SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi Farmasi

146 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

i

PENINGKATAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN TINDAKAN REMAJA LAKI-LAKI DI SMK NEGERI 4 KECAMATAN UMBULHARJO KOTA YOGYAKARTA TENTANG ANTIBIOTIKA DENGAN METODE CBIA

(CARA BELAJAR INSAN AKTIF)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh :

Windy Octavia Boru Hombing NIM : 118114134

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

“Kalau kamu sedang berpikir berhenti, pegang erat mimpimu dan bayangkan betapa menyenangkannya kalau kamu bisa mencapai itu”

“Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil”

- Lukas 1 : 37

Karya ini ku persembahkan bagi : Tuhan Yesus Kristus atas segala berkatNya Papa dan Mamaku terkasih, untuk setiap doa dan dukungannya Adikku tersayang Martha Chrisdiany Keluarga Besar Sihombing Surya Darma Tarigan, penyemangat yang selalu mendukungku Teman-teman terbaikku Almamaterku tercinta

(5)
(6)
(7)
(8)

viii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vi

PRAKATA ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

INTISARI... xviii ABSTRACT ... xix BAB I PENGANTAR ... 1 A. Latar Belakang ... 1 1. Permasalahan... 6 2. Keaslian penelitian ... 6 3. Manfaat penelitian ... 8 B. Tujuan Penelitian ... 9 1. Tujuan umum ... 9 2. Tujuan khusus ... 9

(9)

ix

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA... 11

A. Pengetahuan ... 11

1. Pengertian ... 11

2. Faktor yang mempengaruhi ... 12

3. Pengukuran pengetahuan ... 14 B. Sikap ... 15 1. Pengertian ... 15 2. Pengukuran sikap ... 16 C. Tindakan ... 16 1. Pengertian ... 16

2. Faktor yang mempengaruhi ... 17

3. Pengukuran tindakan ... 17

D. Cara Belajar Insan Aktif (CBIA) ... 18

E. Antibiotika ... 20 1. Pengertian ... 20 2. Prinsip penggunaan ... 21 3. Resistensi ... 22 F. Landasan Teori ... 23 G. Hipotesis ... 23

BAB III METODE PENELITIAN... 24

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ... 24

B. Variabel dan Definisi Operasional ... 24

(10)

x

2. Definisi operasional ... 25

C. Populasi, Subjek, dan Kriteria Inklusi Penelitian... 27

D. Tempat dan Waktu Penelitian ... 28

E. Instrumen Penelitian... 28

F. Tata Cara Penelitian ... 30

1. Studi pustaka ... 30

2. Analisis situasi ... 31

3. Penentuan besar sampel ... 32

4. Pengembangan kuesioner ... 34

5. Pelaksanaan CBIA ... 37

6. Analisis hasil ... 39

G. Keterbatasan Penelitian ... 42

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 43

A. Karakteristik Demografi Responden ... 43

B. Keadaan Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Remaja Laki-laki tentang Penggunaan Antibiotika Sebelum CBIA ... 44

C. Keadaan Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Remaja Laki-laki tentang Penggunaan Antibiotika Sesudah CBIA ... 46

1. Pengetahuan ... 46

2. Sikap ... 47

3. Tindakan ... 48

D. Perbandingan Tingkat Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan tentang Penggunaan Antibiotika Sebelum dan Sesudah CBIA ... 51

(11)

xi

1. Pengetahuan ... 52

2. Sikap ... 55

3. Tindakan ... 57

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 61

A. Kesimpulan ... 61

B. Saran ... 61

DAFTAR PUSTAKA ... 63

LAMPIRAN ... 67

(12)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel I . Pernyataan Favorable dan Unfavorable pada Pokok Bahasan

Aspek Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan ... 30

Tabel II. Hasil Uji Reliabilitas ... 36

Tabel III. Besar Skor Tanggapan Aspek Pengetahuan ... 40

Tabel IV. Besar Skor Tanggapan Aspek Sikap dan Tindakan ... 40

Tabel V. Hasil uji normalitas aspek pengetahuan, sikap, dan tindakan ... 41

Tabel VI. Distribusi jumlah responden berdasarkan usia ... 44

Tabel VII. Hasil uji hipotesis (Wilcoxon) tingkat pengetahuan responden sebelum dan sesudah intervensi CBIA ... 54

Tabel VIII. Hasil uji varian tingkat sikap responden ... 56

Tabel IX. Hasil uji hipotesis (Paired T-test) tingkat sikap responden sebelum dan sesudah intervensi CBIA ... 57

Tabel X. Hasil uji varian tingkat tindakan responden ... 59

Tabel XI. Hasil uji hipotesis (Paired T-test) tingkat tindakan responden sebelum dan sesudah intervensi CBIA ... 60

(13)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Alur penentuan jumlah sampel dalam penelitian ... 33 Gambar 2. Kerangka konsep pelaksanaan CBIA ... 37 Gambar 3. Distribusi jumlah responden berdasarkan aspek pengetahuan,

sikap, dan tindakan dengan kategori baik, sedang, dan kurang pada sebelum intervensi CBIA ... 45 Gambar 4. Distribusi jumlah responden berdasarkan aspek pengetahuan,

sikap, dan tindakan dengan kategori baik pada sesudah

intervensi CBIA ... 51 Gambar 5. Perbandingan peningkatan jumlah responden pada aspek

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat izin penelitian dari Dinas Perizinan Kota Yogyakarta . 68 Lampiran 2. Surat perpanjangan izin penelitian dari Dinas Perizinan

Kota Yogyakarta ... 69

Lampiran 3. Surat keterangan telah selesai melakukan penelitian dari SMK Negeri 4 Yogyakarta... 70

Lampiran 4. Kuesioner penelitian... 71

Lampiran 5. Hasil uji validitas konten I ... 78

Lampiran 6. Hasil uji validitas konten II ... 82

Lampiran 7. Hasil uji validitas konten III ... 87

Lampiran 8. Kuesioner uji pemahaman bahasa ... 90

Lampiran 9. Kuesioner uji reliabilitas ... 95

Lampiran 10. Besar skor untuk masing-masing tanggapan tiap aitem aspek pengetahuan pada uji reliabilitas I ... 99

Lampiran 11. Hasil uji korelasi Point Biserial untuk aitem aspek pengetahuan pada uji validitas statistik I ... 100

Lampiran 12. Hasil uji reliabilitas I kuesioner aspek pengetahuan sebelum seleksi aitem ... 100

Lampiran 13. Besar skor untuk masing-masing tanggapan tiap aitem aspek pengetahuan pada uji reliabilitas II ... 101

Lampiran 14. Hasil uji korelasi Point Biserial untuk aitem aspek pengetahuan pada uji validitas statistik II ... 102

Lampiran 15. Hasil uji reliabilitas II kuesioner aspek pengetahuan sesudah seleksi aitem ... 102

Lampiran 16. Besar skor untuk masing-masing tanggapan tiap aitem aspek sikap pada uji reliabilitas... 103

Lampiran 17. Hasil uji korelasi Pearson’s Product Moment untuk aitem aspek sikap pada uji validitas statistik ... 104

(15)

xv

Lampiran 18. Hasil uji reliabilitas kuesioner aspek sikap dengan

metode Cronbach-Alpha ... 104 Lampiran 19. Besar skor untuk masing-masing tanggapan tiap aitem

aspek tindakan pada uji reliabilitas ... 105 Lampiran 20. Hasil uji korelasi Pearson’s Product Moment untuk aitem

aspek tindakan pada uji validitas statistik ... 106 Lampiran 21. Hasil uji reliabilitas kuesioner aspek tindakan dengan

metode Cronbach-Alpha ... 106 Lampiran 22. Besar skor untuk masing-masing tanggapan tiap aitem

aspek pengetahuan pre intervensi pada uji hipotesis

Wilcoxon ... 107 Lampiran 23. Besar skor untuk masing-masing tanggapan tiap aitem

aspek sikap pre intervensi pada uji hipotesis Paired T-test .. 108 Lampiran 24. Besar skor untuk masing-masing tanggapan tiap aitem

aspek tindakan pre intervensi pada uji hipotesis

Paired T-test ... 109 Lampiran 25. Besar skor untuk masing-masing tanggapan tiap aitem

aspek pengetahuan post intervensi 1 pada uji hipotesis

Wilcoxon ... 110 Lampiran 26. Besar skor untuk masing-masing tanggapan tiap aitem

aspek sikap post intervensi 1 pada uji hipotesis

Paired T-test ... 111 Lampiran 27. Besar skor untuk masing-masing tanggapan tiap aitem

aspek tindakan post intervensi 1 pada uji hipotesis

Paired T-test ... 112 Lampiran 28. Besar skor untuk masing-masing tanggapan tiap aitem

aspek pengetahuan post intervensi 2 pada uji hipotesis

Wilcoxon ... 113 Lampiran 29. Besar skor untuk masing-masing tanggapan tiap aitem

aspek sikap post intervensi 2 pada uji hipotesis

(16)

xvi

Lampiran 30. Besar skor untuk masing-masing tanggapan tiap aitem aspek tindakan post intervensi 2 pada uji hipotesis

