2.1.Teori Keagenan (Agency Theory)
Konsep agency theory menurut Anthony dan Govindarajan (1995, p. 569) yang dikutip oleh Agnes Utari Widyaningdyah (2001) adalah hubungan atau kontrak antara principal dan agent. Principal mempekerjakan agent untuk melakukan tugas untuk kepentingan principal, termasuk pendelegasian otoritas pengambilan keputusan dari principal kepada agent. Pada perusahaan yang modalnya terdiri atas saham, pemegang saham bertindak sebagai principal, dan CEO (Chief Executive Officer) sebagai agent mereka. Pemegang saham mempekerjakan CEO untuk bertindak sesuai dengan kepentinggan principal.
Agency theory memiliki asumsi bahwa masing-masing individu semata- mata termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent. Pihak principal termotivasi mengadakan kontrak untuk menyejahterakan dirinya dengan profitabilitas yang selalu meningkat. Agent termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologisnya, antara lain dalam hal memperoleh investasi, pinjaman, maupun kontrak kompensasi. Konflik kepentingan semakin meningkat terutama karena principal tidak dapat memonitor aktivitas CEO sehari-hari untuk memastikan bahwa CEO bekerja sesuai dengan keinginan pemegang saham.
Principal tidak memiliki informasi yang cukup tentang kinerja agent.
Agent mempunyai lebih banyak informasi mengenai kapasitas diri, lingkungan kerja, dan perusahaan secara keseluruhan. Hal inilah yang mengakibatkan adanya ketidakseimbangan informasi yang dimiliki oleh principal dan agent.
Ketidakseimbangan informasi inilah yang disebut dengan asimetri informasi.
Adanya asumsi bahwa individu-individu bertindak untuk memaksimalkan dirinya sendiri, mengakibatkan agent memanfaatkan adanya asimetri informasi yang dimilikinya untuk menyembunyikan beberapa informasi yang tidak diketahui principal. Asimetri informasi dan konflik kepentingan yang terjadi antara principal dan agent mendorong agent untuk menyajikan informasi yang tidak sebenarnya kepada principal, terutama jika informasi tersebut berkaitan dengan pengukuran kinerja agent.
Berdasarkan penelitian sebelumnya Watts dan Zimmerman (1986) secara empiris membuktikan bahwa hubungan principal dan agent sering ditentukan oleh angka akuntansi. Hal ini memacu agent untuk memikirkan bagaimana angka akuntansi tersebut dapat digunakan sebagai sarana untuk memaksimalkan kepentingannya. Salah satu bentuk tindakan agent tersebut adalah yang disebut sebagai earnings management (manajemen laba).
2.2. Kebijakan Akuntansi Akrual
Dalam akuntansi dikenal istilah basis akrual (accrual basis) dan basis kas (cash basis). Istilah akrual ini digunakan untuk menentukan penghasilan (revenue) pada saat diperoleh dan untuk mengakui beban yang sepadan dengan revenue pada periode yang sama, tanpa memperhatikan waktu penerimaan kas dari penghasilan yang bersangkutan, sedangkan istilah basis kas adalah pengakuan revenue dan beban atas dasar kas yang diterima. Pengertian akrual dapat diartikan lawan dari kas sebagai dasar pengakuan pendapatan dan beban.
“Akrual adalah proses akuntansi dalam pengakuan kejadian non kas dan keadaan-keadaan yang terjadi, secara spesifik, akrual meminta pengakuan revenue dan peningkatan asset, dan expense dan peningkatan utang dalam jumlah yang diharapkan akan diterima atau dibayar, biasanya dalam kas, di masa mendatang”
(Belkaoui, 2000, p. 140).
Ada dua konsep akrual, yaitu : 1. Discretionary accrual
Discretionary accrual adalah pengakuan akrual laba atau beban yang bebas tidak diatur dan merupakan pilihan kebijakan manajemen.
Contoh : Pada akhir tahun buku perusahaan mengetahui bahwa suatu piutang tertentu tidak dapat ditagih, perusahaan dapat melakukan kapan pencatatan kapan piutang tersebut dihapuskan, pada periode buku sekarang atau tahun buku berikutnya.
