commit to user
Kinerja Dinas Pendidikan Pemuda Dan Olahraga Kota Surakarta Dalam Program Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta (BPMKS)
(Studi Sekolah Dasar Negeri Sabranglor Dan Sekolah Dasar Negeri Ngemplak)
Performance Department of Education Youth and Sports Surakarta In Community Education Support Surakarta Programme (BPMKS) (Study Sabranglor State Elementary School and
Ngemplak State Elementary School Afrizal Bangkit Matindar
Lestariningsih
Program Studi Ilmu Administrasi Negara
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret
Jl. Ir. Sutami, 36A, Kentingan Solo, 57126, Telp. 0271-637358/Fax: 0271-637358
E-mail: [email protected]
ABSTRACK
This research was conducted by looking at the problems of the mechanisms and controls on the implementation of the program BPMKS. The purpose of this study was to describe the performance Department of Education Youth and Sports Surakarta which serves as the main implementer of BPMKS programme.
This research is a qualitative descriptive study. Performance indicators used are the responsiveness and accountability. Subject of this research is the Department of Education Youth and Sports Surakarta research study in Sabranglor Elementary School No. 78 and Ngemplak Elementary School No. 149. Data was collected through interviews, observation, and documentation. The validity of the data using triangulation techniques. Analysis of the data used interactive analysis techniques by Miles and Hiberman
The results of this study indicate that the performance Department of Education Youth and Sports Surakarta include: (1) responsivity: implementation of SOP in the determination mechanism nominee program BPMKS, placement committee in each class, socialize regularly by the school to parents, procedures and requirements are already considered easy, no complaints regarding the service BPMKS programme and the different approaches of each school to determine the student recipient, (2) accountability: strict monitoring by the inspectorate, the publication of student data programme BPMKS recipients and budget utilization is still low, as well as the reporting of accountability from schools are partly still timely.
commit to user
PENDAHULUAN
Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu indikator kemajuan bangsa, dimana pendidikan sebagai upaya mencetak SDM yang unggul
mendorong setiap bangsa untuk
menyelenggarakan pendidikan yang
berkualitas dan terjangkau.
Dalam Indeks Pembangunan
Manusia oleh UNDP tahun 2015 Indonesia menempati peringkat ke 110 dari 187 negara, maka perlu upaya perbaikan kualitas SDM dengan memperhatikan pemerataan dan keterjangkauan karena masih tingginya kemiskinan di Indonesia yang menurut BPS tahun 2015 mencapai 28,59 juta orang.
Kebijakan pemerintah dalam
pendidikan dilakukan diantaranya dari Bantuan Operasional Pendidikan (BOS),
Program Bantuan Sosial Masyarakat
(BSM), dan Program Indonesia Pintar
(KIP). Tujuan kebijakan pendidikan
tersebut pada dasarnya membantu
masyarakat agar dapat memperoleh akses pendidikan.
Sebagai wujud representatif
Pemerintah Kota Surakarta mulai tahun 2010 memutuskan kebijakan di bidang
pendidikan yaitu Program Bantuan
Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta (BPMKS). Berdasar Peraturan Wali Kota Surakarta Nomor 11-A Tahun 2012, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga menjadi pihak pelaksana teknis.
Dengan mengacu kepada SK
Walikota Surakarta No. 471.1/2- F/1/2014, terdapat Rumah Tangga miskin 46.372 atau 160.837 jiwa maka BPMKS diperlukan bagi warga miskin.
BPMKS ditujukan untuk siswa bersekolah di wilayah Kota Surakarta untuk sekolah dasar dan menengah baik negeri dan swasta yang terbagi ke dalam kategori silver, gold, platinum. Pada penelitian ini penulis fokus pada sekolah dasar negeri,
dengan pertimbangan adanya Kuasa
Penggunaan Anggaran (KPA). Data Dinas Dikpora tahun 2015 menunjukkan Siswa Sekolah Dasar Negeri di Kota Surakarta
mencapai 38.531. Sementara dari tahun 2011-2015, anggaran program BPMKS sekolah dasar negeri selalu mengalami kenaikan, yang terakhir pada tahun 2015 jumlahnya mencapai Rp 6.961.551.000 dengan perkiraan sasaran mencapai 37.223. Persoalan muncul ketika tidak dijelaskanya pelaksanaan dalam petunjuk pelaksana dan petunjuk teknisnya, serta adanya persoalan terkait penentuan sasaran, dan kontrol dalam penggunaan dana
BPMKS di sekolah-sekolah yang
memungkinkan tindakan korupsi dengan alasan untuk meminta fee sebagai investasi kepada Dinas Dikpora agar sekolah tersebut terus dipertimbangkan menerima dana program.
