• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR LEMPAR LEMBING. DENGAN ALAT BANTU commit PEMBELAJARAN to user PADA SISWA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR LEMPAR LEMBING. DENGAN ALAT BANTU commit PEMBELAJARAN to user PADA SISWA"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

iv

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR LEMPAR LEMBING DENGAN ALAT BANTU PEMBELAJARAN PADA SISWA

KELAS VIII C SMP NEGERI 2 NOGOSARI BOYOLALI TAHUN AJARAN 2010/2011

SKRIPSI

OLEH : SRI LESTARI

K4607054

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA 2011

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR LEMPAR LEMBING DENGAN ALAT BANTU PEMBELAJARAN PADA SISWA

(2)

commit to user

v

KELAS VIII C SMP NEGERI 2 NOGOSARI BOYOLALI TAHUN AJARAN 2010/2011

Oleh:

SRI LESTARI K4607054

Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi

Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

S U R A K A R T A 2011

(3)

commit to user

vi

(4)

commit to user

vii

(5)

commit to user

viii ABSTRAK 

Sri Lestari. UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR LEMPAR LEMBING DENGAN ALAT BANTU PEMBELAJARAN PADA SISWA KELAS VIII C SMP NEGERI 2 NOGOSARI TAHUN AJARAN 2010/2011.

Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juni. 2011.

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar lempar lembing dengan menggunakan alat bantu pembelajaran pada siswa kelas VIII C SMP Negeri 2 Nogosari tahun pelajaran 2010/2011.

Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Sumber data dalam penelitian ini siswa kelas VIII C SMP Negeri 2 Nogosari tahun ajaran 2010/2011 berjumlah 24 orang yang terdiri atas 16 siswa putra dan 8 siswa putri. Teknik pengumpulan data dengan observasi dan penilaian hasil belajar serta kemampuan lempar lembing siswa. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara deskriptif yang didasarkan pada analisis kuantitatif dengan prosentase.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh simpulan bahwa: Penggunaan alat bantu pembelajaran (bola tenis berekor dan roket pralon), dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar lempar lembing pada siswa kelas VIII C SMP Negeri 2 Nogosari. Dari hasil analisis yang diperoleh terjadi peningkatan dari siklus I dan siklus II. Pada siklus I peningkatan kemampuan lempar lembing siswa sebesar 58,33% dan 79,16% pada siklus II. Sikap siswa saat pembelajaran juga meningkat 62,50% pada siklus I dan 83,33% pada siklus II. Pemahaman siswa terhadap materi lempar lembing pada siklus I sebesar 66,66% dan siklus II 87,50%. Hasil belajar lempar lembing pada siklus I dalam kategori tuntas adalah 58,33% jumlah siswa yang tuntas adalah 14 siswa. Pada siklus II terjadi peningkatan prosentase hasil belajar siswa dalam kategori tuntas sebesar 83,33%, siswa yang tuntas 20 siswa.

(6)

commit to user

ix

ABSTRACT

Sri Lestari. STRIVE TO IMPROVE THE RESULT LEARN TO THROW THE JAVELIN BY MEANS OF ASSIST THE STUDY AT STUDENT OF CLASS OF VIII C SMP NEGERI 2 NOGOSARI, BOYOLALI ACADEMIC YEAR 2010/2011

Skripsi, Surakarta: Faculty of Teachership and Education Science, University Sebelas Maret Surakarta, June. 2011.

This research aim to to increase result of learning to throw the javelin by using appliance assist the study at student of class of VIII C SMP Country 2 Nogosari of academic year 2010 / 2011.

This research use the method of Research of Class Action (RCA).

Source of data in this research is student of class of VIII C SMP Negeri 2 Nogosari of school year 2010 / 2011 amounting to 24 one who is consisted of by 16 student putra and 8 student putri. Technique of data collecting with the observation and assessment of result of learning and also ability throw the student javelin. Technique analyse the data used in this research is descriptively is which is relied on by a quantitative analysis with the percentage of.

Pursuant to research result obtained by node that: Appliance usage assist the study (tennis ball go with the tide and rocket the pralon), applicable to improve the result learn to throw the javelin of at student of class of VIII C SMP Country 2 Nogosari. From analysis result obtained happened by the improvement from cycle of I and cycle II. At cycle I of is make-up of ability throw the student javelin of equal to 58,33% and 79,16% at cycle II. Attitude of Student of study moment also mount 62,50% at cycle I and 83,33% at cycle II. Understanding of student to items throw the javelin of at cycle I of equal to 66,66% and cycle II 87,50%. Result learn to throw the javelin of at cycle I in complete category is 58,33% amount of complete student is 14 student. At cycle II happened by the improvement of is percentage of result learn the student in complete category equal to 83,33%, complete student 20 student

(7)

commit to user

x MOTTO

• Tidak ada kegagalan ketika telah mencoba, ketidakberhasilan bukan karena lemah sehingga kalah. Sebab gagal ketika kita tidak pernah mencoba, lemah ketika kita takut untuk mencoba, dan kalah ketika kita menyerah sebelum mencoba

(8)

commit to user

xi

PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan kepada:

♫ SMP Negeri 2 Nogosari, Boyolali

♫ Bapak dan Ibu, yang doanya selalu mengiringi langkahku

♫ Ke3 kakakku yang selalu memudahkanku dan mendukungku

♫ Best friends for me (Agus, Dian, Juli, Hendra, Rosita, Dyah, Arsil) yang selalu ada dan membantu di setiap kelemahanku, karena kalian aku mampu bertahan melewati hari-hariku

♫ Teman-teman Penjas ’07 & teman-teman PPL SMADA ’10

♫ Almamater

(9)

commit to user

xii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang memberi kenikmatan dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini guna memenuhi sebagian persyaratan mendapat gelar Sarjana Pendidikan. Selama pembuatan skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak.

