cepat ingin selesai mandi dan turun untuk sarapan. Walaupun ia tahu, masih terlalu pagi untuk sarapan.
Pukul setengah enam ia langkahkan kaki ke luar kamar dan menuju meja makan. Setelah sampai di meja makan, wajah bertambah suram.
“Bibi ...” Berteriak dengan begitu kerasnya, sambil memu- kul meja makan.
Seorang bibipun berlari terbirit-birit menuju meja makan dengan meninggalkan makanannya di dapur. Karena bibi keta- kutan dengan suara Putri yang begitu marah, bibipun lupa me- nurunkan masakan yang akan dihidangkan kepada Putri yang galak itu.
“Ya non, ada apa tumben non Putri jam segini sudah siap?” Tanya bibi itu dengan ketakutan.
“Eh bik ..., emangnya bibi nggak tahu kalau hari ini penen- tuan kelulusanku?” Dengan wajah begitu marah.
“Ma ... ma .... maaf non, bibi tahu tapi bibi tidak tahu kalau non Putri bangun pagi-pagi sekali. Biasanya non Putri jam se- tengah tujuh baru siap di meja makan” kata bibi sambil menun- dukkan badan.
“Iya itu kemarin-kemarin, tapi sekarang tidak. Aku mau berangkat sekolah pagi-pagi, cepat siapkan makan pagi untuk- ku.” Kata Putri dengan suara keras.
Bibi hanya terdiam menunduk dengan membawa gula Jawa untuk masak. Dari dapur, tercium masakkan bibi yang gosong. Putri terdiam dan berkata
“Bau apa ini?”
Bibi berpikir dan terdiam sejenak. Lalu bibi berteriak. “Haahhh ... non itu masakan bibi” Bibi sambil berlari menuju dapur.
“Dasar bibi bodoh ... “ Kata Putri dengan wajah yang masam. Putri marah-marah dan duduk di meja makan. Ia berpikir masakan itu bisa hangus karena keteledoran bibi. Dan Putri berpikir, apakah pelajaran disekolah juga akan seperti makanan itu. Hanya karena kesombongan dan malasnya Putri. Putri tidak
dapat lulus? Tatapan Putri penuh dengan tanda tanya ???? Otak- nya tidak terhenti memikirkan siapa dirinya. Mampukah ia menaklukkan rasa takut itu? Pikiran Putri seakan kosong.
Thek ... thek ... thek suara sepatu ayah dan ibu Putri yang sudah siap untuk sarapan. Orang tua Putri pun kaget melihat anak gadisnya duduk sendiri melamun di kursi makan dengan sendok di tangannya, seakan Putri memikirkan sesuatu. Ayah- nya pun menghampiri Putri dan berkata.
“Putri ... “ Sambil berteriak
“Kenapa kamu nak?” Dengan gaya memanjakan anak ke- sayangannya itu.
“Hah ....” Putri pun berteriak dan kaget.
“Mama Papa apa-apaan sih kagetin Putri aja deh, kaya di ....”
Mama Putri memutuskan pembicaraan Putri.
“Putri sayang kamu kenapa, kamu yang mengagetkan mama papa, tidak seperti biasanya kamu bangun pagi-pagi terus melamun di meja makan lagi, kamu kenapa nak?”
“Putri takut ma, kalau seandainya Putri nanti tidak lulus.” Jawab Putri.
“Kenapa takut? Kamukan anak rajin dan pintar, sampai- sampai nilai ulangan harianmu aja kurang dari 5 terus.” Sambil duduk dengan kata menyindir.
Putri pun menangis keras.
“Haaa .... Papa bicara apa sih? Kenapa bicara seperti itu pada Putri?”
“Putri jadi tambah sedih kan pa ...!” Sahut mama Putri. Suasana terdiam setelah bibi datang membawa hidangan untuk sarapan.
“Sayang ayo kita sarapan dulu!” Kata mamanya. “Nggak ma Putri sebel sama papa.” Jawab Putri.
“Sayang nggak boleh begitu. Mama janji dech kalau Putri lulus atau tidak lulus mama beliin tiket tour ke Bali. Mama beliin tiket juga untuk Rina, Nani, dan Nita.” Sambung mama- nya. (Rina, Nani, dan Nita adalah sahabat Putri).
“Yang benar ma? Asyik. Makasih ya ma” ucap Putri. “Mama jangan terus memanjakan Putri ma, Putri sudah dewasa, biarkan Putri belajar mandiri!” Bentak Pak Ihbal!
