Pola pengembangan dan struktur paragraf pada karangan deskripsi siswa kelas IV SD Negeri Ngargosari, Samigaluh, Kulon Progo tahun ajaran 2011/2012.

122  11 

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Listriani, Juwang. 2013. Pola Pengembangan dan Struktur Paragraf pada Karangan Deskripsi Siswa Kelas IV SD Negeri Ngargosari, Samigaluh, Kulon Progo, Tahun Ajaran 2011/2012. Skripsi. Yogyakarta: PBSID, FKIP, Universitas Sanata Dharma.

Penelitian ini mengkaji pola pengembangan dan struktur paragraf pada karangan deskripsi siswa kelas IV SD Negeri Ngargosari, Samigaluh, Kulon Progo, Tahun Ajaran 2011/2012. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan struktur paragraf pada karangan deskripsi siswa kelas IV SD Negeri Ngargosari, (2) mendeskripsikan pola pengembangan paragraf pada karangan deskripsi siswa kelas IV SD Negeri Ngargosari.

Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualititatif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah perintah menulis karangan deskripsi. Analisis data dilakukan dengan mengelompokkan paragraf deskripsi berdasarkan pola pengembangan dan struktur paragraf yang digunakan siswa. Setelah melakukan pengelompokan, peneliti menganalisis karangan dengan kode-kode yang sudah ditentukan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada sepuluh macam pola pengembangan dan tiga struktur paragraf pada karangan deskripsi siswa kelas IV SD Negeri Ngargosari. Kesepuluh pola itu adalah pola pengembangan deduktif, pola pengembangan induktif, pola pengembangan deduktif-induktif, pola pengembangan ineratif, pola pengembangan perbandingan, pola pengembangan pertanyaan, pola pengembangan sebab akibat, pola pengembangan contoh, pola pengembangan perulangan, pola pengembangan definisi. Dari Sepuluh pola pengembangan, pola pengembangan deduktif paling banyak digunakan siswa. Tiga struktur paragraf dalam karangan deskripsi siswa kelas IV SD Ngargosari yaitu (1) paragraf dengan dua unsur (kalimat utama dan kalimat penjelas), (2) paragraf dengan tiga unsur (kalimat utama, kalimat penjelas, dan kalimat penegas), (3) kalimat dengan tiga unsur (kalimat utama, kalimat penjelas, dan transisi. Siswa banyak menggunakan paragraf dengan dua unsur.

(2)

ABSTRACT

Listriani, Juwang. 2013. The Pattern of Paragraph Development and Paragraph Structure in Descriptive Compositions of the Students Grade IV SD Negeri Ngargosari, Samigaluh, Kulon Progo, Academic Year 2011/2012. Thesis. Yogyakarta: PBSID, FKIP, Sanata Dharma University.

This research examined the pattern of paragraph development and paragraph structure in descriptive compositions of the students grade IV SD Negeri Ngargosari, Samigaluh, Kulon Progo, Academic Year 2011/2012. This research was aimed to (1) describe the pattern of paragraph structure in descriptive compositions of the students grade IV SD Negeri Ngargosari, (2) describe the pattern of paragraph development in descriptive compositions of the students grade IV SD Negeri Ngargosari.

This research was a descriptive qualitative research. The instrument used in this research was a task to write a descriptive composition. The data were analyzed by grouping the descriptive paragraphs based on the pattern of paragraph development and paragraph structure used by the students. After doing the grouping, the researcher analyzed the compositions using the determined codes.

The results showed that there were nine patterns of paragraph development and three patterns of paragraph structures. The nine development patterns were deductive, inductive, deductive-inductive, inerative, comparison, questions, cause-result, example, repetition, and definition. From the nine development patterns, the most frequent to be used were deductive and inductive. The three paragraph patterns in the students’ descriptive compositions were (1) a paragraph with two elements (main sentence and supporting sentence), (2) a paragraph with three elements (main sentence, supporting sentence, and affirmatives), and (3) a paragraph with three elements (main sentence, supporting sentence, and transition). Most students wrote a paragraph with two elements.

(3)

SD NEGERI NGARGOSARI, SAMIGALUH, KULON PROGO

TAHUN AJARAN 2011/2012

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah

Disusun Oleh: Juwang Listriani

08 1224 070

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA, DAN DAERAH JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(4)
(5)
(6)

PERSEMBAHAN

Karya kecil ini kupersembahkan sebagai tanda terima kasihku kepada:

Allah SWT yang telah melancarkan studiku.

Ibuku tersayang Ngadiyah dan Bapak subardi (Alm) yang selalu memberikan doa,

dukungan, dan mengingatkanku untuk terus berjuang.

Kakak-kakakku, Eko Timur Wiyanto dan Dwi Riyanto yang selalu mendukungku.

Roni Prabowo, terima kasih atas kesetiaan, dukungan, dan bantuan baik suka duka

(7)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang disebutkan di dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 18 Februari 2013 Penulis,

(8)

HALAMAN MOTO

Tak ada kata bodoh selagi kita belajar

Tak ada kata sulit selagi kita berusaha

Tak ada kata takut selagi kita benar

Tak ada kata putus asa selagi kita berdoa

Tak ada kata menyesal selagi kita hadapi rintangan

(Juwang Listriani)

Sedikit benih kebaikan dan sedikit kata-kata cinta dapat membuat bumi bahagia

(Julia Carney)

Berfikir positif itu lebih penting daripada memikirkan hal-hal yang negatif

Berdoa itu akan membuat kita lebih tenang daripada kita memegang buku yang tak ada ujungnya

(9)

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Juwang Listriani

Nomor Mahasiswa : 081224070

Demi pengembangan ilmu dan pengetahuan, saya memberikan karya ilmiah kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang berjudul:

POLA PENGEMBANGAN DAN STRUKTUR PARAGRAF PADA KARANGAN DESKRIPSI SISWA KELAS IV SD NEGERI NGARGOSARI, SAMIGALUH, KULON PROGO

TAHUN AJARAN 2011/2012

beserta perangkat yang ada bila diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal: 18 Februari 2013 Yang menyatakan,

(10)

ABSTRAK

Listriani, Juwang. 2013. Pola Pengembangan dan Struktur Paragraf pada Karangan

Deskripsi Siswa Kelas IV SD Negeri Ngargosari, Samigaluh, Kulon Progo, Tahun Ajaran 2011/2012. Skripsi. Yogyakarta: PBSID, FKIP, Universitas Sanata Dharma.

Penelitian ini mengkaji pola pengembangan dan struktur paragraf pada karangan deskripsi siswa kelas IV SD Negeri Ngargosari, Samigaluh, Kulon Progo, Tahun Ajaran 2011/2012. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan struktur paragraf pada karangan deskripsi siswa kelas IV SD Negeri Ngargosari, (2) mendeskripsikan pola pengembangan paragraf pada karangan deskripsi siswa kelas IV SD Negeri Ngargosari.

Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualititatif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah perintah menulis karangan deskripsi. Analisis data dilakukan dengan mengelompokkan paragraf deskripsi berdasarkan pola pengembangan dan struktur paragraf yang digunakan siswa. Setelah melakukan pengelompokan, peneliti menganalisis karangan dengan kode-kode yang sudah ditentukan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada sepuluh macam pola pengembangan dan tiga struktur paragraf pada karangan deskripsi siswa kelas IV SD Negeri Ngargosari. Kesepuluh pola itu adalah pola pengembangan deduktif, pola pengembangan induktif, pola pengembangan deduktif-induktif, pola pengembangan ineratif, pola pengembangan perbandingan, pola pengembangan pertanyaan, pola pengembangan sebab akibat, pola pengembangan contoh, pola pengembangan perulangan, pola pengembangan definisi. Dari Sepuluh pola pengembangan, pola pengembangan deduktif paling banyak digunakan siswa. Tiga struktur paragraf dalam karangan deskripsi siswa kelas IV SD Ngargosari yaitu (1) paragraf dengan dua unsur (kalimat utama dan kalimat penjelas), (2) paragraf dengan tiga unsur (kalimat utama, kalimat penjelas, dan kalimat penegas), (3) kalimat dengan tiga unsur (kalimat utama, kalimat penjelas, dan transisi. Siswa banyak menggunakan paragraf dengan dua unsur.

(11)

ABSTRACT

Listriani, Juwang. 2013. The Pattern of Paragraph Development and Paragraph Structure in Descriptive Compositions of the Students Grade IV SD Negeri Ngargosari, Samigaluh, Kulon Progo, Academic Year 2011/2012. Thesis. Yogyakarta: PBSID, FKIP, Sanata Dharma University.

This research examined the pattern of paragraph development and paragraph structure in descriptive compositions of the students grade IV SD Negeri Ngargosari, Samigaluh, Kulon Progo, Academic Year 2011/2012. This research was aimed to (1) describe the pattern of paragraph structure in descriptive compositions of the students grade IV SD Negeri Ngargosari, (2) describe the pattern of paragraph development in descriptive compositions of the students grade IV SD Negeri Ngargosari.