Untuk itu, penulis ucapkan terima kasih kepada:

1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Ketua Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

3. Ketua Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

4. Bapak Drs. Agus Mukholid, M.Pd selaku Pembimbing I dan Ibu Tri Winarti Rahayu, S.Pd, M.Or selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi.

5. Bapak Waluyo, S.Pd, M.Or selaku Pembimbing Akademik yang selalu memberi bimbingan dan arahan selama menjadi mahasiswa di POK.

6. Kepala Sekolah dan Guru Penjas SMP N 2 Nogosari yang telah memberikan ijin penelitian.

7. Siswa kelas VIII C SMP Negeri 2 Nogosari yang telah bersedia menjadi subyek penelitian ini.

8. Teman-teman Penjas ’07 dan berbagai pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Surakarta, 25 Juni 2011

Penulis

(10)

commit to user

x DAFTAR ISI

JUDUL ... i

PENGAJUAN SKRIPSI ... ii

PERSETUJUAN ... iii

PENGESAHAN ... iv

ABSTRAK ... v

MOTTO ... vii

PERSEMBAHAN... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I : PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan dan Indikator Penelitian ... 4

D. Manfaat Hasil Penelitian ... 5

BAB II : KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN ... 6

A. Kajian Pustaka... 6

1. Lempar Lembing... 6

a. Pengertian Lempar Lembing ... 6

b. Teknik Dasar Lempar Lembing ... 7

2. Belajar dan Pembelajaran ... 11

a. Pengertian dan Konsep Belajar ... 11

b. Pengertian dan Konsep Pembelajaran ... 14

c. Prinsip Belajar dan Pembelajaran ... 16

d. Tujuan Belajar... 19

e. Hasil Belajar ... 22

(11)

commit to user

xi

3. Pembelajaran Pendidikan Jasmani ... 24

a. Pengertian Pendidikan Jasmani... 24

b. Tujuan Pendidikan Jasmani... 25

c. Hakekat Pendidikan Jasmani ... 26

d. Program Pembelajaran Lempar di SLTP ... 27

4. Alat Bantu Pembelajaran ... 28

a. Pengertian Alat Bantu Pembelajaran ... 28

b. Fungsi dan Nilai Alat Peraga ( Alat Bantu) ... 29

c. Penerapan Alat Bantu dalam Pengajaran ... 30

d. Pembelajaran Lempar Lembing dengan Alat Bantu Pembelajaran .. 32

B. Kerangka Berpikir... 33

C. Hipotesis Tindakan ... 34

BAB III : METODE PENELITIAN... 34

A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 36

B. Subjek Penelitian ... 36

C. Sumber Data ... 37

D. Teknik Pengumpulan Data ... 37

E. Teknik Analisis Data ... 38

F. Prosedur Penelitian ... 38

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 44

A. Deskripsi Tiap Siklus ... 44

1. Kondisi Awal (Pra Siklus) ... 44

2. Siklus I ... 47

3. Siklus II ... 56

B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 65

1. Peningkatan Kemampuan Lempar Lembing Siswa ... 65

2. Ketuntasan Hasil Belajar Lempar Lembing Siswa ... 67

BAB V : SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN... 73

A. Simpulan ... 73

B. Implikasi ... 73

C. Saran ... 74

(12)

commit to user

xii

DAFTAR PUSTAKA ... 75 LAMPIRAN ... 77

(13)

commit to user

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel

1. Penjabaran Sistematika Hasil Belajar Siswa... 23

2. Rincian Kegiatan Waktu dan Jenis Kegiatan ... 36

3. Teknik Pengolahan Data Penelitian ... 37

4. Prediksi Pencapaian Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa ... 42

5. Deskripsi Data Awal ... 45

6. Deskripsi Data Hasil Observasi Afektif Siswa (Siklus I) ... 51

7. Deskripsi Hasil Tes Kognitif Siswa (Siklus I) ... 52

8. Deskripsi Hasil Unjuk Kerja Siswa (Psikomotor) Siklus I ... 53

9. Deskripsi Hasil Belajar Siswa pada Akhir Siklus I ... 53

10. Deskripsi Data Hasil Observasi Afektif Siswa (Siklus II) ... 61

11. Deskripsi Hasil Tes Kognitif Siswa (Siklus II)... 62

12. Deskripsi Hasil Unjuk Kerja Siswa (Psikomotor) Siklus II ... 62

13. Deskripsi Hasil Belajar Siswa pada Akhir Siklus II ... 63

14. Peningkatan Kemampuan Lempar Lembing Siswa ... 65

15. Perbandingan Nilai Afektif Siswa ... 67

16. Perbandingan Nilai Kognitif Siswa ... 69

17. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Lempar Lembing Siswa... 70

