• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

4.1. Administrasi dan Letak Geografis

Kabupaten Pidie Jaya yang dibentuk berdasarkan Undang-undang No.7 Tahun 2007 memiliki ibukota Kabupaten yaitu Meureudu. Kota Meureudu selain berfungsi sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Pidie Jaya juga sebagai pusat perdagangan/perekonomian dan pendidikan, sehingga hal ini dapat merupakan potensi dalam pertumbuhan dan perkembangan pada masa yang akan datang.

Wilayah administrasi Kabupaten Pidie Jaya terdiri atas 8 kecamatan 213 desa dan 9 kelurahan serta kemukiman sebanyak 34 kemukiman (Tabel 5 dan Gambar 6).

Tabel 5. Luas Wilayah dan Jumlah Desa, Kelurahan, dan Kemukiman Di Kabupaten Pidie Jaya

Luas Wilayah (km2) Jumlah

No Kecamatan

Darat Laut 4 mil Total Desa Kelurahan Kemukiman

1. Bandar Baru 223.64 57.60 281.24 43 - 8

2. Pante Raja 13.80 26.24 40.04 10 - 2

3. Tringgadeng 76.19 51.81 128.00 27 - 5

4. Meureudu 139.14 17.60 156.74 27 3 7

5. Meurah Dua 276.20 16.00 292.20 19 - -

6. Ulim 40.89 19.84 60.73 30 - 5

7. Jangka Buya 7.88 21.76 29.64 18 - 2

8. Bandar Dua 174.26 - 174.28 39 6 5

Total 952.00 210.85 1,162.85 213 9 34

Sumber : Bappeda Kabupaten Pidie Jaya Tahun 2008

Kabupaten Pidie Jaya merupakan salah satu kabupaten yang baru terbentuk dari hasil pemekaran Kabupaten Pidie Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Kabupaten Pidie Jaya memiliki luas wilayah 1,162.85 km2 (116,285.00 ha) dengan luas darat 952.00 km2 (95,200 ha) dan laut 210.85 km2 (21,085 ha) yang terdiri dari 8 kecamatan, terletak pada posisi 04006’ sampai 04047’ Lintang Utara dan 95052’ sampai 96030’

Bujur Timur (Gambar 6). Batas wilayah Kabupaten Pidie Jaya adalah sebagai berikut :

• Sebelah utara berbatasan langsung dengan Selat Malaka

• Sebelah timur berbatsan dengan Kecamatan Samalanga Kabupaten Bireuen

• Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Pidie (Kecamatan Tangse, Kecamatan Geumpang, dan Kecamatan Mane)

• Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Pidie (Kecamatan Geuleumpang Tiga, Kecamatan Geuleumpang Baro, dan Kecamatan Keumbang Tanjong).

(2)

Gambar 6. Peta administrasi Kabupaten Pidie Jaya

(3)

4.2. Fisiografi

Berdasarkan peta unit satuan lahan dan tanah lembar Lhokseumawe dan Simpang Ulim (0521) dan lembar Takengon (0520) diketahui bahwa fisiografi wilayah Kabupaten Pidie Jaya terdiri dari 6 grup yaitu Grup Aluvial, Grup Marin, Grup Perbukitan, Grup Pegunungan, Grup Dataran dan Grup Volkan. Sebaran masing- masing grup beserta luasannya disajikan pada Tabel 6 dan Gambar 7 .

A. Grup Aluvial (A)

Dataran aluvial luas yang merupakan peralihan kegrup marin menempati sebagian besar dataran rendah disebelah timur Lhokseumawe, sedangkan delta dan jalur aliran dari sungai besar mendominasi daerah sebelah baratnya. Dataran aluvial yang berasosiasi dengan Sungai Samalanga dan Sungai Ulim dijumpai di daerah paling barat. Pelembahan sempit yang terisi endapan aluvial terutama dijumpai sepanjang Sungai Peudada, Sungai Peusangan, dan Sungai Meureudu. Lembah ini mempunyai lebar kurang dari 1 km.

B. Grup Marin (B)

Grup ini dijumpai sepanjang garis pantai yang ada sekarang, dan merupakan endapan marin resen. Disepanjang pantai umumnya dijumpai beting pasir pantai dan cekungan (berliat) berselang seling. Akan tetapi secara sendiri sulit untuk dicantumkan pada peta karena luasannya terlalu kecil. Gambaran yang paling menonjol dari grup ini adalah kompleks beting pantai dan cekungan. Kompleks ini menandai garis pantai lama dan dapat dijumpai sampai 10 km ke arah daratan. Intrusi air asin masih dijumpai pada seluruh daerah.

