• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

4.1. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah

Secara geografis wilayah Kabupaten Halmahera Timur terletak di bagian timur Pulau Halmahera Propinsi Maluku Utara. Kabupaten Halmahera Timur terletak pada 1º 4' - 0º 40' Lintang Selatan dan 126º 45' - 130º 30' Bujur Timur. Wilayah administrasi Kabupaten Halmahera Timur terbagi atas 10 wilayah kecamatan dan 73 desa. Secara umum karakter bentang alam didominasi oleh kawasan pesisir/pantai dan kawasan pegunungan/perbukitan. Sebagian besar wilayah desa berhadapan langsung dengan teluk atau lautan lepas (± 75% desa memiliki garis pantai), sedangkan 25% lainnya di daerah pegunungan. Luas wilayah administrasi Kabupaten Halmahera Timur adalah 14.202.01 km2 (RTRW Kab. Haltim, 2005). Untuk jelasnya luas wilayah administratif kabupaten Halmahera Timur dapat dilihat pada Tabel 2 dan Gambar 2.

Tabel 2. Pembagian Wilayah Administrasi Kabupaten Halmahera Timur

No Kecamatan Luas wilayah

(Km2) Jumlah desa

Ibukota Kecamatan

1 Maba 1830.4 7 Buli

2 Kota Maba 1631.4 5 Maba Sangaji

3 Maba Tengah 1759.9 8 Wayamli

4 Maba Selatan 1814.6 6 Bicoli

5 Maba Utara 1060.2 7 Dorosago

6 Wasile Utara 2305.2 6 Labi-labi

7 Wasile Tengah 467.71 8 Lolobata

8 Wasile Timur 443.8 6 Dodaga

9 Wasile 435.8 6 Subaim

10 Wasile Selatan 2453.02 14 Nusa Jaya

Kab. Haltim 14. 202,01 73

Sumber : Kabupaten Halmahera Timur dalam Angka, 2008

Berdasarkan data BPS Kabupaten Halmahera Timur (2008), 75% desa memiliki garis pantai dan luas lautan yang memiliki porsi sebesar 54% dari total luas wilayah Kabupaten Halmahera Timur. Kondisi ini menunjukkan bahwa lingkungan alami Kabupaten Halmahera Timur terbangun pada rona kawasan pantai/pesisir. Konsekuensinya pengembangan wilayah Kabupaten Halmahera Timur akan bertumpu pada pengembangan potensi kelautan dan wilayah pesisir/pantai. Perhatian juga perlu diarahkan pada fakta bila Kabupaten Halmahera Timur memiliki luas wilayah daratan yang relatif terbatas 6.506,19

(2)

km² dan karakter wilayah yang terdiri dari banyak pulau-pulau kecil. Wilayah perairan laut Kabupaten Halmahera Timur terdiri dari ± 27 buah pulau kecil. Sebagian besar pulau-pulau kecil tersebut tidak berpenghuni, beberapa di antaranya bahkan belum terpetakan. Kondisi ini merupakan potensi penghambat berupa limitasi fisik bagi pembangunan Kabupaten Halmahera Timur (RTRW Kab. Haltim, 2005).

Secara administratif, Kabupaten Halmahera Timur berbatasan dengan: a. Sebelah Utara : Teluk Kao (Wilayah Kabupaten Halmahera Utara); b. Sebelah Timur : Teluk Buli, Lautan Halmahera dan Samudra Pasifik; c. Sebelah Selatan : Kecamatan Patani dan kecamatan Weda, Kabupaten

Halmahera Tengah;

d. Sebelah Barat : Teluk Kao (Wilayah Kabupaten Halmahera Utara) dan Kota Tidore Kepulauan.

Dilihat dari sudut pandang konstelasi regional, letak Kabupaten Halmahera Timur bisa dikatakan kurang menguntungkan. Keberadaan pusat-pusat pertumbuhan lainnya yang telah berkembang relatif tidak berada dalam jarak yang optimal dan hingga saat ini belum terdapat hubungan langsung antara Kabupaten Halmahera Timur dengan pusat-pusat pertumbuhan lainnya. Karena itulah Kota Maba yang ditetapkan sebagai Ibukota Kabupaten diproyeksikan sebagai pusat pertumbuhan di masa mendatang yang diharapkan dapat menjalin hubungan dengan pusat pertumbuhan lainnya sehingga dapat menjadi generator bagi wilayah lainnya di Kabupaten Halmahera Timur ( Bapedda, 2007).

4.2. Klimatologi

Kabupaten Halmahera Timur merupakan bagian dari daerah kepulauan yang berik lim laut tropis dan iklim musim yang sangat dipengaruhi oleh angin laut dengan suhu rata-rata per tahun adalah 20o – 33o Celcius dan kelembaban 80% - 90%. Curah hujan rata-rata sekitar 2.500 mm/tahun dengan jumlah hari hujan sekitar 90 – 130 hari. Bulan basah (lebih dari 200 mm/bulan) di pantai utara (atau barat wilayah kecamatan Wasile) terjadi pada bulan-bulan April, Juli, Agustus, Agustus, September dan Desember. Di pantai selatan (atau timur atau wilayah Kecamatan Maba) bulan basah terjadi pada bulan-bulan Januari, Februari, Mei, Juni, dan Juli. Dapat dikatakan bahwa musim hujan di daerah kecamatan

(3)

Wasile terjadi berlawanan dengan di Pulau Jawa dan Sumatera pada umumnya, sedangkan di daerah Maba, musim hujan terjadi 2 kali yaitu pada bulan-bulan Mei-Juli dan Januari-Fabruari.

