HUBUNGAN KETERAMPILAN MANAJEMEN KELAS GURU DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DI SMK YAPIM MANADO
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Islam Jurusan Manajemen Pendidikan Islam
Oleh
FARHA KURNIATI 11.2.4.029
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MANADO
▸ Baca selengkapnya: pertanyaan sulit tentang manajemen kelas
(2)BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran adalah inti dari aktivitas pendidikan. Proses belajar-mengajar yang saat
ini dikenal dengan istilah pembelajaran, menjadi salah satu pokok utama penentu kualitas
pendidikan. Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003
dinyatakan bahwa “Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.”1
Oleh karena itu, pemecahan masalah dari
rendahnya kualitas pendidikan harus difokuskan pada kualitas pembelajaran.
Kegiatan pembelajaran tentunya tidak lepas dari peran guru. Dalam hal ini, guru
mempunyai peranan yang sangat penting di antaranya adalah guru sebagai sumber informasi,
guru sebagai leader sekaligus manajer di kelas, guru sebagai motivator, fasilitator, mediator
serta evaluator dalam pembelajaran. Untuk bisa menjalankan perannya dengan baik
dibutuhkan pengetahuan tentang keterampilan dalam manajemen kelas dari guru.
Pengetahuan tentang keterampilan manajemen kelas dari guru ini akan berimplikasi
pada kegiatan belajar-mengajar yang kondusif. Karena pada saat berada di dalam kelas, siswa
mengharapkan suasana belajar yang menyenangkan. Dengan cara seperti itulah mereka bisa
menyeimbangkan kemampuan antara otak kiri dan otak kanan mereka. Dalam hal ini, peran
guru sebagai manajer kelas sangatlah dibutuhkan. Guru dituntut untuk dapat mengelola kelas
dengan baik, keadaannya sangat diharapkan untuk membawa suasana belajar yang positif
bagi siswa.
1
Suasana belajar yang positif tentu tidak lepas juga dari adanya motivasi belajar pada
diri siswa. Motivasi belajar dari siswa mempunyai peranan yang cukup besar untuk
mendukung ketercapaian hasil kegiatan belajar-mengajar. Oleh karenanya, motivasi akan
sangat membantu guru dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Motivasi dapat diartikan sebagai sumber energi bagi setiap orang yang terlibat dalam
kegiatan belajar-mengajar khususnya bagi siswa untuk mencapai tujuan belajarnya. Tanpa
adanya motivasi, siswa akan sulit mengikuti kegiatan belajar-mengajar. Akan tetapi,
sebaliknya jika ada motivasi yang kuat maka seseorang akan bersungguh-sungguh dalam
mencurahkan segala pikiran, kemampuan serta perhatiannya untuk dapat mencapai tujuan
belajarnya.
Dengan demikian, keterampilan manajemen kelas guru sangatlah diperlukan untuk
menciptakan suasana kelas yang nyaman serta menyenangkan agar siswa lebih termotivasi
lagi dalam mengikuti kegiatan belajar-mengajar di kelas.
Namun, kenyataan menunjukkan masih ada beberapa guru yang mengabaikan
keterampilan manajemen kelas. Hal ini teramati pada saat melakukan observasi lapangan,
terlihat dari penataan ruang kelas yang kurang rapi, kurangnya pendekatan dan variasi dalam
mengajar yang digunakan guru dalam mengajar serta menggunakan metode pembelajaran
yang kurang menarik minat siswa dalam belajar, kurangnya kedisiplinan yang diterapkan
guru. Hal-hal semacam inilah yang dapat berpengaruh terhadap menurunnya motivasi belajar
siswa.
Adapun fenomena lainnya yang terjadi di lapangan sehubungan dengan motivasi
belajar bahwa masih ditemukan siswa yang menunjukkan perilaku seperti datang terlambat,
pergi ke kantin pada saat jam pelajaran berlangsung, malas-malasan dalam belajar, dan
menunjukkan sikap acuh tak acuh saat berada di dalam kelas. Dilihat dari beberapa
rendah, karena mungkin mereka masih menganggap bahwa kegiatan belajar-mengajar
merupakan kegiatan yang kurang menyenangkan dan mereka lebih memilih kegiatan lain di
luar kegiatan belajar.
Novan Ardy Wiyani dalam bukunya Manajemen Kelas menyatakan bahwa, “Guru
sebagai seorang manajer kelas harus mampu membangkitkan motivasi belajar siswanya.
Dengan demikian, siswa mau dan mampu belajar karena kegiatan belajar-mengajar pada
dasarnya adalah upaya guru untuk menjadikan siswa mau dan mampu untuk belajar.”2
Dilihat dari beberapa permasalahan yang ada, dapat dikatakan bahwa keterampilan
manajemen kelas guru dengan motivasi belajar siswa adalah suatu hal yang mempunyai
keterkaitan dalam kegiatan belajar-mengajar. Hal ini berarti, dengan suasana kelas yang
kondusif dapat memberikan serta mempertahankan motivasi belajar siswa, karena motivasi
siswa pada saat datang ke sekolah bisa berubah kapan saja sesuai dengan situasi sekitar yang
mempengaruhinya sehingga motivasi belajar siswa dapat berubah kapan saja sesuai dengan
situasi yang ada.
Apabila kenyataan tersebut diabaikan secara terus-menerus, maka kegiatan
belajar-mengajar di SMK Yapim Manado tidak akan berjalan dengan baik dan tujuan pendidikan
nasional pun akan sulit terwujud. Oleh karenanya, peneliti tertarik dan merasa perlu untuk
membahas lebih lanjut mengenai keterampilan manajemen kelas guru dengan motivasi
belajar siswa dalam penelitian ilmiah yang berjudul: “Hubungan keterampilan manajemen
kelas guru dengan motivasi belajar siswa di SMK Yapim Manado”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka fokus masalah penelitian ini dirumuskan
pada masalah utama yakni: (1) Keterampilan manajemen kelas guru yang cenderung rendah;
2
(2) Penataan ruang kelas yang belum maksimal; (3) Cenderung kurangnya variasi guru dalam
kegiatan belajar-mengajar; (4) Metode pembelajaran yang cenderung monoton; (5) Penerapan
disiplin sikap bagi siswa yang cenderung kurang; (6) Motivasi belajar siswa cenderung
rendah di kelas; (7) Semangat belajar yang kurang; (8) Minat belajar siswa kurang, dan; (8)
Kurangnya fokus dalam belajar.
C. Batasan Masalah
Untuk memberikan pemahaman yang mendalam, peneliti memfokuskan dan
membatasi ruang lingkup penelitian ini untuk mengkaji tentang Hubungan keterampilan
manajemen kelas guru dengan motivasi belajar siswa.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan batasan masalah, permasalahan dalam penelitian ini
dirumuskan “Apakah terdapat Hubungan keterampilan manajemen kelas guru dengan
motivasi belajar siswa di SMK Yapim Manado?”
E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui,
mengkaji, dan menguji Hubungan keterampilan manajemen kelas guru dengan motivasi
belajar siswa di SMK Yapim Manado.
F . Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian ini adalah:
1) Secara Teoretis
a. Menambah khasanah pengetahuan mengenai keterampilan manajemen kelas
guru khususnya bagi guru untuk memotivasi belajar siswa.
b. Menambah khasanah teori tentang keterampilan manajemen kelas dan
2) Secara Praktis
a. Dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan perbaikan pembelajaran
khususnya keterampilan manajemen kelas di sekolah dan motivasi belajar
siswa.
b. Dapat menjadi acuan bagi para peneliti keterampilan manajemen kelas
ataupun manajemen kelas dan motivasi belajar siswa.
G. Definisi Konseptual dan Operasional Variabel Penelitian
Secara konseptual, dapat dikatakan bahwa antara keterampilan manajemen kelas guru
dengan motivasi belajar siswa mempunyai hubungan yang erat. Karena keterampilan seorang
guru sebagai manajer kelas dituntut untuk bisa membangkitkan, memperhatikan,
meningkatkan serta mempertahankan motivasi belajar dari siswanya. Jika keterampilan
manajemen kelas yang dimiliki oleh guru baik, maka baik pula motivasi belajar dari siswa.
