• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X IPA 4 SMAN 1 LIWA MELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING MATERI MENJAUHI PERGAULAN BEBAS DAN PERBUATAN ZINA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X IPA 4 SMAN 1 LIWA MELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING MATERI MENJAUHI PERGAULAN BEBAS DAN PERBUATAN ZINA"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Vol. 2, No.2 Oktober 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

569

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X IPA 4 SMAN 1 LIWA MELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING MATERI MENJAUHI

PERGAULAN BEBAS DAN PERBUATAN ZINA

Darwan

Email : [email protected] ABSTRAK

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah penerapan model problem based learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X IPA 4 SMAN 1 Liwa. Adapun jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dan subyek penelitian siswa kelas X IPA 4 SMA 1 Liwa yang berjumlah 31 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, tes, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan rumus rata-rata nilai, prosentase ketuntasan belajar dan data observasi. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan model problem based learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X IPA 4 SMAN 1 Liwa. Hal ini dapat dibuktikan dari nilai rata-rata siswa yang sebelum diterapkan model problem based learning (PBL) pada saat Pra Siklus yaitu terdapat 12 siswa dari 31 anak yang mendapat nilai di atas 70 atau 32,28%.

Setelah diterapkan model problem based learning hasil belajar siswa pada siklus 1 terdapat 16 siswa dari 31 anak yang mendapat nilai diatas 70 atau 51,61%. Pada siklus II hasil belajar siswa meningkat, yaitu terdapat 27 siswa dari 31 anak yang mendapat nilai 70 atau 87,09%. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa adanya peningkatan hasil belajar siswa kelas X IPA 4 SMAN 1 Liwa materi larangan pergaulan bebas dan perbuatan zina dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning.

Kata Kunci: Hasil Belajar, Model Problem Based Learning, Pergaulan Bebas dan PENDAHULUAN

Pendidikan Islam merupakan bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum Agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. (M. Muntahibun. N: 2011).

Tujuan utama dari Pendidikan Agama Islam ialah membina dan mendasari kehidupan anak didik dengan nilai-nilai agama sekaligus mengajarkan ilmu agama Islam (Muhammad Muntahibun Nafis : 2011) sehingga ia mampu mengamalkan syariat Islam sesuai pengetahuan yang dimiliki.

(2)

Vol. 2, No.2 Oktober 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

570

Kurikulum Pendidikan Islam dirancang berdasarkan nash Al- Qur’an dan Al-Hadis, yang bertujuan agar manusia mendapat kesejahteraan didunia dan tetap dekat dengan Khaliknya. Kurikulum Pendidikan Islam dirancang agar kehidupan duniawi dan ukhrawi menjadi milik umat-Nya dengan modal iman, amal dan takwa kepadanya-Nya. Perbedaan prinsipil kurikulum Pendidikan Islam dengan kurikulum lain yang mempunyai kecenderungan mengutamakan aspek material dengan hasil sehingga proses belajar mengajar tidak berjalan dengan baik dan tujuan pembelajaran belum tercapai. (Abdullah Idi: 2014). Kurikulum Pendidikan Agama Islam tidak hanya menitikberatkan pada aspek kognitif semata-semata tetapi pembinaan dalam aspek spiritual dan sosial. Melalui penanaman nilai-nilai religius diharapkan akan membentuk karakter dan perilaku anak yang sesuai dengan norma-norma agama dan norma kesusilaan.

Salah satu problematika yang terjadi pada remaja saat ini adalah kerap ditemukannya kasus kenakalan remaja yang disebabkan oleh pergaulan bebas.

Perkembangan zaman dan kemajauan teknologi pergaulan remaja saat ini menjadi sorotan utama dikarenakan perkembangan arus remaja saat ini sangat mengkhawatirkan. Dewasa ini marak terjadi pergaulan bebas dikalangan remaja. Pergaulan bebas tersebut identik dengan tawuran antar pelajar,

“dugem” ( dunia gemerlap ), pemakaian narkoba, sek bebas yang akhirnya berujung pada terjangkit penyakit HIV/AIDS. Kehidupan remaja akan menjadi sangat timpang dari segala segi. Dampak yang ditimbulkan dari pergaulan bebas tentunya akan buruk terhadap para remaja, baik berdampak pada psikologis dan perilaku diri para remaja, pendidikan, kesehatan, keagamaan, dan terhadap kehidupan keluarga dan masyarakat sekitarnya.

Disisi lain problematika yang muncul pada proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah metode pembelajaran yang kurang bervariasi.

