• Tidak ada hasil yang ditemukan

Triwik Kristina

Dalam dokumen PIANO DALAM PASIR Antologi Cerpen Bengke (Halaman 153-169)

Kadang aku sangat egois, karena teman-teman selalu meng- ejek aku, yang selalu meninjam buku. Kadang aku berpikir, “Ke- napa aku harus terlahir dikeluargaku ini? Kenapa bukan keluar- ga seperti teman-temanku?. Tapi Tuhan selalu setia padaku. Kadang aku terlalu jauh terjatuh, tapi tangan-Nya, tak pernah melepaskan genggaman tanganku.

Senin, 15 Juli 2007, guruku mengarahkan untuk membeli buku paket seharga Rp 30.000,- dan ia mewajibkan kami untuk membeli. Kebimbangan menyelimuti otakku. “Bagaimana aku ngomong sama Ayah? Sedangkan uang bulan yang kemarin saja aku nunggak empat bulan!. Aku tidak takut nanti Ayah membentak aku, tapi aku takut kalau ibu tambah sakit apabila mendengar perdebatanku. Sampai hari Rabu aku belum bicara pada Ayah, dan Kamis sore, aku beranikan diri mengutarakan semuanya.

“Ayah! Ayu mau ngomong, Ayah sibuk?

“Kenapa? Ada tagihan dari sekolah? Bilang.., Ayah belum punya uang. Mungkin bulan depan.

“Bukan Ayah, bukan tagihan bulanan!”

“Ya sudah. Berarti tidak ada yang lebih penting dari itu! Kata-kata ayah membuat aku sangat sedih, meski aku tahu ayah benar-benar pusing. Aku hanya bisa menangis di kamar, dan berteriak tanpa suara.

“Ayu..! Kenapa lagi? Ayah marah sama Ayu?’ Tanya Leo, kakakku.

“Ayah jahat kak! Ayu butuh buku. Tapi ayah, ....” Aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku. Aku hanya terbaring lemas dengan isak tangisku.

“Ayu, Ayu.., kan punya celengan. Ayu kan juga ikut Bengkel Sastra, masihkan uangnya?

“Kak.., uang itu celengan Ayu! Buat jaga-jaga kalau ibu butuh obat kak! Pokoknya Ayu Ayu gak mau pecahin celengan Ayu!” “Oke..! Ya terserah deh! Pilih punya buku atau tidak. Me- mang berapa harga bukunya? Rp 20.000,- cukup gak? Pakai saja uang kakak. Sisanya kamu tambahin!”

Kak Leo meletakkan uang Rp20.000 di meja kamarku. Kulihat selembar uang itu, ingin ku gapai uang itu, tapi aku tahu, kakak lebih butuh banyak uang.

“Pyar....!

Kakak kemudian berlari dan menemui aku lagi.

“Ayu?! Kenapa di pecah? Uang dari kakak belum cukup? Berapa sih harga buku kamu?!

“Kak, Ayu tahu kakak sayang sama Ayu, dan Ayu juga tahu kakak butuh uang. Ayu gak bisa terima uang kakak”.

Aku mengembalikan uang kakak. Dan kakak, memeluk aku,

“Ayu, kakak janji besok kakak akan kerja dapat uang, kakak akan belikan Ayu buku, jadi Ayu bisa belajar, gak diejek teman-teman lagi. Kakak janji kakak akan berusaha buat Ayu.

“Kakak makasih ya ?!.

Keesokan harinya, wajah senyum menyambut mentari pagi. Uang Rp30.000,- sudah di tanganku. Dengan bangga aku pergi ke sekolah, dan membeli buku dari koperasi sekolah. Dengan PD aku berlari menemui teman-teman di perpustakaan, tapi tiba-tiba, ...

“Bruk,...!, buku aku terlempar dan masuk ke dalam ember berisi air kotor, bekas pel.

“Bukuku?!, seketika aku menangis.

“Ayu! Maaf, Bapak gak sengaja! Buku kamu, ....basah?” Tanya Pak Iwan. Aku dan Iwan bertabrakkan tanpa sengaja, dan buku baruku masuk ke dalam ember. Isak tangis adalah iringan pertama kejadian itu, dan entah bagaimana lagi, ku dapat buku baru, karena buku itu telah rusak. Aku hanya bisa memegang dan menangisinya. “Ayu, biar Bapak yang ganti. Bapak yang salah!”