C. Grup Perbukitan (H)

Perbukitan yang berkembang dari endapan kapur lunak dijumpai di sebelah barat. Menuju arah timur perbukitan ini tanahnya bertekstur kasar dan batuannya tidak berkapur. Pembagian lebih lanjut dari grup perbukitan didasarkan pada lereng dan strukturnya. Litologi pada grup perbukitan ini adalah batu kapur lunak, batuan sedimen halus dan kasar masam, batuan sedimen campuran dan lava intermedier.

D. Grup Pegunungan (M)

Pegunungan dijumpai terbatas di baratdaya lembar peta ini, puncaknya tidak rata dan ada yang mencapai ketinggian lebih dari 2000 meter. Grup Pegunungan ini

(4)

berasosiasi dengan batuan Tersier tua dan Mesozoik yang telah mengalami patahan.

Litologinya adalah batuan keras dan lunak berkapur, batuan sedimen halus dan kasar masam, dan batuan sedimen campuran.

E. Grup Dataran (P)

Grup ini terbentuk pada Tersier akhir dan Kuarter. Bentukannya berupa jalur yang terputus-putus sepanjang barat timur lembar peta dan terletak antara grup Aluvial dan Perbukitan dan sebagian terdiri dari dataran aluvial tua yang telah mengalami pengangkatan Dataran sebelah barat dan timur dari Lhokseumawe mempunyai sifat yang berbeda. Disebelah barat, dataran umumnya merupakan daerah sedimen berkapur yang telah terangkat dan tererosi pada zaman Tersier. Regim kelembaban adalah ustik dan tanah yang terbentuk tipis dan menyebabkan kesesuaian lahannya sangat rendah untuk pertanian. Penggunaan yang utama dari lahan ini untuk padang pengembalaan sehingga lahan makin rusak.

F. Grup Volkan (V)

Endapan yang berasal dari daerah volkan dijumpai di sebelah barat lembar peta ini dan sebelah selatan Lhokseumawe. Pusat erupsi Peut Sagoe terletak di sebelah selatan Samalanga. Daerah volkan yang telah tererosi dijumpai di sebelah barat, tetapi sudah tidak mencirikan lagi bentukan volkannya.

Tabel 6. Bentuk lahan di Kabupaten Pidie Jaya

Luas Bentuk Lahan

ha* %

A. Grup Aluvial (A)

Dataran aluvial peralihan ke marin 12,230.26 13.01

Pelembahan sempit antara dataran tinggi 1,184.36 1.26 B. Grup Marin (B)

Komplek beting pantai dan cekungan muda 2,501.31 2.66 Dataran pasang surut berlumpur sepanjang pantai 1,537.72 1.64 Dataran pasang surut berawa di belakang pantai 262.38 0.28 C. Grup Perbukitan (H)

Perbukitan kecil dan perbukitan dengan pola random 15,443.01 16.43 D. Grup Pegunungan (M)

Pegunungan 49,366.07 52.52

E. Grup Dataran (P)

Dataran 2,543.43 2.71

F. Grup Volkan (V)

Volcan Peut Sague 8,926.75 9.50

Jumlah 93,995.27 100.00

* Hasil perhitungan dengan Arcview 3.3

** Luas wilayah Pidie Jaya menurut BPS 95,200 ha

(5)

Gambar 7. Peta fisiografi Kabupaten Pidie Jaya

(6)

4.3. Topografi

Kondisi topografi di Kabaupaten Pidie Jaya secara umum meliputi kelas lereng datar, berombak, bergelombang, berbukit, agak curam, curam dan sangat curam.

Sebagian besar daerah di Kabupaten Pidie Jaya memiliki topografi datar dan berbukit.

Kawasan dengan topgrafi datar berada di seluruh kecamatan dengan luasan mencapai 46,819.40 ha atau 49.81 % dari total wilayah Kabupaten Pidie Jaya. Kondisi fisik wilayah berdasarkan kelerengannya disajikan pada Tabel 7 dan Gambar 8.

