Bagaikan disambar petir di pagi bolong. Nisa terkejut dan kaget mendengar perkataan Atik. Nisa hanya terbengong-be- ngong melihat tingkah Atik yang lain dari biasanya. Antara per- caya dan nggak percaya dia heran dengan kelakuan sahabatnya yang cenderung mendadak cuek dan sadis. Dia langsung pergi meninggalkan Atik. Sesaat kemudian Vira datang dan langsung menghampiri Nisa. Dia juga heran melihat Nisa yang nggak ceria seperti biasanya. Dia terlihat diam dan merenung sendiri.
Vira mencoba menghibur Nisa, “Kamu kenapa, Nisa? Kok kayaknya sedih?” Tanya Vira penasaran.
“Aku lagi punya sedikit masalah nih! Dan, aku pengin cur- hat sama kamu,” jawab Nisa pelan.
“Emang apa sih masalahmu?” Tanya Vira.
“Ya, gini lho. Tadi aku menyapa Atik tapi kayaknya dia sinis banget sama aku. Dari kemarin juga,” kata Nisa memulai pem- bicaraan.
Vira memperhatikan perkataan sahabatnya. Dia berbisik lirih, “Ya, udah nggak usah terlalu dipikirin. Biar aja nanti juga bosen sendiri,” kata Vira menasihati.
Nisa berusaha tersenyum. Dia tak mau mengecewakan sahabatnya, “Makasih, Ra,” katanya pelan.
Tapi, dalam keadaan itu Atik justru semakin menunjukkan kekesalannya. Tiba-tiba ia menangis dan teman-temannya sudah banyak yang berkerumun di situ. Dia melirik Nisa dengan sadis. Waktu itu Nisa hanya bingung dan saling berpandangan dengan Vira.
Ketika itu teman-temannya saling bertanya kenapa Atik menangis, “Tik, kenapa kamu menangis?” Tanya salah satu temannya.
Tak ada sahutan dari Atik. Dia hanya diam.
Nisa berbisik kepada Vira, “Ra, kamu tahu nggak, kenapa Atik menangis?” Tanya Nisa ingin tahu.
“Aku juga nggak tahu kenapa dia menangis. Mungkin ada masalah sama pacarnya. Biasanya kan begitu. Ah, nggak usah dipikirin deh, Nis.”
Nisa mencerna kata-kata sahabatnya. Vira berusaha me- nenangkan sahabatnya. Dia tak mau kalau Nisa terlarut-larut dalam kesedihan yang belum pasti dan dia nggak mau kalau Nisa terus-menerus mikirin orang lain dan nggak peduli dengan dirinya sendiri.
Dalam keadaan itu, tiba-tiba Atik lari sambil menangis dan meninggalkan teman-temannya. Jam tanda masuk pun dibunyi- kan. Mereka kembali masuk kelas diikuti Pak Guru.
Beberapa saat kemudian tibalah jam pulang sekolah. Nisa lalu pulang bersama teman-temannya. Tiba-tiba Atik muncul dari gerbang dan melengos begitu saja.
Yani mencoba menegurnya, “Atik, kamu kenapa sih? Kok tampaknya lagi marah?”
Tapi, tak ada jawaban dari Atik.
Yani berkomentar lagi, “Tuh, kan. Aku ikut didiemi. Pada- hal aku nggak tahu apa-apa,” sambung Yani.
“Udahlah, Yan. Nggak usah dipikirin. Kamu itu nggak salah apa-apa. Biar saja dia begitu,” kata Nisa menasihati.
Tiba-tiba dari arah gerbang muncul Fandy dan dia berlari sambil memanggil Atik. Nisa yang dari tadi diam dan bengong nggak menyangka Fandy segitunya sama dia, sampai berlari mengejar Atik. Padahal Fandy pacar Nisa. Nisa tidak pernah diperlakukan begitu istimewa layaknya Atik. Teman-teman yang melihat hanya geleng kepala. Mereka heran pada kelakuan Fandy. Ada pula yang menenangkan Nisa yang perasaannya hancur berkeping-keping. Dia melihat sendiri bagaimana cowoknya memperlakukan Atik.
