“Boleh, gampang itu. Cerita saja, aku siap mendengarkan dan membantu kamu. Seanadainya aku bisa!” Ucap Banar sam- bil tersenyum.
Ya sudah aku cerita. Begini Mas, aku tuh bingung bagai- mana kalau Ayah nanti pulang? Padahal sebenarnya aku dan Ibuku masih menginginkannya! Cerita Redista. Dis, dengerin Mas ya? Ikuti kata hatimu dan Ibumu, biarkan orang lain mau berkata apa! Ingat kata-kata Mas ya! Percayalah, aku yakin kamu itu anak yang tabah dan sanggup menghadapi cobaan!” “Iya Mas, aku akan coba!” “Terima kasih ya Mas, “ kata Redista dengan tenang.
“Sama-sama!” Jawab Banar dengan gembira. Malam kian larut, mereka pun pulang. Sesampainya di rumah, Redista me- mikirkan kata-kata Mas Banar. Dan akhirnya ia yakin dan per- caya pada kata hatinya.
Dua hari telah berlalu, Ayah Redista pun pulang. Dia diantar saudara-saudaranya. Dan ternyata benar, Redista dan Ibunya memilih jalan sesuai dengan kata hati mereka. Mereka pun berkumpul kembali. Hati Redista sudah mulai tenang. Minggu sore Redista pergi ke sebuah tempat bersama Banar. Sesampai- nya di tempat itu Redista tersenyum sambil berkata, “Mas Banar terima kasih ya tas sarannya. Sekarang aku telah menemukan yang terbaik.”
Sebulan, dua bulan, tiga bulan telah mereka jalani. Hanya saja, waktu bagi mereka berdua untuk bertemu tidak selalu ada karena Ayah Redista tidak merestui hubungan mereka. Dan Banar sebenarnya tidak sanggup menerima keadaan ini. Tetapi ia berusaha menutupinya karena tidak ingin membuat Redista sedih. Banar pasrah pada apa yang akan terjadi nanti.
Tak lama kemudian, Ayah Redista mengetahui bahwa anak- nya masih menjalin hubungan dengan Banar. Ayah Redista marah sambil membentaknya, “Kamu dengarkan Ayah, Redista! Sekarang kamu tinggalkan Banar, Ayah tidak suka padanya!” “Tapi Ayah, kenapa harus membencinya!? Ayah tidak me- ngerti semuanya! Ayah benar-benar egois!” bantah Redista sambil menangis.
“Ayah tidak mau tahu, jauhi Banar sekarang juga! Atau Ayah yang akan turun tangan!”
Redista meninggalkn Ayahnya lalu masuk kamar. Dia sangat sedih dan Ibunya mengetahui kesedihan hati Redista. Sambil menenangkan Redista, Ibunya berkata, “Apa kamu ingin menuruti kata-kata Ayah?”
“Aku bingung Bu, aku mencintai Mas Banar. Tetapi aku juga tidak ingin membantah orang tua Bu!” Jawab Redista terisak- isak. “Sayang, kamu pikirkan baik-baik, bagaimanapun ia Ayahmu, nak!” Kata Ibunya dengan sabar.
“Iya Bu, aku akan sabar dan terus berdoa!”
Redista tetap merenung di kamar. Dia terus berdoa dan pasrah pada Tuhan. “Ya Tuhan, jika Mas Banar memang untuk- ku, berikan jalan terang pada kami! Tetapi jika Mas Banar bukan untukku, berikanlah petunjukMu!” Redista berdoa sambil me- nangis.
Redista menjadi susah tidur. Dia terus memikirkan kata- kata Ayahnya. Tak sengaja ia mendengar suara dari kamar Ayahnya. Redista penasaran dan menajamkan pendengaran- nya. Sampai akhirnya ia mengetahui bahwa itu percakapan kedua orang tuanya.
“Bu, Ayah itu tahu bagaimana Banar yang sesungguhnya. Dia dulu pecandu narkoba. Mas Rudi, teman kerja ayah yang tinggal di desa sebelah itu masih saudara Banar. Dia tahu bagaimana Banar sebenarnya! Ayolah Bu bantu Ayah, ini juga demi anak kita!” kata Ayah sambil memohon-mohon kepada Ibu.
“Itu kan dulu, Yah! Memangnya Banar masih seperti itu? Dan apa selamanya dia akan begitu Yah? Ibu mengerti maksud Ayah. Kita memang tidak tahu benar yang sebenarnya. Ayah tenang ya, jangan emosi terus dengan Dista. Kasihan dia Yah! Ibu akan bicara dengan dia,” jawab Ibunya sambil menenangkan Ayah.
Ternyata, makin lama cinta semakin tumbuh di antara Redista dan Banar. Dua minggu berlalu dan keduanya kembali
bertemu. Saat itu Banar mengungkapkan semua isi hatinya, demikian pula Redista. Sementara itu, Ayah Redista tetap tidak menyetujui hubungan mereka. Ayah Redista meminta penje- lasan dari anaknya.
“Kenapa harus Banar yang kau pilih, Dis?! Apa tidak ada pria lain!”
Jawab Redista, “Kenapa Ayah tega berkata seperti itu?! Mas Banar itu orangnya baik dan sopan. Kenapa sih, Ayah benci banget sama dia? Apa salah dia, Ayah?”
“Anak tidak jelas asal-usulnya, kamu bilang baik? Dia juga bukan siapa-siapa kamu! Kamu itu ngerti tidak!?” Bentak Ayah Redista. “Hanya karena itu, Ayah tidak suka sama Mas Banar?! Ayah egois, tidak bisa mengerti kemauan anaknya!” Bantah Redista sambil menangis.
