• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PENGOLAHAN TEPUNG DAUN LAMTORO (Leucaena leucocephala) dalam RANSUM PELLET TERHADAP PERFORMANS KELINCI REX JANTAN LEPAS SAPIH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH PENGOLAHAN TEPUNG DAUN LAMTORO (Leucaena leucocephala) dalam RANSUM PELLET TERHADAP PERFORMANS KELINCI REX JANTAN LEPAS SAPIH"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENGOLAHAN TEPUNG DAUN LAMTORO (Leucaena leucocephala) dalam RANSUM PELLET

TERHADAP PERFORMANS KELINCI REX JANTAN LEPAS SAPIH

SKRIPSI

Oleh :

IIN SUTIANINGSIH 120306023

PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2016

(2)

PENGARUH PENGOLAHAN TEPUNG DAUN LAMTORO (Leucaena leucocephala) dalam RANSUM PELLET

TERHADAP PERFORMANS KELINCI REX JANTAN LEPAS SAPIH

SKRIPSI

Oleh :

IIN SUTIANINGSIH 120306023

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Program Studi Peternakan Fakultas PertanianUniversitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2016

(3)

Judul Penelitian : Pengaruh Pengolahan Tepung Daun Lamtoro (Leucaena leucocephala) dalam Ransum Pellet Terhadap Performans Kelinci Rex Jantan Lepas Sapih

Nama : Iin Sutianingsih

NIM : 120306023

Program Studi : Peternakan

Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Ma’ruf Tafsin, M.Si. Ir. Iskandar Sembiring, M.M.

Ketua Anggota

Mengetahui,

Dr. Ir. Ma’ruf Tafsin, M.Si.

Ketua Program Studi Peternakan

Tanggal lulus :

(4)

ABSTRAK

IIN SUTIANINGSIH, 2016. : “Pengaruh Pengolahan Tepung Daun Lamtoro (Leucaena leucocephala) dalam Ransum Pellet Terhadap Performans Kelinci Rex Jantan Lepas Sapih.” Dibimbing oleh MA’RUF TAFSIN dan ISKANDAR SEMBIRING.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengolahan terbaik terhadap daun lamtoro sehingga tidak memberikan pengaruh negatif terhadap kelinci.

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak Departemen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Jl. A. Sofyan No. 3 Medan, dimulai dari bulan Agustus sampai dengan Oktober 2016. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan terdiri atas penjemuran sinar matahari (P0), oven dengan suhu 700C selama 12 jam (P1), pemanasan lembab dengan suhu 700C selama 15 menit + penjemuran Matahari (P2) dan perendaman selama12 jam + penjemuran Matahari (P3).

Peubah penelitian adalah konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum dan Income Over Feed Cost (IOFC). Hasil penelitian menunjukan bahwa rataan konsumsi (g/ekor/minggu) secara berturut-turut adalah P0, P1, P2 dan P3 sebesar 453,13, 542,43, 439,44 dan 472,03. Pertambahan bobot badan (g/ekor/minggu) sebesar 140,13, 144,05, 118,80 dan 142,10. Konversi ransum (g/ekor/minggu) sebesar 4,6875, 3,575, 5,285 dan 4,87875. Kemudian

Income Over Feed Cost (IOFC) sebesar Rp. 67.337,79, Rp. 68.698,29, Rp. 54.531,47 dan Rp. 67.741,12. Pengolahan tepung daun lamtoro (Leucaena

leucocephala) dalam ransum pellet berupa penjemuran matahari, pengeringan melalui oven, pemanasan lembab dan perendaman tidak berpengaruh terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum dan income over feed cost (IOFC).

Kata kunci : Daun Lamtoro, Pellet, Performans, IOFC, Kelinci Rex Jantan

(5)

ABSTRACT

IIN SUTIANINGSIH, 2016. : "Effect of Leaf Flour Processing Leucaena (Leucaena leucocephala) in the ration Pellet Against Male Performance of Rex Rabbit Wean Off." Guided by MA'RUF TAFSIN and ISKANDAR SEMBIRING.

This study aims to determine the best treatment against leaf lamtoro so it does not negatively affect rabbits. Research conducted at the Laboratory of Animal Biology Department of Animal Husbandry Faculty of Agriculture, University of Sumatera Utara Jl. Sofyan A. No. 3 Medan, from August to October 2016. The design used in this study is completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 5 replications. The treatment consists of drying the sun (P0), oven with a temperature of 700C for 12 hours (P1), warm-humid with a temperature of 700C for 15 minutes + drying of the Sun (P2) and soaking for 12 hours + drying of the Sun (P3).

Variable research is feed consumption, body weight gain, feed conversion and Income Over Feed Cost (IOFC). The results showed that the average consumption (g / head / week) respectively P0, P1, P2 and P3 at 453.13, 542.43, 439.44 and 472.03. Body weight gain (g / head / week) of 140.13, 144.05, 118.80 and 142.10. Feed conversion (g / head / week) of 4,6875, 3,575, 5,285 and 4,87875. Later Income Over Feed Cost (IOFC) Rp. 67337.79, Rp. 68698.29, Rp.

54531.47 and Rp. 67741.12. Processing lamtoro leaf meal (Leucaena leucocephala) in the form of pellet feed the drying sun, through oven drying, heating and soaking moist no effect on feed intake, body weight gain, feed conversion and income over feed cost (IOFC).

Keywords: Leucaena leaves, pellets, Performance, IOFC, Rex Rabbit Males

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Pematang Siantar pada tanggal 11 Juni 1993 dari ayah Sumarji dan ibu Sukinah. Penulis merupakan putri pertama dari tiga bersaudara.Penulis lulus dari SMAN 3 Mandau Kabupaten Bengkalis pada tahun 2011 dan pada tahun 2012 penulis masuk ke Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur SNMPTN tertulis.

Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif sebagai anggota Ikatan Mahasiswa Peternakan (IMAPET), sebagai asisten praktikum di (Laboratorium Tataniaga Ternak, Laboratorium Ilmu Produksi Ternak Unggas dan Laboratorium Perencanaan dan Evaluasi Proyek Peternakan), anggota Himpunan Mahasiswa Muslim Peternakan (HIMMIP) periode 2013-2014.

Penulis melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) di PT. Juang Jaya Abdi Alam yang beralamat di Dusun II Lau Gambir Desa Negara Beringin Kecamatan STM Hilir Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara pada tahun 2015.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Pengaruh Pengolahan Tepung Daun Lamtoro (Leucaena leucocephala) dalam Ransum Pellet Terhadap Performans Kelinci Rex Jantan Lepas Sapih”

Penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua atas doa, semangat dan pengorbanan meterial maupun moril yang telah diberikan selama ini. Kepada Bapak Ma’ruf Tafsin selaku ketua komisi pembimbing dan Bapak Iskandar Sembiring selaku anggota komisi pembimbing yang telah memberikan arahan dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini dan semua pihak yang ikut membantu.

Semoga skripsi ini dapat membantu memberikan informasi dan bermanfaat bagi penelitian dan ilmu pengetahuan serta pelaku usaha bidang peternakan khususnya peternakan kelinci.

