• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIKUM ENZIM Ii Diajukan Untu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN PRAKTIKUM ENZIM Ii Diajukan Untu"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM, BIOKIMIA

ENZIM

Idris Affandi 2031411024

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN, PERIKANAN DAN BIOLOGI UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

Nama : Idris Affandi

NIM : 2031411024

Judul Praktikum : Enzim

Tanggal Praktikum : 13 November 2015

Dosen Praktikum

(3)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Enzim adalah sekelompok protein yang berperan sebagai pengkatalis dalam reaksi-reaksi biologis. Enzim atau biokatalisator adalah katalisator organik yang dihasilkan oleh sel yang berfungsi meningkatkan laju reaksi dalam jaringan tersebut. Suatu enzim dapat bekerja 108 sampai 10 11kali lebih cepat dibandingkan laju reaksi tanpa katalis. Enzim bekerja dengan menurunkan energi aktifasi sehingga laju reaksi meningkat. Suatu enzim bekerja secara khas terhadap suatu substrat tertentu. Oleh karena itu, enzim merupakan elemen penting dalam tubuh yang sangat banyak membantu dalam reaksi enzimatik seperti dalam proses sintesis dan reparasi DNA, pembentukan energi, dan sintesis protein (Poedjiadi 2006).

Enzim akan mampu mengkatalis suatu reaksi biologis bila berada dalam kondisi nyamannya. Banyak faktor yang mempengaruhi kerja enzim seperti suhu, keasaman (pH), konsentrasi enzim dan substrat, penyinaran, inhibitor, serta aktivator. Faktor-faktor tersebutlah yang menyebabkan terkadang enzim mampu mempercepat reaksi atau bahkan menghambat reaksi yang berlangsung (Iman 2005). Adanya enzim juga sangat spesifik baik tempat sintesis maupun reaksi yang dapat dikatalisisnya. Secara umum enzim digolongkan menjadi enam kelompok sesuai dengan jenis reaksi yang dikatalisisnya yaitu

oksidoreduktase, transferase,hidrolase ,liase, isomerase dan ligase.

Salah satu enzim yang bereperan penting dalam tubuh adalah enzim amilase. Enzim amilase berfungsi dalam proses pencernaan makanan khususnya ketika berada di dalam mulut. Enzim amilase berfungsi untuk memecah molekul karbohidat menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga memudahkan untuk proses pencernaan berikutnya. Enzim amilase dapat bekerja maksimal pada suhu, pH, serta konsentrasi yang optimum (Iman 2005). Mengetahui suhu, pH, serta konsentrasi optimum menjadi hal penting dalam mempelajari enzim karena terkait dengan kemampuannya dalam mempercepat reaksi dalam tubuh. Cepat lambatnya reaksi dalam tubuh berpengaruh besar dalam penyerapan zat gizi. Selain itu reaksi enzimatik juga berdampak terhadap kesehatan. Abnormalitas sintesis enzim dapat menimbulkan berbagai penyakit. Oleh karena itu, mempertahankan optimalitas kerja enzim sangat penting bagi tubuh.

Tujuan

(4)

TINJAUAN PUSTAKA

Enzim merupakan suatu kelompok protein yang berperan penting di dalam aktivitas biologic. Enzim berfungsi sebagai katalisator Di dalam sel dan sifatnya sangat khas. Di dalam jumlah sangat kecil, enzim dapat mengatur reaksi tertentu sehingga di dalam keadaan normal tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan hasil akhir reaksinya.di dalam sel terdapat banyak jenis enzim yang berlainan kekhasannya, sehingga suatu enzim hanya mampu menjadi katalisator untuk reaksi tertentu saja. Ada enzim yang dapat mengkatalisa suatu kelompok substrat, ada pula yang hanya satu kelompok substrat saja, dan ada pula ynag bersifat stereospesifik. Karena enzim mengkataliser reaksi-reaksi di dalam system biologis, maka enzim juga disebut sebagai biokatalisator (Kartasapoetra 1994).