2. Non Discretionary accrual
Non Discretionary accrual adalah sebaliknya, pengakuan akrual laba yang wajar yang tunduk pada suatu standar atau prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Contoh : Satu fakta yang sama dapat dilaporkan dengan cara yang berbeda, mesin yang sama dapat didepresiasikan dengan dua metode berbeda atau dengan dua estimasi umur ekonomis yang berbeda.
Perbedaan metode atau perbedaan estimasi tersebut akan menghasilkan nilai akhir (laba) yang sedikit berbeda.
2.3. Definisi dan Motivasi Manajemen Laba 2.3.1. Definisi Manajemen Laba
Menurut Schipper (1989) yang dikutip oleh Gumanti (2000) definisi manajemen laba adalah “the purposeful intervention in the external financial reporting process, with the intent of obtaining some private gain” yang artinya campur tangan dengan maksud tertentu dalam proses pelaporan keuangan kepada publik, dengan maksud untuk menghasilkan beberapa tujuan pribadi.
Healy & Wahlen (1998) yang dikutip oleh Gumanti (2000) mendefinisikan manajemen laba sebgai “earnings management occurs when managers use judgement in financial reporting and structuring transactions to alter financial reports to either mislead some stakeholders about the underlying economis performance of the company or to influence contractual outcomes that depend on reported accounting numbers” yang artinya manajemen laba terjadi ketika manajer menggunakan keputusan dalam pelaporan keuangan dan penyusunan transaksi untuk mengubah laporan keuangan dengan salah satu tujuannya menyesatkan beberapa pemegang saham mengenai pokok kinerja ekonomi perusahaan, atau untuk mempengaruhi hasil perjanjian yang berdasarkan nilai keuangan yang dilaporkan.
Scott (2003) mendefinisikan manajemen laba sebagai “earnings management is the choice by a manager of accounting policies so as to achieve some spesific objective” yang artinya manajemen laba adalah pilihan yang dilakukan oleh manajer dalam menentukan kebijakan akuntansi untuk mencapai beberapa tujuan tertentu.
Manajemen laba menurut Scott (2003), berkaitan erat dengan moral hazard dan adverse selection.
Moral hazard “is a type of information asymmetry whereby one or more parties to a business transaction, or potential transaction, can observe their actions in fulfillment of the transaction but other parties cannot” yang artinya jenis dari informasi asimetri karena itu satu atau lebih bagian untuk transaksi bisnis, atau transaksi potensial dapat diamati pada pemenuhan dari transaksi tapi bagian lain tidak bisa.
Adverse selection “is a type of information asymmetry whereby one or more parties to a business transaction, or potential transaction, have an information advantage over other parties” yang artinya adalah jenis dari informasi asimetri karena itu salah satu atau lebih bagian untuk transaksi bisnis atau transaksi potensial, lebih mempunyai keuntungan informasi daripada bagian lain.
Jadi dapat disimpulkan bahwa manajemen laba senantiasa dikaitkan dengan upaya untuk memanaje pendapatan atau keuntungan untuk kepentingan- kepentingan tertentu yang dilandasi oleh faktor-faktor ekonomi tertentu. Dimana upaya untuk memanaje pendapatan atau keuntungan tersebut timbul akibat adanya informasi asimetri yang terjadi antara pihak manajer dan pemilik perusahaan.
2.3.2. Motivasi Manajemen Laba
Menurut Scott (2003, pp. 377-382), terdapat berbagai motivasi mengapa perusahaan, dalam hal ini manajer, melakukan manajemen laba, yaitu :
1. Bonus Plans
Laba sering dijadikan indikator penilaian prestasi manajer perusahaan, dengan cara menetapkan tingkat laba yang harus dicapai dalam periode tertentu. Laba juga dapat mengurangi biaya keagenan (agency cost).
2. Contracting Incentives
Secara umum untuk memenuhi kewajiban-kewajiban kontraktual termasuk perjanjian hutang (debt convenants).
3. Stock Price Effects
Manajer melakukan manajemen laba dalam laporan keuangan bertujuan untuk mempengaruhi pasar, yaitu persepsi investor.