(8)

DAFTAR ISI

Hal.

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Tujuan Penelitian ... 3

Hipotesis Penelitian ... 3

Kegunaan Penelitian... 3

TINJAUAN PUSTAKA Potensi Lamtoro Sebagai Pakan Ternak ... 4

Zat Anti Nutrisi Pada Lamtoro ... 5

Pengolahan Daun Lamtoro ... 5

1. Pengeringan Matahari ... 5

2. Pemanasan kering (dry heating)... 6

3. Pemanasan lembab (steamed cooking)... 6

4. Perendaman dalam air selama 12 jam ... 6

Ternak Kelinci ... 6

Kebutuhan Nutrisi Kelinci ... 8

Konsumsi Ransum ... 9

Pertambahan Bobot Badan ... 10

Konversi Ransum ... 12

Income Over Feed Cost (IOFC) ... 12

Teknologi Pengolahan Pakan Berbentuk Pellet ... 13

BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian ... 15

Bahan dan Alat Penelitian ... 15

Bahan ... 15

Alat ... 15

(9)

Metode Penelitian... 15

Susunan Ransum ... 16

Parameter yang diamati ... 17

Konsumsi Pakan ... 17

Pertambahan Bobot Badan (gram/ekor/minggu) ... 17

Konversi Ransum ... 17

Income Over Feed Cost (IOFC) ... 17

Pelaksanaan Penelitian ... 17

Persiapan Kandang ... 17

Pemilihan Ternak ... 18

Pembuatan Tepung Daun Lamtoro(Leucaena leucocephala) ... 18

Penyusunan Pakan dalam Bentuk Pellet ... 18

Pemeliharaan Kelinci ... 19

Pengambilan Data ... 19

Analisis Data ... 20

HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Ransum ... 21

Pertambahan Bobot Badan ... 23

Konversi Ransum ... 26

Income Over Feed Cost (IOFC) ... 27

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 29

Saran ... 29

DAFTAR PUSTAKA ... 30 LAMPIRAN

(10)

DAFTARTABEL

No. Hal.

1. Kadar gizi daging kelinci dibandingkan ternak lainnya ... 7

2. Data produksi dan reproduksi kelinci Rex ... 7

3. Kebutuhan zat gizi kelinci (jlh/Kg atau persen bahan kering) ... 9

4. Pertambahan bobot badan kelinci. ... 11

5. Susunan ransum dari masing-masing perlakuan dalam penelitian ... 16

6. Rataan konsumsi ransum kelinci dalam bahan kering (BK) selama penelitian (g/ekor/minggu) ... 21

7. Rataan pertambahan bobot badan kelinci (g/ekor/minggu) selama penelitian ... 23

8. Rataan rasio konversi ransum kelinci selama penelitian... 26

9. Rataan Income Over Feed Cost (IOFC) selama penelitian ... 28

(11)

DAFTARGAMBAR

No. Hal.

1. Kurva respon pengolahan tepung daun lamtoro terhadap konsumsi

ransum kelinci ... 22 2. Kurva respon pengolahan tepung daun lamtoro terhadap pertambahan

bobot badan kelinci ... 25

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Hal.

1. Pengolahan tepung daun lamtoro ... 33 2. Skema pembuatan pakan berbentuk pelet ... 34

(13)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Lamtoro (Leucaena leucocephala) banyak terdapat di Indonesia dan berpotensi untuk digunakan sebagai pakan ternak, lamtoro mudah dikembangkan dengan biji, mempunyai sistem perakaran yang dalam, tahan terhadap kekeringan, tetap hijau dan bertunas selama musim kering dan mempunyai kandungan nutrisi yang tinggi. Lamtoro mempunyai kandungan protein, mineral, dan asam amino yang seimbang, serta mempunyai serat kasar yang relatif sedikit.

Tanaman lamtoro diketahui banyak mengandung protein dan sangat baik digunakan sebagai pakan ternak. Kandungan nutrisi lamtoro adalah protein kasar

(PK) 23,7%, serat kasar (SK) 18% dan lemak kasar (LK) 5,8%

(Hartadi et al., 2005). Lamtoro mengandung zat anti nutrisi yaitu asam amino non protein yang disebut mimosin, yang dapat menimbulkan keracunan atau gangguan kesehatan apabila dikonsumsi dalam jumlah yang banyak dan terus-menerus dalam jangka waku yang cukup lama. Menurut D’Mello (1988), mimosin terdapat pada biji dan daun spesies Leucaena, kandungannya pada daun lamtoro berkisar 1,40-7,19 g/100 g bahan kering yang lebih tinggi dibandingkan dengan seluruh hijauan, yaitu antara 0,70-3,59 g/100 g.

Upaya penurunan mimosin dalam daun lamtoro dapat dilakukan dengan bantuan tekanan uap, pemanasan (pengeringan atau pelayuan), perendaman, penambahan garam sulfat, penyemprotan dengan alkali, penambahan senyawa analog mimosin, pencucian dan rekayasa genetik untuk mendapatkan varietas baru yang rendah mimosin (Yosef dan Ben-Ghedali, 2000).

(14)

Pakan mempunyai pengaruh yang besar terhadap kecepatan pertumbuhan ternak. Pertumbuhan adalah pertambahan bobot daging, tulang, lemak serta semua bagian badan ternak. Pertumbuhan berlangsung sampai ternak mencapai dewasa, sehingga pemberian pakan yang sesuai dengan kebutuhan, akan meningkatkan kecepatan pertumbuhan yang pada akhirnya diperolehnya bobot potong yang tinggi.

Ternak kelinci semula hewan liar yang sulit dijinakkan. Kelinci dijinakkan sejak 2000 tahun silam dengan tujuan keindahan, bahan pangan dan sebagai hewan percobaan. Hampir setiap negara di dunia memiliki ternak kelinci karena kelinci mempunyai daya adaptasi tubuh yang relatif tinggi sehingga mampu hidup dihampir seluruh dunia. Kelinci dikembangkan di daerah dengan populasi penduduk relatif tinggi.

Pakan kelinci sebagian besar terdiri dari hijauan, salah satunya adalah rumput lapangan. Tetapi pemberian rumput lapangan saja tidak cukup, karena kadar protein yang terkandung dalam rumput lapangan tidak memadai yaitu hanya sebesar 6,7 % (Sumoprastowo, 1985). Oleh karena itu perlu dikombinasikan dengan bahan lainnya.

Berdasarkan uraian tersebut, mimosin dalam lamtoro dapat diturunkan pengaruh negatifnya dengan pengolahan pengeringan matahari, pengeringan oven, pengolahan tekanan uap dan perendaman. Peneliti telah melakukan penelitian untuk mencarikan pengolahan yang lebih efektif dari berbagai macam pengolahan tersebut melalui performans kelinci rex jantan lepas sapih.

(15)

Tujuan Penelitian

Mengetahui pengolahan terbaik diantara pengolahan daun lamtoro dengan pengeringan matahari, pengeringan dengan oven, pengolahan dengan tekanan uap dan perendaman, yang diukur dari performans kelinci rex jantan lepas sapih.

