• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN KETERAMPILAN MANAJEMEN KELAS GU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUBUNGAN KETERAMPILAN MANAJEMEN KELAS GU"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN KETERAMPILAN MANAJEMEN KELAS GURU DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DI SMK YAPIM MANADO

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Islam Jurusan Manajemen Pendidikan Islam

Oleh

FARHA KURNIATI 11.2.4.029

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MANADO

▸ Baca selengkapnya: pertanyaan sulit tentang manajemen kelas

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembelajaran adalah inti dari aktivitas pendidikan. Proses belajar-mengajar yang saat

ini dikenal dengan istilah pembelajaran, menjadi salah satu pokok utama penentu kualitas

pendidikan. Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003

dinyatakan bahwa “Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan

sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.”1

Oleh karena itu, pemecahan masalah dari

rendahnya kualitas pendidikan harus difokuskan pada kualitas pembelajaran.

Kegiatan pembelajaran tentunya tidak lepas dari peran guru. Dalam hal ini, guru

mempunyai peranan yang sangat penting di antaranya adalah guru sebagai sumber informasi,

guru sebagai leader sekaligus manajer di kelas, guru sebagai motivator, fasilitator, mediator

serta evaluator dalam pembelajaran. Untuk bisa menjalankan perannya dengan baik

dibutuhkan pengetahuan tentang keterampilan dalam manajemen kelas dari guru.

Pengetahuan tentang keterampilan manajemen kelas dari guru ini akan berimplikasi

pada kegiatan belajar-mengajar yang kondusif. Karena pada saat berada di dalam kelas, siswa

mengharapkan suasana belajar yang menyenangkan. Dengan cara seperti itulah mereka bisa

menyeimbangkan kemampuan antara otak kiri dan otak kanan mereka. Dalam hal ini, peran

guru sebagai manajer kelas sangatlah dibutuhkan. Guru dituntut untuk dapat mengelola kelas

dengan baik, keadaannya sangat diharapkan untuk membawa suasana belajar yang positif

bagi siswa.

1

(3)

Suasana belajar yang positif tentu tidak lepas juga dari adanya motivasi belajar pada

diri siswa. Motivasi belajar dari siswa mempunyai peranan yang cukup besar untuk

mendukung ketercapaian hasil kegiatan belajar-mengajar. Oleh karenanya, motivasi akan

sangat membantu guru dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Motivasi dapat diartikan sebagai sumber energi bagi setiap orang yang terlibat dalam

kegiatan belajar-mengajar khususnya bagi siswa untuk mencapai tujuan belajarnya. Tanpa

adanya motivasi, siswa akan sulit mengikuti kegiatan belajar-mengajar. Akan tetapi,

sebaliknya jika ada motivasi yang kuat maka seseorang akan bersungguh-sungguh dalam

mencurahkan segala pikiran, kemampuan serta perhatiannya untuk dapat mencapai tujuan

belajarnya.

Dengan demikian, keterampilan manajemen kelas guru sangatlah diperlukan untuk

menciptakan suasana kelas yang nyaman serta menyenangkan agar siswa lebih termotivasi

lagi dalam mengikuti kegiatan belajar-mengajar di kelas.

Namun, kenyataan menunjukkan masih ada beberapa guru yang mengabaikan

keterampilan manajemen kelas. Hal ini teramati pada saat melakukan observasi lapangan,

terlihat dari penataan ruang kelas yang kurang rapi, kurangnya pendekatan dan variasi dalam

mengajar yang digunakan guru dalam mengajar serta menggunakan metode pembelajaran

yang kurang menarik minat siswa dalam belajar, kurangnya kedisiplinan yang diterapkan

guru. Hal-hal semacam inilah yang dapat berpengaruh terhadap menurunnya motivasi belajar

siswa.

Adapun fenomena lainnya yang terjadi di lapangan sehubungan dengan motivasi

belajar bahwa masih ditemukan siswa yang menunjukkan perilaku seperti datang terlambat,

pergi ke kantin pada saat jam pelajaran berlangsung, malas-malasan dalam belajar, dan

menunjukkan sikap acuh tak acuh saat berada di dalam kelas. Dilihat dari beberapa

(4)

rendah, karena mungkin mereka masih menganggap bahwa kegiatan belajar-mengajar

merupakan kegiatan yang kurang menyenangkan dan mereka lebih memilih kegiatan lain di

luar kegiatan belajar.

Novan Ardy Wiyani dalam bukunya Manajemen Kelas menyatakan bahwa, “Guru

sebagai seorang manajer kelas harus mampu membangkitkan motivasi belajar siswanya.

Dengan demikian, siswa mau dan mampu belajar karena kegiatan belajar-mengajar pada

dasarnya adalah upaya guru untuk menjadikan siswa mau dan mampu untuk belajar.”2

Dilihat dari beberapa permasalahan yang ada, dapat dikatakan bahwa keterampilan

manajemen kelas guru dengan motivasi belajar siswa adalah suatu hal yang mempunyai

keterkaitan dalam kegiatan belajar-mengajar. Hal ini berarti, dengan suasana kelas yang

kondusif dapat memberikan serta mempertahankan motivasi belajar siswa, karena motivasi

siswa pada saat datang ke sekolah bisa berubah kapan saja sesuai dengan situasi sekitar yang

mempengaruhinya sehingga motivasi belajar siswa dapat berubah kapan saja sesuai dengan

situasi yang ada.

Apabila kenyataan tersebut diabaikan secara terus-menerus, maka kegiatan

belajar-mengajar di SMK Yapim Manado tidak akan berjalan dengan baik dan tujuan pendidikan

nasional pun akan sulit terwujud. Oleh karenanya, peneliti tertarik dan merasa perlu untuk

membahas lebih lanjut mengenai keterampilan manajemen kelas guru dengan motivasi

belajar siswa dalam penelitian ilmiah yang berjudul: “Hubungan keterampilan manajemen

kelas guru dengan motivasi belajar siswa di SMK Yapim Manado”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka fokus masalah penelitian ini dirumuskan

pada masalah utama yakni: (1) Keterampilan manajemen kelas guru yang cenderung rendah;

2

(5)

(2) Penataan ruang kelas yang belum maksimal; (3) Cenderung kurangnya variasi guru dalam

kegiatan belajar-mengajar; (4) Metode pembelajaran yang cenderung monoton; (5) Penerapan

disiplin sikap bagi siswa yang cenderung kurang; (6) Motivasi belajar siswa cenderung

rendah di kelas; (7) Semangat belajar yang kurang; (8) Minat belajar siswa kurang, dan; (8)

Kurangnya fokus dalam belajar.

C. Batasan Masalah

Untuk memberikan pemahaman yang mendalam, peneliti memfokuskan dan

membatasi ruang lingkup penelitian ini untuk mengkaji tentang Hubungan keterampilan

manajemen kelas guru dengan motivasi belajar siswa.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan batasan masalah, permasalahan dalam penelitian ini

dirumuskan “Apakah terdapat Hubungan keterampilan manajemen kelas guru dengan

motivasi belajar siswa di SMK Yapim Manado?”

E. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui,

mengkaji, dan menguji Hubungan keterampilan manajemen kelas guru dengan motivasi

belajar siswa di SMK Yapim Manado.

F . Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan penelitian ini adalah:

1) Secara Teoretis

a. Menambah khasanah pengetahuan mengenai keterampilan manajemen kelas

guru khususnya bagi guru untuk memotivasi belajar siswa.

b. Menambah khasanah teori tentang keterampilan manajemen kelas dan

(6)

2) Secara Praktis

a. Dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan perbaikan pembelajaran

khususnya keterampilan manajemen kelas di sekolah dan motivasi belajar

siswa.

b. Dapat menjadi acuan bagi para peneliti keterampilan manajemen kelas

ataupun manajemen kelas dan motivasi belajar siswa.

G. Definisi Konseptual dan Operasional Variabel Penelitian

Secara konseptual, dapat dikatakan bahwa antara keterampilan manajemen kelas guru

dengan motivasi belajar siswa mempunyai hubungan yang erat. Karena keterampilan seorang

guru sebagai manajer kelas dituntut untuk bisa membangkitkan, memperhatikan,

meningkatkan serta mempertahankan motivasi belajar dari siswanya. Jika keterampilan

manajemen kelas yang dimiliki oleh guru baik, maka baik pula motivasi belajar dari siswa.