Paired T-test ... 115

Lampiran 31. Besar skor untuk masing-masing tanggapan tiap aitem aspek pengetahuan post intervensi 3 pada uji hipotesis Wilcoxon ... 116

Lampiran 32. Besar skor untuk masing-masing tanggapan tiap aitem aspek sikap post intervensi 3 pada uji hipotesis Paired T-test ... 117

Lampiran 33. Besar skor untuk masing-masing tanggapan tiap aitem aspek tindakan post intervensi 3 pada uji hipotesis Paired T-test ... 118

Lampiran 34. Hasil uji normalitas aspek pengetahuan pre intervensi ... 119

Lampiran 35. Hasil uji normalitas aspek pengetahuan post intervensi 1 ... 119

Lampiran 36. Hasil uji normalitas aspek pengetahuan post intervensi 2 ... 119

Lampiran 37. Hasil uji normalitas aspek pengetahuan post intervensi 3 ... 119

Lampiran 38. Hasil uji normalitas aspek sikap pre intervensi ... 120

Lampiran 39. Hasil uji normalitas aspek sikap post intervensi 1 ... 120

Lampiran 40. Hasil uji normalitas aspek sikap post intervensi 2 ... 120

Lampiran 41. Hasil uji normalitas aspek sikap post intervensi 3 ... 120

Lampiran 42. Hasil uji normalitas aspek tindakan pre intervensi ... 121

Lampiran 43. Hasil uji normalitas aspek tindakan post intervensi 1 ... 121

Lampiran 44. Hasil uji normalitas aspek tindakan post intervensi 2 ... 121

Lampiran 45. Hasil uji normalitas aspek tindakan post intervensi 3 ... 121

Lampiran 46. Hasil uji varian aspek sikap pre – post intervensi 1 ... 122

Lampiran 47. Hasil uji varian aspek sikap pre – post intervensi 2 ... 122

Lampiran 48. Hasil uji varian aspek sikap pre – post intervensi 3 ... 122

(17)

xvii

Lampiran 50. Hasil uji varian aspek tindakan pre – post intervensi 2 ... 123 Lampiran 51. Hasil uji varian aspek tindakan pre – post intervensi 3 ... 123 Lampiran 52. Hasil uji hipotesis Wilcoxon aspek pengetahuan

pre – post intervensi 1 ... 124 Lampiran 53. Hasil uji hipotesis Wilcoxon aspek pengetahuan

pre – post intervensi 2 ... 124 Lampiran 54. Hasil uji hipotesis Wilcoxon aspek pengetahuan

pre – post intervensi 3 ... 124 Lampiran 55. Hasil uji hipotesis Paired T-test aspek sikap

pre – post intervensi 1 ... 125 Lampiran 56. Hasil uji hipotesis Paired T-test aspek sikap

pre – post intervensi 2 ... 125 Lampiran 57. Hasil uji hipotesis Paired T-test aspek sikap

pre – post intervensi 3 ... 125 Lampiran 58. Hasil uji hipotesis Paired T-test aspek tindakan

pre – post intervensi 1 ... 126 Lampiran 59. Hasil uji hipotesis Paired T-test aspek tindakan

pre – post intervensi 2 ... 126 Lampiran 60. Hasil uji hipotesis Paired T-test aspek tindakan

(18)

xviii INTISARI

Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan antibiotika menjadi faktor utama terjadinya resistensi. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan memberikan edukasi tentang antibiotika melalui metode CBIA kepada masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan pengetahuan, sikap, dan tindakan remaja laki-laki mengenai penggunaan antibiotika dengan CBIA.

Jenis penelitian ini adalah eksperimental semu, dengan rancangan time series. Penelitian dilakukan dengan pemberian kuesioner pada sebelum, sesudah, satu dan dua bulan setelah intervensi CBIA. Metode sampling menggunakan non probability sampling dengan teknik purposive sampling. Sampling dilakukan pada 36 remaja laki-laki di SMK Negeri 4 Yogyakarta, kemudian diperoleh sampel sebanyak 30 responden. Analisis data menggunakan Shapiro Wilk-test untuk uji normalitas, Paired T-test untuk uji hipotesis sikap dan tindakan, dan Wilcoxon-test untuk pengetahuan. Taraf kepercayaan digunakan 95%.

Hasil menunjukkan adanya peningkatan jumlah responden dengan pengetahuan dalam kategori baik dari 23,33% menjadi 53,33% pada post-intervensi1, 56,67% pada post-intervensi2, dan 50% pada post-intervensi3. Jumlah responden dengan sikap dalam kategori baik meningkat dari 36,67% menjadi 43,33% pada post-intervensi1, 53,33% pada post-intervensi2, dan 56,67% pada post-intervensi3. Peningkatan jumlah responden dengan tindakan dalam kategori baik dari 20% menjadi 36,67% pada post-intervensi1, 43,33% pada post-intervensi2, dan 53,33% pada post-intervensi3.

Kesimpulan penelitian ini adalah metode CBIA dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan tindakan tentang antibiotika.

(19)

xix

ABSTRACT

The low of people knowledge about the use of antibiotic becomes the prior factor that can make a resistance. The effort to overcome the problem can be done by giving education about antibiotic through CBIA method to the society. The purpose of this research is to increase the boy teenagers’ knowledge, attitude, and practice about the use of antibiotic through CBIA method.

This research belongs to apparent quasi-experimental with the time series design. The method that will be applied is survey in which the questioner is given before the CBIA intervention, after intervention, a month and two months after the intervention. The data collection method uses non probability sampling with purposive sampling technique. The sampling is done toward 36 boy teenagers in SMK Negeri 4 Yogyakarta, the number of achievement is 30 respondent. Shapiro-Wilk test for the normality test, Paired T-test for attitude and practice hypothesis, and Wilcoxon test for knowledge are used to analyze the data. 95% evidence level is used.

The result shows that there are upgrading of the total respondent of knowledge in good category from 23,33% becomes 53,33% in post-intervention1, 56,67% in post-intervention2, and 50% in post-intervention3. The total respondent of attitude in good category increases from 36,67% becomes 43,33% in post-intervention1, 53,33% in post-intervention2, and 56,67% in post-intervention3. The upgrading of total respondent in good category of practice can be seen from 20% becomes 36,67% in post-intervention1, 43,33% in post-intervention2, dan 53,33% in post-intervention3.

In conclusion, the CBIA method can increase the knowledge, attitude, and practice about antibiotic.

(20)

1 BAB I PENGANTAR

A. Latar Belakang

Pemberian antibiotika adalah tindakan utama pada penatalaksanaan penyakit infeksi bakterial. Berdasarkan UU No. 419 tahun 1949, pada pasal 3 ayat 1 yang mengatur tentang penjualan antibiotika, disebutkan bahwa antibiotika termasuk dalam golongan obat keras pada daftar G atau Gevaarlijk dan hanya dapat diperoleh dengan resep dokter atau penanggungjawab yang memiliki kewenangan medis (Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 1949).

Penggunaan antibiotika untuk swamedikasi menjadi masalah kesehatan yang cukup penting saat ini, hal tersebut disebabkan karena banyak antibiotika digunakan secara tidak rasional, seperti pada pengobatan infeksi non-bakterial atau tidak diminum sampai habis sehingga resistensi bakteri terhadap antibiotika pun dapat terjadi (Anna, 2013). Penggunaan antibiotika di kalangan masyarakat yang semakin meningkat berhubungan langsung dengan kemungkinan peningkatan terjadinya resistensi. Meningkatnya resistensi antibiotika menyebabkan semakin sempitnya jenis antibiotika yang dapat digunakan. Masalah resistensi bakteri banyak terjadi di negara-negara berkembang dan negara yang berpendapatan rendah, termasuk Indonesia (Vila dan Pal, 2010). Resistensi bakteri menjadi masalah kesehatan yang sangat besar bagi suatu negara bahkan seluruh dunia karena menyebabkan meningkatnya angka kematian (WHO, 2013). Tingginya kasus resistensi obat antibiotika cukup mengkhawatirkan, bahkan Indonesia menduduki peringkat ke-8 dari 27 negara dengan beban tinggi

(21)

kekebalan kuman terhadap obat di dunia berdasarkan data WHO tahun 2009 (Suara Pembaruan, 2011).

