• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN MORAL REMAJA DI DESA BOYOLALI GAJAH DEMAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERAN ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN MORAL REMAJA DI DESA BOYOLALI GAJAH DEMAK"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

97

PERAN ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN MORAL REMAJA DI DESA BOYOLALI GAJAH DEMAK

Nurul Fajri

Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Semarang

Arri Handayani Tri Hartini

Dosen Universitas PGRI Semarang

ABSTRACT

The existence of moral behavior of adolescents in Boyolali Gajah Demak Village has positive behavior because both parents give good attention and become good facilitators for their children.

This type of research is qualitative with case study method. The subjects in this study were teenagers who had good moral behavior. The data in this study were obtained through direct interviews with adolescents and parents. Based on the results of research data analysis that the factors in this moral behavior are 2 parental factors and social environmental factors, because the two most important factors in teaching moral education so that children do not choose wrong associations and also provide motivation and advice to children to become good personalities.

good, while the social environment factor is getting good knowledge and good behavior too.

Keywords: Moral Behavior Factor

ABSTRAK

Adanya perilaku moral remaja di Desa Boyolali Gajah Demak memiliki perilaku yang positif karena kedua orang tuanya memberikan perhatian yang baik dan menjadi fasilitator yang baik bagi anak- anaknya. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan metode studi kasus. Subyek dalam penelitian ini adalah remaja yang memiliki perilaku moral yang baik. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara secara langsung kepada remaja dan orang tua. Berdasarkan hasil analisis data penelitian bahwa faktor dalam perilaku moral ini yaitu ada 2 faktor orang tua dan faktor lingkungan sosial, karena kedua faktor paling utama dalam mengajarkan pendidikan moral agar anak tidak salah memilih pergaulan bebas dan juga memberikan motivasi dan nasehat kepada anak agar menjadi peribadi yang baik, sedangkan faktor lingkungan sosial yaitu mendapatkan ilmu yang baik dan perilaku yang baik juga.

Kata kunci: Faktor Perilaku Moral

PENDAHULUAN

Remaja merupakan suatu periode pertumbuhan diantara masa kanak -kanak dan dewasa (DeBrun dalam Putro, 2017). Papalia dan Olds menyebutkan bahwa masa remaja merupakan masa peralihan perkembangan yang dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluh tahun yang disebut dengan masa kanak-kanak dan dewasa (Putro, 2017). Adapun ciri-ciri khas dari masa remaja adalah sebagai berikut: (1) status remaja dalam periode ini tidak menentu; (2) pada masa ini remaja cenderung emosional; (3) remaja memiliki keadaan yang tidak stabil: (4) remaja memiliki banyak masalah; (5) sikap orang dewasa terhadap anak remaja pada umumnya

(2)

98

kurang senang: dan (6) pada masa ini remaja mengalami masa yang kritis (Soesilowindradini, 2016: 146).

Di samping itu, masa remaja memiliki tugas-tugas perkembangan yang perlu untuk diselesaikan, tugas-tugas tersebut pada dasarnya tidak dapat dipisahkan ataupun dipilah- pilah, karena remaja merupakan pribadi yang utuh (Sunanto, 2018: 45). Menurut Harvinghurts (dalam Soesilowindradini, 2016: 23) dalam melaksanakan tugas perkembangan ini perlu suatu kemampuan yang dapat membawa kebahagiaan dan sukses dengan tugas - tugas berikutnya, sedangkan kegagalan akan membuat individu tidak bahagia dan mengalami kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas selanjutnya. Salah satu tugas perkembangan yang penting dalam masa remaja adalah untuk mengerti apa yang diharapkan oleh kelompoknya dan untuk merubah sikap-sikapnya sesuai harapan-harapan tanpa selalu dibimbing, diawasi, dan diancam oleh orang-orang dewasa seperti saat masa anak-anak. Pada masa ini terjadi perubahan dalam konsep-konsep moral, kini remaja tidak mau menerima konsep-konsep dari hal-hal yang benar dan tidak benar, yang telah ditetapkan oleh orang tuanya atau teman-teman sebayanya dengan begitu saja seperti dalam masa anak-anak. Saat ini remaja menentukannya sendiri berdasarkan konsep-konsep moral yang diperoleh saat masa anak-anak tetapi telah dirubah sesuai perkembangannya bisa dikatakan pada tahap perkembangan yang lebih matang (Soesilowindradini, 2016: 191).