This research was a descriptive qualitative research. The instrument used in this research was a task to write a descriptive composition. The data were analyzed by grouping the descriptive paragraphs based on the pattern of paragraph development and paragraph structure used by the students. After doing the grouping, the researcher analyzed the compositions using the determined codes.

The results showed that there were nine patterns of paragraph development and three patterns of paragraph structures. The nine development patterns were deductive, inductive, deductive-inductive, inerative, comparison, questions, cause-result, example, repetition, and definition. From the nine development patterns, the most frequent to be used were deductive and inductive. The three paragraph patterns in the students’ descriptive compositions were (1) a paragraph with two elements (main sentence and supporting sentence), (2) a paragraph with three elements (main sentence, supporting sentence, and affirmatives), and (3) a paragraph with three elements (main sentence, supporting sentence, and transition). Most students wrote a paragraph with two elements.

(12)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT, atas limpahan rahmat-Nya, sehingga skripsi yang berjudul Pola Pengembangan dan Struktur Paragraf pada Karangan Deskripsi Siswa Kelas IV SD Negeri Ngargosari, Samigaluh, Kulon Progo, Tahun Ajaran

2011/2012 dapat terselesaikan oleh penulis. Skripsi ini disusun untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas Sanata Dharma.

Tersusunnya skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah membantu dan memberi dorongan serta dukungannya dalam penulisan skripsi ini.

1. Bapak Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Ibu Dr. Yuliana Setiyaningsih, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah.

3. Bapak Dr. Y. Karmin, M.Pd., selaku Dosen Pembimbing I yang dengan sabar, teliti, menasehati, serta memberi motivasi sehingga penulis dapat menyeleseikan skripsi ini dengan baik.

4. Bapak Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum, selaku Dosen Pembimbing II yang dengan sabar serta memberikan motivasi sehingga penulis menyeleseikan skripsi ini dengan baik.

(13)

6. Kedua orang tuaku tercinta, bapakku Subardi dan ibuku Ngadiyah, serta kedua kakakku (Mas Eko dan Mas Dwi) yang selalu memberi motivasi, semangat, dan doanya untukku.

7. Bapak Haryanto, S.Pd, Selaku Kepala Sekolah SD Negeri Ngargosari yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian di SD Negeri Ngargosari.

8. Bapak Yuwono, S.Pd., selaku guru kelas IV SD Negeri Ngargosari yang telah banyak membantu peneliti baik saran maupun pelaksanaan.

9. Para Dosen PBSID, yang telah dengan sabar mendampingi penulis selama menempuh pendidikan di PBSID.

10.Roni Prabowo, terima kasih atas kesetiaan, dorongan dan semangat sehingga penulis dapat menyeleseikan skripsi ini.

11.Teman-temanku, Siti Sudarti, S.Pd., Binedigta Yuni P.L, Puspitaningtyas, Lisa, Nana dan teman-teman PBSID 2008. Terima kasih atas perhatian, kebersamaan, dan kerjasamanya selama ini.

12.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah banyak membantu dalam penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Meskipun demikian, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Yogyakarta, 18 Februari 2013

Penulis

(14)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN KEASLIAN KARYA ... v

HALAMAN MOTO ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR SINGKATAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 3

B. Tujuan Penelitian ... 3

C. Manfaat Penelitian ... 4

D. Batasan Istilah ... 4

(15)

BAB II LANDASAN TEORI ... 7

3. Syarat-Syarat Pembentukan Paragraf ... 15

a. Kesatuan ... 15

a. Pengertian Paragraf Deskripsi ... 29

b. Ciri-Ciri Paragraf Deskripsi ... 30

c. Jenis-Jenis Paragraf Deskripsi ... 30

(16)

E. 1. Pola Pengembangan yang digunakan siswa Kelas IV SD Negeri Ngargosari ... 43

2. Unsur Paragraf yang digunakan siswa Kelas IV SD Negeri Ngargosari ... 43

bahasan ... 44

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Data Penelitian

1. Kisi-kisi Wawancara

2. Hasil Wawancara

Lampiran 2 : Soal

1. Perintah soal

2. Lembar Jawaban

Lampiran 3 : Karangan Siswa

1. Data Karangan Siswa

2. Analisis Karangan

Daftar kode-kode pola pengembangan dan struktur parag

3. raf

Lampiran 4

1.

2. Surat K

: Surat Izin Penelitian

SD Negeri Ngargosari

eterangan Sudah Penelitian

(18)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 : Soal perintah mengarang 1

Gambar 2 : Soal Perintah mengarang 2

(19)

DAFTAR TABEL

ncara

bangan yang digunakan siswa.

Tabel 1 : kisi-kisi wawa

(20)

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang lengkap dan utuh

yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak bertatap muka

dengan orang lain (Tarigan, 1982:4). Melalui menulis, manusia dapat

mengekspresikan perasaan dan sikap dalam dirinya. Keterampilan menulis ini tidak

akan datang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan-latihan yang teratur dan

banyak.

Karangan terdiri dari beberapa paragraf. Paragraf adalah seperangkat kalimat

tersusun logis-sistematis yang merupakan satu kesatuan ekspresi pikiran yang relevan

dan mendukung pikiran pokok yang tersirat dalam keseluruhan karangan (Tarigan,

1987:11). Paragraf yang tersusun baik merupakan alat bantu bagi pengarang dan

pembaca. Seperangkat kalimat itu akan membantu pengarang mengembangkan jalan

pikirannya secara sistematis pula.

Kemampuan mengembangkan paragraf diperlukan bagi siswa agar dapat

mengembangkan kalimat-kalimat menjadi paragraf yang baik. Pola pengembangan

paragraf ini erat hubungannya dengan struktur paragraf karena dalam pembentukan

paragraf membutuhkan unsur-unsur paragraf agar paragraf tersusun logis dan

(21)

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pola pengembangan

paragraf dan struktur paragraf sangat penting dalam pembentukan paragraf. Pola

pengembangan paragraf dan struktur paragraf perlu diajarkan siswa sejak duduk di

bangku sekolah dasar sehingga mereka dapat membuat paragraf dengan baik dan

sistematis. Banyaknya materi Bahasa Indonesia namun kurangnya waktu dalam

proses belajar mengajar membuat materi pola pengembangan dan struktur paragraf

kurang diperhatikan. Selain itu, masih ada guru yang kurang memahami jenis-jenis

paragraf dan cara menulis paragraf yang baik.

Paragraf terdiri dari empat macam yaitu cerita (narasi), lukisan (deskripsi),

paparan (eksposisi), dan bincangan (argumentasi) (The Liang Gie, 2002:25). Fokus

penelitian ini adalah bentuk paragraf deskripsi. Paragraf deskripsi membutuhkan

keterampilan dalam menggunakan pancaindra. Hal ini disebabkan paragraf deskripsi

adalah paragraf yang bertalian dengan usaha para penulis untuk memberikan

perincian-perincian dari objek yang sedang dibicarakan (Keraf, 1980:93).

Peneliti memilih kelas IV sebagai objek yang diteliti karena di kelas IV

terdapat materi yang berkaitan dengan menulis deskripsi, yaitu pada semester 2.

Kompetensi Dasar yang mengacu pada materi tersebut, yaitu menyusun karangan

tentang berbagai topik sederhana dengan memperhatikan penggunaan ejaan (huruf

besar, tanda titik, tanda koma, dll). Standar Kompetensinya berbunyi,

mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara tertulis dalam bentuk

karangan, pengumuman dan pantun anak. Peneliti ingin mengetahui siswa kelas IV

(22)

pengembangan dan struktur paragraf yang baik. Selain itu, dipilihnya Sekolah Dasar

Negeri Ngargosari karena dekat dengan tempat tinggal peneliti. Tempat tinggal

peneliti yang dekat dengan SD Negeri Ngargosari memudahkan peneliti untuk

mengambil data.

B.Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah penelitian di atas, dapat dirumuskan

permasalahan sebagai berikut.

1. Struktur paragraf apa sajakah yang digunakan pada karangan deskripsi

siswa kelas IV SD Negeri Ngargosari?

2. Pola pengembangan apa sajakah yang digunakan pada karangan deskripsi

siswa kelas IV SD Negeri Ngargosari?

C.Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam

penelitian ini sebagai berikut.

1. Mendeskripsikan struktur paragraf pada karangan deskripsi siswa kelas IV SD

Negeri Ngargosari.

2. Mendeskripsikan pola pengembangan paragraf pada karangan deskripsi siswa

(23)

D.Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat oleh sedikitnya tiga pihak

yaitu pihak sekolah, guru kelas SD Negeri Ngargosari, dan peneliti lain.

1. Bagi Sekolah

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan gambaran kepada sekolah tentang

kemampuan siswa dalam menulis karangan deskripsi dengan berbagai pola

pengembangan dan struktur paragraf melalui media gambar kelas IV SD.

2. Bagi Guru Kelas

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan gambaran kepada guru kelas untuk

menambah pengetahuan mengenai variasi pola pengembangan paragraf pada

karangan deskripsi dengan media gambar siswa kelas IV SD Negeri Ngargosari.

3. Peneliti lain

Hasil penelitian ini diharapkan sebagai referensi penelitian lain untuk

mengembangkan topik yang berhubungan dengan paragraf deskripsi dan pola

pengembangannya.