4. Political Motivations
- Untuk mengurangi biaya politis dan pengawasan dari pemerintah, dilakukan dengan cara menurunkan earning.
- Untuk memperoleh kemudahan dan fasilitas dari pemerintah, misalnya subsidi, perlindungan dari pesaing luar negeri, dilakukan dengan cara menurunkan earning.
- Untuk meminimalkan tuntutan serikat buruh, dilakukan dengan car menurunkan earning.
5. Taxation Motivations
Dalam hal ini manajer berusaha menurunkan laba untuk mengurangi beban pajak yang harus dibayar.
6. Changes of Chief Executive Officer (CEO)
Dalam kasus pergantian manajer biasanya di akhir tahun tugasnya, manajer akan melaporkan laba yang tinggi, sehingga CEO yang baru akan merasa sangat berat untuk mencapai tingkat laba tersebut.
Manajemen laba dimungkinkan dilakukan oleh manajer apapun motivasinya, karena manajer memiliki informasi asimetri terhadap pihak eksternal. Menurut Salno dan Baridwan (2000) informasi asimetri terjadi saat manajer memiliki informasi internal relatif lebih banyak dan lebih cepat dibanding pihak eksternal.
Pemilihan metode akuntansi dalam rangka melakukan manajemen laba harus dilakukan dengan penuh kecermatan. Mengenai hal ini Scott (2003, pp. 383- 384) mengemukakan beberapa strategi antara lain :
1. Increasing Income, yaitu dengan mempercepat pencatatan pendapatan, menunda biaya, dan memindahkan biaya untuk periode lain, untuk meningkatkan keuntungan.
2. Big Bath, yaitu dilakukan pada saat perusahaan mengalami kemunduran kinerja atau saat terjadi peristiwa yang tidak terjadi setiap harinya atau peristiwa luar biasa.
3. Income Smoothing, yaitu dengan sengaja menurunkan atau meningkatkan laba untuk mengurangi gejolak dalam dalam pelaporan laba, sehingga perusahaan terlihat stabil atau tidak beresiko tinggi.
2.4. Initial Public Offering (IPO)
Penawaran umum perdana atau sering disebut dengan IPO, diartikan sebagai berikut “an initial public offering (IPO) is the first sale of a corporation’s common share to public investors. The main purpose of an IPO is to raise capital for the corporation. While IPOs are effective at raising capital, they also impose heavy legal compliance and reporting requirements”
(www.wikipedia.org/wiki/ipo.), yang artinya adalah penjualan pertama atas saham perusahaan kepada investor publik. Tujuan utama dari IPO adalah untuk meningkatkan modal perusahaan. IPO selain efektik untuk meningkatkan modal, juga meringankan persyaratan dan pemenuhan pelaporan yang sah.
IPO adalah kegiatan penawaran efek yang dilakukan oleh emiten untuk menjual efek kepada masyarakat (publik) melalui pasar modal. Tujuannya adalah untuk penggalangan dana dalam rangka untuk ekspansi usaha, diversifikasi, memperbaiki struktur keuangan, pengalihan kepemilikan (divestasi) dan lain-lain.
(www.republika.co.id).
2.4.1. Tujuan IPO (Penawaran Umum Perdana)
Tujuan penawaran umum perdana adalah bagian dari prospectus emiten yang berisi pernyataan tentang alasan-alasan atau tujuan dari go publicnya suatu perusahaan. Ada 4 alasan atau tujuan suatu perusahaan yang go public menurut Sunariyah (2001, p. 22) yang dikutip oleh Dodot Moelyono (1999) yaitu :
1. Meningkatkan modal perusahaan
Dari segi perusahaan, dana yang masuk dari masyarakat ke perusahaan akan memperkuat kondisi permodalan yang akan meningkatkan kemampuan perusahaan.
2. Memungkinkan pendiri untuk diversifikasi usaha
Dengan menjual saham pada masyarakat akan memberi indikasi mengenai beberapa harga saham menurut penilaian masyarakat yang dapat memberi kesempatan bagi perusahaan untuk menunaikan seluruh atau sebagian sahamnya dengan laba kenaikan harga saham. Dengan demikian
perusahaan akan memperoleh keuntungan kenaikan harga yang dapat digunakan untuk mengadakan diversifikasi penanaman dananya.