1) Variabel keterampilan manajemen kelas adalah keterampilan guru dalam menciptakan

dan memelihara kondisi belajar yang optimal serta keterampilan mengembalikan kondisi

belajar ke kondisi yang optimal.3 Yang diukur dari persepsi siswa terhadap keterampilan manajemen kelas guru berdasarkan:

a) Memusatkan perhatian siswa;

b) Menunjukkan sikap tanggap;

c) Memberi petunjuk yang jelas;

d) Membagi perhatian;

3Helmiati, Micro Teaching Melatih Dasar Keterampilan Mengajar, (Cet. Ke-1; Yogyakarta: Aswaja

(7)

e) Memberi teguran secara bijaksana;

f) Memberi penguatan ketika diperlukan;

g) Mengelola kelompok;

h) Memodifikasi tingkah laku.4

Persepsi tersebut dicari dengan menggunakan angket pola skala likert.

2) Variabel motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa

yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan

belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang

dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.5 Yang diukur dari persepsi siswa terhadap motivasi belajar berdasarkan:

a) Semangat dalam belajar;

b) Tekun dalam belajar;

c) Perhatian dalam belajar;

d) Rasa ingin tahu;

e) Mandiri dalam belajar;

f) Lingkungan belajar;

g) Prestasi belajar.6

Persepsi tersebut dicari dengan menggunakan angket pola skala likert.

4Novan Ardy Wiyani, op. cit., h. 91-98.

5Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar , (Cet. Ke-22; Jakarta: Rajawali Pers, 2014), h. 75.

(8)

BAB II

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Kajian Teori

1. Keterampilan Manajemen Kelas Guru a. Pengertian Keterampilan Manajemen Kelas

Keterampilan berasal dari kata “terampil” yang diberi awalan kata “ke-“ dan akhiran

“-an”. Terampil berasal dari bahasa Jawa, yang artinya: kedua buah tangan yang kita miliki

dapat dipergunakan untuk mengerjakan pekerjaan secara cepat, tepat, dan baik. Setelah

dijadikan bahasa Indonesia, kata itu tidak hanya mencakup tugas tangan, tetapi termasuk

tugas seluruh anggota tubuh. Mungkin kata lain yang sama pengertiannya adalah “cekatan”.7

Secara etimologis, kata manajemen merupakan terjemahan dari management (bahasa

Inggris). Kata management tersebut berasal dari kata manage atau magiare yang berarti

melatih kuda dalam melangkahkan kakinya. Dalam pengertian manajemen tersebut

mengandung dua kegiatan, yaitu kegiatan berpikir (mind) dan kegiatan tingkah laku (action).

Manajemen merupakan rangkaian kegiatan yang berupa proses perencanaan,

pengorganisasian, pelaksanaan, dan penilaian untuk mencapai tujuan organisasi yang telah

ditetapkan.8 Berikut ini merupakan ayat yang terkait dengan manajemen:

8Novan Ardy Wiyani, Manajemen Kelas: Teori dan Aplikasi untuk Menciptakan Kelas yang Kondusif,

(9)

Terjemahnya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash-Shaff [61]: 4)9

Dalam ayat ini disebutkan bahwa Allah Swt., menyukai orang mukmin yang berjuang

dalam sebuah bangunan yang kokoh. Ciri dari bangunan yang kokoh adalah seluruh

komponen di dalamnya saling menguatkan satu sama lain. Dapat dirinci, bahwa soliditas

organisasi memiliki tiga ciri, yaitu masing-masing komponen di dalamnya bisa menguatkan

satu dengan yang lain, bersinergi dalam bekerja serta memiliki program yang jelas, termasuk

pembagian pelaksanaan program (pembagian potensi dan pemanfaatan kemampuan). Dalam

hal ini, diperlukan adanya ketepatan di dalam penempatan orang.10

Dapat dipahami bahwa Allah Swt., menganjurkan untuk melakukan sesuatu yang

terorganisir dan direncanakan dengan matang. Hal ini bertujuan untuk terciptanya suatu

kesatuan yang kokoh dalam suatu organisasi demi tercapainya tujuan yang ingin dicapai.

Sedangkan, manajemen kelas terdiri dari dua kata, yaitu manajemen dan kelas.

Manajemen merupakan rangkaian usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan

memanfaatkan orang lain, sedangkan yang dimaksud dengan kelas adalah suatu kelompok

orang yang melakukan kegiatan belajar bersama sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan,

dalam kelas tersebut, guru berperan sebagai manajer utama dalam merencanakan,

mengorganisasikan, mengaktualisasikan, dan melaksanakan pengawasan atau supervisi

kelas.11

H. Mulyadi dalam bukunya Classroom Management menyatakan bahwa, manajemen

kelas barasal dari dua kata yaitu, manajemen dan kelas. Manajemen dari kata management,

9Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya, Juz ke-28, Ash-Shaff: 4, h. 551.

10

www.fhacink.blogspot.com/2010/10/ayat-ayat.html?m=1 diakses pada 15 Maret 2015.

11Euis Karwati dan Donni Juni Priansa, Manajemen Kelas (Classroom Management), (Cet. Ke-1;

(10)

yang diterjemahkan pula menjadi pengelolaan, berarti proses penggunaan sumber daya secara

efektif untuk mencapai sasaran. Sedangkan pengelolaan adalah proses yang memberikan

pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan dan pencapaian tujuan.

Manajemen kelas mengacu kepada penciptaan suasana atau kondisi kelas yang

memungkinkan siswa dalam kelas tersebut untuk dapat belajar dengan efektif.12

J.M. Cooper, mengemukakan lima definisi cla ssroom management/ pengelolaan

kelas, yaitu:

a. Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan

mempertahankan ketertiban suasana kelas. Definisi ini memandang pengelolaan kelas

sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa.

b. Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan

siswa. Definisi ini didasarkan atas pandangan yang bersifat “permisif”.

c. Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah

laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak

diinginkan. Definisi ketiga ini didasarkan pada prinsip-prinsip mengubah tingkah laku

siswa.

d. Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan

interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif. Definisi

keempat ini memandang pengelolaan kelas sebagai proses penciptaan iklim

sosio-emosional yang positif di dalam kelas.

e. Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan

mempertahankan organisasi kelas yang efektif. Definisi kelima ini menganggap kelas

merupakan sistem sosial dengan proses kelompok (group process) sebagai intinya,

pengajaran berlangsung dalam kaitannya dengan suatu kelompok, tetapi belajar

(11)

dianggap sebagai proses individual, maka kehidupan kelas dalam kelompok

dipandang mempunyai pengaruh yang sangat berarti terhadap kegiatan belajar. 13 Menurut Novan Ardy Wiyani, manajemen kelas adalah keterampilan guru sebagai

seorang leader sekaligus manajer dalam menciptakan iklim kelas yang kondusif untuk meraih

kegiatan belajar-mengajar.14

Dengan demikian, manajemen kelas atau pengelolaan kelas adalah seperangkat

kegiatan dan usaha yang dilakukan oleh guru dalam menciptakan suasana kelas yang

kondusif untuk mencapai tujuan dari kegiatan belajar-mengajar yang telah ditetapkan.

Sedangkan, keterampilan mengelola kelas merupakan keterampilan guru untuk

menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikan ke kondisi

yang optimal jika terjadi gangguan, baik dengan cara mendisiplinkan ataupun melakukan

kegiatan remedial.15

Keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan guru dalam menciptakan dan

memelihara kondisi belajar yang optimal serta keterampilan mengembalikan kondisi belajar

ke kondisi yang optimal bila terdapat gangguan dalam proses belajar baik yang bersifat

gangguan kecil dan sementara maupun gangguan yang berkelanjutan. Dalam bahasa lain,

keterampilan mengelola kelas dapat diartikan sebagai seni atau keterampilan guru dalam

mengoptimalkan sumber daya kelas bagi penciptaan proses pembelajaran yang efektif dan

efisien.16

13

Mudasir, Manajemen Kelas, (Cet. Ke-1; Riau: Zanafa Publishing, 2011), h. 2-4.

14Novan Ardy Wiyani, op. cit., h. 59.

15Zainal Asril, Micro Teaching: Disertasi dengan Pedoman Pengalaman Lapangan, (Cet. Ke-5;

Jakarta: Rajawali Pers, 2013), h. 72-73.

16

(12)

Dengan demikian, keterampilan manajemen kelas dapat diartikan juga sebagai

kecakapan dari seorang guru dalam mengelola kelas untuk menciptakan dan memelihara

kondisi kelas yang kondusif serta optimal dalam penciptaan kegiatan belajar mengajar yang

efektif dan efisien untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan.

b. Tujuan Manajemen Kelas

Secara umum, manajemen kelas bertujuan untuk menciptakan suasana kelas yang

nyaman sebagai tempat berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar. Dengan demikian,

kegiatan tersebut akan dapat berjalan dengan efektif dan terarah sehingga tujuan belajar yang

telah ditetapkan dapat tercapai demi terbentuknya sumber daya manusia yang berkualitas.

