• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bingkai Kehidupan

Dalam dokumen PIANO DALAM PASIR Antologi Cerpen Bengke (Halaman 58-63)

Galih

“Sudah, Bu! Di mana Andi?”

“Mandi di sungai Kentheng, Pak! Kok belum pulang!” “Nanti juga pulang!”

***

Suasana pun jadi ramai ketika Andi dan kawannya pulang dari memancing di sebuah sungai dekat dari rumahnya. Dilihat- nya sang ibu dan bapak sedang minum teh di kursi depan gubuk itu.

“Itu Andi, Pak! Alhamdulillah, ia sudah pulang, Bu!” “Assalamu’alikum …,” sapa Andi dan langsung bersalaman kepada kedua orang tuanya.

“Wa’alaikum salam, kok baru pulang, Nak?” “Iya, Bu. Tadi sambil berenang!”

Itulah Andi, sang buah hati yang taat kepada orang tua dan agama. Teman-teman Andi pulang menuju rumah masing- masing yang letaknya tidak jauh dari rumah Andi. Andi lang- sung masuk ke rumah dengan membawa plastik hitam yang di dalamnya banyak ikan kecil dan besar. Andi bergegas mandi ke- mudian melaksanakan shalat maghrib. Setelah shalat, tak lupa Andi mengaji walaupun hanya satu ayat. Itulah sebagian kecil dari rutinitas dalam kehidupan Andi.

Mengaji bagian yang penting bagi Andi, yang dilakukan sehabis Shalat maghrib sampai isya.

Andi pulang dengan perasaan yang tidak seperti biasanya ia menemui ibu dan ayahnya minum teh di gubuk. Perasaan cemas tidak terjawab hanya dengan menemui ibu dan ayahnya. Ibunya berkata tak seperti biasanya yang akhir-akhir ini berbi- cara seolah-seolah ingin meninggalkan sesuatu.

“Ada apa dengan, Ibu?” Terlintas terus di hati Andi. Andi pamit untuk belajar lalu tidur. Andi yang tak pernah gelisah, ia gelisah memikirkan ada apa sebenarnaya ini. Mulai dari air sungai yang terlihat sosok wajah Ibu Romlah yang ter- senyum kepada Andi yang seakan-akan akan mengatakan se- suatu yang amat penting hingga gelapnya malam datang kege- lisahan menyelimuti Andi. Kali ini bertambah kuat imajinasi

yang terlalu berlebihan dari Andi, membuat air mata Andi tak terbendung. Dia merasa belum siap jika harus kehilangan ibu yang teramat dicintainya. Terlebih pada ayah yang selalu meng- ajarkan arti kehidupan. Bukan karena takut hidup sendiri, melainkan Andi merasa belum bisa membahagiakan, membang- gakan kedua orang tuanya, sebagai rasa cinta dan kasih sayang serta rasa hormat Andi kepada kedua orang tuanya. Senyum bahagia dan rasa bangga dari kedua orang tuanya adalah suatu yang tak ternilai bagi Andi. Malam pun semakin larut dan akhir- nya Andi tenggelam dalam mimpi–mimpinya.

***

Kicauan burung yang merdu, dengan udara yang agak ba- sah oleh embun, yang sedang menyambut senyumnya mentari pagi di hari ini. Sang Ayah telah bergegas dengan gerobak tua- nya. Ibu yang sedang menunggu Andi memakai seragam yang juga siap dengan keranjang kosong yang kemudian berkeliling untuk mencari pakaian kotor untuk dicucinya.

Perasaan cemas dan gelisah ternyata masih lekat di hati Andi. Ketika mau berangkat sekolah Andi melihat ibunya yang dari tadi menunggunya, sedang batuk-batuk. Dilihatnya wajah ibu yang agak sedikit pucat. Andi mengurungkan niatnya untuk sekolah karena merasa kasihan dengan ibunda tersayangnya. Namun sayang, Ibu tak mau mengorbankan anaknya, “Ke- napa, Andi? Ibu baik-baik saja. Kamu harus pergi sekolah!”

“Nggak, Bu! Andi mau di sini menunggui ibu. Andi takut terjadi apa-apa pada ibu.”

“ Andi, Ibu tahu Andi sayang pada ibu. Andi nggak mau ibu kecewa, kan? Maka, Andi harus sekolah!”

Dengan berat hati akhirnya Andi berpamitan pada Ibu dan kemudian pergi ke sekolah. Sepanjang perjalanan wajah Ibu dan Ayahnya terlintas di benak Andi. Sesampainya di sekolah, Andi duduk seperti biasa.

