• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN TEORI"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

A. Tinjauan Teori 1. Kontrasepsi

a. Pengertian

Kontrasepsi merupakan bagian dari pelayanan kesehatan reproduksi untuk pengaturan kehamilan, dan merupakan hak setiap individu sebagai mahluk seksual. (Saifuddin, 2006).

Kontrasepsi adalah usaha-usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan. Usaha-usaha itu dapat bersifat sementara, dapat juga bersifat permanen. Yang bersifat permanen pada wanita dinamakan tubektomi dan pada pria vasektomi. (Wiknjosatro, 2008).

b. Tujuan Kontrasepsi

Pemilihan jenis kontrasepsi didasarkan pada tujuan penggunaannya yaitu:

1) Menunda Kehamilan.

Bagi PUS (Pasangan Usia Subur) dengan usia istri kurang dari 20 adalah usia yang sebaiknya tidak mempunyai anak dulu karena berbagai alasan. Usia dibawah 20 tahun adalah usia yang belum cukup untuk mengalami suatu proses kehamilan. Prioritas pada usia 20 tahun adalah penggunaan pil oral dikarenakan reversibel.

(2)

Penggunaan kondom kurang menguntungkan karena pasangan muda masih tinggi frekuensi ber-senggamanya, sehinggan akan mempunyai kegagalan tinggi.

Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan:

Reversibilitas yang tinggi, artinya kembalinya kesuburan dapat terjamin hampir 100%, karena pada masa ini peserta belum mempunyai anak. Efektifitas yang tinggi, karena kegagalan akan menyebabkan terjadinya kehamilan dengan risiko-tinggi dan kegagalan ini merupakan kegagalan program.

2) Menjarangkan Kehamilan

Jika periode usia istri antara 20 - 30 atau 35 tahun merupakan periode paling baik untuk melahirkan dengan jumlah anak 2 (dua) orang dan jarak antara kelahiran adalah 2 – 4 tahun (catur warga). Karena usia antara 20-30 tahun merupakan usia yang terbaik untuk hamil dan melahirkan. Segera setelah anak pertama lahir, maka dianjurkan untuk menggunakan alat kontasepsi.

Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan:

Efektifitas cukup tinggi. Reversibilitas cukup tinggi karena peserta masih mengharapkan punya anak lagi. Dapat dipakai 2 sampai 4 tahun yaitu sesuai dengan jarak kehamilan anak yang direncanakan. Tidak menghambat air susu ibu (ASI) karena ASI adalah makanan terbaik untuk bayi sampai umur 2 tahun dan akan mempengaruhi angka kesakitan dan kematian anak.

(3)

3) Mengakhiri Kesuburan

Jika periode usia istri diatas 30 tahun terutama diatas 35 tahun, sebaiknya mengakhiri kesuburan setelah mempunyai 2 (dua) orang anak. Karena ibu dengan usia di atas 30 tahun dianjurkan untuk tidak hamil atau tidak punya anak lagi, karena alasan medis dan alasan lainnya. Pilihan utama pada usia >30 tahun adalah kontrasepsi mantap. Pil oral kurang dianjurkan karena usia ibu yang relatif tua dan mempunyai kemungkinan timbulnya akibat sampingan dan komplikasi.

Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan:

Efektifitas sangat tinggi, kegagalan menyebabkan terjadinya kehamilan dengan risiko-tinggi bagi ibu dan anak, disamping itu akseptor tersebut memang tidak mengharapkan punya anak lagi. Dapat dipakai untuk jangka panjang. Tidak menambah kelainan yang sudah ada (Hartanto, 2004 ).

c. Faktor-faktor dalam memilih alat kontrasepsi

Ada beberapa faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih kontrasepsi yaitu faktor pasangan, faktor kesehatan, dan faktor metode kontrasepsi. Dalam faktor pasangan, harus mempertimbangkan dari segi umur, gaya hidup, frekuensi senggama, dan jumlah anak yang diinginkan. Dalam faktor kesehatan, mempertimbangkan status kesehatan, riwayat haid, riwayat keluarga, dan pemeriksaan fisik. Sedangkan dalam faktor alat kontrasepsi, harus

(4)

mempertimbangkan efektivitas, efek samping, kerugian, komplikasi-komplikasi yang potensial, dan biaya (Hartanto, 2004).

2. Keluarga Berencana (KB) a. Definisi Keluarga Berencana

Pengertian keluarga berencana menurut UU no 10 th 1992 (tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera) adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. (Handayani, 2010).

Menurut WHO (World Health Organisation) KB adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk mendapatkan objek-objek tertentu, menghindarkan kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan, mengatur interval di antara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan suami isteri, menentukan jumlah anak dalam keluarga. (Hartanto. 2004)

b. Tujuan Keluarga Berencana

Secara umum tujuan lima tahun kedepan yang ingin dicapai dalam rangka mewujudkan visi dan misi program KB adalah membangun kembali dan melestarikan pondasi yang kokoh bagi pelaksana program KB nasional yang kuat dimasa mendatang,

(5)

sehingga visi untuk mewujudkan keluarga berkualitas 2015 dapat tercapai. Secara filosofis tujuan program KB adalah:

1) Meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan pengendalian pertumbuhan penduduk Indonesia. 2) Terciptanya penduduk yang berkualitas, sumber daya manusia

yang bermutu dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. (Handayani, 2010).

c. Sasaran program KB

Sasaran program KB dibagi menjadi 2 yaitu sasaran langsung dan sasaran tidak langsung, tergantung dari tujuan yang ingin dicapai. Yang termasuk sasaran langsung adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kelahiran dengan cara penggunaan kontrasepsi secara berkelanjutan. Sedangkan sasaran tidak langsungnya adalah pelaksana dan pengelola KB, dengan tujuan menurunkan tingkat kelahiran melalui pendekatan kebijaksanaan kependudukan terpadu dalam rangka mencapai keluarga yang berkualitas dan keluarga sejahtera. (Handayani, 2010). d. Ruang Lingkup Program KB

1) Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE)

KIE bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktek KB sehingga tercapai penambahan peserta baru, selain itu juga untuk meletakkan dasar bagi mekanisme sosial-kultural yang

(6)

dapat menjamin berlangsungnya proses penerimaan KB di masyarakat.