Adapun bulan kering (curah hujan kurang dari 100 mm/bulan) tidak terjadi di daerah kecamatan Wasile, sedangkan di kecamatan Maba (Buli) hanya terjadi sekali di bulan April, yang dapat dimungkinkan karena terjadi anomali. Secara umum dapat dikatakan bahwa kabupaten Halmahera Timur beriklim basah dengan curah hujan terjadi sepanjang tahun, atau menurut sistem Koppen masuk dalam tipe Af. Kondisi ini merupakan potensi alam yang mengindikasikan bila pengembangan sistem penyediaan air bersih, pertanian dan perkebunan di Kabupaten Halmahera Timur dimasa mendatang memiliki peluang yang sangat baik (Gambar 3).

4.3. Topografi

Berdasarkan RTRW kabupaten Halmahera Timur 2005, bahwa topografi wilayah bervariasi dari berombak, berbukit, bergelombang hingga bergunung dengan kemiringan bervariasi dari 0% hingga lebih dari 40%. Di sepanjang pantai Teluk Kao dari desa Hatetabako, kecamatan Wasile ke selatan hingga ujung desa Nusa Ambo, kecamatan Wasile Selatan, kemiringan lahannya antara 0% hingga 2%. Sedangkan pantai kecamatan Wasile sebelah utara didominasi oleh kelerengan > 40% seperti terlihat pada Gambar 4 dan 5.

(4)
(5)

% [ Î Î Î Î Ê Ú K A B .H A L M AH E R A U T A R A kA B .H AL M A H E R A T EN G A H K O T A T ID O R E K E P U L A U A N Wasi l e S el atan K ota M ab a Ma ba W asi l e U tar a Ma b a U tar a Ma ba Ten g a h M ab a S el ata n Wa sil e T en g ah Wasi l e

W asi l e T i m ur B a tas K a bu p ate n

2 35 1 - 2 5 5 0 2 55 1 - 3 0 0 0 2 00 1 - 2 3 5 0 1 - 2 0 0 0 Ti da k a d a d a ta Me a n A n nu a l R ai n f all ( m m /th n ) L au t P E TA CU R AH HU J AN KA BU P ATE N H AL MA HE R A TIM U R N E W S 8 0 8 16 K M L EG E N D A : % [

Ê

Ú

Î

B a ta s L a ut B a ta s Ke ca m ata n Ibu ko ta ka b u pate n La p a ng an ter b an g P e lab u ha n Sum be r : 1. Pe ta A dm in is t ras i Sk ala 1 : 250 .00 0 2. Pe ta R eP PP rot t ah un 1 988

P. S. P e renc ana an W i lay a h I ns ti tut P erta nian B o gor T ahu n 2009

Ind eks P eta

3 6 0 0 0 0 3 6 0 0 0 0 3 9 0 0 0 0 3 9 0 0 0 0 4 2 0 0 0 0 4 2 0 0 0 0 4 5 0 0 0 0 4 5 0 0 0 0 4 8 0 0 0 0 4 8 0 0 0 0 6 0 0 0 0 60000 9 0 0 0 0 900 00 1 2 0 0 0 0 12 00 00 1 5 0 0 0 0 15 00 00 1 8 0 0 0 0 1800 00

(6)

Gambar 4. Kemiringan lereng kabupaten Halmahera Timur

Adapun pantai kecamatan Maba, antara Teluk Lili (desa Dorosagu) di timur hingga hampir ke Tanjung Makali (desa Wayamli) didominasi oleh lereng dengan kemiringan 2-15%. Hampir seluruh pantai desa Buli memiliki kemiringan 0-2%. Daerah pantai kecamatan Maba Selatan dari perbatasan dengan kecamatan Maba hingga sekitar perbatasan desa Gotowasi didominasi oleh kemiringan sebesar 15-40%. Kemiringan 0-2% dijumpai pada daerah pantai desa Pateley dan desa Loleolamo. Sisanya memiliki kemiringan 2-15%, termasuk seluruh pedalaman desa Soagimalaha hingga desa Bicoli. Sebagian besar pedalaman ‘kaki’ timur Pulau Halmahera memiliki kemiringan 15 - 40%. Dari yang memiliki lereng >40% dapat dibagi 2 berdasarkan elevasi, yaitu yang berada antara 500-1000 m d.a.p.l seluas 118.115 Ha atau 18,2 % dari luas kabupaten dan yang berada di atas 1000 m d.a.p.l. seluas 41.019 Ha atau 6,3% dari luas kabupaten Halmahera Timur.