Santrock (dalam Desmita, 2018: 258) menyebutkan perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain. Menurut Chaplin moral merupakan nilai yang berlaku dalam lingkungan sosial dan mengatur tingkah laku seseorang yang artinya moral menjadi tolak ukur yang dipakai oleh masyarakat untuk menentukan baik buruknya tindakan manusia sebagai manusia (Adisusilo, 2013; Nurmalisa & Adha, 2016).

Remaja yang sedang berada pada fase perkembangan moral sering kali memunculkan sikap yang melawan, periode badai, gelisah, dan tidak stabil. Prayitno (Gianoza dkk, 2013) salah satu yang memengaruhi perkembangan moral remaja adalah orang tua maupun guru sebagai model, hal ini dapat dilihat dari tingkah laku orang tua atau guru yang baik akan ditiru oleh remaja kemudian akan diterapkan di lingkungan, proses ini merupakan cerminan dari modeling tersebut.

Di era digital seperti sekarang ini, terjadi perubahan besar-besaran dalam pola kehidupan masyarakat terutama pada remaja. Dibekali dengan peralatan canggih yang mumpuni, remaja cenderung bebas dan terlalu santai sehingga mempengaruhi tingk ah laku dan moralnya. Realitas yang terjadi saat ini banyak remaja yang melakukan taawuran, bullying maupun cyber bullying yang merajalela di dunia maya sehingga menimbulkan korban jiwa sampai kasus pelecehan seksual dibawah umur yang marak terjadi. Mengha dapi fenomena ini perlu adanya pegangan dalam menghadapi hal tersebut. Disinilah pentingnya moral sebagai pegangan dalam menghadapi kejadian di atas. Adanya moral akan membuat seseorang bersikap bijaksana dalam menghadapi kehidupan.

Hasil wawancara yang diperoleh dari Wahyu Saputra yang dilaksanakan pada tanggal 20 Juni 2020 pukul 17.00 WIB menjelaskan bahwa menyebutkan orang tua merupakan salah satu yang memiliki peran penting dalam mengajarkan moral akan tetapi Wahyu mengakui tidak cukup mendapatkan pendidikan moral yang baik dikarenakan orangtuanya yang telah bercerai sehingga akhirnya bertahan hidup di jalanan. Hasil

(3)

99

wawancara Arjun Fanani pada tanggal 20 Juni 2020 pukul 16.00 WIB menjelaskan bahwa pendidikan moral yang telah diberikan orang tuanya sudah cukup maksimal sehingga mampu memposisikan diri dengan menjaga attitude sebaik mungkin saat bersosialisasi dan tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama seperti mencuri, mabuk-mabukan, dan membuat resah masyarakat sekitar.

Selanjutnya berdasarkan wawancara dengan Bapak Waluyo pada tanggal 20 Juni pukul 16.00 WIB menyebutan bahwa orang tua tidak sepenuhnya memiliki peran penting dalam mengajaran pendidikan moral, beliau memasrahkan pendidikan moral yang perlu diajarkan pada anak-anaknya melalui anak tertuanya dengan alasan memikirkan kesembuhan penyakitnya. Hal yang hampir sama diungkapk an oleh Bapak Sunoto ketika diwawancarai pada hari yang sama pukul 19.00 WIB. Beliau hanya memasrahkan begitu saja pendidikan moral pada guru di sekolah dengan alasan sibuk bekerja. Sedangkan hasil wawancara dengan Ibu Sri Wahyuni yang dilaksanakan pada tanggal 18 Juni 2020 pukul 18.00 WIB mengungkapkan bahwa orang tua memiliki peranan penting dalam mengajarkan pendidikan moral bagi anak. Beliau juga menambahkan bahwa sebagai orang tua yang khususnya beragama Islam selalu membiasakan anak untuk tidak lupa sholat lima waktu karena hal tersebut bisa menjadikan pondasi moralitas anak.

Orang tua dalam mengajarkan konsep moral seringkali mengalami hambatan dalam proses pengajaran. Anak kadang dibuat bingung oleh penekanan-penekanan yang disampaikan orang tua mengenai hal yang benar dan hal yang salah. Prayitno (dalam Gianoza dkk, 2013) menyebutkan salah satu aspek yang memengaruhi perkembangan moral remaja adalah orang tua/guru sebagai model. Jadi, bisa diesensikan bahwa pola tingkah laku yang ditunjukkan oleh orang tua di rumah juga memiliki pengaruh dalam penyampaian moral oleh orang tua. Apabila anak melihat perilaku orang tuanya yang kurang mengenakkan dalam penerimaannya anak akan cenderung kurang memerhatikan dan akan timbul masalah.