2) Konseling

Konseling merupakan tindak lanjut dari KIE. Bila seseorang telah termotivasi melalui KIE, maka selanjutnya perlu diberikan konseling. Konseling dibutuhkan bila seseorang menghadapi suatu masalah yang tidak dapat dipecahkannya sendiri.

3) Pelayanan kontrasepsi

Pelayanan kontrasepsi merupakan sebuah dukungan dan pemantapan penerimaan gagasan KB yaitu untuk menurunkan angka kelahiran yang bermakna. Guna mencapai tujuan tersebut maka ditempuh kebijaksanaan mengkatagorikan tiga fase yaitu : Fase menunda perkawinan/kesuburan, fase menjarangkan kehamilan, dan fase menghentikan/mengakhiri kehamilan/kesuburan. Maksud kebijakan tersebut yaitu untuk menyelamatkan ibu dan anak akibat melahirkan pada usia muda, jarak kelahiran yang terlalu dekat dan melahirkan pada usia tua. 4) Pelayanan infertilitas

Permasalahan infertilitas ini sering membuat pasangan suami isteri tidak harmonis, oleh sebab itu penyediaan layanan infertilitas bertujuan memberikan pelayanan untuk menangani berbagai permasalahan gangguan dan kelainan hormonal.

(7)

Kesuburan merupakan salah satu masalah kesehatan yang terjadi tidak hanya di Indonasia tetapi juga di seluruh dunia.

5) Pendidikan sex (sex education)

Masih banyak para remaja yang mengalami hamil di luar perkawinan dan perkawinan yang berakhir dengan perceraian. Faktor yang mempengaruhi hal itu diantaranya kurangnya pengetahuan tentang sek. Karena itu masalah Sex Education atau

Family Life Education sudah tidak dapat ditunda lagi pelaksanaannya.

6) Konsultasi pra perkawinan dan konsultasi perkawinan

Kebutuhan akan hal ini secara nyata telah diperlihatkan oleh masyarakat dengan adanya masa pertunangan, serta nasihat atau khotbah perkawinan.

7) Konsultasi genetik

Adanya pogram KB, maka orang akan mempunyai anak yang relative lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang hidup ratusan tahun yang lalu. Untuk itu diperlukan jaminan bahwa anak yang dilahirkan itu bebas dari kelainan genetik yang akan membenahi orang tuanya dan masyarakat.

8) Tes keganasan

Melalui program KB, maka pelayanan yang bersifat health maintenance ini dapat dikembangkan. Hal ini pada gilirannya

(8)

akan sangat meningkatkan penerimaan norma keluarga kecil yang bahagia sejahtera.

9) Adopsi

Adopsi merupakan pengangkatan anak yang bertujuan untuk meneruskan keturunan dan merupakan motivasi dan salah satu jalan keluar sebagai alternative yang positif serta manusiawi terhadap naluri kehadiran seorang anak di dalam sebuah keluarga, yang bertahu – tahun belum dikaruniai anak. Dengan adopsi pasangan infertil dapat mempunyai keturunan, walaupun bukan keturunan hasil perkawinannya sendiri (Hartanto, 2004).

e. Manfaat Program KB

1) Manfaat bagi Ibu untuk mengatur jumlah dan jarak kelahiran sehingga dapat memperbaiki kesehatan tubuh karena mencegah kehamilan yang berulang kali dengan jarak yang dekat. Peningkatan kesehatan mental dan sosial karena adanya waktu yang cukup untuk mengasuh anak, beristirahat dan menikmati waktu luang serta melakukan kegiatan lainnya.

2) Manfaat bagi anak yang dilahirkan, anak dapat tumbuh secara wajar kerena ibu yang hamil dalam keadaan sehat. Setelah lahir, anak akan mendapatkan perhatian, pemeliharaan dan makanan yang cukup karena kehadiran anak tersebut memang diinginkan dan direncanakan.

(9)

3) Manfaat bagi anak-anak yang lain, dapat memberikan kesempatan kepada anak agar perkembangan fisiknya lebih baik karena setiap anak memperoleh makanan yang cukup dari sumber yang tersedia dalam keluarga. Perkembangan mental dan sosialnya lebih sempurna karena pemeliharaan yang lebih baik dan lebih banyak waktu yang dapat diberikan oleh ibu untuk setiap anak. Perencanaan kesempatan pendidikan yang lebih baik karena sumber-sumber pendapatan keluarga tidak habis hanya untuk mempertahankan hidup semata.