Berdasarkan data yang diperoleh dari Riskesdas tahun 2013, proporsi rumah tangga yang menyimpan antibiotika tanpa resep terdapat sebanyak 90,2%. Selain itu dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Widayati et al. (2011) pada 559 responden di Kota Yogyakarta, sebanyak 7,3% responden membeli antibiotika tanpa resep di apotek untuk swamedikasi dalam kurun waktu 1 bulan. Amoksisilin merupakan antibiotika yang paling banyak dibeli dan digunakan dalam swamedikasi yaitu sebesar 77% selain ampisilin, tetrasiklin, gramisidin, dan ciprofloksasin. Amoksisilin sering digunakan untuk mengatasi gejala common cold, seperti batuk, radang tenggorokan, sakit kepala, dan gejala sakit ringan lainnya dengan lama penggunaan kurang dari 5 hari. Penyalahgunaan antibiotika yang terjadi di masyarakat, meliputi penghentian pengobatan secara tiba-tiba, dosis berlebihan, penggunaan sisa antibiotika, dan penggunaan antibiotika dengan jangka waktu tidak tepat (Oyetunde, et al, 2010). Alasan masyarakat menggunakan antibiotika dalam swamedikasi antara lain karena penggunaan antibiotika sebelumnya yang sudah terbukti berkhasiat menyembuhkan, menghemat waktu dan uang untuk pergi ke dokter, serta karena adanya kecenderungan dari dokter untuk selalu meresepkan antibiotika yang sama.

Beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhi penggunaan antibiotika tanpa resep di kalangan masyarakat antara lain yaitu faktor sosio demografi dan tingkat pengetahuan, sikap, serta tindakan masyarakat mengenai antibiotika. Karakteristik demografi masyarakat meliputi perbedaan usia, jenis kelamin,

(22)

pekerjaan, dan tingkat pendidikan. Gambaran tentang karakteristik demografi dapat mempengaruhi perilaku dari masyarakat serta outcome dari kesehatan masyarakat. Perbedaan karakteristik demografi dapat menghasilkan perilaku pengobatan yang berbeda-beda, seperti misalnya perilaku masyarakat dalam menggunakan antibiotika (Widayati, et al, 2012).

Pengetahuan adalah domain yang sangat penting untuk terbentuknya suatu perilaku terbuka atau tindakan nyata. Pemahaman masyarakat tentang penggunaan antibiotika dengan resep juga sering tidak tepat. Antibiotika tidak diminum sampai habis sesuai dengan yang telah diresepkan dokter. Banyak pasien yang beranggapan apabila kondisi kesehatannya sudah pulih maka penggunaan antibiotika tidak perlu dilanjutkan lagi. Hasil survei menunjukkan 63,5% masyarakat tidak mengetahui aturan pakai antibiotika, dan 52,4% masyarakat tidak mengetahui adanya risiko terjadinya resistensi antibiotika (Suhadi dan Sutama, 2005). Rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang penggunaan antibiotika ini menjadi penyebab utama penggunaan antibiotika secara irrasional.

Remaja laki-laki merupakan salah satu komponen masyarakat yang sedang beranjak dewasa. Kemampuan untuk melakukan pengobatan sendiri masih belum sepenuhnya dikuasai, namun sudah banyak diantara para remaja ini yang sering melakukan pengobatan sendiri. Remaja laki-laki kerap dianggap sebagai individu yang kurang peduli terhadap masalah kesehatan (Widayati, et al, 2011). Hal tersebut kemungkinan karena remaja mempunyai pengetahuan tinggi namun kurang terpapar dengan masalah yang berkaitan dengan penggunaan antibiotika.

(23)

Oleh karena itu, perlu diketahui bagaimana tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan remaja laki-laki mengenai penggunaan antibiotika. Dalam penelitian ini remaja laki-laki yang dimaksudkan khususnya adalah siswa SMA.

Kecamatan Umbulharjo merupakan salah satu kecamatan dengan data distribusi antibiotika yang cukup tinggi, yaitu sebesar 129.373 antibiotika yang didistribusikan. Kecamatan ini adalah kecamatan terbesar di kota Yogyakarta dengan luas wilayah 8,12 km2. Kecamatan ini memiliki 7 kelurahan dengan jumlah penduduk keseluruhan sebanyak 65.944 jiwa, berdasarkan data tersebut terdapat sebanyak 32.438 jiwa penduduk laki-laki dan 33.506 jiwa penduduk perempuan. Di kecamatan ini terdapat banyak tempat pelayanan umum yang tersebar secara merata pada masing-masing kelurahan seperti puskesmas, puskesmas pembantu, poliklinik/rumah bersalin, dokter praktek, rumah sakit, dan apotek. Selain itu di Kecamatan Umbulharjo juga terdapat beberapa sekolah, khususnya Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK) yaitu sebanyak 8 SMA dan 10 SMK. Hal tersebut menjadi salah satu faktor pendukung dilakukannya penelitian di SMK Negeri 4 Yogyakarta karena banyaknya apotek di sekitar lokasi dapat menyebabkan siswa lebih mudah mengakses atau membeli obat-obatan seperti antibiotika untuk swamedikasi (Ekowati, 2014). SMK Negeri 4 Yogyakarta merupakan sekolah menengah kejuruan dengan tujuh jurusan, diantaranya adalah Kecantikan Kulit, Kecantikan Rambut, Busana Butik, Jasa Boga, Usaha Perjalanan Wisata, Patiseri, dan Akomodasi Perhotelan dengan jumlah total 12 kelas untuk masing-masing angkatan, jumlah siswa laki-laki untuk

(24)

kelas X terdapat sebanyak 52 orang, kelas XI sebanyak 67 orang, dan kelas XII sebanyak 59 orang.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan tindakan remaja laki-laki di Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta tentang penggunaan antibiotika. Hal ini sudah selayaknya menjadi tugas apoteker untuk memberikan edukasi yang berkaitan dengan antibiotika kepada masyarakat agar dapat sepenuhnya memahami mengenai penggunaan antibiotika. Ada beberapa metode edukasi yang dapat dilakukan untuk memberikan intervensi sebagai upaya peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat mengenai penggunaan antibiotika, antara lain yaitu konseling dengan pasien, edukasi secara langsung ke pasien, ceramah atau seminar, diskusi kelompok kecil, cara belajar insan aktif (CBIA), media masa, pameran, dan sebagainya. Hasil uji yang dilakukan oleh Pusat Studi Farmakologi Klinik dan Kebijakan Obat (Suryawati, 1995), metode Cara Belajar Insan Aktif (CBIA) menunjukan hasil yang lebih efektif dibandingkan dengan metode ceramah atau seminar. CBIA diadopsi dari metode belajar mengajar anak sekolah Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) yang digunakan di Indonesia. Metode ini menumbuhkan sikap kritis dari peserta didik dan menimbulkan motivasi untuk melakukan sesuatu. Tujuan CBIA adalah terbentuknya kemampuan untuk menggali sumber informasi dan meningkatkan kebiasaan berpikir secara kreatif dan kritis sehingga mampu memecahkan masalah. Apabila dibandingkan dengan metode seminar, CBIA telah terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan serta keterampilan memilih dan mengurangi konsumsi jenis obat keluarga per bulan (Suryawati, 2003).

(25)

Berdasarkan uraian di atas, maka penggunaan antibiotika pada pengobatan penyakit infeksi perlu mendapat perhatian khusus, terutama tentang kepatuhan dalam menggunakan antibiotika. Informasi yang tepat menjadi bagian penting dari penggunaan antibiotika secara rasional. Oleh karena itu peneliti terdorong melakukan penelitian ini untuk mengetahui peranan CBIA dalam upaya peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan remaja laki-laki di Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta dalam menggunakan antibiotika.

1. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, timbul permasalahan untuk diteliti yaitu:

a. Seperti apakah karakteristik demografi responden?

b. Seperti apakah tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan remaja laki-laki mengenai penggunaan antibiotika sebelum dilakukan CBIA? c. Seperti apakah tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan remaja

laki-laki mengenai penggunaan antibiotika sesudah dilakukan CBIA? d. Apakah ada peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan remaja

laki-laki mengenai penggunaan antibiotika sebelum dan sesudah CBIA? 2. Keaslian penelitian

Berdasarkan hasil pencarian pustaka dan informasi terkait pada penelitian mengenai “Peningkatan Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Remaja Laki-laki di Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta tentang Antibiotika dengan Metode CBIA (Cara Belajar Insan Aktif)”, dapat dinyatakan bahwa

(26)

tidak ada dan belum pernah dilakukan penelitian seperti ini sebelumnya. Namun ada beberapa penelitian serupa yang telah dilakukan sebelumnya, antara lain :

a. “Perbedaan Edukasi secara CBIA dan Ceramah mengenai Kanker Serviks dan Papsmear terhadap Peningkatan Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Ibu-ibu di Kecamatan Mlati dan Gamping Ditinjau dari Faktor Ekonomi”, yang dilakukan oleh Dion Arga Anggayasta pada tahun 2010. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti terdapat pada subjek yang diteliti, lokasi penelitian, dan fokus penelitian. Subjek penelitian Dion Arga Anggayasta (2010) adalah ibu-ibu, sedangkan pada penelitian ini subjek yang digunakan adalah remaja laki-laki. Kemudian lokasi penelitian Dion Arga Anggayasta (2010) di Kecamatan Mlati dan Gamping, sedangkan lokasi penelitian ini yaitu di SMK Negeri 4 Yogyakarta, Jalan Sidikan 60 Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta. Penelitian yang dilakukan oleh Dion Arga Anggayasta (2010) terfokus pada membandingkan adanya pengaruh edukasi secara CBIA dan ceramah terhadap peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan ibu-ibu mengenai kanker serviks dan papsmear. Sementara itu penelitian ini lebih difokuskan pada peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan remaja laki-laki mengenai penggunaan antibiotika sebelum dan sesudah dilakukan intervensi CBIA.

b. “Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Tingkat Pengetahuan Masyarakat mengenai Antibiotika di Kecamatan Gondokusuman Kota

(27)

Yogyakarta Tahun 2011”, yang dilakukan oleh Marvelaos Marvel pada tahun 2011. Perbedaan penelitian ini terdapat pada subjek yang diteliti, lokasi penelitian, jenis dan rancangan penelitian, serta fokus penelitian. Subjek penelitian yang digunakan pada penelitian Marvelaos Marvel (2011) yaitu masyarakat laki-laki dan perempuan dengan tingkat pendidikan terakhir minimal SD, sedangkan pada penelitian ini adalah remaja laki-laki. Lalu lokasi penelitian yang digunakan oleh Marvelaos Marvel (2011) adalah Kecamatan Gondokusuman Kota Yogyakarta, sedangkan penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 4 Yogyakarta, Jalan Sidikan 60 Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta. Jenis penelitian yang digunakan Marvelaos Marvel (2011) adalah non eksperimental dengan rancangan penelitian analitik deskriptif, sedangkan jenis penelitian ini yaitu eksperimental semu dengan rancangan penelitian time series. Penelitian Marvelous Marvel (2011) lebih terfokus pada pengaruh tingkat pendidikan terhadap tingkat pengetahuan masyarakat mengenai antibiotika, sedangkan pada penelitian ini lebih difokuskan pada peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan remaja laki-laki mengenai penggunaan antibiotika melalui metode CBIA.

3. Manfaat penelitian

a. Manfaat teoritis. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam bidang kesehatan terkait peningkatkan pengetahuan, sikap, dan tindakan pada penggunaan antibiotika melalui metode CBIA.

(28)

b. Manfaat praktis :

1. Bagi Masyarakat, meningkatkan motivasi masyarakat untuk mencari informasi tentang antibiotika agar lebih cermat dalam menentukan sikap dan tindakan pada penggunaan antibiotika sehingga dapat menurunkan kemungkinan terjadinya resistensi.

2. Bagi Pemerintah, sebagai sumber informasi dalam melakukan evaluasi tentang pelayanan pemberian informasi kesehatan kepada masyarakat serta untuk mengembangkan metode edukasi CBIA dalam rangka meningkatkan pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat tentang penggunaan antibiotika.

3. Bagi Akademisi, sebagai dasar bentuk pengembangan model edukasi CBIA dan penelitian sehubungan dengan peningkatkan pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat mengenai penggunaan antibiotika.

B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum

Meningkatkan pengetahuan, sikap, dan tindakan remaja laki-laki di Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta mengenai penggunaan antibiotika dengan metode CBIA.

2. Tujuan khusus

a. Mengidentifikasi karakteristik demografi responden yang berpengaruh pada pengetahuan, sikap, dan tindakan dalam penggunaan antibiotika.

(29)

b. Mengukur tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan remaja laki-laki tentang penggunaan antibiotika sebelum dilakukan metode CBIA. c. Mengukur tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan remaja laki-laki

tentang penggunaan antibiotika sesudah dilakukan metode CBIA. d. Membandingkan tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan remaja

laki-laki tentang penggunaan antibiotika sebelum dan sesudah dilakukan metode CBIA.

(30)

11 BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Pengetahuan 1. Pengertian

Pengetahuan adalah hasil dari informasi yang kemudian diperhatikan, dimengerti, dan diingat. Informasi dapat bermacam-macam bentuknya baik pendidikan formal maupun informal, seperti membaca surat kabar, mendengar radio, menonton TV, percakapan sehari-hari, dan pengalaman hidup lainnya. Pengetahuan berupa segala sesuatu yang diketahui dan berkenaan dengan hasil. Pengetahuan merupakan hasil setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2010).

Pengetahuan dapat menjadi penyebab atau motivator bagi seseorang dalam bersikap dan berperilaku, sehingga dapat pula menjadi dasar dari terbentuknya suatu tindakan yang dilakukan seseorang (Azwar, 2007). Sebelum seseorang melakukan suatu tindakan atau berperilaku baru, terjadi beberapa proses yang berurutan dalam diri mereka seperti :

a. Kesadaran (awareness), yaitu orang mulai menyadari adanya stimulus tertentu atau objek terlebih dahulu.

b. Ketertarikan (interest), di mana seseorang mulai merasa tertarik terhadap stimulus yang ada.

(31)

c. Evaluasi (evaluation), yakni sikap responden seseorang tersebut yang mulai menimbang-nimbang keuntungan atau kerugian dari stimulus tersebut untuk dirinya sendiri.

d. Mencoba (trial), pada proses ini seseorang tersebut telah mulai untuk mencoba perilaku yang baru.

e. Adaption, yaitu proses terakhir di mana seseorang tersebut telah berperilaku yang sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan respon sikapnya terhadap stimulus yang diberikan (Notoatmodjo, 2012).

2. Faktor yang mempengaruhi pengetahuan

Menurut Mubarak (2007), beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang, antara lain yaitu :

a. Umur

Usia sangat penting dikaitkan pada tingkat pengetahuan seseorang. Semakin tua usia seseorang, maka akan semakin banyak pula pengalaman yang dimilikinya, begitu juga sebaliknya. Umur juga dapat mempengaruhi memori dan daya ingat seseorang. Bertambahnya usia seseorang, maka bertambah juga pengetahuan yang akan didapatkan.

b. Pendidikan

Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka akan semakin tinggi pula tingkat pengetahuannya. Hal itu karena dengan semakin tingginya tingkat pendidikan, maka seseorang tersebut juga akan lebih mudah dalam menerima serta menyesuaikan dengan hal-hal baru.

(32)

c. Pekerjaan

Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun tidak langsung.

d. Lama bekerja

Lama bekerja juga berkaitan erat dengan umur dan pendidikan, karena dengan pendidikan yang lebih tinggi maka pengalaman yang didapat juga semakin banyak, begitu juga dengan semakin tua usia seseorang maka akan semakin banyak pula pengalaman yang diperolehnya. Informasi yang diberikan untuk meningkatkan pengetahuan seseorang yang kemudian akan menjadi dasar untuk melakukan sesuatu hal dalam hidup dengan berbagai tujuan.

e. Pengalaman

Pengalaman merupakan suatu kejadian yang pernah dialami seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Ada kecenderungan pengalaman yang baik seseorang akan berusaha untuk melupakan, namun jika pengalaman tersebut menyenangkan maka secara psikologis akan muncul kesan yang membekas dalam emosi sehingga menimbulkan sikap positif.

f. Kebudayaan

Kebudayaan berkaitan dengan lingkungan sekitar, apabila dalam suatu wilayah memiliki budaya untuk menjaga kesehatan keluarga maka sangat mungkin masyarakat sekitarnya akan mempunyai sikap untuk selalu menjaga kesehatan keluarganya juga.