18. Pencapaian Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa ... 71

(14)

commit to user

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar

1. Lembing ... 7

2. Sektor lempar lembing ... 7

3. Pegangan cara Amerika ... 8

4. Pegangan cara Finlandia ... 8

5. Pegangan cara menjepit ... 8

6. Cara membawa lembing ... 9

7. Sikap Lempar ... 10

8. Rangkaian gerakan lempar lembing... 10

9. Diagram Kerangka Berpikir... 34

10. Alur Tahapan Siklus dalam Penelitian Tindakan Kelas... 34

(15)

commit to user

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I ... 77

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II ... 93

3. Lembar Observasi (Perilaku Siswa Saat Pembelajaran) ... 109

4. Lembar Observasi Afektif (Sikap) Lempar Lembing ... 111

5. Lembar Observasi (Kartu Ceria) ...113

6. Lembar Observasi Psikomotor (Unjuk Kerja) Lempar Lembing ... 114

7. Soal Tes Kognitif Lempar Lembing (Siklus I) ... 116

8. Soal Tes Kognitif Lempar Lembing (Siklus II) ... 118

9. Nilai Psikomotor Lempar Lembing Siswa Kelas VIII C SMP N 2 Nogosari Tahun Ajaran 2010/2011 ... 120

10. Nilai Afektif Siswa Kelas VIII C SMP N 2 Nogosari Tahun Ajaran 2010/2011... 121

11. Nilai Kognitif Siswa Kelas VIII C SMP N 2 Nogosari Tahun Ajaran 2010/2011... 122

12. Rekapitulasi Nilai Akhir (Hasil Belajar) Lempar Lembing Siswa Kelas VIII C SMP N 2 Nogosari Tahun Ajaran 2010/2011 ... 123

13. Dokumentasi Penelitian ... 124

(16)

commit to user

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif, dan kecerdasan emosi. Tujuan yang ingin dicapai melalui pendidikan jasmani mencakup pengembangan individu secara menyeluruh. Artinya, cakupan pendidikan jasmani tidak hanya pada aspek jasmani saja tetapi juga aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Selain itu pendidikan jasmani juga mencakup aspek mental, emosional, sosial, dan spiritual. Pendidikan jasmani diajarkan dari tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), bahkan di Perguruan Tinggi.

Dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani, diajarkan beberapa macam cabang olahraga yang terangkum dalam kurikulum pendidikan jasmani. Salah satu cabang olahraga yang diajarkan adalah atletik. Atletik adalah salah satu materi pokok yang wajib diajarkan dalam pendidikan jasmani. Nomor- nomor atletik yang diajarkan meliputi jalan, lari, lompat dan lempar. Dari tiap- tiap nomor tersebut di dalamnya terdapat beberapa nomor yang dilombakan.

Untuk nomor lari terdiri dari: lari jarak pendek, jarak menengah, jarak jauh atau marathon, lari gawang, lari sambung dan lari lintas alam. Nomor lompat meliputi lompat jauh, lompat tinggi, lompat jangkit, lompat tinggi galah. Nomor lempar meliputi lempar cakram, lempar lembing, tolak peluru dan lontar martil.

Lempar lembing merupakan salah satu cabang atletik yang diberikan pada semua jenjang sekolah tidak terkecuali Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Materi lempar lembing tercantum dalam silabus pembelajaran kelas VIII semester genap. Siswa dituntut untuk dapat mencapai indikator-indikator yang telah ditentukan. Namun, berdasarkan hasil observasi peneliti siswa kelas VIII C SMP

(17)

commit to user

N 2 Nogosari masih kesulitan dalam melakukan serangkaian gerakan lempar lembing. Hal tersebut didukung oleh pencapaian hasil belajar lempar lembing siswa yang masih rendah, dari 24 siswa hanya 7 siswa saja yang mampu memenuhi target pencapaian lempar lembing. Rata-rata kelas menunjukkan hanya 29.16% dari jumlah siswa mendapatkan nilai tuntas.

Banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar siswa antara lain kurang kreatifnya guru Pendidikan jasmani di sekolah dalam membuat dan mengembangkan media pembelajaran sederhana, guru miskin akan model-model pembelajaran, sehingga dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah dilaksanakan dalam situasi dan kondisi yang monoton, guru hanya menggunakan metode ceramah dan metode tugas, karena mereka hanya mengejar bagaimana materi pelajaran tersebut dapat selesai tepat waktu, tanpa memikirkan bagaimana pembelajaran itu bermakna dan dapat diaplikasikan oleh siswa dalam kesehariannya.

Di lain pihak hasil pengamatan penulis di kelas VIII C SMP N 2 Nogosari menunjukan proses pembelajaran belum melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan belajar dan pembelajaran. Proses belajar mengajar hanya didominasi oleh beberapa siswa saja, hal ini menunjukan kurang efektifnya suatu metode dalam proses belajar dan pembelajaran yang diterapkan oleh guru dan kurangnya tingkat partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Akibatnya hanya sebagian siswa saja yang secara aktif mengikuti proses pembelajaran, sedangkan beberapa siswa masih asyik bercanda, ngobrol dengan teman, atau bermain sendiri dilapangan tanpa menghiraukan apa yang dijelaskan oleh guru. Kurangnya partisipasi siswa dalam mengikuti pelajaran akan menurunkan tingkat keberhasilan siswa dalam belajar oleh karena itu diperlukan suatu tindakan yang mampu melibatkan partisipasi siswa dan sekaligus dapat digunakan untuk mempermudah siswa dalam mengikuti proses pembelajaran demi tercapainya tujuan pembelajaran yang direncanakan.

