• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fr Anita Dyan K

Dalam dokumen PIANO DALAM PASIR Antologi Cerpen Bengke (Halaman 49-58)

akan mencari anak-anaknya itu, segera kuberanikan turun melewati pipa di samping jendela kamarku. Panasnya tangan tidak menghalangiku tuk mengejar anak itu yang sudah turun dari batang pohon. Kukejar tanpa henti. Rupanya gesit pula langkah anak itu hampir aku tertipu oleh derap larinya. Pasar Grenjeng yang terletak tak jauh dari kompleks pohon beringin tersebut merupakan arena yang dimasuki anak kecil itu. pusing aku dibuatnya berputar-putar tanpa henti.

“Grubak!” Tiba-tiba anak kecil itu menabrak seorang anak muda. Langkahku sempat berhenti melihatnya. Yang kukira muda itu akan menghalangi langkah anak itu, namun ternyata bisikan kecil membuat seorang muda itu menuntunnya meng- hilang tanpa kuketahui. Kulihat ke sana-ke mari di sela lemari- lemari yang berjajar yang penuh dengan barang dagangan di dalamnya tentunya dan di bawah meja-meja yang terlihat.

“Permisi, Bapak tadi melihat dua anak laki-laki berlari tadi? Yang satu masih berumur sekitar tujuh tahun dan yang satu….” Belum sempat kuselesaikan pertanyaanku bapak yang kutanya menyela, “Maksud Adik, yang berlari barusan?”

“Iya, Bapak tahu siapa mereka?” “Bukan hanya tahu tapi juga kenal.”

“Siapa mereka, Pak? Mungkin Bapak bisa memberitahu tempat tinggal mereka?”

“Kamu masuk gang sebelah kiri itu. rumah menghadap selatan nomor lima.”

Tanpa banyak bicara Bapak yang sedang sibuk membaca koran tadi langsung meneruskan membacanya.

“Terima kasih, Pak.”

Kutapaki jalan menuju gang itu. Suasana tenang tanpa kebisingan kendaraan bermotor menggiringku terus melangkah. Hari yang semakin larut mengingatkanku untuk segera menye- lesaikan masalah besar yang walau sebenarnya teruntuk hanya padaku saja.

Larut itu aku telah berdiri di depan rumah deretan nomor lima seperti yang diungkapkan Bapak tadi. Terlihat banyak

keranjang bertumpukan di kanan rumah itu. Kayu pintu, din- ding, dan atap yang sudah rapuh menyiratkan ketidaklayakan rumah itu untuk dihuni. Bersyukur rasanya aku masih men- dapat rumah yang layak dihuni bersama keluarga tiriku yaitu ayah, nenek, kakek, dan kakak.

“Krompyang, therr…” Terdengar beberapa barang pecah mengagetkanku dari lamunan.

“Keluar! Sebelum kau bisa mengganti barang-barang ini. Sebagai hukuman untuk malam ini jangan berani tidur di rumah!” Teriak seorang Bapak yang menyentakkan pikiranku. Dibukanya pintu oleh anak kecil yang mengambil sarang burung tadi. Segera kuhampiri anak itu. Belum sempat aku me- ngeluarkan kata. Tatapan yang berkaca-kaca tersorot dari anak itu menggugurkan niatku untuk menasihatinya mengembalikan sarang burung itu.

“Kau tidak…”

“Untuk apa kamu datang kemari?” Potong anak itu dengan nada marah.

Belum sempat aku menjawab anak itu pergi tanpa meng- hiraukanku lagi. Dengan sedikit bertanya dalam hati, bukankah seharusnya akulah yang marah? Namun, kenapa tidak sopan sekali itu anak langsung pergi tanpa mendengarkan penjelasan- ku.

Kubalikkan badanku dengan menghela nafas. Terlihat anak itu menangis di pelukan seorang muda yang menuntunnya tadi. Ditatapnya aku dengan tajam oleh anak muda itu.

“Kau apakan anak ini hingga menangis seperti ini?” Gertak- nya.

“Menuduh tanpa bukti.”

“Mau bukti apalagi? Ini dia menangis. Kamu tadi kan yang mengejarnya?”

“Kalau iya kenapa? Tapi, maaf bukannya aku…..”

“Sudahlah, Kamu pergi saja dari pada hanya memperkeruh keadaan.”