Kurang pahamnya orang tua mengenai perkembangan moral anak menyebabkan tidak bijaknya orang tua dalam menanamkan nilai-nilai moral pada anak. Akibatnya anak akan menemui kendala bahkan permasalahan (Dwiyanti, 2013). Pentingnya mengangkat permasalah peran orang tua terhadap pendidikan moral remaja ini dimaksudkan untuk membina dan menangani moral remaja maupun cara orang tua dalam memberikan pendidikan moral bagi anaknya. Meskipun beberapa orang tua sudah mampu untuk meberikan pendidikan moral yang baik bagi anaknya masih perlu digalakkan untuk perkembangan moral anak yang lebih optimal. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Peran Orang Tua Terhadap Pendidikan Moral Remaja di Desa Boyolali Gajah Demak”.

KAJIAN PUSTAKA Peran Orang Tua

Rahayu (2017) membahas peran secara umum “peran atau peranan adalah sesuatu yang diperbuat, tugas dan hal yang terbesar pengaruhnya pada suatu peristiwa”. Secara etimologis kata peran memiliki arti tugas, fungsi, atau kewajiban (Badudu-Zain, 2001:103).

Menurut Mudjab Mahalli (2000) orang tua adalah perantara bagi kehidupan kita di muka bumi ini, mereka yang pertama kali mengasuh, mengajarkan, dan mendidik k ita.

(4)

100

Menurut Tan dan Yasin (2020) peran orang tua adalah keharusan untuk memberikan kontribusi bagi perkembangan dan prestasi anak. Dimulai dari pembelajaran religiusitas, menyiapkan pola makan bagi anak, pendidikan, dan perkembangan moral anak. Disamping itu, operan orang tua adalah untk memebrikan kepercayan atasa apa yang dilakukan ole h anak.

Menurut Husna (2018) terdapat tujuh peran orang tua dalam keluarga yaitu (1) menanamkan etika moral pada anak; (2) memahami dan menciptakan komunikasi yang baik dengan anak; (3) mengasuh, melindungi, dan menjamin anak-anak baik dari segi rohani maupun jasmani; (4) memberikan pengajaran pada anak; (5) orang tua sebagai role model terdekat anak; (6) mengembangkan potensi dan memberikan motivasi pada anak; (7) membahagiakan anak.

Remaja

Jannah (2015) menyebutkan remaja merupakan suatu masa dimana anak memeroleh kebebasan terutama dari keluarga mereka. Kebebesan tersebut bisa meliputi capaian kemandirian secara fisik dan psikologis. Masa remaja adalah masa yang menggairahkan atau menyenangkan dalam hidup. Remaja dapat menjadi bijaksana, berpengalaman, serta mampu membuat keputusan yang tepat bagi dirinya. Sedangkan menurut Desmita (2016: 37) menyatakan masa remaja (12-21 tahun) merupakan masa peralihan antara kehidupan anak-anak dan masa kehidupan orang dewasa. Masa remaja sering dikenal dengan masa pencarian jati diri (ego identity).

Menurut Desmita (2016) terdapat sembilan ciri-ciri remaja yang ditandai dengan (1) mencapai hubungan yang matang dengan teman sebaya; (2) dapat menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita dewasa dijunjung tingi oleh masyarakat; (3) menerima keadaan fisik dan mampu menggunakannya secara efektif; (4) mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya; (5) memilih dan mempersiapkan karir di masa depan sesuai dengan minat dan kemampuannya; (6) mengembangkan sikap positif terhadap pernikahan, hidup berkeluarga, dan memiliki anak; (7) mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan sebagai warga negara; (8) mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial; (9) memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman dalam bertingkah laku.

Menurut Soesilowindradini (2016: 147) menyebutkan beberapa kesulitan yang bisa dialami remaja yaitu (1) masalah yang berhubungan dengan keadaan jasmaniah; (2) masalah berhubungan dengan kebebasannya; (3) masalah berhubungan dengan nilai-nilai;

(4) masalah dengan peranan pria dan wanita; (5) masalah berhubungan dengan hubungan dengan lawan jenis; (6) masalah yang berhubungan dalam masyarakat; (7) masalah berhubungan dengan jabatan; (8) masalah berhubungan dengan kemampuan.