(7)

% [ Î Î Î Î Ê Ú KAB.HAL M AH ER A UT ARA

kAB .H AL MA HERA TEN GAH K O TA T ID O R E K EP U LA U A N Wasil e S elatan Kota Maba Maba Wasil e U tara Ma ba U tara Maba Teng ah Maba S el atan Wasi l e Tengah Wasil e

Wasi le Tim ur Batas Ka bup aten

80 - 120 120 - 1 40 50 - 80 20 - 50 0 - 2 0

K emi rin gan (Dera jat) : Laut

PETA KELAS KEMIRINGAN LAHAN KABU PATEN HAL M AHERA TIMUR

N E W S 8 0 8 16 K M LEGEN DA : % [

Ê

Ú

Î

Bata s Laut Bata s Kec ama tan Ibuk ota k abupaten La pangan terba ng Pelabuhan

Sumbe r :

1. Peta A dminist rasi S kala 1 : 250.000 2. Peta R eP P P rot t ahun 1988

P.S . P erencana an Wilayah Instit ut P ert anian B ogor T ahun 2009

Indek s Peta 3 6 0 0 0 0 3 6 0 0 0 0 3 9 0 0 0 0 3 9 0 0 0 0 4 2 0 0 0 0 4 2 0 0 0 0 4 5 0 0 0 0 4 5 0 0 0 0 4 8 0 0 0 0 4 8 0 0 0 0 6 0 0 0 0 600 00 9 0 0 0 0 9000 0 1 2 0 0 0 0 12 00 00 1 5 0 0 0 0 15 00 00 1 8 0 0 0 0 18 00 00 No d ata

(8)

4.4. Jenis Tanah

Jenis tanah yang dominan di wilayah Halmahera Timur adalah Podsol Merah Kuning dan Tanah Kompleks. Uraian masing-masing jenis tanah tersebut adalah sebagai berikut :

1. Tanah Latosol mempunyai bahan induk yang berasal dari Tuff Vulkan dan terdiri dari Latosol Vulkanik dan Latosol Gunung. Di atas tanah tersebut terdapat tanaman perkebunan serta kebun campuran berbagai tanaman (keras dan tanaman semusim);

2. Tanah aluvial terdapat di daerah datar (lereng < 15%) yang terbentuk dari endapan sungai. Terdiri dari 2 jenis, yaitu Aluvial Pantai dan Aluvial Lembah. Aluvial Pantai biasanya terdapat di wilayah pantai yang subur, dan ditanami oleh masyarakat dengan tanaman kelapa dan kebun campuran. Aluvial Lembah terdapat di pedalaman dan biasanya ditanami tanaman pangan (sawah) dan sayuran;

3. Tanah Podsol terdiri dari Podsol Merah Kuning yang mempunyai bahan induk metamorphosis yang terdapat di kecamatan Wasile, sedangkan Podsol Coklat Kelabu berasal dari batuan metamorphosis yang terletak di ecamatan Maba Selatan;

4. Tanah Kompleks terdiri dari beberapa jenis yang tidak dapat atau sulit dipisahkan sendiri-sendiri. Tanah ini umumnya terletak di bagian tengah pulau dan memiliki vegetasi hutan.

4.4.1. Pertanian dan Perkebunan

Berdasarkan data luas panen dan produksi kecamatan Wasile saja telah mencukupi (140 kg beras/kapita/tahun) untuk kebutuhan seluruh warga kabupaten Halmahera Timur, walaupun hasilnya masih rendah, yaitu hanya 2,8 ton GKG (gabah kering giling)/ha padi sawah dan 1,2 ton GKG/ha padi ladang. Hanya dengan meningkatkan hasil melalui program intensifikasi, hasil dapat ditingkatkan menjadi 4 - 5 ton GKG untuk padi sawah dan 2 - 2,5 ton GKG untuk padi ladang. Bila hal ini dapat dilakukan, maka kabupaten Halmahera Timur dapat menjadi

supplier untuk daerah/propinsi yang kekurangan. Peningkatan produksi juga

(9)

luas, yaitu tanah Aluvial Pantai seluruhnya 58.614 ha dan tanah Podsolik Merah Kuning seluas 228.997 ha.

Jika dilihat pada sketsa komoditas dan peta kemiringan lahan, Halmahera Timur memiliki kemiringan lahan (>15 – 25%) yang cocok untuk pengembangan perkebunan terletak sepanjang wilayah pantai. Tanah dengan kemiringan >3-15% juga cocok untuk tanaman perkebunan, walaupun lebih baik untuk pengembangan tanaman pangan/semusim. Dari lahan dengan kemiringan 15-25% seluas hampir 150.000 ha, yang jenis tanahnya cocok untuk perkebunan, yaitu podsolik dan aluvial, luasnya sekitar 123.000 ha.

Selain pada lahan dengan kemiringan 15-25%, perkebunan juga dapat dikembangkan pada lahan dengan kemiringan 25-40%. Perkebunan yang dikembangkan pada lahan dengan kemiringan tersebut memerlukan perlakuan khusus tertentu, yang terutama sekali dimaksudkan untuk memperkecil dampak negatif berupa erosi dan longsor. Potensi lahan dengan kemiringan 25-40% yang dapat dikembangkan untuk perkebunan diperkirakan seluas 423.000 ha (RTRW, 2005).

