• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Sulawesi Tenggara menyajikan kajian mengenai perkembangan ekonomi Sulawesi Tenggara yang meliputi perkembangan ekonomi makro, perkembangan inflasi daerah, perkembangan perbankan dan sistem pembayaran, informasi tentang keuangan daerah serta prospek perekonomian daerah Sulawesi Tenggara.

Kajian ini disusun secara triwulanan oleh Kantor Bank Indonesia Kendari baik dengan menggunakan data internal maupun data yang diperoleh dari instansi terkait di luar Bank Indonesia. Untuk itu, tanggung jawab penulisan laporan ini sepenuhnya berada pada Kantor Bank Indonesia Kendari.

Kami berharap kajian ini dapat terus ditingkatkan mutu, isi dan cara penyajiannya sehingga dapat bermanfaat bagi para pihak yang membutuhkannya. Untuk itu, saran dan masukan guna perbaikan dan penyempurnaan buku kajian ini sungguh akan kami hargai.

Akhirnya, kami menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang memungkinkan tersusunnya buku kajian ini dan kiranya kerja sama, saling tukar menukar informasi dan data dapat terus berkelanjutan.

Kendari, November 2008

BANK INDONESIA KENDARI

Lawang M. Siagian Pemimpin

(2)
(3)

iii

KANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR GRAFIK ... v

DAFTAR TABEL ... vii

RINGKASAN EKSEKUTIF ... 1

PERKEMBANGAN EKONOMI ... 1

INFLASI ... 2

PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN ... 3

KEUANGAN DAERAH ... 5

KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN ... 6

PROSPEK EKONOMI... 7

BAB I. ASESMEN MAKROEKONOMI ... 9

1. Kondisi Umum ... 9

2. PDRB Menurut Lapangan Usaha ... 10

3. PDRB Menurut Penggunaan ... 18

BOKS 1. Penemuan Tambang Emas Di Kabupaten Bombana Dan Kabupaten Kolaka ... 22

BAB II. ASESMEN INFLASI ... 25

1. Kondisi Umum ... 25

2. Perkembangan Inflasi di Provinsi Sulawesi Tenggara ... 25

3. Faktor-Faktor Penyumbang Inflasi ... 26

BAB III. ASESMEN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN ... 37

1. Kondisi Umum ... 37

2. Perkembangan Bank Umum ... 39

2.1. Perkembangan Aset ... 39

2.2. Perkembangan Dana Pihak Ketiga ... 40

2.3. Perkembangan Kredit ... 42

2.4. Perkembangan Kredit UMKM... 45

2.5. Perkembangan Kredit Lokasi Proyek ... 47

2.6. Perkembangan NPLs Bank Umum ... 48

2.7. Profitabilitas Usaha ... 49

(4)

iv

KANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARI

4.1. Perkembangan Aset ... 53

4.2. Perkembangan Penghimpunan DPK...54

4.3. Perkembangan Penyaluran Kredit ... 54

4.4. Perkembangan Loan to Deposit Ratio (LDR) ... 55

4.5. Perkembangan Non Performing Loans (NPLs) ... 55

BAB IV. KEUANGAN DAERAH ... 57

1. Realisasi Pendapatan ... 57

2. Realisasi Belanja ... 59

BAB V. PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN ... 63

1. Transaksi Pembayaran Tunai ... 64

2. Transaksi Pembayaran Non Tunai ... 66

BAB VI. KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN ... 69

1. Ketenagakerjaan Daerah ... 69

2. Kesejahteraan ... 72

BOKS 2. Peluncuran Program Bahtera Mas dan PNPM Mandiri Di Sulawesi Tenggara ... 76

BAB VII. PROSPEK EKONOMI DAN INFLASI DAERAH ... 77

1. Prospek Ekonomi Makro ... 77

2. Perkiraan Inflasi ... 78

3. Prospek Perbankan Dan Sistem Pembayaran ... 78

(5)

v

KANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARI Nama Grafik

Nama Grafik Nama Grafik

Nama Grafik ... Nomor HalamanNomor HalamanNomor Halaman Nomor Halaman

Grafik. Grafik. Grafik.

Grafik. 1.1. 1.1. 1.1. Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Tenggara ... 9 1.1. Grafik. 1.2.

Grafik. 1.2. Grafik. 1.2.

Grafik. 1.2. Kontribusi Setiap Sektor Terhadap Pembentukan PDRB ... 11 Grafik. 1.3

Grafik. 1.3 Grafik. 1.3

Grafik. 1.3. . . . Volume Produksi Biji Nikel ... 13 Grafik. 1.4

Grafik. 1.4 Grafik. 1.4

Grafik. 1.4. . . . Volume Produksi Ferro Nikel Dan Toll Feni ... 14 Grafik.

Grafik. Grafik.

Grafik. 1.1.1.51.555. . . . Arus Bongkar di Kota Kendari ... 15 Grafik.

Grafik. Grafik.

Grafik. 1.1.1.61.666.... Realisasi Pengadaan Semen di Sulawesi Tenggara ... 15 Grafik. 1.7

Grafik. 1.7 Grafik. 1.7

Grafik. 1.7. . . . Jumlah Penumpang Yang Naik Kapal Laut...16 Grafik.

Grafik. Grafik.

Grafik. 1.1.1.81.888.... NTB Perbankan Di Sulawesi Tenggara ... 17 Grafik.

Grafik. Grafik.

Grafik. 111....91999. . . . Realisasi Kredit Modal Kerja Dan Investasi ... 19 Grafik. 1.

Grafik. 1. Grafik. 1.

Grafik. 1.11110000.... Volume Ekspor Provinsi Sulawesi Tenggara ... 20 Grafik. 1.1

Grafik. 1.1 Grafik. 1.1

Grafik. 1.11111 Arus Bongkar Muat Di Pelabuhan Kendari ... 21 Grafik. 2.1.

Grafik. 2.1. Grafik. 2.1.

Grafik. 2.1. Perkembangan Inflasi Bulanan (m.t.m) Nasional & Kendari ... 26 Grafik. 2.2.

Grafik. 2.2. Grafik. 2.2.

Grafik. 2.2. Perkembangan Harga Beras Periode Juli -September 2008 ... 29 Grafik. 2.3.

Grafik. 2.3. Grafik. 2.3.

Grafik. 2.3. Inflasi Bulanan Sub Kelompok Makanan Jadi... 30 Grafik. 2.4.

Grafik. 2.4. Grafik. 2.4.

Grafik. 2.4. Inflasi Bulanan Sub Kelompok Minuman ... 30 Grafik. 2.5.

Grafik. 2.5. Grafik. 2.5.

Grafik. 2.5. Sumbangan Per Komoditi Thd Inflasi Bulanan Kelompok Pendidikan ... 32 Grafik. 2.6.

Grafik. 2.6. Grafik. 2.6.

Grafik. 2.6. Inflasi Bulanan Kelompok Kesehatan ... 34 Grafik. 2.7.

Grafik. 2.7. Grafik. 2.7.

Grafik. 2.7. Inflasi Bulanan Kelompok Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan ... 34 Gr

Gr Gr

Grafik. 3.1. afik. 3.1. afik. 3.1. Perkembangan Pangsa Aset Bank Umum Berdasarkan Kelompok Bank ... 40 afik. 3.1. Grafik. 3.2.

Grafik. 3.2. Grafik. 3.2.

Grafik. 3.2. Pangsa DPK Bank Umum Berdasarkan Jenis Simpanan Triwulan III-2008 ... 41 Grafik. 3.3.

Grafik. 3.3. Grafik. 3.3.

Grafik. 3.3. Pangsa DPK Bank Umum Berdasarkan Golongan Pemilik ... 42 Grafik. 3.4.

Grafik. 3.4. Grafik. 3.4.

Grafik. 3.4. Pangsa Aktiva Produktif ... 42 Grafik. 3.5.

Grafik. 3.5. Grafik. 3.5.

Grafik. 3.5. Pertumbuhan Kredit (q-t-q) Berdasarkan Penggunaan ... 43 Grafik. 3.6.

Grafik. 3.6. Grafik. 3.6.

Grafik. 3.6. Pangsa Penyaluran Kredit Berdasarkan Penggunaan ... 43 Grafik. 3.7.

Grafik. 3.7. Grafik. 3.7.

Grafik. 3.7. Pertumbuhan Kredit (y-t-d) Berdasarkan Kelompok Bank ... 44 Grafik. 3.

Grafik. 3. Grafik. 3.

Grafik. 3.8888. . . . Pangsa Penyaluran Kredit Berdasarkan sektor Ekonomi ... 44 Grafik. 3.9

Grafik. 3.9 Grafik. 3.9

Grafik. 3.9. . . . Persetujuan dan Realisasi Kredit Baru ... 45 Grafik. 3.1

Grafik. 3.1 Grafik. 3.1

Grafik. 3.10000. . . Pangsa Kredit UMKM Berdasarkan Sektor Ekonomi... 47 . Grafik. 3.1

Grafik. 3.1 Grafik. 3.1

Grafik. 3.11111. . . Pangsa Kredit Penggunaan ... 52 . Grafik. 3.1

Grafik. 3.1 Grafik. 3.1

Grafik. 3.12222. . . Pangsa Kredit BPR Berdasarkan Sektor Ekonomi ... 52 . Grafik. 4.1.

Grafik. 4.1. Grafik. 4.1.

(6)

vi

KANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARI Grafik.

Grafik. Grafik.

(7)

vii

KANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARI Tabel. 1.1.

Tabel. 1.1. Tabel. 1.1.

Tabel. 1.1. Pertumbuhan Tiap Sektor ... 10 Tabel. 1.2.

Tabel. 1.2. Tabel. 1.2.

Tabel. 1.2. Kontribusi Tiap Sektor Thd Pertumbuhan PDRB Lapangan Usaha ... 10 Tabel. 1.3.

Tabel. 1.3. Tabel. 1.3.

Tabel. 1.3. Panen dan Produktivitas Tanaman Bahan Makanan Tahun 2006 - 2008 ... 12 Tabel. 1.4.

Tabel. 1.4. Tabel. 1.4.