“Tik, tunggu...!” Teriak Fandy sambil mengejar Atik, “Kamu kenapa sih?” Tanya Fandy penasaran.
“Udah deh. Nggak usah sok baik. Nanti Nisa cemburu!” Ben- tak Atik melepaskan tangan Fandy.
Nisa yang dari tadi melihat hanya bisa meneteskan air mata. Dia tidak menyangka kalau Fandy segitu perhatiannya pada Atik. Dan, yang lebih menyakitkan ketika Atik melepaskan tangan Fandy sambil ngomong sadis dengan melirik Nisa.
“Nis, kamu yang sabar ya. mungkin ini ujian buat kamu,” kata Viona yang juga heran dengan kelakuan Fandy, “Iya, Nis. Dia itu memang keterlaluan,” kata Viona menambahkan.
Setelah itu mereka pulang dan meninggalkan Atik dan Fandy. Nisa tak kuasa menahan air mata. Tetapi, ia sebisa mungkin menyembunyikan air matanya. Ia nggak mau kalau teman- temannya tahu dia sedang sedih. Sampai di rumahnya dia hanya diam dan menangis. Kebetulan di di rumah sendirian. Akhirnya dia terus-terusan di kamar dan memikirkan kenapa Fandy ber- buat begitu serta kesalahannya pada Atik sampai dia begitu sadisnya.
Waktu pun berjalan. Tibalah hari Rabu. Seperti biasa Nisa masuk sekolah. Tapi, Atik sama sekali nggak menyapa Nisa. Dan, menurut teman-teman, Atik marah pada Nisa tapi Nisa nggak tahu apa-apa soal itu. Dan, Nisa nggak mau berlama-lama marah pada Atik. Nanti siang pulang sekolah Nisa berusaha mengajak ngobrol Atik.
Selama di sekolah dia Cuma diam dan nggak mau ter- senyum. Padahal biasanya dia ceria.
Vira yang dari tadi memperhatikan sahabatnya, berusaha menegurnya, “Nis, kamu kenapa kok diem aja?”
“Nggak apa-apa,” jawab Nisa singkat.
“Kayaknya kamu sedang mikirin yang kemarin ya?” Vira ingin tahu.
“Aku nggak nyangka, Ra. Dia segitunya sama Atik. Aku juga nggak pernah digituin,” kata Nisa lirih, “Tapi, apa ya, kira- kira salahku sama Atik. Sampai dia begitu sadis dan tampaknya dosaku begitu besar sama dia,” lanjut Nisa.
“Aku juga nggak tahu. Kamu coba ngomong saja sama dia,” kata Vira memberi ide.
“Ha?! Apa dia mau ngomong sama aku?” Kata Nisa kaget. “Ya, coba dulu. Siapa tahu berhasil,” sahut Vira meyakin- kan Nisa.
Sepulang sekolah Nisa berusaha menemui Atik. Seperti apa yang dia rencanakan, dia berusaha ngomong baik-baik.
Mereka lalu ngobrol dari hati ke hati karena mereka sahabatan sudah cukup akrab dan akan segera mengakhiri perselisihan itu. Nisa meminta kepada Atik untuk menjelaskan semuanya karena dia tidak tahu sama sekali apa yang membuat Atik men- diamkan dan marah kepadanya. Ternyata dari keterangan Atik, dia mengaku kalau memang lagi kesel pada Nisa.
Nisa justru bingung. Atik mengira kalau Nisa menuduh Atik mau merebut Fandy dari Nisa. Karena sama sekali tidak ber- maksud menuduh atau membantah, Nisa tetap menyangkal.