Seperti terlihat pada Gambar 6 berikut bahwa, terdapat beberapa kecamatan yang sesuai untuk komoditas kelapa, cengkeh, sagu, padi dan jagung. dimana pembatas kesesuaia n lahan di wilayah ini adalah jenis tanah, curah hujan rata-rata sekitar 2.500 mm/tahun dan kelerengan yang berkisar antara 0 - 40 persen. Sedangkan sebagian besar pedalaman ‘kaki’ timur Pulau Halmahera memiliki kemiringan 15 – 40 persen. Kondisi tersebut menggambarkan potensi pengembangan komoditas perkebunan dan pertanian di wilayah Halmahera Timur masih sangat besar.

(10)
(11)

4.4.2. Pertambangan

Berbagai macam tambang terdapat di wilayah Kabupaten Halmahera Timur, dan yang telah dieksploitasi baru nikel, tetapi hambatan untuk meningkatkan luas eksploitasi terbentur pada adanya tumpang tindih lahan dengan sektor lain. Untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi perlu adanya program pengembangan atau pembangunan terpadu antar sektor, sehingga kekayaan alam yang ada dapat dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan atau kemakmuran rakyat. Kenyataan yang ada adalah bahwa lahan bekas penambangan terbuka biasanya tidak segera diikuti oleh rehabilitasi lahan, yang sebenarnya sudah harus ditetapkan pada tahap perencanaan, baik sistemnya maupun jadwalnya, serta ditaati sesuai dengan yang seharusnya, lebih jelasnya dapat dilihat pada identifikasi potensi.

Produksi biji nikel selama tahun 2007 untuk yang berkadar tinggi sebanyak 1,87 juta ton atau rata-rata sekitar 155.965 ton setiap bulan. Untuk biji nikel berkadar rendah sebanyak 135.313 ton atau rata-rata sebanyak 16.914 ton setiap bulan. Biji Nikel sebagian besar dipasarkan ke luar negeri yakni diekspor ke Jepang sebanyak 1,56 juta ton untuk yang berkadar tinggi dan ke Australia sebanyak 119,616 ton untuk yang berkadar rendah (Bappeda, 2005), dapat dilihat pada Tabel 20.

4.4.3. Kehutanan

Kabupaten Halmahera Timur masih didominasi (sekitar 70%) oleh hutan dari berbagai jenis hutan dan kondisi. Luas hutan produksi yang dapat dikonversi dan luas lahan yang telah digunakan (sekitar 210.000 Ha) masih jauh lebih besar dari yang telah digunakan untuk non-hutan (sekitar 131.500 Ha). Keadaan tersebut mengindikasikan bahwa masih terdapat areal yang luas untuk berbagai pengembangan non hutan.

4.4.4. Perikanan dan Kelautan

Mengingat lokasi kabupaten Halmahera Timur yang ‘menghadap’ ke Lautan Pasifik, potensi ikan pelagis (tuna, cakalang, tongkol) pasti besar, sehingga pembangunan industri perikanan mempunyai potensi yang baik. Selain ikan tersebut di atas, ikan lain yang biasa ditangkap adalah julung, kembung, layang, lemuru, ekor kuning, selar, tembang dan teri. Pengalaman industri perikanan laut

(12)

di Pulau Bitung (Sulawesi Utara), Biak (Papua) dan daerah lain di tepi laut Pasifik, perlu dipelajari dengan seksama sebelum investasi besar ditanamkan. Titik tolak pengembangan harus dari segi pemasaran yang harus mantap, terutama untuk pemasaran ke luar kabupaten, bahkan ke luar propinsi. Idealnya dapat dikembangkan untuk ekspor, mengingat posisinya yang dekat dengan laut Pasifik yang kaya akan ikan pelagis dan/atau dekat dengan potensi pasar seperti Jepang, baik untuk komoditas ikan tangkap maupun hasil marikultur non- ikan, seperti rumput laut. Potensi pasar rumput laut cukup besar (Dinas Perikanan, 2007), sedangkan budidaya dan pengolahan pasca panen juga sederhana, cukup dikeringkan dengan sinar matahari; penanganan selanjutnya tidak berisiko besar. Untuk pengembangannya jelas memerlukan studi khusus, termasuk dalam hal pelatihan dan pemasaran. Untuk itu, wilayah yang diidentifikasi sesuai, seperti di Teluk Kao yang kondisi ombaknya relatip tenang, sehingga baik untuk pengembangan marikultur, harus dipertahankan kualitasnya sebagai cadangan untuk pengembangan lebih lanjut.

Demikian pula halnya untuk wilayah yang potensial untuk pengembangan budidaya tambak. Sedangkan di Teluk Buli, pada musim angin timur, kondisinya tidak bersahabat. Pengembangan budidaya ikan air tawar mungkin masih belum saatnya, mengingat geografi wilayah yang didominasi laut. Untuk pengembangan usaha penangkapan di laut, pengalaman usaha yang ada di Bitung, Sulawesi Utara atau di Biak dan Sorong, Papua, merupakan acuan, baik untuk pengembangan sendiri atau dalam rangka kerjasama.