Tabel. 1.4. Indeks Kondisi Ekonomi Juli-September 2008 ... 18 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 2.1. 2.1. 2.1. 2.1. Perkembangan Inflasi Provinsi Sulawesi Tenggara ... 25 Tabel. 2.2.

Tabel. 2.2. Tabel. 2.2.

Tabel. 2.2. Inflasi September 2008 ... 27 Tabel. 2.3.

Tabel. 2.3. Tabel. 2.3.

Tabel. 2.3. Perkembangan Harga Bulanan Beberapa Sayur-Sayuran Bulan Juli - Septemberi 2008 ... 27 Tabel. 2.4.

Tabel. 2.4. Tabel. 2.4.

Tabel. 2.4. Perkembangan Harga Beberapa Jenis Ikan Pada bulan Juli - September 2008 ... 28 Tabel. 2.5

Tabel. 2.5 Tabel. 2.5

Tabel. 2.5. . . . Perkembangan Harga Beberapa Daging dan Telur Pada bulan Juli - September 2008 ... 28 Tabel. 2.6.

Tabel. 2.6. Tabel. 2.6.

Tabel. 2.6. Perkembangan Harga Beberapa Bahan Bangunan Pada Bulan Juli - September 2008 ... 31 Tabel. 2.7.

Tabel. 2.7. Tabel. 2.7.

Tabel. 2.7. Perkembangan Harga Sandang Pada bulan Juli - September 2008 ... 33 Tabel. 2.

Tabel. 2. Tabel. 2.

Tabel. 2.888. 8. . . Inflasi/Deflasi Terbesar per Sub Kelompok Secara Bulanan ... 35 Tabel. 3.1.

Tabel. 3.1. Tabel. 3.1.

Tabel. 3.1. Indikator Perbankan Sulawesi Tenggara ... 39 Tabel. 3.2.

Tabel. 3.2. Tabel. 3.2.

Tabel. 3.2. Pergerakan Suku Bunga Deposito Rata-Rata Bank Umum Sulawesi Tenggara ... 41 Tabel. 3.3.

Tabel. 3.3. Tabel. 3.3.

Tabel. 3.3. Perkembangan KMKM Perbankan Sulawesi Tenggara ... 46 Tabel. 3.4.

Tabel. 3.4. Tabel. 3.4.

Tabel. 3.4. Perkembangan KUKM Menurut Jumlah Rekening ... 46 Tabel. 3.5.

Tabel. 3.5. Tabel. 3.5.

Tabel. 3.5. Penyaluran Kredit Berdasarkan Lokasi Proyek ... 48 Tabel. 3.6.

Tabel. 3.6. Tabel. 3.6.

Tabel. 3.6. Perkembangan NPLs Gross (%) Per Sektor Ekonomi ... 48 Tabel. 3.7.

Tabel. 3.7. Tabel. 3.7.

Tabel. 3.7. Perkembangan NPLs Gross (%) Berdasarkan Penggunaan ... 49 Tabel. 3

Tabel. 3 Tabel. 3

Tabel. 3.8.8.8.8. . . . Perkembangan ROA dan NIM ... 50 Tabel. 3.

Tabel. 3. Tabel. 3.

Tabel. 3.999. 9. . . Perkembangan Pendapatan Dan Beban Operasional ... 50 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 3.3.3.3.101010. 10. . . Perkembangan Indikator BPR Sulawesi Tenggara ... 51 Tabel. 3.

Tabel. 3. Tabel. 3.

Tabel. 3.111111. 11. . . Dana Pihak Ketiga BPR ... 51 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 3.13.13.13.12222. . . . Kredit BPR Berdasarkan Jenis Penggunaan ... 52 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 3.13.13.13.13333. . . . Perkembangan Kolektabilitas Kredit BPR ... 53 Tabel. 3.14.

Tabel. 3.14. Tabel. 3.14.

Tabel. 3.14. Perkembangan Perbankan Umum Per Wilayah...54 Tabel. 3.1

Tabel. 3.1 Tabel. 3.1

Tabel. 3.15555. . . . Perkembangan DPK Perbankan per Wilayah ... 54 Tabel. 3.16

Tabel. 3.16 Tabel. 3.16

Tabel. 3.16. . . . Perkembangan Kredit Perbankan per Wilayah ... 55 Tabel. 3.17

Tabel. 3.17 Tabel. 3.17

Tabel. 3.17. . . . Perkembangan LDR per Wilayah ... 55 Tabel. 3.18.

Tabel. 3.18. Tabel. 3.18.

(8)

viii

KANTOR BANK INDONESIA KENDARI

KANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARI Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 5555.1. .1. .1. .1. Perkembangan Transaksi Melalui SKNBI ... 66 Tabel. 5

Tabel. 5 Tabel. 5

Tabel. 5.2. .2. .2. .2. Perkembangan Transaksi Melalui SKN Non BI di Bau-Bau ... 67 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 6.16.16.16.1. . . . Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Menurut Kegiatan ... 69 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 6.26.26.26.2.... Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Menurut Kegiatan Per Wilayah ... 70 Tabel. 6.3.

Tabel. 6.3. Tabel. 6.3.

Tabel. 6.3. Penduduk Yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan ... 71 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 6.46.46.46.4.... Penduduk Yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Per Wilayah ... 71 Tabel. 6.5.

Tabel. 6.5. Tabel. 6.5.

Tabel. 6.5. Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Tenggara...72 Tabel. 6.6.

Tabel. 6.6. Tabel. 6.6.

Tabel. 6.6. Realisasi BLT 2008 Tahap II Di Sulawesi Tenggara ... 74

(9)

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

PROVINSI

PROVINSI

PROVINSI

PROVINSI SULAWESI TENGGARA

SULAWESI TENGGARA

SULAWESI TENGGARA

SULAWESI TENGGARA

TRIWULAN

TRIWULAN

TRIWULAN

TRIWULAN IIIIIIIIIIII----200

200

200

2008

8

8

8

PERKEMBANGAN EKONOMI Perekonomian

Sulawesi Tenggara pada triwulan III-2008 sebesar 6,64% (y.o.y),

Secara sektoral, pertanian masih

tercatat sebagai sektor yang memberikan kontribusi tertinggi terhadap pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara

Pada sisi penggunaan, meningkatnya permintaan domestik menjadi penyumbang utama pertumbuhan.

Perekonomian Sulawesi Tenggara pada triwulan II-2008 masih mengalami

pertumbuhan sebesar 6,64%1

(y.o.y) lebih tinggi dibandingkan triwulan

II-2008 dengan pertumbuhan tercatat sebesar 6,112% (y.o.y).

Laju pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2008 terutama didorong oleh

kinerja sektor pertanian, sektor perdagangan, dan sektor keuangan yang

masing-masing memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan sebesar 2,24%,

1,24%, dan 1,09%. Pada sisi lain, sektor pertambangan masih tercatat

mengalami kontraksi.

Pertumbuhan sektor pertanian antara lain ditandai dengan meningkatnya luas

panen tanaman bahan makanan pada tahun 2008 seiring dengan berjalannya

program pemerintah untuk menciptakan lahan pertanian padi baru. Produksi

tanaman bahan makanan di Sulawesi Tenggara hingga saat ini masih

didominasi oleh tanaman padi. Berdasarkan siklusnya, panen raya padi terjadi

pada triwulan III-2008 yang ditandai dengan masa panen di beberapa sentra

pertanian Sulawesi Tenggara seperti Kabupaten Bombana, Kabupaten Konawe

Selatan, Kabupaten Konawe, dan Kabupaten Kolaka. Secara umum,

daerah-daerah tersebut mengalami masa panen mulai bulan Agustus 2008 sampai

dengan awal triwulan IV-2008.

Pada sisi penggunaan, penyumbang tertinggi pertumbuhan ekonomi pada

triwulan laporan adalah permintaan domestik seiring dengan datangnya hari

raya keagamaan (Idul Fitri) yang jatuh pada awal Oktober 2008.

Selain itu, meningkatnya daya beli masyarakat yang antara lain didorong oleh

adanya pencairan dana BLT tahap II, pemberian THR, penerimaan gaji bulan

Oktober 2008 yang dibayarkan pada akhir September 2008, serta adanya

aktivitas pertambangan emas rakyat pada beberapa wilayah di Sulawesi

1 Proyeksi Bank Indonesia dengan metode dekomposisi

(10)

2

Tenggara juga memberikan dampak terhadap meningkatnya konsumsi rumah

tangga pada periode laporan.

INFLASI

Inflasi Sulawesi Tenggara triwulan III - 2008 tercatat sebesar 16,22% (y.o.y)

Kelompok Makanan Jadi dan Bahan Makanan tercatat sebagai kelompok yang mengalami inflasi tertinggi.

Perkembangan harga di Sulawesi Tenggara yang diukur dengan Indeks Harga

Konsumen (IHK) Kota Kendari pada triwulan III-2008 mengalami inflasi sebesar

16,22% (y.o.y) atau lebih tinggi dibandingkan triwulan III-2007 yang

mengalami inflasi sebesar 7,43% (y.o.y). Laju inflasi di Sulawesi Tenggara

tersebut juga tercatat masih lebih tinggi dari inflasi nasional sebesar 12,14%

(y.o.y). Sementara itu, inflasi Provinsi Sulawesi Tenggara selama tahun 2008

(sampai dengan bulan September 2008) tercatat sebesar 14,44% (y.t.d).

Berdasarkan kelompoknya, inflasi tertinggi di Sulawesi Tenggara terjadi pada

kelompok bahan makanan dimana laju inflasi tahunan kelompok bahan

makanan sebesar 35,80% (y.o.y) sedangkan laju inflasi tahun berjalan untuk

kelompok bahan makanan tercatat sebesar 31,53% (y.t.d).

Sementara itu, inflasi bulanan untuk periode September 2008 tercatat sebesar

1,57% (m.t.m) faktor pendorong inflasi pada bulan September tersebut

bersumber dari kelompok makanan jadi dan bahan makanan yang

masing-masing mengalami inflasi bulanan sebesar 6,93% (m.t.m) dan 1,96% (m.t.m).