1) Variabel keterampilan manajemen kelas adalah keterampilan guru dalam menciptakan
dan memelihara kondisi belajar yang optimal serta keterampilan mengembalikan kondisi
belajar ke kondisi yang optimal.3 Yang diukur dari persepsi siswa terhadap keterampilan manajemen kelas guru berdasarkan:
a) Memusatkan perhatian siswa;
b) Menunjukkan sikap tanggap;
c) Memberi petunjuk yang jelas;
d) Membagi perhatian;
3Helmiati, Micro Teaching Melatih Dasar Keterampilan Mengajar, (Cet. Ke-1; Yogyakarta: Aswaja
e) Memberi teguran secara bijaksana;
f) Memberi penguatan ketika diperlukan;
g) Mengelola kelompok;
h) Memodifikasi tingkah laku.4
Persepsi tersebut dicari dengan menggunakan angket pola skala likert.
2) Variabel motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa
yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan
belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang
dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.5 Yang diukur dari persepsi siswa terhadap motivasi belajar berdasarkan:
a) Semangat dalam belajar;
b) Tekun dalam belajar;
c) Perhatian dalam belajar;
d) Rasa ingin tahu;
e) Mandiri dalam belajar;
f) Lingkungan belajar;
g) Prestasi belajar.6
Persepsi tersebut dicari dengan menggunakan angket pola skala likert.
4Novan Ardy Wiyani, op. cit., h. 91-98.
5Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar , (Cet. Ke-22; Jakarta: Rajawali Pers, 2014), h. 75.
BAB II
KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS
A. Kajian Teori
1. Keterampilan Manajemen Kelas Guru a. Pengertian Keterampilan Manajemen Kelas
Keterampilan berasal dari kata “terampil” yang diberi awalan kata “ke-“ dan akhiran
“-an”. Terampil berasal dari bahasa Jawa, yang artinya: kedua buah tangan yang kita miliki
dapat dipergunakan untuk mengerjakan pekerjaan secara cepat, tepat, dan baik. Setelah
dijadikan bahasa Indonesia, kata itu tidak hanya mencakup tugas tangan, tetapi termasuk
tugas seluruh anggota tubuh. Mungkin kata lain yang sama pengertiannya adalah “cekatan”.7
Secara etimologis, kata manajemen merupakan terjemahan dari management (bahasa
Inggris). Kata management tersebut berasal dari kata manage atau magiare yang berarti
melatih kuda dalam melangkahkan kakinya. Dalam pengertian manajemen tersebut
mengandung dua kegiatan, yaitu kegiatan berpikir (mind) dan kegiatan tingkah laku (action).
Manajemen merupakan rangkaian kegiatan yang berupa proses perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan, dan penilaian untuk mencapai tujuan organisasi yang telah
ditetapkan.8 Berikut ini merupakan ayat yang terkait dengan manajemen:
8Novan Ardy Wiyani, Manajemen Kelas: Teori dan Aplikasi untuk Menciptakan Kelas yang Kondusif,
Terjemahnya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash-Shaff [61]: 4)9
Dalam ayat ini disebutkan bahwa Allah Swt., menyukai orang mukmin yang berjuang
dalam sebuah bangunan yang kokoh. Ciri dari bangunan yang kokoh adalah seluruh
komponen di dalamnya saling menguatkan satu sama lain. Dapat dirinci, bahwa soliditas
organisasi memiliki tiga ciri, yaitu masing-masing komponen di dalamnya bisa menguatkan
satu dengan yang lain, bersinergi dalam bekerja serta memiliki program yang jelas, termasuk
pembagian pelaksanaan program (pembagian potensi dan pemanfaatan kemampuan). Dalam
hal ini, diperlukan adanya ketepatan di dalam penempatan orang.10
Dapat dipahami bahwa Allah Swt., menganjurkan untuk melakukan sesuatu yang
terorganisir dan direncanakan dengan matang. Hal ini bertujuan untuk terciptanya suatu
kesatuan yang kokoh dalam suatu organisasi demi tercapainya tujuan yang ingin dicapai.
Sedangkan, manajemen kelas terdiri dari dua kata, yaitu manajemen dan kelas.
Manajemen merupakan rangkaian usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan
memanfaatkan orang lain, sedangkan yang dimaksud dengan kelas adalah suatu kelompok
orang yang melakukan kegiatan belajar bersama sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan,
dalam kelas tersebut, guru berperan sebagai manajer utama dalam merencanakan,
mengorganisasikan, mengaktualisasikan, dan melaksanakan pengawasan atau supervisi
kelas.11
H. Mulyadi dalam bukunya Classroom Management menyatakan bahwa, manajemen
kelas barasal dari dua kata yaitu, manajemen dan kelas. Manajemen dari kata management,
9Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya, Juz ke-28, Ash-Shaff: 4, h. 551.
10
www.fhacink.blogspot.com/2010/10/ayat-ayat.html?m=1 diakses pada 15 Maret 2015.
11Euis Karwati dan Donni Juni Priansa, Manajemen Kelas (Classroom Management), (Cet. Ke-1;
yang diterjemahkan pula menjadi pengelolaan, berarti proses penggunaan sumber daya secara
efektif untuk mencapai sasaran. Sedangkan pengelolaan adalah proses yang memberikan
pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan dan pencapaian tujuan.
Manajemen kelas mengacu kepada penciptaan suasana atau kondisi kelas yang
memungkinkan siswa dalam kelas tersebut untuk dapat belajar dengan efektif.12
J.M. Cooper, mengemukakan lima definisi cla ssroom management/ pengelolaan
kelas, yaitu:
a. Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan
mempertahankan ketertiban suasana kelas. Definisi ini memandang pengelolaan kelas
sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa.
b. Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan
siswa. Definisi ini didasarkan atas pandangan yang bersifat “permisif”.
c. Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah
laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak
diinginkan. Definisi ketiga ini didasarkan pada prinsip-prinsip mengubah tingkah laku
siswa.
d. Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan
interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif. Definisi
keempat ini memandang pengelolaan kelas sebagai proses penciptaan iklim
sosio-emosional yang positif di dalam kelas.
e. Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan
mempertahankan organisasi kelas yang efektif. Definisi kelima ini menganggap kelas
merupakan sistem sosial dengan proses kelompok (group process) sebagai intinya,
pengajaran berlangsung dalam kaitannya dengan suatu kelompok, tetapi belajar
dianggap sebagai proses individual, maka kehidupan kelas dalam kelompok
dipandang mempunyai pengaruh yang sangat berarti terhadap kegiatan belajar. 13 Menurut Novan Ardy Wiyani, manajemen kelas adalah keterampilan guru sebagai
seorang leader sekaligus manajer dalam menciptakan iklim kelas yang kondusif untuk meraih
kegiatan belajar-mengajar.14
Dengan demikian, manajemen kelas atau pengelolaan kelas adalah seperangkat
kegiatan dan usaha yang dilakukan oleh guru dalam menciptakan suasana kelas yang
kondusif untuk mencapai tujuan dari kegiatan belajar-mengajar yang telah ditetapkan.
Sedangkan, keterampilan mengelola kelas merupakan keterampilan guru untuk
menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikan ke kondisi
yang optimal jika terjadi gangguan, baik dengan cara mendisiplinkan ataupun melakukan
kegiatan remedial.15
Keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan guru dalam menciptakan dan
memelihara kondisi belajar yang optimal serta keterampilan mengembalikan kondisi belajar
ke kondisi yang optimal bila terdapat gangguan dalam proses belajar baik yang bersifat
gangguan kecil dan sementara maupun gangguan yang berkelanjutan. Dalam bahasa lain,
keterampilan mengelola kelas dapat diartikan sebagai seni atau keterampilan guru dalam
mengoptimalkan sumber daya kelas bagi penciptaan proses pembelajaran yang efektif dan
efisien.16
13
Mudasir, Manajemen Kelas, (Cet. Ke-1; Riau: Zanafa Publishing, 2011), h. 2-4.
14Novan Ardy Wiyani, op. cit., h. 59.
15Zainal Asril, Micro Teaching: Disertasi dengan Pedoman Pengalaman Lapangan, (Cet. Ke-5;
Jakarta: Rajawali Pers, 2013), h. 72-73.