3. Mempermudah usaha pembelian perusahaan lain
Para pemegang saham perusahaan sebelum go public mempunyai kesempatan untuk mencari dana dari lembaga-lembaga keuangan tanpa melepaskan sahamnya. Dengan pinjaman tersebut, dapat dijadikan pembayaran untuk mengambil alih perusahaan lain (share swap, yaitu membeli perusahaan lain tanpa mengeluarkan uang tunai, tetapi membayar dengan saham yang listed di bursa).
4. Nilai perusahaan
Go public memungkinkan masyarakat maupun manajemen mengetahui nilai perusahaan yang tercermin pada kekuatan tawar menawar saham.
Apabila perusahaan diperkirakan sebagai perusahaan yang mempunyai prospek pada masa yang akan datang, maka nilai saham menjadi tinggi dan begitu sebaliknya.
2.4.2. Hal-hal yang Berkaitan dengan IPO Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut : 1. Pendaftaran
2. Persiapan
3. Pihak-pihak yang terkait 4. Waktu (Timing)
5. Biaya
6. Saham yang ditawarkan 7. Keterbukaan (disclosure)
2.4.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan IPO
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan IPO perusahaan. Menurut Dyah R. Permatasari (1994, p. 23), yang dikutip oleh Dodot Moelyono (1999, pp. 38-41), faktor-faktor tersebut meliputi posisi perusahaan di pasar dan prosuk kompetitif yang dimiliki, catatan prestasi perusahaan yang menguntungkan, memiliki kelompok manajemen yang tangguh, manajer senior
tetap mengelola perusahaan, membutuhkan modal jangka panjang, memiliki potensi untuk tumbuh jangka panjang berada di industri yang panas.
Adapun penjelasannya sebagai berikut :
1. Posisi perusahaan di pasar dan produk kompetitif yang dimiliki
Adanya produk kompetitif karena perusahaan tersebut memiliki struktur modal yang kuat. Bila perusahaan sudah mapan dengan produk yang kompetitif dan menjajikan maka kemungkinan besar proses IPO-nya akan sukses pula, apalagi melihat kondisi bursa yang tidak dapat dikelabui dengan data atau laporan yang tidak benar.
2. Catatan prestasi perusahaan yang menguntungkan
Catatan prestasi yang dimaksud lebih banyak pada profitabilitas perusahaan selama masa kira-kira 4 – 5 kwartal terakhir. Investor akan melihat bagaimana kemampuan perusahaan dalam menghasilkan profit terutama untuk waktu-waktu menjelang IPO, dengan melihat hal ini akan menggambarkan apakah perusahaan menjanjikan atau tidak. Syarat perusahaan sebagai “infant industri” bahwa perusahaan tersebut harus menghasilkan produk yang diminati oleh konsumen dan untuk tahun-tahun yang akan datang produk tersebut masih menjadi pilihan.
3. Memiliki kelompok manajemen yang tangguh
Tim manajemen perusahaan yang bagus dan berpengalaman merupakan kerja sama yang solid sehingga akan mempengaruhi kinerja perusahaan, dan hal ini akan menjadi jaminan bagi investor bahwa perusahaan akan tetap bertahan dan sukses.
4. Manajer senior tetap mengelola perusahaan
Selain adanya manajemen yang tangguh, para investor ingin memastikan bahwa tim akan menetap di perusahaan dan tidak menjual sahamnya.
Walaupun ada tim manajemen yang tangguh, manajemen senior sangat dibutuhkan terutama kemampuan dan pengalaman yang dimiliki untuk membantu dalam mengatasi kesulitan yang dihadapi.
5. Membutuhkan modal jangka panjang
Bila perusahaan tidak dapat menyesuaikan kebutuhan akan modal jangka panjangnya, maka investor mungkin tidak akan yakin bahwa saham yang
ditawarkan adalah bagus. Kebutuhan akan modal jangka panjang sangat diperlukan untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan dan sebgai jaminan bagi investor bahwa saham yang dibelinya akan memberikan keuntungan.