Kondisi ini antara lain dipicu oleh ketersediaan pasokan barang yang tidak

mampu mengimbangi lonjakan permintaan pada bulan September 2008.

Kenaikan harga sub kelompok makanan jadi terutama terjadi pada komoditi

roti manis, donat, ayam goreng, mie, kue basah, gado-gado, serta biskuit.

Kenaikan harga pada sub kelompok makanan jadi tersebut merupakan

fenomena musiman pada persiapan dan perayaan Hari Raya Idul Fitri dimana

lonjakan permintaan terhadap produk-produk makanan jadi tidak dapat

diimbangi dengan ketersediaan jumlah pasokan.

Inflasi pada kelompok bahan makanan pada periode laporan antara lain

didorong oleh adanya kenaikan harga sayur mayur yang tercatat mengalami

inflasi sebesar 10,12% (m.t.m) terutama untuk jenis kangkung, bayam, dan

sawi hijau. Kenaikan harga sayur mayur tersebut terjadi karena berkurangnya

(11)

3

PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN

Krisis keuangan global tidak berdampak signifikan terhadap kondisi perbankan Sulawesi Tenggara .

Meskipun pada akhir triwulan III-2008 kondisi perekonomian nasional

mendapat tekanan yang cukup berat dari dampak krisis keuangan global, dan

masih tingginya tekanan inflasi dalam negeri yang direspon otoritas moneter

dengan menaikan BI Rate yang pada akhir September 2008 berada pada level

9,50%, hal tersebut tentunya akan mendorong kenaikan suku bunga

perbankan, namun kondisi ini tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja

perbankan (bank umum dan BPR) Sulawesi Tenggara. Hal ini terlihat pada

masih berjalannya fungsi intermediasi perbankan. Kredit/pembiyaan yang

disalurkan dan dana pihak ketiga yang dihimpun masih menunjukkan

pertumbuhan yang cukup tinggi. Kualitas kredit yang disalurkan menunjukkan

perbaikan yang signifikan. Demikian halnya dengan perolehan laba usaha,

memperlihatkan peningkatan yang cukup baik.

DPK meningkat sebesar 4,71% (q.t.q).

DPK yang dihimpun perbankan Sulawesi Tenggara pada triwulan III-2008

sebesar Rp4.539,26 miliar, meningkat 4,71% dibanding posisi triwulan II-2008

yang tercatat sebesar Rp4.335,08 miliar (q-t-q). Peningkatan terjadi pada

semua jenis simpanan, dengan peningkatan tertinggi terjadi pada deposito

yakni sebesar 10,38%, sementara tabungan dan giro masing-masing

meningkat sebesar 4,81% dan 1,70% (q-t-q). Meningkatnya deposito,

terutama dipengaruhi oleh meningkatnya suku bunga yang ditawarkan

perbankan sebagai respon atas kenaikan BI Rate dan ketatnya likuiditas

perbankan pada akhir triwulan III-2008.

Kredit yang disalurkan meningkat 10,33% (q.t.q).

Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 82,71%.

Dengan meningkatnya DPK, tentunya telah memberi peluang kepada

perbankan untuk terus meningkatkan pangsa kredit/pembiayaannya. Posisi

kredit/pembiayaan pada triwulan III-2008 tercatat sebesar Rp3.754,35 miliar,

meningkat 10,33% dibandingkan posisi triwulan II-2008 yang sebesar

Rp3.402,85 miliar (q-t-q), sehingga selama tahun berjalan kredit/pembiayaan

tumbuh sebesar 33,34% (y-t-d). Peningkatan kredit terjadi pada kredit modal

kerja dan kredit konsumsi yang masing-masing tumbuh sebesar 12,67% dan

12,10%, sementara kredit investasi turun sebesar 5,96% (q-t-q).

Peningkatan laju pertumbuhan kredit yang lebih besar dari laju pertumbuhan

dana pihak ketiga, telah meningkatkan Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan Sulawesi Tenggara dari 78,50% pada triwulan II-2008 menjadi 82,71% pada

(12)

4

Kredit

bermasalah/non performing loan (NPLs) gross sebesar

2,70%

Total kredit berdasarkan lokasi proyek pada bulan Agustus 2008 sebesar Rp4.384,91 miliar.

Dari sisi kualitas, kualitas kredit yang disalurkan perbankan Sulawesi Tengara

menunjukkan perbaikan. Hal ini tercermin pada rasio non performing loans

(NPL) gross yang tercatat sebesar 2,70%, turun dibandingkan dengan posisi triwulan II-2008 yang tercatat sebesar 5,07%. Meskipun demikian, untuk

memitigasi risiko kerugian yang muncul, perbankan tetap membentuk

cadangan yang cukup berupa Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP)

sehingga NPL nett tercatat sebesar 1,12%.

Sementara itu, peran perbankan di luar Sulawesi Tenggara dalam membiayai

proyek-proyek yang berlokasi di Sulawesi Tenggara juga cukup signifikan. Hal

ini terlihat pada kredit berdasarkan lokasi proyek, yakni kredit yang disalurkan

oleh perbankan yang berada di luar Sulawesi Tenggara untuk membiayai

proyek-proyek yang berlokasi di Sulawesi Tenggara. Pada posisi Agustus 2008

total kredit/pembiayaan yang disalurkan tercatat sebesar Rp4.384,91 miliar,

dimana sebesar Rp3.625,03 miliar (82,67%) disalurkan oleh perbankan di

Sulawesi Tenggara dan sebesar Rp753,87 miliar (17,33%) disalurkan oleh

perbankan dari luar Sulawesi Tenggara. Hal ini terjadi antara lain karena masih

terbatasnya kewenangan memutus kredit bagi pemimpin cabang bank. Selain

itu, terdapat beberapa investor dari luar yang berinvestasi di Sulawesi Tenggara

yang berkantor pusat di luar Sulawesi Tenggara pada umumnya memperoleh

pembiayaan dari perbankan yang berlokasi sama dengan kantor pusat

perusahaan investor.

Kredit/pembiayaan kepada UMKM meningkat 11,46% (q.t.q)

Transaksi tunai pada triwulan III-2008 meningkat signifikan dibandingkan triwulan II-2008

Pangsa/porsi kredit/pembiayaan perbankan kepada UMKM3

pada triwulan

III-2008 mencapai Rp3.478,16 miliar, meningkat 11,46% dibandingkan posisi

triwulan II-2008 yang sebesar Rp3.162,93 miliar (q-t-q) sehingga selama tahun

berjalan menunjukkan pertumbuhan sebesar 33,41% (y-t-d). Jumlah kredit

UMKM tersebut mencapai 93,73% dari total kredit yang disalurkan oleh bank

umum di Sulawesi Tenggara yang tercatat sebesar Rp3.710,96 miliar.

Pertumbuhan kredit untuk sektor UMKM tersebut tentunya akan semakin

mendorong peningkatan kegiatan perekonomian sektor riil di Sulawesi

Tenggara.

Kegiatan transaksi melalui pembayaran tunai di Sulawesi Tenggara yang

dilakukan melalui Kantor Bank Indonesia Kendari pada triwulan III-2008

mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan triwulan II-2008.

3
(13)

5

Pada triwulan III-2008

terjadi net outflow sebesar Rp723.022 juta.

Transaksi non tunai melalui kliring sebesar Rp654,37 miliar sedangkan melalui RTGS rata-rata per bulan Rp562,60 miliar

Hal ini terlihat pada aliran uang ke luar (out flow) maupun aliran uang masuk (inflow) dari/ke Kantor Bank Indonesia Kendari. Peningkatan aliran uang ke luar tersebut antara lain didorong oleh adanya pencairan dana BLT tahap II,

pembayaran gaji PNS dan pensiunan untuk periode bulan September dan

Oktober 2008, pembayaran THR serta adanya transaksi jual beli emas hasil

pendulangan rakyat di wilayah Kabupaten Bombana. Selain itu, dalam rangka

menyambut datangnya bulan suci ramadhan serta persiapan Idul Fitri

kebutuhan uang tunai masyarakat untuk bertransaksi (transaction motive) juga mengalami peningkatan.

Peningkatan outflow terlihat pada jumlah aliran uang kartal yang yang ke luar dari Kantor Bank Indonesia Kendari melalui perbankan di Sulawesi Tenggara

pada triwulan III-2008 tercatat sebesar Rp851.859 juta, meningkat 53,29%

dibandingkan triwulan II-2008 yang sebesar Rp555.732 juta. Sementara itu,

aliran uang kartal yang masuk dari perbankan dan masyarakat ke Kantor Bank

Indonesia Kendari pada triwulan III-2008 tercatat hanya sebesar Rp128.837

juta. Dengan demikian telah terjadi net ouflow sebesar Rp723.022. Meskipun aliran uang masuk tersebut meningkat 60,08% dibandingkan dengan triwulan

II-2008 yang sebesar 80.483 juta, namun masih banyak jumlah uang kartal

yang beredar di masyarakat.

Transaksi pembayaran non tunai melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia

(SKNBI) mengalami peningkatan. Nominal kliring mencapai Rp654,37 miliar

atau rata-rata Rp218,12 miliar per bulan, meningkat 13,20% dibandingkan

triwulan II-2008 yang sebesar Rp578,04 miliar. Sementara, pada triwulan

III-2008 nominal transaksi melalui Real Time Gross Settlement (RTGS) perbulan rata-rata tercatat sebesar Rp562,60miliar, meningkat 48,87% dibandingkan

triwulan II-2008 yang rata-rata sebesar sebesar Rp377,91 miliar. Demikian

halnya dengan nominal transaksi, meningkat sebesar 31,56 %, dari 367

transaksi perbulan menjadi 469 transaksi.

KEUANGAN DAERAH Realisasi APBD

Provinsi Sulawesi Tenggara semester I mengalami surplus sebesar Rp169,68 miliar.

Realisasi pendapatan APBD Provinsi Sulawesi Tenggara 2008 pada Semester

I-2008 tercatat sebesar Rp386,89 miliar, sedangkan realisasi belanja APBD

Provinsi Sulawesi Tenggara pada semester I-2008 tercatat sebesar Rp217,20

miliar sehingga terdapat terdapat surplus sebesar Rp169,68 miliar.