16
Dengan demikian, keterampilan manajemen kelas dapat diartikan juga sebagai
kecakapan dari seorang guru dalam mengelola kelas untuk menciptakan dan memelihara
kondisi kelas yang kondusif serta optimal dalam penciptaan kegiatan belajar mengajar yang
efektif dan efisien untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan.
b. Tujuan Manajemen Kelas
Secara umum, manajemen kelas bertujuan untuk menciptakan suasana kelas yang
nyaman sebagai tempat berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar. Dengan demikian,
kegiatan tersebut akan dapat berjalan dengan efektif dan terarah sehingga tujuan belajar yang
telah ditetapkan dapat tercapai demi terbentuknya sumber daya manusia yang berkualitas.
Secara lebih khusus, Syaiful Bahri Djamarah mengungkapkan tujuan manajemen kelas
sebagai berikut:17 a. Untuk Siswa
1) Mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah
lakunya dan kebutuhan untuk mengontrol diri.
2) Membantu siswa mengetahui perilaku yang sesuai dengan tata tertib kelas dan
bukan kemarahan.
3) Membangkitkan rasa tanggung jawab untuk melibatkan diri dalam tugas dan pada
kegiatan yang diadakan.
b. Untuk guru
1) Mengembangkan pemahaman dalam penyajian pelajaran dengan pembukaan yang
lancar dan kecepatan yang tepat.
2) Menyadari kebutuhan siswa dan memiliki kemampuan dalam memberi petunjuk
secara jelas kepada siswa.
3) Mempelajari bagaimana merespons secara efektif terhadap tingkah laku siswa yang
mengganggu.
4) Memiliki strategi remedial yang lebih komprehensif yang dapat digunakan dalam
hubungannya dengan masalah perilaku siswa yang muncul di dalam kelas.
c. Komponen Keterampilan Manajemen Kelas
Dari beberapa uraian di atas, maka yang dimaksud keterampilan manajemen kelas
adalah kecakapan atau kemampuan seorang guru untuk menyelesaikan tugasnya sebagai
manajer kelas dalam mengelola kelas. Di dalam keterampilan manajemen kelas terdapat
komponen keterampilan manajemen kelas yang harus dimiliki oleh guru dalam mengelola
kelas.
Secara garis besar keterampilan mengelola kelas terbagi dua bagian, yaitu:18
a) Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar
yang optimal. Dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas terjadi komunikasi antara
guru dengan siswa. Keberhasilan kegiatan belajar-mengajar di kelas pun sangat
dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari faktor guru dan siswa itu sendiri, sarana
penunjang kegiatan belajar-mengajar di kelas, hingga iklim kelas. Iklim kelas tersebut
secara sederhana dapat diartikan dengan suasana kelas. Cara-cara penciptaan dan
pemeliharaan kondisi kelas adalah sebagai berikut:
1. Memusatkan perhatian siswa
Hal ini dilakukan dalam rangka mempersiapkan siswa dalam pembelajaran
dengan cara memperhatikan sikap dan mengatur tempat duduk siswa, serta
memulai pelajaran setelah nampak siswa siap belajar.
2. Menunjukkan sikap tanggap
Guru memperlihatkan sikap positif terhadap setiap perilaku yang muncul pada
siswa dan memberikan tanggapan-tanggapan atas perilaku tersebut dengan
maksud tidak menyudutkan kondisi siswa, perasaaan tertekan dan memunculkan
perilaku susulan yang kurang baik.
3. Membagi perhatian
Kelas diisi lebih dari satu orang akan tetapi sejumlah orang (siswa) yang memiliki
keterbatasan-keterbatasan yang berbeda-beda yang membutuhkan bantuan dan
pertolongan dari guru.
4. Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas
Untuk mengarahkan kelompok ke dalam pusat perhatian seperti dijelaskan di atas
juga memudahkan anak menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya
maka tugas guru adalah memaparkan setiap pelaksanaan yang harus dilaksanakan
anak secara bertahap dan jelas. Untuk itu, sebelum mengajar seorang guru harus
membuat perencanaan pengajaran yang matang sebelum masuk kelas dan pada
saat mengajar di kelas seorang guru harus melaksanakan kegiatan mengajar sesuai
dengan apa yang telah direncanakannya.19 5. Memberi teguran secara bijaksana
Permasalahan bisa terjadi dalam hubungannya antara siswa dengan siswa dan
siswa dengan guru. Permasalahan dalam hubungan tersebut bisa terjadi dan dalam
konteks pembelajaran, sehingga guru sebagai pemegang kendali kelas harus
mampu memberikan teguran yang bijak sesuai dengan tugas dan perkembangan
siswa. Hal ini dapat juga dilakukan dengan cara pemberian hukuman.
Hendaklah ketika memberikan hukuman seorang guru harus memberikan
hukuman sebagai jawaban atas suatu pelanggaran, hukuman tersebut harus
bersifat tidak menyenangkan, dan hukuman tersebut diberikan semata-mata untuk
kepentingan siswa itu sendiri, yaitu agar mereka dapat memperbaiki diri. Hindari
pemberian hukuman atas dasar dendam atau kebencian terhadap si siswa.20 6. Memberi penguatan ketika diperlukan
Penguatan adalah upaya yang diarahkan agar prestasi yang dicapai dan
perilaku-perilaku yang baik dapat dipertahankan oleh siswa atau bahkan mungkin
ditingkatkan dan dapat ditularkan kepada siswa lainnya.
b) Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal.
Hal ini dapat dilakukan dengan cara-cara:
1. Memodifikasi tingkah laku
Memodifikasi tingkah laku adalah menyesuaikan bentuk-bentuk tingkah laku ke
dalam tuntutan kegiatan pembelajaran sehingga tidak muncul prototype pada diri
anak tentang peniruan perilaku yang kurang baik.
Dalam hal ini guru bisa mengatasinya dengan pembinaan disiplin. Dengan
kedisiplinan, siswa bersedia untuk tunduk dan mengikuti tata tertib kelas dan
menjauhi berbagai larangan di dalam kelas. Fungsi utama disiplin adalah untuk
mengajar mengendalikan diri dengan mudah, menghormati, dan mematuhi
otoritas. Dalam mendidik siswa perlu disiplin, tegas dalam hal apa yang harus
dilakukan dan apa yang dilarang serta tidak boleh dilakukan. Disiplin perlu dibina
pada diri siswa agar mereka mudah dapat:21
1. Meresapkan pengetahuan dan pengertian sosial secara mendalam dalam
dirinya.
20Ibid., h. 78.
2. Mengerti dengan segera untuk menjalankan apa yang menjadi kewajibannya
dan secara langsung mengerti larangan-larangan yang harus ditinggalkan.
3. Mengerti dan dapat membedakan perilaku yang baik dan perilaku yang buruk.
4. Belajar mengendalikan keinginan dan berbuat sesuatu tanpa adanya peringatan
dari orang lain.
2. Pengelolaan kelompok
Kelompok kecil ataupun kelompok belajar di kelas adalah merupakan bagian dari
pencapaian tujuan pembelajaran dan strategi yang diterapkan oleh guru. Untuk
kelancaran pembelajaran dan pencapaian tujuan pembelajaran maka kelompok
yang ada di kelas itu harus di kelola dengan baik oleh guru.
Guru dapat menggunakan pendekatan kerja kelompok dalam pengelolaan
kelompok. Peran guru dalam pendekatan ini adalah mengusahakan agar
perkembangan dan pelaksanaan proses kelompok tersebut efektif. Proses
kelompok sendiri diartikan sebagai usaha mengelompokkan siswa ke dalam
beberapa kelompok dengan berbagai pertimbangan individual sehingga tercipta
kelas yang kondusif untuk kegiatan belajar-mengajar. Kegiatan yang sering
dilakukan untuk menerapkan pendekatan kerja kelompok ini adalah dengan
resitasi, yaitu memberikan tugas kepada siswa secara berkelompok. Guru sebagai
seorang manajer hendak menerapkan pendekatan ini, ia harus melakukan
pengawasan yang ketat terhadap semua kelompok yang telah dibentuknya. Hal itu
dilakukan agar terjalin hubungan yang harmonis intra kelompok serta
antarkelompok.22
3. Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.
Permasalahan memiliki sifat perennial (akan selalu ada) dan nurturan effect, oleh
karena itu permasalahan akan muncul di dalam kelas kaitannya dengan interaksi
dan akan diikuti oleh dampak pengiring yang besar bila tidak bisa diselesaikan.