Dalam suatu proses belajar mengajar terjadi interaksi antara berbagai komponen yaitu guru, siswa, tujuan, bahan, alat, metode dan lain-lain. Masing- masing komponen saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Siswa adalah komponen yang paling utama dalam kegiatan belajar-mengajar, karena yang harus mencapai tujuan penting dalam pembelajaran adalah siswa yang belajar. Maka pemahaman terhadap siswa adalah penting bagi guru agar dapat menciptakan situasi yang tepat serta memberi pengaruh yang optimal bagi siswa untuk dapat belajar dan mendapatkan hasil belajar yang maksimal.

Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan penulis di SMAN 1 Liwa Lampung Barat secara faktual terdapat ketidaksesuaian moral/perilaku siswa dengan nilai-nilai ajaran Islam, seperti perkelahian antar kelompok (genk), minum minuman beralkohol, duduk berduaan dengan pasangan bukan muhrim ketika jam sekolah atau kegiatan ekstrakurikuer dan sebagainya.

(3)

Vol. 2, No.2 Oktober 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

571

Demikian pula halnya dari sisi proses pembelajaran di sekolah terungkap masih banyak siswa yang kurang memperhatikan penjelasan guru ketika berjalannya proses pembelajaran. Siswa cenderung pasif, mengantuk dan bosan saat guru menjelaskan materi, serta hasil ulangan masih banyak yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang diharapkan yaitu 70 ke atas, 67,74% siswa hasil ulangannya masih dibawah kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Penerapan model Problem Based Learning pada saat pembelajaran merupakan salah satu altrenatif untuk menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan. Model Problem Based Learning merupakan suatu model pengajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik yaitu suatu masalah yang sering ditemukan siswa dalam kehidupan sehari- hari. (Richard I. Arends: 2007)

Berdasarkan deskripsi di atas peneliti melakukan sebuah penelitian dengan mengangkat judul: “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X IPA 4 Melalui Model Problem Based Learning Materi Menjauhi Pergaulan Bebas dan Perbuatan Zina ”

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran dikelas. Penelitian dilakukan di SMAN 1 Liwa Lampung Barat, karena 67,74% siswa kelas X IPA 4 pada mata materi larangan pergaulan dan perbuatan zina hasil belajarnya belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 70 keatas.

Waktu pelaksanan penelitian dimulai tanggal 15 bulan September sampai dengan 30 Oktober tahun 2022 Semester Ganjil Tahun pelajaran 2022/2023. Subjek penelitian adalah siswa di SMAN 1 Liwa Lampung Barat siswa kelas X IPA 4 pada tahun pelajaran 2022-2023 dengan jumlah siswa sebanyak 31 anak yang tediri dari 22 laki-laki dan 9 perempuan.

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah Observasi dan tes.

Observasi yaitu suatu proses kompleks, suatu yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis, dua diantara yang terpenting adalah proses pengamatan dan ingatan, tekhnik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar dan dalam situasi tertentu untuk mendapatkan informasi tentang fenomena yang diinginkan. Sedangkan tes merupakan rangkaian pertanyaan yang memerlukan jawaban test sebagai alat ukur dalam proses penilaian maupun evaluasi dan mempunyai peran penting untuk mengukur pengetahuan, keterampilan,

(4)

Vol. 2, No.2 Oktober 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

572

kecerdasan bakat atau kemampuan yang dimiliki individu atau kelompok.

Proses belajar tes digunakan untuk mengukur tingkat pencapaian keberhasilan siswa kelas X IPA 4 SMAN 1 Liwa setelah melakukan kegiatan belajar.

Penelitian tindkan kelas ini dilakukan sebanyak 2 siklus yang meliputi:

perencanaan, pelaksanaan, pengamatan (observasi), dan refleksi, dengan menggunakan model Kemmis dan Taggart.

Adapun teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian adalah sebagai berikut:

1. Data Tes

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) bidang studi Pendidikan Agama Islam kelas X IPA 4 SMAN 1 Liwa adalah 70. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar pada siklus I dan siklus II, serta peningkatan presentasi belajar maka digunakan rumus sebagai berikut:

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) bidang studi Pendidikan Agama Islam kelas X IPA 4 SMAN 1 Liwa adalah 70. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar pada siklus I dan siklus II, serta peningkatan presentasi belajar maka digunakan rumus sebagai berikut:

a. Rata-rata Nilai Ket:

∑x = Nilai siswa.

N = Jumlah siswa.

b. Persentase Ketuntasan Belajar Ket:

KB = Persentase Ketuntasan Belajar.