E.Batasan Istilah

Berikut ini batasan istilah yang terdapat dalam penelitian ini. Istilah tersebut

meliputi paragraf, pola pengembangan paragraf, struktur paragraf, karangan, dan

(24)

1. Paragraf

Paragraf adalah seperangkat kalimat tersusun logis sistematis yang merupakan

satu kesatuan ekspresi pikiran yang relevan dan mendukung pikiran pokok yang

tersirat dalam keseluruhan karangan (Tarigan, 1987:11).

2. Pola pengembangan paragraf

Pola pengembangan paragraf adalah pembangunan sebuah paragraf

berdasarkan kalimat topik. Pengembangan berarti kemampuan merinci secara

maksimal gagasan bawahan dan pengurutan gagasan bawah ke dalam urutan yang

teratur (Keraf, 1988:84).

3. Struktur paragraf

Struktur paragraf adalah penulisan paragraf berdasarkan kelengkapan unsur

atau posisi paragraf dalam paragraf (Tarigan, 1987:21).

4. Karangan

Karangan adalah hasil perwujudan gagasan seseorang dalam bahasa tulis yang

dapat dibaca dan dimengerti oleh masyarakat pembaca (The Liang Gie, 2002:3).

5. Karangan deskripsi

Karangan deskripsi adalah sebuah bentuk tulisan yang bertalian dengan usaha

para penulis untuk memberikan perincian-perincian dari objek yang sedang

(25)

F. Sistematika Penyajian

Hasil penelitian ini disusun dalam lima bab.Bab I berisi pendahuluan. Pada bab

ini diuraikan tentang latar belakang masalah rumusan masalah, tujuan penelitian,

batasan istilah, dan sistematika penyajian. Bab II memaparkan kajian teori. Kajian

teori menguraikan penelitian terdahulu, pengertian paragraf, struktur paragraf, syarat

pembentukan paragraf, pola pengembangan paragraf, karangan deskripsi, jenis-jenis

karangan deskripsi, dan langkah-langkah menulis deskripsi.

Bab III berisi metodologi penelitian. Metodologi penelitian menguraikan jenis

penelitian, subjek penelitian, sumber data, instrumen penelitian, prosedur

pengumpulan data, dan teknik analisis data. Bab IV diuraikan tentang deskripsi data,

hasil penelitian, dan pembahasannya. Selanjutnya, bagian terakhir atau bab V. Bab V

(26)

BAB II

LANDASAN TEORI

a. Penelitian Terdahulu

Peneliti menemukan tiga penelitian yang relevan dengan penelitian ini, yaitu

penelitian Pudyastuti (2009), Gitasari (2008), dan penelitian Verawati (2010).

Penelitian Pudyastuti (2009) berjudul “Pola Pengembangan Paragraf

Deskripsi berdasarkan Observasi yang Digunakan Siswa Kelas X SMA Santa Maria,

Yogyakarta, Tahun Ajaran 2008/2009”. Penelitian ini bertujuan: (1) mendeskripsikan

pola pengembangan yang digunakan siswa kelas X Santa Maria,Yogyakarta, dalam

membuat paragraf deskripsi berdasarkan observasi, dan (2) mendeskripsikan urutan

pola pengembangan paragraf deskripsi jika dilihat dari tingkat keseringannya. Hasil

dari penelitian menunjukkan bahwa pola pengembangan yang digunakan siswa

dalam menulis paragraf deskripsi adalah pola pengembangan statis dan pola

pengembangan fisik. Pola pengembangan statis dibuat oleh dua puluh tujuh siswa dan

pola pengembangan fisik dibuat oleh dua belas siswa.

Penelitian Gitasari (2008) berjudul “Pola Pengembangan Paragraf Deduktif

Berdasarkan Grafik pada Siswa Kelas XII SMA Institut Indonesia 1, Yogyakarta,

Tahun Ajaran 2008/2009”. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pola-pola

pengembangan yang digunakan siswa dalam membuat paragraf deduktif berdasarkan

grafik dan mendeskripsikan urutan pola pengembangan paragraf deduktif jika dilihat

(27)

pengembangan rincian, sebab akibat, dan contoh merupakan pola pengembangan

yang digunakan siswa kelas XII SMA Institut Indonesia 1, Yogyakarta, dalam

membuat paragraf deduktif. Urutan pola pengembangan berdasarkan tingkat

keseringan yang menduduki posisi pertama pola pengembangan rincian, sedangkan

pola pengembangan sebab akibat, dan pola pengembangan contoh berada di

bawahnya dengan jumlah yang terlalu jauh.

Penelitian Verawati (2011) berjudul “Pola Pengembangan Paragraf dan

Struktur Paragraf pada Karangan Narasi Siswa Kelas V SD Negeri Kalibening,

Dukun, Magelang, Tahun Ajaran 2010/2011”. Penelitian ini bertujuan

mendeskripsikan pola pengembangan paragraf dan struktur paragraf yang digunakan

dalam karangan narasi siswa kelas V SD Negeri Kalibening, Dukun, Magelang,

Tahun Ajaran 2010/2011. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada

sembilan macam pola pengembangan dan empat struktur paragraf pada karangan

narasi siswa kelas V SD Negeri Kalibening. Kesembilan pola itu adalah (1) pola

pengembangan deduktif, (2) pola pengembangan induktif, (3) pola pengembangan

campuran, (4) pola pengembangan perulangan, (5) pola pengembangan menerangkan,

(6) pola pengembangan pertanyaan, (7) pola pengembangan sebab akibat, (8) pola

pengembangan contoh, dan (9) pola pengembangan merinci. Empat struktur paragraf

itu adalah (1) paragraf dengan dua unsur paragraf (kalimat utama dan kalimat

penjelas), (2) paragraf dengan tiga unsur paragraf (kalimat utama, kalimat penjelas,

(28)

penjelas, dan transisi, (4) paragraf dengan empat unsur paragraf (kalimat utama,

kalimat penjelas, transisi, dan kalimat penjelas).

Penelitian di atas dapat digunakan peneliti sebagai inspirasi untuk melakukan

penelitian sejenis. Peneliti memilih siswa SD kelas IV sebagai subjek penelitian dan

paragraf deskripsi sebagai sumber data. Selain itu, peneliti juga meneliti struktur

paragraf dan pola pengembangan pada paragraf deskripsi dengan media gambar yang

belum diteliti peneliti lain.

b. Kajian Teori

1. Paragraf

Bab ini akan memaparkan pengertian paragraf menurut beberapa ahli.

Pengertian paragraf menurut beberapa ahli sebagai berikut. Paragraf adalah

seperangkat kalimat tersusun logis sistematis yang merupakan satu kesatuan ekspresi

pikiran yang relevan dan mendukung pikiran pokok yang tersirat dalam keseluruhan

karangan (Tarigan, 1987:11). Akhadiah dalam bukunya Pembinaan Kemampuan

Menulis Bahasa menyebutkan bahwa paragraf merupakan inti penuangan buah

pikiran dalam sebuah karangan.

Ramlan (1993:1) mendefinisikan lebih luas bahwa paragraf merupakan bagian

dari suatu karangan atau tuturan yang terdiri dari sejumlah kalimat yang

mengungkapkan satuan informasi dengan ide pokok sebagai pengendalinya.

Pengertian lain, paragraf merupakan bagian karangan tulis yang membentuk satu

(29)

berbeda, yaitu paragraf atau alenia tidak lain dari suatu kesatuan pikiran, suatu

kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat (Keraf, 1980:62).

Dari definisi-definisi yang telah disampaikan dapat ditarik kesimpulan bahwa

paragraf adalah seperangkat kalimat yang tersusun secara logis yang di dalamnya

berisi informasi dengan ide pokok sebagai pengendalinya, dan membentuk satu

kesatuan pikiran.

2. Struktur Paragraf

Struktur paragraf adalah penulisan paragraf berdasarkan kelengkapan unsur

atau posisi unsur paragraf dalam paragraf (Tarigan, 1987:21). Paragraf harus tersusun

secara logis sistematis. Kelengkapan unsur paragraf itu menyangkut unsur apa saja

yang ada dalam paragraf. Menurut Tarigan (1987) alat bantu untuk menciptakan

susunan logis sistematis ialah unsur-unsur paragraf yaitu kalimat utama, kalimat

pengembang, kalimat penegas, dan transisi.

a. Kalimat Topik atau Kalimat Utama

Kalimat topik atau kalimat utama adalah perwujudan pernyataan ide pokok

paragraf dalam bentuk umum atau abstrak (Tarigan,1987:18). Pokok pikiran itu

dituangkan dalam satu kalimat diantara kalimat-kalimat yang tergabung dalam sebuah

paragraf (Wiyanto, 2004:25). Kalimat yang mengandung ide pokok disebut dengan

kalimat topik atau kalimat utama.

Kalimat dalam bentuk umum atau abstrak merupakan kalimat yang belum jelas

(30)

maksud dari kalimat tersebut. Kalimat utama berperan sebagai pengantar untuk

sampai kepada masalah yang akan diuraikan. Kalimat utama harus dapat menarik

minat dan perhatian pembaca, serta sanggup menyiapkan pikiran pembaca kepada

masalah yang akan diuraikan.