Sungguh kata-kata anak muda itu menusuk hatiku,” se- enaknya itu orang menuduh tanpa bukti, memang dia siapa sampai berani membentakku? Seruku dalam hati.

“Masih bengong lagi. Pulang sana! Anak gadis sepertimu jangan keluar rum…”

“Apa urusanmu menasihatiku? Asal kamu tahu aku tidak membuat anak itu menangis. Dia sendiri yang berbuat salah.”

“Sudahlah pulang sana sebelum….”

“Tapi, maaf sebelumnya. Sebab aku kemari hanya...” “Siapa suruh berdebat di depan rumahku? Pergi kalian se- mua! Mengganggu orang nonton teve saja!” Bentak Bapak anak kecil itu tiba-tiba yang lagi-lagi memotong omonganku, yang kesekian kalinya membuatku tertegun.

“Tunggu apa lagi? Pergi!” Teriak Bapak itu yang sudah siap- siap akan melempar sandal yang dikenakannya.

Lari pulang adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan diri sendiri. Kecewa yang kubawa, sedih rasanya mengapa aku tidak bisa menggugah anak kecil tadi untuk sekedar mengem- balikan burung-burung kecil itu berkumpul dengan keluarga- nya.

“Plak,,,” jidatku adalah sasaran kepikunanku. Mengapa baru terpikir bahwa wilayah itu adalah baru bagiku. Lupa gang menuju jalan utama adalah masalah berikutnya yang hinggap padaku.

“Kan baru tadi pagi ya aku sampai di sini. Berani-beraninya lagi keluar rumah tanpa izin. Aduh gimana ini?” Linglung tiba- tiba aku di pertigaan gang Melati itu, “Aagh…!” Teriakku ketika tepukan lembut menyentuh bahuku.

“Mbak Dyan kenapa bisa sampai sini?”

Mbok, aduh kaget saya. Untunglah simbok di sini. Saya tersesat, Mbok,”

“Ya sudah, mari pulang.”

Sesampainya di depan pintu rumah, nenek dan kakek ter- dengar sedang berbincang-bincang dengan nada tinggi. Melihat- ku, nenek dan kakek berhenti saling menyalahkan, “Masuk

kamar sekarang!” Nada marah sangat terasa ketika kekek melihat- ku saat itu. Nenek yang terlihat mencemaskanku langsung menghampiriku dan memapahku menuju kamar.

“Marti, siapkan makanan dan bawa ke kamar Dyan, ya!” “Ya, permisi.”

Aku hanya diam tanpa kata. Merasa bersalah itulah yang berkecamuk di dalam dadaku. Ketika melintasi ruangan terbuka sebelum menuju tangga, terlihat kamar yang tertata rapi yang jelas tidak mungkin itu kamarku.

“Nenek tidak mau kamu mengulanginya lagi!”

“Maaf Nek, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan izin lebih dahulu sebelum pergi-pergi.”

“Nenek bukannya melarang kamu untuk bepergian, tapi...,” nasihat Nenek terhenti seketika setelah melihat penyesalan yang terlihat dari raut sedihku dan anggukanku.

“Tok…tok...tok…,”

Terlihat sosok laki-laki muda dengan kaos hitam bercelana panjang dan rambutnya masih hitam panjang rapi seperti Rojer Danuarta. Seketika membuatku semakin menahan tangis.

“Baiklah kamu makan, ya. Nenek tinggal dulu. Temani Kakekmu di bawah,”

“Iya, Nek. Makasih.”

Tinggal aku dan Kak Beni yang masih mematung mena- tapku. Jantungku menjadi tak menentu melihat tatapan mata- nya. Kak Beni pun mendekatiku perlahan membawakan makan malamku.

“Nih dimakan! Kakak gak mau kamu sampai sakit dan melihat tindakanmu seperti hari ini lagi.”

“Maaf, bukannya aku tidak mau pamit tapi….,” kataku pun tak dapat kulanjutkan lagi.

“Asal kamu tahu, Kakak mencari kamu di kota yang baru kamu datangi ini.”

Aku memang baru menyadari bahwa aku orang asing di tempat ini. Sekian lama aku di panti asuhan dan kembali lagi ke kota ini. Sebagian ingatanku pun pudar. Hanya kepergian

ayah dan ibuku saja yang kuingat. Air mata yang dari tadi telah membendung di pelupuk mata tertumpah sudah di kedua tela- pak tanganku sendiri. Ketakutan dan kekecewaan yang mem- buat dadaku terisak-isak.