F = Jumlah Siswa yang mendapat nilai diatas 70 N = Jumlah Seluruh Siswa.

c. Data Observasi

Data observasi yang diperoleh digunakan untuk merefleksi tindakan yang telah dilakukan dan diolah secara deskriptif dengan rumus :

Skor Perolehan

Rata-rata Skor x 100 Skor Maksimal

HASIL PENELITIAN

Berdasarkan hasil penggalian data dilakukan oleh peneliti terungkap bahwa masih banyak siswa yang pasif dalam kegiatan belajar, hanya sedikit yang aktif dalam proses pembelajaran. Ketika guru mengajukan pertanyaan yang menjawab pertanyaan hanya beberapa orang saja. Hasil atau nilai yang

(5)

Vol. 2, No.2 Oktober 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

573

didapat banyak yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM), seperti yang terlihat pada grafik berikut:

Grafik I

Hasil Belajar Pra Siklus

1

20

9 0 1

5 10 15 20 25

0-49 50-69 70-89 90-100

Jumlah Siswa

Hasil Belajar

Pra Siklus

Dari tabel dan grafik di atas, menunjukkan bahwa tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran belum tercapai. Nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 64.51. Ketuntasan belajar siswa baru mencapai 32,28%

atau ada 10 siswa dari 31 anak sudah tuntas belajar dan 21 siswa dari 31 anak atau 67,74% belum tuntas. Hasil tersebut menujukkan bahwa pada pra siklus secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai

≥ 70 hanya sebesar 32,28% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Berikut pembahasan hasil penelitian silus I dan siklus II :

Pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus I menggunakan model pembelajaran problem based learning masih belum optimal, hal tersebut ditunjukkan masih kurangnya partisipasi siswa untuk mendengarkan dan mencari pertanyaan karena masih banyak siswa yang sibuk dan asyik mengobrol dengan teman lainnya, ada beberapa siswa yang belum mampu menjawab pertanyaan yang diberikan temannya karena kurangnya membaca materi yang telah disediakan sehingga kurangnya pemahaman terhadap materi yang sedang dipelajari dan masih ada beberapa siswa yang ragu-ragu dalam menyampaikan dan menjawab pertanyaan karena masih kurangnya percaya diri dan takut salah.

Model pembelajaran problem based learning menekankan keaktifan siswa, siswa dituntut aktif dalam memecahkan suatu masalah (problem), model tersebut bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari oleh siswa untuk melatih dan meningkatkan keterampilan berfikir kritis sekaligus pemecahan masalah, serta mendapatkan pengetahuan

(6)

Vol. 2, No.2 Oktober 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

574

konsep-konsep penting. Guru harus memfokuskan diri untuk membantu siswa mencapai keterampilan mengarahkan diri, dengan model problem based learning (PBL), akan lebih mudah menangkap materi belajar mengajar yang disampaikan guru yang akan membentuk penguasaan materi belajar akan menjadi lebih baik.

Karena masih adanya beberapa kekurangan dalam proses pembelajaran pada siklus I, maka berdampak pada kurangnya tingkat pemahaman siswa, hal tersebut bisa dilihat dari hasil data belajar pada siklus I yang baru mencapai 54,83% yang artinya baru 16 orang yang mendapatkan nilai tuntas dari 31 siswa yang ada, namun sudah ada peningkatan prestasi siswa pada siklus I dibandingkan sebelum perbaikan/pra siklus.

Pada siklus II siswa sudah aktif dalam kegiatan pembelajaran dan bisa mengikuti model problem based learning secara keseluruhan baik dari pertanyaan dan jawaban yang diberikan serta mampu memberikan tambahan informasi terhadap pertanyaan maupun jawaban. Guru dalam hal ini hanya memberikan dan mengawasi terhadap jalannya proses diskusi yang dilakukan oleh siswa.