6. Memiliki potensi untuk tumbuh dalam jangka panjang
Para investor yang membeli saham yang ditawarkan karena percaya bahwa perusahaan akan mampu tumbuh dalam jangka waktu yang lama. Para investor menghitung keuntungan dari naiknya harga saham dan berharap perushaan akan tetap menghasilkan keuntungan dalam beberapa tahun.
7. Berada di industri yang panas
Keadaan industri tidak selamanya panas dan akan terus mengikuti dan berubah dengan cepat, sehingga perusahaan harus mampu menggunakan keadaan tersebut dengan baik. Dalam artian bahwa perusahaan berada pada industri yang akan berkembang di tahun-tahun mendatang.
8. Kondisi pasar tanggap terhadap IPO yang dilakukan perusahaan
Kondisi bursa dapat berubah secara dramatis dalam waktu yang relatif singkat, oleh sebab itu perusahaan harus dapat menghitung waktu yang paling baik bagi kegiatan IPO-nya agar terdapat sentimen pasar yang besar akan saham yang ditawarkan . Kombinasi antara faktor-faktor pasar dan karakteristik perusahaan dapat menghasilkan IPO yang sukses.
2.5. Manajemen Laba dan IPO
Informasi asimetri antara manajemen perusahaan dan investor potensial sangat tinggi untuk perusahaan yang belum melakukan IPO. Hal ini disebabkan informasi mengenai perusahaan yang belum go public relatif sulit diperoleh oleh investor potensial tersebut. Ketika dilakukan IPO, investor potensial hanya mengandalkan informasi yang terdapat dalam prospektus. Kondisi seperti ini memungkinkan manajemen melakukan manajemen laba untuk meningkatkan kemakmurannya dengan harapan harga saham akan tinggi pada penawaran perdana.
Teoh et al (1998a) yang dikutip oleh Saiful (2004) menemukan discretionary current accrual disekitar IPO lebih tinggi untuk perusahaan yang sedang
melakukan IPO dibandingkan dengan perusahaan yang tidak sedang melakukan IPO (non issuer). Teoh et al (1998a) menyimpulkan perusahaan yang sedang IPO melakukan manajemen laba.
Jain dan Kini (1994) yang dikutip oleh Saiful (2004) menyatakan terdapat penurunan kinerja operasi perusahaan setelah IPO. Penurunan kinerja tersebut merupakan indikasi telah terjadi manajemen laba menjelang IPO dengan menggeser pendapatan periode yang akan datang ke periode sekarang ataupun sebaliknya. Sehingga laba periode sekarang dilaporkan lebih tinggi. Freidlan (1994) yang dikutip oleh Saiful (1994) melakukan penelitian terhadap manajemen laba menjelang IPO dengan menghitung discretionary accruals, menemukan bahwa mean discretionary accruals lebih tinggi menjelang IPO.
Penelitian di Indonesia yang dilakukan oleh Kiswara (1999), Sutanto (2000), Gumanti (2001), Ihalauw & Afni (2002), dan Saiful (2004) memberikan bukti bahwa di Indonesia juga terjadi manajemen laba untuk perusahaan publik.
Kiswara (1999) menemukan indikasi manajemen laba perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta (BEJ), walaupun tidak dapat menunjukkan bukti bahwa ukuran perusahaan, jenis industri, dan jenis penanam modal saling berhubungan. Sutanto (2000) memberikan bukti indikasi manajemen laba perusahaan publik di BEJ.