4.5. Penggunaan Lahan

Berdasarkan RTRW 2005, bahwa penggunaan lahan saat ini didominasi oleh hutan sebesar 509.982,33 ha atau 78,29% dari total luas wilayah kabupaten Halmahera Timur dan tersebar di seluruh kabupaten. Penggunaan lahan untuk hutan tersebut yang terbesar adalah untuk hutan lahan kering primer yaitu sebesar 338.334,52 ha, diikuti hutan lahan kering sekunder sebesar 165.988,63%, hutan mangrove primer sebesar 4512,62 ha, hutan mangrove sekunder sebesar 1051,26 ha dan hutan rawa sekunder sebesar 95,3 ha, dapat dilihat pada Tabel 3.

(13)

Tabel 3. Penggunaan Lahan Eksisting

JENIS TUTUPAN LAHAN LUAS (Ha)

Semak Belukar 4954,88

Hutan Mangrove Primer 4512,62

Hutan Mangrove Sekunder 1051,26

Hutan Lahan Kering Primer 338334,52

Hutan Rawa Sekunder 95,3

Hutan Lahan Kering Sekunder 165988,63

Pertanian Lahan Kering dan Semak 79342,12

Perkebunan 14624,88

Permukiman 2546,63

Pertanian Lahan Kering 24909,07

Sawah 71,35

Tanah Terbuka 9960,07

Transmigrasi 5023,90

Kab. Haltim 651415,23

Sumber: RTRW Kab Haltim, 2005

Penggunaan lahan lainnya adalah untuk pertanian yang memiliki proporsi penggunaan lahan sebesar 118.876,07 Ha atau 18,25% dari total luas wilayah (14.202,01 km2). Penggunaan lahan pertanian terbesarnya adalah untuk pertanian lahan kering diikuti penggunaan lahan untuk perkebunan. Persebarannya terletak di sepanjang pantai barat kabupaten Halmahera Timur terutama di kecamatan Wasile Selatan dan Wasile serta di kecamatan Maba tepatnya kawasan transmigrasi Desa Dorosagu. Tingginya potensi lahan untuk kegiatan pertanian ini sebaiknya ditingkatkan melalui pendekatan sistem dan usaha agribisnis yang sesuai dengan karakteristik pertanian di kabupaten Halmahera Timur.

Penggunaan lahan untuk permukiman untuk saat ini adalah sebesar 7570,53 Ha atau 1,16% dari total luas lahan di kabupaten Halmahera Timur. Penyebaran lahan permukiman umumnya berada kawasan pesisir di desa Buli Karya hingga Buli Asal, kawasan pesisir Subaim-Dodoga-Foli, Ekor dan kawasan transmigrasi Dorosagu.

4.6. Hidrologi dan Drainase

Kabupaten Halmahera Timur memiliki sungai-sungai utama yang menjadi penopang kehidupan dan telah dimanfaatkan untuk sistem irigasi. Sungai-sungai tersebut adalah Ake Subaim dan Ake Dodaga di kecamatan Wasile; Ake Ekor dan Yawali di kecamatan Wasile Selatan; dan Ake Onat di kecamatan Maba.

(14)

Ake Subaim dan Dodaga saat ini sudah dimanfaatkan secara intensif untuk pertanian tanaman pangan (lahan basah) dengan masukan teknologi yang cukup memadai. Kota Subaim dan sekitarnya saat ini merupakan lumbung padi bagi kabupaten Halmahera Timur, bahkan bagi Propinsi Maluku Utara.

Ake Ekor sudah dimanfaatkan untuk mendukung kawasan pertanian permukiman transmigrasi di sekitar Desa Binagara. Ake Onat dimanfaatkan untuk kawasan pertanian permukiman transmigrasi di Desa Wayamli. Berdasarkan jenis lahan, masih ada sungai yang dapat dikembangkan untuk mendukung pengembangan kawasan pertanian lahan basah, yaitu Ake Sangaji di Kecamatan Maba Selatan.

4.7. Karakteristik Oceanografi Laut Wilayah Halmahera Timur

Karakteristik oceanografi laut wilayah Halmahera Timur dapat digambarkan dari beberapa parameter fisik dan kimia yang pada umumnya dipengaruhi oleh karakter laut yang bebatasan dengan wilayah Halmahera Timur. Lebih rinci lagi karakterisik perairan wilayah Halmahera Timur adalah sebagai berikut :

1. Iklim

Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson (1951), daerah Halmahera Timur termasuk daerah bertipe iklim B, dengan rata-rata curah hujan per tahun adalah 1.869,4 mm. Bulan Nopember dan bulan Agustus adalah bulan dengan curah hujan tertinggi. Selain itu, bulan April juga merupakan bulan dengan cuah hujan tinggi yaitu 293,3 mm. Periode curah hujan rendah berlangsung pada bulan September dan Oktober dengan curah hujan terendah 50,8 mm yaitu pada bulan September.

2. Sifat Fisik Air Laut

Salah satu sifat fisik air laut yang penting baik bagi dinamika pergerakan air laut itu sendiri maupun terhadap kehidupan biota di dalamnya adalah suhu air laut. Banyak faktor yang mempengaruhi fluktuasi suhu air laut, diantaranya adalah arus permukaan, keadaan awan, penguapan, gelombang, dan lain- lain. Seperti halnya suhu di perairan Maluku pada umumnya, suhu air laut di perairan Halmahera Timur berkisar antara 28 – 31oC. Suhu terendah terjadi pada bulan Mei yaitu pernah mencapai 25,5 oC.