Hipotesis Penelitian

Melalui pengolahan daun lamtoro (Leucaena leucocephala) dengan pengeringan matahari, pengeringan dengan oven, pengolahan dengan tekanan uap dan perendaman dapat berpengaruh mengurangi faktor negatif mimosin terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan Income Over Feed Cost (IOFC) kelinci jantan lepas sapih.

Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat mendukung usaha peternakan melalui pemanfaatan tepung daun lamtoro dan memberikan informasi bagi kalangan akademis, peneliti dan masyarakat tentang pengaruh pengolahan tepung daun lamtoro dalam ransum Pellet terhadap performans kelinci Rex jantan lepas sapih.

(16)

TINJAUAN PUSTAKA

Potensi Lamtoro Sebagai Pakan Ternak

Lamtoro (Leucaena leucocephala) sudah dikenal di Indonesia sejak dulu dengan nama petai cina. Tanaman ini termasuk kacang-kacangan yang berasal dari Amerika Tengah. Tanaman ini dibawa ke Indonesia pada abad ke-20 sebagai tanaman peneduh di perkebunan-perkebunan. Sekarang tanaman ini tersebar di seluruh pelosok pedesaan karena mudah tumbuh di hampir semua tempat yang mendapat curah hujan cukup (Budiman et al., 1994).

Lamtoro (Leucena leucocephala) merupakan salah satu leguminosa pohon yang mengandung protein tinggi yang sangat potensial sebagai pakan ternak non ruminansia seperti kelinci di daerah tropis. Tanaman lamtoro menghasilkan bahan kering sebesar 6–8 ton per hektar per tahun atau sekitar 20-80 ton bahan segar dan kandungan protein kasar hijauan lamtoro cukup tinggi berkisar 25%–30%.

Komposisi kimia daun lamtoro, yaitu berat kering 34,5%, protein kasar 21,5%, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 49,5%, serat kasar 14,3%, lemak 6,5%, abu 6,28%, kalsium 2,7%, dan pospor 0,17% (Siahaan, 1982).

Berdasarkan komposisi kimia tersebut, lamtoro dapat dijadikan sebagai bahan penyusun ransum ternak kelinci, namun penggunaannya terbatas, karena mengandung senyawa mimosin yang dapat mengganggu fungsi biologi ternak (D’Mello dan Acanovic,1988). Tidak normalnya fungsi biologis biasanya ditandai dengan rambut rontok, pertumbuhan lambat, dan pembengkakan kelenjar gondok (Siahaan, 1982).

Lamtoro dapat dimanfaatkan sebagai tanaman pioner, pupuk hijau (penyubur tanah), bahan bangunan, tanaman pinggir jalan, sebagai tanaman

(17)

pelindung, pagar hidup, tanaman pendukung, sebagai pembasmi tanaman herba (alang-alang), pencegah erosi, bahan baku pembuat kertas, bahan bakar dan sebagai sumber hijauan makanan ternak yang berprotein tinggi (Mathius, 1993).

Zat Anti Nutrisi Pada Lamtoro

Mimosin adalah asam amino non protein yang mempunyai struktur hampir sama dengan tirosin. Kandungan mimosin daun lamtoro berkisar 2%-6% dan bervariasi tergantung dengan tingkat kematangannya. Mimosin mengandung senyawa polifenol yang tinggi termasuk tanin akan mengikat protein, sehingga protein menjadi tidak tersedia untuk ternak dan menyebabkan efek negatif terhadap palatabilitas, kecernaan, dan pertumbuhan (Wang et al., 2000). Mimosin merupakan zat anti nutrisi yang berada pada bahan pakan, dimana apabila dikonsumsi oleh ternak dapat menyebabkan penurunan performan ternak tersebut (Widodo, 2005).

Mimosin sebagai asam amino non protein dalam daun lamtoro dengan produk pemecahannya adalah senyawa mimosin mempunyai struktur hampir sama dengan asam amino tirosin. Mimosin pada tingkat molekul akan berfungsi sebagai antagonis tirosin yang dapat menghambat kerja tirosin dan kegunaan enzim.

Secara umum efek negatif mimosin adalah kehilangan nafsu makan, pembesaran kelenjar gondok, performa reproduksi buruk, menekan pertumbuhan dan kematian post-natal (Haque et al., 2008).

Pengolahan Daun Lamtoro 1. Pengeringan matahari

Untuk memperkecil kandungan mimosin dalam daun lamtoro dapat dilakukan dengan mengeringkan di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering.

(18)

Dengan pengeringan, kadar mimosin yang terkandung dalam daun lamtoro akan berkurang, sehingga dapat diberikan sebagai pakan ternak (Suprayitno, 1981).

2. Pemanasan kering (dry heating).

Daun lamtoro segar diratakan di atas wadah, kemudian dipanaskan dalam oven pada suhu 70 °C selama 12 jam (Murthy et al., 1994).

3. Pemanasan lembab (steamed cooking)

Daun lamtoro segar dimasukkan ke dalam kantong plastik kemudian dipanaskan dalam penangas air pada suhu 70 °C selama 15 menit. Setelah itu reaksi dihentikan dengan mengangin-anginkan (Lowry et al., 1983).

4. Perendaman dalam air selama 12 jam

Daun lamtoro segar direndam dalam air, dibiarkan pada suhu kamar selama 12 jam, setelah itu disaring dengan kain, selanjutnya diangin-anginkan (Murthy et al., 1994).

Ternak kelinci

Menurut Kpel (2006) sistem binomial, bangsa kelinci diklasifikasikan sebagai berikut; kingdom : animalia, phylum : chordate, sub phylum : verteberata, classis : mammalian, ordo : lagomorpha, family : leporidae, sub family : leporine, genus : orictolagus, spesies : orictolagus spp.

Berdasarkan bobot badannya, kelinci dapat dikelompokkan menjadi : 1. Jenis besar, kelinci yang termasuk jenis ini memiliki bobot badan 5,5 Kg ke

atas

2. Jenis sedang, kelinci yang termasuk jenis ini memiliki bobot badan 4,5-5,5 Kg 3. Jenis kecil mempunyai bobot badan sampai 3,25 Kg (Kartadisastra, 1994 ).

(19)

Daging kelinci memiliki kadar gizi yang tinggi yaitu protein sebesar 20,8% dan lemak yang rendah sebesar 10,2%. Dibandingkan dengan ternak lain seperti sapi memiliki protein rendah sebesar 16,2% dan lemak tinggi sebesar 22%

seperti yang tertera pada tabel 1.

Tabel 1. kadar gizi daging kelinci dibandingkan ternak lainnya.