Menurut Ramlan (1993: 2—3) setiap paragraf mempunyai ide poko, baik secara

tersurat maupun secara tersirat. Ide pokok yang tersurat mungkin terletak pada bagian

awal paragraf, bagian akhir paragraf, dan mungkin terletak pada bagian awal dan

akhir paragraf. Ide pokok yang tersirat tidak dinyatakan dalam sebuah kalimat, namun

seluruh kalimat yang terdapat dalam paragraf tetap mendukung satu pikiran pokok.

Contoh kalimat utama sebagai berikut.

Kita ketahui bahwa tanah air kita dihuni oleh ribuan jenis tumbuh-tumbuhan yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Di antaranya ada yang sudah dibudidayakan, ada pula yang belum diketahui manfaatnya. Kita juga mengetahui adanya kekhawatiran bahwa jumlah persediaan makanan semakin gawat, berhubung jumlah bertambah terus, meskipun keluarga berencana dikatakan berhasil, (Akhadiah, 1988:146).

Paragraf di atas diawali dengan kalimat utama yang membicarakan tanah air kita

yang dihuni berbagai tumbuh-tumbuhan. Kalimat berikutnya merupakan kalimat

penjelas dari kalimat utama.

b. Kalimat Pengembang atau Kalimat Penjelas

Kalimat pengembang atau kalimat penjelas adalah kalimat yang berisi pikiran

penjelas yang diwujudkan dalam kalimat-kalimat yang isinya menjelaskan, merinci,

(31)

kalimat pengembang tidak boleh sembarangan. Urutan kalimat pengembang harus

sesuai dengan kalimat utama. Kalimat pengembang dapat dibedakan menjadi dua,

yakni yang sifatnya utama atau mayor dan sifatnya minor atau tidak utama

(Rahardi,2010:60). Kalimat penjelas mayor berfungsi menjelaskan secara langsung

ide pokok dan kalimat utama yang terdapat di dalam paragraf itu. Jadi, hubungan

antara kalimat utama dan kalimat penjelas utama di dalam sebuah paragraf itu bersifat

langsung.

Kalimat penjelas minor berfungsi menjelaskan langsung kalimat penjelas mayor

dan dapat juga menjelaskan secara tidak langsung gagasan utama dan/atau kalimat

utama suatu paragraf. Jadi, sebuah kalimat penjelas minor yang telah menjelaskan

secara langsung kalimat penjelas utama tertentu tidak serta merta dapat digunakan

untuk menjelaskan kalimat penjelas utama yang lainnya. Berikut contoh kalimat

pengembang.

Agaknya kita tidak akan ragu-ragu mengatakan bahwa setiap mahkluk hidup memerlukan air. Misalnya tumbuh-tumbuhan di sekitar rumah kita. Pada musim kemarau panjang, tumbuh-tumbuhan, terutama yang kecil, mati kekeringan. Tumbuh-tumbuhan besar pun akan mati kalau tidak mendapatkan air dalam waktu yang lama. Demikian pula binatang piaraan kita, selain memerlukan makanan juga memerlukan air minum. Kebutuhan air itu lebih banyak lagi bagi manusia. Selain membutuhkan air untuk mandi, mencuci pakaian, dan memasak makanan, kita membutuhkan air untuk minum. (Wiyanto, 2004:27).

Paragraf di atas diawali dengan kalimat utama yang menginfomasikan bahwa

setiap makhluk hidup memerlukan air. Kalimat berikutnya berupa uraian-uraian

(32)

c. Kalimat Penegas

Kalimat penegas, yaitu kalimat di dalam paragraf yang tugasnya adalah untuk

memberi penegasan (Rahardi, 2010:79). Wiyanto (2004:28) mengungkapkan bahwa

kalimat penegas berfungsi menegaskan dengan cara mengulang kalimat topik pada

bagian akhir paragraf. Kehadiran kalimat penegas dalam suatu paragraf tidak mutlak,

boleh ada atau tidak. Kalimat penegas ada bila pengarang merasa memerlukannya

untuk menunjang kejelasan informasi. Kalimat penegas hadir apabila kalimat penjelas

yang terlalu banyak dan membutuhkan sebuah kalimat penegas agar paragraf itu

menjadi jelas maksudnya. Contoh paragraf penegas sebagai berikut.

Gedung yang dibangun delapan belas tahun yang lalu itu kini keadaannya rusak berat. Tembok bagian depan mengelupas di beberapa tempat dan bagian belakang retak-retak. Gentingnya banyak yang pecah dan tentu saja bocor kalau hujan turun. Kayu penyangga genting banyak yang patah sehingga atap bangunan tampak bergelombang. Plafon sudah tidak utuh, lantai hancur, dan beberapa jendela kaca pecah. Bahkan sejumlah pintunya keropos dimakan rayap (Wiyanto, 2004:28).

Paragraf di atas diawali dengan kalimat utama yang menginformasikan bahwa

gedung yang dibangun delapan belas tahun rusak berat. Kalimat-kalimat berikutnya

merupakan kalimat penjelas yang meneruskan deskripsi kerusakan di gedung

tersebut. Pada akhir paragraf merupakan kalimat penegas yang menerangkan bahwa

sejumlah pintu sudah keropos.

d. Transisi

Transisi merupakan perekat atau penghubung paragraf satu dengan paragraf

(33)

paragraf bergantung pada pertimbangan pengarang. Transisi juga berfungsi sebagai

penghubung antarparagraf dalam suatu karangan agar padu, menyatu, dan utuh

(Widjono, 2007:184).

Berbeda dengan Rahardi (2010:15) yang mengungkapkan bahwa transisi adalah

kata-kata yang berfungsi sebagai penanda peralihan atau transisi dari kalimat yang

satu dengan yang lainnya dalam sebuah paragraf. Dalam hal ini peneliti lebih

mengacu pada pendapat Wiyanto dikarenakan transisi merupakan penghubung antar

paragraf, sedangkan transisi dari kalimat yang satu dengan yang lain disebut penanda

kohesi. Penanda kohesi adalah hubungan perkaitan antarproposisi yang dinyatakan

secara eksplisit oleh unsur-unsur gramatikal dan semantik dalam kalimat-kalimat

yang membentuk wacana (TBBI, 2003:427). Menurut Widjono (2007:184—185),

kata-kata transisi yang menyatakan hubungan adalah sebagai berikut.

a. Sebab,akibat: sebab, karena, akibatnya, maka, oleh karena itu, oleh sebab

itu, dampaknya

b. Hasil, akibat: akibatnya, hasilnya, dampaknya, akhirnya, jadi, sehingga.

c. Pertentangan: tetapi, namun, berbeda dengan sebaliknya, kebalikan dari

pada itu, kecuali itu, meskipun demikian, walaupun demikian.

d. Waktu: ketika

e. Syarat: jika, jikalau, apabila,kalau

f. Cara: cara yang demikian, cara ini

g. Penegasan: jadi, dengan demikian, jelaslah bahwa

h. Tambahan informasi: tambahan pula, selain itu, oleh karena itu, lebih

daripada itu, lebih lanjut, di samping itu, lebih-lebih, dalam hal demikian, sehubungan dengan hal itu, dengan kata lain,singkatnya, tegasnya.

i. Urutan:mula-mula, pertama, kedua, akhirnya, proses ini,sesudah itu,

(34)

3. Syarat–syarat Pembentukan Paragraf

Pengembangan sebuah paragraf diperlukan beberapa pesyaratan seperti,

kesatuan, kepaduan, dan kelengkapan. Menurut Akhadiah (1989) syarat pembentukan

paragraf sebagai berikut.

a. Kesatuan

Dalam penulisan sebuah karangan setiap paragraf hanya mengandung satu

gagasan pokok atau satu topik (Akhadiah, 1988:148). Rahardi (2010: 117)

menyebutkan hal yang sama bahwa di dalam sebuah paragraf tidak dimungkinkan

terdapat lebih dari satu ide atau pikiran. Pikiran atau ide yang hanya ada satu tersebut

selanjutnya harus dijabarkan dengan secara terperinci, dengan secara jelas, dengan

secara tuntas lewat kalimat-kalimat penjelas di dalam paragraf itu.

Dari pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa suatu paragraf harus

memperlihatkan dengan jelas maksud atau tema tertentu. Maksud atau tema itu

biasanya didukung oleh sebuah kalimat pokok atau kalimat topik. Semua kalimat

dalam paragraf harus membicarakan gagasan pokok. jadi kesatuan lebih

menitikberatkan hubungan gagasan pokok dengan kalimat yang lain dalam satu

paragraf. Contoh paragraf yang mempunyai kesatuan sebagai berikut.

(35)

b. Kepaduan (Koherensi)

Kepaduan dalam paragraf dapat dilihat dari susunan kalimat yang runtut dan

teratur, sehingga hubungan antara kalimat yang satu dengan yang lainnya akan

tersusun dengan logis (Akhadiah, 1988:150). Widjono (2007: 182) mengungkapkan

bahwa paragraf dinyatakan padu jika dibangun dengan kalimat-kalimat yang

berhubungan logis. Hubungan pikiran-pikiran yang ada dalam paragraf menghasilkan

kejelasan struktur dan makna paragraf. Dari pengertian di atas kepaduan lebih

mengutamakan pada hubungan antara kalimat yang satu dan kalimat yang lain.