Untuk mengetahui kinerja Dinas Dikpora di sekolah dasar negeri penelitian dilakukan di Sekolah Dasar Negeri Sabranglor Nomor 78 Surakarta dan Sekolah Dasar Negeri Ngemplak Nomor
149 Surakarta dengan pertimbangan
sebagian besar siswanya berasal dari warga tidak mampu dan warga relokasi. Maka judul penelitian ini adalah Kinerja Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota
Surakarta Dalam Program Bantuan
Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta (BPMKS) (Studi Sekolah Dasar Negeri Sabranglor dan Sekolah Dasar Negeri Ngemplak)
TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Kinerja
Hessel Nogi (2005:175), “Kinerja
sebagai gambaran mengenai tingkat
pencapaian pelaksanaan tugas dalam suatu organisasi, dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi, dan visi organisasi tersebut.
Pasolong (2010:375) menjelaskan bahwa “Kinerja pegawai dan kinerja organisasi memiliki keterkaitan yang sangat erat. Tercapainya tujuan organisasi tidak bisa terlepas dari sumber daya yang dimiliki oleh organisasi yang dijalankan oleh pegawai yang berperan aktif sebagai pelaku dalam upaya mencapai tujuan organisasi tersebut. Kinerja organisasi pada
commit to user dasarnya merupakan tanggung jawab setiap
individu yang bekerja dalam organisasi. Apabila dalam organisasi setiap individu
bekerja dengan baik, berprestasi,
bersemangat memberikan kontribusi
terbaik mereka terhadap organisasi maka kinerja organisasi secara keseluruhan akan baik. Dengan demikian, kinerja organisasi merupakan cermin dari kinerja individu“.
Jadi kinerja adalah kerangka kerja dan alat untuk memahami kekuatan dan kesempatan organisasi. Kinerja bisa menjelaskan bagaimana pelaksanaan tugas-tugas dapat dijalankan secara aktual dan misi organisasi tercapai.
B. Pengukuran Kinerja
Penilaian kinerja lembaga
pemerintah merupakan langkah penting tuntutan yang semakin tinggi terhadap pertanggungjawaban yang diberikan oleh penyelenggara negara atas kepercayaan yang diamanatkan kepada mereka.
Dalam IOSR Journal of Business
and Management oleh Leena Toppo
(2012:5), “Penilaian kinerja merupakan sistem tinjauan formal dan evaluasi dari tim pengawas kinerja. Fokus dari sistem penilaian kinerja perusahaan adalah karyawan. Terlepas, penggunakan sistem efektif untuk mengevaluasi kerja dan memulai tatanan untuk pembinaan, tujuan, dan target.”
Pengukuran kinerja menurut
Mahmudi (2005:12), “adalah alat untuk menilai kesuksesan organisasi. Dalam konteks organisasi sektor publik, kesuksesan organisasi itu akan digunakan untuk menggunakan legitimasi dan dukungan publik. Masyarakat akan menilai kesuksesan organisasi sektor publik melalui kemampuan organisasi dalam memberikan pelayanan publik yang relatif murah dan berkualitas. Pelayanan publik tersebut yang menjadi bottom line dalam organisasi sektor publik.”
Tujuan pengukuran kinerja menurut Mahmudi (2005:14):
1. Mengetahui tingkat ketercapaian tujuan organisasi
2. Menyediakan sarana pembelajaran
pegawai
3. Memperbaiki kinerja periode
berikutnya
4. Memberikan pertimbangan yang
sistematik dalam perbuatan keputusan pemberian reward dan punishment
5. Memotivasi pegawai
6. Menciptakan akuntabilitas publik C. Indikator Kinerja
Dalam Jurnal Performance Criteria and Quality Indicators For The Pre-analytical Phase Clin Chem Lab Med oleh Mario Plebani (2015) mengemukakan bahwa: “Penggunaan dari indikator kinerja
harus berdasarkan hasil pengamatan
dan/atau hasil yang diharapkan di dalam kaitannya pada tujuan yang akan digunakan)”.