Belaian tangan Kak Beni terasa membuatku semakin ter- isak.

“Sudahlah, tapi tidak perlu seperti ini dong, Dik! Pasti ada sesuatu. Coba cerita pada kakakmu ini.”

Kuceritakan dengan isakan akan kenangan yang teringat ketika aku melihat induk burung yang memberi makan anak- anaknya di dahan pohon tadi sore.

“Kakak tahu. Sulit melihat orang tua kita pergi secara tiba- tiba. Apalagi itu demi menyelamatkan kita. Tegarlah adikku sayang!” Nasihat Kak Beni langsung memelukku yang menenang- kan tangisku.

“Lalu kenapa sampai kamu tersesat, Dik?”

“Gara-gara anak itu lari kayak kuda lumping. Aku ngejar sampai tak lihat kanan kiri jalan pulang. Mana sempat kehi- langan jejak. Eh, tahunya Kak, setelah ketemu di depan rumah- nya, dia itu dimarahi bapaknya. Entah kenapa, tapi sepertinya karena memecahkan barang. Mana setelah keluar rumah raut wajahnya marah melihat aku dan mangkelnya lagi ada anak muda yang ikut-ikutan membelanya. Kan dia ngajak adu mulut tu, eh bapaknya keluar bawa sandal. Ya udah kita yang kumpul di depan rumah pergi,” curhatku panjang yang didengar dengan sesakma oleh kakakku

“Ya udah, sekarang makan dulu ya!”

“Makasih ya, Kak. Kakak tu selalu ada kalau aku butuh- kan.”

Kecupan Kak Beni di keningku pun menutup curhatanku padanya pada malam itu. Aku yang merasa gerah tidak lang- sung makan namun mandi dulu untuk menyegarkan pikiran dari kesuntukan senja itu.

Selesai mandi aku menuju piring makan. Terdapat lipatan kertas kecil. Kubuka perlahan penuh tanya, berharap itu dari

seorang pangeran yang mengajak sekedar menawarkan mene- mani makan malamnya.

Dear: Senthir

Membaca tertujunya pesan dalam lipatan kertas itu mem- buyarkan anganku untuk membayangkan kebersamaanku bersama seorang pangeran.

Tepat pukul 11 pm temui aku di bawah pohon beringin depan kamarmu.

From: Black heart

Blackheart? Oh, dia. Tapi aku kan sudah janji tidak keluar rumah tanpa izin. Apalagi jam 11? Dipikir gak sih kalau buat janji,” pikirku dalam hati yang menjadi bimbang. Doa mohon petunjuk untuk mengambil keputusan terbaiklah yang kulaku- kan setelah merenungkan sebuah pilihan yang masih bimbang, “Tuhan, semoga malam ini induk burung itu mau memaafkan anak yang mengambil sarangnya tadi. Berkatilah Kakek – Ne- nekku dan Ayah tiriku. Kepada kakakku, Engkau Maha Tahu. Bantulah aku untuk mengubur rasa ini ya, Bapa. Maafkan se- gala kesalahanku. Amin.”

“Teng….teng….teng…,” suara jam dinding yang berdenting 11 kali menandakan pukul 11 telah menyapa. Dalam kamar aku masih bimbang, “namun tidak salah dicoba sekali, ah ke- sempatan itu kan gak datang ketiga kali,” pikirku pendek.

Dengan menyelinap lewat jendela seperti senja tadi, sam- pailah aku di bawah pohon. Namun, tidak kutemukan seorang pun. Hanyalah secarik kertas yang bertuliskan,

Laju terus ke barat dan masuk ke dalam gang bersemak tanpa berisik dan takut-takut.

Langkahku tertuntun oleh rasa penasaran yang mendalam. Ketakutan berkecamuk dalam batinku saat itu. Terdengar derap langkah yang cepat mengikutiku di belakang. Langkahku sema- kin cepat namun kakiku dijegalnya dari belakang. Mulutku di- bungkam dengan tisu.

“Tuhan, tolonglah aku!” Pintaku dalam hati yang kuingat sesaat sebelum pingsan.

“Hai,, bangun…! Bangun …!”