(15)

3. Salinitas

Salinitas adalah jumlah garam yang terkandung dalam air laut. Pengaruh salinitas dalam air laut antara lain dalam perubahan skala kecil seperti tekanan, fluktuasi suhu, penyebaran masa air. Sedangkan pengaruh dalam skala besar ditunjukkan seperti pada titik pembekuan, kerapatan, suhu serta daya hantar listrik. Perubahan-perubahan tersebut tentunya akan mempengaruhi kehidupan mahluk hidup yang ada di dalamnya. Seperti di wilayah perairan lain di Propinsi Maluku Utara, salinitas di perairan Halmahera Timur berkisar antara 32,5 – 33,5 permil.

4. Arus

Arus adalah gerakan air yang mengakibatkan perpindahan massa air, baik secara hoeizontal maupun vertikal yang disebabkan oleh perbedaan energi potensial. Arus laut pada umumnya terjadi akibat pengaruh beberapa gaya yang bersamaan yang terdiri dari arus tetap, arus periodik (pasut) dan arus angin. Pola arus di perairan Maluku, termasuk di perairan Halmahera Timur, dipengaruhi oleh pasang surut, dimana kecepatan rata-rata waktu surut 7 – 8 cm/detik dan 11 cm/detik sewaktu pasang.

5. Pasangsurut

Tipe pasang surut Laut Maluku termasuk di perairan Halmahera Timur pada umumnya adalah tipe pasang surut campuran dominasi ganda. Pola pasut di daerah ini merupakan rambatan dari perairan yang lebih luas yaitu Lautan Pasifik.

4.8. Aspek Sosial dan Kependudukan 4.8.1. Jumlah dan Kepadatan Penduduk

Berdasarkan data BPS tahun 2008, jumlah penduduk di kabupaten Halmahera Timur adalah 62.441 jiwa. Jumlah penduduk terbanyak terdapat di kecamatan Wasile Selatan yaitu sebanyak 8.902 jiwa diikuti oleh kecamatan Wasile sebanyak 8.177 jiwa, kecamatan Wasile Timur sebanyak 7.625 jiwa, kecamatan Maba sebanyak 7.073 jiwa dan sebagainya (Tabel 4). Kepadatan penduduk kabupaten Halmahera Timur pada tahun 2007 adalah 5,3 jiwa/km2 dimana kepadatan penduduk tertinggi terdapat di kecamatan Wasile yaitu 1,68 jiwa per km2 diikuti kecamatan Wasile Selatan sebesar 1,22 jiwa per km2,

(16)

kecamatan Wasile Timur sebesar 0,58 jiwa per km2, kecamatan Wasile Utara sebesar 0,56 jiwa per km2 dan kecamatan Maba sebesar 0,22 jiwa per km2 . dapat dilihat pada Tabel 4 dan Gambar 7.

Tabel 4. Jumlah Kepadatan Penduduk Kabupaten Halmahera Timur

No Kecamatan Luas wil

(Km2) Jumlah penduduk (ji wa) Kepadatan (per Km2) 2006 2007 2006 2007 1 Maba 1830.4 6154 7073 3.36 3.86 2 Kota Maba 1631.4 3969 4700 2.43 2.88 3 Maba Tengah 1759.9 4868 5077 2.77 2.88 4 Maba Selatan 1814.6 6124 6271 3.37 3.46 5 Maba Utara 1060.2 6588 6739 6.21 6.36 6 Wasile Utara 2305.2 3373 3428 1.46 1.49 7 Wasile Tengah 467.71 4393 4449 9.39 9.51 8 Wasile Timur 443.8 7527 7625 16.96 17.18 9 Wasile 435.8 7330 8177 16.82 18.76 10 Wasile Selatan 2453.02 8730 8902 3.56 3.63 Jumlah 14202.01 59056 62441 4.16 4.16

Sumber : Kabupaten Halmahera Timur dalam Angka, 2008

4.8.2. Tingkat Pendapatan

Berdasarkan data BPS tahun 2008, sektor Pertanian/Nelayan dan Penggalian/Pertambangan merupakan sektor yang paling berperan di dalam roda perekonomian kabupaten Halmahera Timur, apabila diukur dari kontribusinya terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Sektor Pertanian/Nelayan (perkebunan, peternakan, perikanan dan kelautan) memang menjadi sumber mata pencaharian sebagian besar penduduk kabupaten Halmahera Timur, jumlahnya ± 7.912 rumah tangga (76,26 % dari jumlah rumah tangga yang telah bekerja). Namun sejauh ini sektor ini belum berkembang secara optimal, baik pada tahap/proses produksi, pengolahan maupun pemasaran, sehingga perlu adanya dukungan yang optimal bagi pengembangan sektor ini agar tingkat kesejahteraan masyarakatnya meningkat.