4) Bagi suami program KB bermanfaat untuk memperbaiki kesehatan fisik, mental dan sosial karena kecemasan berkurang serta memeliki lebih banyak waktu luang untuk keluarganya. 5) Manfaat bagi program KB bagi seluruh keluarga adalah dapat

meningkatkan kesehatan fisik, mental dan sosial setiap anggota keluarga. Dimana kesehatan anggota keluarga tergantung dari kesehatan seluruh keluarga. Dan setiap anggota keluarga akan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk memperoleh pendidikan (Handayani, 2010).

f. Faktor – faktor yang mempengaruhi program KB di Indonesia 1) Sosial Ekonomi

Tinggi rendahnya status sosial dan keadaan ekonomi penduduk di Indonesia akan mempengaruhi perkembangan dan kemajuan program KB di Indonesia. Kemajuan program KB tidak terlepas

(10)

dari tingkat ekonomi masyarakat karena berkaitan erat dengan kemampuan untuk membeli alat kontrasepsi yang digunakan. Dengan suksesnya program KB maka perekonomian suatu negara akan lebih baik karena dengan anggota keluarga yang sedikit kebutuhan dapat lebih tercukupi dan kesejahteraan dapat terjamin. 2) Budaya

Sejumlah faktor budaya dapat mempengaruhi klien dalam memilih metode kontrasepsi. Faktor-faktor ini meliputi salah satu pengertian dalam masyarakat mengenai berbagai metode, kepercayaan religius, serta budaya, tingkat pendidikan persepsi mengenai resiko kehamilan dan status wanita. Penyedia pelayanan harus menyadari bagaimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi pemilihan metode di daerah dan harus memantau perubahan-perubahan yang mungkin mempengaruhi pemilihan metode kontrasepsi.

3) Pendidikan

Tingkat pendidikan tidak saja mempengaruhi kerelaan menggunakan KB tetapi juga pemilihan suatu metode. Beberapa studi telah memperlihatkan bahwa metode kelender lebih banyak digunakan oleh pasangan yang lebih berpendidikan. Dihipotesiskan bahwa pasangan suami istri yang berpendidikan menginginkan KB yang efektif dengan efek samping yang sedikit.

(11)

4) Agama

Di berbagai daerah kepercayaan religius dapat mempengaruhi klien dalam memilih metode KB. Sebagai contoh penganut khatolik yang taat membatasi pemilihan kontrasepsi mereka pada KB alamiah. Sebagai pemimpin Islam mengklaim bahwa seterilisasi dilarang sedangkan sebagian lain mengijinkan. Walaupun agama Islam tidak melarang kontrasepsi secara umum, para akseptor KB mungkin berpendapat bahwa pola pendarahan yang tidak teratur disebabkan sebagian metode hormonal akan sangat menyulitkan mereka selama haid mereka dilarang untuk sembahyang.

5) Status wanita

Status wanita dalam masyarakat mempengaruhi kemampuan mereka memperoleh dan menggunakan metode kontrasepsi. Di daerah - daerah yang status wanitanya meningkat, sebagian wanita memiliki pemasukan yang lebih besar untuk membayar metode-metode yang lebih mahal serta memiliki lebih banyak suara dalam mengambil keputusan. Juga daerah yang wanitanya lebih dihargai, mungkin hanya dapat sedikit pembatasan dalam memperoleh berbagai metode, misalnya peraturan yang mengharuskan persetujuan suami sebelum layanan KB dapat diperoleh. (Handayani, 2010).

(12)

3. Kontrasepsi Mantap Pria (Vasektomi) a. Pengetian Vasektomi

Kontrasepsi Mantap Pria / Medis Operatif pria (MOP) / Vasektomi adalah suatu metode operasi minor pada pria yang sangat aman, sederhana dan sangat efektif, memakan waktu operasi yang singkat dan tidak memerlukan anestesi umum. (Handayani, 2010).

Vasektomi adalah prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan jalan melakukan oklusi vasa deferensia sehingga alur transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi (penyatuan dengan ovum) tidak terjadi. (BKKBN, 2006).

Vasektomi merupakan metode sterilisasi atau operasi pada laki-laki. Vasektomi dilakukan dengan cara pemotongan atau penyumbatan vas deferens dari kantongnya (zakar) ke penis untuk mencegah lewatnya sperma. (Uliyah, 2010).

Vasektomi merupakan suatu operasi kecil dan dapat dilakukan oleh seseorang yang telah mendapat latihan khusus, selain itu vasektomi tidak memerlukan alat-alat yang banyak, dapat dilakukan dengan mempergunakan anesthesia lokal. (Prawirohardjo, 2007)

b. Cara Kerja

Saluran vas deferens yang berfungsi mengangkut sperma dipotong dan diikat, sehingga aliran sperma dihambat tanpa mempengaruhi jumlah cairan semen. Jumlah sperma hanya 5% dari

(13)

cairan ejakulasi. Cairan semen diproduksi dalam vesika seminalis dan prostat sehingga tidak akan terganggu oleh vasektomi. (Anggraini. 2012)

c. Indikasi

Vasektomi merupakan upaya untuk menghentikan fertilitas di mana fungsi reproduksi merupakan ancaman atau gangguan terhadap kesehatan pria dan pasangannya serta melemahkan ketahanan dan kualitas kelurga (BKKBN,2006).

1) Pasangan yang sangat yakin bahwa keluarga mereka sudah lengkap.

2) Apabila salah satu dari pasangan memiliki resiko penyakit yang dapat diturunkan.

3) Apabila salah satu dari pasangan mengidap sakit kronik yang menjadi kontra indikasi untuk hamil (bagi perempuan) atau akan memengaruhi kemampuan pasangan untuk membesarkan anak (Uliyah, 2010).

d. Kontra Indikasi

1) Infeksi kulit lokal, misalnya scalbies. 2) Infeksi traktus genitalis.

3) Kelainan skrotum dan sekitarnya : Varicocele, Hydrocele besar, Filariasis, Hernia Inguinalis, luka parut bekas operasi hernia, skrotum yang sangat tebal.

(14)

4) Penyakit sistemik : penyakit-penyakit perdarahan, diabetes mellitus, penyakit jantung koroner yang baru.

