• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ririn Andaryan

Dalam dokumen PIANO DALAM PASIR Antologi Cerpen Bengke (Halaman 109-114)

Motor itu langsung berhenti. Sesaat aku berpikir, ia akan berhenti untuk meminta maaf. Tapi, sial. Ia justru mengacung- kan jari tengahnya dan berteriak, “Dasar! Cewek sinting...!”

Dari suaranya tentu aku tahu dia seorang cowok. Darahku terasa begitu panas, “Kamu tu, yang sinting...! Kalau berani tu- run. Jangan jadi banci! Turun, kamu!” teriakku persis seperti orang gila.

Tak sedikit pun ia menggubrisku. Bahkan, dengan tak sedi- kit pun merasa bersalah, ia langsung tancap gas. Aku merasa semakin terhina. Maklum saja, di sekolah aku dikenal sebagai cewek yang tomboi dan galak. Dan, baru kali ini ada cowok gila yang berani memperlakukan aku seperti itu.

Sepanjang jalan menuju halte, tak sedikit pun aku berhenti mengumpat. Orang-orang di jalan menatapku dengan tatapan mata yang tajam. Kalau saja tatapan itu bisa membunuhku, mungkin aku sudah menjadi mayat. Tapi, tak sedikit pun aku mempedulikannya. Dengan amat cuek kuteruskan langkahku. Untung saja, sebuah bus berhenti tepat di saat aku sampai di halte. Tanpa pikir panjang aku naik. Berharap si sopir mau tancap gas. Agar aku bisa sesegera mungkin sampai di rumah. Dan, kali ini aku benar-benar menikmati perjalanan pulangku yang terasa seperti melewati gurun pasir.

***

Pagi yang sial untukku. Bi Ijah terlambat membangunkan aku. Dan, itu membuat hariku yang semrawut semakin tak karu- an.

Tak perlu mandi atau berdandan rapi. Cukup cuci muka dan gosok gigi. Aku langsung meluncur menuju sekolah. Mene- beng tetanggaku yang juga mau pergi ke kantor yang kebetulan tak jauh dari sekolahku. Di sepanjang jalan menuju sekolah, aku memikirkan alasan mengapa aku terlambat. Berpikir lebih teliti, semoga saja aku tak menggunakan alasan yang sama. Tak mengagetkan memang bila aku terlambat lagi karena itu sudah menjadi agendaku.

Sepuluh menit berlalu. Tak terasa dinding sekolahku sudah terlihat. Sekolahku sepi seperti kuburan. Benar saja. Waktu sudah menunjuk pukul 07.30 saat kulirik jam tanganku.

“Sial! Terlambat setengah jam! Yang benar saja. Kali ini aku pasti tidak akan selamat!” Gerutuku sambil menggaruk- garukk kepalaku yang sungguh tak gatal.

Seperti pencuri yang takut ketahuan, aku mengendap- endap di depan sekolahku. Pagar sekolah telah terkunci rapat. Terpaksa aku harus melompatinya. Dengan tak ragu-ragu aku melompati pagar setinggi satu setengah meter itu. tentu aku berhasil. Kemampuanku memang sudah tak diragukan lagi.

Perjuanganku belum selesai. Aku masih memutar otak, mencari-cari alasan keterlambatanku.

“Tok...! Tok...! Tok...!” Kuketuk pintu kelasku, pelan. Seperti yang kupikirkan, Pak Adam tak perlu lagi menoleh, “Mau alasan apa lagi, La? Ibu kamu sakit? Atau, kamu tadi no- longin kucing tetangga yang tersangkut di pohon? Atau, jangan- jangan rumah kamu kebanjiran?” Pak Adam memberondongku dengan serentetan pertanyaan.

“Eeh, anu, Pak. Tadi saya kesiangan...!” Terpaksa aku men- jawabnya jujur.

“Kesiangan kamu bilang? Memangnya semalam kamu ikut Pak De kamu ronda? Atau, jangan-jangan kamu nemenin Mas Kasim yang suka jualan sate keliling itu?” Kembali Pak Adam melontarkan pertanyaan sinisnya, “Kamu pikir, sekolah ini punya Kakek moyangmu? Sampai-sampai kamu bisa datang seenak- nya? Lala.... Lala...! Kamu ini sudah kelas XI. Kalau begini terus, kamu mau jadi apa?”

“Pilot, Pak...!” Celetuk salah satu temanku di sudut ruangan. “Tunggu! Sepertinya aku belum pernah mendengar suara- nya. Apa dia murid baru?” Seru batinku dalam hati.

“Ya, sudah! Kembali ke tempat duduk kamu...!” Suara Pak Adam terdengar seperti sambaran petir.

Tanpa mampu memberi jawaban, aku langsung duduk di kursiku.

CEWEK SINTING, KASIHAN BANGET DEH KAMU...! Kubaca tulisan segede gajah yang sengaja ditulis di laci mejaku. Sontak kutengok ke belakangku. Wajah berengsek cowok yang kemarin hampir menabrakku. Terlihat begitu dekat.

Spontan kuangkat jari tengahku ke arahnya, “Dasar banci...!” teriakku keras.

Tak diragukan lagi. Sebuah penghapus white board men- darat di kepalaku.

“Lala...! Keluaaar...!” Teriak Pak Adam.