2. Motivasi Belajar
Di dalam keterampilan manajemen kelas guru, salah satu komponen penting dalam
belajar yang harus diperhatikan oleh guru adalah motivasi. Kemauan siswa untuk berusaha
dalam belajar merupakan sebuah produk dari berbagai macam faktor, karakteristik,
kepribadian dan kemampuan siswa untuk berusaha dalam belajar merupakan sebuah produk
dari berbagai macam faktor, karakteristik kepribadian dan kemampuan siswa untuk
menyelasaikan tugas tertentu, incentive untuk belajar, situasi dan kondisi, serta performansi
guru.
Siswa belajar karena didorong oleh kekuatan mentalnya. Kekuatan mental itu berupa
keinginan, perhatian, kemauan atau cita-cita. Kekuatan mental tersebut dapat tergolong
rendah atau tinggi, dorongan inilah yang disebut dengan motivasi.
a. Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari kata latin “movere” yang berarti dorongan, daya penggerak atau kekuatan yang menyebabkan suatu tindakan atau perbuatan. Kata “movere” dalam bahasa
Inggris, sering disepadankan dengan “motivation” yang berarti pemberian motif, penimbulan
motif, atau hal yang memberikan dorongan atau keadaan yang menimbulkan dorongan.23
Armstrong menyatakan bahwa: “A motive is a reason for doing something. Motivation
is concerned with the strength and direction of behavior and the factors than influence people
to behave in certain ways. The term „motivaton‟ can refer variously to the goods individuals
have, the ways in which individuals choose their goals and the ways in which others try to
change their behavior. The three components of motivation is: a) Direction, what a person is
trying to do; b) Effort, how hard a person is trying; c) Persistence, how long a person keeps
on trying.” (Motif adalah alasan untuk melakukan sesuatu. Motivasi berkaitan dengan
kekuatan dan arah perilaku dan faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang untuk
berperilaku dengan cara tertentu. Istilah motivasi dapat merujuk kepada berbagai tujuan yang
dimiliki oleh individu, cara dimana individu memilih tujuan, dan cara dimana orang lain
mencoba untuk mengubah perilaku mereka. Tiga komponen motivasi adalah: a) Arah, apa
yang orang coba lakukan; b) Upaya, seberapa keras seseorang mencoba; dan c) Kegigihan,
berapa lama seseorang terus mencoba.)24
Menurut Atkinson, yang menyatakan motivasi adalah sebuah istilah yang mengarah
kepada adanya kecenderungan bertindak untuk menghasilkan satu atau lebih
pengaruh-pengaruh.25
Menurut McDonald, “Motivation is a energy change within the person characterized
by affective arousal and anticipatory goal reactions.” (Motivasi adalah suatu perubahan
energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk
mencapai tujuan).26 Dalam definisi demikian, maka pada dasarnya motivasi merupakan proses yang terjadi di dalam diri individu yang mengarahkan aktivitas individu mencapai
tujuan yang perlu didorong dan dijaga.
24Ibid., h. 166.
25Esa Nur Wahyuni, Motivasi dalam Pembelajaran, (Malang: UIN-Malang Press, 2010), h. 12.
Ada tiga komponen utama dalam motivasi, yaitu:
1. Kebutuhan
Kebutuhan terjadi bila individu merasa ada ketidakseimbangan antara apa yang ia
miliki dan yang ia harapkan. Maslow membagi kebutuhan menjadi lima tingkat
yaitu:27
a) Kebutuhan fisiologis, berkenaan dengan kebutuhan pokok manusia seperti
pangan, sandang, dan perumahan.
b) Kebutuhan rasa aman, berkenaan dengan keamanan yang bersifat fisik dan
psikologis.
c) Kebutuhan sosial, berkenaan dengan perwujudan berupa diterima oleh orang lain,
jati diri yang khas, berkesempatan maju, merasa diikutsertakan, dan pemilikan
harga diri.
d) Kebutuhan akan penghargaan diri.
e) Kebutuhan aktualisasi diri, berkenaan dengan kebutuhan individu untuk menjadi
sesuatu yang sesuai dengan kemampuannya.
2. Dorongan
Dari segi dorongan, menurut Hull dorongan atau motivasi berkembang untuk
memenuhi kebutuhan organisme. Disamping itu juga merupakan sistem yang
memungkinkan organisme dapat memelihara kelangsungan hidupnya.
Kebutuhan-kebutuhan organisme merupakan penyebab munculnya dorongan, dan dorongan akan
mengaktifkan tingkah laku mengembalikan keseimbangan fisiologis organisme. Hull
memang menekankan dorongan sebagai motivasi penggerak utama perilaku, tetapi
kemudian juga tidak sepenuhnya menolak adanya pengaruh faktor-faktor eksternal.
27
Dalam hal ini, insentif (hadiah atau hukuman) mempengaruhi intensitas dan kualitas
tingkah laku organisme.28 3. Tujuan
Dari segi tujuan, maka tujuan merupakan pemberi arah pada perilaku. Secara
psikologis, tujuan merupakan titik akhir “sementara” pencapaian kebutuhan.Jika
tujuan tercapai, maka kebutuhan terpenuhi untuk “sementara”. Jika kebutuhan
terpenuhi, maka orang menjadi puas, dan dorongan mental untuk berbuat “terhenti
sementara”.29
Sedangkan, belajar dianggap sebagai proses perubahan perilaku sebagai akibat dari
pengalaman dan latihan. Hilgard mengungkapkan “Learning is the process by which an
activity originates or changed through training procedurs (whether in laboratory or in the
moral environment) as distinguished from changes by factors not attributable to training.”30
(Belajar adalah proses dimana suatu kegiatan berasal atau berubah melalui Prosedur dasar
pelatihan (baik di laboratorium atau dalam lingkungan moral) yang dibedakan dari perubahan
oleh faktor tidak disebabkan pelatihan). Bagi Hilgard, belajar itu adalah proses perubahan
melalui kegiatan atau prosedur latihan baik latihan di dalam laboratorium maupun di dalam
lingkungan alamiah.
Motivasi belajar adalah perilaku dan faktor-faktor yang mempengaruhi siswa untuk
berperilaku terhadap proses belajar yang dialaminya. Motivasi belajar merupakan proses
28Ibid., h. 82.
29
Ibid., h. 83.
30Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Cet. Ke-6; Jakarta:
yang menunjukkan intensitas siswa dalam mencapai arah dan tujuan proses belajar yang
dialaminya.31
Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya
penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin
kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar,
sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.32
Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan
perilaku manusia termasuk perilaku belajar. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan
yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan perilaku
individu belajar.33
Thomas M. Risk memberikan pengertian motivasi belajar sebagai berikut:
”We may define motivation in a pedagogical sense, as the conscious effort on the part of the teacher to establish in students motivies leading to sustained activity toward the learning goals.” 34
(Kita dapat mendefinisikan motivasi dalam arti pedagogis, sebagai bagian upaya sadar dari
guru untuk membangun motif-motif pada siswa yang mengarah kepada aktivitas
berkelanjutan terhadap pembelajaran yang baik).35
Jadi motivasi belajar adalah suatu daya penggerak yang timbul di dalam diri seorang
siswa yang perlu didorong dan dijaga agar dapat mengarahkan aktivitas belajar siswa untuk
mencapai tujuan belajarnya.
31Euis Karwati dan Donni Juni Priansa, op. cit., h. 167.
32Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Cet. Ke-22; Jakarta: Rajawali Pers, 2014), h.
75.
33
Dimyati dan Mudjiono, op. cit., h. 80.
34Ahmad Rohani H.M dan Abu Ahmadi, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), h.