Namun Mahmudi (2005:6)
mengutarakan jika kinerja merupakan suatu konstruk multidimensional, pengukurannya
juga bervariasi tergantung pada
kompleksitas faktor-faktor yang
membentuk kinerja. Sementara Agus Dwiyanto (2002:49) menjelaskan jika penilaian kinerja birokrasi publik tidak cukup dilakukan menggunakan indikator yang melekat pada birokrasi tetapi harus dilihat dari indikator- indikator yang melekat pada pengguna jasa, karena tujuan dan misi stakeholder yang memiliki kepentingan berbeda. Akibatnya, ukuran kinerja organisasi publik di mata para stakeholder juga berbeda-beda. Indikator kinerja Program BPMKS menggunakan teori Agus Dwiyanto (2002:48-49), yaitu: 1. Responsivitas
Responsivitas pada konteks ini akan melihat pada keselarasan antara program dengan kegiatan pelayanan yang diberikan dengan kebutuhan publik. Agus Dwiyanto (2006:63) menjabarkan beberapa kriteria responsivitas:
a. Terdapat tidaknya keluhan dari
pengguna jasa selama satu tahun terakhir
b. Sikap aparat birokrasi dalam merespon keluhan dari pengguna jasa
commit to user c. Penggunaan keluhan dari pengguna jasa
sebagai referensi bagi perbaikan penyelenggaraan pelayanan pada masa mendatang
d. Berbagai tindakan aparat birokrasi untuk memberikan kepuasan pelayanan kepada pengguna jasa
e. Penempatan penggunaan jasa oleh
aparat birokrasi dalam sistem pelayanan yang berlaku
2. Akuntabilitas
Agus Dwiyanto (2006:57)
mengutarakan bahwa “akuntabilitas dalam penyelenggaraan pelayanan publik sebagai suatu ukuran yang menunjukkan seberapa
besar tingkat kesesuaian antara
penyelanggaraan pelayanan dengan ukuran nilai-nilai dan norma eksternal yang ada di masyarakat atau yang dimiliki oleh para stakeholders.
Untuk mengetahui akuntabilitas secara lebih spesifik, penulis menggunakan kriteria akuntabilitas Widodo (2005), yaitu: a. Tepat Sasaran
b. Penerapan Skala Prioritas c. Sistem Kontrol yang Ketat
D. Program Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta (BPMKS)
Program BPMKS adalah bantuan pendidikan untuk penduduk Kota Surakarta usia sekolah dasar dan menengah negeri maupun swasta, diwujudkan dalam bentuk kartu terbagi ke dalam tiga ketegori yaitu silver, gold, dan platinum.
Tujuan BPMKS dalam Pasal 4 Peraturan Walikota Surakarta Nomor 11-A Tahun 2012: (a) mensukseskan program penuntasan wajib belajar pendidikan dasar Sembilan tahun menuju wajib belajar
pendidikan dua belas tahun; (b)
meningkatkan layanan dan mutu
pendidikan, ; (c) memenuhi hak dasr masyarakat miskin di bidang pendidikan. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif Pendeskripsian secara rinci dan mendalam mengenai potret
kondisi tentang apa yang sebenarnya terjadi Menurut Sutopo (2002:74) penelitian ini termasuk dalam kasus tunggal terpancang. Penelitin ini tidak hanya terbatas pada pengumpulan dan penyusunan data tetapi
menjelaskan dan menganalisa data
sehingga menjadi sebuah wacana yang logis dan obyektif.
Pada penelitian kualitatif tidak ditentukan berapa banyak informan, karena lebih mengacu kepada kualitas dan
kelengkapan, teknik sampling yang
digunakan adalah purposive sampling. Penulis memilih informan yang dianggap
mengetahui permasalahan secara
mendalam objek penelitian secara
mendetail dan dapat dipercaya untuk menjadi sumber data yang mantap (Sutopo, 2002:56). Untuk melengkapi informasi, penulis menggunakan teknik snowball
sampling yaitu mengikuti petunjuk
informan pertama untuk mendapatkan data dari informan yang ditunjuk berikutnya.
Penulis memperoleh data-data
dengan cara wawancara, observasi, dan mempelajari secara mendalam dokumen-dokumen yang sesuai dengan topik penelitian.