Contoh paragraf yang memiliki kepaduan sebagai berikut.

Dalam mengajarkan sesuatu, langkah pertama yang perlu kita lakukan ialah menentukan tujuan mengajarkan sesuatu itu. Tana adanya tujuan yang sudah ditetapkan , materi yang kita berikan, metode yang kita gunakan, dan evaluasi yang kita susun, tidak akan banyak memberikan manfaat bagi anak didik dalam menerapkan hasil proses belajar-mengajar. Dengan mengetahui tujuan pengajaran, kita dapat menentukan materi yang akan kita ajarkan, metode yang kita gunakan, serta bentuk evaluasinya, baik secara kualitatif maupun kuantitatif (Akhadiah, 1988: 150).

c.Kelengkapan

Kelengkapan paragraf dapat dilihat dari kalimat-kalimat penjelas yang cukup

untuk menunjang kejelasan kalimat topik atau kalimat utama. Namun, suatu paragraf

dikatakan tidak lengkap, jika tidak dikembangkan atau hanya diperluas dengan

pengulangan-pengulangan (Akhadiah, 1988:152). Dari pengertian di atas dapat

dijelaskan bahwa suatu paragraf dikatakan lengkap apabila berisi kalimat-kalimat

penjelas yang cukup untuk menunjang kejelasan kalimat pokok. Contoh paragraf

(36)

Masalah kelautan yang dihadapi dewasa ini ialah tidak adanya peminat atau penggemar jenis binatang laut, seperti halnya penggemar penghuni darat atau burung-burung yang indah. Tidak ada penyediaan dana untuk melindungi ketam kenari, kima, atau tiram mutiara sebagaimana halnya untuk panda dan harimau. Jenis mahkluk laut tertentu, tiba-tiba punah sebelum manusia sempat melindunginya. Tiram raksasa di kawasan Indonesia bagian barat kebanyakan sudah punah. Sangat sukar menemukan tiram hidup dewasa ini, padahal rumah tiram yang sudah mati mudah ditemukan. Demikian juga halnya dengan kepiting kelapa dan kepiting begal yang biasa menyebar dari pantai barat Afrika sampai bagian barat Laut Teduh, kini hanya dijumpai didaerah kecil yang terpencil. Dari mana dana diperoleh untuk melindungi semua ini? (Akhadiah, 1988:153).

4. Pola Pengembangan Paragraf

Pada bagian ini akan dipaparkan pola pengembangan paragraf. Menurut

Wiyanto (2004:59—64), pengembangan paragraf berdasarkan letak kalimat utama

dibagi menjadi lima jenis. Berikut paparan dari kelima pola pengembangan.

a. Paragraf Deduksi

Paragraf deduksi adalah paragraf yang dimulai dengan kalimat topik. Kalimat

topik itu kemudian dikembangkan dengan pemaparan ataupun deskripsi sampai

bagian-bagian kecil sehingga pengertian kalimat topik yang bersifat umum menjadi

jelas (Tarigan, 1987:30). Paragraf deduksi juga disebut paragraf umum-khusus.

Paragraf umum-khusus yaitu paragraf yang dimulai dengan pernyataan kalimat topik

berupa kesimpulan, kemudian disusul dengan sejumlah rincian yang

menjelaskan/mendukung kesimpulan tersebut. Contoh paragraf deduksi adalah

sebagai berikut.

1) Salah satu kedudukan bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa nasional. 2) Kedudukan ini dimiliki sejak dicetuskan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. 3) Kedudukan ini dimungkinkan oleh kenyataan bahwa bahasa Melayu yang

(37)

seluruh tanah air kita. 4) Hal ini ditunjang lagi oleh faktor tidak terjadinya “persaingan bahasa”, maksudnya persaingan bahasa daerah yang satu dengan bahasa daerah yang lain untuk mencapai kedudukannya sebagai bahasa nasional (Akhadiah, 1988:161).

Paragraf di atas diawali kalimat utama, yang ada pada kalimat (1). Berisi pikiran

utama, yang menginformasikan bahwa Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional.

Kalimat (2—5) merupakan kalimat penjelas. Kalimat (2) menjelaskan bahwa

kedudukan itu sejak dicetuskan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.

Kalimat (3) menjelaskan bahwa bahasa melayu yang mendasari bahasa Indonesia

menjadi lingua franca. Kalimat (4) menjelaskan bahwa adanya faktor tidak terjadinya

“persaingan bahasa”.

b. Paragraf Induksi

Paragraf induksi adalah paragraf yang dimulai dengan penjelasan bagian-bagian

konkret atau khusus yang dituangkan dalam beberapa kalimat pengembang (Tarigan,

1987: 30). Paragraf induksi juga disebut paragraf umum. Paragraf

khusus-umum yaitu paragraf yang dimulai dengan sejumlah kalimat penjelas yang kemudian

disimpulkan pada akhir paragraf. Contoh paragraf induksi adalah sebagai berikut.

(38)

Paragraf di atas diawali kalimat penjelas ditunjukkan pada kalimat (1—3) dan

diakhiri kalimat utama (5). Kalimat (1) menjelaskan bahwa Ny. Ahmad sering sakit

sejak suaminya meninggal. Kalimat (2) menjelaskan bahwa setiap bulan ia berobat.

Kalimat (3) harta peninggalan suaminya semakin menipis. Kalimat (4) menjelaskan

bahwa kakak tertua dan adiknya yang masih kuliah dan nomor tiga yang masih di

bangku SMA. Kalimat (5) menjelaskan bahwa berat sekali penderitaan hidupnya.

c. Paragraf Deduktif-Induktif

Pola paragraf deduktif-induktif adalah paragraf yang menempatkan kalimat utama

di awal dan di akhir paragraf. Ciri paragraf ini ditandai oleh berulangnya gagasan

utama pada awal yang ditegaskan kembali di bagian akhir. (Suwarna, 2012:73).

Sebagai pengulangan atau penegas, wujud kalimat utama yang berada di akhir

paragraf itu tidak selalu sama dengan kalimat yang berada di awal paragraf.

Akan tetapi, kedua kalimat itu tetap menunjukkan pokok pikiran yang sama

meskipun wujudnya bervariasi. Dengan kata lain, paragraf deduktif-induktif adalah

paragraf yang meletakkan kalimat topiknya di awal paragraf dan diulangi pada akhir

paragraf. Pengulangan ini berfungsi untuk menegaskan kalimat topik. Contoh

paragraf deduktif-induktif sebagai berikut.

(39)

penjual maupun pembeli. (6) Para pembeli mulai berdatangan pukul 08.00. (7) Jumlah pembeli ini meningkat sampai pukul 11.30. (8) Pada tengah hari, jumlah

pembeli menurun. (9) Namun, jumlah tersebut memuncak kembali pukul 14.00 sampai dengan 16.30 (Widjono, 2007:179).

Paragraf di atas diawali dengan kalimat penjelas yang ditunjukkan pada kalimat

(1—4). Kemudian kalimat (5) merupakan kalimat utama. Kalimat (6—9) merupakan

kalimat penjelas. Kalimat (1) menjelaskan bahwa Pasar Tanah Abang dibanjiri

pedagang. Kalimat (2) menjelaskan bahwa ada aktivitas jual beli. Kalimat

(3) menjelaskan bahwa barang diperdagangkan. Kalimat (4) menjelaskan bahwa

tekstil kebutuhan masyarakat. Kalimat (5) merupakan kalimat utama yang

menginformasikan bahwa Pasar Tanah Abang tidak pernah sepi. Kalimat

(6) menjelaskan tentang kedatangan pembeli. Kalimat (7) menjelaskan tentang

puncak kedatangan pembeli.

d. Paragraf Ineratif

Paragraf ineratif adalah paragraf yang menempatkan gagasan utama paragraf itu

di tengah-tengah paragraf (Rahardi, 2010:128). Kalimat-kalimat yang berada di awal

paragraf seolah-olah merupakan pengantar untuk menuju puncak. Yang dianggap

puncak disini adalah kalimat utamanya. Sesudah sampai bagian puncak, penulis

masih menambahkan kalimat-kalimat penjelas lagi. Contoh paragraf ineratif sebagai

berikut.

(1)Etos kerja masyarakat sangat tinggi. (2) Mereka juga sangat disiplin.

(40)

meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan. (7) Dimana saja, asal ada kesempatan, mereka membaca. (8) Bagi mereka, membaca tidak harus di ruang baca. (9) Mereka melakukannya di dalam gerbong kereta yang melaju, di stasiun, dan bahkan sambil

berdiri antre beli tiket (Wiyanto, 2004:62).