(33)

g. Informasi

Informasi dapat memberikan pengaruh yang cukup besar pada tingkat pengetahuan seseorang. Karena semakin banyak informasi yang diperoleh, maka akan semakin tinggi pula pengetahuan yang didapat oleh seseorang tersebut. Sumber informasi dapat diperoleh dari berbagai media, seperti televisi, radio, atau pun surat kabar.

3. Pengukuran pengetahuan

Pengetahuan dapat diukur dengan cara melakukan tes wawancara serta angket kuesioner, di mana tes tersebut berisikan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang ingin diukur dari subyek penelitian (Notoatmodjo, 2010). Pengukuran tingkat pengetahuan bertujuan untuk mengetahui status pengetahuan seseorang dan dirangkum dalam tabel distribusi frekuensi.

Pengukuran tingkat pengetahuan seseorang dapat dikategorikan sebagai berikut :

a. Tingkat pengetahuan dikatakan baik jika responden mampu menjawab pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar ≥ 75% dari seluruh pernyataan dalam kuesioner.

b. Tingkat pengetahuan dikatakan cukup jika responden mampu menjawab pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar 56 - 74% dari seluruh pernyataan dalam kuesioner.

c. Tingkat pengetahuan dikatakan kurang jika responden mampu menjawab pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar < 55% dari seluruh pernyataan dalam kuesioner (Budiman, 2013).

(34)

B. Sikap 1. Pengertian

Sikap adalah bentuk pernyataan seseorang terhadap hal-hal yang ditemuinya, seperti benda, orang ataupun fenomena. Sikap ini membutuhkan stimulus untuk menghasilkan respon. Adapun output sikap ini akan sangat tergantung pada setiap individu, apabila individu tersebut tertarik maka ia akan mendekat dan apabila tidak suka maka ia akan merespon sebaliknya. Sikap merupakan perasaan mendukung atau memihak (favourable) maupun perasaan tidak mendukung (unfavourable) pada suatu objek. Istilah sikap atau attitude pada awalnya digunakan untuk menunjukkan status mental individu. Sikap individu diarahkan pada suatu hal atau objek tertentu dan masih bersifat tertutup. Sikap dapat menuntun perilaku kita sehingga kita akan bertindak sesuai dengan sikap yang kita ekspresikan. Kesadaran individu untuk menentukan tingkah laku nyata dan perilaku yang mungkin terjadi itulah yang dimaksud dengan sikap (Azwar, 2008).

Komponen-komponen sikap antara lain sebagai berikut : Komponen Kognisi (berupa pengetahuan, kepercayaan, atau pun pikiran yang didasarkan pada informasi yang berhubungan dengan objek), Komponen Afeksi (suatu dimensi emosional dari sikap, yakni emosi yang berhubungan dengan objek, di mana objek yang dirasakan sebagai suatu hal yang menyenangkan atau tidak menyenangkan), dan Komponen Konasi (suatu perilaku di mana ada kecenderungan individu untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap suatu objek,

(35)

peristiwa, atau situasi). Berdasarkan dari ketiga komponen tersebut, maka dapat terbentuklah suatu sikap yang utuh (Notoatmodjo, 2007).

2. Pengukuran sikap

Sikap dapat diukur dengan menanyakan secara langsung pendapat maupun pernyataan responden terhadap suatu objek tertentu. Selain itu dapat dilakukan dengan beberapa pernyataan hipotesis kemudian menanyakan pendapat responden mengenai pernyataan tersebut (Notoatmodjo, 2012).

Pengukuran aspek sikap dapat menggunakan skala Likert. Pengukuran tingkat sikap seseorang dapat dikategorikan sebagai berikut :

a. Tingkat sikap dikatakan baik jika responden mampu menjawab pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar 76 - 100% dari seluruh pernyataan dalam kuesioner.

b. Tingkat sikap dikatakan cukup jika responden mampu menjawab pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar 56 - 75% dari seluruh pernyataan dalam kuesioner.

c. Tingkat sikap dikatakan kurang jika responden mampu menjawab pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar < 56% dari seluruh pernyataan dalam kuesioner (Budiman, 2013).

C. Tindakan 1. Pengertian

Teori tindakan merupakan suatu teori dalam memahami tindakan yang perlu dilakukan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan dalam suatu keadaan. Ketika tindakan sudah menjadi kebiasaan, maka secara otomatis tindakan itu akan

(36)

selalu dijalankan. Namun ketika tindakan sudah tidak efektif maka akan muncul kepedulian pada teori tindakan serta usaha untuk memperbaikinya (Johnson, 2012).

2. Faktor yang mempengaruhi tindakan

Menurut Noorkasiani (2009) tindakan disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor predisposisi yaitu sikap keyakinan, nilai, motivasi, dan pengetahuan. Suatu sikap belum tentu otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain fasilitas dan sarana prasarana.

Pengalaman pribadi haruslah memberi kesan kuat untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap. Sikap dan pengetahuan dapat mempengaruhi tindakan masyarakat.

3. Pengukuran tindakan

Tindakan mempunyai beberapa tingkatan seperti persepsi (perception), respon terpimpin (guided response), mekanisme (mechanism), dan adopsi (adoption) (Notoatmodjo, 2007). Pengukuran tindakan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Pengukuran secara langsung dilakukan dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan yang dijalankan oleh responden. Pengukuran tidak langsung dapat dilakukan dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan dalam rentang waktu tertentu (Notoatmodjo, 2012).

(37)

Pengukuran aspek tindakan dapat menggunakan skala Likert. Pengukuran tingkat tindakan seseorang dapat dikategorikan sebagai berikut :

a. Tingkat tindakan dikatakan baik jika responden mampu menjawab pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar 76 - 100% dari seluruh pernyataan dalam kuesioner.

b. Tingkat tindakan dikatakan cukup jika responden mampu menjawab pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar 56 - 75% dari seluruh pernyataan dalam kuesioner.

c. Tingkat tindakan dikatakan kurang jika responden mampu menjawab pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar < 56% dari seluruh pernyataan dalam kuesioner (Budiman, 2013).

D. Cara Belajar Insan Aktif (CBIA)

Metode Cara Belajar Insan Aktif (CBIA) merupakan metode penyampaian informasi obat yang melibatkan subyek secara aktif yaitu dengan mendengar, melihat, menulis, dan melakukan evaluasi tentang pengenalan jenis obat dan bahan aktif yang dikandung serta informasi lain seperti indikasi, kontra indikasi, dan efek samping (Suryawati, 2009). Metode CBIA ini menjadi metode pembelajaran bagi masyarakat, khususnya para ibu rumah tangga karena berdasarkan banyak survei telah diketahui bahwa ibu rumah tangga adalah “key person” dalam penggunaan obat di rumah. Dengan edukasi melalui metode CBIA

masyarakat diharapkan dapat lebih aktif dalam mencari informasi tentang obat yang digunakan oleh keluarga dan agar masyarakat dapat menyikapi promosi

(38)

iklan obat di pasaran dan mengelola obat di rumah tangga secara benar (Depkes RI, 2008).

Prinsip metode CBIA adalah menimbulkan motivasi atau keinginan seseorang untuk melakukan sesuatu, baik berupa motivasi dari luar (ekstrinsik) ataupun dari dalam (intrinsik) individu itu sendiri, motivasi untuk menemukan sesuatu menempatkan fasilitator sebagai motivator atau pendorong agar minat dan potensi peserta didik dapat berkembang dengan sendirinya. Peserta didik juga dibiasakan untuk memecahkan masalah sendiri (Suryawati, 2003).

Metode intervensi didasarkan pada proses belajar secara mandiri, terdiri dari fasilitator, narasumber, dan peserta didik. Fasilitator dalam hal ini bertugas sebagai pendamping yang memicu jalannya diskusi sehingga minat peserta dapat berkembang, dan bila diperlukan fasilitator dapat membantu menunjukkan peserta didik untuk menemukan jawaban, namun tidak diperkenankan menjawab pertanyaan peserta didik. Narasumber bertugas untuk menjawab pertanyaan dan menjelaskan hal-hal yang tidak dapat ditemukan peserta dalam diskusi.