Tabel 7. Kelas lereng beserta luasannya di Kabupaten Pidie Jaya Luas

No Kelerengan

ha* %

1 Datar 0-3 46,819.40 49.81

2 Berombak 3-8 2,511.53 2.67

3 Bergelombang 8-15 7,860.52 8.36

4 Berbukit 15-30 31,133.76 33.12

5 Agak curam 30-45 5,424.14 5.77

6 Curam 45-65 238.22 0.25

7 Sangat curam >65 7.70 0.01

Jumlah 93,995.27 100.00

* Hasil perhitungan dengan Arcview 3.3

** Luas wilayah Pidie Jaya menurut BPS 95,200 ha

Kabuaten Pidie Jaya secara umum berada pada ketinggian dibawah 1200 mdpl (66.12%). Wilayah dengan ketinggian kurang dari 0-300 mdpl seluas 31,503.12 ha atau sebesar 33.47% dari total wilayah Kabupaten Pidie Jaya, diikuti wilayah dengan ketinggian 300-600 dan 2400-2700 mdpl masing-masing seluas 11,816.06 ha (12.55%), sedangkan wilayah dengan ketinggian 2100-2400 mdpl hanya sebesar 1,416.40 ha (1.50%). Luas wilayah berdasarkan ketinggiannya disajikan pada Tabel 8 dan Gambar 9

Tabel 8. Luas wilayah berdasarkan ketinggian

Luas

No Tinggi (mdpl)

ha %

1 0-300 31,503.12 33.47

2 300-600 11,816.06 12.55

3 600-900 9,373.69 9.96

4 900-1200 9,612.94 10.21

5 1200-1500 8,843.54 9.39

6 1500-1800 6,728.03 7.15

7 1800-2100 3,025.33 3.21

8 2100-2400 1,416.40 1.50

9 2400-2700 11,816.06 12.55

93,995.27 100.00

(7)

Gambar 8. Peta lereng Kabupaten Pidie Jaya

(8)

Gambar 9. Peta ketinggian tempat Kabupaten Pidie Jaya

(9)

4.4. Jenis Tanah

Berdasarkan peta jenis tanah 1:250.000 sebagaimana tersaji pada Tabel 9 dan Gambar 10, tanah di Kabupaten Pidie Jaya didominasi oleh tanah ordo Inceptisol dan Ultisol. Terdapat juga ordo tanah Alfisol, Entisol dan Oxisol, namun dalam jumlah yang sedikit. Inceptisol merupakah tanah yang belum matang (immature), masih banyak menyerupai bahan induknya yang berkembang dari abu vulkan dan dikenal sebagai tanah abu vulkan untuk subgrup Andepts dan Inceptisol basah untuk subgrup Aquept dan Inceptisol yang memiliki sifat hangat terus menerus atau Tropepts.

Sedangkan tanah Ultisol merupakan tanah yang berkembang dari bahan induk tua (clays stone/batuan liat), dicirikan dengan adanya perkembangan struktur dan peningkatan liat. Tanah ultisol mempunyai jeluk (kedalaman) tanah yang relatif dalam, memiliki ketersedian hara, kejenuhan basa dan KTK rendah, drainase baik dan pH agak masam sampai sangat masam (Verhagen, et al., 1999; Foth, 1998; Sitorus, 2008) Tabel 9. Luas wilayah berdasarkan jenis tanah (great group)

Luas

No Jenis Tanah (Great Group)

ha %

1 Asosiasi Dystrandepts/Eutrandepts 2,369.99 2.521

2 Asosiasi Dystropepts/Kanhapludults 3,906.40 4.156

3 Eutrandepts 2,671.76 2.842

4 Asosiasi Eutrandepts/Dystrandepts 1,154.11 1.228

5 Asosiasi Eutropepts/Dystropepts 1.65 0.002 6 Asosiasi Halaquepts/Psammaquents/Tropopsamments 2,501.31 2.661 7 Asosiasi Halaquepts/Sulfaquepts/Fluvaquepts/Tropaquents 1,537.72 1.636 8 Asosiasi Haplaquents/Sulfaquepts/Hydraquents 262.38 0.279 9 Asosiasi Hapludalfs/Humitropepts/Tropaquepts 3,806.86 4.050

