bagai provokator teman-temannya, tapi saat ia akan maju, dia terkena lemparan batu dahulu. Kemudian dia mundur.
Ketika Frezan mundur polisi datang dengan tembakan peringatan dilanjutkan dengan semprotan air untuk membubar- kan masa. Dengan barikade yang kuat dan kokoh , akhirnya kepolisian dapat menghentikan tawuran tersebut.
Frezan kemudian pulang ke rumah dengan merasakan rasa sakit yang sangat.
“Assalamualaikum,” Frezan kemudian masuk ke kamar- nya.
Sebelum itu ibunya mencegahnya, “Wa’alaikum salam. Ada apa, Zan?” Tanya ibu dengan lembut, “Kamu dari berkelahi? Terus kenapa kepalamu diperban?” Tanya ibu penasaran.
“Iya, memang kenapa? Tidak boleh?” Bentak Frezan dengan kasar. Frezan menutup pintu dengan keras.
Ibu Frezan yang bernama ibu Anna itu kemudian menangis. Dia merasa sedih tidak dapat mendidik anaknya dengan baik, yang bisa menghormati orang tua, berkata yang lembut dan soleh. Tidak hanya itu saja. Frezan berbicara kasar dengan ibu- nya. Hampir setiap kali ditanya pasti dijawab dengan kasar. Se- sungguhnya ibu Anna sudah mengetahui bahwa anaknya selalu tawuran dengan sekolah lain dan tidak hanya tawuran tetapi juga merokok dan minum-minuman keras. Hampir setiap malam dia keluar dan pulang larut malam.
Pagi harinya saat akan berangkat sekolah, Frezan berbin- cang-bincang dengan ayahnya yang bernama Pak Harun.
“Pak, saya minta dibelikan motor supaya sama dengan te- man-teman,” pinta Frezan.
“Maaf, Nak. Ayahmu ini tidak bisa membelikan motor,” jawab Pak Harun dengan lembut.
“Tidak! Pokoknya Ayah harus membelikan aku motor. Mengapa sih, Pak? Cuma membeli motor saja tidak bisa!”
“Ayahmu ini miskin, Nak. Tapi, ingat jangan sampai miskin hati. Ayahmu juga sudah bersyukur bisa menyekolahkan kamu,” kata Pak Harun dengan sabar.
Tiba-tiba terdengar suara dari dapur, “Ada apa tho, ini? Pagi- pagi sudah bertengkar. Sudah, sana sekolah! Sudah jam se- tengah tujuh nanti terlambat!” Kata ibu Anna.
Di lain waktu, setiap kali Frezan minta ayahnya agar dibeli- kan motor pastilah jawabannya tidak. Hampir setiap minggu dia menanyakan hal itu kepada kedua orang tuanya. Ayahnya yang bekerja sebagai guru honorer dan penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Sedangkan ibunya hanya bekerja sebagai penjahit yang dapat untuk membiayai sekolah Frezan. Sebenarnya kedua orang tua Frezan juga sedih tidak dapat membelikan motor buat Frezan.
“Bu, aku sedih tidak bisa membelikan motor untuk anak kita.” Ibu Anna yang dari tadi tiduran kemudian bangun sambil mengucek-ucek matanya.
“Ibu juga sedih, Pak. Apalagi teman Frezan yang namanya Fadil itu sudah dibelikan motor. Padahal dulu ketika masih SD mereka sering jalan kaki bersama ketika berangkat sekolah.”
“Benar, Bu. Tapi, Pak Abdullah, ayah Fadil itu, selain jadi guru juga mempunyai warung makan yang cukup sukses.”
“Iya, Pak. Tapi, kita memang miskin. Jangankan beli motor, beli beras untuk makan saja susah.”
“Iya benar, Bu…..!”
Frezan tetap bersikukuh agar dibelikan motor. Bahkan dia mempunyai rencana agar ia mendapatkan sepeda motor. Per- tama, yang dilakukannya adalah membuat surat untuk kedua orang tuanya. Kedua, dia harus menyiapkan segala peralatan yang diperlukan.
“Ide cemerlang. Pasti Ayah dan Ibuku akan membelikan motor. Bagus, Zan. Kamu benar-benar anak berbakat untuk menulis naskah,” kata Frezan dalam hati.
Rencana pertama sudah Frezan lakukan. Sekarang tinggal rencana kedua untuk menyiapkan peralatan. Malam ini persiap- an harus segera selesai. Pagi harinya, sebelum berangkat Frezan menyalami ayah dan ibu.
***
Malam hari yang gelap menutup matahari yang terang. Frezan belum juga pulang-pulang. Hampir jam sembilan Frezan belum kelihatan batang hidungnya. Ibu Anna kemudian melihat dan masuk ke kamar tidur Frezan.
“Pak . . . !”
Dengan tergopoh-gopoh Pak Harun menuju kamar. Kamar Frezan yang tadinya biasa-biasa saja sekarang disulap menjadi seperti buka praktik dukun Mbah Frezan. Dinding-dinding itu dihias dengan gambar-gambar motor kemudian ditaburi bunga- bunga mawar dan melati disertai sebuah meja kecil dan dilapisi dengan kain batik. Dan, di atasnya terdapat kendi dan sebuah lemper yang terdapat kemenyan dan parfum. Kemudian terdapat peralatan lain layaknya sebuah tempat dukun. Dan, di atas meja itu terdapat sepucuk surat.