“Tidak pak, ini salah Ayu! Ayu lari tanpa lihat-lihat. Bapak gak salah! Dan buku ini,..., tangisku semakin menjadi, meng- ingat buku itu adalah celengan yang kupecahkan. Dan aku malu jika pak Iwan harus menggantinya, karena ini juga kesalahan- ku.

“Ayu, buku ini sudah rusak! Dan Bapak wajib mengganti- nya, karena ini juga kesalahan saya!”

“Tapi pak, Bapak gak wajib kok menggantinya!”

“Baiklah! Bapak gak wajib ganti, karena itu menjadi per- mintaan kamu!”

Pak Iwan diam, dan aku pun merasa menyesal, karena telah menolak tawaran Pak Iwan, padahal aku benar-benar butuh. Tapi kemudian, pak Iwan ke koperasi dan kembali menemui aku dengan buku yang sama seperti yang kubeli tadi.

“Ayu.., kamu kemarin peringkat tiga kan?! “Kenapa Pak?”

“Buku ini hadiah dari Bapak, buat Ayu! Berarti bukan tentang yang tadi. Bukan wajib lagi!”

Senyumku kembali terbangun...,

“Terima kasih Pak! Ayu butuh buku ini! Ayu.. Ayu gak bisa nolak!

“Tapi ada syaratnya, “Apa?”

“Kamu harus tertawa dan gak sedih lagi!” “Aneh! Ya ga bisa dong. Orang gak lucu!”

“Ya udah. Tapi saya punya pertanyaan, dan kamu wajib jawab!”

“Apa? Ya, aku berusaha jawab!” “Berapa jumlah gigi kamu?”

“Ha...ha...! Bapak ada-ada aja deh!”

“Nah, gitu dong! Ini baru Ayu yang saya kenal!” “Makasih Pak udah bikin Ayu ketawa.!”

Bel tanda masuk berbunyi, ku ikuti pelajaran dengan senyum dan penuh semangat

Waktu belajar di sekolah teerasa begitu cepat. Bel pulang tiba, ku kemasi buku-buku yang terakhir buku baru pemberian pak Iwan. Serasa ingin selalu tertawa, saat kulihat buku itu. Lalu aku berjalan meninggalkan ruang kelas. Saat sampai di tempat parkir, kembali ku dapat sosok guru yang tadi pagi sempat mem- buatku menangis.

“Ayu sudah mau pulang?!”

“Iya Pak.. Ayu duluan, takut ketinggal angkot!”

“Ya sudah hati-hati ya,. Belajar yang rajin, bapak pasti bantu kamu, kalau kamu ada masalah, baik masalah ekonomi mau- pun pribadi. Tapi 1, dengan izin kamu!”

“Terima kasih Pak!”

Aku sangat bahagia karena masih ada orang yang peduli padaku. Pak Iwan adalah guru baru disekolahku, dan entah ke- napa kita begitu akrab dan terbuka. Malah kalau di luar sekolah aku memanggilnya kakak, selai itu kita juga memutuskan untuk menjalin persahabatan. Kak Iwan adalah sosok guru yang mem- buat aku kagum, diusia yang masih muda, dia mempunyai banyak prestasi. Aku sangat bangga padanya.

Sampai di rumah, aku memperlihatkan buku baruku pada Ibuku. Dengan senyum kusapa ibu yang sedang duduk di kursi depan.

“Bu..., Ayu sudah punya buku paket”.

“Ayu kenapa tak bilang ke Ibu? Kenapa harus memecahkan celengan kamu?

“Em..., maaf Bu, Ayu gak mau bikin Ibu susah. Ayu juga tahu, Ibu butuh obat!”

“Ayu..! Sini Nduk!”

Ibu memeluk aku erat-erat. Entah kenapa berat sekali hatiku, sampai air mataku kembali menetes.

“Sudah Nduk jangan nangis lagi ya! Itu Ibu sudah bikin keripik pesanan kamu, tapi belum Ibu bungkusin. Memang boleh nitip di koperasi?”

“Ayu sudah pernah tanya ke guru pengurus koperasi, dan katanya boleh. Tapi tadi gurunya gak masuk. Gak apa-apa Bu, sekarang Ayu bungkusin, besok Ayu bawa ke sekolah. Ayu ke kamar ya Bu?!”