Perkembangan dan Pendidikan Moral Remaja

Perkembangan moral merupakan perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain (Santrock, 1995; Desmita, 2016). Sedangkan Harlock (dalam Dwiyanti, 2013) menjelaskan perkembangan moral memiliki aspek kecerdasan dan aspek impulsive, anak harus belajar apa saja yang benar dan yang salah. Menurut Piaget (dalam Sntrock, 2007;

(5)

101

Alwi, 2011) menyebutkan bahwa terhadap dua tahap perkembangan moral, yaitu tahap heterenomous morality dan autonomous morality.

Pendidikan moral sangat diperlukan dalam kehidupan baik itu di lingkungan keluarga maupun masyarakat luas. Moral secara tata bahasa berasal dari bahasa latin “mores” yang merupakan bentuk jamak dari kata “mos” yang artinya adat kebiasaan (Dwiyanti, 2013).

Pendidikan moral merupakan pemberian penekanan pada nilai-nilai dan karakter sesuai kurikulum yang berlaku dan juga mendorong individu untuk menentukan perspektif baru yang mendukung dalam nilai mereka sendiri dan orang lain. Saphiro menyatakan bahwa keberhasilan perkembangan moral dicirikan dengan dimilikinya emosi dan perilaku yang mencerminkan kepedulian pada orang lain, saling bebrgai, membantu, saling mengasihi, menumbuhkan tenggang rasa, dan kesediaan mematuhi aturan-aturan masyarakat (Alwi, 2011).

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan kualitatif. Metode deskriptif kualitatif merupakan penelitian yang menekankan pencarian konsep, pengertian, makna, karakteristik, gejala, simbol, maupun deskripsi tentang suatu focus, fenomena, dan multimetode yang bersifat holistic dan alami dengan mengutamakan kualitas, adapaun beberapa cara digunakan serta penyajiannya berupa naratif (Yusuf, 2013: 329). Responden dalam penelitian ini adalah beberapa remaja yang kurang mengerti moral dalam membangun pondasinya sendiri dalam menjalani kehidupan dan beberapa orang tua yang seakan acuh terhadap moral anak-anaknya. Sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan melalui tiga komponen yaitu data reduction, data display, dan conlusion drawing/verification.

PEMBAHASAN

Peran orang tua dalam membantu perkembangan pendidikan moral anak sangatlah penting, sebab pertama kali anak menerima pendidikan dari keluarga terutama kedua orang tuanya. Kedua orang tua merupakan cerminan dari anak sehingga anak akan menjadi apa nantinya tergantung dari cara mendidik atau pola didik yang mereka terapkan karena anak dapat merekam apa saja yang mereka terima dari orang tuanya, sehingga peran orang tua sangatlah penting karena pola didik yang diberikan orang tua akan mereka terapkan dalam kehidupannya, terutama dalam membantu perkembangan moral agar anak dapat memiliki moral yang baik.

Moral merupakan peraturan atau tata cara kehidupan yang harus sesuai dengan adat istiadat, nilai, dan norma ynag berlaku di lingkungannya yang harus dipegang dan dipatuhi oleh sekelompok manusia didalam lingkungan tertentu. Sedangkan perkembangan moral merupakan perkembangan yang berkaitan dengan aturan mengenai apa ya ng seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain. Peran orang tua dalam membantu perkembangan moral anak sangatlah penting, sebab sebagai bekal seorang anak dalam kehidupan bermasyarakat, dimana anak dapat membedakan hal yang baik dan hal yang buruk dalam kehidupan bermasyarakat agar tidak terjerumus dalam hal- hal yang bersifat negatif.

(6)

102

Berdasarkan wawancara dengan Ibu Sumiyatun (53) menurut beliau pendidikan moral bagi anak sangat perlu dan sangat penting dengan mengajarkan kejujuran, disiplin waktu, dan rajin. Menurut beliau anak perlu mendapatkan pendidikan moral dari luar lingkungan keluarga agar mendapatkan pengetahuan dalam berperilaku baik dengan lingkunngan masyarakat, disisi lain terdapat hambatan ketika memberikan pendidikan moral kepada anaknya yaitu ketika beliau menasehati anaknya, anaknya salah paham apa yang dimaksudoleh beliau.

Berdasarkan wawancara dengan Sunoto (49) menurut beliau pendidikan moral bagi anak sangat perlu karena anak tanpa pengarahan orang tua anak tidak bisa maksimal.