10 Asosiasi Hapludalfs/Tropaquents 15,443.01 16.430

11 Asosiasi Haplustalfs/Tropaquepts 1,065.57 1.134

12 Asosiasi Haplustalfs/Ustropepts/Tropaquepts 1,199.81 1.276

13 Asosiasi Haplustoxs/Ustropets 278.05 0.296

14 Asosiasi Kandiudults/Tropaquents 41,651.17 44.312

15 Kandiustults 811.90 0.864

16 Asosiasi Tropaquepts/Fluvaquepts 5,574.42 5.931

17 Asosiasi Tropaquepts/Fluvaquents/Tropofluvents 6,655.84 7.081

18 Asosiasi Tropaquepts/Ustropepts 1,184.36 1.260

19 Asosiasi Ustropepts/Kandiustults/Tropaquepts 1,919.00 2.042 93,995.27 100.000

* Hasil perhitungan dengan Arcview 3.3

** Luas wilayah Pidie Jaya menurut BPS 95,200 ha

(10)

Pada tingkat great group, jenis tanah Inceptisol terdiri dari Tropaquepts, Fluvaquepts, Ustropepts, Halaquepts, Sulfaquepts, Humitropepts, Dystropepts, Eutropepts, Eutrandepts dan Dystrandepts. Sedangkan untuk jenis tanah Alfisol terdiri dari Hapludalfs dan Haplustalfs. Jenis tanah Entisol yang terdapat di Kabupaten Pidie Jaya terdiri dari Psammaquents, Trpofluvents, Tropopsamments, Haplaquents.

Hydraquents dan Tropaquents, sedangkan geat group yang lain adalah Kandiudults, Kandiustults dan Kanhapludults untuk jenis tanah Ultisol, dan Haplustoxs untuk jenis tanah Oxisol.

4.5. Iklim

Iklim wilayah Kabupaten Pidie Berdasarkan Sistem Klasifikasi Iklim Schmidt dan Ferguson termasuk dalam kategori iklim A, yang dicirikan adanya bulan basah selama 10 bulan (September – Juni) dengan temperatur rata-rata berkisar 24 - 32 0C.

Curah hujan rata-rata berkisar antara 1,500 – 2,500 mm. Sedangkan menururt Sistem Klasifikasi Iklim Oldeman, iklim Kabupaten Pidie Jaya termasuk tipe C2 dengan jumlah bulan basah 5 - 6 bulan dan bulan kering 1 – 3 bulan. Data curah hujan dan hari hujan dari tahun 1997 sampai 2006 di Kabupaten Pidie Jaya disajikan pada Lampiran 4 4.6. Demografi

Jumlah penduduk di Kabupaten Pidie Jaya akhir tahun 2008 sebanyak 141,949 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak 70,152 jiwa dan perempuan sebanyak 71,797 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 3,715. Jumlah penduduk pada tahun 2008 bila dibandingkan dengan angka hasil sensus tahun 2004 berjumlah 129,715 jiwa, terjadi peningkatan persentase pertumbuhan peenduduk sebesar 3.23% atau sekitar 12,234 jiwa. Persentase pertumbuhan penduduk tertinggi terdapat di kecamatan Ulim yaitu 66.9% atau 3,090 jiwa dan terendah di Kecamatan Trienggadeng yaitu -0.57% atau - 1,007 jiwa (Dinas Bina Marga dan Cipta Karya, 2008).

Berdasarkan kriteria kepadatan penduduk yang dikeluarkan oleh National Urban Development Strategic (NUDS) dapat diidentifikasi bahwa kategori kepadatan penduduk di Kabupaten Pidie Jaya adalah C atau kepadatan penduduk pedesaan (dibawah 10 jiwa/ha), ditinjau dari segi luas wilayah dan jumlah penduduk. Penduduk terpadat terdapat di Kecamatan Jangka Buya sebesar 3.16 jiwa/ha (316 jiwa/km2) dari luas wilayah 2,964 ha (29.64 km2) dengan jumlah penduduk 9,374 jiwa dan terendah

(11)

di Kecamatan Meurah Dua yaitu 0.35 jiwa/ha (35 jiwa/km2) dari luas wilayah 29,220 ha (292.2 km2) dengan jumlah penduduk 10,331 jiwa (Tabel 10).