Faktor lain dalam pengajaran pendidikan jasmani yang dianggap membosankan dan kurang disenangi adalah model pembelajaran guru yang tidak menyesuaikan dengan karakteristik, kemampuan, dan perkembangan anak. Guru

(18)

commit to user

pendidikan jasmani mengajarkan materi dan memperlakukan siswa sama dengan orang dewasa. Pendidikan Jasmani untuk Sekolah Menengah Pertama seharusnya berbeda dengan orang dewasa. Kegiatan jasmani merupakan sebuah kegiatan yang perlu diprogramkan dengan pengelolaan yang benar melalui pendekatan pertumbuhan dan perkembangan anak. Untuk itu setiap anak memiliki ciri dan sifat yang khas yang harus diberikan perlakuan yang khas pula. Bila orang dewasa memiliki kegiatan jasmani dalam bentuk olahraga dengan fasilitas yang standar, maka anak-anak memerlukan implementasi kegiatan jasmani dengan segala peralatannya yang khas sesuai dengan ciri dan sifat anak tersebut.

Kondisi ini sangat diperlukan agar anak dapat melakukan kegiatan jasmani dan olahraga sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya. Upaya untuk menyesuaikan pembelajaran pendidikan jasmani dengan karakteristik, kemampuan, dan perkembangan siswa SMP, dapat dilakukan melalui pembelajaran pendidikan jasmani yang dimodifikasi. Untuk mewujudkan suatu kondisi pembelajaran pendidikan jasmani yang memaksimalkan pengalaman belajar siswa, diperlukan alat-alat bantu pembelajaran dalam jumlah yang memadai, bila sekolah tidak memiliki peralatan, guru pendidikan jasmani bersama siswa dapat membuat peralatan sederhana.

Dalam penelitian ini, modifikasi pendidikan jasmani difokuskan pada sarana yang digunakan yaitu alat bantu pembelajaran. Secara umum kendala yang sering dihadapi guru dalam pembelajaran lempar lembing adalah pada sarana yang ada. Penggunaan alat yang sebenarnya memerlukan pengawasan yang sangat ketat. Sehingga ketika ada siswa yang mencoba melakukan lemparan, guru hanya memfokuskan pada siswa tersebut. Sedangkan siswa lainnya hanya menjadi penonton. Apabila proses pembelajaran teknik dasar lempar lembing dilaksanakan apa adanya, guru pendidikan jasmani tidak akan mampu menciptakan suatu strategi pembelajaran yang baik. Akibatnya pengalaman belajar siswa sangat kurang sekali. Artinya kesempatan belajar yang diperoleh untuk menguasai teknik-teknik dasar lempar lembing hanya beberapa kali saja. Di sisi lain alokasi waktu yang tersedia yang semestinya digunakan oleh siswa untuk memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, karena faktor alat yang riskan bahaya,

(19)

commit to user

malah lebih banyak digunakan untuk mengambil lembing yang dilempar jauh, dan menunggu giliran untuk melempar.

Tujuan penggunaan alat bantu pembelajaran lembing ini ialah agar siswa lebih tertarik, senang dan mudah menguasai teknik dasar lempar lembing.

Setidak-tidaknya sifat kaku tradisional yang terikat pada peraturan dan teknik dasar praktik pembelajaran lempar lembing, untuk sementara dapat diabaikan.

Guru dalam mengajarkan lempar lembing harus selalu memikirkan tentang bagaimana bagian dari materi pelajaran lempar lembing dapat dibuat semenarik dan menyenangkan mungkin.

Dalam penelitian ini, modifikasi pendidikan jasmani di fokuskan pada media/alat yang berupa alat bantu pembelajaran lempar lembing yang bisa dimanfaatkan dalam penyampaian materi lempar lembing. Sehingga dapat membantu siswa dalam meningkatkan hasil belajar lempar lembing. Dari uraian tersebut peneliti mengambil judul “ Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Lempar Lembing Dengan Alat Bantu Pembelajaran Pada Siswa Kelas VIII C SMP N 2 Nogosari Tahun Ajaran 2010/2011”

B. Rumusan Masalah

Bertolak dari permasalahan yang diuraikan di atas dapat dirumuskan sebagai berikut : “ Bagaimanakah penggunaan alat bantu ( bola tenis berekor dan roket pralon ) dalam pembelajaran penjasorkes dapat meningkatkan hasil belajar lempar lembing siswa kelas VIII C SMP N 2 Nogosari tahun ajaran 2010/2011?”

C. Tujuan dan Indikator Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah yang telah disampaikan maka, tujuan penelitian ini adalah: Untuk mengetahui peningkatkan hasil belajar lempar lembing pada siswa kelas VIII C SMP N 2 Nogosari, tahun ajaran 2010/2011, melalui penggunaan alat bantu pembelajaran berupa bola tenis berekor dan roket pralon.

(20)

commit to user

D. Manfaat Hasil Penelitian

Setelah penelitian ini selesai, diharapakan mempunyai manfaat sebagai berikut :

1. Bagi Lembaga Pendidikan (Instansi)

Sebagai bahan masukan/saran untuk mengembangkan strategi belajar mengajar yang tepat dalam rangka untuk meningkatkan kualitas proses dan kualitas hasil belajar siswa ataupun mutu lulusan.

2. Bagi Guru

a. Memotivasi kreatifitas guru di sekolah dalam membuat dan mengembangkan media pembelajaran sederhana.

b. Sebagai bahan masukan/ saran bagi guru dalam memilih alternatif pembelajaran yang dapat meningkatkan keterlibatan atau partisipasi siswa dalam proses pembelajaran

3. Bagi Siswa

Memacu siswa agar lebih berpartisipasi dan berperan serta secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar agar mendapatkan hasil belajar yang lebih baik dan dapat meningkatkan prestasi belajarnya.