Setelah istirahat sejenak aku membungkus keripik bawang buatan ibu. Keesok harinya aku menitipkan di koperasi. Puji Tuhan, keripik buatan ibu laku abis. Aku bangga sudah bisa me- ringankan beban keluarga, mesti masih sangat kecil keuntung- an yang aku peroleh.

Satu bulan kemudian,...

“Hore...Hore...! Ayu...Ayu... kamu di mana? Kakak punya kabar baik Ayu,...! Kakak teriak-teriak seperti orang gila, entah apa yang membuatnya salah tingkah.

“Ayu di kamar!” Jawabku

Denan kebiasaan yang sama, tanpa mengetuk pintu, kak Leo masuk ke kamarku. Ia langsung memegang pundakku dan menggoyang-goyangnya.

“Ayu,... kakak seneng banget! Kakak punya kabar baik. Kamu tau apa?”

“Ya,...kakak kerasukan setan, di hari Minggu pagi, tepat pukul 10.00, saat kakak dari sawah. Ya kan?”

“Ngaco! Enak aja! Tau gak? Kakak dapat surat!” “Jaelah,.... Surat cinta aja dibanggain! Norak!”

“Bukan! Bukan surat cinta! Tapi surat panggilan kerja! Kakak sudah punya kerjaan, jadi kalau sudah gajian, kakak bisa beli buku buat Ayu!”

“Yang bener kak? Wah,... selamat ya! Ayu seneng, kakak dapat kerja! Terus kakak mulai kerja kapan? Kuliah kakak gimana?”

“Mulai kerja besok Kamis, terus kalau kuliah masih dua bulan lagi! Ih kakak” Seneng,....seneng! Tapi jangan pake nyubit dong!”

“Maaf, maaf Gitu aja ngambek!”.

Kabar diterimanya kakak sebagai karyawan di gedung olah raga menjadi kabar yang sangat membahagiakan, termasuk aku. Aku juga bahagia akhirnya kak Leo bisa kerja sambil kuliah, seperti aku juga jual keripik sambil sekolah. Gengsi bukan masalah lagi bagiku, yang penting biaya sekolah aku lebih ringan.

Hari Kamis kakak berangkat ke Jogya dan mulai kerja di sana. Suasana rumah menjadi sepi karena tak ada lagi yang ku ajak bercanda maupun berantem. Malam hari saat nonton tv tak ada lagi yang berebut cannel denganku. Sekarang rumah bagai kuburan. Sepi, sunyi, seperti tanpa penghuni.

“Bu, baru saja kakak pergi dua minggu, rumah sudah se- perti kuburan. Coba aku ikut pergi, bisa-bisa kaya ladang tanpa petani! He... he...!”

“Iya, sepi juga gak ada yang diomelin!” “Jaelah,...! Yang suka ngomel protes!”

Aku berusaha mencairkan suasana. Kucoba membangun kuburan menjadi cafe. Aku juga berusaha membantu Ayah di tengah kesibukanku, untuk mengganti sosok kakak yang kini merantau. Meskipun badan ini begitu lesu, capek, aku mencoba sabar dan tak mengeluh. Aku berusaha membuat Ayah dan Ibu bahagia, mesti dengan segala kekuranganku.

Malam ini bulan purnama, teringat masa lalu dalam benak- ku. Dulu setiap malam purnama aku dan kakak selalu bercanda di halaman sampai larut malam. Menatap jauh bintang-bintang di angkasa dan memohon sesuatu saat ada bintang jatuh. Dinginnya malam bukan masalah bagi kami, karena teh manis makanan ringan dan termos, selalu menemani kami saat bulan purnama. Tapi, berbeda dengan malam ini, di teras aku sendiri memandang bintang tanpa kakak di sampingku. Kebiasaan yang indah, kini tak lagi kujumpai. Malam ini aku hanya me- lamun, sebuah sms masuk ke HP ku. Ternyata dari kak Iwan, “Malem Ayu cantik! Pasti kamu lagi lihat bintang sama bulan ya? Kakak juga! Kakak temenin ya!”

“Kaka Iwan itu tau aja ya, kalau aku sendirian dan baru melihat bintang! Jujur, aku kangen sama kak Leo, biasanya malam purnama seperti ini, kita asyik melihat bulan dan bintang. Tapi sekarang, udah gak bisa lagi!” Balasku.