Penelitian yang dilakukan oleh Gumanti (2001) ini menguji keputusan- keputusan akuntansi yang dilakukan oleh pemilik perusahaan (issuer) yang akan go public sebelum sahamnya diperdagangkan di bursa atau menguji apakah earning management terjadi pada penawaran saham perdana di pasar modal Indonesia. Karena tingkat kesejahteraan issuer tergantung sepenuhnya dari besar kecilnya penerimaan atas penawaran dan karena penerimaan ditentukan oleh harga penawaran, issuer memiliki insentif atau dorongan untuk menawarkan sahamnya setinggi mungkin. Keterbatasan informasi tentang perusahaan yang akan go public menyebabkan tidak ada dasar yang relevan tentang bagaimana harga penawaran ditetapkan. Oleh sebab itu, issuer dan penjamin emisi harus menetapkan harga penawaran dengan informasi non - harga (non – price information). Sementara itu, literature yang berkaitan dengan IPO menyarankan bahwa salah satu sumber informasi yang relevan sebagai dasar penetapan harga atau penilaian suatu IPO adalah informasi keuangan yang terdapat di dalam
prospektus. Karena issuer dan pihak-pihak yang terlibat dalam IPO bertanggung jawab terhadap kebenaran isi informasi di prospektus, yang sebagian besar adalah informasi akuntansi, adalah relevan bila calon invetor memanfaatkan informasi tersebut.
Hasil pengujian terhadap 39 perusahaan IPO yang go public antara tahun 1995 – 1997 dengan menggunakan pendekatan total accruals menunjukkan ada bukti yang kuat atas terjadinya manajemen keuntungan, khususnya pada periode dua tahun sebelum go public. Hal ini berarti issuer telah memilih metode-metode akuntansi yang menaikkan keuntungan yang dilaporkan dengan menerapkan income – increasing discretionary accruals.
Bukti lain menunjukkan bahwa earning management tidak terbukti secara kuat pada periode satu tahun sebelum go public. Pada periode ini, walaupun perubahan total accruals adalah positif dan signifikan, discretionary accruals justru lebih banyak negatif, yaitu 20 perusahaan dari keseluruhan sample perusahaan. Hal ini mengindikasikan bahwa earning management pada periode ini tidak begitu kuat terbukti.
Penelitian yang dilakukan oleh Ihalauw & Afni (2002) ini memperdalam penelitian Gumanti dengan mempertimbangkan kondisi krisis ekonomi dan melihat pengaruh perusahaan terhadap kecenderungan melakukan earning management. Dengan meneliti 16 perusahaan yang go public dan melakukan penawaran perdana saham pada periode 1998 – 2000, diperoleh kesimpulan bahwa, earning management denagn motivasi untuk mempengaruhi harga saham terbukti dilakukan oleh perusahaan, krisis ekonomi tidak meningkatkan kecenderungan untuk melakukan earning management, serta besaran perusahaan juga tidak terbukti mempengaruhi earning management dalam penelitian ini.
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Saiful (2004), bertujuan untuk mengukur manajemen laba di sekitar IPO, kinerja operasi dan return saham setelah IPO, dan hubungan antara manajemen laba dengan kinerja operasi dan return saham setelah IPO. Manajemen laba diukur dengan discretionary accruals, kinerja operasi perusahaan diukur dengan ROA, dan return saham diukur dengan CAR.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan analisis cross – sectional manajemen laba dilakukan pada perioda dua tahun sebelum IPO, saat IPO, dan dua tahun setelah IPO. Secara pooled data manajemen laba tidak dilakukan sebelum IPO dan setelah IPO. Hasil penelitian ini juga menunjukkan secara implicit bahwa manajemen laba tidak dapat dilakukan dua tahun berturut-turut.
Hal ini disebabkan manajemen laba dilakukan dengan mengambil akrual positif satu perioda yang akan datang. Hasil penelitian yang menunjukkan manajemen laba juga terjadi pada perioda IPO, kemungkinan disebabkan oleh keinginan manajemen untuk mencapai laba proyeksi dalam prospektus. Hasil mengenai rendahnya kinerja operasi perusahaan setelah IPO, juga ditemukan bukti bahwa manajemen laba akan berpengaruh untuk kinerja satu dan dua tahun berikutnya.
Penelitian ini juga menemukan rendahnya return saham perusahaan yang terdaftar di BEJ setelah IPO, namun peneliti tidak mampu menemukan adanya hubungan antara rendahnya kinerja saham dengan manajemen laba. Hal ini mungkin disebabkan investor dan analisis pasar modal Indonesia belum mampu mendeteksi manajemen laba.