(21)

commit to user

6  

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Kajian Pustaka

1. Lempar Lembing

a. Pengertian Lempar Lembing

Lempar lembing adalah salah satu nomor yang terdapat dalam nomor lempar pada cabang olahraga atletik. Menurut Aip Syarifuddin (1992:169)

“Lempar lembing adalah suatu gerakan melempar suatu alat yang berbentuk panjang dan alat dengan berat tertentu yang terbuat dari kayu, bambu, maupun metal (untuk perlombaan) yang dilakukan dengan satu tangan untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya sesuai dengan peraturan yang berlaku”.

Menurut Muhajir (2007:67) pengertian lempar lembing adalah

“merupakan salah satu kemampuan dalam melemparkan benda berbentuk lembing, sejauh mungkin”. Sedangkan menurut Soenarjo Basoeki (2003:89) lempar lembing adalah “salah satu nomor perlombaan dalam kelompok lempar di dalam cabang olahraga atletik”. Dari pengertian yang telah diberikan para ahli tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian lempar lembing adalah salah satu nomor lempar dalam perlombaan atletik yang melemparkan benda berbentuk lembing, untuk mencapai jarak sejauh mungkin.

Sedangkan lembing merupakan suatu benda yang terdiri dari mata lembing,badan lembing dan tali pegangan lembing. Mata lembing terbuat dari metal,badan lembing terbuat dari kayu atau metal atau bambu. Badan lembing yang terbuat dari metal dipergunakan dalm perlombaan resmi nasional ataupun internasional, dalam pendidikan biasa menggunakan bambu. Tali lembing terletak melilit pada titik pusat lembing.

(22)

commit to user

Gambar 1. Lembing (Soenarjo Basoeki, 2003: 92)

Unsur gerak dan tujuan dari proses gerakan menjadi bagian dari kegiatan melempar. Kedua hal tersebut merupakan satuan yang utuh dan berupa gerakan yang sering disebut teknik melempar lembing, yang selanjutnya diungkapkan dalam teknik lempar lembing.

Kemampuan seorang atlet dalam melempar lembing dipengaruhi faktor eksternal yang berupa lapangan dan alat lembing. Suatu cara mengatasi tahanan eksternal ini,dapat diatasi dengan berlatih secara intensif. Adapun lapangan atau sektor lembing adalah sebagai berikut,

Gambar 2. Sektor lempar lembing (Soenarjo Basoeki, 2003: 93)

b. Teknik Dasar Lempar Lembing

Teknik merupakan pelaksanaan gerakan secara efektif dan rasional yang memungkinkan pencapaian hasil yang maksimal di dalam perlombaan atau pun pembelajaran. Suatu teknik selalu berkembang sesuai dengan tujuan dan peraturan olahraga dimana makin lama makin tinggi persaratannya. Kegunaan teknik dalam

(23)

commit to user

olahraga disamping untuk mencapai prestasi maksimal, juga bisa untuk mencegah terjadinya cidera.

Adapun teknik teknik dalam lembing diantaranya terdiri dari:

1) Cara Memegang Lembing

Tujuan dari memegang lembing ini adalah agar atlet dapat melakukan lemparan dengan benar dan efisien,sehingga lembing stabil saat melayang di udara. Berbagai cara memegang lembing berdasarkan cara menempatkan jari–jari tangan menurut Soenarjo Basoeki (2003: 96) dibedakan menjadi tiga cara,yaitu:

a) Cara Amerika

Letak ibu jari dan jari telunjuk saling bertemu dibelakang balutan (tempat pegangan) dan semua jari-jari pada lembing.

Gambar 3. Pegangan cara Amerika (Soenarjo Basoeki, 2003: 97) b) Cara Finlandia

Ibu jari ruas jari tengah saling bertemu di belakang pada tem pat pegangan sedangkan telunjuk lurus kebelakang di bawah lembing.

Gambar 4. Pegangan cara Finlandia (Soenarjo Basoeki, 2003: 97) c) Cara menjepit (tang)

Jari telunjuk dan jari tengah menjepit lembing tepat di belakang tempat pegangan (balutan).

Gambar 5. Pegangan cara menjepit (Soenarjo Basoeki, 2003:97) 2) Cara Membawa Lembing

Yang dimaksud cara membawa lembing adalah cara membawa lembing pada saat melakukan lari mengambil awalan saat akan melempar lembing, menurut Soenarjo Basoeki, (2003: 97) dibedakan menjadi tiga yaitu:

(24)

commit to user a) Cara membawa lembing di bawah

Tangan yang membawa lembing lurus ke belakang serong ke bawah.Lembing dipegang di samping badan segaris dan menempel pada lengan,ujung lembing di samping dada.

b) Cara membawa lembing di atas bahu

Tangan yang membawa lembing dilipat ± 90°.Lembing dipegang setinggi telinga tepat di atas bahu .Posisi lembing dapat menuju sorong atas atau sorong bawah dan dapat pula lurus mendatar.

c) Cara memegang lembing di atas kepala

Seperti cara b (yang kedua), tetapi sikap tangan yang membawa lembing diangkat lebih tinggi lagi. Posisi lembing di atas kepala.

Gambar 6. Cara membawa lembing (Soenarjo Basoeki, 2003: 97) 3) Awalan

Awalan berupa lari untuk persiapan dan pelaksanaan lemparnya. Bagi yang memiliki kecepatan lari tidak perlu memerlukan awalan yang panjang.

Kecepatan akselerasi yang diperlukan dalam awalan lempar lembing. untuk yang sukar meningkatkan kecepatan diperlukan awalan yang panjang

Saat menghadap arah lemparan, bahu dan pinggul lurus ke depan.