10.
b. Sifat Motivasi
Berdasarkan pengertian dan analisis motivasi yang dikemukakan di atas, pada
pokoknya motivasi memiliki dua sifat, yakni motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik, yang
saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
1. Motivasi Intrinsik (Rangsangan dari Dalam Diri Siswa)
Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu
dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap siswa sudah ada dorongan untuk
melakukan sesuatu.36Motivasi ini sering disebut “motivasi murni” atau motivasi yang sebenarnya, yang timbul dari dalam siri siswa, misalnya keinginan untuk mendapat
keterampilan tertentu, memperoleh informasi dan pemahaman, mengembangkan sikap
untuk berhasil, menikmati kehidupan, secara sadar memberikan sumbangan kepada
kelompok, keinginan untuk diterima oleh orang lain, dan sebagainya. Motivasi ini
timbul tanpa pengaruh dari luar.37 Faktor individual yang biasanya mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu adalah:
a. Minat
Siswa akan merasa terdorong untuk belajar, jika kegiatan belajar tersebut sesuai
dengan minatnya.
b. Sikap Positif
Siswa yang mempunyai sifat positif terhadap suatu kegiatan, maka ia akan
berusaha sebisa mungkin menyelesaikan kegiatan tersebut dengan sebaik-baiknya.
c. Kebutuhan
Siswa mempunyai kebutuhan tertentu dan akan berusaha melakukan kegiatan
apapun sesuai kebutuhannya.
36Euis Karwati dan Donni Juni Priansa, op. cit., h. 167.
Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri siswa tanpa adanya paksaan dorongan dari
oeang lain. Motivasi pada dasarnya memang sudah ada di dalam diri setiap siswa.
2. Motivasi Ekstrinsik (Rangsangan dari Luar)
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya
perangsang dari luar.38 Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar situasi belajar, seperti: angka, kredit, ijazah, tingkatan, hadiah,
medali, pertentangan dan persaingan.39 Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar siswa, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari
orang lain, sehingga dengan keadaan demikian maka siswa mau melaksanakan
sesuatu contohnya belajar. Bagi siswa dengan motivasi intrinsik yang lemah, misalnya
kurang rasa ingin tahunya, maka motivasi jenis kedua ini perlu diberikan.
Gambar 2.1 Sumber Motivasi Siswa
(Diadaptasi dari Euis Karwati dan Donni Juni Priansa, Manajemen Kelas, 2014)
Kemunculan sifat motivasi, apakah intrinsik atau motivasi ekstrinsik bergantung dan
dipengaruhi oleh berbagai faktor, yakni:
38Euis Karwati dan Donni Juni Priansa, op. cit., h. 168.
39Oemar Hamalik, op. cit ., h. 112-113.
Motivasi Ekstrinsik
Motivasi Ekstrinsik
Motivasi Ekstrinsik
Siswa
1) Tingkat kesadaran diri siswa atas kebutuhan yang mendorong tingkah
laku/perbuatannya dan kesadaran atas tujuan belajar yang hendak dicapainya.
2) Sikap guru terhadap kelas; guru yang bersikap bijak dan selalu merangsang siswa
untuk berbuat ke arah suatu tujuan yang jelas dan bermakna bagi kelas, akan
menumbuhkan sifat intrinsik itu, tetapi bila guru lebih menitikberatkan pada
rangsangan-rangsangan sepihak maka sifat ekstrinsik menjadi lebih dominan.
3) Pengaruh kelompok siswa. Bila pengaruh kelompok terlalu kuat maka
motivasinya lebih condong ke sifat ekstrinsik.
4) Suasana kelas juga berpengaruh terhadap muncul sifat tertentu pada motivasi
belajar siswa. Suasana kebebasan yang bertanggung jawab tentunya lebih
merangsang munculnya motivasi intrinsik dibandingkan dengan suasana penuh
tekanan dan paksaan.40
Memberikan motivasi kepada seseorang siswa, berarti menggerakkan siswa untuk
melakukan sesuatu atau ingin melakukan sesuatu. Pada tahap awalnya akan menyebabkan si
subjek belajar merasa ada kebutuhan dan ingin melakukan sesuatu kegiatan belajar. Dengan
demikian, dapatlah ditegaskan bahwa motivasi akan selalu berkait dengan kebutuhan. Sebab
seseorang akan terdorong melakukan sesuatu bila merasa ada suatu kebutuhan.
Beberapa cara untuk menumbuhkan motivasi adalah melalui cara mengajar yang
bervariasi, mengadakan pengulangan informasi, memberikan stimulus baru misalnya melalui
pertanyaan-pertanyaan kepada siswa, memberi kesempatan siswa untuk menyalurkan
keinginan belaljar menggunakan media dan alat bantu yang menarik perhatian siswa seperti
gambar, foto, diagram, dan sebagainya.
c. Pentingnya Motivasi Dalam Belajar
Motivasi belajar penting bagi siswa dan guru. Bagi siswa pentingnya motivasi belajar
adalah sebagai berikut: (1) Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses, dan hasil
akhir, (2) Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar, yang dibandingkan dengan
teman sebaya, (3) Mengarahkan kegiatan belajar, (4) Membesarkan semangat belajar, dan (5)
Menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja (di sela-selanya adalah
istirahat atau bermain) yang berkesinambungan, individu dilatih untuk menggunakan
kekuatannya sedemikian rupa sehingga dapat berhasil. Kelima hal tersebut menunjukkan
betapa pentingnya motivasi tersebut disadari oleh pelakunya sendiri. Bila motivasi disadari
oleh pelaku, maka sesuatu pekerjaan dalam hal ini tugas belajar akan terselesaikan dengan
baik.41
Motivasi belajar juga penting diketahui oleh seorang guru. Pengetahuan dan
pemahaman tentang motivasi belajar pada siswa bermanfaat bagi guru, manfaat itu sebagai
berikut; (1) Membangkitkan bila siswa tak bersemangat, meningkatkan bila semangat
belajarnya timbul tenggelam, dan memelihara bila semangatnya telah kuat untuk mencapai
tujuan belajar, (2) Mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa di kelas
ragam, (3) Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu diantara
bermacam-macam peran seperti sebagai penasihat, fasilitator, instruktur, teman diskusi, penyemangat,
pemberi hadiah atau pendidik. Peran pedagogis tersebut sudah barang tentu dilakukan sesuai
dengan perilaku siswa, dan (4) Memberi peluang guru untuk “unjuk kerja” rekayasa
pedagogis. Tugas guru adalah membuat semua siswa belajar sampai berhasil. Tantangan
profesionalnya justru terletak pada “mengubah” siswa tak berminat menjadi bersemangat
belajar.“Mengubah” siswa cerdas yang acuh tak acuh menjadi bersemangat belajar.42
B. Hubungan keterampilan manajemen kelas guru dengan motivasi belajar siswa
Dari beberapa uraian di atas, bisa dikatakan bahwa antara keterampilan manajemen
kelas guru dengan motivasi siswa mempunyai hubungan yang erat. Karena keterampilan
seorang guru sebagai manajer kelas dituntut untuk bisa membangkitkan, memperhatikan,
meningkatkan serta mempertahankan motivasi belajar dari siswanya.
Novan Ardy Wiyani dalam bukunya Manajemen Kelas menyatakan bahwa, “Guru
sebagai seorang manajer kelas harus mampu membangkitkan motivasi belajar siswanya.
Dengan demikian, siswa mau dan mampu belajar karena kegiatan belajar-mengajar pada
dasarnya adalah upaya guru untuk menjadikan siswa mau dan mampu untuk belajar.”43
Menurut Mudasir, “Manajemen kelas ialah segala usaha yang diarahkan untuk
mewujudkan suasana pembelajar yang efektif dan menguntungkan serta dapat memotivasi
siswa untuk dapat belajar dengan baik sesuai kemampuan.”44
Dalam konteks keterampilan manajemen kelas guru, motivasi belajar dari siswa juga
berperan penting untuk terselenggaranya kegiatan belajar mengajar yang efektif. Karena jika
keterampilan manajemen kelas yang dimiliki oleh guru baik, maka hal tersebut akan
menimbulkan feedback yang baik pula dari para siswa yang berupa motivasi belajar. Motivasi
belajar ini yang sangat diharapkan oleh guru, karena jika setiap siswanya mempunyai
motivasi dalam belajar, maka hal tersebut akan membantu guru untuk mencapai tujuan dari
kegiatan belajar mengajar yang telah ditetapkan.
Dari pengertian di atas telah menunjukkan bahwa betapa pentingnya kedudukan
manajemen kelas dalam dunia pendidikan, khususnya dalam kegiatan belajar mengajar,
utamanya untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam pencapaian tujuan yang diinginkan.
42Ibid., h. 85-86.
43Novan Ardy Wiyani, op. cit., h. 77.