Lokasi yang diambli oleh penulis adalah di Kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Surakarta yang beralamat di Jalan DI. Panjaitan Nomor 7
Surakarta, Sekolah Dasar Negeri
Sabranglor Nomor 78 yang beralamat di Kampung Sabranglor RT 05/RW 08 Jebres, Kota Surakarta, dan Sekolah Dasar Negeri Ngemplak Nomor 149 yang beralamat di Jalan Agung Timur Ngemplak RT 01/RW 29 Mojosongo, Kota Surakarta.
Untuk menguji kemantapan data digunakan teknik trianggulasi data. Cara ini mengarahkan peneliti untuk wajib menggunakan beragam sumber data yang tersedia, artinya data yang sejenis akan lebih mantap kebenarannya jika digali dari beberapa sumber yang berbeda, penulis mengguakan teknik analisis interaktif. Terdapat tiga komponen utama yang harus dipahami dalam teknik triangulasi yaitu reduksi data, sajian data, penarikan
commit to user kesimpulan beserta verifikasinya yang
masing-masing terlibat dalam proses analisis dan saling berkaitan.
Reduksi data dimulai dari
pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti setiap harinya baik dari kegiatan
wawancara, observasi maupun
dokumentasi. Setelah data terkumpul dan ditelaah, selanjutnya data disajikan dalam bentuk suatu informasi yang tersusun sehingga dapat memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan serta adanya pengambilan tindakan.
Penarikan simpulan dilakukan
setelah semua data berhasil dikumpulkan dan dianalisis, kemudian dicari pola-pola, tema,ketentuan, penjelasan, dan kesamaan-kesamaaan yang aktivitas di antara ketiga komponen tersebut dilaksanakan dalam
bentuk interaktif dalam proses
pengumpulan data dalam suatu proses siklus Miles dan Hiberman dalam (Sutopo, 2002: 94-96).
PEMBAHASAN A. Responsivitas
1. Terdapat tidaknya keluhan dari pengguna jasa
Selama berjalanya program
BPMKS berlangsung, belum ada keluhan secara eksplisit dari para orang tua siswa.
Pelaksanaan program BPMKS dapat
berjalan dengan baik, karena secara hakikat dana bantuan itu adalah untuk membantu dan meringankan beban orang tua akan kebutuhan sekolah anak-anak mereka
khususnya bagi penerima golongan
platinum. Dana program BPMKS ini lebih ditujukan untuk hal-hal penunjang kegiatan non operasional. Pelaksanaan program BPMKS selama ini tidak menemui kendala karena mekanisame yang dijalankan cukup mudah, dengan kemudahan tersebut tidak menjadi persoalan bagi orang tua dari siswa yang bersangkutan untuk tetap antusias dalam menyekolahkan anak-anak mereka. 2. Sikap aparat organisasi publik dalam
merespon keluhan dari pengguna jasa
Dinas Dikpora menghimpun
berbagai masukan untuk kemudian akan
dibahas bersama dengan sekolah
bersangkutan, karena ini merupakan bentuk tanggungjawab dan hak untuk membina sekolah, baik itu kepala sekolah, bendahara sekolah, komite sekolah atau guru kelas yang terlibat dan punya tanggung jawab dalam pelaksanaan program BPMKS. Sekolah selalu memberikan informasi kepada oang tua, penanganan persoalan BPMKS cukup melalui sekolah yaitu lewat komite. Dinas Dikpora akan memberikan arahan kepada sekolah memberikan solusi dan arahan kepada orang tua siswa dan melakukan pembinaan untuk sekolah yang belum melaksanakan tugasnya dengan baik. 3. Penggunaan keluhan dari pengguna jasa sebagai referensi bagi perbaikan penyelenggaraan pelayanan pada masa mendatang
Dinas Dikpora melakukan
pendataan ulang melalui komite sekolah dan menyampaikan informasi terkait perubahan program khususnya pembahasan program yang telah berjalan satu tahun
terakhir, menyampaikan prosedur
pendataan ulang, memberikan kewajiban bagi sekolah untuk menyerahkan laporan. Bentuk laporan antara sekolah negeri dan swasta berbeda, prosedur dalam melakukan laporan juga berbeda, karena untuk sekolah swasta kepengurusanya melibatkan pihak luar pemerintah. Hal tersebut secara efektif membantu memudahkan Dinas dalam pengecekan kepada sekolah yang sudah dan yang belum menyampaikan laporanya. Dengan begitu Dinas Dikpora bisa memantau langsung hasil kinerja dari berjalanya program BPMKS setiap tiga bulan sekali atau empat kali dalam satu tahun.