Berdasar pada rumusan di atas, maka hipotesis pertama dalam penelitian ini adalah :
H1 : Pemilik perusahaan (issuer) melakukan manajemen laba dalam laporan keuangannya pada perioda di sekitar IPO
2.6. Penilaian Kinerja Usaha 2.6.1. Pengertian Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja usaha diukur melalui pengevaluasian laporan keuangan perusahaan, khususnya dengan menggunakan analisa rasio keuangan. Kinerja itu sendiri merupakan prospek pertumbuhan serta potensi dibanding dengan waktu dan perusahaan yang bergerak pada bidang yang sama.
Jadi dengan laporan keuangan dapat diketahui performance perusahaan yang telah dicapai pada periode tertentu dengan mengetahui kinerja suatu perusahaan, ini diharapkan nantinya akan dapat berguna dalam pengambilan keputusan penting, khususnya dalam hal investasi, bila performance suatu
perusahaan itu baik maka dapat dikatakan bahwa perusahaan tersebut telah menjalankan usahanya secara efektif dan efisien.
2.6.2. Pengertian Return on Asset (ROA)
ROA mencoba mengukur efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan seluruh sumber dayanya. Riyanto (1995:336) seperti yang dikutip oleh Wibowo, Y.S. (2002) mengintepretasikan ROA sebagai kemampuan dalam modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham preferen dan saham biasa.
ROA juga diartikan sebagai perbandingan antara laba bersih dengan total asset untuk mengukur tingkat pengembalian investasi total atau dapat juga disebut ROI, sebagaiman dirumuskan :
Laba bersih setelah pajak ROA =
Total aktiva
Kutipan dari Wibowo, Y.S. (2002), rasio ini menunjukkan efektivitas operasional manajemen dalam mendayagunakan sumber dananya untuk menghasilkan keuntungan. Dimana keuntungan tersebut merupakan hasil kegiatan operasional atas penggunaan modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva. Bagi investor, rasio ini merupakan ukuran keberhasilan manajemen dalam mendayagunakan aktivanya secara operasional dalam menghasilkan keuntungan.
Semakin tinggi rasio ini akan menunjukkan keberhasilan kegiatan operasional manajemen menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi atas aktiva yang digunakan.
Dengan demikian rasio ini hanya mengukur efektivitas manajemen laba dalam membuat kebijaksanaan operasional, akan tetapi tidak mempersoalkan efektivitas kebijakan pendanaan. Semakin tinggi laba operasional, maka perusahaan dapat menilai bahwa manajemennya lebih berhasil mengelola perusahaan yang selanjutnya akan meningkatkan harga saham perusahaan di pasar modal.
2.7. Manajemen Laba dan Kinerja Operasi
Perusahaan yang melakukan manajemen laba menjelang IPO telah berusaha menggeser laba perioda yang akan datang ke perioda sekarang, sehingga laba perioda sekarang akan dilaporkan lebih tinggi dibandingkan dengan perioda yang akan datang. Akibatnya laba dan kinerja perusahaan setalah IPO akan turun.
Jain dan Kini (1994) yang dikutip oleh Saiful (2004), menemukan penurunan kinerja perusahaan setelah IPO. Penurunan tersebut juga terjadi untuk market to book ratio, price per earning ratio (PER), dan laba per lembar saham (earning per share).
Loughrab dan Ritter (1997) yang dikutip oleh Saiful (2004), menemukan bukti bahwa terdapat penurunan margin laba dan return on asset perusahaan setelah SEO. Jika dibandingkan dengan perusahaan yang tidak melakukan SEO penurunan tersebut 5,4 % pada perioda 0 dan 2,5 % pada tahun ke empat setelah SEO. Rangan (1998) yang dikutip oleh Saiful (2004), menemukan penurunan kinerja perusahaan setelah SEO dan adanya hubungan yang negatif antara discretionary current accrual dengan return on asset. Teoh et al (1998) yang dikutip oleh Saiful (2004), menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara manajemen laba dan penurunan laba bersih perusahaan setelah SEO.