CBIA mengupayakan peserta belajar secara aktif, merangsang inisiatif belajar sendiri, membekali peserta dengan tingkah laku kritis, memunculkan tindakan atau perilaku untuk mencari informasi dengan proses interaktif. Narasumber sebaiknya adalah seorang apoteker atau dokter, sedangkan fasilitator dapat berasal dari mahasiswa farmasi atau kedokteran. Kegiatan CBIA berupa diskusi kelompok kecil yang terdiri dari 6 – 8 orang setiap kelompok dengan jumlah kelompok maksimum pada setiap intervensi yaitu tidak lebih dari 6 kelompok. Kegiatan diskusi diawali dengan pengarahan dari fasilitator, kemudian

(39)

peserta mempelajari materi atau bahan-bahan yang sudah dipersiapkan seperti modul atau pun kemasan obat sehingga peserta mampu untuk mencari informasi sendiri secara kritis. Rangkuman hasil diskusi dari proses pembelajaran tersebut kemudian disampaikan pada forum besar dengan diceritakan oleh masing-masing kelompok. Selanjutnya hasil temuan peserta didik tersebut segera ditanggapi dengan tambahan penjelasan dari narasumber. Waktu pelaksanaan CBIA ini tidak diperkenankan apabila melebihi waktu yang telah ditentukan yaitu maksimal 4 jam (Suryawati, 2009).

Berdasarkan penelitian Suryawati (2009), metode CBIA telah terbukti lebih efektif dapat meningkatkan pengetahuan pengobatan sendiri dibandingkan dengan masyarakat yang menghadiri seminar besar.

E. Antibiotika

1. Pengertian antibiotika

Antibiotika merupakan zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi, yang dapat membasmi mikroba jenis lain. Tidak hanya berasal dari makhluk hidup, antibiotika juga dapat diproduksi secara sintetis (BPOM, 2008). Obat yang digunakan untuk membasmi mikroba, penyebab infeksi pada manusia, ditentukan harus memiliki sifat toksisitas selektif setinggi mungkin. Artinya, obat tersebut harus bersifat sangat toksik untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksis bagi hospes (Setiabudy, 2008).

(40)

2. Prinsip penggunaan antibiotika

Antibiotika hanya bekerja untuk mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Penggunaan antibiotika secara rasional diartikan sebagai pemberian antibiotika yang tepat indikasi, tepat penderita, tepat obat, tepat dosis, dan waspada terhadap efek samping antibiotika yang dalam arti konkritnya adalah pemberian resep yang tepat atau sesuai indikasi, penggunaan dosis yang tepat, lama pemberian obat yang tepat, interval pemberian obat yang tepat, aman pada pemberiannya, serta terjangkau oleh penderita (Kimin, 2009).

Antimikrobia yang digunakan harus memiliki toksisitas selektif yang tinggi. Artinya, obat tersebut harus bersifat sangat toksik untuk mikroba namun relatif tidak toksik untuk inangnya. Toksisitas selektif bersifat relatif dan tidak mutlak (Depkes, 2011).

Pengobatan sendiri dengan antibiotika yang semakin luas telah menjadi masalah yang penting di seluruh dunia. Salah satunya adalah terjadinya peningkatan resistensi kuman terhadap antibiotika. Hal ini mengakibatkan pengobatan menjadi tidak efektif, peningkatan morbiditas maupun mortalitas pasien dan meningkatnya biaya kesehatan pasien. Dampak tersebut harus ditanggulangi secara efektif sehingga perlu diperhatikan prinsip penggunaan antibiotika harus sesuai indikasi penyakit, dosis, cara pemberian dengan interval waktu, lama pemberian, keefektifan, mutu, keamanan, dan harga. (WHO, 2013).

(41)

3. Resistensi

Resistensi sel mikroba adalah suatu sifat tidak terganggunya kehidupan sel mikroba oleh antibiotika. Sifat ini bisa merupakan suatu mekanisme alamiah untuk tetap mempertahankan diri terhadap efek antibiotika. Timbulnya resistensi terhadap suatu antibiotika terjadi berdasarkan mekanisme seperti mikroba mensintesis suatu enzim inaktivator atau penghancur antibiotika, mikroba mengubah permeabilitasnya terhadap obat, mikroba mengembangkan suatu perubahan struktur sasaran bagi obat, mikroba mengembangkan perubahan jalur metabolik yang langsung dihambat oleh obat, serta mikroba mengembangkan perubahan enzim yang tetap dapat melakukan fungsi metabolismenya tetapi lebih sedikit dipengaruhi oleh obat dari pada enzim pada bakteri yang rentan (Todar, 2011).

Faktor-faktor yang memicu berkembangnya resistensi bakteri terhadap antibiotika adalah penggunaan antibiotika yang sering, penggunaan antibiotika yang irasional, penggunaan antibiotika baru yang berlebihan, dan penggunaan antibiotika dalam waktu yang lama (Pulungan, 2010).

Resistensi antibiotika menjadi masalah kompleks yang dipengaruhi oleh penyalahgunaan antibiotika. Penyalahgunaan antibiotika pada dasarnya dipengaruhi oleh pengetahuan, komunikasi yang efektif antara dokter dan pasien, tingkat ekonomi, karakteristik dari sistem kesehatan suatu negara, dan peraturan lingkungan. Hal yang mendasari terjadinya penyalahgunaan antibiotika dikarenakan banyak pasien percaya bahwa keluaran obat baru lebih baik dibandingkan obat keluaran lama (Pulungan, 2010).

(42)

F. Landasan Teori

Antibiotika adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi, yang dapat membasmi mikroba jenis lain. Antibiotika ini termasuk dalam golongan obat keras sehingga harus menggunakan resep doker untuk memperolehnya. Pengetahuan seseorang mengenai antibiotika dapat mempengaruhi sikap dan tindakan mereka dalam menggunakan antibiotika. CBIA merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memilih obat. Dengan metode ini dilakukan pelatihan yang bertujuan agar masyarakat dapat lebih peka dalam menilai sebuah informasi dan meningkatkan efisiensi penggunaan obat. Selain itu, melalui metode CBIA ini akan dapat mengurangi terjadinya risiko resistensi bakteri yang muncul akibat penyalahgunaan antibiotika, karena metode CBIA sudah terbukti dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat dalam menggunakan obat dan mengurangi penggunaan jumlah obat yang tidak diperlukan.

G. Hipotesis

1. H0 diterima jika tidak terdapat perbedaan tingkat pengetahuan, sikap, dan

tindakan responden mengenai penggunaan antibiotika setelah dilakukan metode CBIA.

2. H1 diterima jika terdapat peningkatan tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan

responden yang signifikan mengenai penggunaan antibiotika setelah dilakukan metode CBIA.

(43)

24 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimental semu, karena peneliti memberikan perlakuan atau intervensi pada responden penelitian tetapi tidak mengubah bentuk fisik responden. Rancangan penelitian yang akan digunakan adalah time series, karena pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan secara berulang dalam waktu tertentu yang ditentukan oleh peneliti.

B. Variabel dan Definisi Operasional 1. Variabel

a. Variable bebas

Metode Cara Belajar Insan Aktif (CBIA). b. Variabel tergantung

Tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan. c. Variabel pengacau terkendali

Informasi yang didapatkan remaja laki-laki sebelumnya baik secara formal ataupun informal, seperti mengikuti kursus, seminar, penyuluhan, dan pendidikan di sekolah.

(44)

d. Variabel pengacau tak terkendali

Informasi yang didapatkan remaja laki-laki sebelum mengikuti CBIA melalui penjelasan dokter, apoteker atau media seperti televisi, radio, internet, dan surat kabar.

2. Definisi operasional

a. Remaja laki-laki adalah siswa laki-laki yang berusia antara 15-17 tahun. b. Tingkat pengetahuan remaja laki-laki mengenai penggunaan antibiotika.

Tingkat pengetahuan remaja laki-laki mengenai antibiotika dapat dikategorikan sebagai berikut :

1) Tingkat pengetahuan dikatakan baik jika responden mampu menjawab pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar ≥ 75% yaitu dengan skor ≥ 13.

2) Tingkat pengetahuan dikatakan cukup jika responden mampu menjawab pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar 56 - 74% yaitu dengan skor 9 - 12.

3) Tingkat pengetahuan dikatakan kurang jika responden mampu menjawab pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar < 55% yaitu dengan skor < 9 (Budiman, 2013).

c. Tingkat sikap remaja laki-laki mengenai penggunaan antibiotika.

Tingkat sikap remaja laki-laki dalam menggunakan antibiotika dapat dikategorikan sebagai berikut :

(45)

1) Tingkat sikap dikatakan baik jika responden mampu menjawab pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar 76 – 100% yaitu dengan skor 31 – 40.

2) Tingkat sikap dikatakan cukup jika responden mampu menjawab pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar 56 – 75% yaitu dengan skor 23 – 30.

3) Tingkat sikap dikatakan kurang jika responden mampu menjawab pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar < 56% yaitu dengan skor ≤ 22 (Budiman, 2013).

d. Tingkat tindakan remaja laki-laki mengenai penggunaan antibiotika. Tingkat tindakan remaja laki-laki mengenai antibiotika dapat dikategorikan sebagai berikut :

1) Tingkat tindakan dikatakan baik jika responden mampu menjawab pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar 76 – 100% yaitu dengan skor 31 – 40.