(14)

6

Realisasi pendapatan

tercatat sebesar Rp386,89 miliar.

Realisasi belanja tercatat sebesar Rp217,20 miliar.

tercatat sebesar Rp386,89 miliar atau 43,70% dari anggaran pendapatan

dalam APBD tahun 2008 sebesar Rp885,29 miliar. Berdasarkan kelompoknya,

realisasi pendapatan tersebut didominasi oleh dana perimbangan sebesar

Rp309,04 miliar atau 69,26% dari total realisasi pendapatan. Sementara itu,

realisasi pendapatan asli daerah pada semester I-2008 tercatat sebesar

Rp77,84 miliar atau 17,45% dari total pendapatan.

Sementara, realisasi belanja daerah Provinsi Sulawesi Tenggara pada semester

I-2008 tercatat sebesar Rp217,20 miliar atau 31,56% dari pagu anggaran

belanja Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2008. Porsi terbesar pengeluaran

belanja daerah adalah belanja langsung terutama pengeluaran untuk belanja

pegawai yang tercatat sebesar Rp156,24 miliar atau 67,90% dari total realisasi

belanja tidak langsung. Belanja Pegawai merupakan belanja kompensasi, baik

dalam bentuk uang maupun barang yang ditetapkan berdasarkan peraturan

perundang-undangan yang diberikan kepada pejabat negara, Pegawai Negeri

Sipil (PNS), dan pegawai yang dipekerjakan oleh pemerintah yang belum

berstatus PNS sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan kecuali

pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal.

KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN Sebagian besar

angkatan kerja di Sulawesi Tenggara berada di pedesaan sebesar 81,63% dari total angkatan kerja

NTP Sulawesi Tenggara bulan Agustus 2008 mengalami penurunan sebesar -0,07% dibanding NTP

bulan Juli 2008.

Angkatan kerja di Sulawesi Tenggara sebagian besar berada di wilayah

pedesaan sebesar 81,68% sedangkan angkatan kerja di perkotaan sebesar

18,32% dari total angkatan kerja sebanyak 963.338 . Pangsa angkatan kerja

yang tidak bekerja di perkotaan mencapai 9,90% atau sebanyak 17.473 orang

sedangkan pangsa angkatan kerja yang tidak bekerja di pedesaan sebesar

5,18% atau sebanyak 40.780 orang. Kondisi tersebut antara lain menunjukkan

bahwa penyerapan tenaga kerja di pedesaan masih lebih baik dibandingkan

dengan penyerapan tenaga kerja di perkotaan. Hal ini juga sejalan dengan

struktur perekonomian Sulawesi Tenggara dimana lebih dari 30,00%

pembentukan PDRB Sulawesi Tenggara berasal dari sektor pertanian yang

sebagian besar berada di pedesaan.

Pada bulan bulan Agustus 2008 NTP Provinsi Sulawesi Tenggara tercatat

sebesar 105,27 atau mengalami penurunan -0,07% dibandingkan NTP bulan

Juli 2008 sebesar 103,37. Penurunan NTP bulan Agustus 2008 tersebut karena

rata-rata indeks harga hasil pertanian mengalami penurunan. Penurunan

indeks terbesar terjadi pada sektor perkebunan yaitu sebesar -1,39% yang

(15)

7

Indeks yang diterima petani mengalami penurunan sebesar -0,33% dibandingkan

bulan Juli 2008.

Indeks yang dibayar petani mengalami penurunan -0,20% dibandingkan bulan Juli 2008

seiring dengan kinerja perkebunan kakao yang masih kurang baik karena usia

tanaman kakao yang sudah tua dan serangan hama sehingga hasil perkebunan

kakao masih rendah.

Indeks harga yang diterima petani pada bulan Agustus 2008 tercatat

mengalami penurunan sebesar -0,33% dibandingkan bulan Juli 2008 seiring

dengan besarnya penurunan indeks harga yang diterima petani pada sub

sektor tanaman perkebunan rakyat dan sub sektor peternakan. Pada sisi lain,

masih terdapat beberapa sub sektor yang mengalami peningkatan sehingga

mampu meredam penurunan indeks gabungan yang diterima petani. Sub

sektor perikanan dan hortikultura masing masing tercatat mengalami

peningkatan sebesar 0,96% dan 0,19% dibandingkan bulan Juli 2008.

Sementara itu, indeks gabungan harga yang dibayar petani juga menunjukkan

penurunan sebesar -0,20% dibandingkan bulan periode sebelumnya.

PROSPEK EKONOMI

Perekonomian Sulawesi Tenggara pada triwulan III-2008, diperkirakan

masih tumbuh dengan cukup bagus.

Pada triwulan IV-2008, kinerja perekonomian Sulawesi Tenggara diperkirakan

masih cukup baik yang ditandai dengan laju pertumbuhan yang diperkirakan

masih cukup tinggi. Dari sisi sektoral, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan

didorong oleh sektor pertanian sehubungan dengan masih berlangsungnya

masa panen tabama (padi) di sentra-sentra produksi beras pada awal triwulan

IV-2008. Selain itu, sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR) juga akan

memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pertumbuhan seiring

dengan adanya persiapan perayaan natal dan persiapan menyambut datangnya

tahun baru 2009. Sektor keuangan pada triwulan IV-2008 diperkirakan juga

akan mengalami peningkatan sehubungan dengan adanya pembukaan kantor

cabang Bank NISP di Kota Kendari. Peningkatan kinerja pada sektor pertanian,

perdagangan dan keuangan tersebut sejalan dengan hasil survei kegiatan

dunia usaha (SKDU) triwulan III-2008 yang sebagian besar responden

memperkirakan kegiatan usaha di sektor tersebut pada triwulan IV-2008 akan

meningkat dengan SB masing-masing tercatat sebesar 29,79%, 13,33% dan

29,41%.

Inflasi pada triwulan IV-2008 diperkirakan masih cukup tinggi

Pada triwulan IV-2008, laju inflasi diperkirakan masih cukup tinggi.

Determinan inflasi selain berasal dari faktor internal juga dari eksternal.

Tekanan dari internal adalah meningkatnya kebutuhan masyarakat karena

foktor musiman hari raya keagamaan serta adanya persiapan menyambut

(16)

8

Sementara itu, di sisi eksternal terhambatnya pasokon komoditi menjadi

pemicu laju inflasi pada triwulan IV-2008. Adanya aktivitas penambangan emas

di Kabupaten Bombana yang dilakukan oleh masyarakat berpotensi terhadap

berkurangnya tenaga kerja di beberapa sektor khususnya di sub sektor

perikanan. Hal ini dikhawatirkan berdampak terhadap pasokan ikan. Lebih

lanjut, kondisi cuaca serta ketersediaan pasokan energi menjadi faktor yang

perlu diwaspadai mengingat pada umumnya curah hujan cukup tinggi pada

akhir tahun.

Kinerja perbankan masih tumbuh positif meskipun cenderung melambat.

Sistem pembayaran tunai dan non tunai diperkirakan akan meningkat

Pada triwulan IV-2008 kinerja perbankan di Sulawesi Tenggara diperkirakan

masih cukup baik meskipun cenderung melambat.

Pada triwulan IV-2008 kinerja perbankan di Sulawesi Tenggara diperkirakan

masih cukup baik meskipun cenderung melambat. Dana Pihak Ketiga (DPK)

yang dihimpun di Sulawesi Tenggara pada triwulan IV-2008 diperkirakan masih

tumbuh positif. Sementara itu, penyaluran kredit perbankan diperkirakan

tumbuh melambat terutama pada kredit investasi dan modal kerja.

Perlambatan tersebut merupakan dampak dari adanya kenaikan suku bunga

kredit. Kualitas kredit yang disalurkan diperkirakan akan mengalami

penurunan, karena meningkatnya kewajiban membayar debitur sementara

penghasilan relatif tetap.

Sementara itu, aktivitas sistem pembayaran tunai dan non tunai melalui Sistim

Kliring Nasional BI dan RTGS diperkirakan akan meningkat dibandingkan

triwulan II-2008. Hal ini terjadi karena menjelang akhir tahun pembayaran

realisasi proyek khususnya yang dibiayai oleh APBD akan mengalami

(17)

Asesmen Makroekonomi

1. KONDISI UMUM

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2008 diperkirakan masih tetap tinggi

sejalan dengan tingginya realisasi pada triwulan sebelumnya. Meskipun perkembangan beberapa

indikator ekonomi yang memberikan indikasi akan terjadi perlambatan pertumbuhan, namun

perlambatan tersebut diperkirakan tidak akan terlalu signifikan. Berdasarkan perkembangan

tersebut, PDB pada triwulan III-2008 diperkirakan akan tumbuh sebesar 6,3% (y.o.y).

Grafik 1.1. Perekonomian Sulawesi Tenggara

0 2 4 6 8 10 12 -500,000 1,000,000 1,500,000 2,000,000 2,500,000 3,000,000 Q 1 Q 2 Q 3 Q 4 Q 1 Q 2 Q 3 Q 4 Q 1 Q 2 Q 3 Q 4 Q 1 Q 2 Q 3 Q 4 Q 1 Q 2 Q 3 *

2004 2005 2006 2007 2008

Nominal PDRB Pertumbuhan Tahunan

Ju ta a n R p %

Sumber: data BPS diolah

*)Proyeksi Bank Indonesia

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara yang diukur berdasarkan PDRB

harga konstan pada triwulan III-2008 sebesar 6,64%1

(y.o.y) lebih tinggi dibandingkan

pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2008 yang tercatat sebesar 6,112

% (y.o.y) (grafik 1.1).

Secara sektoral, laju pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2008 terutama didorong oleh

kinerja sektor pertanian, sektor perdagangan, dan sektor keuangan yang masing-masing

memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan sebesar 2,24%, 1,24%, dan 1,09%. Namun khusus

untuk sektor pertambangan masih tercatat mengalami kontraksi.