Hasil dari penelitian Saiful (2004) sendiri menemukan, bahwa manajemen laba dilakukan pada perioda dua tahun sebelum IPO, saat IPO, dan dua tahun setelah IPO. Sedangkan hasil mengenai rendahnya kinerja operasi perusahaan setelah IPO sejalan dengan penelitian Jain dan Kini (1994), bahwa kinerja operasi setelah IPO mengalami penurunan, di samping itu penelitian ini menemukan bukti bahwa manajemen laba akan berpengaruh untuk kinerja satu dan dua tahun berikutnya.
Penelitian di Indonesia yang dilakukan oleh Sulistyanto & Midiastuti (2003) menemukan bahwa jurang informasi yang ada diantara manajemen dan investor di pasar merupakan salah satu motivasi manajer melakukan manipulasi terhadap kinerja dengan menaikkan labanya (income increasing). Sikap oportunistik ini bertujuan untuk menaikkan harapan investor terhadap kinerja perusahaan dimasa depan dan menaikkan harga penawaran. Sikap oportunistik ini dinilai secara ekstrim sebagai sikap curang (fraud) manajemen yang diimplikasikan dalam laporan keungannya pada saat penawaran saham
tambahannya tersebut. Keberhasilan dari sikap ini dinilai ketika manajemen berhasil menyesatkan investor dalam menilai saham yang ditawarkan tersebut.
Walaupun pada periode pasca-SEO terbukti manajemen tidak mampu lagi melanjutkan sikap curangnya yang tercermin dari penurunan kinerja pasca penawaran.
Penelitian ini menemukan bukti bahwa perusahaan yang melakukan penawaran saham tambahan (seasoned equity offerings) mengalami penurunan pasca penawaran tersebut. Hal ini terbukti dari besarnya nilai mean variabel kinerja keuangan dan saham sebelum SEO dibandingkan setelah SEO. Kondisi ini mengindikasikan adanya upaya manajemen untuk memperbaiki kinerja yang dilaporkan dalam prospektus, dengan harapan penawaran saham tambahannya akan direspon secara positif oleh investor di pasar. Walaupun pada periode pasca penawaran penurunan kinerja (underperformance) akan dialami perusahaan sebagai bukti tidak bisa dilanjutkannya manipulasi tersebut tersebut. Penurunan kinerja ini merupakan cermin dari ketidakmampuan manajemen melanjutkan manipulasi yang dilakukan pada saat SEO.
Penelitian yang dilakukan oleh Sulistyanto & Prawoto (2003), hasil penelitian ini mendukung hipotesis yang diajukan, yaitu jika manajer bersikap oportunis maka perusahaan issuer akan mengalami penurunan kinerja (underperformance) pasca penawaran sebagai akibat manajer melakukan rekayasa keuangan. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa manajer perusahaan bersikap oportunis dengan menaikkan labanya (income increasing). Sikap oportunis ini muncul karena terjadinya asimetri informasi (information asymmetri) antara manajer perusahaan dengan investor di pasar.
Sikap oportunis ini bertujuan untuk menaikkan harapan investor terhadap kinerja perusahaan dimasa depan dan menaikkan harga penawaran. Selain itu, penelitian ini juga berhasil membuktikan bahwa perusahaan issuer melakukan rekayasa keuangan lebih agresif dibandingkan non issuer yang dibuktikan dengan rata-rata penurunan kinerja dan discretionary accruals perusahaan issuer lebih besar dibandingkan non issuer. Perbandingkan kinerja ini juga untuk mengeliminir kemungkinan terjadinya penurunan kinerja karena penurunan kondisi perekonomian yang secara umum terjadi di Indonesia. Sehingga walaupun ada
kemungkinan penurunan kinerja perusahaan issuer juga dipengaruhi krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia, namun penurunan kinerja perusahaan issuer akan tetap lebih besar dibandingkan perusahaan non issuer.
Berdasar pada rumusan di atas, maka hipotesis kedua dan ketiga dalam penelitian ini adalah :
H2 : Kinerja operasi perusahaan setelah IPO mengalami penurunan dibandingkan sebelum IPO
H3 : Penurunan kinerja operasi setelah IPO dipengaruhi oleh adanya manajemen laba