2) Tingkat tindakan dikatakan cukup jika responden mampu menjawab pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar 56 – 75% yaitu dengan skor 23 – 30.

3) Tingkat tindakan dikatakan kurang jika responden mampu menjawab pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar < 56% yaitu dengan skor ≤ 22 (Budiman, 2013).

(46)

e. Cara Belajar Insan Aktif (CBIA) adalah metode edukasi untuk meningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan responden yang digunakan pada penelitian ini.

f. Pre intervensi adalah keadaan pengetahuan, sikap, dan tindakan responden sebelum dilakukan CBIA.

g. Post intervensi 1 adalah keadaan pengetahuan, sikap, dan tindakan responden sesaat setelah dilakukan CBIA.

h. Post intervensi 2 adalah keadaan pengetahuan, sikap, dan tindakan responden 1 bulan (32 hari) setelah dilakukan CBIA.

i. Post intervensi 3 adalah keadaan pengetahuan, sikap, dan tindakan responden 2 bulan (58 hari) setelah dilakukan CBIA.

C. Populasi, Subjek, dan Kriteria Inklusi Penelitian

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa laki-laki di SMK Negeri 4 Yogyakarta. Subjek penelitian ini adalah remaja laki-laki yang sesuai dengan kriteria inklusi. Subjek penelitian yang sesuai dengan kriteria inklusi yaitu responden berjenis kelamin laki-laki pada rentang usia 12-25 tahun dengan latar belakang pendidikan non kesehatan yang merupakan siswa SMA/SMK di Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, memiliki kemampuan untuk membaca dan menulis serta bersedia mengikuti kegiatan CBIA dan mengisi kuesioner. Kriteria eksklusi subjek penelitian adalah remaja laki-laki yang tidak mengikuti kegiatan CBIA secara lengkap dan tidak bersedia mengisi kuesioner.

(47)

D. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, khususnya dilaksanakan di SMK Negeri 4 Yogyakarta, Jalan Sidikan 60 Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2014 - Februari 2015.

E. Instumen Penelitian

Penelitian ini menggunakan instrumen berupa kuesioner dan booklet atau modul. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini merupakan kuesioner yang dikembangkan dari kuesioner pada penelitian sebelumnya yang sudah tervalidasi (Marvel, 2012). Pengembangan kuesioner tersebut kemudian dikonfirmasi oleh seorang expert judgement. Kuesioner yang akan diberikan terdiri dari dua jenis pernyataan, yaitu :

1. Pernyataan mengenai fakta

Pernyataan-pernyataan pada kuesioner berisi tentang data-data demografi responden seperti nama, usia, jenis kelamin, alamat tempat tinggal, serta latar belakang pendidikan responden.

2. Pernyataan-pernyataan informatif

Tujuan dari pernyataan ini untuk mengetahui jawaban yang diberikan responden mengenai antibiotika. Kuesioner yang disusun pada penelitian ini terbagi menjadi 3 bagian utama, yaitu tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan. Pada bagian pertama kuesioner ini memuat aspek tingkat pengetahuan mengenai antibiotika. Aspek pengetahuan terdiri dari 17 aitem pernyataan yang dibagi menjadi 7 aitem favorable dan 10 aitem

(48)

unfavorable. Tanggapan yang dapat diberikan responden merupakan jawaban forced choice yaitu dengan pilihan jawaban “Ya” dan “Tidak”.

Pada bagian kedua dari kuesioner ini memuat aspek sikap mengenai penggunaan antibiotika. Aspek sikap tersebut terdiri dari 10 aitem pernyataan yang terbagi menjadi 5 aitem favorable dan 5 aitem unfavorable. Tanggapan yang dapat diberikan pada bagian ini menggunakan skala Likert dengan pilihan jawaban “Sangat Tidak Setuju” (STS), “Tidak Setuju” (TS), “Setuju” (S), dan “Sangat Setuju” (SS).

Bagian ketiga kuesioner ini memuat aspek tindakan mengenai penggunaan antibiotika. Dalam aspek tindakan tersebut juga terdapat 10 aitem pernyataan yang terbagi menjadi 5 aitem favorable dan 5 aitem unfavorable. Pada bagian ini tanggapan yang diberikan menggunakan skala Likert dengan pilihan jawaban “Sangat Tidak Setuju” (STS), “Tidak Setuju” (TS), “Setuju” (S), dan “Sangat Setuju” (SS). Berikut ini dapat

dilihat secara terperinci aitem-aitem pada kuesioner berdasarkan pokok bahasan pertanyaan aspek pengetahuan, sikap, dan tindakan pada Tabel I.

Pada penelitian ini juga menggunakan booklet sebagai panduan untuk menjalankan kegiatan CBIA, dan juga dapat berfungsi sebagai modul pembelajaran mengenai antibiotika melalui CBIA.

(49)

Tabel I . Pernyataan Favorable dan Unfavorable pada Pokok Bahasan Aspek Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan

Aspek Pokok Bahasan Nomor Pertanyaan

Favorable Unfavorable

Pengetahuan

a. Pengertian - 1 dan 2

b. Cara penggunaan 4 dan 5 3 dan 9

b. Cara memperoleh 8 -

c. Tempat memperoleh - 10 dan 11

d. Aturan penggunaan 12 dan 13 7 dan 14

e. Resistensi 6 dan 16 15 dan 17

Jumlah Aitem 7 10

Sikap

a. Gaya hidup 5 dan 8 1, 2, 3, dan 4

b. Sumber informasi 6 dan 7 -

c. Tempat memperoleh 9 10

Jumlah Aitem 5 5

Tindakan

a. Gaya hidup 7 1, 2, dan 6

b. Cara penggunaan 4 dan 9 3

c. Efek Samping Obat (ESO) 5 -

d. Resistensi 8 10

Jumlah Aitem 5 5

Total Aitem 17 20

F. Tata Cara Penelitian 1. Studi pustaka

Studi pustaka merupakan langkah awal yang harus dilakukan dalam memulai penelitian ini, yaitu dengan mencari dan membaca informasi dari berbagai literatur atau sumber lain seperti website yang berhubungan dengan antibiotika, tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan, pembuatan kuesioner, metodologi penelitian, statistika, serta perhitungan data-data yang diperlukan.

(50)

2. Analisis situasi

a. Penentuan lokasi penelitian

Pada tahap ini peneliti mulai mengumpulkan data dan informasi tentang lokasi penelitian yang akan digunakan. Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan mengamati beberapa wilayah, kemudian dipilih salah satu kecamatan yang ada di Kota Yogyakarta yaitu Kecamatan Umbulharjo. Setelah itu peneliti juga melakukan survey ke beberapa sekolah menengah yang berada di Kecamatan Umbulharjo hingga terpilihnya SMK Negeri 4 Yogyakarta sebagai lokasi penelitian dan pengambilan data.

b. Perijinan penelitian

Perijinan penelitian dilakukan dengan cara memasukkan surat permohonan ijin dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan proposal penelitian ke kantor Dinas Perizinan Kota Yogyakarta. Kemudian dari Dinas Perizinan Yogyakarta mengeluarkan surat ijin penelitian dengan tembusan yang perlu diserahkan kepada Walikota Kota Yogyakarta, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, dan Kepala Sekolah SMK Negeri 4 Yogyakarta. Surat keputusan izin penelitian diberikan oleh Dinas Perizinan berlaku mulai bulan Oktober 2014 – Januari 2015, yang kemudian diperpanjang hingga bulan Mei 2015.

(51)

3. Penentuan besar sampel

Penentuan besar sampel atau responden dalam penelitian ini menggunakan metode non probability sampling dengan teknik purposive sampling, karena penetapan responden berdasarkan pada kriteria-kriteria inklusi tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti dan hanya dilakukan pada satu lokasi dari awal hingga akhir penelitian (Siregar, 2013). Pada penelitian sosial, pengujian instrumen disarankan sebaiknya melibatkan sebanyak 50 orang (Supratiknya, 2014) atau minimal 30-40 responden (Effendi dan Tukiran, 2012).

Pada pengambilan sampel yang pertama, responden yang diundang sebanyak 52 orang, namun jumlah responden yang hadir hanya 36 orang. Dari hasil pengambilan data yang pertama pada pre dan post intervensi 1, terdapat 6 orang yang harus dieksklusi. Dengan demikian ditetapkan untuk pengambilan data selanjutnya pada post intervensi 2 dan post intervensi 3 menjadi 30 orang responden yang sama ketika pre dan post intervensi 1. Alur pengambilan sampel secara terperinci disajikan pada Gambar 1.