Jenis Ternak Protein (%) Lemak (%) Kadar Air (%) Kalori (%)

Kelinci 20,8 10,2 67,9 7,3

Ayam 20,0 11,0 76,6 7,5

Anak Sapi 18,8 14,0 66,0 8,4

Kalkun 20,1 28,0 58,3 10,9

Sapi 16,3 22,0 55,0 13,3

Domba 15,7 27,7 55,8 13,1

Babi 11,9 40,0 42,0 18,9

Sumber : Sarwono (2001)

Rex (ermine rex) merupakan jenis kelinci baru. Rex mulai dikenal di Amerika Serikat sejak tahun 1980-an, sebagai binatang kontes. Awalnya, kelinci ini adalah jenis kelinci hias karena memiliki bulu yang sangat halus seperti beludru, apalagi jika dipelihara di lingkungan yang bersuhu sekitar 5-15oC. Warna bulu bervariasi, mulai dari putih (white rex), biru (blue rex), hitam (black rex) dan bertotol (dalmatian rex). Belakangan, rex mulai diminati sebagai kelinci tipe pedaging karena rasa dagingnya sangat lezat. Kelinci ini mempunyai postur tubuh yang bongsor. Bobot hidup rata-rata mencapai 5 kg (Masanto dan Agus, 2010).

Tabel 2. Data Produksi dan reproduksi kelinci Rex

Data Keterangan

Lama penyapihan 6-8 minggu

Umurdewasa kelamin 2 bulan

Umur dewasa tubuh 4 bulan

Lama bunting 29-32 hari

Lama produksi 1-3 tahun

Bobot dewasa 2,7-3,6 kg

Sumber : Kartadisastra (1994)

(20)

Kebutuhan Nutrisi Kelinci

Secara garis besar, pakan ternak dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu hijauan dan konsentrat. Hijauan ditandai dengan jumlah serat kasar relatif banyak pada bahan keringnya sedangkan secara umum konsentrat mengandung serat kasar lebih sedikit daripada hijauan tetapi mengandung karbohidrat, protein dan lemak yang relatif banyak yang jumlahnya bervariasi dengan jumlah air relatif sedikit (Williamsom dan Payne, 1993).

Pertumbuhan meliputi pertambahan bobot badan per waktu tertentu dan perubahan konformasi dari jaringan tubuh, sesuai umur dan fungsinya sehingga dinyatakan tumbuh-kembang (Hammond dan Browman, 1983). Templeton (1968) menyatakan bahwa pertumbuhan dipengaruhi oleh jumlah dan kualitas ransum.

Kecepatan pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh bangsa, umur, jenis kelamin, bobot sapih dan suhu lingkungan.

Periode pertumbuhan mulai dari penyapihan hingga pemotongan merupakan fase paling efisien dalam mengkonversikan pakan untuk mencapai bobot badan yang diinginkan. Oleh karena itu diperlukan pakan dengan kandungan karbohidrat (energi), protein, lemak vitamin dan mineral yang sesuai untuk pertumbuhannya (Setiawan, 2009).

Ensminger et al. (1990) menyatakan bahwa kelinci membutuhkan enegi metabolisme 2400 Kkal, lemak 3%, protein kasar 15% dan serat kasar 14% untuk pertumbuhannya. Laju pertumbuhan pada anak kelinci akan meningkat cepat pada satu bulan pertama sejak lahir dan akan terus bertambah sampai disapih. Bobot kelinci yang dicapai pada umur delapan minggu adalah 1,38 – 2,1 kg, umur 12 minggu adalah 2,12 – 2,85 kg dan umur 16 minggu adalah 3,28 – 3,83 kg.

(21)

Tabel 3. Kebutuhan zat gizi kelinci (jlh/kg atau persen bahan kering)

Kebutuhan Pertumbuhan Hidup Pokok Bunting Laktasi

Energi (kkal) 2500 2100 2500 2500

TDN (%) 65 55 58 70

Protein (%) 16 12 15 17

Serat Kasar (%) 10-12 14 15 15-20

Lemak (%) 2-3 2 3-3,5 3-3,5

Kalsium (%) 0,4 0,2 0,45 0,75

Pospor (%) 0,22 0,23 0,37 0,5

Sumber : NRC (1997).

Menurut Rasyaf (1990), energi merupakan unsur yang penting bagi ternak.

Bila energi kurang, protein akan diubah menjadi energi dan energi mempunyai cadangan dalam bentuk lemak. Energi berkaitan erat dengan konsumsi protein.

Dimana kebutuhan protein berbeda sesuai dengan umur, tipe dan macam ternak serta produksi ternak tersebut. Singh (1997) mengemukakan bahwa, pakan kelinci terdiri dari 3% lemak. Penambahan lemak sekitar 6% dalam pakan dapat meningkatkan pertumbuhan kelinci. Penambahan lemak akan meningkatkan energi pakan, tetapi tidak ekonomis.

Konsumsi Ransum

Konsumsi ransum adalah sejumlah pakan yang diberikan dikurangi dengan jumlah sisa pakan. Pada umumnya konsumsi ransum kelinci betina akan lebihh besar daripada kelinci jantan. Hal ini disebabkan kelinci betina akan membutuhkan nutrisi yang lebih banyak untuk siklus estrus dan kebuntingan (Poespo, 1986).

Menurut Kartadisastra (1994) konsumsi ransum dipengaruhi kandungan nutrisi dan faktor lain seperti: umur, aktivitas ternak, tingkat produksi, dan pengelolaan serta palatabilitas yang merupakan sifat performans bahan pakan akibat perubahan fisik dan kimiawi yang dicerminkan oleh organoleptik seperti kenampakan, bau, rasa, tekstur dan temperatur.

(22)

Pakan dengan energi tinggi dikonsumsi lebih sedikit dibandingkan pakan dengan kandungan energi rendah. Ditambah lagi, kandungan energi pakan perlu memperhatikan kandungan zat-zat makanan. Meskipun energi terpenuhi, tetapi bila kebutuhan zat-zat makanan lainnya belum terpenuhi sesuai kebutuhan, efisiensi penggunaan pakan menjadi rendah (Suprijatna et al., 2005).

Konsumsi pakan atau jumlah pakan yang dihabiskan oleh seekor ternak dapat dipakai sebagai petunjuk untuk menentukan penampilan seekor ternak.

Tinggi rendahnya kandungan energi pakan akan dapat mempengaruhi banyak sedikitnya konsumsi pakan, di samping itu konsumsi pakan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu palatabilitas, faktor toksik yang dapat menghambat proses metabolisme, dan pakan yang voluminous (bulky), atau pakan yang mengandung serat kasar yang tinggi akan menurunkan jumlah konsumsi pakan (Kamal, 1997).

Jumlah makanan kelinci perhari/ekor : a) bobot 5Kg : 200g, b. bobot 3Kg : 160-170g, c) bobot 2,5Kg, : 120g, d) bobot 7,5Kg: 270g (Reksohadiprojo, 1984).

Tabel 5. Kebutuhan bahan kering kelinci

Periode Bobot (kg) Bahan kering (%) Kebutuhan bahan kering (g/ekor/hari)

Muda 1,8 – 3,2 6,2 – 5,4 112 -173

Dewasa 2,3 – 6,8 4,0 – 3,0 92 -204

Bunting 2,3 – 6,8 5,0 – 3,7 115 – 251

Menyusui 4,5 11,5 520

Sumber : NRC (1977)

Dari penelitian Suradi et al., (2000) yang menggunakan objek kelinci yang diberi ransum mengandung tepung daun lamtoro diperoleh konsumsi ransum berkisar antara 826,98 g/ekor/minggu hingga 900,76 g/ekor/minggu.