1

Proyeksi Bank Indonesia dengan metode dekomposisi

(18)

10

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3*

Pertanian 8.84 4.05 4.89 4.89 6.33 10.40 6.35

Pertambangan -4.07 61.72 22.29 27.00 18.45 -12.33 -2.61

Industri 9.08 28.62 0.73 4.72 2.34 -7.43 5.41

Listrik, Gas dan Air 15.51 6.74 5.82 -0.81 9.08 8.66 8.91

Bangunan 18.27 9.32 5.87 5.77 16.63 10.93 3.85

Perdagangan 9.94 7.77 7.88 11.70 5.02 8.71 8.19

Angkutan 4.29 5.19 -0.77 15.70 14.37 12.96 9.80

Keuangan 3.58 -8.23 16.68 19.51 16.90 3.87 18.53

Jasa-jasa 7.37 6.42 4.86 5.37 2.89 4.98 5.46

PDRB 8.08 9.16 6.24 8.47 7.78 6.11 6.64

Sektor 2007 2008

Di sisi penggunaan, penyumbang tertinggi pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan

adalah permintaan domestik seiring dengan datangnya hari raya keagamaan (Idul Fitri) yang jatuh

pada awal Oktober 2008.

2. PDRB MENURUT LAPANGAN USAHA

Berdasarkan data PDRB menurut lapangan usaha, pada triwulan III-2008 tercatat terdapat

satu sektor yang mengalami kontraksi yaitu sektor pertambangan sementara sektor yang lain masih

tumbuh positif. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tenggara (tabel 1.1) pada triwulan III-2008

terutama didorong oleh sektor pertanian, sektor perdagangan, dan sektor keuangan yang

masing-masing tumbuh sebesar 6,35% (y.o.y), 8,19% (y.o.y), dan 18,53% (y.o.y).

Tabel 1.1 Pertumbuhan Tiap Sektor (dalam persen)

Sumber: BPS diolah

*) Proyeksi Bank Indonesia

Tabel 1.2. Kontribusi Tiap Sektor Thd Pertumbuhan PDRB Lapangan Usaha (dalam persen)

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3*

Pertanian 3.18 1.45 1.75 1.82 2.30 3.55 2.24

Pertambangan -0.25 2.55 1.27 1.14 0.99 -0.76 -0.17

Industri 0.79 2.45 0.06 0.43 0.21 -0.75 0.44

Listrik, Gas dan Air 0.11 0.05 0.04 -0.01 0.07 0.06 0.06

Bangunan 1.16 0.73 0.48 0.50 1.16 0.85 0.31

Perdagangan 1.54 1.20 1.18 1.71 0.79 1.33 1.24

Angkutan 0.34 0.40 -0.06 1.07 1.10 0.96 0.73

Keuangan 0.17 -0.52 0.90 1.10 0.77 0.21 1.09

Jasa-jasa 1.03 0.87 0.63 0.69 0.40 0.66 0.70

PDRB 8.08 9.16 6.24 8.47 7.78 6.11 6.64

Sektor 2007 2008

Sumber: BPS diolah

(19)

11

0 5 10 15 20 25 30 35 40

Pertanian Pertambangan Industri Listrik, Gas dan Air Bangunan Perdagangan Angkutan Keuangan Jasa-jasa

%

Dilihat dari kontribusinya terhadap pertumbuhan (tabel 1.2), sektor pertanian tercatat

sebagai sektor yang memberikan kontribusi tertinggi yaitu sebesar 2,24%. Selain itu, kontribusi

sektor perdagangan dan sektor keuangan terhadap pertumbuhan juga cukup besar yaitu 1,24%

dan 1,09% sedangkan kontribusi dari sektor yang lain masih dibawah 1,00%.

Sementara itu, Kontribusi terhadap pembentukan PDRB pada triwulan III-2008 masih

didominasi oleh sektor pertanian, sektor perdagangan, dan sektor jasa-jasa yang masing-masing

memberikan kontribusi terhadap pembentukan PDRB sebesar 35,16%, 15,42% dan 12,63%

seperti tampak pada Grafik 1.2.

Perkembangan tiap-tiap sektor ekonomi pembentuk PDRB akan dianalisis lebih lanjut dalam sub

bab berikut ini.

2.1 Sektor Pertanian

Sektor pertanian pada triwulan III-2008 tumbuh sebesar 6,35% (y.o.y). Pertumbuhan sektor

pertanian pada triwulan ini lebih tinggi dibandingkan triwulan III-2007 dimana total produksi

tanaman bahan makanan pada tahun 2008 diperkirakan sebesar 1,39 juta ton (tabel1.3).

Pertumbuhan pertanian antara lain disebabkan oleh meningkatnya luas panen tanaman bahan

makanan pada tahun 2008 sebagai wujud dari pelaksanaan program pemerintah untuk

menciptakan lahan pertanian padi baru.

Grafik 1.2. Kontribusi Setiap Sektor Thd Pembentukan PDRB

(20)

12

Sumber: Data BPS Prov. Sulawesi Tenggara *) ARAM II-2008

!

!

Tabel 1.3 Panen dan Produksi Tanaman Bahan Makanan Tahun 2006 - 2008

Produksi tanaman bahan makanan di Sulawesi Tenggara masih didominasi oleh produksi padi yaitu

sebesar 1,11 juta ton dengan pangsa sebesar 79,62% dari total produksi tanaman bahan makanan

sehingga peningkatan produksi padi berdampak cukup besar terhadap meningkatnya produksi

tanaman bahan makanan secara keseluruhan. Berdasarkan siklusnya, panen raya padi terjadi pada

triwulan III-2008 yang ditandai dengan masa panen di beberapa sentra pertanian Sulawesi

Tenggara seperti Kabupaten Bombana, Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Konawe, dan

Kabupaten Kolaka. Secara umum, daerah-daerah tersebut mengalami masa panen mulai bulan

Agustus 2008 sampai dengan awal triwulan IV-2008.

Sementara itu, kinerja perkebunan kakao di Sulawesi Tenggara hingga triwulan III-2008

masih belum menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, dari luas perkebunan kakao

116.000 ha diperkirakan yang masih berproduksi maksimal 71.000 ha. Berbagai upaya pemerintah

untuk meningkatkan produksi kakao telah dan masih berlangsung diantaranya melalui gerakan

revitalisasi kakao namun belum berjalan optimal karena berbagai kendala seperti faktor keaktifan

dari lembaga pelaksana (dinas dan bank penyalur), belum adanya sertifikat tanah, kurangnya

informasi tentang tata cara mengajukan kredit, serta belum optimalnya tindak lanjut dari institusi

terkait terhadap petani yang berminat mengikuti program revitalisasi perkebunan kakao.. Selain

revitalisasi kakao, pemerintah pada tahun 2009 - 2011 juga akan melakukan gerakan nasional

peningkatan produksi kakao dimana Provinsi Sulawesi Tenggara akan melakukan gerakan

penyelamatan 116.000 ha tanaman kakao terfokus pada 3 hal yaitu melakukan peremajaan,

(21)

13

-100.00% 0.00% 100.00% 200.00% 300.00% 400.00% 500.00% 600.00%

-100,000.00 200,000.00 300,000.00 400,000.00 500,000.00 600,000.00 700,000.00 800,000.00

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3

2007 2008

Volume Produksi Pertumbuhan Tahunan

W

M

T

2.2 Sektor Pertambangan

Sektor pertambangan Provinsi Sulawesi Tenggara pada triwulan III-2008 mengalami penurunan

sebesar -2,61% (y.o.y). Sektor pertambangan Sulawesi Tenggara masih didominasi oleh komoditas

biji nikel yang diproduksi oleh PT. Aneka Tambang (Antam) Pomalaa, PT. Arga Morini Indah, PT.

Dharma Rosadi Internasional, dan PT. Dharma Bumi Kendari.

Penurunan yang terjadi di sektor pertambangan pada triwulan ini antara lain dipengaruhi

oleh penurunan volume produksi biji nikel PT. Antam Pomalaa dimana total produksi biji nikel PT.

Antam Pomalaa pada triwulan III-2008 sebesar 240.424 Wmt atau turun -67,29% dibandingkan

produksi pada triwulan III-2007 sebesar 734.922 wmt (grafik 1.3). Penurunan ini terjadi antara lain

dipengaruhi oleh krisis keuangan global yang berdampak terhadap penurunan permintaan biji nikel

terutama oleh negara-negara Eropa. Sementara itu, permintaan Cina terhadap biji nikel juga

mengalami penurunan dimana Cina diperkirakan telah mengalami over stock seiring dengan

berkurangnya aktivitas pembangunan yang membutuhkan bahan tambang. Selain itu, merosotnya

harga nikel di tingkat dunia juga berdampak negatif terhadap kinerja di sektor pertambangan. Pada

sisi lain, permintaan biji nikel pada periode laporan hanya berasal dari Jepang untuk biji nikel kadar

tinggi (high grade).

2.3 Sektor Industri Pengolahan

Sektor industri pengolahan Sulawesi Tenggara masih didominasi oleh produksi Ferronikel,

pada triwulan III-2008 industri pengolahan mengalami pertumbuhan 5,41% (y.o.y). Kinerja industri

pengolahan Ferronikel di Sulawesi Tenggara hingga saat ini masih dipengaruhi oleh produksi PT.

Aneka Tambang (Antam) Pomalaa. Volume produksi industri pengolahan PT. Antam

Grafik 1.3 Volume Produksi Biji Nikel

Sumber: PT. Antam Pomalaa

(22)

14

Sumber: PT. Antam Pomalaa

*) Angka Triwulan III-2008 adalah Angka Sementara

-10.00% 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00%

-1,000 2,000 3,000 4,000 5,000 6,000 7,000

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3

2007 2008

Volume Produksi Pertumbuhan Tahunan

T

o

n

N

i

Pomalaa pada triwulan III-2008 tercatat sebesar 4.762,98 Ton Nikel atau meningkat 35,76%

dibandingkan dengan produksi Ferronikel pada triwulan III-2007 sebesar 3.512 Ton Ni (grafik1.4).