Ada peningkatan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, semua siswa berusaha memahami materi yang diberikan oleh guru, siswa juga sangat antusias sehingga menyimak jalannya tanya jawab yang dilakukan oleh teman yang lainnya. Setelah dilakukan tes atau penilain diakhir pembelajaran pada siklus II, ternyata hasil belajar siswa sudah mengalami peningkatan dalam proses pembelajaran, hal tersebut bisa dilihat dengan adanya perolehan nilai yang lebih baik bila dibandingkan siklus I jumlah siswa yang tuntas 16 siswa mencapai ketuntasan 51,61%. Pada siklus II jumlah siswa yang tuntas 27 siswa sehingga ketuntasan belajar meningkat menjadi 87,09% Berikut dapat dilihat perbandingan kedua siklus sebagai berikut:

Grafik 2

Perbandingan Hasil Belajar Siswa Pra Siklus, Siklus I Dan Siklus II

10 21

64,51

16 15

69,61 27

4

80,32

Tuntas Belum Tuntas Rata-Rata

Perbandingan Hasil Belajar

Pra Siklus Siklus I Siklus II

(7)

Vol. 2, No.2 Oktober 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

575

Berdasarkan perbandingan di atas maka secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran problem based learning pada pembelajaran PAI dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X IPA 4 SMAN 1 Liwa. Namun beberapa hal yang masih perlu diperbaiki pada penerapan model pembelajaran problem based learning adalah pada saat pelaksanaan penerapan problem based learning pada awal pembelajaran masih terdapat siswa yang kurang menyimak materi yang disampaikan guru.

Setelah dilakukan refleksi maka bermacam persoalan yang ditemukan tersebut akhirnya dapat diperbaiki dan memperoleh hasil yang lebih baik.

Problem based learning didefinisikan sebagai lingkungan belajar yang didalamnya menggunakan masalah untuk belajar, siswa diharuskan mengidentifikasi satu masalah nyata. PBL juga dapat didefinisikan sebagai sebuah metode pembelajaran yang didasarkan pada prinsip bahwa masalah kita dijadikan sebagai titik awal untuk mendapatkan ataupun mengintegrasikan ilmu baru.

Hasil belajar dari pembelajaran problem based learning (PBL) memiliki keterampilan penyelidikan, peserta didik memiliki keterampilan mengatasi masalah, peserta didik mempunyai kemampuan mempelajari peran orang dewasa, dan peserta didik dapat menjadi pembelajar yang mandiri.

Berdasarkan hasil yang diperoleh peneliti selama penelitian dapat dilihat pada tabel tentang hasil pengamatan aktifitas siswa pada penelitian tindakan kelas sebagai berikut :

Dari tabel perbandingan hasil nilai belajar di atas, untuk lebih jelas dapat juga bisa dilhat pada diagram sebagai berikut:

Diagram 2

Perbandingan Hasil Belajar Siswa Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II

Pra Siklus 32,28%

Siklus I 51,61%

Siklus II 87,09%

Perbandingan Hasil Belajar

(8)

Vol. 2, No.2 Oktober 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

576

Temuan penelitian ini mengungkap bahwa penggunaan model pembelajaran problem based learning terbukti dapat meningkatkan hasil belajar Pendidakan Agama Islam pada materi larangan pergaulan bebas dan perbuatan zina. Hal ini dibuktikan dengan perolehan hasil belajar PAI yang rata-rata mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) setelah dilakukan siklus II yaitu di atas 80. Jika temuan penelitian dianalisis sejalan dengan pendapat (Abuddin Nata:2011) yang menyatakan bahwa model pembelajaran problem based learning (PBL) adalah pembelajaran yang bertumpu pada kreativitas, inovasi dan motifasi para siswa. Dengan PBL, proses belajar lebih banyak bertumpu pada kegiatan para siswa secara mandiri, sementara guru bertindak sebagai perancang, fasilitator, motivator atas terjadinya kegiatan belajar mengajar tersebut, melalui PBL seorang siswa akan memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah yang selanjutnya dapat ia terapkan pada saat menghadapi masalah yang sesungguhnya dimasyarakat. (Abuddin Nata; 2011; 255).

Pembelajaran merupakan korelasi antara pendidik, peserta didik, dan sumber belajar dalam suatu lingkungan belajar. Chotimah dan Fathurrohman (2018:40) menyebutkan bahwa pembelajaran merupakan proses yang diberikan pendidik untuk membantu peserta didik dalam memperoleh ilmu pengetahuan, keterampilan dan pembentukan karakter pada suatu lingkungan belajar. Seorang pendidik dapat dikatakan berhasil jika tujuan dari pembelajaran tersebut telah tercapai. Suatu sarana diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran sehingga dapat mengatur terjadinya proses pembelajaran sehingga dapat terlaksana dengan baik, terarah, dan menyenangkan. Salah satu sarana yang dapat digunakan oleh pendidik untuk mengatur berjalannya suatu proses pembelajaran yaitu dengan menggunakan model pembelajaran.