C. Hasil Penelitian yang Relevan
Adapun beberapa penelitian yang sudah pernah dilakukan oleh peneliti lain mengenai
manajemen kelas dan motivasi belajar siswa. Disini peneliti ingin melakukan perbandingan
dengan hasil penelitian lain bahwa penelitian yang berjudul Hubungan antara Keterampilan
Manajemen Kelas Dengan Motivasi Belajar Siswa berbeda dengan penelitian-penelitian yang
pernah ada sebelumnya. Berikut merupakan hasil perbandingannya:
1. Hubungan keterampilan guru dalam mengelola kelas dengan motivasi belajar siswa
(studi korelasi di SD Negeri Harapan Jaya XV Bekasi Utara) yang dilakukan oleh
Ratih Endang Palupi dan Rini Endah Sugiharti pada tahun 2014. Persamaan dari
penelitian ini adalah membahas mengenai hubungan keterampilan guru dalam
mengelola kelas dan motivasi belajar. Sedangkan perbedaannya terletak pada waktu
dan tempat pelaksanaan penelitian.
Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah apakah terdapat hubungan
keterampilan guru dalam mengelola kelas dengan motivasi belajar siswa. Metode
yang digunakan dalam penelitian ini kuantitatif dengan pendekatan korelasional.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Negeri Harapan Jaya
XV. Sedangkan sampel yang digunakan adalah siswa kelas VA dan VB dengan
jumlah 100 siswa. Dari hasil perhitungan melalui SPSS peneliti mendapat nilai rxy product moment sebesar 0,606 yang berarti H1 diterima dengan koefisien determinasi
(R2) sebesar 36,7% menunjukkan angka kontribusi dari keterampilan guru dalam mengelola kelas terhadap motivasi belajar siswa. Sedangkan, 63,3% dipengaruhi oleh
faktor lain. Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang
signifikan antara keterampilan guru dalam mengelola kelas dengan motivasi belajar
2. Hubungan antara pengelolaan kelas dengan prestasi belajar siswa di MTs Al-Kautsar
Depok yang dilakukan oleh Abdul Muiz pada tahun 2010. Persamaan dari penelitian
ini adalah membahas mengenai pengelolaan kelas. Dalam penelitian ini juga
menggunakan studi korelasi. Sedangkan perbedaannya adalah penelitian tentang
mencari hubungan pengelolaan kelas dengan prestasi belajar siswa.
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah mengenai bagaimana
pelaksanaan pengelolaan kelas full day dan bagaimana prestasi belajar siswa setelah
mengikuti pembelajaran dengan sistem full day. Metode yang digunakan adalah
metode deskriptif korelasi. Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh siswa
full day MTs Al-Kautsar Depok, sedangkan populasi terjangkau adalah siswa kelas
VII dan VIII MTs Al-Kautsar Depok yang berjumlah 44 siswa. Dalam menentukan
jumlah sampel, peneliti menggunakan rumus pengembangan Isaac dan Michael,
sedangkan teknik pengambilannya menggunakan proporsional random sampling.
Teknik pengumpulan data menggunakan kuisioner, dokumentasi, dan observasi.
Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis Product Moment, uji
signifikansi dan koefisien determinan. Pada hasil analisis data, diperoleh rhitung (0,444)
> rtabel (0,304) pada taraf signifikansi 5% sedangkan pada taraf signifikansi 1% rtabel =
0,393, menunjukkan bahwa rhitung > rtabel (0,444 > 0,393). Dari hasil penelitian, peneliti
menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengelolaan kelas dengan prestasi
belajar siswa, dan kontribusi antara pengelolaan kelas terhadap prestasi belajar siswa
pada penelitian ini sebesar 19,36% sedangkan sisanya 80,64% dari faktor lain.
3. Pengaruh Pengelolaan Kelas Terhadap Pembelajaran Efektif Pada Mata Pelajaran IPS
di SMP Al-Mubarak Pondok Aren Tanggerang Selatan yang dilakukan oleh Diana
Widyarani pada tahun 2011. Persamaan pada penelitian ini adalah membahas
suatu pengaruh dan pada teknik analisis data menggunakan regresi. Perumusan
masalah yang ada pada penelitian ini adalah bagaimana pengelolaan kelas yang
efektif dan kondusif dalam pembelajaran serta adakah pengaruh dari hasil pengelolaan
kelas terhadap pembelajaran yang efektif pada mata pelajaran IPS.
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Metode yang digunakan pada penelitian ini
adalah metode survey dengan teknik kuantitatif. Sampel dari penelitian ini adalah
siswa-siswi SMP Al-Mubarak Tanggerang Selatan kelas VII yang berjumlah 32
siswa. Pada pengumpulan data, peneliti menggunakan angket. Dari hasil perhitungan
didapat rxy product moment sebesar 0,739% maka H1 diterima. Dengan demikian
terdapat hubungan atau pengaruh yang signifikan antara pengelolaan kelas dengan
pembelajaran efektif pada mata pelajaran IPS. Koefisien determinasi sebesar 54,6%
menunjukkan bahwa pengelolaan kelas memberikan kontribusi dan pembelajaran
efektif pada mata pelajaran IPS sebesar 54,6%. Sedangkan 45,4% pembelajaran
efektif pada mata pelajarn IPS dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti kemampuan
intelektual, minat, dan bakat siswa.
4. Strategi Pengelolaan Kelas Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Bahasa Arab
Siswa MI Miftahul Huda Bengkal Temanggung yang dilakukan oleh Aditia Pramana
pada tahun 2013. Persamaan yang ada pada penelitian ini adalah berkaitan dengan
pengelolaan kelas dan motivasi belajar. Akan tetapi ada beberapa perbedaan,
diantaranya adalah pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan
pengambilan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumen.
Perumusan masalah yang ada pada penelitian ini adalah: (1) Bagaimana pelaksanaan
strategi pengelolaan kelas dalam meningkatkan motivasi belajar bahasa Arab siswa
MI Miftahul Huda Bengakl Temanggung; (2) Bagaimana motivasi belajar bahasa
pengelolaan kelas; dan (3) Apa saja faktor pendukung dan penghambat strategi
pengelolaan kelas dalam meningkatkan motivasi belajar bahasa Arab siswa MI
Miftahul Huda Bengkal Temanggung.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pengambilan data dilakukan dengan
observasi, wawancara, dokumen, dan angket. Sedangkan teknik analisis data
menggunakan analisis deskriptif kualitatif yang ditunjang teknik presentase: P = �
� x
100%. Pada hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Pelaksanaan strategi
pengelolaan kelas yang dilakukan guru bahasa Arab meliputi: a) Keterampilan
mengelola kelas yaitu: 1. Pengaturan kondisi fisik kelas dan, 2. Pengaturan siswa di
kelas dilakukan dengan modifikasi tingkah laku siswa, melakukan pendekatan,
melakukan teguran, bersikap luwes, dan terbuka terhadap siswa. b) Mengelola
nteraksi perilaku belajar di dalam kelas. 2) Motivasi belajar bahasa Arab meningkat
berdasarkan angket siswa yaitu, a) 50% siswa selalu senang dan semangat mengikuti
pelajaran bahasa Arab. b) 68% siswa selalu aktif. c) 64% sudah tercipta suasana kerja
kelompok. d) 84% selalu bertanya jika menemukan kesulitan dalam pembelajaran. e)
80% selalu ingin nilai yang baik. f) 56% semakin bertambah pengetahuan dan tekun
mempelajari pelajaran bahasa Arab. 3) Faktor pendukung dan penghambat strategi
pengelolaan kelas dalam mengingkatkan motivasi belajar bahasa Arab siswa adalah:
a) Faktor pendukung: peraturan sekolah, strategi dan metode yang bervariasi, visi dan
mini madrasah, dan siswa selalu aktif mengikuti pelajaran; b) Faktor penghambat:
kurangnya dukungan orang tua, sarana prasarana belum memadai, tidak adanya ruang
atau media pembelajaran, kurang percaya diri, kurang rasa tanggap siswa, konsentrasi
Sedangkan penelitian yang akan disusun ini berbeda dengan penelitian sebelumnya,
dalam penelitian ini peneliti memfokuskan pada hubungan keterampilan manajemen kelas
guru dengan motivasi belajar siswa di SMK Yapim Manado.
Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini sebenarnya tidaklah merupakan hal
yang baru dalam dunia pendidikan. Karena berbicara tentang keterampilan manajemen kelas
guru dan motivasi belajar siswa sudah banyak literatur yang dapat ditemukan.