5) Riwayat perkawinan, psikologi atau seksual yang tidak stabil (Handayani, 2010)

6) Apabila pasangan tidak yakin benar bahwa mereka tidak menginginkan anak lagi (Uliyah, 2010)

e. Syarat

1) Syarat sukarela

Calon peserta dianggap dapat menerima kontap secara sukarela jika dalam konseling telah dibicarakan :

a) Bahwa di samping kontap masih ada berbagai cara KB lainnya.

b) Bahwa cara kontap melalui pmbedahan, dan karenanya selalu ada resiko.

c) Bahwa cara kontap apabila berhasil tidak akan memberikan keturunan.

d) Calon peserta diberi kesempatan berfikir dan mempertimbangkan kembali keputusannya, tetapi tetap memutuskan untuk memilih kontap (Handayani, 2010)

2) Syarat bahagia

(15)

b) Memiliki anak hidup sekurang-kurangnya dua orang dengan umur anak terkecil di atas 2 tahun. Keadaan fisik dan mental anak tersebut sehat.

c) Mendapat persetujuan isteri.

d) Umur isteri tidak kurang dari 25 tahun dan tidak lebih dari 45 tahun.

e) Umur calon tidak kurang dari 30 tahun (tidak mutlak) (Handayani, 2010)

3) Syarat sehat

Syarat sehat dilakukan melalui pemeriksaan pra-bedah oleh dokter (Handayani, 2010).

f. Efektifitas

1) angka keberhasilan amat tinggi (99%), angka kegagalan 0-2.2%, umumnya <1%.

2) Kegagalan kontap-pria umumnya disebabkan oleh :

a) Senggama yang tidak terlindungi sebelum semen/ejakulat bebas sama sekali dari spermatozoa.

b) Rekanalisasi spontan dari vas deferens, umumnya terjadi setelah pembentukan granuloma spermatozoa.

c) Pemotongan dan oklusi struktur jaringan lain selama operasi. d) Jarang : dupliksi congenital dari vas deferens (terdapat >1 vas

(16)

3) Vasektomi dianggap gagal bila :

a) Pada analisis sperma setelah 3 bulan pasca-vasektomi atau setelah 10-12 kali ejakulasi masih dijumpai spermatozoa. b) Dijumpai spermatozoa setelah sebelumnya azoosperma. c) Istri hamil (Handayani, 2010)

g. Keuntungan

1) Efektif, kemungkinan gagal tidak ada karena dapat di chek kepastian di laboratorium.

2) Aman, morbiditas rendah dan tidak ada mortalitas.

3) Cepat, hanya memerlukan 5-10 menit dan pasien tidak perlu dirawat di RS.

4) Menyenangkan bagi akseptor karena memerlukan anestesi lokal saja.

5) Tidak mengganggu hubungan seksual selanjutnya. 6) Biaya rendah.

7) Secara kultural, sangat dianjurkan di Negara-negara dimana wanita merasa malu untuk ditangani oleh dokter pria atau kurang tersedia dokter wanita dan paramedis wanita. (Handayani, 2010). 8) Air mani tidak mengandung sperma (Uliyah, 2010).

h. Kerugian

1) Harus dengan tindakan operatif.

(17)

3) Tidak seperti sterilisasi pada wanita yang langsung menghasilkan steril permanen, pada vasektomi masih harus menunggu beberapa hari, minggu atau bulan sampai sel mani menjadi negatif.

4) Tidak dapat dilakukan pada orang yang masih ingin mempunyai anak lagi (reversibilitas tidak dijamin).

5) Pada orang-orang yang mempunyai problem-problem psikologis yang mempengaruhi seks, dapat menjadikan keadaan semakin parah. (Handayani, 2010)

6) Tidak terlindung dari HIV/AIDS atau penyakit menular lainnya. 7) Metode ini hampir permanen sehingga sulit untuk dipulihkan. 8) Kadang rasa penyesalannya lebih besar dari pada perempuan

karena timbul keinginan untuk memiliki anak lagi dan karena masa kesempatan laki-laki untuk mendapatkan anak sebenarnya sangat panjang (Uliyah, 2010).

i. Infertilitas yang Tertunda Setelah Vasektomi

Berbeda dengan kontap wanita/MOW, kontap pria tidak langsung menyebabkan infertilitas. Spermatozoa yang sudah ada di dalam sistem reproduksi pria pada bagian urethral dari obstruksi, harus dikeluarkan semuanya sebelum pasangan suami istri terlindung dari kehamilan. (Anggraini, 2012)

Kontap pria tidak langsung menyebabkan infertilitas spermatozoa yang ada didalam sistem reproduksi pria pada bagian urethral dari obstruksi, harus dikeluarkan semuanya sebelum pasangan

(18)

suami istri terlindung dari kehamilan. Diperlukan pemeriksaan analisa sperma post-operatif, sampai 2 pemeriksaan berturut-turut menunjukkan hasil negatif. (Handayani. 2010)

j. Tempat Pelayanan Vasektomi

Vasektomi dapat dilakukan di fasilitas kesehatan umum yang mempunyai ruang tindakan untuk bedah minor. Ruang yang dipilih sebaiknya tidak di bagian yang sibuk/banyak orang yang lalu lalang. Ruang tersebut sebaiknya:

1) Mendapat penerangan yang cukup.

2) Lantainya terbuat dari semen atau keramik agar mudah dibersihkan, bebas debu dan serangga.