(17)

'

W

Î Î Î Î

Ê

Ú

KABUPATEN HALMAHERA UTARA KABUPATEN HALMAHERA TENGAH AR KOTA TIDO RE KEPULAUAN TELUK KAO TELUK BULI TG. BULI MABA WASILE SELATAN KOTA MABA WASILE UTARA MABA UTARA MABA TENGAH MABA SELATAN WASILE TENGAH WASILE WASILE TIMUR 0 ° 1 5 ' 0° 15 ' 0 ° 3 0 ' 0°3 0' 0 ° 4 5 ' 0° 45 ' 1 ° 0 0 ' 00 ' 1 ° 1 5 ' 1°1 5' 1 ° 3 0 ' 1°30 ' 1 ° 4 5 ' 1°4 5' 1 2 7 ° 3 0 ' 1 2 7 ° 3 0 ' 1 2 7 ° 4 5 ' 1 2 7 ° 4 5 ' 1 2 8 ° 0 0 ' 1 2 8 ° 0 0 ' 1 2 8 ° 1 5 ' 1 2 8 ° 1 5 ' 1 2 8 ° 3 0 ' 1 2 8 ° 3 0 ' 1 2 8 ° 4 5 ' 1 2 8 ° 4 5 ' 1 2 8 1 2 8 1 1

PETA SEBARAN PENDUDUK KABUPATEN HALMAHERA TIMUR

N E W S 3 0 3 6 Km LEGENDA Indeks Peta Sumber :

1. Pet a Administ rasi Skala 1 : 250.000 2. Data Kab. Haltim dalam Angka tahun 2008

PS. P ERE NCANA AN WILA YAH IPB 2009

Batas Kabupaten

Sebaran Penduduk Kab. Halmahera Tim ur 3.000-4.000 jiwa 4.000-5.000 jiwa 5.000-6.000 jiwa 6.000-7.000 jiwa 7.000-8.000 jiwa ' W Ibukota Kabupaten Ê

Ú Lapangan Ter bang

Î Pelabuhan

Sungai Jalan

Batas Kecamatan

(18)

4.9. Aspek Perekonomian Wilayah 4.9.1. Struktur Perekonomian

Berdasarkan data BP S tahun 2008, struktur perekonomian kabupaten Halmahera Timur dapat diketahui dari kontribusi sektor-sektor ekonomi dalam pembentukan PDRB. Kabupaten Halmahera Timur merupakan kabupaten yang kegiatan perekonomiannya masih bertumpu kepada sektor pertanian dan pertambangan/penggalian. Sektor pertananian dan pertambangan/penggalian merupakan sektor dominan yang memberikan kontribusi 14,14 % dan 39,2 % terhadap PDRB Halmahera Timur pada tahun 2007. Jika diperhatikan sejak 2005 sampai dengan 2007 kontribusi sektor pertanian tersebut mengalami kenaikan yang sangat kecil. Hal ini menunjukkan terjadinya proses transformasi ekonomi dari sektor pertanian ke sektor lain. Sektor lain tersebut adalah sektor pertambangan, industri pengolahan dan bangunan/konstruksi. Namun demikian, akibat krisis ekonomi, proses transformasi tersebut terhenti. Sejak tahun 2007 peranan sektor pertanian mengalami kenaikan kembali. Sedangkan peranan sektor pertambangan, industri pengolahan dan bangunan/konstruksi tetap mengalami kenaikan.

Selain bertumpu pada sektor pertanian, perekonomian Halmahera Timur bertumpu pula pada sektor pertambangan dan penggalian. Sumbangan sektor pertambangan dan penggalian terhadap PDRB Halmahera Timur selama tiga tahun terakhir rata-rata lebih dari 35%. Dengan demikian sumbangan sektor pertanian ditambah sektor pertambangan dan penggalian ± 60 % dari PDRB Halmahera Timur. Kedua sektor tersebut tergolong sektor primer dalam perekonomian. Hal ini memberikan gambaran bahwa kegiatan ekonomi primer masih mendominasi perekonomian Halmahera Timur. Hanya kurang dari 40 % kegiatan ekonomi yang bukan berasal dari sektor primer. Sekitar 8 % lebih dari 40 % tersebut merupakan sumbangan sektor perdagangan, hotel dan restoran, disajikan dalam Tabel 5 dan Gambar 8.

(19)

Tabel 5. Perkembangan PDRB kabupaten Halmahera Timur Tahun 2005-2008 (%)

No sektor 2005 2006 2007

1 Pertanian 5.7 6.12 14.14

2 Pertambangan & penggalian 7.8 11.3 39.2

3 Industri & pengolahan 5.3 6.4 4.7

4 Bangunan 4 2.54 3.61

5 Perdagangan 5.8 7.4 5.3

6 pengangkutan & komunikasi 5.3 6.04 4.89

7 Keuangan, persewaan & jasa perusahaan 5.3 8.9 12.9

8 Jasa-jasa 1.2 1.3 2.6

Gambar 8. Histogram Perkembangan PDRB Kabupaten Halmahera Timur Tahun 2005-2008

4.9.2. Pendapatan Domestik Regional Bruto Per Kapita

Pencapaian tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan berdampak pada meningkatnya PDRB per kapita penduduk, bila disertai upaya pengendalian jumlah penduduk. PDRB per kapita atas dasar harga berlaku menggambarkan besarnya nilai PDRB per penduduk, sedangkan PDRB per kapita atas dasar harga konstan dapat menunjukkan besarnya PDRB riil per kapita penduduk.

