• Tidak ada hasil yang ditemukan

Vilda Umam

Dalam dokumen PIANO DALAM PASIR Antologi Cerpen Bengke (Halaman 122-126)

r

liau adalah satu-satunya orang tua yang kumiliki. Ibuku sudah lama meninggal. Sejak aku berumur tujuh tahun. Beliau mening- gal karena sakit. Awalnya Cuma demam biasa tapi karena kita tidak punya uang buat bawa ke dokter, nyawa ibu tidak ter- tolong lagi. Pekerjaan sehari-hari bapak adalah menjadi tukang becak. Penghasilannya hanya cukup buat makan kami berdua. Yang membuat aku giat belajar, supaya bisa mempertahankan prestasiku di gedung mewah ini. Aku tidak perlu membayar se- mua biaya sekolah asal aku bisa mempertahankan prestasiku. Aku ingin sekolah yang tinggi agar bisa menciptakan perubahan khususnya perubahan dalam lingkungan keluargaku agar bisa hidup lebih baik.

Hari ini adalah hari penentuan. Karena hari ini adalah hari pengumuman kelulusan bagi siswa-siswa SMA. Bapak se- ngaja tidak pergi narik becak, karena ia tidak mau melewatkan momen kebahagiaan ini. Biasanya kalau hanya mengambil raport kenaikan kelas, aku mengambilnya sendiri.

Ketika kami sampai di tempat parkir, aku sudah ribut dengan Siska gara-gara berebut tempat parkir.

“Eh...tukang becak, di sini bukan tempat parkir becak tau. Di sini tempat parkir mobil-mobil mewah kaya mobil gue ini,” dengan belagu Siska mengejek ayahku.

“Asal loe tau ya, siapa pun berhak parkir di sini, termasuk bapakku. Loe tahu kan semboyan: “Siapa cepat, dia dapat”, sembo- yan itu juga berlaku di sini.” Kataku sambil berdiri dari tempat duduk becak bapak.

“Kata siapa...? Sekarang itu semboyannya uang adalah raja. Dengan uang kita bisa melakukan apa saja, gue bisa beli atau nyewa tempat parkir ini. Berapa pun gue bisa bayar,” Siska masih terus menyombongkan dirinya.

“Udahlah, Bin, kita pindah tempat parkir aja. Nggak ada guna- nya kita ribut di sini,” ajak Bapak sambil mengayuh becaknya.

“Tapi Pak...?” kataku membantahnya.

“Udahlah nggak papa, ayo!” Ajaknya sambil mengerutkan jidatnya yang memang sudah keriput.

Sifat penyabar Bapak yang selalu aku banggakan tiba-tiba muncul lagi.

***

Aku seneng banget karena aku dinyatakan lulus dengan peringkat terbaik di sekolahku. Air mata kebahagiaanku mene- tes ketika aku memeluk tubuh bapak yang sudah rentan.

“Bapak duluan aja ke tempat parkir, entar Bintang nyusul,” kataku.

“Emang kamu mau kemana Bin?” Tanya bapak lirih. “Aku ada urusan sebentar Pak,” jawabku memberi alasan. “Ya udah tapi jangan lama-lama ya, bapak mau nerusin narik mumpung masih pagi!”

“Ya, Pak,” kataku sambil berlari kecil menuju tempat duduk Siska.

“Loe kenapa Sis, tumben orang kayak loe bisa nangis?” Kataku dengan penuh penasaran.

Siska tetap saja diam, aku pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Aku merasa bahwa Siska sedang tidak mau diganggu. Tapi baru satu langkah aku menginjakkan kaki untuk pergi, Siska membuka bibirnya dan berkata,”Maaf ya Bin, selama ini gue udah banyak salah dan nyakitin perasaan loe.” Seperti- nya kata-kata Siska tulus, tapi angin apa yang membuat dia sadar kayak gitu.

“Akting loe bagus Sis, tapi maaf loe nggak bisa nipu gue,” kataku.

“Gue serius Bin minta maaf sama loe,”katanya dengan penuh keyakinan.

“Sumpah, ini lucu banget, seorang Siska anak konglomerat minta maaf sama Bintang anak tukang becak yang miskin. Ini cara baru loe buat menghina gue ya Sis? Loe pikir loe berhasil Sis? Tidak Sis …. Tidak, loe tidak berhasil karena gue nggak percaya sama loe,”kataku sambil tertawa-tawa sinis dan curiga. “Mungkin ini lucu bagi loe Bin dan mungkin loe sulit per- caya sama gue. Tapi loe tahu gak kalau gue lebih nggak percaya

lagi ketika melihat hasil pengumuman dan gue dinyatakan tidak lulus.” Kata Siska sambil menangis dan penuh emosi.

Aku hanya melongo melihat ekspresi wajah Siska. “Mungkin Tuhan marah Bin sama gue, karena gue sering ngejek loe,”katanya

Sambil menangis tersedu.

Ya Allah …. Aku bisa merasakan kekecewaan Siska, tapi mungkin memang benar bahwa ini adalah jawaban atas kesom- bongan dan keangkuhannya.

“Loe jangan negative thinking tentang Allah Sis, ini adalah ujian dari-Nya buat loe, loe harus kuat dan tegar! Gue yakin Allah tuh sayang sama semua umat-Nya termasuk eloe,”kataku me- nasehati dan menenangkan hatinya.

“Jadi loe mau maafin gue kan Bin, dan gue boleh jadi saha- bat loe kan? Gue takut kejadian ini terulang lagi kalau gue bersikap acuh terus sama loe,”kata Siska penuh pengharapan.

“Iya Sis gue maafin loe kok, gue nggak pernah nyimpen den- dam sama loe. Bapak selalu mengajarkan kebaikan sama gue termasuk sifat pemaaf,”kataku sambil memegang pundak Siska. “Makasih banyak ya Bin,”katanya lirih sambil memelukku. Aku hanya terdiam dan mengangguk.

L

angit mendung, ketika Dinda mulai tenggelam dalam lamunannya. Gelapnya hati seakan-akan mempengaruhi warna langit yang makin lama makin kelabu. Dalam gelap Dinda mencari-cari, meraba-raba yang tersimpan direlung-relung hati- nya. Api, dia hanya menjumpai rasa pedih yang amat sangat, luka yang terbuka dan berdarah.

Angin dingin berhembus menusuk tulang, Dinda makin meringkuk memeluk lututnya yang mulai gemetar. Gemeletuk giginya beradu karena kedinginan. Kedinginan yang juga berasal dari hatinya yang sudah kehilangan cahaya dan kehangatannya. Lama sudah ia mencari sebuah kenangan dalam hidupnya. Karena hanya itulah yang tetap membuatnya bertahan hingga sekarang ini.

Sebuah kenangan dan imajinasilah yang selalu menemani Dinda menyusuri liku-liku perjalanan hidupnya, hingga penuh duri-duri yang membutakan mata hatinya dan membekukan jiwanya. Namun kenangan itu bagaikan api yang bersinar tapi tidak menerangi, yang panas tapi tidak mampu menghangat- kannya. Tapi setidaknya kehangatannya mampu memancarkan sedikit semangat hidupnya yang hampir padam. Tiba-tiba Dinda mengeluh.

“Kenapa nasibku seperti ini?” Dia selalu mengulang-ulangi perkataannya. Tapi dalam hatinya ia berkata,”Aku harus kuat

Dalam dokumen PIANO DALAM PASIR Antologi Cerpen Bengke (Halaman 122-126)