Kalimat utama pada paragraf di atas terletak di kalimat kelima, “Masyarakat

Jepang memang layak diteladani.” Kalimat-kalimat yang terletak di awal merupakan

pemaparan atau pengantar untuk menuju pada kalimat pokok, sedangkan

kalimat-kalimat yang terletak setelah kalimat-kalimat utama merupakan kalimat-kalimat penjelas.

e. Paragraf Tanpa Kalimat Utama

Adakalanya didapatkan bahwa sebuah paragraf tidak memiliki kalimat utama.

Artinya, gagasan pokoknya mungkin sekali ada, tetapi memang sengaja tidak

dirumuskan dalam bentuk kalimat utama (Rahardi, 2010:130). Untuk menemukan

gagasan utamanya, pembaca harus mengambil kesimpulan dari seluruh kalimat yang

ada. Paragraf tanpa kalimat utama ini biasanya digunakan dalam cerita (narasi) atau

lukisan (deskripsi). Berikut contoh paragraf tanpa kalimat utama.

(1)Begitu upacara pengibaran bendera selesai, rakyat dan pemuda Magelang

berduyun-duyun meninggalkan puncak Gunung Tidar. (2) Mereka menuruni lereng gunung bagian barat dengan rasa bangga sebagai bangsa merdeka. (3) Namun, tiba-tiba terdengar letusan senjata api dari balik gunung sebelah utara. (4) Bukan satu dua letusan, melainkan berondongan peluru tajam yang mengancam jiwa mereka (Wiyanto,2004:63).

Seluruh kalimat di atas kedudukannya sama penting. Sangat sulit mencari

(41)

Selain jenis pola pengembangan paragraf menurut Wiyanto, penulis memaparkan

pula jenis paragraf berdasarkan cara pengembangannya menurut Tarigan (1987).

Paragraf berdasarkan cara pengembangannya meliputi enam macam, sebagai berikut.

a. Paragraf Perbandingan

Paragraf perbandingan adalah paragraf yang kalimat topik berisi perbandingan

dua hal, misalnya yang bersifat abstrak dengan yang bersifat konkret. Kalimat topik

tersebut dikembangkan dengan memperinci perbandingan tersebut dalam bentuk yang

konkret atau bagian-bagian kecil (Tarigan, 1987:31). Jadi, yang dimaksud dengan

paragraf perbandingan adalah suatu cara penulis menunjukkan kesamaan dan

perbedaan suatu objek atau ide dengan mempergunakan dasar tertentu. Contoh

paragraf perbandingan sebagai berikut.

(1) Ratu Elizabet tidak begitu tertarik dengan mode, tetapi selalu berusaha

tampil di muka umum seperti apa yang diharapkan rakyatnya. (2) Kalau keluar kota

paling senang mengenakan pakaian yang praktis. (3) Ia menyenangi topi dan scraf.

(4) Lain halnya dengan Margareth Thatcher. (5) Sejak menjadi pemimpin partai konservatif, ia melembutkan gaya berpakaian dan rambutnya. (6) Ia membeli pakaian sekaligus dua kali setahun. (7) Ia lebih cenderung berbelanja di tempat yang agak murah. (8) Ia hanya memakai topi pernikahan, ke pemakaman dan upacara resmi pembukaan parlemen (Nasucha, 2009:46).

Paragraf di atas berisi tentang perbedaan gaya berpakaian Ratu Elizabet dan

Margareth Thatcher. Kalimat (1) menjelaskan Ratu Elizabet yang tidak begitu tertarik

dengan mode. Kalimat (2) menjelaskan bahwa keluar kota menggunakan pakaian

yang praktis. Kalimat (3) ia suka topi dan scraf. Kalimat (4) menjelaskan bahwa

(42)

dan rambutnya sejak menjadi pemimpin partai konservatif. Kalimat (6) menjelaskan

bahwa ia membeli pakaian dua kali setahun. Kalimat (7) menjelaskan bahwa ia

berbelanja di tempat murah. Kalimat (8) ia memakai topi penikahan ke pemakaman

dan upacara pembukaan parlemen.

b. Paragraf Pertanyaan

Paragraf pertanyaan adalah kalimat topik yang dikembangkan dengan kalimat

tanya dan kalimat berita (Keraf, 1987:32). Dari kutipan di atas dapat dijelaskan

bahwa kalimat topik dikembangkan dari kalimat berupa pertanyaan dan berita.

Contoh paragraf pertanyaan sebagai berikut.

(1) Mengapa Jepang yang miskin sumber daya alamnya bisa menjadi negara maju? Tidak mengherankan, (2) karena Jepang sudah mampu mengmbangkan sumber daya manusianya. (3) Orang jepang giat belajar dan tekun bekerja. (4) Semboyan hidupnya, “Jibun no koto de shinasai”. (5) Artinya, ‘lakukan sendiri keperluanmu’. (6) Dengan semboyan itu orang jepang tidak mengharapkan apalagi menggantungkan bantuan orang lain. (7) Apa yang dapat dikerjakan langsung dikerjakan sendiri. (8) Karena semuanya begitu, orang jepang sangat produktif sehingga negaranya maju (Wiyanto, 2004:72).

Paragraf di atas diawali kalimat utama yang berupa kalimat tanya pada kalimat

(1). Kemudian disusul dengan kalimat penjelas sebagai jawaban dari pertanyaan

kalimat (1).

c. Paragraf Sebab akibat

Paragraf sebab akibat adalah kalimat topik yang dikembangkan dengan

(43)

Kalimat dalam suatu paragraf dapat membentuk sebab dan akibat. Dalam suatu

kalimat sebab dapat berfungsi sebagai kalimat topik, dan akibat sebagai kalimat

penjelas. Dapat juga sebaliknya, akibat sebagai kalimat topik. Untuk memahami

akibat diperlukan sejumlah penyebab sebagai perinciannya. Contoh paragraf sebab

akibat sebagai berikut.

(1) Jalan Kebon Jati akhir-akhir ini kembali macet dan semrawut. (2) Lebih dari separuh jalan kendaraan kembali tersita oleh kegiatan perdagangan dan kaki lima. (3) Untuk mengatasinya, pemerintah akan memasang pagar pemisah antara jalan kendaraan dengan trotoar. (4) Pagar ini juga berfungsi sebagai batas pemasangan tenda pedagang kaki lima tempat mereka diijinkan berdagang. (5) Pemasangan pagar ini terpaksa dilakukan mengingat pelanggaran pedagang kaki lima di lokasi itu sudah sangat keterlaluan, sehingga menimbulkan kemacetan lalu lintas (Nasucha, 2009:47).

Paragraf di atas diawali dengan kalimat utama yang berisi tentang akibat dari

Jalan Kebon Jati macet dan semrawut. Hal itu ditunjukkan pada kalimat (1). Kalimat

(2—5) merupakan kalimat penjelas yang berisi tentang sebab Jalan Kebon Jati

menjadi macet dan semrawut.

d. Paragraf Contoh

Paragraf contoh adalah paragraf yang dimulai dengan kalimat topik kemudian

kalimat topik itu dikembangkan dengan memberikan contoh-contoh sehingga kalimat

topik jelas pengertiannya (Keraf, 1987:33). Dari pengertian di atas dapat dijelaskan

bahwa suatu paragraf yang sulit dipahami agar dapat memberikan penjelasan yang

jelas diperlukan contoh-contoh konkret. Contoh paragraf contoh adalah sebagai

(44)

(1) Masih berkisar tentang pencemaran lingkungan, Gubenur Jawa Tengah, Mardiyanto, memberi contoh tentang jambu mete di Mayong Jepara yang diserang

ulat kipat atau Cricula Trifenestrata. (2) Ulat ini timbul akibat berdirinya perternakan

ayam di tengah-tengah perkebunan tersebut. (3) Menurut Gubenur, izin pertenakan ayam di Mayong itu diberikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Nasucha, 2009:47).

Paragraf di atas diawali kalimat utama yang ditujukan pada kalimat (1). Kalimat

(1) menginformasikan jambu mete di Mayong Jepara yang diserang ulat kipat.

Kalimat (2—3) merupakan kalimat penjelas. Kalimat (2) menjelaskan bahwa ulat itu

timbul akibat pertenakan ayam di dekat perkebunan itu. Kalimat (3) menjelaskan

bahwa izin pertenakan ayam untuk kesejahteraan rakyat.

e. Paragraf Perulangan

Paragraf perulangan adalah kalimat topik yang dikembangkan dengan

perulangan kata/kelompok kata atau bagian-bagian kalimat yang penting (Keraf,

1987:33). Dari pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa pengulangan-pengulangan

kata atau kalimat dapat digunakan untuk memperjelas suatu paragraf. Contoh

paragraf perulangan sebagai berikut.

(45)

Paragraf di atas diawali dengan kalimat utama yang menginformasikan kaitan

antara makan, hidup, dan berfikir pada manusia. Kemudian kalimat (2-9) merupakan

penjelas dari kalimat (1). Kalimat (2) ada beberapa kata yang mengulang kalimat

(1) seperti, manusia perlu makan, makan untuk hidup. Kemudian kata hidup diulang

pada kalimat (2—4). Kata keturunan pada kalimat (4) diulang pada kalimat (5). Kata

generasi pada kalimat (5) diulang pada kalimat (6). Kata tangguh yang terdapat pada

kalimat (6) diulang pada kalimat (7) diulang pada kalimat (8), dan seterusnya.

f. Paragraf Definisi

Paragraf definisi merupakan paragraf yang memiliki suatu pengertian atau

istilah yang terkandung dalam kalimat topik. Istilah atau pengertian itu memerlukan

penjelasan-penjelasan panjang agar maknanya dapat ditangkap oleh pembaca (Keraf,

1987:34). Dari kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa penjelasan-penjelasan panjang

digunakan untuk memberikan keterangan atau arti terhadap sebuah istilah atau hal.