Secara lebih khusus, Syaiful Bahri Djamarah mengungkapkan tujuan manajemen kelas

sebagai berikut:17 a. Untuk Siswa

1) Mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah

lakunya dan kebutuhan untuk mengontrol diri.

2) Membantu siswa mengetahui perilaku yang sesuai dengan tata tertib kelas dan

bukan kemarahan.

3) Membangkitkan rasa tanggung jawab untuk melibatkan diri dalam tugas dan pada

kegiatan yang diadakan.

b. Untuk guru

1) Mengembangkan pemahaman dalam penyajian pelajaran dengan pembukaan yang

lancar dan kecepatan yang tepat.

2) Menyadari kebutuhan siswa dan memiliki kemampuan dalam memberi petunjuk

secara jelas kepada siswa.

(13)

3) Mempelajari bagaimana merespons secara efektif terhadap tingkah laku siswa yang

mengganggu.

4) Memiliki strategi remedial yang lebih komprehensif yang dapat digunakan dalam

hubungannya dengan masalah perilaku siswa yang muncul di dalam kelas.

c. Komponen Keterampilan Manajemen Kelas

Dari beberapa uraian di atas, maka yang dimaksud keterampilan manajemen kelas

adalah kecakapan atau kemampuan seorang guru untuk menyelesaikan tugasnya sebagai

manajer kelas dalam mengelola kelas. Di dalam keterampilan manajemen kelas terdapat

komponen keterampilan manajemen kelas yang harus dimiliki oleh guru dalam mengelola

kelas.

Secara garis besar keterampilan mengelola kelas terbagi dua bagian, yaitu:18

a) Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar

yang optimal. Dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas terjadi komunikasi antara

guru dengan siswa. Keberhasilan kegiatan belajar-mengajar di kelas pun sangat

dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari faktor guru dan siswa itu sendiri, sarana

penunjang kegiatan belajar-mengajar di kelas, hingga iklim kelas. Iklim kelas tersebut

secara sederhana dapat diartikan dengan suasana kelas. Cara-cara penciptaan dan

pemeliharaan kondisi kelas adalah sebagai berikut:

1. Memusatkan perhatian siswa

Hal ini dilakukan dalam rangka mempersiapkan siswa dalam pembelajaran

dengan cara memperhatikan sikap dan mengatur tempat duduk siswa, serta

memulai pelajaran setelah nampak siswa siap belajar.

2. Menunjukkan sikap tanggap

(14)

Guru memperlihatkan sikap positif terhadap setiap perilaku yang muncul pada

siswa dan memberikan tanggapan-tanggapan atas perilaku tersebut dengan

maksud tidak menyudutkan kondisi siswa, perasaaan tertekan dan memunculkan

perilaku susulan yang kurang baik.

3. Membagi perhatian

Kelas diisi lebih dari satu orang akan tetapi sejumlah orang (siswa) yang memiliki

keterbatasan-keterbatasan yang berbeda-beda yang membutuhkan bantuan dan

pertolongan dari guru.

4. Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas

Untuk mengarahkan kelompok ke dalam pusat perhatian seperti dijelaskan di atas

juga memudahkan anak menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya

maka tugas guru adalah memaparkan setiap pelaksanaan yang harus dilaksanakan

anak secara bertahap dan jelas. Untuk itu, sebelum mengajar seorang guru harus

membuat perencanaan pengajaran yang matang sebelum masuk kelas dan pada

saat mengajar di kelas seorang guru harus melaksanakan kegiatan mengajar sesuai

dengan apa yang telah direncanakannya.19 5. Memberi teguran secara bijaksana

Permasalahan bisa terjadi dalam hubungannya antara siswa dengan siswa dan

siswa dengan guru. Permasalahan dalam hubungan tersebut bisa terjadi dan dalam

konteks pembelajaran, sehingga guru sebagai pemegang kendali kelas harus

mampu memberikan teguran yang bijak sesuai dengan tugas dan perkembangan

siswa. Hal ini dapat juga dilakukan dengan cara pemberian hukuman.

Hendaklah ketika memberikan hukuman seorang guru harus memberikan

hukuman sebagai jawaban atas suatu pelanggaran, hukuman tersebut harus

(15)

bersifat tidak menyenangkan, dan hukuman tersebut diberikan semata-mata untuk

kepentingan siswa itu sendiri, yaitu agar mereka dapat memperbaiki diri. Hindari

pemberian hukuman atas dasar dendam atau kebencian terhadap si siswa.20 6. Memberi penguatan ketika diperlukan

Penguatan adalah upaya yang diarahkan agar prestasi yang dicapai dan

perilaku-perilaku yang baik dapat dipertahankan oleh siswa atau bahkan mungkin

ditingkatkan dan dapat ditularkan kepada siswa lainnya.

b) Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara-cara:

1. Memodifikasi tingkah laku

Memodifikasi tingkah laku adalah menyesuaikan bentuk-bentuk tingkah laku ke

dalam tuntutan kegiatan pembelajaran sehingga tidak muncul prototype pada diri

anak tentang peniruan perilaku yang kurang baik.

Dalam hal ini guru bisa mengatasinya dengan pembinaan disiplin. Dengan

kedisiplinan, siswa bersedia untuk tunduk dan mengikuti tata tertib kelas dan

menjauhi berbagai larangan di dalam kelas. Fungsi utama disiplin adalah untuk

mengajar mengendalikan diri dengan mudah, menghormati, dan mematuhi

otoritas. Dalam mendidik siswa perlu disiplin, tegas dalam hal apa yang harus

dilakukan dan apa yang dilarang serta tidak boleh dilakukan. Disiplin perlu dibina

pada diri siswa agar mereka mudah dapat:21

1. Meresapkan pengetahuan dan pengertian sosial secara mendalam dalam

dirinya.

20Ibid., h. 78.

(16)

2. Mengerti dengan segera untuk menjalankan apa yang menjadi kewajibannya

dan secara langsung mengerti larangan-larangan yang harus ditinggalkan.

3. Mengerti dan dapat membedakan perilaku yang baik dan perilaku yang buruk.

4. Belajar mengendalikan keinginan dan berbuat sesuatu tanpa adanya peringatan

dari orang lain.

2. Pengelolaan kelompok

Kelompok kecil ataupun kelompok belajar di kelas adalah merupakan bagian dari

pencapaian tujuan pembelajaran dan strategi yang diterapkan oleh guru. Untuk

kelancaran pembelajaran dan pencapaian tujuan pembelajaran maka kelompok

yang ada di kelas itu harus di kelola dengan baik oleh guru.

Guru dapat menggunakan pendekatan kerja kelompok dalam pengelolaan

kelompok. Peran guru dalam pendekatan ini adalah mengusahakan agar

perkembangan dan pelaksanaan proses kelompok tersebut efektif. Proses

kelompok sendiri diartikan sebagai usaha mengelompokkan siswa ke dalam

beberapa kelompok dengan berbagai pertimbangan individual sehingga tercipta

kelas yang kondusif untuk kegiatan belajar-mengajar. Kegiatan yang sering

dilakukan untuk menerapkan pendekatan kerja kelompok ini adalah dengan

resitasi, yaitu memberikan tugas kepada siswa secara berkelompok. Guru sebagai

seorang manajer hendak menerapkan pendekatan ini, ia harus melakukan

pengawasan yang ketat terhadap semua kelompok yang telah dibentuknya. Hal itu

dilakukan agar terjalin hubungan yang harmonis intra kelompok serta

antarkelompok.22

(17)

3. Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.

Permasalahan memiliki sifat perennial (akan selalu ada) dan nurturan effect, oleh

karena itu permasalahan akan muncul di dalam kelas kaitannya dengan interaksi

dan akan diikuti oleh dampak pengiring yang besar bila tidak bisa diselesaikan.

2. Motivasi Belajar

Di dalam keterampilan manajemen kelas guru, salah satu komponen penting dalam

belajar yang harus diperhatikan oleh guru adalah motivasi. Kemauan siswa untuk berusaha

dalam belajar merupakan sebuah produk dari berbagai macam faktor, karakteristik,

kepribadian dan kemampuan siswa untuk berusaha dalam belajar merupakan sebuah produk

dari berbagai macam faktor, karakteristik kepribadian dan kemampuan siswa untuk

menyelasaikan tugas tertentu, incentive untuk belajar, situasi dan kondisi, serta performansi

guru.