Dan, hari ini benar-benar menjadi hari paling sial sepan- jang sejarah hidupku. Dan, aku, Lala Andini, bersumpah tidak akan pernah memaafkan cowok gila itu.

***

Namanya Rio. Setidaknya itulah informasi yang kudapat dari Sintia, cewek bigos di sekolahku. Cowok tidak waras itu benar-benar menjemukanku. Meski sudah seminggu semenjak ia menulis kata-kata gila di mejaku, tak sedikit pun kebencianku mencair.

“Kamu tahu nggak, La? Ternyata Si Rio tu baik banget lho...! Dia itu sering banget bantuin anak jalanan! Ya, walaupun kelihat- annya dia lebih mirip jadi perampok, tapi sumpah, dia baik hati banget...!” Berkali-kali Nita, sahabat baikku memuji si cowok gila itu.

“Iya deh, Nit. Terserah apa kata kamu aja. Aku ngikut...!” Jawabku ogah-ogahan. Telingaku benar-benar terusik men- dengar pernyataan Nita. Gak mungkin banget dia kayak gitu...! Tapi, akhirnya kuputuskan untuk membuktikan kebenaran ucapan Nita. Dengan sedikit menumbuhkan rasa percayaku, aku membuntutinya sepulang sekolah.

Benar saja. Ia menuju sebuah rumah kecil di sudut gang. Di tempat itu anak-anak jalanan terlihat begitu akrab dengan Si Cowok Gila. Aneh. Rio yang kulihat kali ini sangat berbeda Rio yang kukenal selama ini. Dia bahkan terlihat sangat manis. Senyum kecil muncul di bibirku.

Dan, sejak hari itu aku lebih mengenal dia sebagai cowok baik berhati lembut. Bukan Rio yang berandal.

Dan, hampir setahun sejak aku melihat dia membantu anak- anak jalanan, kami berteman akrab. Di mana ada Lala, sudah pasti ada Rio.

***

Hari ini Rio akan mengikuti balap motor. Ia ingin meng- gunakan uang hadiah balapan untuk membiayai anak-anak jalanan. Setelah berpamitan, Rio langsung berangkat. Aku ter- paksa tidak bisa mengantarnya karena hari ini aku harus me- nyelesaikan tugas sekolahku.

Dua jam kemudian kudengar suara motor Rio. Aku lang- sung keluar rumah. Kulihat Rio lebih gagah di atas motornya, “Rio! Gimana? Menang, gak?” Tanyaku penasaran.

Rio tersenyum kecil, “Iyalah, aku menang. Rio gitu loh...!” Ucapnya bangga, “La, aku boleh minta tolong dong...! Tolong rawat anak-anak, ya...? Aku sudah gak bisa jagain mereka. Mau kan...?” pinta Rio serius.

“Maksud kamu?!” Aku bertanya kebingungan.

“Ya, udah. Mau gak? Aku dah capek ni mau pulang....” Kujawab pertanyaannya dengan anggukan. Tak lama Rio langsung pamit pulang.

Aku pun langsung kembali ke kamar.

***

Entah sudah berapa lama aku di kamar. Seperti baru se- detik saja, setelah Rio pamit dan menitipkan anak-anak jalanan kepadaku.

Tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Ternyata dari Nita, “Halo, Nit...! Ada apa?! Tumben nelepon...?!”

“Yang sabar ya, La... Rio udah gak ada. Kamu yang tabah ya...?” Bisik Nita disertai isakan.

Ucapan Nita benar-benar seperti sambaran petir di siang bolong. Kesadaranku semakin hilang dan semuanya mendadak gelap.

A

PA...? Serius, lo....”

Tiba-tiba dengan secepat kilat, semua anak XI IPA2 lang- sung melihatku. Semua mata tertuju padaku dengan pandang- an yang membuatku jadi kikuk.

“Mati gue...,” ucapku dalam hati dengan melirik Bu Suk. “Oops.... Mampus gue di tangan Bu Suk, Nin,” aku berbisik pada Nindy.

Suaraku tadi membuat Bu Suk melihatku dan mengham- piriku, “Ehm... Bagus, Keyla.... Kamu mau nyontek, ya!” Bentak Bu Suk sambil memelototkan matanya padaku.

“E... eng... nggak. Enggak kok, Bu. Gue ... eh, aku cuma mau tanya Nindy, kalau besok pakai seragam apa, Nin...,” ucap- ku sambil mengarahkan pandanganku pada Nindy.

“E... eh....iya. kayaknya besok masih pakai putih abu-abu, deh,” Nindy nyengir.

“Alasan apa itu? Tidak logis. Dasar, bukan siswa teladan. Mau jadi apa negara kita ini kalau semua orang seperti kamu. Sudahlah tak usah kau mengelak lagi. Sekarang kerjakan saja di ruang guru. Cepat, Keyla...!” Teriak Bu Suk geram padaku. “Ukh, sialan. Gara-gara lo nih, Nin. Gue kena hukuman kayak gini. Huh....”

“Huuu, Keyla! Dasar!” Teriakan anak XI IPA2 menghiasi kemalanganku kali ini.

MC2 Love

Dalam dokumen PIANO DALAM PASIR Antologi Cerpen Bengke (Halaman 109-114)