4. Berbagai tindakan apparat birokrasi untuk memberikan kepuasan pelayanan kepada pengguna jasa
Langkah konkrit Dinas Dikpora yaitu penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) sebagai dasar dan pedoman
commit to user untuk pengusulan calon. Tetapi tidak semua
sekolah menerapkan, hal tersebut
tergantung bagaimana sekolah melihat siswa masing-masing. Di SD N Sabranglor bahwa untuk memastikan bahwa penerima layanan BPMKS dapat terpuaskan sekolah menempatkan komite di kelas, jadi aspirasi orang tua bisa di tampung semua. Hal tersebut juga dilakukan di SD N Ngemplak yaitu semua guru adalah komite yang mempunyai tugas dalam pelaksanaan program BPMKS. komite akan dilibatkan oleh Dinas Dikpora untuk dimintai keterangan terkait perubahan sasaran,
pendataan sasaran besaran rencana
anggaran, dan prioritas program
berikutnya.
5. Penempatan pengguna jasa oleh aparat birokrasi dalam sistem pelayanan yang berlaku
Untuk melihat penempatan
pengguna jasa dalam layanan BPMKS bisa dilihat pada penerapan SOP BPMKS, yaitu: a. Pendataan Siswa
Sekolah mengumpulkan data-data dan menentukan calon penerima program BPMKS dengan dasar kepemilikan SK
Walikota Surakarta No.
471.1/2-F/1/2014. Sekolah akan mengundang orang tua siswa untuk mengikuti kegiatan sosialisasi program BPMKS. b. Verifikasi Data dan Pembuatan Konsep
Data calon siswa penerima program BPMKS akan di verifikasi, pembuatan konsep, pemeriksaan konsep, dan penyerahan konsep kepada Sekretaris dan Kepala Dinas.
c. Persetujuan Konsep oleh Kepala Dinas dan Sekretaris
Data dari siswa yang dianggap telah memenuhi persyaratan akan di periksa, apabila sudah ditemukan kevalidan dan
kemantapan, data konsep akan
diberikan persetujuan dan kemudian ditandatangani.
d. Arsip Data dan Tindaklanjut oleh Sub Bagian PEP
Konsep data siswa calon penerima yang telah mendapat persetujuan kemudian
akan dibuatkan arsip dan menjadi dokumen resmi di Sub Bagian PEP untuk ditindaklanjuti kepada sekolah dan siswa.
B. Akuntabilitas 1. Tepat sasaran
Sasaran program BPMKS di kedua sekolah di prioritaskan untuk siswa miskin. Di SD Negeri Sabranglor sasaran disetiap periode tidak sama, karena periode berikutnya dimulai dengan pendataan siswa dan perencanaan program lagi. Kewajiban sekolah terkait pelaksanaan program
dirasakan semakin mudah karena
penerapan mekanisme belanja langsung
semakin meringankan kerja sekolah.
Namun disini terdapat perbedaan
mekanisme penggunaan anggaran, di SD N Ngemplak dana BPMKS digunakan untuk kebutuhan operasional sekolah, dan membayar jasa guru honorer, sementara di SD N Sabranglor hanya menjalankan instruksi karena sekolah mereka masuk kategori platinum sehingga penggunaanya diatur oleh Dinas Dikpora.
2. Penerapan skala prioritas
BPMKS digunakan untuk kegiatan operasional sekolah, sarana dan prasarana, untuk buku-buku, perbaikan fasilitas, tapi
yang sifatnya kecil. Job untuk
pembelanjanya diatur oleh sekolah dengan lihat dulu mana yang lebih penting. Di SD N Sabranglora siswa menerima bantuan BPMKS berupa seragam, dan alat tulis, di SD N Ngemplak Siswa tidak menerima langsung, tetapi digunakan untuk kegiatan operasional sekolah dan siswa, tetapi tidak menutup kemugkinan jika ada siswa yang membutuhkan, sekolah akan membantu, khususnya untuk pakaian dan sepatu. Penggunaan anggaran program BPMKS ditentukan dalam penentuan prioritas anggaran di RKAS. Dalam rapat oleh komite atau perwakilan sekolah, komite
bisa mengajukan penambahan kuota
anggaran yang disesuaikan dengan
kebutuhan sekolah atau jumlah siswa penerima program BPMKS tiap periode.