Siswa belajar karena didorong oleh kekuatan mentalnya. Kekuatan mental itu berupa

keinginan, perhatian, kemauan atau cita-cita. Kekuatan mental tersebut dapat tergolong

rendah atau tinggi, dorongan inilah yang disebut dengan motivasi.

a. Pengertian Motivasi

Motivasi berasal dari kata latin “movere” yang berarti dorongan, daya penggerak atau kekuatan yang menyebabkan suatu tindakan atau perbuatan. Kata “movere” dalam bahasa

Inggris, sering disepadankan dengan “motivation” yang berarti pemberian motif, penimbulan

motif, atau hal yang memberikan dorongan atau keadaan yang menimbulkan dorongan.23

Armstrong menyatakan bahwa: “A motive is a reason for doing something. Motivation

is concerned with the strength and direction of behavior and the factors than influence people

(18)

to behave in certain ways. The term „motivaton‟ can refer variously to the goods individuals

have, the ways in which individuals choose their goals and the ways in which others try to

change their behavior. The three components of motivation is: a) Direction, what a person is

trying to do; b) Effort, how hard a person is trying; c) Persistence, how long a person keeps

on trying.” (Motif adalah alasan untuk melakukan sesuatu. Motivasi berkaitan dengan

kekuatan dan arah perilaku dan faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang untuk

berperilaku dengan cara tertentu. Istilah motivasi dapat merujuk kepada berbagai tujuan yang

dimiliki oleh individu, cara dimana individu memilih tujuan, dan cara dimana orang lain

mencoba untuk mengubah perilaku mereka. Tiga komponen motivasi adalah: a) Arah, apa

yang orang coba lakukan; b) Upaya, seberapa keras seseorang mencoba; dan c) Kegigihan,

berapa lama seseorang terus mencoba.)24

Menurut Atkinson, yang menyatakan motivasi adalah sebuah istilah yang mengarah

kepada adanya kecenderungan bertindak untuk menghasilkan satu atau lebih

pengaruh-pengaruh.25

Menurut McDonald, “Motivation is a energy change within the person characterized

by affective arousal and anticipatory goal reactions.” (Motivasi adalah suatu perubahan

energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk

mencapai tujuan).26 Dalam definisi demikian, maka pada dasarnya motivasi merupakan proses yang terjadi di dalam diri individu yang mengarahkan aktivitas individu mencapai

tujuan yang perlu didorong dan dijaga.

24Ibid., h. 166.

25Esa Nur Wahyuni, Motivasi dalam Pembelajaran, (Malang: UIN-Malang Press, 2010), h. 12.

(19)

Ada tiga komponen utama dalam motivasi, yaitu:

1. Kebutuhan

Kebutuhan terjadi bila individu merasa ada ketidakseimbangan antara apa yang ia

miliki dan yang ia harapkan. Maslow membagi kebutuhan menjadi lima tingkat

yaitu:27

a) Kebutuhan fisiologis, berkenaan dengan kebutuhan pokok manusia seperti

pangan, sandang, dan perumahan.

b) Kebutuhan rasa aman, berkenaan dengan keamanan yang bersifat fisik dan

psikologis.

c) Kebutuhan sosial, berkenaan dengan perwujudan berupa diterima oleh orang lain,

jati diri yang khas, berkesempatan maju, merasa diikutsertakan, dan pemilikan

harga diri.

d) Kebutuhan akan penghargaan diri.

e) Kebutuhan aktualisasi diri, berkenaan dengan kebutuhan individu untuk menjadi

sesuatu yang sesuai dengan kemampuannya.

2. Dorongan

Dari segi dorongan, menurut Hull dorongan atau motivasi berkembang untuk

memenuhi kebutuhan organisme. Disamping itu juga merupakan sistem yang

memungkinkan organisme dapat memelihara kelangsungan hidupnya.

Kebutuhan-kebutuhan organisme merupakan penyebab munculnya dorongan, dan dorongan akan

mengaktifkan tingkah laku mengembalikan keseimbangan fisiologis organisme. Hull

memang menekankan dorongan sebagai motivasi penggerak utama perilaku, tetapi

kemudian juga tidak sepenuhnya menolak adanya pengaruh faktor-faktor eksternal.

27

(20)

Dalam hal ini, insentif (hadiah atau hukuman) mempengaruhi intensitas dan kualitas

tingkah laku organisme.28 3. Tujuan

Dari segi tujuan, maka tujuan merupakan pemberi arah pada perilaku. Secara

psikologis, tujuan merupakan titik akhir “sementara” pencapaian kebutuhan.Jika

tujuan tercapai, maka kebutuhan terpenuhi untuk “sementara”. Jika kebutuhan

terpenuhi, maka orang menjadi puas, dan dorongan mental untuk berbuat “terhenti

sementara”.29

Sedangkan, belajar dianggap sebagai proses perubahan perilaku sebagai akibat dari

pengalaman dan latihan. Hilgard mengungkapkan “Learning is the process by which an

activity originates or changed through training procedurs (whether in laboratory or in the

moral environment) as distinguished from changes by factors not attributable to training.”30

(Belajar adalah proses dimana suatu kegiatan berasal atau berubah melalui Prosedur dasar

pelatihan (baik di laboratorium atau dalam lingkungan moral) yang dibedakan dari perubahan

oleh faktor tidak disebabkan pelatihan). Bagi Hilgard, belajar itu adalah proses perubahan

melalui kegiatan atau prosedur latihan baik latihan di dalam laboratorium maupun di dalam

lingkungan alamiah.

Motivasi belajar adalah perilaku dan faktor-faktor yang mempengaruhi siswa untuk

berperilaku terhadap proses belajar yang dialaminya. Motivasi belajar merupakan proses

28Ibid., h. 82.

29

Ibid., h. 83.

30Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Cet. Ke-6; Jakarta:

(21)

yang menunjukkan intensitas siswa dalam mencapai arah dan tujuan proses belajar yang

dialaminya.31

Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya

penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin

kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar,

sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.32

Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan

perilaku manusia termasuk perilaku belajar. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan

yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan perilaku

individu belajar.33

Thomas M. Risk memberikan pengertian motivasi belajar sebagai berikut:

”We may define motivation in a pedagogical sense, as the conscious effort on the part of the teacher to establish in students motivies leading to sustained activity toward the learning goals.” 34

(Kita dapat mendefinisikan motivasi dalam arti pedagogis, sebagai bagian upaya sadar dari

guru untuk membangun motif-motif pada siswa yang mengarah kepada aktivitas

berkelanjutan terhadap pembelajaran yang baik).35

Jadi motivasi belajar adalah suatu daya penggerak yang timbul di dalam diri seorang

siswa yang perlu didorong dan dijaga agar dapat mengarahkan aktivitas belajar siswa untuk

mencapai tujuan belajarnya.

31Euis Karwati dan Donni Juni Priansa, op. cit., h. 167.

32Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Cet. Ke-22; Jakarta: Rajawali Pers, 2014), h.

75.

33

Dimyati dan Mudjiono, op. cit., h. 80.

34Ahmad Rohani H.M dan Abu Ahmadi, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), h.

10.

(22)

b. Sifat Motivasi

Berdasarkan pengertian dan analisis motivasi yang dikemukakan di atas, pada

pokoknya motivasi memiliki dua sifat, yakni motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik, yang

saling berkaitan satu dengan yang lainnya.

1. Motivasi Intrinsik (Rangsangan dari Dalam Diri Siswa)

Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu

dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap siswa sudah ada dorongan untuk

melakukan sesuatu.36Motivasi ini sering disebut “motivasi murni” atau motivasi yang sebenarnya, yang timbul dari dalam siri siswa, misalnya keinginan untuk mendapat

keterampilan tertentu, memperoleh informasi dan pemahaman, mengembangkan sikap

untuk berhasil, menikmati kehidupan, secara sadar memberikan sumbangan kepada

kelompok, keinginan untuk diterima oleh orang lain, dan sebagainya. Motivasi ini

timbul tanpa pengaruh dari luar.37 Faktor individual yang biasanya mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu adalah:

a. Minat

Siswa akan merasa terdorong untuk belajar, jika kegiatan belajar tersebut sesuai

dengan minatnya.

b. Sikap Positif

Siswa yang mempunyai sifat positif terhadap suatu kegiatan, maka ia akan

berusaha sebisa mungkin menyelesaikan kegiatan tersebut dengan sebaik-baiknya.

c. Kebutuhan

Siswa mempunyai kebutuhan tertentu dan akan berusaha melakukan kegiatan

apapun sesuai kebutuhannya.