“Tapi, Tik, aku nggak punya maksud sama sekali nyindir atau menuduh nuduh kamu. Aku, Viona, dan teman yang lain cuma sedang curhat karena kahir-akhir ini Dika ke Viona agak lain. Aku sama sekali nggak ngomongin kamu. Jadi, mungkin kamu cuma salah paham,” kata Nisa dengan sabar.
“Ooh jadi begitu, to? Kirain kamu cemburu karena aku mau merebut Fandy dari kamu,” kata Atik setelah paham.
Setelah itu Nisa langsung minta maaf atas semua kesa- lahannya. Mereka belajar dari kesalahan. Selain itu, Nisa curhat tentang perasaannya kepada Febri, sahabatnya tapi sekaligus saudaranya. Febri selalu bisa mengerti keluh kesah Nisa dan dia selalu menyemangati dan menghibur Nisa. Dia nggak suka melihat temannya sedih.
Waktu pun berlalu. Pagi pun datang dengan sinar matahari yang bersinar terang. Kicauan burung mulai terdengar. Sampai di sekolah Nisa menyapa Atik. Atik membalas dengan senyum- an. Mereka mengobrol di hall tentang masalah kemarin. Ternya- ta hanya salah paham.
Hari-hari telah mereka jalani. Akhirnya mereka berteman kembali. Tapi, semua itu tidak membuat Nisa bahagia. Karena, dia mengalami hal yang tidak diinginkan. Ternyata Fandy bukan seperti Fandy yang dulu. Dia seakan sibuk dengan dirinya sen- diri dan tidak perhatian sama sekali pada Nisa. Padahal, saat itu Nisa membutuhkan seseorang untuk menemaninya. Tapi, ternyata Fandy nggak merespons. Justru yang lebih perhatian teman cowok yang lain.
Waktu itu Nisa melihat sendiri. Fandy duduk berdua dengan Atik. Dan, yang lebih menyakitkan lagi ketika sedang sendiri, Fandy nggak merespons. Tapi, begitu Nisa pindah di dekat Vira, tiba-tiba Fandy duduk mendekati Atik.
“Tik, kamu geser dikit dong,” kata Fandy.
Atik pun langsung menggeser duduknya. Ketika itu Nisa melirik ke belakang dan ngomong sendiri, “Ya Allah, sabarkan- lah hatiku,” kata Nisa meneteskan air mata.
“Ada apa, Nis? Kok kayaknya kamu sedih lagi?” Tanya Vira ingin tahu.
“Coba kamu lihat ke belakang.”
Vira langsung menengok ke belakang. Kebetulan Atik me- lihat Nisa.
“Ya udah, kamu yang sabar ya. Sabar.... Sabar...,” kata Vira menasihati.
Tiba-tiba Atik mendekati Nisa, “Nisa, kamu kenapa?” Tanya Atik.
“Nggak apa-apa,” jawab Nisa singkat.
Setelah itu Atik langsung pindah ke tempat duduk men- jauhi Fandy. Karena, mungkin dia sudah merasa.
Hari-hari pun berlalu. Nisa masih ngediemin Fandy. Bukan karena Nisa benci atau apa pun. Nisa hanya ingin tahu, bagai- mana perasaan Fandy kalau dia cuek. Saat itu fandy nggak nga- sih respons apa apa dan dia jarang ngomong sama Nisa. Sampai- sampai teman-teman yang lain pun heran dengan kelakuan Fandy.
Tapi, pagi-pagi Vira membawa kabar dari Yani lewat SMS. Vira dikasih tahu Yani, kalau Fandy SMS curhat semuanya dan minta solusi dari Yani.
“Ra, ini lho SMS-nya dari Fandy,” kata Yani. “Emang apa sih?” Tanya Vira penasaran.
“Eh, Yan, kok Fandy bisa SMS kamu? Biasanya kan dia cur- hat ke Atik?” Nisa semakin penasaran.