Banyak sms yang masuk dan terkirim dari HP ku. Kejenuh- anku malam ini pun berakhir, karena kak Iwan tampil sebagai sosok pahlawan yang menyelamatkanku dari kesepian. Malam makin larut, ku akhiri sms dengan kata, “good night!”. Lalu aku ke kamar, membaringkan badan dan mencoba memejamkan mata, bertamasya ke alam mimpi.

Beberapa bulan kemudian,....

Ulangan semester gasal tiba. Dengan mantap ku ikuti ulang- an dengan baik dan berharap bukan juara III lagi, melainkan

juara I. Ketegangan demi ketegangan ku lewati dengan penuh peercaya diri. Berharap hasil yang lebih baik dan menjadi ke- banggaan orang tua juga guru dan ke dua kakak ku, kaka Leo dan kak Iwan, yang merangkap 3 jabatan dalam hidupku, per- tama dia guru, ke dua dia sahabat dan ke tiga dia kakak.

Nilai murni hasil TPM telah terpampang di jendela ruang kantor. Berjejalan orang melihat hasil mereka. Termasuk aku ikut berjejalan untuk menyaksikan hasil nilai TPMku. “Oh...my God! Terima kasih Tuhan, ini adalah hasil terbaik yang pernah ku raih!” Hasil TPM ku sangat memuaskan, dengan bangga aku memberitahu orang tua dan kakakku. Tidak sia-sia aku memecah celengan, untuk membeli sebuah buku, meski pada akhirnya, buku yang ku miliki adalah pemberian dari kak Iwan. Beberapa hari setelah itu, dan tepatnya hari Sabtu, rapor dibagi. Aku menanti hasilnya di rumah. Sudah 2 jam ayah ke sekolah, tapi belum juga pulang. Meski sekarang waktu sudah lebih 5 jam dari keberangkatan Ayah, Ayah belum juga pulang. Dag...dig...dug..., debar jantung mengiringi setiap langkahku. Seharusnya sudah 2 kali aku makan, sekarang 1 kali saja belum. Aku terus berjalan seperti orang linglung, dengan harapan aku adalah juara 1 di kelas XI IPS, 1, bahkan kalau bisa juara 1 seluruh kelas IPS, tapi mungkin itu hal yang mustahil, 30 menit kemudian, Ayah pulang. Saat Ayah masuk rumah, dia hanya diam, bahkan saat ku tanya,

“Ayah, bagaimana rapor Ayu?”

Ayah juga diam 1000 bahasa, entah apa yang ayah sembu- nyikan. Apa mungkin nilaiku jelek? Tapi, aku jelas melihat, nilai murni TPMku bagus. Aku gak tahu Ayah kenapa, yang jelas, roman wajah ayah seram. Aku hanya menunduk dan menunggu sampai ayah bicara. Tak lama kemudian,..

“Ayu...!”

Ayah berteriak namaku. Entah itu tertekan apa maksud- nya, aku gak tau, yang jelas membuat aku kaget setengah mati. Lalu Ayah memegang pundakku, dengan tatapan tajam yang membuatku serasa ingin pingsan, perlahan Ayah bicara,

“Ayu! Ayah bangga sama kamu. Ayah sangat bangga!” Aku hanya ternganga mendengar perkataan ayah. Mulutku bagai tersumbat apel, sampai tak satupun kata yang ke luar. Wajahku seperti orang linglung saat mendengar perkataan Ayah berusan.

“Ayu, Nduk anakku! Kamu membuat Ayah dan Ibu sangat bangga. Meskipun kemarin saat kamu minta buku ayah tidak membelikan, tapi kamu tetap bisa membuktikan, bahwa kamu adalah yang terbaik! Ayu, maafkan Ayah yang tidak bisa meme- nuhi semua kebutuhanmu. Sampai kamu harus menjual kripik di sekolah. Maafkan Ayah Nduk!”

“Ayah...,maafkan Ayu. Selama ini Ayu terlalu egois dan memaksakan kehendak Ayu, padahal Ayu tau, Ayah belum punya uang. Ayu juga minta maaf, Ayu sering buat ibu marah. Maafkan Ayu Bu!”.

“Keberhasilan Ayu, ayu persembahkan untuk Ayah dan Ibu!”