Produksi Ferronikel pada triwulan III-2008 cenderung mengalami peningkatan dibandingkan

dengan 2 periode sebelumnya. Peningkatan produksi tersebut antara lain dipengaruhi oleh telah

beroperasinya Pabrik Feni 1 setelah selesainya perawatan rutin. Namun demikian, pada triwulan

III-2008 PT. Antam Pomalaa tidak memproduksi Toll Feni seperti pada periode sebelumnya.

Sementara itu, dari sisi pasokan bahan baku Ferronikel, PT. Antam Pomalaa mendapatkan

pasokan bahan baku dari PT. Antam di Maluku Utara yang dimulai bulan September 2008.

Pengadaan pasokan dari Maluku Utara dilakukan karena berakhirnya kerja sama antara PT. Antam.

Tbk dengan PT. Inco. Tbk terkait dengan penyediaan bahan baku Ferronikel.

2.4 Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran

Pada triwulan III-2008, Sektor Perdagangan Hotel dan Restoran (PHR) mengalami

pertumbuhan sebesar 8,19% (y.o.y). Pertumbuhan Sektor PHR pada triwulan II-2008 antara lain

dipengaruhi oleh faktor musiman hari raya keagamaan (hari raya idul fitri) yang jatuh pada awal

Oktober 2008. Sementara, adanya berbagai kegiatan baik skala nasional maupun lokal seperti

kegiatan Festival Perairan Pulau Makassar di Kota Bau-Bau yang berskala nasional yang

dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Bau-Bau, penyelenggaraan Utsawa Dharma Gita atau seni

membaca Kitab Weda ke-X yang diikuti oleh umat Hindu se-Indonesia, serta berbagai kegiatan

lokal dalam rangka memperingati HUT RI ke-63 juga turut mendorong kinerja sektor PHR pada

(23)

15

-100% -50% 0% 50% 100% 150% 200% 250% 300% -10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 80,000 90,000 Ja n -0 7 Fe b -0 7 M a r-0 7 A p r-0 7 M a y-0 7 Ju n -0 7 Ju l-0 7 A u g -0 7 S e p -0 7 O ct -0 7 N o v-0 7 D e c-0 7 Ja n -0 8 Fe b -0 8 M a r-0 8 A p r-0 8 M a y-0 8 Ju n -0 8 Ju l-0 8 A u g -0 8 S e p -0 8

Volume Bongkar Pertumbuhan Bulanan

T /M 3 -40.0% -30.0% -20.0% -10.0% 0.0% 10.0% 20.0% 30.0% 40.0% 50.0% 0 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 80,000 90,000

" " " " " " " " " " " " " " "

T

o

n

Volume Pertumbuhan (y.o.y)

periode laporan. Selain itu, datangnya tahun ajaran baru pada bulan Juli 2008 juga memberikan

dampak positif terhadap kinerja sektor perdagangan pada periode laporan. Membaiknya kinerja

sektor perdagangan juga ditandai dengan meningkatnya jumlah barang yang masuk melalui

pelabuhan Kota Kendari pada triwulan III-2008 dimana volume bongkar pada periode laporan

tercatat sebesar 168.445 ton/m3

atau meningkat 44,26% dibandingkan periode yang sama tahun

2007 (grafik 1.5).

Grafik 1.5 Arus Bongkar Di Pelabuhan Kendari (Ton/M3 )

2.5 Sektor Bangunan

Pada triwulan III-2008, sektor bangunan di Sulawesi Tenggara mengalami pertumbuhan

sebesar 3,85% (y.o.y). Pada periode laporan sektor bangunan cenderung tumbuh melambat

dibandingkan dengan periode sebelumnya. Perlambatan sektor bangunan tersebut terutama terjadi

pada bulan September 2008 yang antara lain dipengaruhi oleh datangnya bulan puasa yang

berlangsung selama bulan September 2008 sehingga aktivitas pembangunan sedikit berkurang.

" # $ % & & ' %%

(24)

16

-10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000

Jan Feb Maret April Mei Juni Juli Agust Sept

O

ra

n

g

Selain itu, adanya penemuan tambang di Kabupaten Bombana dan Kabupaten Kolaka

berdampak terhadap peralihan aktivitas tenaga kerja dari sektor bangunan ke aktivitas

pertambangan sehingga jumlah tenaga kerja di sektor bangunan berkurang dan berdampak

terhadap terlantarnya beberapa proyek bangunan. Perlambatan pertumbuhan sektor bangunan

pada periode laporan juga diindikasikan dengan turunnya realisasi pengadaan semen dari 58.739

ton pada triwulan III-2007 menjadi 45.497 ton pada triwulan III-2008 atau turun sebesar -22,54%

(grafik 1.6).

Namun demikian, ketersediaan lapangan pekerjaan di sektor bangunan pada triwulan

III-2008 masih cukup banyak hal ini ditandai dengan berbagai pembangunan proyek-proyek

pemerintah maupun pembangunan perumahan dan pertokoan. Maraknya pembangunan ruko di

Kota Kendari hingga periode laporan terjadi seiring dengan semakin baiknya kinerja sektor

perdagangan di Sulawesi Tenggara.

2.6 Sektor Angkutan dan Komunikasi

Pada triwulan III-2008, sektor angkutan dan komunikasi diperkirakan tumbuh sebesar

9,80% (y.o.y). Kinerja sektor angkutan pada triwulan III-2008 antara lain didipengaruhi oleh faktor

musiman hari raya keagamaan yaitu Idul Fitri yang jatuh pada awal bulan Oktober 2008. Kondisi

tersebut diikuti dengan arus mudik yang mulai dirasakan satu minggu sebelum perayaan Idul Fitri

yang ditandai dengan kinerja angkutan laut pada triwulan III-2008 yang menunjukkan

kecenderungan peningkatan. Pada periode laporan, jumlah pengguna jasa penyeberangan kapal

laut yang diberangkatkan dari Pelabuhan Bau-Bau, Kolaka dan Kendari sebanyak 165.636 orang

atau meningkat 6,89% (q.t.q) dibandingkan triwulan sebelumnya (grafik 1.7). Sebagian besar

penumpang yang menggunakan sarana angkutan laut berangkat dari Pelabuhan Bau-Bau sebanyak

108.948 orang atau 65,78% dari total penumpang.

Sumber: Pelabuhan Bau-bau, Kolaka dan Kendari

(25)

-17

-200,000 400,000 600,000 800,000 1,000,000 1,200,000

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3

2006 2007 2008

Ju

ta

a

n

R

u

p

ia

h

2.7 Sektor Keuangan

Meskipun BI Rate masih menunjukkan trend kenaikan, sebagai respons untuk meredam laju

inflasi, namun pada triwulan III-2008 sektor keuangan masih tumbuh sebesar 18,53% (y.o.y).

Kinerja sektor keuangan Provinsi Sulawesi Tenggara masih dipengaruhi oleh kinerja sektor

perbankan. Hal tersebut dari meningkatnya dengan nilai tambah bruto (NTB) perbankan pada

triwulan III-2008 menjadi sebesar Rp911,32 milyar (grafik 1.8). Lebih lanjut, fungsi intermediasi

perbankan Sulawesi Tenggara pada periode laporan juga tercatat masih cukup baik yang ditandai

meningkatnya dengan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) dan penyaluran kredit. DPK yang

dihimpun perbankan Sulawesi Tenggara pada triwulan III-2008 sebesar Rp4.539,26 miliar,

meningkat 4,71% dibanding posisi triwulan II-2008 yang tercatat sebesar Rp4.335,08 miliar (q.t.q)

sedangkan penyaluran kredit/pembiayaan pada triwulan III-2008 tercatat sebesar Rp3.754,35

miliar, meningkat 10,33% dibandingkan posisi triwulan II-2008 yang sebesar Rp3.402,85 miliar

(q.t.q).

2.8 Sektor Lainnya

Sementara itu, sektor listrik, gas & air bersih (LGA) serta sektor jasa-jasa masing masing

tumbuh sebesar 8,91% (y.o.y) dan 5,46% (y.o.y). Peningkatan kinerja sektor jasa-jasa antara lain

didorong oleh jasa pendidikan seiring dengan datangnya tahun ajaran baru tahun 2008 yang jatuh

pada bulan Juli 2008.

Grafik 1.8 NTB Perbankan Di Sulawesi Tenggara

(26)

18

Penghasilan saat ini dibandingkan 6 bln yang lalu 123.00 126.00 132.00

Ketersediaan lapangan kerja saat ini 107.00 117.00 129.00

Ketepatan waktu pembelian (konsumsi) barang tahan lama 105.00 102.00 98.00

111.67 115.00 119.67 Juli Agustus September

Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini

Perhitungan indeks hasil survei

3. PDRB MENURUT PENGGUNAAN

Dari sisi penggunaan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2008 didorong oleh

permintaan domestik yang merupakan faktor musiman hari raya keagamaan. Sementara itu,

permintaan luar negeri dari Sulawesi Tenggara menunjukkan kecenderungan yang melambat.

3.1 KONSUMSI

Konsumsi pada triwulan III-2008 tumbuh sebesar 11,56% (y.o.y) dengan kontribusi

terhadap pertumbuhan sebesar 8,89%. Meningkatnya konsumsi rumah tangga antara lain

dipengaruhi datangnya bulan suci Ramadhan yang jatuh pada bulan September 2008 serta adanya

persiapan menjelang perayaan Idul Fitri 1429 H yang jatuh pada awal bulan Oktober 2008 dimana

kondisi tersebut mendorong meningkatnya kebutuhan masyarakat khususnya terhadap makanan

jadi. Selain itu, meningkatnya daya beli masyarakat seiring dengan adanya pencairan dana BLT

tahap II, pemberian THR, penerimaan gaji bulan Oktober 2008 yang dibayarkan pada akhir

September 2008, serta adanya aktivitas menambang emas rakyat pada beberapa wilayah di

Sulawesi Tenggara memberikan dampak terhadap meningkatnya konsumsi rumah tangga pada

periode laporan. Hal tersebut juga sejalan dengan membaiknya persepsi masyarakat terhadap

perekonomian di Sulawesi Tenggara yang ditandai dengan semakin membaiknya indeks kondisi

ekonomi Sulawesi Tenggara (tabel 1.4).

