• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tri Puji Pangest

Dalam dokumen PIANO DALAM PASIR Antologi Cerpen Bengke (Halaman 75-81)

“Tita, kamu tidak boleh patah semangat. Kamu harus kuliah, Nak! Kamu harus pikirkan masa depanmu! Masalah biaya, kamu tidak perlu khawatir. Ayah masih bisa usahakan sesuatu,” tutur Ayah.

“Ayah, kalau Tita kuliah, beban Ayah akan semakin berat. Lalu siapa yang akan merawat Ayah di rumah. Lagipula biaya masuk saja sudah sangat banyak. Belum lagi kakak yang juga butuh biaya yang tidak sedikit. Tita tidak mau memberatkan Ayah. Tita sayang Ayah”

“Tidak, Tita! Kamu harus kuliah,” sergah Ayah menggebu- gebu.

Ayah memang seperti itu. Keras kepala. Bertolak belakang dengan Kak Dion. Dia sangat lembut, tapi juga mudah goyah. Sayangnya, kakakku semata wayang itu sangat ambisius dan sedikit egois. Seperti Ibu, yang melanglang buana sesuka hati- nya tanpa peduli keluarga.

Inilah hidupku. Beragam kelam datang dan pergi. Sesaat kucium aroma bahagia namun segera angin menghempasnya. Aku mencoba terus mencari-cari sisi keindahan dalam kelam itu, namun hasilnya nihil. Tak ada secercah cahaya pun yang menuntunku, meskipun remang–remang namun itu hanya khayalan.

“Sedang melamun, Ta? Jangan banyak melamun. Hadapi saja dengan enjoy!” Suara Kak Dion mengagetkanku.

“Ah, Kakak. Bagaimana bisa Tita enjoy? Kalau saja ibu ada dan berperan layaknya seorang Ibu. Pasti Ayah akan terurus. Tidak sakit dan mampu bekerja dan Tita bisa kuliah dengan tenang.”

“Kamu mau kuliah, Ta?”

“Maunya Ayah begitu. Mau bagaimana lagi?”

“Terserah kamulah. Kakak cuma mau bilang, bulan depan kakak mau melamar Aisyah,” ucap Kak Dion datar.

Ya, Allah! Masalah apa lagi ni? Aku bagai dihantam meteor besar di atas kepalaku. Mulutku ternganga seketika. Dan, mata- ku memancarkan tatapan mengiringi kepergian Kak Dion dari

hadapanku. Semuanya nampak seperti mimpi buruk yang tak tahu kapan berakhirnya. Di benakku telah tertoreh seorang ka- kak yang begitu egois. Akan lepas tangan begitu saja tak peduli dengan Ayah dan adiknya. Aku tertegun entah berapa lama.

“Tita?” Suara itu mengagetkan dan membuyarkan sejuta lamunanku.

Aku hanya menoleh tanpa mengucap satu kata pun. Ku- tegakkan badanku bagai peleton yang menunggu instruksi dari pemimpin.

“Tita, tolong panggil ambulance. Ayah pingsan. Cepat!” Suara kegugupan Kak Dion menyerangku.

Langkah seribuku mulai terayun. Dihimpit oleh tembok– tembok kecemasan yang amat dahsyat. Bulir–bulir air mataku mengiring raga Ayah yang lunglai tak berdaya dan tengah diberi tetek bengek alat medis. Semua rasa ini tak karuan jadinya. Kak Dion yang terus–terusan mengucap makian kepada dirinya sendiri, menambah gusar hati ini. Sementara terlihat di celah tirai ruang ICU, beberapa tenaga medis tengah sibuk merawat Ayah. Aku hanya menunggu, terus menunggu sambil memejam- kan mata dan menikmati detakan jam dinding Rumah Sakit. Sesaat kemudian aku membuka mataku dan melihat gagang pintu tergerak. Aku terperanjat dan kutatap lekat-lekat wajah dokter itu penuh harap.

“Bagaimana Ayah saya, Dokter?” Tanyaku.

“Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, Tuhan berkehendak lain,” jawab Dokter itu dengan suara lemah. Kupejamkan mataku dengan sejuta pilu. Jeratan histeris pun menyibak kesunyian. Tangis pedih Kak Dion samar ter- dengar. Aku mulai terduduk di lantai bersandar dinding koridor. Sepertinya kini air terjun Niagara kupaksakan di kedua mataku. Dengan kaki yang tiba-tiba terasa berat, kupaksakan menopang tubuh ini. Kupeluk raga Ayah yang pucat pasi. Kuraba lengan Ayah yang terasa dingin dan layu. Ayah adalah sosok yang paling berharga untukku. Seorang ayah yang sangat mengutamakan kepentingan keluarganya. Tapi, kini beliau telah tiada. Mau

tak mau aku harus menerima kenyataan ini. Meskipun begitu aku tetap menyimpan benci yang amat dahsyat pada Kak Dion. Ini semua karena Kak Dion. Kak Dion yang membunuh Ayah. Di sela–sela seonggok harapan, aku mencoba memahami makna hidup. Semua terasa samar–samar bagai cahaya bulan sabit. Aku masih terisak dalam tangis di upacara pemakamam Ayah. Tak kuasa aku menahan kepedihan ini.

“Kak Dion jahat!” Teriakku sekeras mungkin sambil berlari kencang sekuat tenaga.

Samar–samar kudengar teriakan Kak Dion memanggilku. Semakin jauh dan kemudian menghilang. Berganti dengan samar- samar suara deburan ombak Pantai Sundak. Semakin cepat aku berlari semakin jelas terasa aura pantai. Kuberteriak sekeras mungkin berharap semua kesedihanku berlalu bersama ombak lautan yang kembali diringi arus angin. Aku memaki diriku sen- diri sejadi-jadinya. Namun, mereda di tengah senja yang men- jemput malam.

“Tita…! Tita, Sayang, “ suara itu samar. “Ayah!” Suaraku terkejut.

“Kemarilah, Sayang! Kau jangan sedih.” “Ayah! Ayahku!”

“Ya, Sayang! Kau jangan terlarut akan kesedihanmu. Jika kamu sedih, ayah juga akan sedih. Kau jangan menyalahkan kakakmu. Biarkan dia mencari kebahagiaannya. Dan, kau juga harus mencari kebahagiaanmu. “

“Bagaimana bisa Tita bahagia, Ayah? Tita akan bahagia bersama Ayah tapi Ayah meninggalkan Tita.”

“Sayang, segeralah kamu pulang. Kakakmu mencemaskan- mu. Dia amat khawatir padamu.”

“Tidak, Kak Dion itu egois, Yah.”

“Sudahlah, sekarang kamu pulang! Kalau tidak ayah akan sedih. Kamu sayang ayah kan, Nak?”

“Iya, baiklah, Ayah “

“Jaga dirimu baik-baik, Nak. Ayah akan selalu menyertaimu.” “Ayah ….! Ayah, jangan tinggalkan Tita!” Ucapku setengah terjaga.

Kemudian aku mulai terbangun dan terheran sembari kecewa. Ternyata itu semua hanya mimpi. Sejenak kemudian kuayunkan langkah ini menjauhi pantai. Aku mencoba tegar dalam hidupku. Akan aku terima semuanya. Tapi, entah kapan kebahagiaanku akan kembali.

“Tita, kamu dari mana saja? Kakak cemas, Ta?” Tanya Kak Dion menyambut kedatanganku.

“Dari pantai,” jawabku singkat.

“Tita, ada yang mau Kakak bicarakan denganmu. Masalah Aisyah.”

“Kenapa? Kakak nikah aja sama dia. Tita tidak apa–apa.” “Tapi, masalahnya Ibu Aisyah adalah ibu kita. Kakak ter- kejut setelah pemakamam tadi. Aisyah mengenalkan ibunya dan ternyata itu adalah Mama.”

Aku ternganga. Mungkin ini hanya candaan kakak. Dan, hanya gurauan semata. Tapi, kenapa harus dikatakan pada saat seperti ini. Kak Dion memang sulit dimengerti. Kenapa harus membawa–bawa wanita itu. Wanita yang menumbuhkan sejuta benci dalam hati ini. Sungguh keji.

“Tidak, Kak Dion pasti bercanda,” kataku dengan senyum semu.

“Kakak tidak bercanda, Ta. Kakak serius.”

“Tita, walau bagaimanapun dia ibu kita. Yang melahirkan kita dengan bertaruh nyawa. Kamu jangan durhaka, Ta.”

“Tapi, Tita benci, Kak. Benci sekali.”