commit to user 3. Sistem kontrol ketat
Monitoring dilakukan oleh dua pihak, yaitu inspektorat dari pemerintah kota dan inspektorat dari Dinas Dikpora. Tugas inspektorat adalah untuk memantau, melakukan pemeriksaaan, dan pembinaan kepada masing sekolah terkait persoalan penggunaan anggaran secara, penyelesaian persoalan mekanisme program BPMKS, serta evaluasi sehingga memungkinkan perbaikan mekanisme berikutnya. Tujuan dari kegiatan monitoring tersebut adalah untuk meyakinkan kepada publik atau masyarakat bahwa dalam pelaksanan program BPMKS ini dapat diterima oleh yang benar-bnar berhak dengan jumlah,
bentuk, cara mendapatkan dan
penggunaanya secara tepat waktu dan guna PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian maka kesimpulan kinerja Dinas Dikpora Kota Surakarta dalam program BPMKS di SD Negeri Sabranglor Nomor 78 Surakarta dan SD Negeri Ngemplak dalam Responsivitas sudah baik, tidak ada keluhan dari orang tua siswa karena sodilakukan sialisasi program BPMKS dan pendataan siswa secara rutin, Secara akuntabilitas sudah dilaksanakan dengan baik, prioritas program untuk siswa miskin, penggunaan dana di SD Negeri Sabranglor sudah diatur oleh Dinas Dikpora Kota Surakarta, jadi sekolah hanya menjalankan instruksi, sementara di SD Negeri Ngemplak diatur oleh pihak
sekolah. Sementara monitoring oleh
inspektorat dari Dinas Dikpora dan laporan pertanggungjawaban anggaran dilakukan setiap triwulan.
Berdasarkan kesimpulan, maka penulis mengajukan saran yaitu: 1) Dinas Dikpora perlu memanfaatkan teknologi informasi, yaitu penyediaaan wadah untuk menampung keluhan atau feedback dari masyarakat, 2) perlu menyampaikan hasil
laporan kepada masyarakat, serta
pemaparan tindak lanjut atau kebijakan yang diambil oleh pemerintah atas respon ddari hasil dari laporan monitoring, dan 3) Dinas Dikpora perlu mempublikasi data
penerima program, jumlah sekolah
penerima, besaran anggaran, dan realisasi
anggaranya sehingga memungkinkan
masyarakat untuk melakukan kontrol atau pengawasan.
DAFTAR PUSTAKA Buku
Dwiyanto, Agus, dkk. 2002. Reformasi Birokrasi Publik di Indonesa.
Yogyakarta : Gajah Mada
University Press
Hessel Nogi S Tangkilisan. 2005.
Manajemen Modern Untuk
Sektor Publik. Yogyakarta:
Balairung
Mahmudi. 2005. Manajemen Kinerja
Sektor Publik. Yogyakarta. UPP-
AMP YKPN
Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi
Penelitian Kualitatif. Bandung :
Penerbit PT Remaja Rosdakarya Pasolong,Harbani.2013.Teori Administrasi
Publik. Bandung : CV. Alfabeta
Sutopo, HB. 2002. Metodologi Penelitian
Kualitatif. Surakarta : Sebelas
Maret University Press
Widodo, Joko. 2005. Membangun
Birokrasi Berbasis Kinerja.
Malang: Bayumedia Publishing Jurnal
Ms. Leena Toppo, Dr. (Mrs.) Twinkle
Prusty. 2012. From Performance
Appraisal to Performance Management.
IOSR Journal of Business and Management
(IOSRJBM), Volume 3, Issue 5,
September-Oktober 2012. Diakses tanggal 20 Mei 2016 pukul 07.45 WIB
Plebani, Mario. Performance criteria and quality indicators for the pre-analytical
phase. Clin Chem Lab Med, Volume 53,
Number 6 2015. Diakses hari Selasa tanggal 5 Mei 2016 pukul 08.00 WIB Kebijakan
Peraturan Wali Kota Surakarta Nomor 11- Masyarakat Kota Surakarta