Nafsu makan Pak Ihbal hilang setelah mendengar perkata- an istrinya yang menjanjikan tiket tour untuk Putri, Pak Ihbal pun keluar rumah dan langsung berangkat kerja.
Bu Zani adalah ibu yang suka memanjakan anaknya. Putri adalah anak tunggal. Sehingga dari kecil Putri terbiasa hidup mewah dan suka menghambur-hamburkan uang bersama mamanya untuk pergi ke Mall ke Salon. Sampai-sampai hampir setiap hari Pak Ihbal dan Bu Zani bertengkar masalah uang. Bu Zani adalah seorang ibu rumah tangga, tapi suka menghambur- kan uang.
Karena waktu sudah berjalan begitu cepat Putri langsung pergi berangkat menuju sekolah.
***
Sesampai di sekolah Puri langsung menghampiri sahabat- sahabatnya itu.
“Hai Nan, Rin, Nit apa kabar?” Dengan wajah yang ceria. Ketiga sahabatnya kaget melihat Putri yang begitu senang padahal belum ada pengumuman kelulusan. Kelulusan akan diumumkan setengah jam lagi.
“Put, kamu kenapa kok ceria gitu sih?” Padahal peng- umuman masih setengah jam lagi !!!” Sapa Nani.
Mereka bertiga berpikir, apa Putri gila sebelum kelulusan diumumkan. Tidak seperti biasa, karena setiap ada pengumum- an yang menentukan nasib Putri, Putri selalu resah dan gelisah tetapi meskipun selalu seperti itu Putri tidak mau berubah.
Putri benar-benar anak yang malas dan keras kepala. Tidak pernah mau belajar apalagi di nasihati ataupun dikritik, ia selalu membantah. Ia berpikir bahwa dirinyalah yang paling bagus, baik paling menang sendiri pali...ng Ok!
“Teman-teman, kata mamaku meskipun aku tidak lulus tapi mama tetap akan kasih aku tiket tour ke Bali, kalian juga ikut kok” kata Putri.
“Yang bener Put, masak mama mu sebaik itu sih?” Tanya Rina.
“Eh, jangan salah Putri kan anak orang kaya mana mung- kin Putri bohong.”
“Setiap kemauan Putri kan selalu dituruti oleh orang tua- nya.” Sahut Nani.
“Betul kata Nani.” Sahut Nita.
Memang di sekolah dan dimanapun Putri terkenal anak manja dan setiap kemauan Putri pasti dituruti oleh kedua orang tuanya. Hanya saja ayahnya selalu melarang Putri mengham- bur-hamburkan uang.
Ayah Putri mengajari Putri untuk hidup hemat tapi mama Putri yang menggagalkan ajakan Pak Ihbal untuk hidup hemat. Tiga puluh menit pun berlalu. Semua siswa SMA N Harap- an melihat pengumuman di mading dekat perpustakaan. Ketiga sahabatnya itupun berlarian menuju tempat pengumuman. Hanya Putri yang tetap berdiam diri duduk di kursi taman.
Putri diajak teman-temannya tapi tetap tidak mau. Di da- lam pikiran Putri hanyalah kute .... Putri sudah beberapa kali datang ke Bali tapi masih saja belum puas pikirannya hanya Bali, Bali, dan Bali. Di benak Putri selalu berkata hah seandai- nya aku tidak lulus Ujian Nasional tidak masalah bagiku, yang penting aku bisa pergi dan menikmati pulau Dewata bali. Bali sudah membutakan pikiran Putri.
Tak lama kemudian suara pengumuman terdengar. “Panggilan panggilan kepada Putri kelas 3 jurusan IPA dimohon menghadap kepala sekolah.”
Putri pun kaget, kenapa hanya Putri yang dipanggil ada apa???? Di hati Putri tanda tanya besar? Putri pun menuju ruang kepala sekolah.
Sebelum masuk ke ruang kepala sekolah Putri diberi kabar ketiga temannya itu dan kabar itu ialah bahwa Putri tidak lulus ujian dan hanya Putri yang tidak lulus, Putri tetap tersenyum dan tidak kaget. Putri langsung menuju ke ruang kepala seko- lah.
Tok tok tok ... suara ketukan jemari Putri memukul pintu ruang kepala sekolah.
“Masuk ....” Terdengar suara bapak kepala sekolah dengan suara marahnya.