“Eh , di man a in i?” Jawa bku sete lah sada r ya ng memandangi sekeliling. Tahukah kalian yang kudapat?

Saat itu aku telah duduk di seberang danau yang penuh dengan semak. Bulan sabit menghiasi langit malam. Banyak bin- tang bertebaran di langit menemaninya serta semarak cahaya yang terapung di danau. Cahaya yang merebak dari pancaran lilin-lilin kecil yang terapung bergerak mengikuti arus malam itu. Sungguh membuatku lupa bagaimana aku bisa sampai di tempat itu.

“Kamu senang?”

“He-em, eh tapi…,” jawabku mencari asal suara itu. “Jangan sedih lagi ya!”

Tanpa kata, kutatap sosok yang bersua padaku saat itu. Senyum bibirnya yang menghiasi pipinya membuatku semakin bertanya-tanya, “Mengapa dia, Tuhan? Yang Kau kirim untuk menemaniku menghabiskan malam ini?”

“Hai…?”

“Maksud dari semua ini apa? Gak ada cara yang lebih lem- but lagi?”

“Ikut aku sekarang!” Ajaknya menuntunku dengan gan- dengan tangan.

Meja bundar yang bertaplak merah muda, taburan mawar putih di atas meja itu dan kue tart di atasnya terlihat olehku. “Selamat ulang tahun…selamat ulang tahun……selamat hari ulang tahun…..selamat ulang tahun, Dyan, selamat ulang tahun…,” sepotong nyanyian semakin membuatku terbelalak dan tak percaya apa yang sedang kualami.

“Aku sayang kamu,” bisiknya menyentuh sanubariku dan seketika membekukan jemariku yang selain kedinginan juga kaget tak berdaya oleh pengakuannya.

“Tapi kita tidak mungkin bisa…”

“Selamat ulang tahun…selamat ulang tahun……selamat hari ulang tahun…..selamat ulang tahun, Dyan. Selamat ulang tahun…,” nyanyian yang terdengar seperti koor itu semakin jelas menghampiriku.

“Kakek, Nenek, Ayah?”

Hanya senyum yang mereka lempar.

“Apa perlu disaksikan mereka dulu baru mau jawab?” “Kita saudara, Kak?”

“Lihat ayah dan jawablah!”

Tanpa berpikir pendek aku pun tersenyum menjawab. Dalam batin aku berdoa, “Oh, Tuhan kau jawab doaku. Benar indah pada waktunya. Terima kasih.”

Malam yang takkan pernah terlupa. Disaksikan lilin-lilin kecil yang terang. Bintang bertaburan dan semak yang bergo- yang. Itulah malam terindah yang kudapat beserta kado spesial dalam hidupku.

S

ebuah gubuk tua di pinggir sungai. Pepohonan menyelimuti gubuk itu. Merdunya kicau burung kecil di pagi hari, mem- buat suasana lebih indah.

“Srek ... srek ... srek...,” bunyi orang menyapu di depan gubuk itu. Ibu Romlah setiap harinya membersihkan gubuk tua. Ibu Romlah setelah membersihkan gubuk itu segera bersiap-siap bekerja mencuci pakaian dari tetangga satu ke tetangga yang lain. Sedangkan sang suami, yaitu Pak Darmo sejak pagi sudah berkeliling menjual bubur ayam dari desa ke desa. Dari hasil mereka bersusah payah, Alhamdulillah cukup untuk menghidupi keluarga. Pasangan Pak Darmo dan Bu Romlah dikaruniai se- orang anak, Andi, yang taat beribadah dan patuh kepada ketua orang tuanya.

Matahari mulai malu menampakkan wajahnya dan kemu- dian senyumnya mulai hilang. Ibu Romlah kembali pulang dari tempat bekerja dengan upah dua puluh ribu setiap rumah se- hingga mampu menyekolahkan anaknya sampai tingkat SMA. “Gruduk .... gruduk .... gruduk....” Terlihat dari kejauhan Pak Darmo mendorong gerobaknya, pulang dari menjual bubur ayam. Dengan memakai pakaian seadanya dan tak lupa handuk kecil di bahunya untuk membersihkan keringat dari badannya.

“Assalamu’alaikum...,” sapa Pak Darmo. “Wa’alaikum salam. Sudah pulang, Pak?”

Dalam dokumen PIANO DALAM PASIR Antologi Cerpen Bengke (Halaman 49-58)