Pertambahan Bobot Badan

Pertumbuhan umumnya dinyatakan dengan pengukuran kenaikan bobot badan yang dilakukan dengan cara penimbangan secara berkala dan dinyatakan

(23)

sebagai pertumbuhan berat badan dalam satuan waktu tertentu: tiap hari, tiap minggu atau tiap waktu lainnya. Pertumbuhan mempunyai tahap yang cepat dan tahap yang lambat. Tahap yang cepat terjadi pada saat sampai pubertas dan tahap lambat terjadi pada saat dewasa tubuh telah tercapai (Tillman et al., 1989).

Selama pertumbuhan ada dua hal yang terjadi yaitu peningkatan bobot badan sampai mencapai dewasa yang disebut pertumbuhan dan pertumbuhan konformasi (bentuk tubuh) serta berbagai fungsi dan kesanggupannya untuk melakukan sesuatu menjadi wujud penuh yang disebut perkembangan hampir pada semua hewan, walaupun betina lebih cepat mencapai dewasa namun jantan lebih besar daripada betina dalam kehidupan dewasa (Lawrie, 1995).

ADG (Average Daily Gain) adalah rata-rata percepatan pertambahan bobot badan harian yang diperoleh dengan berat akhir dikurangi berat awal kemudian dibagi lama pemeliharaan. Pertambahan bobot badan kelinci pada umumnya dapat dilihat pada Tabel. 3

Tabel 4. Pertambahan bobot badan kelinci.

Umur Berat Badan (g) Pertambahan Berat Badan (g/hari)

Lahir <3 minggu 45,4-362,2 15,1

3-8 minggu 362,2-1.816,0 41,5

8-14 minggu 1.816,0-3.268,8 33,2

14 minggu – 5 bulan 3.268,8-4.068,0 16,5

Sumber : Reksohadiprojo (1984)

Produksi ternak hanya dapat terjadi apabila konsumsi energi pakan berada di atas kebutuhan hidup pokok. Keragaman konsumsi pakan disebabkan oleh aspek individu, spesies dan bangsa ternak, status fisiologis, kebutuhan energi, kualitas pakan dan kondisi lingkungan (Soebarinoto et al., 1991).

Dari penelitian Kastalani (2013) yang menggunakan objek kelinci lokal jantan diberi diberi ransum mengandung tepung daun lamtoro diperoleh

(24)

pertambahan bobot badan dengan rataan sebesar 98,77 g/ekor/minggu hingga 463,05 g/ekor/minggu.

Konversi Pakan

Konversi pakan adalah jumlah ransum yang habis dikonsumsi ternak dalam jangka waktu tertentu dibandingkan dengan pertambahan bobot badan (bobot akhir dikurangi dengan bobot awal). Semakin baik mutu ransum, semakin kecil pula konversi pakannya (Rasyaf, 1997).

Angka konversi pakan menunjukan tingkat efisiensi penggunaan ransum, yaitu angka konversi pakan semakin besar maka penggunaan ransum kurang ekonomis. Angka konversi pakan dipengaruhi oleh faktor lingkungan (Lestari, 1992).

Konversi pakan mencerminkan keberhasilan dalam memilih atau menyusun ransum yang berkualitas. Nilai konversi pakan minimal dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu : 1) kualitas ransum, 2) teknik pemberian pakan dan 3) angka mortalitas (Abidin, 2002).

Income over feed cost (IOFC)

Income over feed cost (IOFC) adalah selisih antara pendapatan usaha peternakan dikurangi dengan biaya pakan. Pendapatan ini merupakan perkalian antara hasil produksi peternakan (dalam kilogram bobot hidup) dengan harga jual.

Sedangkan biaya pakan adalah jumlah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan pertambahan bobot badan yang diperoleh (Prawirokusumo, 1990).

Untuk memperoleh selisih nilai pendapatan dengan biaya yang tinggi yaitu dengan menekan biaya ransum melalui peningkatan pengawasan terhadap

(25)

pemberian ransum atau melalui pemilihan bibit yang memiliki konversi ransum yang baik (Rasyaf, 2002).

Teknologi Pengolahan Pakan Berbentuk Pellet

Pellet merupakan jenis pakan berbentuk padat yang terdiri atas campuran dari berbagai jenis bahan pakan. Beberapa komponen penyusun pellet khusus kelinci ini, diantaranya ampas tahu, bekatul, jagung, biji-bijian atau kacang- kacangan dan pakan hijauan. Karena kandungan gizinya yang cukup lengkap, pellet dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan gizi kelinci. Penggunaan pakan pellet juga lebih praktis dan dapat membuat kandang tetap terjaga kebersihannya. Pasalnya pakan tidak akan banyak berceceran dan kering. Bagi peternak kelinci yang berminat membeli pakan pellet dapat mencarinya dibeberapa peternakan kelinci yang memproduksi pellet. Namun untuk menghemat biaya, pellet juga dapat dibuat atau diolah sendiri (Priyatna, 2011).

Keuntungan pakan berbentuk pellet adalah 1) meningkatkan desitas pakan sehingga mengurangi keambaan, mengurangi tempat penyimpanan, menekan biaya transportasi, memudahkan penanganan dan penyajian pakan. 2) densitas yang tinggi akan meningkatkan konsumsi pakan dan mengurangi pakan yang tercecer. 3) mencegah “de mixing” yaitu peruraian kembali komponen penyusun pellet sehingga konsumsi pakan sesuai dengan kebutuhan standar (Coleman dan Lawrence, 2000).

Untuk membuat pakan berbentuk crmble atau pellet dari pakan bentuk tepung maka harus dilakukan proses lebuh lanjut. Selain itu juga perlu dilakukan pengujian kepadatan atau kerekatannya jika akan dibuat menjadi pakan berbentuk pellet. Caranya, ambil pakan yang benbentuk secukupnya lalu dijemur. Setelah

(26)

kering kalau pellet yang dihasilkan keras dan tidak mudah ppecah berarti baik.

namun jika pellet kurang keras dan mudah pecah maka dapat diberikat tambahan perekat sintesis (white pellard) atau tepung tapioca. Pertambahan bahan tersebut bertujuan untuk membantu tingkat kekerasan pellet seperti yang diinginkan (Rasidi, 2002).

Maertens dan Villamide (1998), menyatakan bahwa performa kelinci yang diberi pakan berupa pellet lebih baik dibandingkan dengan kelinci yang diberi pakan berupa butiran atau mash, hal ini dikarenakan ternak tidak mempunyai kemampuan untuk menyortir pakan sehingga meningkatkan retensi makanan dalam saluran pencernaan dan dapat menyebbabkan radang usus.

(27)

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Jl. A Sofyan No 3 Medan.