(52)

Gambar 1. Alur penentuan jumlah sampel dalam penelitian Diundang 52 responden Datang 36 responden Inklusi 30 responden Eksklusi 6 responden - 4 responden tidak mengisi kuesioner secara lengkap - 2 responden tidak mengikuti post intervensi 1 Diundang 30 reponden Datang 30 responden Inklusi 30 responden Diundang 30 responden Datang 30 responden Inklusi 30 responden

(53)

4. Pengembangan kuesioner a. Uji validitas instrumen

Pengembangan kuesioner dalam penelitian ini menggunakan uji validitas konten, hal ini bertujuan untuk mengkonfirmasi kembali kuesioner yang telah tervalidasi sebelumnya (Marvel, 2012). Konfirmasi konten kuesioner dalam penelitian ini dilakukan dengan validitas isi oleh expert judgement, yaitu seorang Apoteker. Hasil yang ingin dicapai dari uji validitas ini yaitu untuk memastikan bahwa aitem pernyataan yang akan digunakan dalam kuesioner tetap valid dan dapat mencakup keseluruhan isi serta tidak menyimpang dari konsep serta batasan tujuan pengukuran.

b. Uji pemahaman bahasa

Uji pemahaman bahasa kuesioner dilakukan dengan mengujikan kuesioner yang sudah dibuat kepada beberapa orang dengan kriteria inklusi yang sudah ditentukan yaitu remaja laki-laki yang berusia 12-25 tahun. Pada penelitian ini uji pemahaman bahasa dilakukan kepada 30 responden (siswa laki-laki) di SMA Negeri 2 Yogyakarta. Tujuan dari uji pemahaman bahasa ini untuk mengetahui apakah bahasa yang digunakan dalam kuesioner ini sudah dapat dimengerti oleh responden serta seberapa besar pemahaman responden terhadap maksud dan tujuan pernyataan dalam kuesioner yang dibuat oleh peneliti. Dan hasil yang diperoleh dari uji pemahanan bahasa ini adalah sebagian besar responden sudah mengerti pernyataan-pernyataan yang terdapat dalam kuesioner.

(54)

c. Uji validitas statistik

Validitas aitem pernyataan pada kuesioner ini merupakan hasil dari korelasi aitem total yang menggunakan korelasi Point-Biserial untuk data dikotomus (skor 0 dan 1) pada aspek pengetahuan dan uji korelasi Pearson Product Moment untuk aitem pernyataan dengan alternatif jawaban lebih dari dua seperti pada aspek sikap dan tindakan. Apabila koefisien korelasi mendekati 0 maka dapat dikatakan bahwa terdapat ketidaksesuaian fungsi aitem pernyataan terhadap fungsi tes secara keseluruhan, sedangkan apabila nilai korelasi menunjukkan hasil yang negatif maka pernyataan tersebut tidak dapat digunakan dalam penelitian (Azwar, 2014). Pada penelitian ini terdapat beberapa aitem pernyataan dalam aspek pengetahuan yang harus dihapus, antara lain yaitu aitem nomor 3 (point-biserial = -0,16), nomor 8 (point-biserial = -0,11), dan nomor 13 (point-biserial = -0,05) seperti terlihat pada Lampiran 11. Sementara itu pada aspek sikap dan tindakan, hasil uji korelasi Pearson Product Moment sudah menunjukkan hasil yang baik sehingga tidak perlu ada aitem pernyataan yang dihapus.

d. Uji reliabilitas instrumen

Uji reliabilitas instrumen merupakan suatu pengukuran yang bertujuan untuk menunjukkan stabilitas dan konsistensi dari instrumen penelitian (Jogiyanto, 2008). Semakin tinggi koefisien reliabilitas berarti semakin reliabel juga instrumen tersebut.

(55)

Pada penelitian ini pengukuran uji reliabilitas menggunakan Alpha Cronbach (α) dengan taraf kepercayaan 95%. Uji reliabilitas dilakukan di SMA Negeri 6 Yogyakarta dengan jumlah responden sebanyak 30 orang siswa laki-laki. Suatu kuesioner dapat dikatakan reliabel jika memiliki nilai α > 0,6 (Budiman, 2013). Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa keseluruhan variabel penelitian memiliki konsistensi yang tinggi dan dapat digunakan untuk mengkur variabel yang sama secara berulang seperti yang tertulis pada tabel II.

Tabel II. Hasil Uji Reliabilitas

Variabel Hasil nilai α Keterangan

Pengetahuan 0,63 Reliabel

Sikap 0,65 Reliabel

Tindakan 0,61 Reliabel

Uji reliabilitas pada aspek pengetahuan dilakukan sebanyak dua kali. Hal itu karena pada uji reliablitas yang pertama terdapat beberapa aitem pernyataan dengan hasil korelasi point-biserial yang rendah sehingga hanya menghasilkan nilai α = 0,51. Seleksi aitem dilakukan untuk aspek pengetahuan pada nomor 3 (point-biserial = -0,16), nomor 8 (point-biserial = -0,11), dan nomor 13 (point-biserial = -0,05), dan pada uji reliabilitas yang kedua setelah seleksi aitem nilai α semakin meningkat menjadi 0,63 (reliabel). Sedangkan untuk aspek sikap dan tindakan hanya perlu dilakukan satu kali uji reliabilitas karena sudah langsung didapatkan hasil yang reliabel.

(56)

5. Pelaksanaan Cara Belajar Insan Aktif (CBIA) a. Kerangka konsep

Gambar 2. Kerangka konsep pelaksanaan CBIA

b. Pelaksanaan kegiatan CBIA

Kegiatan CBIA dilaksanakan di Aula SMK Negeri 4 Yogyakarta pada tanggal 18 Desember 2014 pukul 09.00 WIB. Peneliti bekerja sama dengan pihak sekolah mengenai penelitian yang akan dilaksanakan. Dalam kegiatan ini seluruh siswa laki-laki kelas X yang lebih kurang berjumlah 52 orang diundang untuk mengikuti acara, namun jumlah siswa yang hadir hanya 36 orang.

Siswa yang hadir tersebut kemudian dibagi ke dalam 6 kelompok dengan didampingi oleh seorang fasilitator untuk masing-masing kelompok. Setelah itu fasilitator mulai membagikan kuesioner pre-test dan peneliti menjelaskan cara pengisian kuesioner mulai dari informed consent, identitas diri, hingga menjawab setiap aspek pernyataan pengetahuan, sikap, dan tindakan. Setelah dipastikan seluruh responden mengerti dan tidak ada pertanyaan lagi, maka segera dilakukan pre-test

- Pengetahuan - Sikap - Tindakan Intervensi CBIA - Pengetahuan meningkat - Sikap meningkat - Tindakan meningkat

(57)

selama lebih kurang 20 menit. Pre-test dilakukan terlebih dahulu untuk mengetahui keadaan tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan responden mengenai antibiotika sebelum dilakukan intervensi CBIA.

Setelah pre-test selesai dilakukan dan seluruh kuesioner dikumpulkan kepada peneliti agar dapat dicek segala kelengkapan datanya, selanjutnya fasilitator meminta responden untuk memilih salah satu orang dari anggota kelompok untuk menjadi ketua kelompok. Ketua kelompok ini akan bertugas mencatat segala pertanyaan yang muncul dari hasil diskusi lalu menyampaikannya pada saat diskusi kelompok besar bersama narasumber. Kemudian fasilitator mulai membagikan booklet mengenai antibiotika dan memimpin jalannya diskusi dalam kelompok kecil. Fasilitator berperan untuk mendampingi jalannya diskusi namun tidak diperbolehkan untuk menjawab setiap pertanyaan yang diberikan responden, namun fasilitator boleh menunjukkan letak jawaban pertanyaan yang terdapat di dalam booklet. Diskusi dalam kelompok kecil ini berlangsung dalam waktu lebih kurang 45 menit.

Selanjutnya kegiatan ini dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama narasumber dalam kelompok besar, seluruh pertanyaan yang belum terjawab saat diskusi dalam kelompok kecil disampaikan oleh ketua kelompok masing-masing dan kemudian dijawab oleh narasumber yang juga sebagai seorang apoteker. Narasumber dalam kegiatan CBIA ini merupakan seorang apoteker dari IAI yang bernama Didik Sugiarto, S.Si., Apt. Sesi tanya jawab ini berlangsung selama 40 menit. Setelah diskusi

Figur

Memperbarui...

Related subjects :