36Euis Karwati dan Donni Juni Priansa, op. cit., h. 167.

(23)

Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri siswa tanpa adanya paksaan dorongan dari

oeang lain. Motivasi pada dasarnya memang sudah ada di dalam diri setiap siswa.

2. Motivasi Ekstrinsik (Rangsangan dari Luar)

Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya

perangsang dari luar.38 Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar situasi belajar, seperti: angka, kredit, ijazah, tingkatan, hadiah,

medali, pertentangan dan persaingan.39 Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar siswa, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari

orang lain, sehingga dengan keadaan demikian maka siswa mau melaksanakan

sesuatu contohnya belajar. Bagi siswa dengan motivasi intrinsik yang lemah, misalnya

kurang rasa ingin tahunya, maka motivasi jenis kedua ini perlu diberikan.

Gambar 2.1 Sumber Motivasi Siswa

(Diadaptasi dari Euis Karwati dan Donni Juni Priansa, Manajemen Kelas, 2014)

Kemunculan sifat motivasi, apakah intrinsik atau motivasi ekstrinsik bergantung dan

dipengaruhi oleh berbagai faktor, yakni:

38Euis Karwati dan Donni Juni Priansa, op. cit., h. 168.

39Oemar Hamalik, op. cit ., h. 112-113.

Motivasi Ekstrinsik

Motivasi Ekstrinsik

Motivasi Ekstrinsik

Siswa

(24)

1) Tingkat kesadaran diri siswa atas kebutuhan yang mendorong tingkah

laku/perbuatannya dan kesadaran atas tujuan belajar yang hendak dicapainya.

2) Sikap guru terhadap kelas; guru yang bersikap bijak dan selalu merangsang siswa

untuk berbuat ke arah suatu tujuan yang jelas dan bermakna bagi kelas, akan

menumbuhkan sifat intrinsik itu, tetapi bila guru lebih menitikberatkan pada

rangsangan-rangsangan sepihak maka sifat ekstrinsik menjadi lebih dominan.

3) Pengaruh kelompok siswa. Bila pengaruh kelompok terlalu kuat maka

motivasinya lebih condong ke sifat ekstrinsik.

4) Suasana kelas juga berpengaruh terhadap muncul sifat tertentu pada motivasi

belajar siswa. Suasana kebebasan yang bertanggung jawab tentunya lebih

merangsang munculnya motivasi intrinsik dibandingkan dengan suasana penuh

tekanan dan paksaan.40

Memberikan motivasi kepada seseorang siswa, berarti menggerakkan siswa untuk

melakukan sesuatu atau ingin melakukan sesuatu. Pada tahap awalnya akan menyebabkan si

subjek belajar merasa ada kebutuhan dan ingin melakukan sesuatu kegiatan belajar. Dengan

demikian, dapatlah ditegaskan bahwa motivasi akan selalu berkait dengan kebutuhan. Sebab

seseorang akan terdorong melakukan sesuatu bila merasa ada suatu kebutuhan.

Beberapa cara untuk menumbuhkan motivasi adalah melalui cara mengajar yang

bervariasi, mengadakan pengulangan informasi, memberikan stimulus baru misalnya melalui

pertanyaan-pertanyaan kepada siswa, memberi kesempatan siswa untuk menyalurkan

keinginan belaljar menggunakan media dan alat bantu yang menarik perhatian siswa seperti

gambar, foto, diagram, dan sebagainya.

(25)

c. Pentingnya Motivasi Dalam Belajar

Motivasi belajar penting bagi siswa dan guru. Bagi siswa pentingnya motivasi belajar

adalah sebagai berikut: (1) Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses, dan hasil

akhir, (2) Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar, yang dibandingkan dengan

teman sebaya, (3) Mengarahkan kegiatan belajar, (4) Membesarkan semangat belajar, dan (5)

Menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja (di sela-selanya adalah

istirahat atau bermain) yang berkesinambungan, individu dilatih untuk menggunakan

kekuatannya sedemikian rupa sehingga dapat berhasil. Kelima hal tersebut menunjukkan

betapa pentingnya motivasi tersebut disadari oleh pelakunya sendiri. Bila motivasi disadari

oleh pelaku, maka sesuatu pekerjaan dalam hal ini tugas belajar akan terselesaikan dengan

baik.41

Motivasi belajar juga penting diketahui oleh seorang guru. Pengetahuan dan

pemahaman tentang motivasi belajar pada siswa bermanfaat bagi guru, manfaat itu sebagai

berikut; (1) Membangkitkan bila siswa tak bersemangat, meningkatkan bila semangat

belajarnya timbul tenggelam, dan memelihara bila semangatnya telah kuat untuk mencapai

tujuan belajar, (2) Mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa di kelas

ragam, (3) Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu diantara

bermacam-macam peran seperti sebagai penasihat, fasilitator, instruktur, teman diskusi, penyemangat,

pemberi hadiah atau pendidik. Peran pedagogis tersebut sudah barang tentu dilakukan sesuai

dengan perilaku siswa, dan (4) Memberi peluang guru untuk “unjuk kerja” rekayasa

pedagogis. Tugas guru adalah membuat semua siswa belajar sampai berhasil. Tantangan

profesionalnya justru terletak pada “mengubah” siswa tak berminat menjadi bersemangat

belajar.“Mengubah” siswa cerdas yang acuh tak acuh menjadi bersemangat belajar.42

(26)

B. Hubungan keterampilan manajemen kelas guru dengan motivasi belajar siswa

Dari beberapa uraian di atas, bisa dikatakan bahwa antara keterampilan manajemen

kelas guru dengan motivasi siswa mempunyai hubungan yang erat. Karena keterampilan

seorang guru sebagai manajer kelas dituntut untuk bisa membangkitkan, memperhatikan,

meningkatkan serta mempertahankan motivasi belajar dari siswanya.

Novan Ardy Wiyani dalam bukunya Manajemen Kelas menyatakan bahwa, “Guru

sebagai seorang manajer kelas harus mampu membangkitkan motivasi belajar siswanya.

Dengan demikian, siswa mau dan mampu belajar karena kegiatan belajar-mengajar pada

dasarnya adalah upaya guru untuk menjadikan siswa mau dan mampu untuk belajar.”43

Menurut Mudasir, “Manajemen kelas ialah segala usaha yang diarahkan untuk

mewujudkan suasana pembelajar yang efektif dan menguntungkan serta dapat memotivasi

siswa untuk dapat belajar dengan baik sesuai kemampuan.”44

Dalam konteks keterampilan manajemen kelas guru, motivasi belajar dari siswa juga

berperan penting untuk terselenggaranya kegiatan belajar mengajar yang efektif. Karena jika

keterampilan manajemen kelas yang dimiliki oleh guru baik, maka hal tersebut akan

menimbulkan feedback yang baik pula dari para siswa yang berupa motivasi belajar. Motivasi

belajar ini yang sangat diharapkan oleh guru, karena jika setiap siswanya mempunyai

motivasi dalam belajar, maka hal tersebut akan membantu guru untuk mencapai tujuan dari

kegiatan belajar mengajar yang telah ditetapkan.

Dari pengertian di atas telah menunjukkan bahwa betapa pentingnya kedudukan

manajemen kelas dalam dunia pendidikan, khususnya dalam kegiatan belajar mengajar,

utamanya untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam pencapaian tujuan yang diinginkan.

42Ibid., h. 85-86.

43Novan Ardy Wiyani, op. cit., h. 77.

(27)

C. Hasil Penelitian yang Relevan

Adapun beberapa penelitian yang sudah pernah dilakukan oleh peneliti lain mengenai

manajemen kelas dan motivasi belajar siswa. Disini peneliti ingin melakukan perbandingan

dengan hasil penelitian lain bahwa penelitian yang berjudul Hubungan antara Keterampilan

Manajemen Kelas Dengan Motivasi Belajar Siswa berbeda dengan penelitian-penelitian yang

pernah ada sebelumnya. Berikut merupakan hasil perbandingannya:

1. Hubungan keterampilan guru dalam mengelola kelas dengan motivasi belajar siswa

(studi korelasi di SD Negeri Harapan Jaya XV Bekasi Utara) yang dilakukan oleh

Ratih Endang Palupi dan Rini Endah Sugiharti pada tahun 2014. Persamaan dari

penelitian ini adalah membahas mengenai hubungan keterampilan guru dalam

mengelola kelas dan motivasi belajar. Sedangkan perbedaannya terletak pada waktu

dan tempat pelaksanaan penelitian.

Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah apakah terdapat hubungan

keterampilan guru dalam mengelola kelas dengan motivasi belajar siswa. Metode

yang digunakan dalam penelitian ini kuantitatif dengan pendekatan korelasional.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Negeri Harapan Jaya

XV. Sedangkan sampel yang digunakan adalah siswa kelas VA dan VB dengan

jumlah 100 siswa. Dari hasil perhitungan melalui SPSS peneliti mendapat nilai rxy product moment sebesar 0,606 yang berarti H1 diterima dengan koefisien determinasi

(R2) sebesar 36,7% menunjukkan angka kontribusi dari keterampilan guru dalam mengelola kelas terhadap motivasi belajar siswa. Sedangkan, 63,3% dipengaruhi oleh

faktor lain. Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang

signifikan antara keterampilan guru dalam mengelola kelas dengan motivasi belajar

(28)

2. Hubungan antara pengelolaan kelas dengan prestasi belajar siswa di MTs Al-Kautsar

Depok yang dilakukan oleh Abdul Muiz pada tahun 2010. Persamaan dari penelitian

ini adalah membahas mengenai pengelolaan kelas. Dalam penelitian ini juga

menggunakan studi korelasi. Sedangkan perbedaannya adalah penelitian tentang

mencari hubungan pengelolaan kelas dengan prestasi belajar siswa.

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah mengenai bagaimana

pelaksanaan pengelolaan kelas full day dan bagaimana prestasi belajar siswa setelah

mengikuti pembelajaran dengan sistem full day. Metode yang digunakan adalah

metode deskriptif korelasi. Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh siswa

full day MTs Al-Kautsar Depok, sedangkan populasi terjangkau adalah siswa kelas

VII dan VIII MTs Al-Kautsar Depok yang berjumlah 44 siswa. Dalam menentukan

jumlah sampel, peneliti menggunakan rumus pengembangan Isaac dan Michael,

sedangkan teknik pengambilannya menggunakan proporsional random sampling.

Teknik pengumpulan data menggunakan kuisioner, dokumentasi, dan observasi.

Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis Product Moment, uji

signifikansi dan koefisien determinan. Pada hasil analisis data, diperoleh rhitung (0,444)

> rtabel (0,304) pada taraf signifikansi 5% sedangkan pada taraf signifikansi 1% rtabel =

0,393, menunjukkan bahwa rhitung > rtabel (0,444 > 0,393). Dari hasil penelitian, peneliti

menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengelolaan kelas dengan prestasi

belajar siswa, dan kontribusi antara pengelolaan kelas terhadap prestasi belajar siswa

pada penelitian ini sebesar 19,36% sedangkan sisanya 80,64% dari faktor lain.

3. Pengaruh Pengelolaan Kelas Terhadap Pembelajaran Efektif Pada Mata Pelajaran IPS

di SMP Al-Mubarak Pondok Aren Tanggerang Selatan yang dilakukan oleh Diana

Widyarani pada tahun 2011. Persamaan pada penelitian ini adalah membahas

(29)

suatu pengaruh dan pada teknik analisis data menggunakan regresi. Perumusan

masalah yang ada pada penelitian ini adalah bagaimana pengelolaan kelas yang

efektif dan kondusif dalam pembelajaran serta adakah pengaruh dari hasil pengelolaan

kelas terhadap pembelajaran yang efektif pada mata pelajaran IPS.

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Metode yang digunakan pada penelitian ini

adalah metode survey dengan teknik kuantitatif. Sampel dari penelitian ini adalah

siswa-siswi SMP Al-Mubarak Tanggerang Selatan kelas VII yang berjumlah 32

siswa. Pada pengumpulan data, peneliti menggunakan angket. Dari hasil perhitungan

didapat rxy product moment sebesar 0,739% maka H1 diterima. Dengan demikian

terdapat hubungan atau pengaruh yang signifikan antara pengelolaan kelas dengan

pembelajaran efektif pada mata pelajaran IPS. Koefisien determinasi sebesar 54,6%

menunjukkan bahwa pengelolaan kelas memberikan kontribusi dan pembelajaran

efektif pada mata pelajaran IPS sebesar 54,6%. Sedangkan 45,4% pembelajaran

efektif pada mata pelajarn IPS dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti kemampuan

intelektual, minat, dan bakat siswa.

4. Strategi Pengelolaan Kelas Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Bahasa Arab

Siswa MI Miftahul Huda Bengkal Temanggung yang dilakukan oleh Aditia Pramana

pada tahun 2013. Persamaan yang ada pada penelitian ini adalah berkaitan dengan

pengelolaan kelas dan motivasi belajar. Akan tetapi ada beberapa perbedaan,

diantaranya adalah pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan

pengambilan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumen.

Perumusan masalah yang ada pada penelitian ini adalah: (1) Bagaimana pelaksanaan

strategi pengelolaan kelas dalam meningkatkan motivasi belajar bahasa Arab siswa

MI Miftahul Huda Bengakl Temanggung; (2) Bagaimana motivasi belajar bahasa

(30)

pengelolaan kelas; dan (3) Apa saja faktor pendukung dan penghambat strategi

pengelolaan kelas dalam meningkatkan motivasi belajar bahasa Arab siswa MI

Miftahul Huda Bengkal Temanggung.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pengambilan data dilakukan dengan

observasi, wawancara, dokumen, dan angket. Sedangkan teknik analisis data

menggunakan analisis deskriptif kualitatif yang ditunjang teknik presentase: P = �

� x

100%. Pada hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Pelaksanaan strategi

pengelolaan kelas yang dilakukan guru bahasa Arab meliputi: a) Keterampilan

mengelola kelas yaitu: 1. Pengaturan kondisi fisik kelas dan, 2. Pengaturan siswa di

kelas dilakukan dengan modifikasi tingkah laku siswa, melakukan pendekatan,

melakukan teguran, bersikap luwes, dan terbuka terhadap siswa. b) Mengelola

nteraksi perilaku belajar di dalam kelas. 2) Motivasi belajar bahasa Arab meningkat

berdasarkan angket siswa yaitu, a) 50% siswa selalu senang dan semangat mengikuti

pelajaran bahasa Arab. b) 68% siswa selalu aktif. c) 64% sudah tercipta suasana kerja

kelompok. d) 84% selalu bertanya jika menemukan kesulitan dalam pembelajaran. e)

80% selalu ingin nilai yang baik. f) 56% semakin bertambah pengetahuan dan tekun

mempelajari pelajaran bahasa Arab. 3) Faktor pendukung dan penghambat strategi

pengelolaan kelas dalam mengingkatkan motivasi belajar bahasa Arab siswa adalah:

a) Faktor pendukung: peraturan sekolah, strategi dan metode yang bervariasi, visi dan

mini madrasah, dan siswa selalu aktif mengikuti pelajaran; b) Faktor penghambat:

kurangnya dukungan orang tua, sarana prasarana belum memadai, tidak adanya ruang

atau media pembelajaran, kurang percaya diri, kurang rasa tanggap siswa, konsentrasi

(31)

Sedangkan penelitian yang akan disusun ini berbeda dengan penelitian sebelumnya,

dalam penelitian ini peneliti memfokuskan pada hubungan keterampilan manajemen kelas

guru dengan motivasi belajar siswa di SMK Yapim Manado.

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini sebenarnya tidaklah merupakan hal

yang baru dalam dunia pendidikan. Karena berbicara tentang keterampilan manajemen kelas

guru dan motivasi belajar siswa sudah banyak literatur yang dapat ditemukan.

Ada beberapa referensi yang membahas tentang permasalahan keterampilan

manajemen kelas di antaranya adalah “Manajemen Kelas Teori Dan Aplikasi Untuk

Menciptakan Kelas Yang Kondusif” karya Novan Ardy Wiyani, “P engelolaan Kelas dan

Siswa Sebuah Pendekata n Evaluatif” karya Suharsimi Arikunto, “Manajemen Kelas” karya

Mudasir, dan “Manajemen Kelas (Classroom Management) Guru Profesional yang

Inspiratif, Kreatif, Menyenangkan, dan Berprestasi ” karya Euis Karwati dan Donni Juni

Priansa.

Sedangkan referensi yang membahas tentang permasalahan motivasi belajar

diantaranya adalah “Interaksi & Motivasi Bela jar Mengajar” karya Sardiman.“Psikologi

Belajar Dan Mengajar” karya Oemar Hamalik, “Motivasi dalam Pembela jaran” karya Esa

Nur Wahyuni, dan masih banyak lagi literatur yang membahas tentang permasalahan

Manajemen Kelas dan Motivasi Belajar.

