan seseorang tadi. Aku nggak mungkin salah. Itu Kak Rama. Tapi, ke mana dia? Apa Papa benar, itu hanya khayalanku saja. Akh …Entahlah. Aku semakin bingung.

Kurasakan sinar matahari pagi mulai masuk ke kamar melalui celah-celah ventilasi udara. Aku beranjak dari tempat tidurku berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka. Kemu- dian menuju balkon untuk merasakan hangatnya mentari pagi.

“Pagi yang indah…”

Hujan tadi malam menyisakan titik-titik air yang menempel pada daun-daun pohon. Kulihat burung-burung gereja beter- bangan bersama teman-temannya. Mereka menikmati sejuknya pagi sambil sesekali hinggap di pohon yang teduh atau di tanah sambil berkejar-kejaran dengan teman-teman mereka. Aku iri pada mereka yang dapat merasakan begitu indahnya pagi ini tanpa ada beban yang menggelayut dalam hatinya. Tidak seperti diriku …. Mungkin aku akan bahagia seperti mereka andai saja pagi ini Kak Rama datang dan menemaniku merasakan kebe- saran Tuhan yang begitu sempurna. Langit timur yang ke- merahan, kicau burung merdu yang saling bersahutan, udara pagi yang masih segar yang belum tercemar polusi asap kenda- raan. Ya, seandainya …

11 Juni 2008

Musim sepertinya tidak dapat diperkirakan lagi. Bulan Juni yang seharusnya musim kemarau malahan sekarang setiap hari hujan turun dengan derasnya. Mungkin ini akibat dari pemanas- an global yang begitu cepat. Atau mungkin semua ini pertanda bahwa Kak Rama telah berubah? Pertanda ada hal buruk yang telah terjadi pada Kak Rama. Pertanda bahwa…

Derttttt…. Dertttt…. Derttttt….

HP-ku bergetar membuyarkan lamunanku. Mama mengi- rim SMS kalau hari ini aku harus pulang sendiri karena Mama harus mengantar Eyang ke rumah sakit. Ya, melelahkan me- mang. Tapi, hari belum begitu sore. Tentunya banyak angkutan umum yang lewat di depan sekolahku.

Hampir dua jam aku menunggu di halte. Sudah tiga kali bus lewat di depanku tapi setiap kali aku melihat ke dalam, bus telah penuh sesak oleh penumpang. Ya, tak heran karena sekarang hujan. Aku masih menunggu bus yang lewat lagi tapi sama saja. Semua bus telah penuh. Jalan depan sekolah adalah jalur bus yang tergolong ramai. Jadi, tak salah kalau semua bus yang lewat telah penuh sesak.

Setelah terlalu lama aku menunggu, kuputuskan untuk berjalan kaki sambil menikmati hujan yang turun. Aku berjalan lurus melewati pinggiran taman kota. Hujan turun semakin lebat. Aku berteduh di halte depan taman kota. Kupandangi titik-titik hujan yang turun. Kemudian kupejamkan mataku. Kudengar- kan irama air hujan yang sangat indah. Yang membuat damai hatiku. Yang membuatku lupa kalau hari ini aku habis dijejali rumus-rumus fisika dan molekul-molekul kimia yang sedikit pun tak ada yang aku pahami. Hari yang membosankan…. Tapi, semua itu hilang. Sekarang yang ada hanyalah merdunya nya- nyian-nyanyian alam lewat derasnya air hujan yang mengalir ini. Tapi, tiba-tiba…

“Nasya….” kudengar seseorang memanggil namaku. Dan, sepertinya aku begitu mengenal suara itu. ya, tak salah. Itu adalah suara Kak Rama.

“Kak Rama ...,” kataku sambil melihat sekeliling halte. “Kak Rama …Kakak di mana?” Teriakku sambil mencari- cari si pemilik suara.

“Kak Rama …Kak…,” aku masih memanggil-manggil nama Kak Rama tapi tetap saja tak ada satu pun jawaban.

Derasnya guyuran air hujan tak kuhiraukan lagi. Lama aku mencari suara itu tapi tetap saja tak kutemukan. Tuhan… Apakah aku sekarang telah benar-benar gila. Sampai-sampai aku selalu menganggap Kak Rama datang menemuiku. Padahal di sampingku tak ada siapa-siapa lagi.

Hujan semakin deras. Sederas air mataku yang turun. Lagi-lagi bayangan Kak Rama kembali muncul dan menghantui pikiranku. Tapi, aku tetap di sini di tengah taman kota dan di tengah derasnya guyuran hujan. Akhhh…Aku tak peduli. Entah telah berapa puluh kali aku terdiam di tengah hujan mengharap Kak Rama akan datang membawakanku payung atau sekedar mengajakku berteduh. Tapi, Kak Rama tak pernah tahu bahwa di sini aku menunggunya, bahwa di sini aku terlalu takut sen- diri, bahwa di sini aku kangen Kak Rama. Mungkin aku bodoh terlalu mengharapkan orang yang sekarang ini telah begitu jauh dari pandanganku. Aku memang bodoh. Tapi, aku akan lebih bodoh lagi kalau harus menampik semua rasa yang ada di hati- ku ini …

Aku berlari menembus hujan yang belum juga reda menuju sebuah bukit kecil yang ada di taman. Dari sini kulihat danau kecil yang berada di taman sebelah barat. Dari atas aku ber- teriak, “Kak Ramaaaa…! Sya akan tetap di sini…! Menunggu kakak kembali! Sya janji Sya akan selalu menitipkan lagu rindu Sya pada hujan yang turun…! Sya janji, Kak…! Sungguh...!”

S

emilir angin menyibak setiap helai rambutku. Kuhirup setiap udara yang melewati hidungku dan kusalurkan semua oksi- gen ke dalam paru-paruku. Ku lihat sekelilingku. Masih seperti dulu. Tak ada yang berubah. Pak Min penjual bakso masih te- tap bertahan di tempatnya. Begitu juga dengan penjual es degan dan rujak juga tak beralih dari tempat mangkalnya. Kutengadah- kan kepalaku. Kulihat beringin dengan bentuk dahan-dahannya yang hampir menyerupai payung masih setia memberikan jasa- nya sebagai tempat berteduh, bersantai, dan rumah yang nya- man bagi para burung. Kualihkan pandanganku ke tempat duduk akar beringin yang cukup besar di sebelahku. Di sanalah aku dan Randy membubuhkan cinta kami.

“Dulu kamu ada di sini, Ran. Tapi, kamu sekarang sudah pergi,” lirihku sambil meraba-raba tempat duduk itu. Tak terasa air mataku telah mengalir membasahi pipiku.

“Seharusnya hari ini kita ada di sini, Ran. Di tempat ini. Tempat kita pertama kali bertemu. Tempat kita mengikat cinta. Tempat kita bercerita dan seharusnya hari ini tempat ini jadi saksi berjalannya cinta kita. Cinta kita yang sudah berjalan se- lama dua tahun. Tapi…,” aku tak kuasa menahan gejolak pe- rasaanku. Aku menangis sejadi-jadinya. Dengan mata sembab, kucoba membuka mataku dan mulai menarik nafas dalam- dalam. Kucoba menenangkan diri dengan mencoba tersenyum

Dalam dokumen PIANO DALAM PASIR Antologi Cerpen Bengke (Halaman 31-38)