Beliau selalu mengajarkan kepada anak mengenai sopan santun, larangan pulang malam, dan sholat tepat waktu. Pendidikan moral diluar keluarga menurut Sunoto sangat penting karena banyak pembelajaran yang diambil dari masyarakat, sementara hambatan yang dialami ketika memberikan pendidikan moral bagi anak yaitu Sunoto kurang ada waktu dirumah.

Berdasarkan wawancara dengan Syifa Aufa (18) perempuan yaitu menurut saya moral adalah perilaku yang harus diterapkan dilingkungan masyrakat baik per ilaku yang positif maupu perilaku yang negatif. Remaja yang memiliki moral yang baik itu remaja yang melakukan kebaikan, menaati peraturan, dan tidak nyeleweng. Orang tua saya selalu memberikan contoh perilaku yang baik seperti tindakan sehari-hari saya amati, seperti rajin berangat pagi untuk bekerja. Hal tersebut memberikan contoh terhadap saya agar juga lebih rajin berangkat kesekolah. Orang tua belum maksimal dalam memberikan pendidikan moral kepada saya, kadang memberi nasehat kadang tidak, karena saya lebih senang kalo dinasehati, diberi motivasi.orang tua saya juga memberi larangan terhadaphal-hal yang buruk, semuanya harus tepat waktu dan disiplin apalagi saya anak perempuan harus pulang tepat waktu tidak boleh malam-malam.

Berdasarkkan wawancara dengan Fatkhur Rokhim (18) Laki-laki, menurut saya moral yaitu perilaku yang baik yang disalurkan di lingkungan masyarakat. Perkembangan moral remaja di Desa Boyolali sedikit kurang baik menurut saya, solanya banyak perkumpulan remaja yang tidak baik seperti nongkrong larut malam,bahkan ada juga yang mabuk-mabukan. Orang tua saya sudah meberikan contoh berperilaku yang baik, karena dari kecil di didik untuk berperilaku baik, orang tua saya selalu menolong orang yang kesusahan dan membantu tetangga yang membutuhkan. Lingkungan sosial saya sangat mempengaruhi saya dalam membentuk moral saya.

Pendidikan moral sangat penting diberikan sejak dini oleh keluarga, karena telah di ketahui bahwa keluarga terutama orang tua memiliki peran utama yang dapat memberikan pengaruh kepada anaknya terlebih kepada remaja. Dalam hal ini peran orang tua dalam proses perkembangan terlebih terhadap perkembangan moralitas remaja yang mudah terpengaruh oleh pergaulan yang tidak baik. Berkaitan dengan masalah moralitas tidak terlepas dari pendidikan moral, karena pendidikan moral menjadi acuan dalam moralitas itu sendiri. Remaja yang memilik moralitas dan akhlak yang baik tentunya sudah mendapatkan pendidikan moralitas yang baik pula. Sedangkan baik atau buruknya moralitas remaja dapat di nilai dari perilaku keseharian baik dalam bertutur kata maupun bertingkah laku. Dengan melihat secara konkrit moralitas seseorang dapat dengan mudah di nilai moralitasnya.

(7)

103 PENUTUP

Sebagai pelindung pemelihara keluarga, orang tua memperhatikan anaknya dengan menitipkan ke orang-orang yang bisa dipercaya dan bisa mendidiknya seperti sekolah.

Orang tua juga harus selalu menasehati, mengingatkan dan menjaga anaknya jangan bergaul sembarangan agar tidak terjerumuske dalam pergaulan yang bebsa apala gi anak perempuan. Sebagai teladan, yaitu orang tau memberikan keteladanan yang diberikan sejak dini seperti sholatberjamaah, berdoa sebelum melakukan aktivitas, sopan santun kepada orang yang lebih tua dan berbuat baik disaat orang tua ada dirumah dan ber buat baik diluar rumah. Sebagai fasilitator, peran orang tau dalam memfasilitasi anaknya yaitu dengan mengajarkan kepada anaknya tentang tutur kata, sopan santun, dan selalu menasihati ketika anaknya salah bukan memarahi anaknya ketika salah.

Hasil dari penelitian yang diperoleh maka dapat disarankan sebagai berikut:

Bagi Orang tua

1. Hendaklah orang tua harus benar-benar mempertahatikan anak-anaknya dalamkeadaan apanun dan bagaimanapun karena anak adalah tanggung jawab orang tuanya

2. Orang tua harus membantu dalam perkembangan moral anaknya mulai dari usiadini agar menjadi anak yang memiliki moral yang baik.