Teruntuk Ayah dan Ibu Yang terhormat
Maaf, mungkin ini lancang, Ayah Ibu….
Tapi, untuk mendapatkan sepeda motor yang Frezan ingin- kan, Frezan tidak akan menyerah walau dengan cara apa pun.
Termasuk dengan menjalankan praktik ini, Frezan tahu ini dosa tapi karena ayah dan ibu memaksa aku untuk melaku- kannya,, memaksa untuk berjuang mendapatkan motor yang Frezan inginkan sendiri, mungkin saat ini aku tidak akan pulang sampai apa yang aku dapatkan bisa tercapai. Dari
Ayahnya yang dianggap masyarakat sebagai imam masjid di lingkungannya benar-benar kaget bukan kepalang setelah membaca surat tersebut. Pak Harun benar-benar marah besar sekaligus kecewa dan sedih. Marah karena dia diinjak-injak oleh anaknya sendiri. Kecewa karena tidak bisa membelikan motor dan sedih karena tidak ada yang bisa dia lakukan.
Pagi harinya, hujan turun dengan derasnya. Ibu Anna sedang membuatkan kopi untuk Pak Harun sekaligus menyiapkan jas hujan dan payung.
“Hati-hati, Pak. Nanti saja kalau hujan sudah reda,” tanya ibu Anna.
“Tidak, Bu. Anak kita tidak boleh menjadi musyrik walau bagaimanapun juga tetap akan ayah cegah,” jawabnya dengan tegas tidak ada keraguan.
“Terus Bapak mau pergi ke mana?”
“Tadi Bapak diberi tahu Fadil. Katanya, Frezan di rumah temannya dan akan pergi ke bukit Ngarai sekitar jam delapan.”
“Bukit itu kan tempat untuk pesugihan kan, Pak?” “Benar, Bu.”
“Hati-hati kalau begitu, Pak. Katanya tempatnya mengerikan.” “Diminum dulu, Pak.”
Setelah selesai sarapan Pak Harun pamitan kepada ibu Anna.
“Assalamualikum” “Wa’alaikum salam”
Dengan sepeda bututnya, Pak Harun menerjang derasnya hujan. Kondisi jalan saat itu sepi. Tak banyak kendaraan yang lalu lalang. Sawah yang membentang sepanjang jalan menambah pesona keindahan di pagi itu. Jam menunjukkan pukul 07.45. Pak Harun sadar ia harus segera ke rumah temannya sebelum Frezan ke bukit Ngarai. Pak Harun menggenjot sepedanya dengan sekuat tenaga. Sebuah truk yang berlawanan arah terlihat dari jauh melaju kencang. Semakin dekat truk itu tapi karena hujan dan terdapat oli yang berceceran truk itu tergelincir dan berbelok arah menuju Pak Harun dan tar…!
***
Frezan tersadar dari lamunannya. Semenjak kejadian itu dia sangat berubah drastis. Dia tidak tawuran lagi, tidak mero- kok dan minum minuman keras. Sekarang setelah 10 tahun dari kejadian itu dia benar-benar merasa berdosa. Dia sekarang menjadi anak yang patuh terhadap orang tua. Berkata yang lemah lembut dan yang penting adalah taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tiba-tiba ia ingin sekali membuat puisi untuk ayahnya,
Ayah …….
Betapa besarnya cintamu padaku Belaian tanganmu yang lembut
Tak pernah kurasakan karna kesombonganku Ayah…….
Betapa hebatnya dirimu
Yang selalu berusaha dengan keras Tak kenal putus asa
Tak kenal menyerah Ayah….
Sungguh, aku sangat mencintaimu
Tak ada kata cinta yang dapat mewakili rasa cimtaku Tapi karna aku
Kamu sekarang tidak ada di sampingku
Kemudian ia masuk ke rumah dan mencium tangan ibunya dengan derasnya air mata.
S
enja. Aku duduk sendiri di kamar atas dan kupandang sebuah sarang kecil di sela dahan pohon beringin yang cukup besar itu. Mungkin jika digunakan untuk bersandar sangat nyamanlah. Senyumku pun semakin merebak ketika terdengar kicauan induk burung hinggap untuk memberi makan anak- anaknya. Iri rasanya melihat kedatangan induk burung itu. Kupejamkan mataku yang seketika terkenang peristiwa 13 tahun silam, akan sebuah hari senja di mana sepasang suami istri menghampiri seorang anak kecil dengan membawa manis- an. Dipeluknya anak kecil itu dengan kasih sayang, digandeng dan diajak anak itu menuju taman di seberang ujung jalan.“Cit…cittt…,” terdengar rem dadakan yang membuat anak kecil itu terpental dan hanya tatapan kosong anak kecil itu yang terbayang, menyaksikan sepasang suami istri tadi tergeletak di depannya. Perlahan kudengar lagi kicauan burung itu sayup- sayup. Ke mana perginya?
Perlahan kuatur nafasku yang semakin tersenggal ketika tak kutemukan kicauan itu. Mataku kubuka perlahan. Kuamati lagi sarang di sela pohon itu. Namun, yang kudapati seorang anak lelaki kecil meraihnya dari dahan.
“Hai, berhenti!” Teriakku pada anak itu.
Tanpa menghiraukanku, anak itu lekas turun dari batang pohon. Hatiku yang tak tega melihat induk burung yang pasti