Akupun dirangkul oleh Ayah dan Ibu dengan penuh kasih. Ternyata Tuhan itu begitu adil, dan selalu memberikan kebang- gaan yang tak ternilai di tengah kesulitan ekonomi yang kami hadapi. Terima kasih.

Puas dengan 1 minggu liburan, aku dan teman-teman pun kembali masuk sekolah. Kami berusaha lebih giat lagi belajar supaya besok bisa naik ke kelas XII. Semangat kami terus berkobar layaknya pejuang ’45. Banyak masukan-masukan dari Bapak Ibu guru yang memacu belajar kami. Kami terus berusa- ha menyebarkan kedudukan dengan sekolah-sekolah yang mempunyai nilai lebih tinggi dari sekolah kami.

Hari ini pelajaran belum aktif selama 3 hari masih berlang- sung class meeting, saat-saat inilah yang selalu dinantikan oleh siswa. Bisa bergerak bebas, tanpa beban. Namun, biasanya aku hanya duduk-duduk di perpustakaan dan ruang BK. Esok beri- kutnya, aku duduk di perpustakaan sambil menulis puisi. Aku lebih suka menyendiri daripada kumpul-kumpul bareng teman. “Hai Ayu, ngapain kok sendiri? Hayo ati-ati! Banyak semut!”

“Eh kak Iwan. Maaf maksudnya Pak Iwan. Banyak semut, terus apa hubungannya? Bapak mau bilang Ayu mirip Semut?”

“Enggak! Eh, aku punya sesuatu buat Ayu!” “Sesuatu? Semut?”

“Bukan! Tapi,...surprise,...!”

Kakak Iwan mengeluarkan coklat dari saku celananya. “Wau! Itu buat Ayu bukan?”

“Iya, ini buat Ayu cantik. Hadiah dari kakak, eh salah mak- sudnya Bapak, karena Ayu juara 1. Diterima ya?!”

“Makasih, Ayu gak nolak kok!”

Setelah itu aku pergi ke kelas. Baru saja aku duduk, HP ku getar, ternyata sebuah sms dari kak Leo. “Ayu, kakak sudah mengecewakan keluarga. Maafkan kakak!” Sms itu begitu membingungkan, kucoba hubungi lagi, tapi HP kak Leo sudah gak aktif.

Satu minggu kemudian kak Leo pulang. Hari Minggu ayam belum berkokok, tapi rumahku sudah seperti pasar. Bentakan kata bangunkan aku dari mimpi, kucari asal keributan itu, kutemui kak Leo yang sujud di kaki Ayah dan derai air mata, isak tangis dan wajah ibu yang tampak pucat juga wajah serta tatapan tajam mata Ayah pada kak Leo, membuat aku tak be- rani melangkah. Aku hanya melihat dari balik almari.

“Leo, kamu anak kebanggaan Ibu dan Ayah! Kamu satu- satunya anak kami, tapi kenapa kamu membuat malu Ayah dan Ibu?”

Serentak kata-kata Ibu mebuat aku sakit, tapi juga bingung, apa maksud anak satu-satunya. Apa mungkin, Ayu hanya anak pungut?. Kata-kata itu terlintas di benakku.

“Leo! Ibu kecewa sama kamu!”

Itu kata terakhir dari ibu sebelum ibu pingsan. Tanpa ku- pikir kata-kata itu lagi aku langsung berlari mendapati Ibu yang terbaring di pangkuan Ayah.

“Ibu? Bu..., bangun Bu. Ini Ayu! Ibu bangun!”

Ayah kemudian ke luar dan mencari mobil untuk mem- bawa ibu ke rumah sakit.

“Kak Leo, apa yang terjadi. Kenapa Ayah dan Ibu begitu marah kak?”

“Maafkan kakak Ayu. Kak Leo bukan kakak yang baik. Kakak adalah seorang bajingan, yang telah mengecewakan keluarga. Ayu..., kakak menghamili anak orang...!

Aku sangat shock mendengar penjelasan kak Leo. Kak Leo yang selama ini ku banggakan tak lebih dari seorang bajingan. “Ayu mohon kak Leo pergi! Ayu benci kak Leo! Ayu jijik!!” Emosiku meluap, aku kecewa atas perbutatan bejat kak Leo, meski aku belum tahu kenapa kak Leo sampai melakukan hal itu.