Tabel 1.4 Indeks Kondisi Ekonomi Juli- September 2008

Sementara itu, berbagai kegiatan pemerintah daerah seperti Kegiatan Utsawa Dharma Gita

yang dirangkaikan dengan pameran produk daerah Sulawesi Tenggara memberikan dampak

terhadap pertumbuhan konsumsi pada periode laporan.

(27)

19

Grafik 1.9 Realisasi Kredit Modal Kerja dan Investasi

Sumber: LBU Bank Umum

" " " " " " " " " " "

*

+( ) , '* '

3.2 Investasi

Pada triwulan III-2008, investasi di Sulawesi Tenggara tercatat tumbuh sebesar 10,79%

(y.o.y) dengan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 3,19%. Kegiatan investasi di

Sulawesi Tenggara hingga saat ini masih didominasi oleh proyek-proyek pemerintah seperti

perbaikan infrastruktur. Sementara, investasi swasta didominasi oleh pembangunan perumahan

dan ruko sebagai sarana penunjang dalam mendukung perkembangan perdagangan di Sulawesi

Tenggara. Peningkatan investasi swasta antara lain diindikasikan dengan realisasi kredit modal kerja

dan investasi masing-masing sebesar Rp179,04 miliar dan 57,63 miliar (grafik 1.9)

Meskipun pertumbuhan investasi masih tumbuh cukup tinggi namun kinerja investasi pada triwulan

III-2008 masih belum optimal terutama terkait dengan pembangunan gedung, perumahan, dan

ruko. Kondisi ini antara lain dipengaruhi oleh berkurangnya tenaga kerja di sektor bangunan seiring

dengan adanya aktivitas penambangan emas di beberapa lokasi di Sulawesi Tenggara pada bulan

September 2008 yang berdampak terjadinya alih profesi dari sektor bangunan menjadi penambang

emas.

3.3 EKSPOR & Impor

Komoditas utama yang diekspor Provinsi Sulawesi Tenggara meliputi beberapa kelompok

komoditas seperti biji besi, ferronikel, ikan, kakao, mutiara, dan aspal. Namun demikian, kegiatan

ekspor Sulawesi Tenggara masih sangat tergantung dari hasil pertambangan dimana ekspor hasil

(28)

20

Sumber: Disperindagkop Prov. Sulawesi Tenggara

-100.00 0.00 100.00 200.00 300.00 400.00 500.00

-100.00 200.00 300.00 400.00 500.00 600.00 700.00 800.00 900.00

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3

2007 2008

Volume Pertumbuhan (y.o.y)

R

ib

u

T

o

n

%

Pada triwulan III-2008, kinerja ekspor Sulawesi Tenggara tercatat tumbuh sebesar 7,29%

(y.o.y). Meskipun kinerja ekspor masih tumbuh positif namun ekspor Sulawesi Tenggara pada

triwulan III-2008 cenderung mengalami penurunan dibandingkan dengan periode-periode

sebelumnya. Penurunan ekspor tersebut terutama terjadi karena menurunnya permintaan luar

negeri terhadap produk Sulawesi Tenggara. Penurunan permintaan luar negeri terutama berasal

dari Cina yang merupakan negara tujuan utama ekspor biji nikel Sulawesi Tenggara yang antara

lain diperkirakan Cina telah mengalami over stock material tambang serta kecenderungan harga

nikel di tingkat internasional yang cenderung mengalami penurunan sehingga berdampak terhadap

permintaan biji nikel. Berdasarkan data perkembangan ekspor Provinsi Sulawesi Tenggara, volume

ekspor pada triwulan III-2008 tercatat sebesar 562,09 ribu ton atau tumbuh 24,97% (y.o.y)

dibandingkan dengan nilai ekspor periode sebelumnya yang tercatat sebesar 109,72 juta US$.

Sementara impor luar negeri Sulawesi Tenggara pada triwulan III-2008 tercatat sebesar 3,5 ton

yang terdiri dari bahan – bahan kimia dengan nilai sebesar 114,303

US$ (grafik 1.10).

Grafik 1.10 Volume Ekspor Provinsi Sulawesi Tenggara

Definisi ekspor dan impor dalam pembentukan PDRB adalah seluruh arus perdagangan

keluar dan masuk baik yang sifatnya antar wilayah (provinsi) maupun antar negara. Berdasarkan

definisi tersebut, Provinsi Sulawesi Tenggara tercatat masih memiliki nilai net balance perdagangan

yang negatif atau impor masih lebih tinggi dari ekspor. Berdasarkan asal barangnya, impor Provinsi

Sulawesi Tenggara masih didominasi oleh perdagangan dalam negeri dimana sebagian besar

barang yang masuk ke Sulawesi Tenggara berasal dari Sulawesi Selatan dan Surabaya.

(29)

21

-50,000 100,000 150,000 200,000 250,000

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3

2007 2008

Bongkar Muat

Grafik 1.11 Arus Bongkar Muat Di Pelabuhan Kendari (Ton/M3 )

Berdasarkan data dari PT. Pelabuhan IV Kendari, pada triwulan III-2008 perdagangan dalam

negeri masih didominasi oleh arus bongkar barang yang tercatat sebesar 168.445 ton/m3

.

Sementara volume barang yang dimuat di PT. Pelabuhan IV Kendari hanya sebesar 29.000 ton/m3

(grafik 1.11).

Sementara itu, pada triwulan III-2008 tidak tercatat ekspor kakao dari Sulawesi Tenggara ke

luar negeri. Tidak tercatatnya ekspor kakao tersebut antara lain disebabkan oleh pola penjualan

kakao yang diperdagangkan secara antar pulau sehingga tidak tercatat sebagai ekspor Sulawesi

Tenggara ke luar negeri. Selain itu, kondisi perkebunan kakao Sulawesi Tenggara yang masih belum

(30)

22

Boks 1

Penemuan Tambang Emas di Kabupaten Bombana dan Kabupaten Kolaka

Pada akhir triwulan III-2008, masyarakat Sulawesi Tenggara dikejutkan dengan

adanya penemuan tambang di Kabupaten Bombana dan Kabupaten Kolaka.

Kabupaten Bombana merupakan daerah pemekaran baru yang sebelumnya bergabung

dengan Kabupaten Buton.

Lokasi pertambangan di Kabupaten Bombana terletak + 30 Km dari Kasipute,

Ibu Kota, Kabupaten Bombana sedangkan lokasi pertambangan di Kabupaten Kolaka

hanya berjarak + 12 Km dari Kota Kolaka. Berdasarkan informasi yang diperoleh

dilapangan maka dapat disampaikan beberapa hal sebagai berikut:

1. Terdapat dua lokasi tambang emas di Kabupaten Bombana yaitu di aliran Sungai

Tahi Ite dan Aliran sungai di daerah Wuwubangka yang sebenarnya masih berasal

dari sumber hulu sungai yang sama dengan Sungai Tahi Ite.

2. Penambang emas di kedua daerah tersebut berasal dari Sulawesi Tenggara dan

daerah di luar Sulawesi Tenggara seperti Sulawesi Selatan dan Nabire, Papua.

3. Pemerintah Daerah Kabupaten Bombana maupun Provinsi Sulawesi Tenggara

belum melakukan kajian dan penelitian lebih lanjut tentang deposit emas di

Kabupaten Bombana. Namun demikian dinas terkait telah mengajukan anggaran

untuk penelitian deposit emas di Kabupaten Bombana.

4. Hingga saat ini belum ada penerimaan daerah dari aktivitas pertambangan.

5. Aktivitas pertambangan yang telah dimulai sejak awal bulan September 2008, untuk

sementara mulai tanggal 7 s.d 31 Oktober 2008 telah dihentikan dan akan dubuka

kembali mulai tanggal 1 November 2008.

6. Penghentian aktivitas pertambangan tersebut dimaksudkan untuk melakukan

penertiban dan pengaturan.

7. Pasca dibukanya kembali aktivitas pertambangan di Kabupaten Bombana, jumlah

penambang mencapai 29.292 orang dimana sebanyak sekitar 3.292 orang berasal

dari luar Kabupaten Bombana dan sekitar 26.000 orang dari Kbupaten Bombana.

8. Dampak yang timbul dari aktivitas pertambangan yang telah berlangsung:

a) Jumlah uang yang beredar bertamabah.

(31)

23

1 Unit Pelayanan Syariah, dan 2 Unit BRI, dengan adanya aktivitas

pertambangan tersebut telah mengakibatkan penarikan uang dalam jumlah

cukup besar melalui perbankan di Kabupaten Bombana oleh calon pembeli emas

yang sebagian besar berasal dari luar Kabupaten Bombana. Secara umum, calon

pembeli dari luar daerah melkukan transfer dana dari bank di daerah asal

mereka dan akan diikuti dengan penarikan melalui jaringan perbankan di

Kabupaten Bombana pada hari yang sama. Namun mengingat terbatasnya

kemampuan bank untuk melayani penarikan tunai maka selain melalui transfer,

dijumpai pula calon pembeli khususnya dari luar Sulawesi Tenggara yang

membawa uang secara tunai.

b) Kegiatan dunia usaha.

Dengan munculnya tambang emas tersebut, banyak penduduk yang melakukan

alih profesi dari petani, nelayan, pedagang kecil/bahan makanan, dan tukang

bangunan menjadi penambang emas. Dampak yang muncul adalah

melambungnya harga bahan makanan seperti ikan karena pasokan berkurang,

terhambatnya aktivitas di sektor bangunan, serta berkurangnya tenaga untuk

panen padi di Kabupaten Bombana yang jatuh pada bulan Agustus – September

2008.

c) Dampak Lingkungan.