3) Sedapat mungkin dilengkapi dengan alat pengatur suhu ruangan/air condition. Bila tidak memungkingkan,ventilasi ruangan harus sebaik mungkin dan apabila jendela dibuka, tirai harus terpasang baik dan kuat (Saifuddin, 2006).

k. Pelaksanaan Pelayanan 1) Persiapan petugas

a) Cuci tangan dengan sabun dan air bersih selama 10 menit. b) Memakai baju yang bersih (baju operasi), tutup kepala, tutup

mulut dan hidung. 2) Pra – Operasi

a) Anamnesis dan lakukan Informed Consent. b) Pemeriksaan fisik.

(19)

c) Pemeriksaan labortorium d) Persiapan klien

(1) Klien sebaiknya mandi serta mengenakan pakaian yang bersih dan longgar sebelum mengunjungi klinik, atau setidaknya klien dianjurkan membersihkan daerah skrotum dan inguinal/lipat paha sebelum masuk ke ruangan tindakan.

(2) Klien dianjurkan membawa celan khusus untuk menyangga skrotum.

(3) Rambut pubis cukup digunting untuk memperkecil resiko infeksi.

(4) Cuci/bersihkan daerah operasi dengan sabun dan air kemudian ulangi sekali lagi dengan larutan antiseptic atau langsung diberi antiseptic (Povidon Iodin).

(5) Bila diperlukan larutan povidon Iodin seperti Betadine, tunggu 1 atau 2 menit hingga jodium bebas yang terlepas dapat membunuh mikro organisme (Handayani, 2010). e) Anestesi lokal

(1) Dipakai karena murah dan lebih aman, misalnya Lidocaine 1-2% sebanyak 1-5 cc atau sejenis.

(2) Kadang-kadang dicampur dengan adrenalin, untuk mengurangi perdarahan. IPPF tidak mengajurkan kombinasi tersebut karena adrenalin dapat menyebabkan

(20)

iskemia dan rasa sakit post-operatif yang berkepanjangan. Penyuntikan steroid untuk mencegah pembengkakan post-operastif juga tidak dianjurkan.

(3) Jangan menyuntikkan anestesi lokal langsung ke dalam vas deferens, karena mungkin dapat merusak plexus pampiniform.

(4) Bila calon akseptor mengalami rasa takut atau gelisah, dapat diberikan tranquilizer atau sedative, per oral atau suntikan.

Anestesi umum mungkin perlu dipertimbangkan pada kasus-kasus khusus.

(1) Adanya luka parut daerah inguinal atau skrotum yang sangat tebal.

(2) Kelainan intra-skrotal seperti hydrocele.

(3) Alergi terhadap anestesi local (Hartanto, 2004). l. Perawatan post-operasi

1) Istirahat 1-2 jam di klinik.

2) Menghindari pekerjaan berat selama 2-3 hari. 3) Kompres dingin/es pada skrotum.

4) Analgetik.

5) Memakai penunjang skrotum (scrotum support) selama 7-8 hari. 6) Luka operasi jangan kena air selama 24 jam.

(21)

7) Senggama dapat dilakukan secepatnya saat pria sudah menghendaki dan tidak terasa mengganggu. Hanya harus diperhatikan, untuk mencegah kehamilan, pria harus menggunakan kondom dulu, sampai sama sekali tidak ditemukan spermatozoa di dalam semen/ejakulat (Hartanto, 2004).

m. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Pria dalam Vasektomi

1) Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan hal yang sangat penting untuk terbentuknya satu tindakan seseorang (Notoadmojo, 2007). Pengetahuan pria/ Pasangan Usia Subur (PUS) tentang vasektomi

sangat perlu untuk menambah pemahaman pria yang lebih baik mengenai manfaat dan kegunaan kontrasepsi tersebut. Pengetahuan (kognitif) merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior). Semakin baik tingkat pengetahuan seseorang, maka semakin mudah untuk menerima ide dan teknologi baru (Notoatmodjo, 2007). Tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang dapat menambah pengetahuan seseorang termasuk pengetahuan tentang vasektomi, sehingga mempengaruhi dalam memilih metode kontrasepsi

(22)

tentang vasektomi, ternyata turut mempengaruhi rendahnya kesertaan pria dalam melakukan vasektomi (BKKBN, 2008). 2) Aksesbilitas Informasi

Informasi adalah data yang telah diproses ke dalam suatu bentuk yang mempunyai arti bagi sipenerima dan mempunyai nilai nyata dan terasa bagi keputusan saat ini atau keputusan mendatang (Alwi, 2005). Informasi manusia sering disebut pesan yang berarti informasi yang datang dari pengirim pesan yang ditujukan kepada penerima pesan. Aksesbilitas informasi adalah hal yang dapat dijadikan tempat untuk mendapatkan informasi. Informasi yang diperoleh PUS tentang vasektomi bisa berasal dari media informasi. Menurut Notoadmodjo (2003) media adalah alat bantu pendidikan yang digunakan untuk menyampaikan informasi yang bertujuan untuk mempermudah penerimaan pesan atau informasi bagi masyarakat.