Tabel 10. Jumlah penduduk dan jumlah kepala keluarga serta kategori kepadatan Kabupaten Pidie Jaya tahun 2008

Penduduk (jiwa) Kepadatan

Penduduk No Kecamatan

L P

Kepala Keluarga

L+P Luas

Wilayah (ha)

Kepadatan penduduk (jiwa/ha) dan kategori kepadatan 1 Bandar Baru 15,358 16,834 8,679 33,192 28,124 1.18 C 2 Pante Raja 4,142 4,137 2,133 8,279 4,004 2.07 C 3 Tringgadeng 10,583 10907 5,833 21,490 12,800 1.68 C 4 Meureudu 9,795 10,166 5,164 19,961 15,674 1.27 C 5 Meurah Dua 5,123 5,208 2,665 10,331 29,220 0.35 C

6 Ulim 7,385 7,500 3,715 14,885 6,073 2.45 C

7 Jangka Buya 4,697 4,677 2,367 9,374 2,964 3.16 C 8 Bandar Dua 12,069 12,368 6,201 24,437 1,726 1.40 C

Jumlah 70,152 71,797 3,715 141,949 116,285

Sumber : Bappeda Pidie Jaya 2008

Dinas Kependudukan, Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kab. Pidie Jaya 2008

Data jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian di Kabupaten Pidie Jaya menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan sektor utama. Dari 139,779 jiwa jumlah penduduk pada tahun 2007, sektor pertanian menyerap 81,770 jiwa (58.50%) yang bekerja pada sektor pertanian, sedangkan yang bekerja sebagai nelayan hanya 3,269 jiwa (2.34%) dari jumlah penduduk. Rata-rata penduduk yang bekerja pada sektor pertanian lebih dari 10% dari jumlah penduduk pada setiap kecamatan. Data jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian disajikan pada Tabel 11.

Tabel 11. Jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian tahun 2007 Mata Pncaharian (jiwa) No Kecamatan Jumlah

penduduk Petani Nelayan PNS Lain-lain Jumlah

1 Bandar Baru 42,176 24,672 535 502 16,467 42,176

2 Pante Raja 8,106 4,742 470 151 2,743 8,106

3 Tringgadeng 18,523 10,836 360 354 6,973 18,523

4 Meureudu 18,580 10,869 592 476 6,643 18,580

5 Meurah Dua 9,670 5,657 302 180 3,531 9,670

6 Ulim 11,671 6,828 350 270 4,223 11,671

7 Jangka Buya 7,362 4,307 660 92 2,303 7,362

8 Bandar Dua 23,691 13,859 - 483 9,349 23,691

Total 139,779 81,770 3,269 2,508 52,232 139,779

Persetase 100 58.50 2.34 1.79 37.37 100

Sumber : Bappeda Pidie Jaya 2008

Dinas Kependudukan, Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kab. Pidie Jaya 2008

(12)

Gambar 10. Peta jenis tanah (great group) Kabupaten Pidie Jaya

(13)

0.00 100,000.00 200,000.00 300,000.00 400,000.00 500,000.00 600,000.00 700,000.00 800,000.00

2002 2003 2004 2005 2006

4.7. Perekonomian

Produk Domestik regional Bruto atau PDRB mencerminkan kegiatan perekonomian suatu daerah tertentu, dimana penyajian perhitungan PDRB dapat dinyatakan dengan harga yang berlaku atau perhitungan berdasar nilai nominal. Agar PDRB dapat mengungkapkan seluruh kegiatan perekonomian suatu wilayah, maka perhitungan PDRB akan meliputi 9 sektor kegiatan perekonomian atau lapangan usaha, yaitu sektor-sektor pertanian, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik dan air minum, bangunan dan konstruksi, perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, bank dan lembaga keuangan serta jasa-jasa lainnya.

Sebagai wilayah yang berbasis pertanian, kegiatan perekonomian di Kabupaten Pidie Jaya tahun 2002 sampai 2006 paling besar didominasi oleh sektor pertanian yaitu sebesar 70.96% sampai 74.15% dari seluruh kegiatan ekonomi Kabupaten Pidie Jaya.

Kontribusi sektor pertanian ini pada tahun 2002 adalah sebesar Rp. 345,191.01 juta dan meningkat menjadi sebesar Rp. 498,764.94 juta pada tahun 2006 atas dasar harga berlaku (Gambar 11).

Gambar 11. Perkembangan PDRB Kabupaten Pidie Jaya atas dasar harga berlaku tahun 2002 – 2006

Lapangan usaha sektor perdagangan, hotel dan restoran berada pada urutan kedua kegiatan ekonomi di Kabupaten Pidie Jaya dengan dominasi sekitar 8.32%

sampai 8.56%, dan diikuti oleh sektor pengangkutan dan komunikasi pada urutan ketiga dengan dominasi sekitar 4.13% sampai 4.46%. pada urutan terakhir atau sektor yang paling sedikit kontribusinya terhadap PDRB Kabupaten Pidie Jaya adalah sektor pertambangan dan penggalian yaitu sebesar 0.76% sampai 0.82% (Gambar 12). Data PDRB dan persentase PDRB atas dasar harga berlaku disajikan pada Lampiran 5 dan 6.