Contoh paragraf definisi adalah sebagai berikut.

(1) Apakah psikologi itu? R.S. Woodworth berpendapat, “Psikologi adalah ilmu”. (2) Menurut Crow dan Crow “Psikologi adalah kejiwaan manusia dalam berinteraksi dengan dunia sekitarnya.” (2) Sementara itu, Santian mengemukakan bahwa psikologi merupakan perwujudan tingkah laku manusia (Alek, 2011:227).

Paragraf di atas diawali dengan kalimat utama yang membicarakan istilah

psikologi yang dikemukakan R. S. Woodworth. Kalimat (2—3) merupakan penjelas

(46)

5. Karangan

a. Pengertian Karangan

Karangan adalah hasil perwujudan gagasan seseorang dalam bahasa tulis yang

dapat dibaca dan dimengerti oleh masyarakat pembaca (The Liang Gie, 2002:3).

Menurut Maryani dan Mumu (2002:231) karangan adalah bentuk tulisan yang

mengungkapkan pikiran dan perasaan pengarang dalam satu kesatuan tema yang

utuh.

Pengungkapkan buah pikiran tersebut harus jelas dan teratur sehingga

menyakinkan pembaca. Dari uraian di atas terdapat persamaan pendapat bahwa

karangan adalah hasil pengungkapkan buah pikiran. Maka, dapat disimpulkan bahwa

karangan adalah hasil karya tulis manusia yang isinya merupakan kumpulan beberapa

paragraf.

b. Jenis Karangan

Karangan dibagi menjadi lima berdasarkan jenisnya. Berikut pengertian dari

masing-masing jenis karangan.

1) Karangan Narasi

Karangan narasi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha mengisahkan suatu

kejadian atau peristiwa sehingga tampak seolah-olah pembaca melihat atau

(47)

2) Karangan Deskripsi

Karangan deskripsi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan

sejelas-jelasnya suatu objek sehingga objek itu seolah-olah berada di depan

mata kepala pembaca (Keraf, 1982:135).

3) Karangan Eksposisi

Karangan eksposisi atau pemaparan adalah salah satu bentuk tulisan atau

retorika yang berusaha untuk menerangkan dan menguraikan suatu pokok

pikiran, yang dapat memperluas pandangan atau pengetahuan seseorang (Keraf,

1983:3).

4) Karangan Argumentasi

Karangan argumentasi adalah sebuah karangan untuk mempengaruhi pembaca

mengambil sikap serta pandangan yang sesuai dengan keinginan penulis dengan

mengajukan bukti-bukti yang benar dapat diyakini dan dirangkai melalui

permainan bahasa (Sujanto, 1988:36).

5) Karangan Persuasi

Karangan persuasi adalah suatu seni verbal yang bertujuan untuk menyakinkan

seseorang agar melakukan sesuatu yang dikehendaki pembicara pada waktu ini

atau pada waktu yang akan datang (Keraf, 1982:118).

Dari kelima jenis karangan di atas, peneliti akan menfokuskan salah satu jenis

karangan yaitu karangan deskripsi. Hal ini dikarenakan peneliti menyesuaikan judul

(48)

deskripsi siswa kelas IV SD Negeri Ngargosari, Samigaluh, Kulon Progo, tahun

ajaran 2011/2012”.

6. Paragraf Deskripsi

a. Pengertian

Pada bagian ini, akan dipaparkan definisi paragraf deskripsi. Ketiga definisi

tersebut sebagai berikut.

1) Paragraf deskripsi atau pemerian merupakan sebuah bentuk tulisan yang

bertalian dengan usaha para penulis untuk memberikan perincian-perincian dari

objek yang sedang dibicarakan (Keraf, 1982:93).

2) Paragraf deskripsi adalah paragraf yang bertujuan memberikan kesan/impresi

kepada pembaca terhadap objek, gagasan, tempat, peristiwa, dan semacamnya

yang ingin disampaikan penulis (Wiyanto, 2004:64).

3) Paragraf deskripsi disebut juga paragraf melukiskan hal-hal kecil yang

tertangkap oleh pancaindra. (Arifin& Tasai, 1984:146).

Ketiga pengertian di atas memiliki kesamaan. Keraf menjelaskan bahwa

paragraf deskripsi memberikan perincian-perincian objek yang sedang dibicarakan.

Hal yang sama dijelaskan oleh Wiyanto yang menyebutkan bahwa paragraf deskripsi

bertujuan untuk memberikan kesan kepada pembaca terhadap sesuatu yang ingin

disampaikan penulis. Sedangkan Arifin & Tasai menjelaskan bahwa paragraf

deskripsi untuk melukiskan sesuatu yang tertangkap pancaindra. Berdasarkan

(49)

bentuk tulisan yang tertangkap oleh pancaindra yang bermaksud untuk memberikan

perincian terhadap objek yang ingin disampaikan penulis.

b. Ciri-ciri Paragraf Deskripsi

Beberapa ciri khas paragraf deskripsi yang dapat membedakannya dengan jenis

karangan lainnya. Menurut Keraf (1981), paragraf deskripsi memiliki beberapa ciri

sebagai berikut.

1) Penulis memindahkan kesan-kesannya mengenai objek yang diamati

2) Mempunyai tujuan untuk menciptakan daya khayal pada pembaca

seolah-seolah mereka melihat objek itu sendiri.

3) Memberikan rincian-rincian dari objek yang sedang dibicarakan.

Dari ketiga ciri di atas sangatlah jelas bahwa paragraf deskripsi lebih

mengutamakan alat pancaindra. Selain pancaindra penulis juga dapat menggunakan

perasaannya untuk menggambarkan objek yang diamati. Seperti yang diungkapkan

oleh Sujanto (1988:11) paragraf deskripsi merupakan paparan tentang persepsi yang

ditangkap oleh pancaindra. Kita melihat, mendengar, mencium, dan merasakan

melalui alat-alat sensori kita, dan dengan kata-kata kita mencoba melukiskan apa-apa

yang kita tangkap dengan pancaindra itu agar dapat dihayati oleh orang lain.

c. Jenis-jenis Paragraf Deskripsi

Paragraf deskripsi dapat dibagi menurut jenisnya. Dalam penelitian ini penulis

akan memaparkan jenis-jenis paragraf deskripsi. Paragraf deskripsi menurut Keraf

(50)

1) Deskripsi Sugestif

Dalam deskripsi sugestif penulis bermaksud menciptakan sebuah pengalaman

pada diri pembaca, pengalaman karena perkenalan langsung dengan obyeknya.

Sasaran deskripsi sugestif adalah dengan perantaraan tenaga, rangkaian kata-kata

yang dipilih penulis untuk menggambarkan ciri, sifat, dan watak dari objek tersebut,

dapat menciptakan sugesti tertentu pada pembaca (Keraf, 1981:94). Dari pengertian

di atas dapat disimpulkan bahwa deskripsi sugestif dapat menciptakan atau

memunculkan daya khayal para pembaca melalui kata-kata yang dipilih penulis untuk

menggambarkan ciri, sifat, dan watak objek. Berikut contoh paragraf deskripsi

sugestif.

Jauh di sana terhampar rumput hijau. Pada beberapa tempat lalang berbunga putih beralun-alun sama berayun dengan rumput diembus udara petang. Di bawah lengkungan pembatasan bumi dengan langit, segaris hijau kebiru-biruan pohon-pohon. Langit yang kuning muda bersisik putih, diantaranya terjalin warna sepuhan emas perada. Dari balikgaris hijau kebiruan naik memancar warna merah bernyala yang makin ke atas hilang melayang warnanya. Jauh sedikit dari sana, tumpukan awan berbagi bentuk yang terkadang lekas berubah rupa, diembuskan kesenjaan, menyapu halus puspa warna. Diantara langit kebiruan bersisikan putih tersenyum simpul kemalu-maluan, bulan sabit (Keraf, 1981:102).

2) Deskripsi Ekspositoris

Paragraf deskripsi ekspositoris adalah paragraf deskripsi yang hanya bertujuan

memberikan identifikasi atau informasi objeknya sehingga pembaca dapat

mengenalnya bila bertemu atau berhadapan dengan objek tadi. Paragraf deskripsi

ekspositoris tidak berusaha untuk menciptakan kesan atau imajinasi pada diri

(51)

bertujuan untuk menyampaikan informasi secara teknis dan tidak menimbulkan daya

khayal pembaca. Pembaca dapat mengenali objek tersebut bila bertemu atau

berhadapan dengan objek itu. Berikut contoh paragraf deskripsi ekspositoris.