Lembing mengarah ke arah lemparan. Siswa menggerakkan lembing ke belakang dengan tangan lurus, sementara ujung lembing diangkat ke sudut lintasan. Bahu di putar 90º ke kanan dan pinggul tetap menghadap ke arah lemparan.

4) Posisi Melempar / Sikap Lempar

a) Langkahkan kaki ke belakang, disertai memiringkan badan ke kanan.

b) Luruskan tangan kanan ke belakang serong bawah.

c) Tekuk lutut kaki kanan sehingga sikap badan condong ke kanan dan sebagian besar berat badan pada kaki kanan, kaki kiri lurus.

d) Pandangan sebentar melihat ke arah tangan kanan kemudian melihat ke arah samping kiri atas.

e) Tangan kiri diangkat setinggi bahu

(25)

commit to user Gambar 7: Sikap Lempar

(http://kreasijaskes.blogspot.com/2009/03/lempar-lembing.html) 5) Lemparan

Lutut kanan diputar dengan kuat kearah lemparan dan memaksa pinggul bergerak ke arah yang sama. Pinggul diikuti oleh dada, didorong ke depan dengan paksa sehingga tubuh menjadi seperti busur. Tangan yang memegang lembing, sekarang bertindak sebagai ujung pecut yang ditarik ke depan dada pada kecepatan tinggi di atas bahu. Tubuh bergerak ke atas kaki kiri yang lurus, dan lembing dilepaskan didepan kepala siswa.

6) Sikap Akhir (Gerak Lanjut)

Setelah lembing dilepaskan, siswa terus bergerak ke depan dengan membawa kaki kanan ke depan dan menempatkannya di depan kaki kiri. Gerakan ini menahan gerakan maju dan mencegah siswa melakukan pelanggaran.

Gambar 8 : Rangkaian gerakan lempar lembing

(http://kreasijaskes.blogspot.com/2009/03/gambar-lempar-lembing.html)

(26)

commit to user

2. Belajar dan Pembelajaran

a. Pengertian dan Konsep Belajar 1) Pengertian Belajar

Belajar adalah suatu kegiatan yang dapat menghasilkan perubahan tingkah laku, baik potensial maupun aktual. Perubahan-perubahan itu berbentuk kemampuan-kemampuan baru yang dimiliki dalam waktu relative lama (konstan).

Serta perubahan-perubahan tersebut karena usaha sadar yang dilakukan oleh individu yang sedang belajar. Menurut Nasution yang dikutip H.J.Gino dkk (1998:51) bahwa “perubahan akibat belajar tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan, melainkan juga dalam kecakupan, kebiasaan, sikap, pengertian, penyesuaian diri, minat, penghargaan, pendeknya mengenai segala aspek organisme atau pribadi seseorang”.

Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks, sebagai tindakan belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Dimyati dan Mudjiono (1996:7) yang dikutip oleh Syaifullah Sagala (2010:13) mengemukakan siswa adalah penentu terjadi atau tidak terjadinya proses belajar. Berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan amat tergantung pada proses belajar dan mengajar yang dialami siswa dan pendidik baik ketika para siswa di sekolah atau di lingkungan keluarganya sendiri. Berikut pengertian dan konsep belajar menurut pandangan para ahli pendidikan dan psikologi.

a) Belajar menurut Skinner dalam Syaifullah Sagala (2010:14)

Belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Skinner dikenal dengan Operant Conditioning yaitu setiap kali seseorang memperoleh stimulus maka ia akan memberikan respon.

Langkah-langkah pembelajaran berdasarkan teori kondisioning operant menurut Skinner adalah:

(1) Mempelajari keadaan kelas berkaitan dengan perilaku siswa (2) Membuat daftar penguatan positif

(3) Memilih dan menentukan urutan tingkah laku yang dipelajari serta jenis penguatannya.

(27)

commit to user

(4) Membuat program pembelajaran berisi urutan perilaku yang dikehendaki, penguatan, waktu mempelajari perilaku, dan evaluasi.

b) Belajar Menurut Pandangan Piaget

Piaget berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungan. Lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang. Perkembangan intelektual melalui tahap-tahap berikut (i). sensori motor (0-2 tahun), (ii). Pra-operasional (2-7 tahun), (iii). Operasional konkret (7-11tahun), (iv). Oprasi formal (11-keatas).

Pada tahap sensori motor anak mengenal lingkungan dengan kemampuan sensori dan motorik. Anak mengenal lingkungan dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, dan menggerak-gerakkannya. Pada tahap pra-operasional, anak mengandalkan diri pada presepsi tentang realitas. Ia mampu menggunakan symbol, bahasa, konsep sederhana, berpartisipasi, membuat gambar, dan menggolong-golongkan. Pada tahap konkret, anak dapat mengembangkan pikiran logis. Ia dapat mengikuti penalaran logis, walau kadang-kadang memecahkan masalah secara “trial and error”. Pada tahap operasi formal anak dapat berpikir abstrak seperti pada orang dewasa.

2) Konsep Belajar Berdasarkan Teori Belajar a) Konsep Belajar Behaviourisme

Teori belajar behaviouristik, adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuanya untuk bertingkahlaku sesuai dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi anata stimulus dan respon.