Bagi anak

1. Hendaknya seorang anak harus berhati-hati dalam bertingkah laku dalam kehidupan sehar-hari agar tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak benar

2. Dalam pergaulan sehari-hari anak harus pinter memilih teman bermain karena teman baermain juga memengaruhi terhadapbaik buruknya moral seorang anak itu sendiri.

3. Anak juga perlu pendidikan moral diluar keluarga atau di lingkungan masyarakat agar mendapatkan ilmu yang lebih banyak lagi.

DAFTAR PUSTAKA

8 Masalah Anak Remaja yang Sering Terjadi Menurut 4 Psikolog (7 November 2019).

Mommiesdaily.com. Diunduh dari: https://mommiesdaily.com/2019/11/07/8- masalah-anak-remaja-yang-sering-terjadi-menurut-4-psikolog/ tanggal 12 Desember 2010.

Alwi, Said. 2011. Perkembangan dan Pendidikan Moral Pada Remaja. Jurnal Pencerahan Intelektual Muslim. Sarwah, Vol. IX (4).

Badudu & Zain. 2001. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Desmita. 2016. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Dwiyanti, Retno. 2013. Peran Orang Tua Dalam Perkembangan Moral Anak (Kajian Teori Kohlberg). Prosiding Seminar Nasional Parenting.

Gianoza, Jaufani dkk. 2013. Hubungan Perhatian Orang Tua Dengan Moral Remaja . Jurnal Ilmiah Konseling Vol 2, No. 1.

(8)

104

Husna. 2018. Peran Oang Tua Terhadap Pembinaan Moral Siswa di SMP Negeri 1 Balusu Kecamatan Balusu Kabupaten Barru.

Jannah, Miftahul. 2015. Pola Pengasuhan Orang Tua Dan Moral Remaja Dalam Islam. Jurnal Ilmiah Edukasi Vol 1, No. 1.

Laila, Qumruin Nurul. 2015. Pemikiran Pendidikan Moral Albert Bandura. Jurnal Vol. III, No.

1.

Putro, Khamim Zarkasih. 2017. Memahami Ciri dan Tugas Perkembangan Masa Remaja.

Jurnal Aplikasi Ilmu-ilmu Agama Vol 17, No. 1.

Satiman. 2018. Peran Orang Tua Dalam Membantu Perkembangan Moral Remaja Muslim Di Desa Nglurah Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar Tahun 2018.

Skripsi. Tidak Diterbitkan. Fakultas Ilmu Tarbiyah. Institut Agama Islam Negeri Surakarta: Surakarta.

Soesilowindradini. 2016. Psikologi Perkembangan Masa Remaja. Surabaya: Usaha Nasional.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta CV.

Syahraeni, Andi. 2015. Tanggung Jawab Keluarga Dalam Pendidikan Anak. Jurnal Bimbingan Penyuluhan Islam Vol 2, No. 1.

Tan, W. N dan Maizura Yasin. 2020. Parents’ Roles and Parenting Styles on Shaping Children’s Morality. Universal Journal of Educational Research, 8(3C), 70-76.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian ini, dapat diperoleh kesimpulan bahwa orang tua di Desa Blumbang RT 07 dan RT 08 RW 02, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali memiliki peran dalam

dilakukan orang tua apabila anak-anaknya berbuat yang tidak sesuai dengan harapan dan aturan-aturan seperti kata-kata atau sikap anak menentang orang tua, mencuri atau perbuatan

Indikator kognisi atau tingkat pandangan responden menunjukkan tidak mendukung dilihat dari 23 responden atau 63,8% orang tua memiliki pandangan yang tidak setuju

Adapun tujuan penelitian yang akan dilakukan adalah untuk mendeskripsikan peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam dalam keluarga di Desa Blumbang,

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terkait peran orang tua terhadap perencanaan karir remaja di dusun X Desa Tanjung Jati Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis di GKII Jemaat Tengkapak melalui observasi dan wawancara, penulis menemukan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan remaja

Peran pola asuh orang tua dalam membentuk perilaku remaja Desa Genteng Kulon di era digital a Peran pola asuh orang tua dan bentuknya dalam membentuk perilaku remaja Hurlock75 dan

xi ABSTRAK MUSDALIPA, Pola Asuh Orang Tua Tunggal Terhadap Penanaman Nilai Moral Pada Anak Remaja di Kecamatan Mattirobulu Kabupaten Pinrang.dibimbing oleh Iskandar, dan