Di penghujung Agustus silam, kebun lengkeng seluas tujuh hektar di Sijangkung, Singkawang, Kalimantan Barat memang tengah banjir buah. Bulatan-bulatan berwarna cokelat kekuningan nyaris menenggelamkan hijaunya daun. Karenanya seratnya buah, dahan pohon lengkeng setinggi satu meter itu doyong ke bawah. Satu dahan digelayuti dompol-dompol berisi puluhan buah hamper seukuran bola pimpong. Beberapa dahan disangga bambu supaya tidak patah (Wiyanto, 2004: 65).

7. Gambar

Gambar adalah segala sesuatu yang diwujudkan secara visual dalam bentuk dua

dimensi sebagai curahan perasaan dan pikiran (Hamalik, 1994:43). Sadiman,

2008:29 mengemukakan bahwa gambar adalah media yang paling umum dipakai.

Gambar merupakan bahasa yang umum dapat dimengerti dan dinikmati. Gambar

digunakan sebagai media dalam pengajaran yang mengandung nilai-nilai pendidikan

dan dapat menumbuhkan kreativitas siswa untuk berfikir secara kritis.

Pengembangan paragraf dengan cara menganalisis gambar walaupun terasa

agak sukar sangat banyak manfaatnya bagi siswa, antara lain:

1) Mengembangkan keterampilan melihat hubungan sebab akibat atau pesan

yang tersirat dalam gambar,

2) Mengembangkan daya imajinatif siswa,

3) Melatih kecermatan dan ketelitian siswa dalam memperhatikan sesuatu,

4) Mengembangkan daya interpretasi bentuk visual ke dalam bentuk kata-kata

(52)

5) Merupakan hasil pengamatan ke dalam bentuk kalimat topik serta

menggambarkan ke dalam kalimat-kalimat pengembang (Tarigan, 1987:56).

Penggunaan gambar akan efektif apabila disesuaikan dengan tingkatan anak,

baik dalam hal besarnya gambar, detail, warna, dan latar belakang yang perlu untuk

tafsiran. Gambar dapat digunakan untuk suatu maksud dalam pelajaran, memberikan

pengalaman dasar dalam bahasa, ilustrasi, dan menjelaskan konsep. Selain itudapat

dijadikan alat untuk memperkaya fakta dan memperbaiki kekurangjelasan.

Suatu gambar akan dikatakan baik jika memenuhi beberapa syarat.

Syarat-syarat gambar menurut Sadiman (1986) sebagai berikut.

1) Autentik

Gambar tersebut harus jujur melukiskan situasi seperti orang melihat benda

sebenarnya.

2) Sederhana

Komposisi gambar hendaknya cukup jelas menunjukkan poin-poin pokok

gambar.

3) Ukuran relatif

Gambar dapat memperbesar atau memperkecil benda sebenarnya.

4) Pembuatan

Gambar sebaiknya mengandung gerak atau pembuatan. Gambar yang baik

tidaklah menunjukkan objek dalam keadaan diam tetapi memperlihatkan

(53)

5) Artistik

Gambar hendaknya menunjukkan aktivitas tertentu. Anak-anak lebih tertarik

dan akan lebih memahami gambar yang kelihatannya sedang bergerak

(Hamalik, 1994:67—68).

8. Karakteristik Siswa SD Kelas IV

Setiap anak mengalami tahap-tahap pertumbuhan. Menurut Waloejo (1960:36) ada

3 tahap pertumbuhan anak. Tahap-tahap pertumbuhan tersebut sebagai berikut.

a. Pada usia 7/8 tahun anak mulai menghubung-hubungkan dengan kekuatan

fantasi.

b. Pada usia 8-9 tahun anak mulai mengesampingkan fantasi. Anak mencoba

menguraikan dan mengenal bagian-bagian meskipun pengertian tentang

hubungan arti belum ada.

c. Pada usia 9-10 tahun anak mulai mengetahui hubungan waktu dan tempat

serta sebab akibat.

Menurut Semiawan (1988:11) bahwa pada usia sekolah hakikatnya adalah

belajar sambil bekerja atau melakukan aktivitas. Siswa memperoleh pengalaman dari

lingkungan sekitar seperti pergaulan,bermain, mengenal nama-nama tumbuhan dan

binatang. Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa anak kelas IV SD

(54)

pertumbuhannya perkembangan berfikirnya juga mengalami perubahan. Pada

penelitian ini, gambar berfungsi sebagai media untuk menulis karangan deskripsi

(55)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A.Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif. Arikunto

(1991:291) menjelaskan bahwa penelitian deskriptif merupakan penelitian yang

dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala menurut

apa adanya pada saat penelitian dilakukan. Adapun yang dideskripsikan dalam

penelitian ini adalah pola-pola pengembangan dan struktur paragraf pada karangan

deskripsi siswa. Penelitian ini juga termasuk dalam penelitian kualitatif. Menurut

Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2006:4), penelitian kualitatif adalah prosedur

penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari

orang dan perilaku yang diamati.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.

Menurut Moleong (2006:11) dalam metode deskriptif, data yang dikumpulkan

adalah berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka. Berdasarkan metode tersebut,

peneliti akan meneliti struktur dan pola pengembangan paragraf pada karangan

deskripsi siswa kelas IV. Data-data yang telah dianalisis itu, kemudian dipisahkan

berdasarkan kalimat utama, kalimat penjelas, dan kalimat penegasnya sesuai dengan

(56)

B. Sumber data

Suharsimi Arikunto (1989:102) menyatakan bahwa sumber data dalam

penelitian adalah subjek dari mana data diperoleh. Sumber data dalam penelitian ini

yaitu karangan deskripsi dari 17 orang siswa kelas IV SD Negeri Ngargosari,

Samigaluh, Kulon Progo. Hasil karangan tersebut kemudian dianalisis berdasarkan

pola pengembangan dan struktur paragrafnya.

C.Instrumen Penelitian

Penelitian yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini yaitu,

(1) peneliti sendiri, (2) perintah membuat karangan, (3) gambar, dan (4) wawancara.

Instrumen penelitian merupakan alat untuk memperoleh data yang diperlukan dalam

penelitian. Adapun alat yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini

adalah perintah menulis paragraf deskripsi. Dalam penelitian ini peneliti berperan

langsung dalam proses pengumpulan data dan analisis data.

Dalam penelitian ini, informasi keadaan siswa dalam pembelajaran

mengarang diperoleh melalui wawancara dengan guru kelas IV yang bernama

Yuwono, SPd. Selanjutnya peneliti membuat soal mengarang berdasarkan hasil

wawancara. Sebelum melakukan wawancara, dibuat kisi-kisi pedoman wawancara

untuk guru mata pelajaran Bahasa Indonesiayang sudah terlampir.

Hasil wawancara akan menjadi dasar untuk membuat soal mengarang

deskripsi. Media yang digunakan untuk memudahkan siswa mengarang adalah

(57)

gagasannya. Pemilihan gambar berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas IV

SD Negeri Ngargosari. Berdasarkan hasil wawancara guru menyarankan agar

gambar yang digunakan untuk penelitian yang bersifat konkret dan sederhana. Untuk

mendapatkan data, peneliti menugaskan siswa untuk menulis karangan deskripsi

berdasarkan gambar yang sudah disediakan. Siswa dapat memilih salah satu gambar

untuk dibuat paragraf deskripsi. Peneliti menyajikan beberapa gambar dengan

maksud agar siswa memiliki kebebasan dan disesuaikan dengan keadaan siswa.

Instrumen penelitian ini sebagai berikut.

Petunjuk Mengerjakan Tugas

1. Tulis nama dan nomor presensimu di sudut kanan atas dalam lembar jawaban

soal!

2. Jawaban ditulis pada lembar yang telah disediakan!

3. Waktu yang tersedia untuk mengerjakan adalah 30 menit!

4. Buatlah paragraf deskripsi dengan berdasarkan gambar yang sudah

disediakan.

5. Setelah selesai mengerjakan, lembar jawab diserahkan kembali kepada

petugas!

D.Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik

(58)

Negeri Ngargosari untuk mengetahui kondisi siswa sebelum peneliti melakukan

penelitian. Selain wawancara, peneliti juga menggunakan teknik tes. Tes yang

dimaksudkan dalam penelitian ini adalah tes yang menampilkan gambar sebagai

bahan untuk mengarang paragraf deskripsi. Teknik ini dipilih karena cara ini

merupakan cara yang tepat untuk mengetahui pola pengembangan dan struktur

paragraf dalam karangan siswa.

Langkah-langkah pengumpulan data sebagai berikut:

1. Peneliti dan guru yang bersangkutan menetapkan hari dan jam untuk

pengambilan data.

2. Pada hari Rabu 6 Juni 2012, Kamis 7 Juni 2012, dan Jumat, 8 Juni 2012 diadakan

pengambilan data yang diawasi langsung oleh peneliti.

3. Setelah selesai peneliti mengumpulkan hasil karangan siswa berupa karangan

deskripsi.

4. Hasil penelitian dikumpulkan untuk dianalisis.

E.Teknik Analisis Data

Menurut Bogdan dan Biklen (via Moleong, 2006: 248) analisis data kualitatif

adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan

data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, disintesiskannya,

mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari,

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...