Teori Behaviourisme menurut Thorndike perilaku belajar manusia ditentukan oleh stimulus yang ada di lingkungan sehingga menimbulkan respon secara refleks. Stimulus yang terjadi setelah sebuah prilaku terjadi akan mempengaruhi perilaku selanjutnya.Thorndike mengembangkan hukum Law Effect, yang menyatakan bahwa jika sebuah tindakan diikuti oleh perubahan yang memuaskan dalam lingkungan, maka kemungkinan tindakan itu akan diulang

(28)

commit to user

kembali akan semakin meningkat. Sebaliknya jika sebuah tindakan dilakukan oleh perubahan yang tidak memuaskan, maka tindakan itu mungkin menurun atau tidak dilakukan sama sekali. Sedangkan teori behaviouristik menurut Watson, dikemukakan bahwa belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observable) dan dapat diukur.

Secara ringkas, teori behaviouristik mengatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku. Seseorang telah dianggap belajar sesuatu jika ia telah mampu menunjukan perubahan tingkah laku.

b) Konsep Belajar Kognitif

Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar. Para penganut teori kognitif mengatakan bahwa belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Model belajar kognitif mengatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnnya.

Belajar merupakan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang nampak.

Teori ini berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi, dan aspek – aspek kejiwaan lainnya. Menurut Piagent perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan syaraf. Dengan demikian semakin bertambahnya umur seseorang maka semakin komplekslah susunan sel syarafnya dan semakin meningkat pula kemampuannya. Sedangkan menurut Bruner dalam Slameto (1995:11) mengemukakan perkembangan kognitif seseorang terjadi melaui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, yaitu: enactive, iconic, dan symbolic.

Pengertian belajar menurut teori kognitif adalah perubahan persepsi dan pemahaman, yang tidak selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur. Asumsi dari teori ini adalah bahwa setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang telah tertata dalam bentuk stuktur kognitif yang dimilikinya. Proses belajar akan berjalan dengan baik jika materi pelajaran

(29)

commit to user

atau informasi baru beradaptasi dengan stuktur kognitif yang telah dimiliki seseorang.

c) Konsep Belajar Konstruktivistik

Menurut pendekatan konstuktivistik pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatau kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman, maupun lingkungannya.

Pengetahuan adalah bentukan secara terus menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman – pemahaman baru.

Paradigma konstruktivistik memandang bahwa siswa sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu. Kemam- puan awal tersebutakan menjadi dasar dalam mengkonstruksi pengetahuan yang baru. Teori konstruktivistik mengakui bahwa siswa akan dapat meng- interprestasikan informasi kedalam pikirannya, hanya dalam konteks pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri, pada kebutuhan, latar belakang, dan minatnya.

Pandangan konstruktivistik yang mengemukakan bahwa belajar merupakan usaha pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui asimilasi dan akomodasi yang menuju pada pembentukan struktur kognitifnya, memungkinkan mengarah pada tujuan tersebut.

d) Konsep Belajar Humanistik

Menurut teori humanistik, proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Proses belajar dianggap berhasil jika siswa telah memahami lingkungan dan dirinya sendiri. Dengan kata lain, siswa telah mampu mencapai akulturasi diri secara optimal. Teori humanistik lebih bersifat elektrik, maksudnya tori ini dapat memanfaatkan teori apa saja agar tujuannya tercapai.

b. Pengertian dan Konsep Pembelajaran

Konsep pembelajaran menurut Corey dalam Syaiful Sagala (2010:61) adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu, pembelajaran

(30)

commit to user

merupakan subset khusus dari pendidikan. Menurut Slameto (1995:29) “mengajar ialah penyerahan kebudayaan berupa pengalaman-pengalaman dan kecakapan kepada anak didik”.

Pembelajaran menurut Dimyati dan Mudjiono dalam Syaiful Sagala (2010:79) adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.

Sedangkan menurut Hamzah B Uno (2008:2) “pembelajaran adalah perencanaan atau perancangan sebagai upaya untuk membelajarkan siswa”. Pembelajaran sebagai proses yang dibangun guru untuk mengembangkan kreatifitas berfikir yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran.

Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memfasilitasi, meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik. Oleh karena itu pembelajaran merupakan upaya sistematis dan sistemik untuk memfasilitasi dan meningkatkan proses belajar maka kegiatan pembelajaran berkaitan erat dengan jenis hakikat dan jenis belajar serta hasil belajar tersebut. Pembelajaran harus menghasilkan belajar, tapi tidak semua proses belajar terjadi karena pembelajaran. Proses belajar terjadi juga dalam konteks interaksi sosial-kultural dalam lingkungan masyarakat.

Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan belajar, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran sehingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kongnitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta ketrampilan (aspek psikomotor) seseorang peserta didik.

Ciri utama dari konsep pembelajaran. Ciri lain dari pembelajaran adalah adanya komponen yang saling berkaitan satu sama lain. Komponen tersebut adalah tujuan, materi, kegiatan, dan evaluasi pembelajaran. Tujuan pembelajaran mengacu pada kemampuan atau kompetensi yang diharapkan dimiliki siswa setelah mengikuti suatu pembelajaran tertentu. Materi pembelajaran adalah segala

(31)

commit to user

sesuatu yang dibahas dalam pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan pembelajaran mengacu pada penggunaan pendekatan, strategi, metode, dan teknik dan media dalam rangka membangun proses belajar, antara lain membahas materi dan melakukan pengalaman belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara optimal. Proses pembelajaran dalam arti luas merupakan jantungnya dari pendidikan untuk mengembangkan kemampuan, membangun watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

c. Prinsip Belajar dan Pembelajaran

Prinsip belajar merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi agar kegiatan belajar tersebut dapat berjalan dengan baik. Prinsip – prinsip itu berkaitan dengan perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/

berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan atau penguatan, serta perbedaan individu.