Literatur yang peneliti sebutkan di atas banyak membahas tentang seluk beluk

keterampilan manajemen kelas dan motivasi belajar siswa. Lebih khusus literatur tersebut

banyak menitikberatkan pada bagaimana cara guru dalam mengelola kelas yang baik dan juga

tentang bagaimana cara agar kegiatan belajar-mengajar lebih menarik sehingga

menumbuhkan motivasi belajar siswa.

Adapun maksud dari tinjauan pustaka ini adalah peneliti ingin mengemukakan

(32)

antara keterampilan manajemen kelas guru dengan motivasi siswa di SMK Yapim Manado,

dengan beberapa karya tulis.

D. Kerangka Berpikir

Bila manajemen kelas merupakan kecakapan dari seorang guru sebagai seorang

manajer kelas yang mampu menciptakan dan memelihara suasana kelas yang kondusif, maka

hubungan kecakapan pengelolaan kelas tersebut bisa membangkitkan, mengarahkan dan

memelihara motivasi siswa untuk mencapai tujuan dalam kegiatan belajar-mengajar. Dengan

adanya hubungan yang baik antara keterampilan manajemen kelas yang dimiliki oleh guru,

maka akan baik pula suasana kegiatan belajar-mengajar.

Berikut ini merupakan skema paradigma penelitian:

Keterangan:

: Hubungan

Gambar 2.2 Paradigma Penelitian

E. Hipotesis Penelitian

Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara keterampilan manajemen kelas

guru dengan motivasi belajar siswa. Hal ini berarti, jika keterampilan manajemen kelas guru

lebih ditingkatkan lagi maka motivasi belajar siswa akan menjadi semakin besar.

Berikut ini merupakan hipotesis penelitian Hubungan keterampilan manajemen kelas

guru dengan motivasi belajar siswa di SMK Yapim Manado:

X

Keterampilan Manajemen Kelas Guru

Y

(33)

Ho : Tidak terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara keterampilan

manajemen kelas guru dengan motivasi belajar siswa.

Ha : Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara keterampilan manajemen

kelas guru dengan motivasi belajar siswa.

Hipotesis statistiknya ialah:

Hpo : � = 0

(34)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang

berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel

tertentu, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat

kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.45 Sedangkan, jenis penelitian ialah ex post facto dengan rancangan korelasional. Ex post facto

artinya sesudah fakta, yaitu penelitian yang dilakukan setelah suatu kejadian itu terjadi.46

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Yapim Manado.

Adapun waktu pelaksanaan penelitian ini dimulai dari bulan November 2014 sampai dengan

bulan Februari 2015.

C. Populasi dan Sampel a. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai

kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan

kemudian ditarik kesimpulannya.47

45Sugiyono, Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods), (Cet ke-5; Bandung: Alfabeta, 2014), h. 9.

46http://supriyanti-yantea.blogspot.com/2012/10/penelitian-expost-facto.html?m=1 diakses pada

Jum’at, 17 April 2015.

(35)

Dalam penelitian ini populasi yang diambil adalah seluruh siswa kelas XII (semua

jurusan) di SMK Yapim Manado Tahun Ajaran 2014-2015 yang berjumlah 86 orang yang

populasinya dapat ditunjukkan dengan tabel sebagai berikut:

Tabel 3.1 Sebaran Populasi

NO. KELAS JURUSAN POPULASI

1.

XII

Akuntansi 22

2. Teknik jaringan komputer (TKJ) 24

3. Perhotelan 20

4. Pariwisata 20

JUMLAH 86

b. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi (sebagian atau wakil populasi yang diteliti.

Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai sumber data dan dapat

mewakili seluruh populasi.48

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pengambilan sampel dengan cara sensus

atau total sampling. Dengan kata lain, peneliti menggunakan seluruh populasi sebagai sampel

yang ada sehingga tidak diperlukan lagi menghitung pengambilan jumlah sampel.

D. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini ada dua sumber data yang akan digunakan yaitu (1) data

keterampilan manajemen kelas guru, dan (2) data motivasi belajar siswa. Kedua data tersebut

dikumpulkan dengan menggunakan angket (questionnaire). Angket (questionnaire)

merupakan teknik pengumpulan data di mana partisipan/responden mengisi pertanyaan atau

pernyataan kemudian setelah diisi dengan lengkap mengembalikan kepada peneliti.49

Tujuan penyebaran angket ialah mencari informasi lengkap mengenai suatu masalah

dan responden tanpa merasa khawatir bila responden memberikan jawaban yang tidak sesuai

48

Riduwan, Belajar Mudah Penelitian, (cet. Ke-9; Bandung: Alfabeta), 2013, h. 56.

(36)

dengan kenyataan dalam pengisian daftar pertanyaan.50 Pada penelitian ini, angket digunakan untuk menyaring data tentang motivasi belajar siswa saat kegiatan belajar-mengajar.

Adapun angket (quetionnaire) yang akan digunakan ini adalah Skala Likert. Skala

Likert adalah bentuk kuesioner yang mengungkap sikap dari responden dalam bentuk

jawaban (penyataan) yang berupa: Selalu (SL) dengan skor 4, Sering (SR) dengan skor 3,

Kadang-kadang (KK) dengan skor 2, dan Tidak Pernah (TP) dengan skor 1. Skala Likert

digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang

tentang fenomena sosial.51

Dasar pertimbangan peneliti menggunakan angket karena ada beberapa kelebihan dari

menggunakan angket, antara lain:

1. Tidak memerlukan hadirnya peneliti;

2. Dapat dibagi secara serentak kepada semua responden; dan

3. Dapat dijawab oleh responden menurut kecepatannya masing-masing dan menurut

waktu senggang dari masing-masing responden.

E. Instrumen Penelitian 1. Jenis Instrumen

a. Instrumen Keterampilan Manajemen Kelas Guru

Keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan guru dalam menciptakan dan

memelihara kondisi belajar yang optimal serta keterampilan mengembalikan kondisi belajar

ke kondisi yang optimal bila terdapat gangguan dalam proses belajar baik yang bersifat

gangguan kecil dan sementara maupun gangguan yang berkelanjutan. Dalam bahasa lain,

keterampilan mengelola kelas dapat diartikan sebagai seni atau keterampilan guru dalam

50Riduwan, op. cit., h, 71.

(37)

mengoptimalkan sumber daya kelas bagi penciptaan proses pembelajaran yang efektif dan

efisien.52

Dari pengertian di atas peneliti membagi menjadi dua variabel yang menjadi fokus

penelitian, yaitu: (1) Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan

kondisi belajar yang optimal; dan (2) Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian

kondisi belajar yang optimal.

Berikut ini merupakan kisi-kisi instrumen pengumpul data keterampilan manajemen

kelas guru:

Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Keterampilan Manajemen Kelas Guru

No. Variabel Indikator Item

Instrumen pengumpul data keterampilan manajemen kelas guru dapat dilihat pada

lampiran 3.

52

(38)

b. Instrumen Motivasi Belajar Siswa

Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya

penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin

kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar,

sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.53

Dari pengertian di atas peneliti membagi menjadi dua variabel yang menjadi fokus

penelitian, yaitu: (1) Motivasi intrinsik; dan (2) Motivasi ekstrinsik.

Berikut ini merupakan kisi-kisi instrumen pengumpul data motivasi belajar siswa:

Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrurmen Motivasi Belajar Siswa

No. Variabel Indikator Item

1. Motivasi intrinsic  Semangat dalam

belajar.

2. Motivasi ekstrinsik  Lingkungan belajar. 25, 26, 27

 Prestasi belajar. 28, 29, 30

Jumlah 30

Instrumen pengumpul data keterampilan manajemen kelas guru dapat dilihat pada

lampiran 5.

53Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar , (Cet. Ke-22; Jakarta: Rajawali Pers, 2014), h.

(39)

2. Validitas Instrumen

Validitas adalah ukuran yang menunjukkan tingkat kualitas suatu instrumen. Valid

berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.54 Cara yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah dengan mengkorelasikan hasil

pengukuran dengan kriteria. Teknik korelasi yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran

adalah teknikkorelasi Product Moment dari Carl Person.55 Dengan kriteria pengujian sebagai berikut:

Jika rhitung > rtabel, maka Valid dan

Jika rhitung < rtabel, maka Tidak valid

Pada pengujian validitas diperoleh nilai rtabel sebesar 0,225 (dengan menggunakan

rumus interpolasi linear). Hasil analisis dengan rumus korelasi product moment

menggunakan bantuan subprogram Minitab 11 dapat dilihat pada lampiran 6.