KESIMPULAN

Pembelajaran menggunakan problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X IPA 4 SMAN 1 Liwa materi larangan pergaulan bebas dan perbuatan zina. Peningkatan hasil belajar tersebut terbukti setelah pada siklus II diperoleh rata-rata nilai 80,80 dan peningkatan hasil ketuntasan belajar sisiwa meningkat menjadi 87,09%, hasil observasi aktifitas siswa adalah 90 (Baik) dan hasil observasi aktifitas guru 94,4 (Baik).

Berdasarkan penelitian ini peneliti mengemukakan saran bahwa Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti perlu didukung dengan media pembelajaran yang terintegrasi dengan teknologi informasi mengingat dewasa ini merupakan era digital, teknologi semakin canggih

(9)

Vol. 2, No.2 Oktober 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

577

sehingga perlu diterapkan dalam pembelajaran agar siswa dapa mengoerasikan teknologi yang bermanfaat dalam pembelajaran, sehingga proses belajar mengajar lebih akan lebih menarik dan dapat mencari sumber belajar dalam memperkaya materi pelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Idi. 2014. Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktek. Jakarta : Rajawali Pers

Abdul Majid Dan Dian Andayani.2006. Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosda Karya

Abu ahmadi dan Widodo Supriyoono. 2004. Psikologi belajar. Jakarta: Rineka Cipta

Abuddin Nata. 2011. Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran. Jakarta:

Kencana

Anas Sudijono. 1995. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta: Rajawali Pers

Asnawan, “Pendidikan Islam Dan Teknologi Komunikasi”, Jurnal Falasifa.

Vol.1 No. 2 September 2010 kota Jember

Baharuddin Dan Esa Nur Wahyunu. 2008. “Teori Belajar Dan Pembelajaran”

Jogjakarta : Ar-Ruzz media

Basuki dan Miftahul Ulum.2007. Pengantar Ilmu Pendidikan Islam. Ponorogo:

STAIN Po Press

Kasmadi dan Nia Siti Sunariah. 2014. Panduan Modern Penelitian Kuantitatif.

Bandung : Alfabeta

Kunandar. 2013. Penilaian Autentik. Jakarta: Rajawali Pers

Muhammad Muntahibun Nafis. Ilmu Pendidikan Islam.Yogyakarta: Sukses Offset

M.Quraish shihab. 2002. Tafsir Al-Mishbah.Jakarta: Lentara Hati

NanaSyaodih Sukmadinata dan Erliana Syaodih. 2012. Kurikulum Dan Pembelajaran Kompetensi. Bandung: Refika Aditama

Nana Sudjana. 2006. “Penilaian hasil Proses Belajar Mengajar”. Bandung:

Remaja Rosdakarya

Richard I.Arends. 2007. Learning To Teach/Belajar Untuk Mengajar.Yogyakarta: Pustaka Belajar

Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers

Salim Bahreisy dan Said Bahraisy. 1990. Terjemahan Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid VI. Surabaya: Bima Ilmu

Samsul Nizar. 2002. Filsafat Pendidikan Islam.Jakarta: Ciputat Pers

(10)

Vol. 2, No.2 Oktober 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

578

Suharsimi Arikunto dkk. 2011. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara

Yunahar Ilyas. 2006. Kuliah Akhlak. Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI)

Zen Amiruddin.2010. Statistik Pendidikan.Yogyakarta: Teras Zubaedi. 2011.

Desain Pendidikan Karakter. Jakarta: Kencana

Referensi

Dokumen terkait

Merujuk pada pentingnya dikembangkan interaksi siswa selama proses pembelajaran dan keberhasilan model pembelajaran Problem Based Learning dalam memfasilitasi pengembangan

Selain itu, untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan proses pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang dapat meningkatkan pemahaman

Dari hasil analisis data pada hasil belajar siswa yang dilakukan pada pelaksanaan tindakan di siklus II dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based

Dari peningkatan hasil belajar siswa di atas, peneliti berpendapat bahwa penggunaan Model Problem Based Learning yang telah peneliti terapkan baik pada pembelajaran siklus

Secara lebih rinci tujuan penelitian ini adalah : (1) Untuk melihat kemampuan guru mengelola pembelajaran dengan menggunakan model Problem Based Learning (PBL)

Salah satu model pembelajaran fisika yang mudah dipahami apabila pada saat proses belajar mengajar adalah model Problem Based Learning (PBL).. 3 Pembelajaran model PBL

Dengan demikian, dari hasil penelitian siklus I dan siklus II terlihat sangat jelas bahwa hasil penelitian dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning PBL dapat

Penerapan model pembelajaran problem based learning mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar dan keaktifan peserta didik yang ditunjukkan dengan hasil