Bel pun berdering. Tanda pelajaran jam pertama dimulai. Pak Amin, guru Bahasa Inggris telah datang.

Setelah Pak Guru mengucap salam, dimulailah pelajaran seperti biasa. Suasana tenang menyelimuti ruang kelas. Semua murid berkonsentrasi dan memperhatikan dengan penuh se- mangat. Lain halnya dengan Andi. Pikiran yang melayang. Hati yang cemas dan gelisah mengganggu otak Andi tak kunjung lenyap, malah semakin menjadi-jadi.

***

“Assalamu’alaikum” teriak Andi di depan rumahnya. Tiga kali Andi salam, tak ada yang menyahut. Kemudian, Andi masuk. rumah. Dilihatnya perabot rumah yang tertata tak seperti biasa- nya. Suasana sepi dan aneh. Satu jam lebih Andi menunggu, namun tak ada seorang pun. Andi keluar rumah dan dilihatnya Pak Mijo, seorang tetangga Andi. Andi bertanya pada beliau, “Pak, pada ke mana ya, kok gak ada orang?”

“Andi belum tahu ya ...!”

“Tahu apa ...? Ada apa, Pak? Apa yang terjadi?” “Sabar dulu, Nak ...!”

Diajaklah Andi duduk sambil minum teh.

“Tabahkan hatimu, Nak ...! Kedua orang tuamu telah lebih dulu kembali pada yang Kuasa.”

“Apa ...?! Tidak mungkin ....!” Sambil meneteskan air mata. “Ibumu tadi jatuh pingsan, lalu telah tiada. Sementara ayah- mu tertabrak mobil saat mau menyeberang jalan. Tapi, tak usah bersedih semua yang ada di dunia akan kembali pada yang Kuasa. Tak ada yang kekal. Tak ada yang abadi di dunia ini.”

“Tapi, saya belum sempat membahagiakan mereka. Saya belum bisa jadi apa yang mereka inginkan.”

“Sudah. Gak usah bersedih. Mereka gak akan nuntut apa- apa darimu. Mereka hanya ingin kamu tahu. Segala yang ada di dunia pada akhirnya akan musnah. Akan kembali pada Tuan- nya. Siapa itu? Dia adalah Tuhan. Dan mereka punya pesan padamu agar kamu rajin sekolah dan jadilah seseorang yang berguna bagi siapa saja.”

Tet ... tet .... tet ....!

“Andi, bangun... Bangun, udah bel pulang. Mau pulang gak!” Kata teman Andi sambil menggoyang-goyang badan Andi ber- usaha membangunkan Andi.

“Masya Allah! Alhamdulillah! Ternyata hanya mimpi, to...!” Andi bergegas pulang dan menemui ibunya. Ternyata ayah dan ibu Andi telah menunggu di meja makan. Andi bersyukur, ternyata itu hanya mimpi. Walaupun kejadian dalam mimpi itu akan terjadi suatu saat nanti namun dia takkan lupa tentang mimpinya. Dia akan berusaha agar ayah dan ibunya bangga pada Andi.

P

ak Mangun memandang Dewa dengan mata mendelik. Seakan-akan semua amarah terwakilkan dengan sorot mata keras dan dingin itu. Kumisnya yang lebat melintang tak teratur, membuat wajah hitam legamnya makin garang. Belum ada semburan kata-kata makian yang terlontar dari bibirnya yang hitam karena rokok. Hanya dengus napasnya yang menan- dakan bahwa dia sedang benar-benar murka pada anak laki- lakinya, Dewa.

“Dasar anak ndak tahu diuntung! Sudah syukur diopeni, kok masih bikin ulah!” semburnya, keras melengking memenuhi seluruh ruangan rumah.

“Maaf. Maaf, Pak…!”

Dewa menunduk lesu. Tidak berani memandang bapaknya yang -sekali lagi- memarahinya. Memarahi Dewa, hanya karena masalah jemuran yang lupa belum diangkat dan kehujanan.

“Maaf… Maaf… sekali sudah maaf. Diulangi lagi. Bapak ndak

sabar!”

Dewa, salah satu anak pak Mangun dari 4 bersaudara, yang dapat dibilang sedikit (maaf) cacat. Anak kedua setelah Bimo, dan sesudah si kembar Satrio dan Kinan. Dari ketiga anak laki- laki pak Mangun, hanya Dewa-lah yang keadaan fisiknya lebih rendah. Kakinya yang kiri lebih kecil dari yang kanan. Itu sebab-

Gangsal

Dalam dokumen PIANO DALAM PASIR Antologi Cerpen Bengke (Halaman 58-63)