Penelitian ini berlangsung selama 8 minggu dimulai dari bulan Agustus sampai dengan bulan Oktober 2016.

Bahan dan Alat Penelitian Bahan

Bahan yang digunakan yaitu kelinci jantan lepas sapih sebanyak 20 ekor, bahan penyusun ransum terdiri dari tepung jagung, dedak halus, tepung ikan, bungkil kelapa, bungkil kedelai, tepung daun lamtoro (Leucaena leucocephala), top mix, air minum, rodalon sebagai desinfektan, vitamin dan suplemen tambahan.

Alat

Alat yang digunakan adalah kandang individu ukuran p x l x t yaitu 50x50x50cm sebanyak 20 petak, mesin pencetak pellet, mesin grinder, tempat makan dan minum masing-masing 20 unit, thermometer, terpal plastik sebagai alas untuk meramu pellet, timbangan shalter kapasitas 5 Kg, alat penerang, alat kebersihan kandang.

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan sehingga diperoleh 20 unit percobaan.

(28)

Dalam ransum pellet terdapat 30% tepung daun lamtoro dan 70% bahan penyusun pellet lainnya.

Adapun perlakuan yang diteliti adalah sebagai berikut :

P0 : Tepung daun lamtoro dengan penjemuran sinar matahari

P1 : Tepung daun lamtoro dengan pemanasan menggunakan oven (700C selama 12 jam).

P2 : Tepung daun lamtoro dengan pemanasan lembab (700C selama 15 menit) + penjemuran Matahari.

P3 : Tepung daun lamtoro dengan perendaman (12 jam) + penjemuran Matahari.

Susunan Ransum (%)

Tabel 5. Susunan ransum dari masing-massing perlakuan dalam penelitian

Nama Bahan P0 P1 P2 P3

Lamtoro

- Jemur matahari 30 - - -

- Pemanasan oven - 30 - -

- Pemanasan lembab - - 30 -

- Perendaman - - - 30

T. Jagung 20 20 20 20

B. Kedelai 10 10 10 10

B. Kelapa 14 14 14 14

Dedak Halus 10 10 10 10

Molases 10 10 10 10

Minyak Nabati 4 4 4 4

Ultra Mineral 2 2 2 2

Total 100 100 100 100

EM 2.322,08 2.322,08 2.322,08 2.322,08

PK 16,8512 16,8512 16,8512 16,8512

SK 8,628 8,628 8,628 8,628

LK 4,38 4,38 4,38 4,38

Ca 2,0312 2,0312 2,0312 2,0312

P 0,7014 0,7014 0,7014 0,7014

Kombinasi unit perlakuan dalam kelompok sebagai berikut :

P2U1 P1U5 P3U3 P0U2

P1U3 P3U1 P0U4 P1U2

P3U2 P2U5 P1U3 P2U4

P0U4 P0U2 P2U2 P3U1

P1U4 P0U5 P3U1 P2U3

(29)

Model matematika RAL adalah sebagai berikut:

Yij = μ + σi + ∑ij Dimana :

Yij = nilai pengamatan satuan percobaan ke-j yang mendapatkan perlakuan ke-i

μ = nilai tengah

σi = pengaruh dari perlakuan le-i

∑ij = galat percobaan pada satuan percobaan ke-j dalam perakuan ke-i Parameter yang diamati

1. Konsumsi pakan

Dihitung berdasarkan jumlah ransum yang diberikan dikurangi dengan sisa ramsum pada setiap hari. Penimbangan dilakukan setiap hari selama penelitian.

2. Pertambahan Bobot Badan (gram/ekor/minggu)

Diukur berdasarkan selisih bobot badan pada akhir minggu dengan bobot badan pada awal minggu.

3. Konversi Pakan

Diukur berdasarkan perbandingan antara jumlah ransum yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan setiap minggunya.

4. Income Over Feed Cost (IOFC)

Yaitu pendapatan yang diperoleh dari bobot badan ternak (bobot akhir dikalikan dengan harga ternak/Kg) dikurangi dengan biaya pakan (total konsumsi dikali dengan harga pakan.

Pelaksanaan Penelitian 1. Persiapan Kandang

Kandang yang digunakan adalah kandang individu berukuran p x l x t yaitu 50 x 50 x 50 cm sebanyak 20 petak. Kandang dipersiapkan seminggu sebelum

(30)

kelinci masuk kedalam kandang agar kandang bebas dari hama penyakit.

Kandang beserta peralatan seperti tempat pakan dan minum dibersihkan dan didesinfektan dengan menggunakan rodalon.

2. Pemilihan Ternak

Penyeleksian ternak kelinci yang akan digunakan sebagai objek penelitian melalui beberapa syarat sebagai berikut adalah kelinci dalam keadaan sehat, lincah, tidak cacat dilihat dari bentuk kaki yang lurus dan lincah, ekor melengkung ke atas lurus merapat ke bagian luar mengikuti tulang punggung, telinga lurus ke atas dan telinga tidak terasa dingin, mata jernih dan bulu mengkilat. Sebelum kelinci dimasukkan ke kandang, dilakukan penimbangan (setelah pemuasaan 4-6 jam) untuk mengetahuui bobot awal dari masing- masing kelinci kemudian dilakukan random (pengacakan) yang bertujuan untuk memperkecil nilai keragaman. Lalu kelinci dimasukkan ke dalam sebanyak 1 ekor per unit penelitian.

3. Pembuatan Tepung Daun Lamtoro(Leucaena leucocephala)

Pembuatan tepung daun lamtoro dimulai dari pengambilan daun lamtoro, pemisahan antara daun dengan batang lamtoro, penjemuran hingga kering, dan penggilingan daun lamtoro menjadi tepung.

4. Penyusunan Pakan dalam Bentuk Pellet

Bahan penyusun pellet yang digunakan terdiri atas tepung daun lamtoro (Leucaena leucocephala) tepung jagung, dedak halus, tepung ikan, bungkil kelapa, bungkil kedelai, top mix, minyak nabati dan molasses. Bahan yang digunakan ditimbang terlebih dahulu sesuai dengan formulasi pellet yang telah sesuai dengan level perlakuan. Kemudian semua bahan dicampurkan dan

(31)

dibentuk pellet. Setelah berbentuk pellet maka pakan dijemur matahari agar kering dan tidak tengik. Untuk menghindari ketengikan, pencampuran dilakukan 1 kali dalam 2 minggu dan pencampuran dilakukan dengan pengayakan.

5. Pemeliharaan Kelinci

Sebelum kelinci diberikan perlakuan, dilakukan penimbangan bobot awal kelinci kemudian penimbangan kelinci dilakukan seminggu sekali. Pakan dan air minum diberikan secara ad-libitum, penggantian air minum dilakukan pada pagi dan sore hari. Obat-obatan dan vitamin diberikan sesuuai dengan kebutuhan kelinci seperti wormectin untuk obat cacing dan mencret dengan dossis 1cc untuk 8 ekor kelinci, pemberiannya dengan cara menyuntikkan di bagian subkutan, b-complex sebagai vitamin dengan dossis 0,25cc untuk 1 ekor anak kelinci, disuntikkan secara intramuskuler dibagian paha kelinci, dan anti bloat untuk obat mencret dan kembung dengan dossis 1 sendok the untuk 1-3 ekor, pemberiannya melalui mulut. Kandang, tempat pakan dan air minum dibersihkan setiap hari pada pagi hari. Pakan pellet diberikan pada pagi hari (jam 08.00) dan siang hari (jam 14.00) dan rumput lapangan pada sore hari (jam 18.00).