Ada beberapa referensi yang membahas tentang permasalahan keterampilan
manajemen kelas di antaranya adalah “Manajemen Kelas Teori Dan Aplikasi Untuk
Menciptakan Kelas Yang Kondusif” karya Novan Ardy Wiyani, “P engelolaan Kelas dan
Siswa Sebuah Pendekata n Evaluatif” karya Suharsimi Arikunto, “Manajemen Kelas” karya
Mudasir, dan “Manajemen Kelas (Classroom Management) Guru Profesional yang
Inspiratif, Kreatif, Menyenangkan, dan Berprestasi ” karya Euis Karwati dan Donni Juni
Priansa.
Sedangkan referensi yang membahas tentang permasalahan motivasi belajar
diantaranya adalah “Interaksi & Motivasi Bela jar Mengajar” karya Sardiman.“Psikologi
Belajar Dan Mengajar” karya Oemar Hamalik, “Motivasi dalam Pembela jaran” karya Esa
Nur Wahyuni, dan masih banyak lagi literatur yang membahas tentang permasalahan
Manajemen Kelas dan Motivasi Belajar.
Literatur yang peneliti sebutkan di atas banyak membahas tentang seluk beluk
keterampilan manajemen kelas dan motivasi belajar siswa. Lebih khusus literatur tersebut
banyak menitikberatkan pada bagaimana cara guru dalam mengelola kelas yang baik dan juga
tentang bagaimana cara agar kegiatan belajar-mengajar lebih menarik sehingga
menumbuhkan motivasi belajar siswa.
Adapun maksud dari tinjauan pustaka ini adalah peneliti ingin mengemukakan
antara keterampilan manajemen kelas guru dengan motivasi siswa di SMK Yapim Manado,
dengan beberapa karya tulis.
D. Kerangka Berpikir
Bila manajemen kelas merupakan kecakapan dari seorang guru sebagai seorang
manajer kelas yang mampu menciptakan dan memelihara suasana kelas yang kondusif, maka
hubungan kecakapan pengelolaan kelas tersebut bisa membangkitkan, mengarahkan dan
memelihara motivasi siswa untuk mencapai tujuan dalam kegiatan belajar-mengajar. Dengan
adanya hubungan yang baik antara keterampilan manajemen kelas yang dimiliki oleh guru,
maka akan baik pula suasana kegiatan belajar-mengajar.
Berikut ini merupakan skema paradigma penelitian:
Keterangan:
: Hubungan
Gambar 2.2 Paradigma Penelitian
E. Hipotesis Penelitian
Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara keterampilan manajemen kelas
guru dengan motivasi belajar siswa. Hal ini berarti, jika keterampilan manajemen kelas guru
lebih ditingkatkan lagi maka motivasi belajar siswa akan menjadi semakin besar.
Berikut ini merupakan hipotesis penelitian Hubungan keterampilan manajemen kelas
guru dengan motivasi belajar siswa di SMK Yapim Manado:
X
Keterampilan Manajemen Kelas Guru
Y
Ho : Tidak terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara keterampilan
manajemen kelas guru dengan motivasi belajar siswa.
Ha : Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara keterampilan manajemen
kelas guru dengan motivasi belajar siswa.
Hipotesis statistiknya ialah:
Hpo : � = 0
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang
berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel
tertentu, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat
kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.45 Sedangkan, jenis penelitian ialah ex post facto dengan rancangan korelasional. Ex post facto
artinya sesudah fakta, yaitu penelitian yang dilakukan setelah suatu kejadian itu terjadi.46
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Yapim Manado.
Adapun waktu pelaksanaan penelitian ini dimulai dari bulan November 2014 sampai dengan
bulan Februari 2015.
C. Populasi dan Sampel a. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai
kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulannya.47
45Sugiyono, Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods), (Cet ke-5; Bandung: Alfabeta, 2014), h. 9.
46http://supriyanti-yantea.blogspot.com/2012/10/penelitian-expost-facto.html?m=1 diakses pada
Jum’at, 17 April 2015.
Dalam penelitian ini populasi yang diambil adalah seluruh siswa kelas XII (semua
jurusan) di SMK Yapim Manado Tahun Ajaran 2014-2015 yang berjumlah 86 orang yang
populasinya dapat ditunjukkan dengan tabel sebagai berikut:
Tabel 3.1 Sebaran Populasi
NO. KELAS JURUSAN POPULASI
1.
XII
Akuntansi 22
2. Teknik jaringan komputer (TKJ) 24
3. Perhotelan 20
4. Pariwisata 20
JUMLAH 86
b. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi (sebagian atau wakil populasi yang diteliti.
Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai sumber data dan dapat
mewakili seluruh populasi.48
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pengambilan sampel dengan cara sensus
atau total sampling. Dengan kata lain, peneliti menggunakan seluruh populasi sebagai sampel
yang ada sehingga tidak diperlukan lagi menghitung pengambilan jumlah sampel.
D. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini ada dua sumber data yang akan digunakan yaitu (1) data
keterampilan manajemen kelas guru, dan (2) data motivasi belajar siswa. Kedua data tersebut
dikumpulkan dengan menggunakan angket (questionnaire). Angket (questionnaire)
merupakan teknik pengumpulan data di mana partisipan/responden mengisi pertanyaan atau
pernyataan kemudian setelah diisi dengan lengkap mengembalikan kepada peneliti.49
Tujuan penyebaran angket ialah mencari informasi lengkap mengenai suatu masalah
dan responden tanpa merasa khawatir bila responden memberikan jawaban yang tidak sesuai
48
Riduwan, Belajar Mudah Penelitian, (cet. Ke-9; Bandung: Alfabeta), 2013, h. 56.
dengan kenyataan dalam pengisian daftar pertanyaan.50 Pada penelitian ini, angket digunakan untuk menyaring data tentang motivasi belajar siswa saat kegiatan belajar-mengajar.
Adapun angket (quetionnaire) yang akan digunakan ini adalah Skala Likert. Skala
Likert adalah bentuk kuesioner yang mengungkap sikap dari responden dalam bentuk
jawaban (penyataan) yang berupa: Selalu (SL) dengan skor 4, Sering (SR) dengan skor 3,
Kadang-kadang (KK) dengan skor 2, dan Tidak Pernah (TP) dengan skor 1. Skala Likert
digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang
tentang fenomena sosial.51
Dasar pertimbangan peneliti menggunakan angket karena ada beberapa kelebihan dari
menggunakan angket, antara lain:
1. Tidak memerlukan hadirnya peneliti;
2. Dapat dibagi secara serentak kepada semua responden; dan
3. Dapat dijawab oleh responden menurut kecepatannya masing-masing dan menurut
waktu senggang dari masing-masing responden.
E. Instrumen Penelitian 1. Jenis Instrumen
a. Instrumen Keterampilan Manajemen Kelas Guru
Keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan guru dalam menciptakan dan
memelihara kondisi belajar yang optimal serta keterampilan mengembalikan kondisi belajar
ke kondisi yang optimal bila terdapat gangguan dalam proses belajar baik yang bersifat
gangguan kecil dan sementara maupun gangguan yang berkelanjutan. Dalam bahasa lain,
keterampilan mengelola kelas dapat diartikan sebagai seni atau keterampilan guru dalam
50Riduwan, op. cit., h, 71.
mengoptimalkan sumber daya kelas bagi penciptaan proses pembelajaran yang efektif dan
efisien.52
Dari pengertian di atas peneliti membagi menjadi dua variabel yang menjadi fokus
penelitian, yaitu: (1) Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan
kondisi belajar yang optimal; dan (2) Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian
kondisi belajar yang optimal.
Berikut ini merupakan kisi-kisi instrumen pengumpul data keterampilan manajemen
kelas guru:
Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Keterampilan Manajemen Kelas Guru
No. Variabel Indikator Item
Instrumen pengumpul data keterampilan manajemen kelas guru dapat dilihat pada
lampiran 3.
52
b. Instrumen Motivasi Belajar Siswa
Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya
penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin
kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar,
sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.53
Dari pengertian di atas peneliti membagi menjadi dua variabel yang menjadi fokus
penelitian, yaitu: (1) Motivasi intrinsik; dan (2) Motivasi ekstrinsik.