Enzim dalam aktifitasnya bekerja secara spesifik terhadap substrat yang akan dikatalisisnya dengan begitu kita akan dapat mengetahui berapa besar aktivitas yang dilakukan. Seperti contoh adalah enzim yang bekerja untuk mendegrasi amilum adalah amilase. Enzim ini banyak terdapat pada saliva, sehingga makanan yang dikunyah lama akan terasa manis karena senyawa polisakarid akan terurai menjadi monosakarida

(Kartasapoetra 1994) Suatu enzim bekerja secara khas terhadap suatu substrat tertentu.

Kekhasan inilah cirri suatu enzim. Ini sangat berbeda dengan katalis lain (bukan enzim) yang dapat bekerja terhadap berbagai macam reaksi. Fungsi suatu enzim adalah sebagai katalis untuk proses biokimia yang terjadi didalam sel maupun diluar sel. Suatu enzim dapat mempercepat reaksi 108 sampai 1011 kali lebih cepat dari pada apabila reaksi tersebut dilakukan tanpa katalis. Jadi enzim dapat berfungsi sebagai katlis yang sangat efisien, disamping itu mempunyai derajar kekhasan yang tinggi. Seperti juga katalis lainnya, maka enzim dapat menurunkan energy aktivitas suatu reaksi kimia. Reaksi kimia ada yang membutuhkan energy (energi endorgani) dan ada pula yang menghasilkan energy atau mengeluarkan energy (eksorgonik) ( Poedjadi 2006)

(5)

Inhibitor adalah molekul yang menurunkan ativasi enzim, sedangkan activator adalah yang meningkatkan aktifitas enzim. Banya obat dan racun adalah inhibitor enzim. (Soewoto 2000)

Enzim berasal dari kata in + zyme yang berarti sesuatu didalam ragi.Berdasarkan penelitian maka dapat disimpulkan bahwa enzim adalah suatu protein yang berupa molekul – molekul besar, yang berat molekulnya adalah ribuan. Sebagai contoh adalah enzim katalase berat molekulnya 248.000 sedang enzim urese beratnya adalah 438.000.Pada enzim terdapat bagian protein yang tidak tahan panas yaitu disebut dengan apoenzim, sedangkan bagian yang bukan protein adalah bagian yang aktif dan diberi nama gugus prostetik, biasanya berupa logam seperti besi, tembaga , seng atau suatu bahan senyawa organic yang mengandung logam.Apoenzim dan gugus prostetik merupakan suatu kesatuanyang disebut holoenzim, tetapi ada juga bagian enzim yang apoenzim dan gugus prospetiknya tidak menyatu. Contoh koenzim adalah vitamin atau bagian vitamin (misalnya : vitamin B1, B2, B6, niasin dan biotin) (Kartasapoetra, 1994).

Produksi enzim amilase dapat menggunakan berbagai sumber karbon. Contoh-contoh sumber karbon yang murah adalah sekam, molase, tepung jagung, jagung, limbah tapioka dan sebagainya. Jika digunakan limbah sebagai substrat, maka limbah tadi dapat diperkaya nutrisinya untuk mengoptimalkan produksi enzim. Sumber karbon yang dapat digunakan sebagai suplemen antara laian: pati, sukrosa, laktosa, maltosa, dekstyrosa, fruktosa, dan glukosa. Sumber nitrogen sebagai suplemen antara lain: pepton, tripton, ekstrak daging, ekstrak khamir, amonium sulfat, tepung kedelai, urea dan natrium nitrat. ( Pujiyanti 2007 ).

(6)

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 13 November 2015 bertempat di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi Universitas Bangka Belitung.

Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah tabung reaksi, penjepit tabung reaksi, rak tabung reaksi, pipet ukur, gelas ukur, dan alat pemanas. Bahan yang digunakan adalah aquades, HCl 0,4%, Na2CO3, amilum, saliva, yodium dan benedict.