6. Pengambilan Data

Pengambilan data untuk konsumsi ransum dilakukan dengan sekali sehari dan pertambahan bobot badan dilakukan sekali seminggu (g/ekor/hari) selama 8 minggu. Sedangkan untuk mencari IOFC yaitu dengan pendapatan yang diperoleh dari bobot badan ternak (bobot akhir dikalikan dengan harga

(32)

ternak/kg) dikurangi dengan biaya pakan (total konsumsi dikali dengan harga pakan).

7. Analisis Data

Pengujian parameter dilakukan dengan analisis sidik ragam, bila perlakuan berbeda nyata (p<0,05) atau sangat nyata (p<0,01) dilanjutkan dengan uji beda nyata

(33)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Konsumsi Ransum

Konsumsi ransum yaitu sejumlah pakan yang diberikan kepada ternak kemudian dikurangi dengan jumlah sisa pakan. Ransum yang diberikan sudah dikonversikan dalam bentuk bahan kering (total bahan kering dari hijauan dan pellet). Rataan konsumsi bahan kering ransum kelinci dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Rataan konsumsi ransum kelinci dalam bahan kerring (BK) selama penelitian (g/ekor/minggu)

Minggu Ke

Perlakuan Pr > F

P0 P1 P2 P3

I 322,04 298,02 336,26 320,15 0,94

II 364,11 398,51 391,54 419,81 0,51

III 463,56 ab 455,54 ab 432,50 b 515,46 a 0,12

IV 470,18 ab 469,32 ab 426,01 b 509,48 a 0,12

V 463,93 457,14 428,72 460,03 0,63

VI 477,21 482,48 458,29 485,04 0,40

VII 524,39 519,05 511,12 524,51 0,48

VIII 539,65 539,35 531,08 541,72 0,57

Rataan + SD 453,13 + 74,42 542,43 + 75,56 439,44 + 62,31 472,03 + 72,71 Ket : superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukan perbedaan yang nyata

Dapat dilihat pada Tabel 6 bahwa rataan konsumsi tertinggi yaitu pada perlakuan P1 (Tepung daun lamtoro dengan pemanasan menggunakan oven (700C selama 12 jam) sebesar 542,43 + 75,56 g/ekor/minggu dan rataan konsumsi terendah yaitu pada perlakuan P2 (Tepung daun lamtoro dengan pemanasan lembab (700C selama 15 menit) + penjemuran Matahari) sebesar 439,44 + 62,31 g/ekor/minggu.

Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa pengaruh pengolahan tepung daun lamtoro (Leucaena leucocephala) yang dicampur dalam ransum pellet menunjukan hasil yang tidak berbeda nyata terhadap konsumsi. Hal ini

(34)

disebabkan oleh kualitas ransum yaitu mencakup bau, warna dan tekstur. Selain itu juga dipengaruhi oleh aktivitas ternak serta tingkat produksi ternak itu sendiri.

Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Kartadisastra (1994) yang menyatakan bahwa konsumsi ransum dipengaruhi kandungan nutrisi dan faktor lain seperti:

umur, aktivitas ternak, tingkat produksi, dan pengelolaan serta palatabilitas yang merupakan sifat performans bahan pakan akibat perubahan fisik dan kimiawi yang dicerminkan oleh organoleptik seperti kenampakan, bau, rasa, tekstur dan temperatur.

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukan bahwa tingkat konsumsi ransum yang tidak berbeda nyata. Hal ini dapat terjadi karena konsumsi ransum dipengaruhi oleh beberapa faktor beberapa diantaranya yaitu palatabilitas dan faktor toksik yang dapat menghambat proses metabolisme, dan pakan yang voluminous (bulky). Hal ini didukung oleh pernyataan Kamal (1997), yang menyatakan bahwa tinggi rendahnya kandungan energi pakan akan dapat mempengaruhi banyak sedikitnya konsumsi pakan, di samping itu konsumsi pakan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu palatabilitas, faktor toksik yang dapat menghambat proses metabolisme, dan pakan yang voluminous (bulky).

Gambar 1. Kurva respon pengolahan tepung daun lamtoro terhadap komsumsi ransum kelinci 0

100 200 300 400 500 600

1 2 3 4 5 6 7 8

Konsumsi Ransum (g/ekor/minggu)

Minggu Ke

P0 P1 p2 p3

(35)

Berdasarkan kurva tersebut dapat dilihat bahwa peningkatan konsumsi masing-masing perlakuan dapat dikatakan tidak jauh berbeda. Dapat dilihat bahwa pada minggu 1 sampai dengan minggu 3 terjadi peningkatan jumlah konsumsi namun pada minggu 4 sampai minggu 5 terjadi penurunan konsumsi. Selanjutnya minggu 6 sampai minggu 8 terjadi peningkatan dimana setiap perlakuan memiliki tingkat konsumsi yang setara.

Menurut NRC (1997), secara umum jumlah konsumsi bahan kering kelinci usia muda yaitu 112-173 (g/ekor/hari), jadi jumlah konsumsi bahan kering perminggu yaitu 784-1211 (g/ekor/minggu). Konsumsi bahan kering yang diperoleh dalam penelitian ini tidak lebih tinggi ataupun lebih rendah yaitu berkisar antara 439,44 g/ekor/minggu hingga 542,43 g/ekor/minggu jika dibandingkan dengan konsumsi ransum menurut Hariadi et al., (1983), yang menggunakan objek kelinci jantan yang diberi ransum mengandung tepung daun lamtoro diperoleh konsumsi ransum berkisar 430-551 (g/ekor/minggu).

Pertambahan Bobot Badan

Pertambahan bobot badan dapat dihitung berdasarkan bobot badan akhir dikurangkan dengan bobot badan awal. Ratan bobot badan kelinci selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Rataan pertambahan bobot badan kelinci (g/ekor/hari) selama penelitian

Minggu Ke Perlakuan Pr >

P0 P1 P2 P3 F

I 136,00 136,80 173,20 127,80 0,81

II 130,00 b 196,00 a 147,60 ab 199,00 a 0,07

III 156,00 153,80 120,60 161,20 0,67

IV 159,60 159,40 133,00 173,40 0,59

V 173,80 a 112,60 b 121,00 ab 121,80 ab 0,11

VI 157,00 ab 192,60 a 124,80 b 157,80 ab 0,12

VII 130,60 a 93,80 ab 73,60 b 110,00 ab 0,10

VIII 78,00 107,40 56,60 85,80 0,37

Rataan + SD 140,13 + 29,57 144,05+ 38,35 118,8 + 37,70 142,1 + 37,12 Ket : superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukan perbedaan yang nyata

(36)

Dapat dilihat pada Tabel 7 bahwa rataan pertambahan bobot badan tertinggi yaitu pada perlakuan P1 (Tepung daun lamtoro dengan pemanasan menggunakan oven (700C selama 12 jam) sebesar 144,05+ 38,35 g/ekor/minggu dan rataan pertambahan bobot badan terendah yaitu pada perlakuan P2 (Tepung daun lamtoro dengan pemanasan lembab (700C selama 15 menit) + penjemuran Matahari) sebesar 118,80 + 37,70 g/ekor/minggu.