Berikut ini merupakan kisi-kisi instrumen pengumpul data motivasi belajar siswa:
Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrurmen Motivasi Belajar Siswa
No. Variabel Indikator Item
1. Motivasi intrinsic Semangat dalam
belajar.
2. Motivasi ekstrinsik Lingkungan belajar. 25, 26, 27
Prestasi belajar. 28, 29, 30
Jumlah 30
Instrumen pengumpul data keterampilan manajemen kelas guru dapat dilihat pada
lampiran 5.
53Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar , (Cet. Ke-22; Jakarta: Rajawali Pers, 2014), h.
2. Validitas Instrumen
Validitas adalah ukuran yang menunjukkan tingkat kualitas suatu instrumen. Valid
berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.54 Cara yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah dengan mengkorelasikan hasil
pengukuran dengan kriteria. Teknik korelasi yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran
adalah teknikkorelasi Product Moment dari Carl Person.55 Dengan kriteria pengujian sebagai berikut:
Jika rhitung > rtabel, maka Valid dan
Jika rhitung < rtabel, maka Tidak valid
Pada pengujian validitas diperoleh nilai rtabel sebesar 0,225 (dengan menggunakan
rumus interpolasi linear). Hasil analisis dengan rumus korelasi product moment
menggunakan bantuan subprogram Minitab 11 dapat dilihat pada lampiran 6.
Berikut merupakan tabel rekapitulasi hasil uji validitas keterampilan manajemen kelas
guru dan motivasi belajar siswa:
Tabel 3.4 Rekapitulasi Hasil Uji Validitas Keterampilan Manajemen Kelas Guru
No Butir rhitung rtabel Keterangan
17 17 0,556 0,225 Valid
Pada hasil pengujian validitas data keterampilan manajemen kelas guru dari 30 butir
pernyataan diperoleh 29 butir pernyataan yang valid. Sedangkan, 1 butir yang tidak valid
akan dihilangkan atau tidak digunakan lagi pada perhitungan selanjutnya.
Tabel 3.5 Rekapitulasi Hasil Uji Validitas Motivasi Belajar Siswa
No Butir rhitung rtabel Keterangan
27 27 0,502 0,225 Valid
28 28 0,328 0,225 Valid
29 29 0,172 0,225 Tidak valid
30 30 -0,005 0,225 Tidak valid
Pada hasil pengujian validitas data motivasi belajar siswa dari 30 butir pernyataan
diperoleh 27 butir pernyataan yang valid. Sedangkan, 3 butir yang tidak valid akan
dihilangkan atau tidak digunakan lagi pada perhitungan selanjutnya.
3. Reliabilitas Instrumen
Kata reliabilitas dalam bahasa Indonesia diambil dari kata reliability yang dalam
bahasa Inggris, berasal dari kata asal reliable yang artinya dapat dipercaya. Instrumen tes
dikatakan dapat dipercaya (reliable) jika memberikan hasil yang tetap atau konsisten apabila
diteskan berkali-kali.
Pengujian reliabitas instrumen dapat dilakukan dengan rumus Alpha Cronbach.
Rumus ini biasa digunakan untuk instrumen berupa angket dan jawaban yang dibuat dalam
setiap instrumen skornya interval. 56 Berikut ini merupakan hasil analisis reliabilitas dengan rumus Alpha Cronbach menggunakan bantuan SPSS 16 for Windows:
Tabel 3.6 Hasil Uji Reliabilitas Keterampilan Manajemen Kelas Guru
Tabel 3.7 Hasil Uji Reliabilitas Motivasi Belajar Siswa
56Ibid., h. 115.
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha N of Items
.880 30
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha N of Items
Untuk mengetahui apakah instrumen tersebut reliabel atau tidak, maka langkah
selanjutnya adalah mengkonsultasikan dengan harga kritik atau standar reliabilitas. Harga
kritik untuk indeks reliabilitas instrumen adalah 0,7. Artinya suatu instrumen dikatakan
reliabel jika mempunyai nilai koefisien Alpha sekurang-kurangnya 0,7. Perhitungan rumus
Alpha dapat juga dilakukan dengan menggunakan komputer program SPSS 16 for windows.
Pada hasil uji reliabilitas instrumen keterampilan manajemen kelas diperoleh nilai
sebesar 0,880, sedangakan pada reliabilitas instrumen motivasi belajar siswa diperoleh nilai
sebesar 0,739. Hal ini berarti, jika nilai koefisien Alpha > harga kritik 0,7 maka instrumen
dapat dikatakan reliabel. Dengan demikian, kedua instrrumen dapat dikatakan reliabel karena
mempunyai nilai koefisien Alpha yang lebih besar dari harga kritik 0,7.
F . Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan peneliti adalah statistik inferensial. Statistik
inferensial (sering juga disebut statistik induktif atau statistik probabilitas) adalah teknik yang
digunakan untuk populasi. Statistik ini akan cocok digunakan bila sampel diambil dari
populasi yang jelas dan teknik pengambilan sampel dari populasi itu dilakukan secara
random.57
Statistik ini disebut statistik probabilitas, karena kesimpulan yang diberlakukan untuk
populasi berdasarkan data sampel yang kebenarannya bersifat peluang (probability). Suatu
kesimpulan dari data sampel yang akan diberlakukan untuk populasi itu mempunyai peluang
kesalahan dan kebenaran (kepercayaan) yang dinyatakan dalam bentuk presentase. Bila
peluang kesalahan 5% maka taraf kepercayaan 95%, bila peluang kesalahan 1% maka taraf
kepercayaan 99%. Peluang kesalahan dan kepercayaan itu disebut dengan taraf signifikansi.
Statistik inferensial terbagi menjadi dua, yaitu statistik parametris dan nonparametris.
Dalam penelitian ini karena menggunakan data interval jadi peneliti memilih statistik
parametris untuk menguji hipotesis. Karena judul dari penelitian ini bersifat asosiatif
(hubungan), maka akan digunakan rumus korelasi product moment dalam pengujian
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Data Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini adalah hasil dari angket tentang hubungan dari keterampilan
manajemen kelas guru dengan motivasi belajar dari siswa. Untuk mengetahui keterampilan
guru dalam memanajemen kelas serta motivasi belajar siswa, angket diberikan kepada siswa
kelas XII yang berjumlah 86 orang, namun yang terjangkau oleh peneliti hanya 78 orang
sebagai responden dikarenakan ada 8 orang yang tidak hadir pada saat penelitian.
Dari isian angket yang berjumlah 78 orang tersebut setelah dianalisis, diperoleh data
sebagai berikut.
a. Deskripsi Hasil Keterampilan Manajemen Kelas Guru
Dalam menganalisis variabel Keterampilan Manajemen Kelas Guru ada 2 indikator
yang digunakan, yaitu (1) Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan
pemeliharaan kondisi belajar yang optimal; (2) Keterampilan yang berhubungan dengan
pengendalian kondisi belajar yang optimal.
Pengumpulan data keterampilan manajemen kelas guru dilakukan dengan
menggunakan angket dengan empat kategori pilihan jawaban yang berisi sebanyak 29 butir
pernyataan yang valid. Secara teoretik skor minimum yang dicapai siswa adalah 29 dan
Berikut ini adalah tabel yang memuat statistik deskriptif data keterampilan
manajemen kelas guru hasil penelitian.
Tabel 4.1 Data Statistik Deskriptif Ketrampilan Manajemen Kelas Guru
Statistik Deskriptif Manajemen Kelas
Berdasarkan angket yang diberikan pada 78 orang siswa diperoleh skor minimum 57
dan maksimum 112. Dari data-data tersebut di atas dapat dihitung panjang kelas interval
Panjang interval dapat dihitung dengan menggunakan rumus di atas sehingga
diperoleh harga R = 112 – 57, banyak kelas K = 1 + 3.3 log 78.
Dengan demikian diperoleh rentang nilai sebanyak 55, banyak kelas interval adalah
7,24 dibulatkan menjadi 7 dan diperoleh panjang kelas interval sebanyak 7,85 dibulatkan
menjadi 8. Berdasarkan data-data ini dibuat tabel distribusi frekuensi seperti pada tabel 4.2
berikut.
Tabel 4.2 Distribusi F rekuensi Keterampilan Manajemen Kelas Guru No Kelas Interval Frekuensi
Absolut