(14)

Gambar 12. Perkembangan PDRB atas dasar harga berlaku menurut sektor ekonomi Kabupaten Pidie Jaya tahun 2002 - 2006.

4.8 Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan di Kabupaten Pidie Jaya didominasi oleh hutan primer yaitu seluas 49,912.61 ha atau 53.10% dari luas wilayah Kabupaten Pidie Jaya. Sebagian besar hutan primer merupakan hutan lindung dan sebagian kecilnya berupa perkebunan, hutan produksi (HP), hutan produksi terbatas (HPTS) dan hak pemanfaatan hutan (HPH) (Dinas Bina Marga dan Cipta Karya, 2008). Luasan semak berada pada urutan kedua yaitu seluas 22,113.47 ha (23.53%), diikuti oleh rumput seluas 8,401.41 (8.94%) yang terdapat dalam kawasan lindung. Sisanya berupa lahan sawah, tegalan, tambak, hutan sekunder dan tubuh air. Luasan masing-masing penggunaan lahan disajikan pada Tabel 12 dan Gambar 13.

Tabel 12. Penggunaan lahan di Kabupaten Pidie Jaya

Luas No Penggunaan Lahan

ha %

1 Hutan Primer 49,912.61 53.10

2 Hutan Sekunder 1,921.93 2.04

3 Rumput 8,401.41 8.94

4 Sawah 6,252.32 6.65

5 Semak 22,113.47 23.53

6 Tegalan 2,007.81 2.14

7 Tambak 3,316.68 3.53

8 Tubuh Air 69.044 0.07

Jumlah 93,995.27 100.00

* Hasil perhitungan dengan Arcview 3.3

** Luas wilayah Pidie Jaya menurut BPS 95,200 ha 0.00

10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00

2002 2003 2004 2005 2006

Pertanian

Pertambangan dan Penggalian

Industri Pengolahan

Listrik dan Air Minum

Bangunan/Konstruksi

Perdagangan, Hotel dan Restoran

Pengangkutan dan Komunikasi

Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan

Jasa-Jasa

(15)

Gambar 13. Peta penggunaan lahan Kabupaten Pidie Jaya

Gambar

Tabel 5.  Luas Wilayah dan Jumlah Desa, Kelurahan, dan Kemukiman Di Kabupaten  Pidie Jaya
Gambar 6. Peta administrasi Kabupaten Pidie Jaya
Tabel 6. Bentuk lahan di Kabupaten Pidie Jaya
Gambar 7. Peta fisiografi Kabupaten Pidie Jaya
+7

Referensi

Dokumen terkait

Potensi pengembangan sentra jeruk Siam Pontianak selama ini dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal yaitu pertama : faktor eksternal meliputi (1) lahan yang belum

Secara lebih rinci jenis batuan dalam asosiasinya dengan jenis tanah di Kabupaten Tanggamus dalam kaitannya dengan bentuk fisiografi wilayah adalah sebagai berikut:

Secara spasial terlihat bahwa belum semua wilayah kabupaten/kota yang dilalui oleh jalan nasional seperti Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kabupaten Pasaman Barat, dan

Secara administratif Desa Simpang Nungki terdiri dari 8 RT yang terdiri dari dua wilayah yakni masyarakat asli pada RT 01 sampai RT 03 dan UPT (Unit Pemukiman Transmigrasi) pada

Sosialisasi dilakukan dengan bantuan dari Kelurahan Putat Jaya selaku bagian dari Pemerintah Kota Surabaya yang paling dekat dengan wilayah lokalisasi Dolly- Jarak beserta

Menurut Rachim (2007), Bulk density merupakan perbandingan antara berat suatu tanah yang diketahui volumenya dengan berat air dengan volume yang sama, atau berat per satuan

Desa Negeri Baru merupakan salah satu desa yang berada di wilayah administratif Kecamatan Blambangan Umpu.. Kondisi Umum Desa

Gambaran umum wilayah Kota Medan meliputi letak administratif, kondisi fisik, penggunaan lahan, ketinggian, kelerengan, dan curah