PDRB per kapita tidak sepenuhnya menggambarkan peningkatan pendapatan per orang penduduk setempat, namun indikator ini antara lain dapat digunakan untuk menilai apakah upaya pembangunan ekonomi di suatu wilayah mampu meningkatkan pencapaian nilai tambah berdasarkan kreativitas

(20)

masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya. Namun dengan keterbatasan data, indikator PDRB per kapita lazim dijadikan indikator untuk menunjukkan tingkat kesejahteraan masyarakat (BPS, 2008). Tabel perkembangan agregat PDRB kabupaten Halmahera Timur dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Perkembangan Agregat PDRB Kabupaten Halmahera Timur atas Dasar Harga Berlaku dan Konstan

URAIAN 2005 2006 2007*

(1) (2) (3) (4)

1.ATAS DASAR HARGA BERLAKU

A. Produk Domestik Regional Bruto atas Dasar Harga Pasar(Juta Rupiah)

B. Penyusutan (Juta Rupiah)

C. Produk Domestik Regional Neto atas Dasar Harga Pasar (Juta Rupiah)

D. Pajak Tak Langsung Neto (Juta Rupiah)

E. Produk Domestik Regional Neto atas Dasar Biaya Faktor Produksi (Juta Rupiah)

F. Jumlah Penduduk Pertengahan tahun ( Ribu Jiwa) G. PDRB Perkapita (Juta rupiah)

H. Pendapatan Perkapita (Juta Rupiah)

210.817,45 13.254,04 197.563,41 11.475,30 186.088,11 53.831 3,92 3,46 236.180,79 14.579,45 221.601,34 12.622,83 208.978,51 62.272 3,79 3,36 282.490,49 16.037,39 266.453,09 13.885,11 252.657,98 64.922,00 4,10 3.89

II. ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000

A. Prduk Demostik Regional Bruto atas Dasar Harga Pasar(Juta Rupiah)

B. Penyusulan (Juta Rupiah)

C. Produk Domest ik Regional Bruto atas Dasar Harga Pasar (Juta Rupiah)

D. Pajak Tak Langsung Neto(Juta Rupiah)

E. Produk Demostik Regional Neto atas Dasar Biaya Faktor Produksi(Juta Rupiah)

F. Jumlah Penduduk Pertengahan Tahun (Ribu Jiwa ) G. PDRB Perkapita (juta Rupiah)

H. Pendapatan Perkapita 175.560.88 8.030.57 167.530.31 8.013.66 159.516.65 53.831 3.26 2.96 186.569.30 8.833.62 177.735.68 8.815.03 168.920.64 62.272 3.00 2.71 205.598.33 9.716,99 195.881.34 9.696.53 186.184.80 64.922.00 3.02 2.87 Sumber : Bappeda, 2008

Gambar

Tabel 2. Pembagian Wilayah Administrasi Kabupaten Halmahera Timur
Gambar 2. Peta Wilayah Adminstrasi Kabupaten Halmahera Timur 2008
Gambar 3. Peta Curah Hujan Kabupaten Halmahera Timur 2008
Gambar 4. Kemiringan lereng kabupaten Halmahera Timur
+7

Referensi

Dokumen terkait

Saat ini PT. Arutmin Indonesia memiliki lima lokasi tambang di Propinsi Kalimantan Selatan. Site Satui adalah salah satu site tambang batubara PT. Arutmin yang berada

6) Kabupaten Lampung Timur dengan ibukota Sukadana, luas wilayah 4.337,63 Km² yang terdiri dari 24 (dua puluh empat) Kecamatan;.. Data statistik dari pemekaran Kabupaten ini

Luas wilayah Kelurahan Sukarame Kecamatan Sukarame Kota Bandar Lampung berdasarkan peta administratif kelurahan tersebut adalah 493 Ha (Empat Ratus Sembilan Puluh

Berdasarkan peta unit satuan lahan dan tanah lembar Lhokseumawe dan Simpang Ulim (0521) dan lembar Takengon (0520) diketahui bahwa fisiografi wilayah Kabupaten Pidie Jaya

2,59 km 2 sekitar 28 persen dari seluruh luas Kecamatan Tanah Abang dan kelurahan terkecil dengan luas wilayah 0,73 km 2 atau sekitar 8 persen dari seluruh luas

Dengan melihat bahwa wilayah dengan kelerengan di atas 40% (40,12%) sangat menyebar luas dan mendominasi wilayah DAS Ciliwung Bagian Hulu, maka kondisi tersebut mempunyai

Secara Administratif Kabupaten Halmahera Timur terdiri dari sepuluh Kecamatan yaitu Kecamatan Maba Selatan, Kecamatan Kota Maba, Kecamatan Maba, Kecamatan MabaTengah,

6 tahun 1999 terbagi menjadi 5 yaitu kepadatan rendah sampai dengan tinggi seperti tercantum pada Tabel 10 terdahulu, untuk rata-rata kepadatan penduduk di Wilayah Jakarta