Tersedianya informasi-informasi yang jelas , lengkap, dan benar terkait dengan program Keluarga Berencana yaitu tentang tujuan ber-KB, bagaimana cara ber KB, dan akibat atau efek samping dan sebagainya, resiko terjadinya efek samping komplikasi dan kegagalan pemakaian kontrasepsi akan semakin kecil. Untuk itu sebaiknya informasi Keluarga Berencana tidak boleh disembunyikan, sehingga calon peserta bisa memilih jenis kontrasepsi yang sesuai Informed Choice. Perhatian terhadap

(23)

kualitas penyampaian layanan, misalnya edukasi, konseling dan keterampilan penyedia layanan kontrasepsi vasektomi, akan meningkatkan penerimaan dan pemakaian kontrasepsi vasektomi

(Wulansari & Hartanto, 2007). Seorang provider KB harus dapat menepis rumor yang ada di masyarakat tentang vasektomi karena rumor atau informasi yang tidak benar tentang vasektomi ternyata turut mempengaruhi partisipasi pria dalam vasektomi, dengan cara memberikan penjelasan yang rasional dan tepat tentang tentang vasektomi (BKKBN, 2008). Maka dari itu sumber informasi yang berasal dari tenaga kesehatan merupakan faktor yang sangat penting untuk meningkatkan partisipasi pria dalam

vasektomi, yangpenyampaiannya didukung oleh promosi melalui media cetak dan elektronik (BKKBN, 2008).

3) Pendapatan

Pendapatan adalah jumlah penghasilan seluruh anggota keluarga. Pendapatan berhubung langsung dengan kebutuhan-kebutuhan keluarga, penghasilan yang tinggi dan teratur membawa dampak positif bagi keluarga karena keseluruhan kebutuhan sandang, pangan dan transportasi serta kesehatan dapat terpenuhi. Namun tidak demikian dengan keluarga yang pendapatannya rendah akan mengakibatkan keluarga mengalami kerawanan dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya yang salah satunya adalah pemeliharaan kesehatan (Keraf, 2001). Tinggi rendahnya status

(24)

sosial dan keadaan ekonomi penduduk di Indonesia akan mempengaruhi perkembangan dan kemajuan program KB di Indonesia, yang salah satunya adalah program peningkatan partisipasi pria dalam ber KB, hal ini seperti diungkapkan oleh Handayani, 2010. Keluarga dengan penghasilan cukup akan lebih mampu mengikuti program KB daripada keluarga yang tidak mampu, karena bagi keluarga yang kurang mampu KB bukanlah kebutuhan pokok.

4. Kondom a. Pengertian

Kondom adalah suatu selubung atau sarung karet yang terbuat dari berbagai bahan diantaranya lateks (karet), plastik (vinil), atau bahan alami (produk hewani) yang dipasang pada penis (kondom pria) atau vagina (kondom wanita) pada saat berhubungan seksual. (Handayani, 2010).

b. Macam-macam kondom 1) Kulit

a) Di buat dari membrane usus biri-biri (caecum) b) Tidak meregang dan mengkerut

c) Menjalarkan panas tubuh, sehingga dianggap tidak mengurangi sensivitas selama senggama

(25)

e) Jumlahnya kurang dari 1% dari semua jenis kondom 2) Lateks

a) Paling banyak dipakai b) Elastis

c) Murah 3) Plastik

a) Sangat tipis (0,025-0,035 mm) b) Juga menghantarkan panas tubuh

c) Lebih mahal dari kondom lateks. (Handayani. 2010) c. Cara Kerja

Kondom menghalangi terjadinya pertemuan sperma dan sel telur dengan cara mengemas sperma sehingga sperma tersebut tidak tercurah ke dalam saluran reproduksi perempuan. Mencegah penularan mikroorganisme (IMS termasuk HBV dan HIV/AIDS) dari satu pasangan kepada pasangan yang lain (khusus kondom yang terbuat dari lateks dan vinil). (Handayani, 2010).

d. Indikasi 1) Pria

a) Penyakit genetalia

b) Sensitivitas penis terhadap secret vagina c) Ejakulasi prematur

2) Pasangan

(26)

b) Senggama yang jarang

c) Penyakit kelamin (aktif atau tersangka) d) Herpes genitalis atau kondiloma akuminata

e) Urethritis karena sebab apapun, termasuk yang sedang dalam terapi

f) Sistisis, disuria atau pyuria, sampai penyebabnya ditegakkan g) Metode sementara sebelum menggunakan kontrasepsi oral

atau IUD.(Anggraini, 2012) e. Kontra Indikasi

1) Absolute

a) Pria dengan ereksi yang tidak baik b) Riwayat syok septik

c) Tidak bertanggung jawab secara seksual

d) Interupsi sexual foreplay menghalangi minat seksual e) Alergi terhadap karet atau lubrikan pada partner seksual 2) Relative

Interupsi sexual foreplay yang mengganggu ekspresi seksual. (Anggraini, 2012)

f. Efektifitas

Kondom cukup efektif bila dipakai secara benar pada setiap kali berhubungan seksual. Pada beberapa pasangan, pemakaian kondom tidak efektif karena tidak dipakai secara konsisten. Secara

(27)

ilmiah didapatkan hanya sedikit angka kegagalan kondom yaitu 2-12 kehamilan per 100 perempuan per tahun. (Handayani, 2010).

g. Keuntungan

1) Memberi perlindungan terhadap PMS (Penyakit Menular Seksual) 2) Tidak mengganggu kesehatan klien

3) Murah dan dapat dibeli secara umum 4) Tidak perlu pemeriksaan medis

5) Tidak mengganggu produksi ASI (Air Susu Ibu) 6) Mencegah ejakulasi dini

7) Membantu mencegah terjadinya kanker serviks. (Handayani, 2010)

8) Mencegah kehamilan 9) Dapat diandalkan

10) Sederhana, ringan, disposable

11) Pria ikut secara aktif dalam program KB. (Anggraini, 2012) h. Kerugian

1) Angka kegagalan relatif tinggi

2) Perlu menghentikan sementara aktifitas dan spontanitas hub seks 3) Perlu dipakai secara konsisten

4) Harus selalu tersedia setiap kali hubungan seks

(28)

i. Penggunaan kondom

1) Pakai kondom setelah penis tegang (ereksi) dan sebelum dimasukkan

2) Buka kemasannya, jangan pakai kuku karena kondom bisa rusak 3) Tempatkan gulungan kondom di kepala penis