Ibu dirawat di rumah sakit, tak ada yang bisa aku lakukan selain berdoa. Biaya perawatan pun tak pernah terpikir sebe- lumnya di benak kami. Sore itu Ayah dipanggil dokter. Di pintu kuintip pembicaraan dokter dan Ayah. Ternyata tak hanya dia- betes penyakit ibu, tapi juga ginjal, lever dan lebih parah jan- tung. Ibu harus mendapat donor jantung untuk bisa bertahan hidup. Tapi biaya dari mana. Jangankan mendapat donor jan- tung dan biaya operasi, biaya untuk ruang rawat dan obat semen- tara ini kami sudah kelabakan.

Tak lama kemudian Ayah keluar dari ruang dokter dengan pucat seperti mayat. Aku tau, betapa bingungnya Ayah. Dihadap- kan pada dua pilihan yang sangat sulit, kesembuhan Ibu dengan ratusan juta, atau kepergian Ibu untuk selamanya...

“Ayu, biayanya sangat mahal. Gak mungkin kita bisa dapat- kan uang sebanyak Rp300.000.000,- dalam waktu dua bulan. Hasil buruh ayah 1 tahun saja gak ada 10 juta!”

“Ayah biarkan Ayu berhenti sekolah Ayu akan kerja. Ayu janji, Ayu akan dapetin uang itu!”

“Ayu, terima kasih! Jujur, kamu bukan anak kandung Ayah dan Ibu, tapi kami, kami berusaha membahagiakan kamu. Ayu, kamu gak perlu putus sekolah, biar Ayah yang kerja.”

“Ayah, Ayu kan anak ayah. Sudah sewajarnya Ayu mem- bantu ayah. Ayu mohon, biarkan Ayu ikut cari uang!”

“Terima kasih Ayu! Kamu adalah anak Ayah yang pantas Ayah banggakan!’

Tanpa pikir panjang aku langsung pergi mencari pekerjaan yang bisa aku lakukan. Baru saja kemarin aku bahagia dapat membeli buku dan menjadi bintang kelas dan sekarang, aku harus merasakan sakit yang begitu dalam. Menerima kenyata- an, bahwa aku bukan anak kandung Ayah dan Ibu. Tapi aku gak boleh egois, aku harus ikut mencari uang, karena mereka keluargaku dan membutuhkan aku, terutama Ibu.

Sudah sekian jauh aku berjalan dan mencari kerja, tapi tak satupun yang menerimaku, yang hanya dengan baju kumuh dan tanpa surat-surat lamaran. “Oh Tuhan! Sampai kapan aku begini? Ibu segera membutuhkan uang itu. Tapi sekarang, seperakpun aku tak punya!” Aku bingung, pekerjaan apa yang bisa mendatangkan uang banyak, dalam waktu singkat bagi aku lulusan SMP!

Badanku sangat letih dan tak dapat ku paksa lagi untuk berjalan. Waktu menunjukkan pukul 22.00 dan aku tertidur di sebuah Halte. Belum lama mata ini terpejam seorang tante- tante membangunkan aku. Akhirnya kita ngobrol sampai tante itu bertanya kenapa aku sampai tidur di Halte, melihat aku adalah seorang gadis. Akupun menceritakan apa yang terjadi padaku dan juga keluargaku, aku juga cerita tentang 300 juta itu. Kemudian tante itu memberi aku kartu nama dan meminta aku datang ke alamat dalam kartu nama itu. Tante itu bilang, ia akan memberi sebuah pekerjaan buatku.

Esok paginya, aku mencari alamat itu. Dua jam, tiga jam, aku terus mencari. Penatnya hati bukan problem bagiku, meng- ingat aku harus berjuang demi kesembuhan Ibuku. Baru saat matahari tepat di atas kepalaku, aku berhasil menemukan ru- mah tante itu.

“Selamat datang Ayu. Sepertinya kamu begitu lelah. Ber- sihkan badanmu. Dan istirahatlah sejenak!”

“Terima kasih tante”.

Melihat penampilan tante yang begitu mentereng dan juga rumah seisinya yang begitu mewah, aku tahu bahwa tante Stella

Dalam dokumen PIANO DALAM PASIR Antologi Cerpen Bengke (Halaman 153-169)