“Ta, Kakak mencintai Aisyah. Kakak juga pedih mengetahui kenyataan ini yang ternyata ibu tiri Aisyah adalah ibu kandung kita. Tapi, Kakak bisa menerima semuanya. Kenapa kamu tidak?” Buliran air mata ini keluar lagi, membentuk sungai kecil dan bermuara di sudut bibir. Aku masih tertunduk kaku dan menangis pilu. Ingatanku kembali pada masa lalu. Ketika aku kecil bersama kakakku dan bercanda riang bersama Ayah dan Ibu. Tangisku pun semakin menjadi.

“Tita, Tita anakku,” terdengar suara wanita memanggilku penuh haru.

“Maafkan Ibu, Sayang. Ibu menyesal telah meninggalkan kalian. Kamu boleh maki ibu semaumu.”

“Untuk apa Ibu ke mari? Apa untuk menelantarkan kita lagi?” tanyaku dengan nada sadis.

Ibu memelukku dengan penuh penyesalan. Sudah lama aku tak merasakan pelukan ibu yang penuh kasih sayang. Kini aku menyesal semua yang telah terucap dan semua sikapku pada ibu. Aku tidak bisa bohongi diriku sendiri. Sejujurnya aku merindukan belaian Ibu yang penuh kasih.

“Tita, kau besok bisa kuliah bersama Aisyah,” kata Ayah Aisyah menyela.

“Iya, Tita. Ayah sudah mengurusnya,” timpal Aisyah. “Terima kasih,” ucapku.

Semua tampak baik–baik saja tanpa kejanggalan. Aku sudah menyadari pentingnya rasa kasih sayang bukan demi sebuah keegoisan tapi untuk pengorbanan demi kebersamaan.

“Ayah, Tita akan selalu mengenangmu.”

Hari yang cerah kulalui. Pagi ini awalku masuk bangku kuliah. Aku berjalan menyusuri koridor dan …. Gubrakkk…! Aku menabrak sesuatu. Tapi, sepertinya manusia.

“Hay, kamu, kan…?” Pertanyaanku belum sempat kuteruskan. “Maaf, aku buru–buru,” sanggah laki–laki itu kemudian ber- lalu.

“Ini, dari dia?” Kata Aisyah sambil memberikan bingkisan pink berbentuk hati.

Manis sekali jika dipandang. Sejuta rasa penasaran meng- hujani pikiranku. Segeralah kubuka dan kudapat kertas kecil bertuliskan.

MESKI KEBERADAANKU TEMARAM BAGAI SINAR BULAN SABIT NAMUN CINTAKU PADAMU SETERANG SANG MATAHARI

Semua yang tampak temaram, bukan berarti sebuah ke- pedihan. Jika hidupku ini akan terus bersinar, maka kadang redup dan kadang terang.

S

ore. Temaram mulai mengusir siang, diiringi taburan angin beserta nyanyian rerumputan yang mulai terteduhkan oleh datangnya senja. Di bukit belakang rumahku aku berbaring, menemani mentari yang mencoba beristirahat setelah seharian menemaniku beraktivitas. Dan, menanti datangnya rembulan yang akan senantiasa menemani tidur malamku.

Semilir angin menusuk pori-pori tubuhku, mengantar aku dalam kedinginan dan kesunyian. Sambil mengenang masa laluku, indah di kala itu kurasakan. Dulu tawa serta canda selalu menghiasi cantiknya wajahku. Tapi, kini semua hanya bisa aku kenang, semenjak ditinggal Defand pergi. Aku bagaikan manu- sia yang tak bernyawa lagi. Aku selalu bertanya-tanya dalam hati, ‘kenapa Tuhan tak adil denganku? Kenapa Tuhan selalu mengambil orang yang aku sayangi?

Dulu, Tuhan telah mengambil Ayahku ketika aku masih SMP. Aku sangat terpukul dengan kematian Ayahku yang men- dadak itu. Aku terpuruk dan hancur. Beruntunglah aku karena ada Mama yang selalu sayang dan tegar menjalani hidup. Mama adalah segalanya bagiku dan hidupku. Kini aku ditinggal oleh kekasihku, Defand namanya. Defand pergi meninggalkanku ke Singapura tanpa kata pamit. Defand dipaksa orang tuanya untuk mengurusi hotel milik keluarganya. Aku sangat terpukul dengan kepergiannya.

Dalam dokumen PIANO DALAM PASIR Antologi Cerpen Bengke (Halaman 75-81)