Berikut merupakan tabel rekapitulasi hasil uji validitas keterampilan manajemen kelas

guru dan motivasi belajar siswa:

Tabel 3.4 Rekapitulasi Hasil Uji Validitas Keterampilan Manajemen Kelas Guru

No Butir rhitung rtabel Keterangan

(40)

17 17 0,556 0,225 Valid

Pada hasil pengujian validitas data keterampilan manajemen kelas guru dari 30 butir

pernyataan diperoleh 29 butir pernyataan yang valid. Sedangkan, 1 butir yang tidak valid

akan dihilangkan atau tidak digunakan lagi pada perhitungan selanjutnya.

Tabel 3.5 Rekapitulasi Hasil Uji Validitas Motivasi Belajar Siswa

No Butir rhitung rtabel Keterangan

(41)

27 27 0,502 0,225 Valid

28 28 0,328 0,225 Valid

29 29 0,172 0,225 Tidak valid

30 30 -0,005 0,225 Tidak valid

Pada hasil pengujian validitas data motivasi belajar siswa dari 30 butir pernyataan

diperoleh 27 butir pernyataan yang valid. Sedangkan, 3 butir yang tidak valid akan

dihilangkan atau tidak digunakan lagi pada perhitungan selanjutnya.

3. Reliabilitas Instrumen

Kata reliabilitas dalam bahasa Indonesia diambil dari kata reliability yang dalam

bahasa Inggris, berasal dari kata asal reliable yang artinya dapat dipercaya. Instrumen tes

dikatakan dapat dipercaya (reliable) jika memberikan hasil yang tetap atau konsisten apabila

diteskan berkali-kali.

Pengujian reliabitas instrumen dapat dilakukan dengan rumus Alpha Cronbach.

Rumus ini biasa digunakan untuk instrumen berupa angket dan jawaban yang dibuat dalam

setiap instrumen skornya interval. 56 Berikut ini merupakan hasil analisis reliabilitas dengan rumus Alpha Cronbach menggunakan bantuan SPSS 16 for Windows:

Tabel 3.6 Hasil Uji Reliabilitas Keterampilan Manajemen Kelas Guru

Tabel 3.7 Hasil Uji Reliabilitas Motivasi Belajar Siswa

56Ibid., h. 115.

Reliability Statistics

Cronbach's

Alpha N of Items

.880 30

Reliability Statistics

Cronbach's

Alpha N of Items

(42)

Untuk mengetahui apakah instrumen tersebut reliabel atau tidak, maka langkah

selanjutnya adalah mengkonsultasikan dengan harga kritik atau standar reliabilitas. Harga

kritik untuk indeks reliabilitas instrumen adalah 0,7. Artinya suatu instrumen dikatakan

reliabel jika mempunyai nilai koefisien Alpha sekurang-kurangnya 0,7. Perhitungan rumus

Alpha dapat juga dilakukan dengan menggunakan komputer program SPSS 16 for windows.

Pada hasil uji reliabilitas instrumen keterampilan manajemen kelas diperoleh nilai

sebesar 0,880, sedangakan pada reliabilitas instrumen motivasi belajar siswa diperoleh nilai

sebesar 0,739. Hal ini berarti, jika nilai koefisien Alpha > harga kritik 0,7 maka instrumen

dapat dikatakan reliabel. Dengan demikian, kedua instrrumen dapat dikatakan reliabel karena

mempunyai nilai koefisien Alpha yang lebih besar dari harga kritik 0,7.

F . Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan peneliti adalah statistik inferensial. Statistik

inferensial (sering juga disebut statistik induktif atau statistik probabilitas) adalah teknik yang

digunakan untuk populasi. Statistik ini akan cocok digunakan bila sampel diambil dari

populasi yang jelas dan teknik pengambilan sampel dari populasi itu dilakukan secara

random.57

Statistik ini disebut statistik probabilitas, karena kesimpulan yang diberlakukan untuk

populasi berdasarkan data sampel yang kebenarannya bersifat peluang (probability). Suatu

kesimpulan dari data sampel yang akan diberlakukan untuk populasi itu mempunyai peluang

kesalahan dan kebenaran (kepercayaan) yang dinyatakan dalam bentuk presentase. Bila

peluang kesalahan 5% maka taraf kepercayaan 95%, bila peluang kesalahan 1% maka taraf

kepercayaan 99%. Peluang kesalahan dan kepercayaan itu disebut dengan taraf signifikansi.

Statistik inferensial terbagi menjadi dua, yaitu statistik parametris dan nonparametris.

Dalam penelitian ini karena menggunakan data interval jadi peneliti memilih statistik

(43)

parametris untuk menguji hipotesis. Karena judul dari penelitian ini bersifat asosiatif

(hubungan), maka akan digunakan rumus korelasi product moment dalam pengujian

(44)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Data Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini adalah hasil dari angket tentang hubungan dari keterampilan

manajemen kelas guru dengan motivasi belajar dari siswa. Untuk mengetahui keterampilan

guru dalam memanajemen kelas serta motivasi belajar siswa, angket diberikan kepada siswa

kelas XII yang berjumlah 86 orang, namun yang terjangkau oleh peneliti hanya 78 orang

sebagai responden dikarenakan ada 8 orang yang tidak hadir pada saat penelitian.

Dari isian angket yang berjumlah 78 orang tersebut setelah dianalisis, diperoleh data

sebagai berikut.

a. Deskripsi Hasil Keterampilan Manajemen Kelas Guru

Dalam menganalisis variabel Keterampilan Manajemen Kelas Guru ada 2 indikator

yang digunakan, yaitu (1) Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan

pemeliharaan kondisi belajar yang optimal; (2) Keterampilan yang berhubungan dengan

pengendalian kondisi belajar yang optimal.

Pengumpulan data keterampilan manajemen kelas guru dilakukan dengan

menggunakan angket dengan empat kategori pilihan jawaban yang berisi sebanyak 29 butir

pernyataan yang valid. Secara teoretik skor minimum yang dicapai siswa adalah 29 dan

(45)

Berikut ini adalah tabel yang memuat statistik deskriptif data keterampilan

manajemen kelas guru hasil penelitian.

Tabel 4.1 Data Statistik Deskriptif Ketrampilan Manajemen Kelas Guru

Statistik Deskriptif Manajemen Kelas

Berdasarkan angket yang diberikan pada 78 orang siswa diperoleh skor minimum 57

dan maksimum 112. Dari data-data tersebut di atas dapat dihitung panjang kelas interval

Panjang interval dapat dihitung dengan menggunakan rumus di atas sehingga

diperoleh harga R = 112 – 57, banyak kelas K = 1 + 3.3 log 78.

Dengan demikian diperoleh rentang nilai sebanyak 55, banyak kelas interval adalah

7,24 dibulatkan menjadi 7 dan diperoleh panjang kelas interval sebanyak 7,85 dibulatkan

menjadi 8. Berdasarkan data-data ini dibuat tabel distribusi frekuensi seperti pada tabel 4.2

berikut.

Tabel 4.2 Distribusi F rekuensi Keterampilan Manajemen Kelas Guru No Kelas Interval Frekuensi

Absolut

Gambar

Gambar 2.1 Sumber Motivasi Siswa
Gambar 2.2 Paradigma Penelitian
Tabel 3.1 Sebaran Populasi JURUSAN
Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Keterampilan Manajemen Kelas Guru Variabel Indikator Item
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian hipotesis yang menyatakan “terdapat hubungan antara keterampilan mengajar guru dengan motivasi belajar siswa kelas VI SD Negeri 101766 Bandar

Dengan demikian dapat dimaknai bahwa manajemen kelas, motivasi serta lingkungan belajar yang baik maka akan meningkatkan kedisiplinan belajar

Hasil yang diperoleh pada uji F menunjukkan bahwa variabel keterampilan mengajar guru dan motivasi belajar berhubungan positif dan signifikan terhadap prestasi belajar

Nilai Negelkerke R 2 sebesar 45,7% berarti bahwa variabel keterampilan komunikasi interpersonal dan motivasi belajar mampu menjelaskan prestasi belajar sebesar 45,7%

Strategi Yang Dilakukan Guru PAI Dalam Menciptakan Kelas Yang Kondusif. Pengelolaan kelas merupakan keterampilan yang harus dimiliki guru untuk memperlancar ataupun

Manajemen kelas merupakan segala kegiatan guru di kelas untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar

Dan menurut Uzer (2006 : 97) pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan

Manajemen kelas dalam pengeloaan kelas merupakan bagian integral dari kemampuan profesional yang harus dimiliki oleh seorang guru, mengelola kelas merupakan salah satu keterampilan