Dapat dilihat pada Tabel 7 bahwa pada minggu ke I, III, IV dan ke VIII rataan tidak berbeda. Namun pada minggu ke II, V, VI, dan VII rataannya berbeda. Dimana pada minggu ke II rataan P0 adalah yang terendah, sedangkan pada minnggu ke V dan VII rataan P0 adalah yang tertinggi. Pada minggu ke II rataan tertinggi yaitu pada P3, sementara pada minggu ke VI rataan tertinggi yaitu pada P2.

Hasil analisis keragaman pertambahan bobot badan menunjukan bahwa pengaruh pengolahan tepung daun lamtoro (Leucaena leucocephala) yang dicampur dalam ransum pellet menunjukan hasil yang tidak berbeda nyata terhadap pertambahan bobot badan. Hal ini disebabkan karena jumlah ransum yang dikonsumsi serta kualitas ransum yang diberikan. Hal ini didukung oleh pernyataan Templeton (1968) yang menyatakan bahwa pertumbuhan dipengaruhi oleh jumlah dan kualitas ransum. Kecepatan pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh bangsa, umur, jenis kelamin, bobot sapih dan suhu lingkungan.

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukan bahwa pengaruh pengolahan tepung daun lamtoro (Leucaena leucocephala) yang dicampur dalam ransum pellet menunjukan hasil yang tidak berbeda nyata terhadap pertambahan bobot badan.. Produksi ternak hanya dapat terjadi apabila konsumsi energi pakan

(37)

berada di atas kebutuhan hidup pokok. Dan tingkat keragaman konsumsi sendiri dipengaruhi oleh tingkat kebutuhan energi setiap ternak, kualitas pakan dan kondisi lingkungan. Hal ini didukung oleh pernyataan Soebarinoto et al., (1991), yang menyatakan bahwa produksi ternak hanya dapat terjadi apabila konsumsi energi pakan berada di atas kebutuhan hidup pokok. Keragaman konsumsi pakan disebabkan oleh aspek individu, spesies dan bangsa ternak, status fisiologis, kebutuhan energi, kualitas pakan dan kondisi lingkungan.

Gambar 2. Kurva respon pengolahan tepung daun lamtoro terhadap pertambahan bobot badan kelinci

Dari kurva diatas dapat kita lihat bahwa pertambahan bobot badan masing- masing memiliki peningkatan yang berbeda. Dapat dilihat pada kurva bahwa masing-masing perlakuan memiliki pertambahan bobot badan yang berubah pada setiap minggunya dimana perubahan yang terjadi cenderung tidak stabil. Ketidak stabilan ini dapat terjadi karena adanya tekanan yang dialami oleh ternak, tekanan tersebut bisa berupa adaptasi ternak terhadap pakan serta perubahan cuaca atau lingkungan sekitar.

Pertambahan bobot badan yang diperoleh dari penelitian ini tidak lebih tinggi ataupun lebih rendah yaitu berkisar antara 118,80 g/ekor/minggu sampai

0 50 100 150 200 250

1 2 3 4 5 6 7 8

PBB (g/ekor/minggu)

Minggu Ke

P0 P1 P2 P3

(38)

144,05 g/ekor/minggu jika dibandingkan dengan penelitian oleh Kastalani (2013) yang menggunakan objek kelinci lokal jantan diberi ransum mengandung tepung daun lamtoro diperoleh pertambahan bobot badan dengan rataan sebesar 98,77 g/ekor/minggu hingga 463,05 g/ekor/minggu.

Konversi Pakan

Konversi pakan dapat dihitung dengan mambagi antara jumlah pakan yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan yang dihasilkan. Dimana jumlah pakan dihitung dalam bentuk bahan kering. Rataan konversi pakan selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Rataan rasio konversi pakan kelinci selama penelitian

Minggu Perlakuan Pr > F

P0 P1 P2 P3

I 2,952 2,286 3,178 2,782 0,86

II 3,058 2,042 3,176 2,606 0,45

III 3,12 3,022 3,664 3,766 0,61

IV 2,996 3,048 3,462 3,11 0,86

V 4,386 4,336 3,574 2,878 0,27

VI 3,12 ab 2,61 b 3,93 a 3,356 ab 0,14

VII 4,288 5,692 10,308 5,232 0,24

VIII 13,58 5,564 10,988 15,300 0,70

Rataan + SD 4,6875 + 3,64 3,575+ 1,44 5,285 + 3,32 4,87875 + 4,29 Ket : superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukan perbedaan yang nyata

Dapat dilihat pada Tabel 8 bahwa rataan konversi ransum tertinggi yaitu pada perlakuan P2 (Tepung daun lamtoro dengan pemanasan lembab (700C selama 15 menit) + penjemuran Matahari) sebesar 5,285 + 3,32 dan rataan terendah yaitu pada perlakuan P1 (Tepung daun lamtoro dengan pemanasan menggunakan oven (700C selama 12 jam ) sebesar 3,575+ 1,44.

Hasil analisa keragaman konversi ransum menunjukan bahwa pengaruh pengolahan tepung daun lamtoro (Leucaena leucocephala) yang dicampur dalam ransum pellet menunjukan hasil yang tidak berbeda nyata terhadap konversi

Referensi

Dokumen terkait

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan kasih karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Pemanfaatan Tepung

Penelitian bertujuan untuk melihat pengaruh dari pemanfaatan tepung Kulit Buah Markisa (KBM) fermentasi Phanerochaete chrysosporium sebagai ransum dalam bentuk pelet

Kontrol Kualitas Pakan Ternak.Laboratorium Makanan Ternak Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.. Komposisi Kandungan

Pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ternak merupakan salah satu.. cara pemecahan masalah biaya tinggi pada

sangat potensial untuk digunakan sebagai bahan pakan ternak termasuk kelinci, karena ampas kelapa masih mudah didapatkan dari sisa pembuatan minyak kelapa.. tradisional dan

Performa Kelinci Potong Jantan Lokal Peranakan New Zeland WhiteYang Diberi Pakan Silase Atau Pelet Ransum Komplit.. Institut

Ditambahkan air kedalam molasses dengan perbandingan air dengan molases 1 : 5 kemudian aduk hingga merata. Pelet dioven 12 jam denga temperatur 50 0 C dan pelet siap

Keseimbangan zat gizi pada pakan dengan yang dibutuhkan oleh ternak. menentukan baik atau tidak