“Ada apa ya pak?” Kok saya dipanggil? Ada yang penting?” tanya Putri dengan wajah yang sok cantik dan kaya itu.
“Cepat duduk bapak mau tanya! Kenapa kamu bisa tidak lulus? Di SMA ini belum ada 1 siswa atau siswi yang tidak lulus. Tapi ini terjadi pada kamu. Sekolah ini sudah terkenal sekolah faforit. Saya tidak mau kamu mencemari nama baik sekolah ini!” kata Pak Burhan (kepala sekolah).
“Ya pak, zaman sekarang itu, pelajaran susah semua. Ya wajar donk kalau ada murid yang tidak lulus.” Jawab Putri dengan tatapan yang menantang kepala sekolah.
“Apa katamu? Kamu berani menantang bapak seperti itu?” tanya kepala sekolah.
“Eh pak, penyumbang terbesar di sekolah ini siapa kalau bukan ayah saya, jadi bapak nggak usah marah-marah gitu deh! Ayah saya juga bisa kok membeli sekolah ini!” Jawab Putri dengan marah.
Dengan wajah marah Pak Burhan berkata
“Cepat kamu tinggalkan ruangan ini! Kamu benar-benar anak keras kepala dan tidak sopan!!!”
Putri langsung keluar dengn tidak sopan dan membanting pintu. Derrrrr ....
Suara pintu membuat perhatian para siswa teralih ke Putri. Sampai di luar ruangan Putri diejek teman-temannya.
“Heeehhh tidak lulus aja sok benget loe!” Kata salah seorang siswa .... Semua teman-teman memberi sorakan
“Huuuuhhh” Putri hanya bilang
“Yang penting bisa tour ke Bali ye... kalian semua tidak bisa kan?” Dengan suasana runyam seperti itu Putri langsung keluar sekolah dan menghampiri mobil mewah yang sudah siap menunggu Putri di depan gerbang sekolah. Nani, Rina, dan Nita
memanggil-manggil Putri tetapi Putri langsung masuk ke mobil mewah itu dan menuju rumah. Putri tidak menghiraukan suara ketiga sahabatnya itu.
***
Pada saat itu juga. Ayah Putri Pak Ihbal tidak banyak pikir langsung memblokir kartu kredit istrinya (Bu Zani) dan anaknya (Putri).
Pak Ihbal tidak mau uang tabungan itu hanya dihabis-ha- biskan untuk hal yang tidak penting. Pak Ihbal tidak menyukai cara istrinya mendidik anak dengan memanjakan seperti itu.
***
Sesampainya di rumah, Putri langsung masuk rumah dan dengan hati ceria menghampiri mamanya yang sedang mem- baca majalah di lantai belakang. Putri bilang bahwa dirinya tidak lulus dan menanyakan kapan ia dan ketiga temannya bisa be- rangkat tour ke Bali. Putri juga menceritakan kemarahan kepala sekolah ke mamanya, tapi mamanya tidak kaget dan tidak ba- nyak bicara. Mamanya langsung pergi mencari tiket untuk Putri.
***
Sesampai di tempat, ibu Zani (mama Putri) kaget men- dengar kata-kata petugasnya (penjual tiket), kalau kartu kredit- nya sudah keblokir. Bu Zani malah marah-marah dan langsung berpikir pasti yang memblokir suaminya. Bu Zani langsung pergi ke kantor Pak Ihbal suaminya.
Sesampai di kantor Pak Ihbal tidak kaget melihat keda- tangan istrinya. Karena Pak Ihbal sudah menduga kalau istrinya akan datang. Istrinya langsung marah-marah tetapi karena saat itu ada meetting Pak Ihbal tak banyak dengar langsung keluar ruangan bersama sekretarisnya menuju ruang meetting. Bu Zani sangat marah karena kata-katanya tidak didengar bahkan ditinggal Pak Ihbal meetting. Bu Zani langsung pulang.