Proses pertambangan yang dilakukan secara masal tersebut masih

menggunakan peralatan yang tradisionaldan kurang memperhatikan lingkungan

sehingga berpotensi merusak lingkungan dan meningkatkan risiko terjadinya

kecelakaan kerja.

d) Potensi Penerimaan Daerah

Pendapatan yang diterima oleh Pemerintah daerah Kabupaten Bombana sekitar

Rp13,03 miliar yang berasal dari biaya retribusi Rp800 ribu per orang dengan

rincian Rp300 ribu untuk pembelian kartu pendulang dan Rp500 ribu biaya

retribusi per bulan. Penerimaan tersebut dimasukkan dalam PAD Kabupaten

Bombana tahun 2008

9. Terkait dengan pengelolaan tambang di Kabupaten Bombana maka perlu

diperhatikan kondisi infrastruktur seperti:

a) Kondisi jalan di Kabupaten Bombana sebagian besar dalam kondisi rusak.

b) Hanya terdapat satu SPBU dengan kondisi yang masih dalam proses

(32)

24

c) Kondisi kelistrikan yang masih harus ditingkatkan.

d) Kondisi pelabuhan yang belum bisa untuk berlabuh kapal besar.

Sementara itu, aktivitas pertambangan di Kabupaten Kolaka hampir sama dengan di

Kabupaten Bombana dimana aktivitas pertambangan dilakukan secara sederhana.

Beberapa tambahan informasi terkait dengan pertambangan di Kabupaten Kolaka:

1. Aktivitas pertambangan di Kabupaten Kolaka diperkirakan lebih kecil dibandingkan

dengan Kabupaten Bombana.

2. Lokasi pertambangan berada di kawasan hutan lindung yang juga merupakan

kawasan wisata.

3. Sarana infrastruktur di Kabupaten Kolaka masih lebih baik dibandingkan dengan

(33)

Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Monthly (m.t.m) -0.8 0.95 1.23 0.72 1.94 -0.07 1.02 0.44 2.13 6.49 1.77 -0.06 1.57 Year to Date (y.t.d) 4.46 5.46 6.76 7.53 1.94 1.87 2.91 3.36 5.56 10.78 12.74 12.67 14.44 Year On Year (y.o.y) 7.43 9.17 8.37 7.53 7.5 7.65 8.42 8.58 9.57 13.19 13.4 13.98 16.22

Inflasi Umum (%) 2007 2008

Asesmen Inflasi

Asesmen Inflasi

Asesmen Inflasi

Asesmen Inflasi

1. Kondisi Umum

Pada triwulan III-2008, perkembangan harga secara umum di Sulawesi Tenggara yang

digambarkan oleh perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kota Kendari, secara tahunan

tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan III-2007.

Perkembangan harga yang diukur dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada

triwulan III-2008 mengalami inflasi sebesar 16,22% (y.o.y) atau lebih tinggi dibandingkan

triwulan III-2007 yang mengalami inflasi sebesar 7,43% (y.o.y). Laju inflasi di Sulawesi

Tenggara tersebut juga tercatat masih lebih tinggi dari inflasi nasional sebesar 12,14%

(y.o.y). Sementara itu, inflasi Provinsi Sulawesi Tenggara selama tahun 2008 (sampai dengan

bulan September 2008) tercatat sebesar 14,44% (y.t.d). Berdasarkan kelompoknya, inflasi

tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan dengan laju inflasi tahunan sebesar 35,80%

(y.o.y) sedangkan laju inflasi tahun berjalan untuk kelompok bahan makanan tercatat sebesar

31,53% (y.t.d) (tabel 2.1).

Tabel 2.1. Perkembangan Inflasi Provinsi Sulawesi Tenggara

Sumber: data BPS diolah

2. Perkembangan Inflasi di Provinsi Sulawesi Tenggara

Perkembangan IHK di Sulawesi Tenggara pada periode Juli 2008-September 2008

ditandai dengan terjadinya inflasi bulanan yang terjadi pada bulan Juli 2008 dan bulan

September 2008 sedangkan pada bulan Agustus 2008 terjadi deflasi (grafik 2.1). Inflasi

bulanan tertinggi terjadi pada bulan Juli 2008 yaitu sebesar 1,77% (m.t.m). Inflasi yang terjadi

pada bulan Juli 2008 antara lain masih disebabkan karena masih adanya krisis energi yang

berdampak terhadap terganggunya arus distribusi barang, selain itu, curah hujan yang cukup

(34)

26

Grafik 2.1. Perkembangan Inflasi Bulanan (m.t.m) Nasional & Kendari

! ! ! ! ! ! ! ! !

" # $%& $% &' ( " # $%&) * %&' (

Sumber: data BPS diolah Sulawesi Tenggara yang pada

akhirnya mendorong kenaikan

harga cabe dan sayur mayur.

Kondisi cuaca yang kurang baik

tersebut juga berdampak terhadap

terganggunya transportasi laut dan

berkurangnya aktivitas nelayan.

Pada sisi lain, Sulawesi Tenggara

mengalami deflasi pada bulan

Agustus 2008 sebesar -0,06% yang

terutama disebabkan oleh deflasi yang terjadi pada kelompok bahan makanan terutama

beras seiring dengan adanya panen raya padi di Sulawesi Tenggara.

Sementara itu, inflasi bulanan untuk periode September 2008 tercatat sebesar 1,57%

(m.t.m) faktor pendorong inflasi pada bulan bulan September tersebut bersumber dari

kelompok makanan jadi dan bahan makanan yang masing-masing mengalami inflasi bulanan

sebesar 6,93% (m.t.m) dan 1,96% (m.t.m). Kondisi ini antara lain dipicu olehketerbatasan

persediaan pasokan barang yang tidak mampu mengimbangi lonjakan permintaan pada

bulan September 2008.

3. Faktor-Faktor Penyumbang Inflasi

Pada triwulan III-2008, tercatat hampir seluruh sektor tercatat mengalami inflasi seperti

terlihat pada tabel 2.2. Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau tercatat

sebagai kelompok yang mengalami inflasi tertinggi dan sekaligus merupakan kelompok

penyumbang tertinggi terhadap inflasi bulanan pada periode September 2008 dimana inflasi

pada kelompok tersebut sebesar 6,93% (m.t.m) dengan sumbangan sebesar 0,75%. Selain

kelompok makanan jadi, penyumbang inflasi lainnya bersumber dari kelompok bahan

makanan yang mengalami inflasi bulanan sebesar 1,96% (m.t.m) dengan sumbangan

(35)

27

Tahunan (y.o.y)

Tahun Berjalan (y.t.d)

Bulanan (m.t.m)

Sumbangan (m.t.m) Bahan Makanan 35.80 31.53 1.96 0.50 Makanan Jadi, Minuman, Rokok, & Tembakau 14.84 14.21 6.93 0.75 Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bhn Bakar 15.40 13.63 0.86 0.20

Sandang 7.53 3.19 -0.33 -0.03

Kesehatan 8.68 8.25 0.51 0.02

Pendidikan, Rekreasi & Olah Raga 6.16 3.91 1.73 0.10 Transpor, Komunikasi, & Jasa Keuangan 7.18 7.58 0.13 0.03

Kelompok

Inflasi Bulan September 2008

Bawang Merah kg 17,375 15,708 16,917 Bawang Putih kg 9,958 10,000 8,917 Cabe Merah Besar kg 20,584 19,354 19,542 Cabe Merah Keriting kg 29,563 26,583 22,083 Cabe Rawit kg 77,646 72,500 55,625 Kol kg 5,000 5,000 5,125 Buncis kg 11,250 8,813 9,000 Kelapa kg 3,000 3,000 3,083

SAYUR MAYUR SATUAN Rata-Rata Harga

Juli-08

Rata-Rata Harga Agust-08

Rata-Rata Harga Sept-08 Tabel 2.2. Inflasi September 2008 (dalam %)

Sumber: data BPS diolah

Kenaikan harga kelompok makanan jadi selain mengalami inflasi bulanan yang cukup tinggi

pada bulan September 2008 juga merupakan kelompok yang mengalami inflasi tertinggi baik

secara tahunan maupun tahun berjalan yang masing-masing mengalami inflasi sebesar

35,80% (y.o.y) untuk inflasi tahunan dan sebesar 31,53% (y.t.d) untuk inflasi tahun berjalan.

3.1 Kelompok Bahan Makanan

Inflasi pada kelompok bahan makanan pada periode laporan antara lain didorong

oleh adanya kenaikan harga sayur mayur yang tercatat mengalami inflasi sebesar 10,12%

(m.t.m) terutama untuk jenis kangkung, bayam, dan sawi hijau. Kenaikan harga sayur mayur

tersebut terjadi karena

Gambar

Tabel 2.1. Perkembangan Inflasi Provinsi Sulawesi Tenggara
Tabel  2.2. Inflasi September 2008 (dalam %)
Grafik 2.2 Perkembangan Harga Beras Periode Juli 2008- September 2008
Tabel 2.6 Perkembangan Harga Rata-Rata Beberapa Bahan Bangunan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Laju inflasi tahunan Kota Palangka Raya dan Sampit pada triwulan III-2010. tercatat masing-masing sebesar 9,11% dan 7,59% meningkat

Struktur ekonomi Propinsi Sumsel pada triw ulan II 2008 masih tetap didominasi oleh sektor primer dengan pangsa sebesar 43,64 persen.. Realisasi impor pada Tw -II tercatat

Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga tercatat mengalami inflasi sebesar minus 0,01% (q-t-q) pada triwulan I-2010, mengalami peningkatan dibandingkan kondisi triwulan

Nilai transaksi kliring perbankan di Sumatera Utara yang meliputi wilayah kerja KBI Medan, KBI Pematang Siantar dan KBI Sibolga pada triwulan IV-2009 tercatat sebesar Rp29.158

Nilai transaksi kliring di Provinsi Sumatera Utara pada triwulan III 2009 tercatat sebesar Rp.27.147 milyar atau turun 0,18% bila dibanding periode yang sama tahun sebelumnya

Pada triwulan II-2009, perkembangan harga secara umum di Sulawesi Tenggara yang digambarkan oleh perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kota Kendari tercatat mengalami

Secara tahunan (y.o.y) pertumbuhan ekonomi Maluku pada triwulan laporan tumbuh 6,95%, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun 2009 yang tercatat sebesar 5,25%

Ekspor barang dan jasa pada triwulan I-2006 diperkirakan akan mengalami laju Ekspor barang dan jasa pada triwulan I-2006 diperkirakan akan mengalami laju Ekspor barang dan jasa