Esok malamnya Redista pergi bersama Banar dan men- ceritakan semua yang dialaminya. Banar berusaha menenang- kan Redista. “Sudahlah, kamu jangan bersedih. Semua itu juga demi kebahagiaanmu dan yang terbaik bagimu, Dis! Aku bisa memaklumi kenapa Ayahmu tidak menyukaiku.
“Tapi Mas, kalau hnya itu alasannya, mengapa Ayah se- keras itu melarangku berhubungan denganmu! Apa semuanya tidak bisa dirundingkan! Gerutu Redista jengkel.” “Ah.... pokok- nya Ayah itu benar-benar egois!”
“Jangan begitu Dis! Kamu harus sabar. Kamu jangan men- jadi anak pembantah orang tua! Sabar ya, manis!”
“Iya deh,” ucap Redista kecewa.
Setelah pembicaraan dirasa cukup maka kedua sejoli itu pulang. Redista masih memendam rasa kecewa terhadap per- lakuan Ayahnya. Dalam hati ia berkata, “Mengapa Ayah tega sekejam itu padaku? Ya Tuhan beri aku ketabahan.”
Di dalam kamarnya, Radista seolah-olah sedang berha- dapan dengan tembok tebal yang berdiri tegak dan kokoh se- hingga dia tidak kuasa untuk menembusnya. Radista tampak lemah, berdiam terpaku lunglai di tepi tempat tidurnya. Ia ber- usaha tegar menghadapi nasibnya dan berusaha menghibur
diri dengan memeluk erat boneka kesayangannya. Radista pun menangis sejadi-jadinya, sampai akhirnya kehabisan tenaga dan menyadari usahanya hanya sia-sia saja. Perlahan-lahan, ia mulai menyadari arti dari larangan ayahnya berhubungan dengan Banar.
Ia bergumam dalam hati, “Ya Tuhan, ternyata Ayah me- mang sayang padaku. Ayah menginginkan yang terbaik untuk masa depanku. Aku baru menyadari mengapa Ayah bersikeras melarang hubunganku dengan Banar. Sekarang yang terpenting bagiku adalah konsentrasi pada sekolah dan cita-citaku” Akhir- nya hati Radista merasa tenang dan ia tertidur pulas karena kelelahan.
Keesokan hari, sebelum berangkat ke sekolah, Ibu Radista berharap dapat berbicara dengan anaknya. Radista tahu akan pembicaraan yang diinginkan ibunya. Maka ketika Ibu mende- katinya, Radista langsung berbicara, “Sudahlah Bu, sekarang aku tahu apa yang diinginkan Ayah dan yang terbaik untukku. Dista pamit ke sekolah ya Bu!”
Ibunya terkejut melihat perubahan mendadak yang dialami Radista sehingga tak mampu berucap apa pun. Dalam hati Ibu- nya berkata, “Syukurlah Nak jika engkau telah tahu mana yang baik dan mana yang buruk bagi masa depanmu sendiri. Doa Ibu selalu mengiringimu.”
Keesokan harinya, Banar bertemu dengan Radista dan me- reka saling mengerti hal yang terbaik bagi dirinya masing-ma- sing. Dalam pertemuan tersebut, Banar mengungkapkan niat- nya untuk menjauhi Radista demi kebahagiaan dan masa depan gadis yang dicintainya itu. Meskipun ada perasaan sedih di antara keduanya, tetapi mereka menghargai pada keputusan yang telah disepakati bersama. Keduanya berjanji untuk tetap menjadi persaudaraan.
“Mungkin inilah jawaban atas doanya kepada Tuhan! Gu- mam Radista.” Mulai saat itu, Radista berjanji akan menghapus semua kenangan bersama Banar dan menjadikannya sebagai sahabat.
K
ini aku telah naik kelas XI dengan jurusan IPS, kegiatan BM, berusaha ku ikuti dengan penuh semangat. Kelas baru dan tahun ajaran baru semakin sulit, tetapi juga biaya yang harus dikeluarkan kedua orang tuaku untuk membeli buku- buku pelajaran, padahal setiap minggunya Ayah harus menge- luarkan uang Rp100.000,- untuk obat Ibuku, sedangkan kakak- ku yang baru saja lulus SMA ingin melanjutka studinya, berarti saatnya aku harus mengalah dan berjuang lebih keras demi Ibu dan kakakku yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Mesti buku pegangan itu sangat penting bagiku, tapi obat Ibu jauh lebih penting dan Ayah hanya seorang petani. Aku tidak bisa menuntut lebih dari orang tuaku, melihat keadaan keluarga yang sangat pas-pasan.Perpustakaan adalah tempat terbaikku. Meski aku benci dengan membaca, aku berusaha meringkas materi yang kurasa penting. Kadang aku menangis melihat teman-teman yang bisa belajar di rumah dengan buku-buku mereka, kadang aku iri melihat keadaan itu. Namun apa yang bisa aku lakukan? Aku hanya mampu membeli LKS seharga Rp4.000,- yang materinya sangat terbatas.Tapi aku berusaha mengejar ketinggalanku. Meski gengsi, aku berusaha meminjam buku-buku teman untuk aku pelajari di rumah. Kadang aku juga sangat jata karena aku mengerjakan PR teman-temanku hanya untuk uang, untuk membantu Ayah dan menambah uang saku.