4) Tekan ujungnya untuk mengeluarkan udara dan dorong kebawah menyarungi seluruh penis

5) Lumuri pelican pada kondom dan vagina

6) Gunakan untuk hubungan seks. Ganti yang baru jika kondom rusak

7) Setelah sperma keluar (ejakulasi) tarik keluar penis yang masih ereksi dan tahan pangkalnya agar sperma tidak tumpah

8) Lepaskan dari penis dan ikat pangkalnya. Buanglah di tempat sampah. (Handayani, 2010).

j. Petunjuk yang disampaikan pada pasangan tentang penggunaan kondom

1) Untuk menghindari terjadinya kehamilan maka dapat digunakan setiap berhubungan

2) Pemasangan kondom dilakukan sebelum penis berhubungan dengan genetalia eksterna wanita atau sebelum dimasukkan kedalam vagina

3) Setelah kondom dipasang pada penis, sisakan sedikit ruang bebas pada ujung kondom

(29)

4) Simpan kondom ditempat yang kering dan sejuk

5) Jangan memakai vaselin sebagai pelumas karena dapat merusak karet

6) Periksa kondom setelah senggama selesai, untuk melihat adanya kerusakan pada kondom atau apakah kondom masih utuh atau tidak

7) Jangan menggunakan kondom untuk kedua kalinya. (Handayani, 2010).

5. Pengetahuan a. Definisi

Pengetahuan adalah kesan didalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca inderanya. Pengetahuan sangat berbeda dengan kepercayaan (belief), takhayul (superstition), dan peneranga-penerangan yang keliru (misinformation). Pengetahuan adalah segala apa yang diketahui berdasarkan pengalaman yang didapatkan oleh setiap manusia .(Mubarak, 2011)

Pengetahuan merupakan hasil tahu. Hal ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan melalui panglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba terhadap suatu obyek tertentu. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pada waktu pengindraan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat

(30)

dipengaruhi oleh intensitas perhatian persepsi terhadap obyek. (Notoatmojo,2003. Notoatmojo, 2007. Wawan & Dewi, 2010).

Pada dasarnya pengetahuan akan terus bertambah dan bervariatif sesuai dengan proses pengalaman manusia yang dialami. Menurut Brunner, proses pengetahuan tersebut melibatkan tiga aspek, yaitu proses mendapatkan informasi, proses tranformasi, dan proses evaluasi. (Mubarak, 2011)

b. Tingkat pengetahuan

Pengetahuan/kognitif yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Tingkatan pengetahuan dalam domain kognitif ada 6 yaitu : 1) Tahu (know)

Tahu merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah. Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsang yang diterima. (Hikmawati, 2011) 2) Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikannya secara luas. (Mubarak, 2011). Orang yang telah paham terhadap terhadap obyek atau materi dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, dan meramalkan terhadap obyek yang dipelajari. (Hikmawati, 2011)

(31)

3) Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan sebagai penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, dan prinsip dalam konteks atau situasi yang lain. (Hikmawati, 2011)

4) Analisa (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur orgnisai, dan masih ada kaitan satu dan lainnya (Notoatmojo, 2003). Atau kemampuan untuk menjabarkan dan atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang dikeahui. (Notoatmojo, 2005). Kemampuan analisis ini dapat dilihat bila seseorang dapat membedakan atau memisahkan, mengelompokkan, menggambarkan (membuat bagan), dan sebagainya terhadap pengetahuan atas objek tersebut. (Notoatmojo, 2005, 2007)

5) Sintesis (synthesis)

Sintesis diartikan sebagai kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian ke dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru (Mubarak, 2011)

(32)

Sintesis menunjukan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki. (Notoatmojo, 2005). Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. (Wawan & Dewi, 2010). Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. (Notoatmojo, 2007).

6) Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek atau materi (Hikmawati, 2011). Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. (Wawan & Dewi, 2010).

c. Cara memperoleh pengetahuan

Cara memperoleh pengetahuan adalah sebagai berikut : 1) Cara kuno (tradisional) untuk memperoleh pengetahuan

a) Cara kekuasaan atau otoritas

Prinsip dari cara ini adalah orang lain memerima pendapat yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas seperti pemimpin masyarakat baik formal maupun informal, ahli agama, pemegang pemerintahan dan sebagainya, tanpa terlebih

(33)

dahulu menguji atau membuktikan kebenarannya, baik berdasarkan penalaran sendiri. (Wawan & Dewi, 2010).

b) Berdasarkan pengalaman pribadi

Berdasarkan pribadi juga dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu. (Wawan & Dewi, 2010).

c) Cara coba salah (trial and error)

Cara ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah, dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil maka dicoba kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut dapat dipecahkan. (Wawan & Dewi, 2010).

2) Cara modern dalam memperoleh pengetahuan

Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau metodologi penelitian. Cara ini mula-mula dikembangkan oleh Francin Bacon (1561-1626) kemudian dikembangkan oleh Deobold Van Dallen yang mengatakan bahwa dalam memperoleh kesimpulan dilakukan dengan mengadakan observasi langsung, dan membuat pencatatan-pencatatan terhadap semua fakta sehubungan dengan obyek yang diamatinya. Akhirnya lahir suatu cara untuk melakukan penelitian yang dewasa ini kita kenal dengan peelitian ilmiah. (Wawan & Dewi, 2010).