Di jalan (dalam mobil) Bu Zani terdiam berpikir, bagaimana nasib Putri setelah mendengar bahwa tour ke Bali akan gagal
karena kartu kreditnya diblokir ayahnya. Pikiran Bu Zani sudah tidak brutal. Pikirannya sudah melayang kemana-mana. Bu Zani hanya berpikir apakah Putri mampu dan sanggup mene- rima semua ini? Karena disisi lain Putri tidak lulus. Sampai di rumah Bu Zani hanya terdiam dan langsung duduk di kursi belakang (teras belakang). Wajahnya terlihat begitu sedih. Putri melihat mamanya sedih, Putri langsung ke atas (ke kamar) dan menangis. Mama Putri melihat keadaan Putri lari dan menangis mama Putri langsung panik dan mengikuti langkah Putri ke kamar. Putri langsung menangis tersedu-sedu. Mamanya minta maaf ke Putri dan menjelaskan semuanya. Putri hanya menangis dan meminta mamanya keluar dari kamarnya. Putri ingin me- renungi semua kesalahannya. Dan mamanya pun keluar ka- mar.
Putri terus menangis dan berpikir apakah ini akibat dari keteledoran dan kesombongan dari dirinya. Mungkin tidak akan lagi ada semangat di hidupnya. Baru saja satu bulan Putri me- nangis, mengisi putus dengan pacarnya yang bernama Andri. Dulu Andri juga tidak menyukai sifat dan cara hidup Putri. Andri selalu mengingatkan Putri untuk berubah tetapi Putri tidak mau berubah dan akibatnya mereka putus. Andri benar-benar kecewa dan tak mau lagi melihat bayang-bayang wajah Putri. Teman-teman Putri sudah masuk di perguruan tinggi, te- man, sahabat, begitu juga Andri mantan pacar Putri. Andri men- dapat Universitas yang favorit, jurusan kedokteran. Putri ber- sedih, tetapi Putri juga ingin mengubah dirinya menjadi kedepan lebih baik.
Putri masuk di SMA N Harapan. Meskipun masih meng- ulang satu tahun kelas 3 Putri tetap semangat. Pada saat masuk pertama juga, Putri minta maaf ke guru-guru dan terutama kepada kepala sekolah yang dulu pernah Putri bentak. Putri juga berjanji kepada kedua orang tuanya untuk mengubah sifat buruknya untuk lebih baik. Ayah dan mama Putri senang me- lihat perubahan Putri. Sekarang Putri menjadi anak yang rajin, pintar, dan baik.
***
Satu tahun kemudian pengumuman kelulusan. Putri lulus dan dapat juara pertama (juara umum) di SMA tersebut. Putri senang sekali, Putri bangga dengan dirinya begitu juga orang tua dan teman-temannya yang sudah lulus mendahului Putri. Putri dapat masuk ke Universitas yang favorit juga. Putri mengambil jurusan kedokteran. Pada saat penyesuaian menjadi mahasiswi Universitas favorit itu, dengan tidak sengaja Andri (mantan pacar Putri) menjadi seniornya. Dan Andri melihat perubahan Putri yang begitu dahsyat Andri sekarang menilai Putri adalah cewek yang baik bagaikan mutiara.
Karena satu kampus, Putri dan Andri mulai dekat lagi. Mereka sama-sama masih menyimpan rasa cinta. Dan pada suatu hari Andri mengungkapkan rasa cinta itu ke Putri. Putri pun menerima Andri kembali. Di kampusnya Putri dan Andri dikatakan pasangan serasi. Hubungan mereka berlanjut hingga pelaminan. Mereka pun hidup bahagia. Dan sekarang Putri menyadari, bahwa hidup ini tidak perlu membanggakan harta ataupun kekayaan. Tapi kepedulian terhadap lingkungan harus tetap di lestarikan. Andri pun merasa senang karena telah me- nemukan kembali mutiara yang pernah hilang.
Nama: Anita Puspita Sari Jenis kelamin: Perempuan
Tempat, tanggal lahir: Gunungkidul, 29 Juli 1991
Agama: Islam
Sekolah: SMK Muhammadiyah 1 Wonosari Alamat Sekolah: Jalan Alun-alun Barat 11 Wonosari
Alamat Rumah: Gelaran 2 Bejiharjo, Karangmojo
Telepon/HP: 087838256103 Hobi: Berenang dan bernyanyi Prestasi: Juara 1 Menyanyi Tingkat Kabupaten
Nama: Arum Danarti Purnomo Jenis kelamin: Perempuan
Tempat, tanggal lahir: Gunungkidul, 15 September 1992
Agama: Islam
Sekolah: SMA N 2 Wonosari
Alamat Sekolah: Jalan Ki Ageng Giring 3 Wonosari, Gunungkidul
Alamat Rumah: Singkar II RT 03/RW 06 Wareng, Wonosari, Gunungkidul