“Ya udah, nih. Kamu baca sendiri aja SMS-nya,” kata Vira. Nisa pun langsung membacanya. Betapa terkejutnya
setelah dia membaca. Karena, intinya Fandy masih sayang sama dia. Tapi, Fandy sadar kesalahannya begitu besar dan sudah me- ngecewakan Nisa. Tapi, Fandy belum mau jujur karena dia takut kalau Nisa nggak bisa memaafkannya.
Setelah itu Fandy datang. Nisa langsung pergi karena dia nggak mau ketemu dulu. Dan, itu hari terakhir masuk sekolah. Karena, dua minggu kemudian liburan semester. Teman-teman mulai membujuk Fandy agar segera ngomong sama Nisa sebe- lum terlambat.
Akhirnya mereka ngobrol berdua. Teman-teman ikut ba- hagia melihatnya. Beberapa saat kemudian, “Fan, kamu itu sebe- narnya masih sayang nggak sih, sama aku?” Itu kalimat pertama yang keluar dari bibir Nisa.
“Aku tuh masih sayang sama kamu,” kata Fandy menim- pali.
“Kalau kamu masih sayang, kenapa kamu ngediemin aku? Kamu gantung cintaku dan selalu memeberi harapan semu?” Tanya Nisa mengutarakan perasaannya.
“Aku nggak bermaksud begitu. Aku hanya takut kamu nggak bisa maafin aku,” Fandy menjelaskan.
“Apakah kesalahan itu selamanya nggak bisa dimaafin? Allah saja Maha Pengampun terhadap umat-Nya. Seharusnya kita manusia lebih berlapang dada untuk memaafkan orang lain,” kata Nisa dengan sabar.
“Nis, aku minta maaf kalau selama ini aku udah ngecewain kamu,” kata Fandy pelan.
“Ya, aku maafin. Tapi, aku hanya minta satu hal. Aku pengin kamu kayak dulu lagi dan tidak ada diam tanpa kata kalau ada masalah. Aku juga minta maaf kalau selama ini belum bisa menjadi seperti yang kamu harapkan,” kata Nisa.
“Aku janji akan memenuhi apa yang kamu inginkan,” kata Fandy lega.
Nisa telah mengungkapkan semua keluh kesah di hatinya. Dia sadar bahwa cinta itu membutuhkan pengertan agar bisa melengkapi satu sama lain. Dalam hati dia berdoa agar Fandy
kayak dulu dan menyayanginya dengan setulus hati dan bisa lebih dewasa dalam menghadapi masalah dan yang paling pen- ting lebih perhatian lagi.
A
da jarak yang amat jauh antara aku dan adikku Rista. Sejak lahir sampai sekarang belum pernah ku menyebut- nya adik. Terlalu banyak lasan yang membuatku membencinya. Sati hal yang teramat penting, Rista menggeser kedudukanku sebagai anak bungsu.Waktu Rista lahir aku kabur ke rumah nenek. Aku sangat membenci Ristakarena Rista merebut apa yang kumiliki. Aku tak bisa lagi bermanja-mnja sama mama dan papa. Perhatian mereka berkurang kepadaku.
Tapi dua hari belakangan ini, tepatnya sejak aku mencakar mukanya, tiba-tiba saja ku mulai sayang sama Rista. Waktu itu aku memang terlalu emosi. Rista mengambil boneka beruang kesayanganku dan membawa ke kamarnya, tentu saja aku marah. Aku mencakar mukanya ketika ia berusaha memper- tahankan boneka itu.
Mungkin aku takkan sejahat itu jika Rista tidak mengambil boneka kesayanganku. Apalagi boneka itu pemeberian Agus cowokku. Aku benar-benar menyesal telah memperlakukan Rista sekejam itu, aku memang egois. Papa dan mama menya- lahkanku, karena semenjak aku mencakrnya, Rista mendadak demam.