(34)

d. Faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan Faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan yaitu : 1) Faktor internal

a) Umur

Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. (Wawan & Dewi, 2010).

b) Pekerjaan

Pekerjaan adalah kegiatan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan keluarganya. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang membosankan, berulang dan banyak tantangan. (Wawan & Dewi, 2010).

c) Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju kearah cita-cita tertentu yang menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotifasi untuk berperan serta dalam pembangunan. Pada umumnya

(35)

makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah memerima informasi. (Wawan & Dewi, 2010).

d) Minat

Minat sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu. Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan menekuni suatu hal, sehingga seseorang memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam (Mubarak, 2011)

2) Faktor eksternal a) Sosial budaya

Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi sikap dalam memerima informasi. (Wawan & Dewi, 2010).

b) Faktor lingkungan

Lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dan pengaruhnya dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok. (Wawan & Dewi, 2010). c) Informasi

Kemudahan untuk memperoleh suatu informasi dapat mempercepat seseorang memperoleh pengetahuan yang baru. (Mubarak, 2011)

d) Pengalaman

Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernah dialami seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Orang

(36)

cenderung berusaha melupakan pengalaman yang kurang baik. Sebaliknya, jika pengalaman tersebut menyenangkan, maka secara psikologis mampu menimbulkan kesan yang sangat mendalam dan membekas dalam emosi kejiwaan seseorang. Pengalaman baik ini akhirnya dapat membentuk sikap positif dalam kehidupannya. (Mubarak, 2011)

e. Pengukuran pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin di ukur dari subyek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin diketahui atau diukur dapat disesuaikan dengan tingkatan-tingkatannya. (Notoatmojo, 2007).

f. Kriteria tingkat pengetahuan

Menurut arikunto (2006) pengetahuan seseorang dapat diketahui dan diinterpretasikan dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu:

1) Baik : hasil presentase 76-100% dari jawaban benar. 2) Cukup : hasil presentase 56-75% dari jawaban benar.

(37)

6. Pasangan usia subur

Pasangan usia subur (PUS) berkisar usia 20-45 tahun dimana pasangan (laki-laki dan perempuan) sudah cukup matang dalam segala hal, termasuk fungsi reproduksinya. Pada kondisi yang normal, pasangan usia subur sangat mudah memperoleh keturunan sehingga memerlukan adanya pengaturan kesuburan (fertilitas), perawatan kehamilan, dan pengetahuan persalinan yang aman. Pasangan usia subur di upayakan mampu menekan angka kelahiran dengan metode keluarga berencana, sehingga jumlah dan interval kehamilan dapat diperhitungkan untuk meningkatkan kualitas reproduksi dan kualitas generasi mendatang (Mubarak, 2011).

Pasangan Usia Subur (PUS) dan Wanita Usia Subur (WUS), masa ini merupakan masa terpenting bagi wanita dan berlangsung kira-kira 33 tahun. Haid pada masa paling teratur dan siklus pada alat genital bermakna untuk memungkinkan kehamilan. Pada masa ini terjadi ovulasi kurang lebih 450 kali, dan selama masa ini wanita berdarah selama 1800 hari, dan akan terjadi penerunan fertilitas setelah umur 40 tahun (Hikmawati, 2011).

(38)

B. Kerangka teori

Gambar 2.1 : Kerangka teori pengetahuan kontrasepsi pria

(Handayani. 2010, Mubarok.2011, Notoatmojo.2007, Wawan dan Dewi.2010) Faktor yang mempengaruhi

tingkat pengetahuan: 1. Faktor internal a. Umur b. Pekerjaan c. Pendidikan d. minat 2. Faktor eksternal a. Sosial budaya b. Faktor lingkungan c. Informasi d. Pengalaman Pengetahuan 1. Tahu 2. Memahami 3. Aplikasi 4. Analisis 5. Sintesis 6. evaluasi Faktor-faktor yang mempengaruhi program KB di Indonesia: 1. Sosial ekonomi 2. Budaya 3. Pendidikan 4. Agama 5. Status wanita Kontrasepsi Pria Faktor dalam memilih alat kontrasepsi : 1. Faktor pasangan 2. Faktor kesehatan 3. Faktor metode kontrasepsi

Gambar

Gambar 2.1  : Kerangka teori pengetahuan kontrasepsi pria

Referensi

Dokumen terkait

bermakna dengan pemilihan jenis kontrasepsi yang digunakan pada. pasangan usia subur

penggunaan kontrasepsi pada pasangan usia subur (PUS) dapat dipengaruhi.. oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain, faktor budaya.. patriarki, faktor tradisi

Beberapa alasan yang membuat penulis ingin meneliti tentang faktor pendukung dan penghambat istri pasangan usia subur dalam penggunaan alat kontrasepsi implant di

Menurut survey dengan cara wawancara pada Pasangan Usia Subur, pada Pasangan Usia Subur yang berkunjung sebanyak 10 Pasangan Usia Subur, 8 diantaranya tidak mempunyai

Padahal sasaran utama dari pelayanan KB adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yaitu berkisar dari 20-35 tahun. Rentang usia ini optimal untuk wanita hamil dan melakukan

Begitu pula halnya jumlah pasangan usia subur (PUS) yang tersebar di berbagai daerah, baik yang mudah dijangkau maupun di daerah terpencil, rnembutuhkan perhatian

Berdasarkan hasil penelitian sikap pasangan usia subur dalam pengambilan keputusan menjadi akseptor keluarga berencana menunjukkan bahwa umumnya pasangan usia subur PUS sangat setuju

Hubungan koefisien korelasi yang sedang antara hubungan paritas dengan pengetahuan pasangan usia subur PUS dalam pemilihan pemilihan kontrasepsi MOW karena pengetahuan mempunyai