Cara Kerja

Pengaruh suhu terhadap aktifitas enzim

Disediakan 5 tabung reaksi bersih dan kering. Masing masing diisi dengan 2 ml larutan amilum dan ditambahkan 1 ml enzim amilase pada tiap tiap tabung. Pada Tabung 1 masukkan kedalam ruangan bersuhu dingin ,Tabung 2 di simpan pada suhu kamar, Tabung 3 masukkan kedalam penangas air dengan suhu 37-40o c, Tabung 4 dimasukkan dalam penangas air dengan suhu 75-80o c Tabung 5 dimasukkan dalam penangas air mendidih. Biarkan masing masing pada tempatnya selama 15 menit Selanjutnya uji dengan larutan iodium Uji pula dengan pereaksi benedict di catat dan amati perubahan warna yang terjadi Pengaruh pH terhadap aktivitas enzim

(7)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada percobaan ini, hal yang ingin diketahui yakni pengaruh suhu terhadap aktivitas enzim. Adapun hasil yang dipoeroleh yakni larutan amilum pada perlakuan es, suhu kamar, 37-40oc, dan 75-80oc tidak mengalami perubahan warna setelah ditambahkan larutan iodium dan tetap bewarna biru tanpa disertai endapan setelah ditambahkan pereaksi benedict. Pada perlakuan air mendidih setelah ditambahkan larutan iodium bewarna berubah warna menjadi hijau biru/ ungu pekaat dan setelah ditambahkan pereaksi benedict ditambahkan pereaksi benedict terbentuk endapan.

(8)

antara teori dengan hasil percobaan. Terjadinya ketidaksesuaian diduga disebabkan karena bahan yang tersedia sudah tidak layak pakai atau mungkin enzim amilase yang merupakan saliva kurang berkualitas.

Pada uji kedua yakni pengaruh pH terhadap aktivitas enzim didapatkan hasil dengan perlakuan HCl pekat, setelah ditambahkan larutan iodium berubah warna menjadi biru dan ditambahakan pereaksi benedict watnanya agak biru tanpa disertai netral. Pada perlakuan aquades dan Na2 Co3 pada saat pereaksi maka warnanya agak biru.

(9)

KESIMPULAN

(10)

DAFTAR PUSTAKA

Kartasapoetra AG. 1994. Teknologi Penanganan Pasca Panen. Jakarta. Rineka

Cipta.

Poedjiadi A. 2006. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta. Universitas Indonesia Press.

Pujiyanti S. 2007. Menjelajah Dunia Biologi . Jakarta. Platinum.

Soewoto H. 2000. Biokimia Eksperimen Laboratorium.Jakarta. Widya Medika.

Wirahadikusumah m. 1989. Biokimia Protein, Enzim, dan Asam nukleat.

Referensi

Dokumen terkait

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh kondisi optimum produksi enzim mananase berupa konsentrasi substrat LBG optimum, pH media optimum, dan suhu

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah didapatkan suhu optimum, pH buffer optimum, serta pengaruh lama waktu penyimpanan terhadap aktivitas enzim xilanase

oligosporus UICC 550 untuk memproduksi enzim lipolitik; (2) karakter enzim yang telah dipurifikasi sebagian pada suhu dan pH optimum, serta kestabilan enzim pada

Penelitian bertujuan mengetahui kemampuan delapan isolat bakteri dari limbah kulit udang asal Palembang dalam memproduksi enzim kitinolitik, serta menentukan suhu dan pH

dengan enzim papain konsentrasi optimum pada suhu 55 o C, pH 7, waktu hidrolisis 1 jam memberikan hasil kandungan protein total tertinggi yaitu sebesar 22,09 % ±

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh kondisi optimum produksi enzim mananase berupa konsentrasi substrat LBG optimum, pH media optimum, dan suhu

Uji aktvitas enzim maltase pada isolat ventrikel dan usus halus ikan lele yang telah disimpan selama 7 hari pada suhu ruang memberikan hasil yaitu pada pengulangan ke-1, warna

Persentase penurunan kadar fenol dengan enzim peroksidase dari daun mangkokan pada konsentrasi fenol optimum 150 mg/L, pH optimum 7, dan suhu optimum 25 o C selama waktu kontak