1) Perhatian dan Motivasi

Perhatian dan motivasi merupakan dua aktivitas yang memiliki keterkaitan yang sangat erat. Menurut Aunurrahman (2009:114) untuk menumbuhkan perhatian diperlukan adanya motivasi. Sejumlah penelitian menunjukkan hasil belajar pada umumnya meningkat jika anak memiliki motivasi yang kuat untuk belajar. Perhatian mempunyai peran penting dalam kegiatan belajar. Perhatian akan muncul bilamana bahan pelajaran yang disampaikan oleh pengajar sesuai dengan kebutuhan siswa. Apabila bahan pelajaran itu dirasa sangat dibutuhkan oleh siswa maka akan menumbuhkan motivasi.

Menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2004:61) “motivasi adalah kekuatan yang menjadi pendorong kegiatan individu”. Motivasi mempunyai fungsi yang sangat penting dalam suatu kegiatan pembelajaran, akan mempengaruhi kekuatan dari kegiatan pembelajaran tersebut. Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan minat. Siswa yang memiliki minat terhadap suatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut.

(32)

commit to user 2) Keaktifan

Menurut Aunurrahman (2009:119), keaktifan anak dalam belajar merupakan persoalan penting dan mendasar yang harus dipahami, disadari dan dikembangkan oleh setiap guru di dalam proses pembelajaran. Keaktifan belajar ditandai oleh adanya keterlibatan secara optimal, baik intelektual, emosional, dan fisik jika dibutuhkan. Menurut Dimyati (2006:51) Implikasi prinsip keaktifan bagi siswa berwujud perilaku–perilaku seperti mencari sumber informasi yang dibutuhkan, menganalisis hasil percobaan, ingin tahu hasil dari suatu reaksi kimia, membuat karya tulis, membuat kliping, dan perilaku sejenis lainya. Implikasi keaktifan siswa lebih lanjut menuntut keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.

3) Keterlibatan Langsung

Keterlibatan langsung siswa dalam belajar tidak semata – mata diartikan sebagai sebuah keterlibatan fisik, namun juga keterlibatan secara mental emosional, keterlibatan dengan kegiatan kignotif dalam pencapaian dan perolehan pengetahuan. Menurut Dimyati (2006:52) Implikasi prinsip keterlibatan langsung dituntut para siswa agar tidak segan–segan mengerjakan segala tugas belajar yang diberikan kepada mereka. Serta adanya prinsip “Learning by Doing”, yakni siswa dirangsang untuk dapat belajar sekaligus dapat menjalani atau mempraktekan apa yang mereka pelajari. Dengan keterlibatan langsung ini, secara logis akan menyebabkan mereka memperoleh pengalaman atau berpengalaman.

4) Pengulangan

Menurut Davies, yang dikutip dalan buku Belajar dan Pembelajaran (Dimyati,2006 : 52) Pengusaan secara penuh dari setiap langkah memungkinkan belajar secara keseluhuhan lebih berarti. Dari pernyataan tersebut pengulangan diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Menurut Dimyati (2006:52) Implikasi dari pengulangan tersebut bagi siswa adalah kesadaran untuk bersedia mengerjakan latihan – latihan yang berulang, untuk satu macam permasalahan.

5) Tantangan

Adanya tantangan terhadap sesuatu hal yang membuat siswa tertantang untuk menjalani segala sesuatu tersebut akan berdapak positif tehadap

(33)

commit to user

keberhasilan belajar siswa. Sehingga tantangan tersebut akan memotivasi seorang siswa untuk menyelesaikan dan melampaui hambatan yang dihadapinya. Deporter (2000:23) yang dikutip oleh Aunurrahman (2009:125) mengemukakan bahwa studi-studi menunjukkan bahwa siswa banyak belajar jika pelajarannya memuaskan, menentang serta ramah, dan mereka memiliki peran dadalam mengambil sebuah keputusan. Bilamana anak merasa tertantang dalam suatu pelajaran, maka ia dapat mengabaikan aktivitas lain yang dapat menganggu kegiatan belajarnya.

6) Balikan atau Feedback

Balikan atau feedback diberikan sebagai salah satu penguatan yang dilakukan oleh guru terhadap siswa atas unjuk kerja yang dilakukan oleh siswa.

Balikan selain digunakan sebagai koreksi ataupun evaluasi terhadap unjuk keja dan tingkah laku yang dilakukan juga sebagai motivasi terhadap kualitas belajar siswa. M. Sumantri dan J. Permana (1999:274) mengemukakan secara khusus beberapa tujuan dari pemberian penguatan, yaitu:

a. Membangkitkan motivasi belajar peserta didik b. Merangsang peserta didik berpikir lebih baik c. Menimbulkan perhatian peserta didik

d. Menumbuhkan kemampuan berinisiatif secar pribadi

e. Mengendalikan dan mengubah sikap negative peserta didik dalam belajar ke arah perilaku yang mendukung belajar.

7) Perbedaan Individual

Peserta didik adalah individual yang memiliki keunikan, berbeda satu sama lain, dan tidak satupun yang memiliki ciri-ciri sama persis. Menurut Aunurrahman (2009:133) pembelajaran yang bersifat klasikal yang mengabaikan perbedaan-perbedaan individual dapat diperbaiki dengan berbagai cara. Cara yang dapat ditempuh antara lain penggunaan metode atau pendekatan secara bervarisai.

Perbedaan individual disini memuat arti bahwa, setiap siswa atau pebelajar memiliki karakteristik kemampuan yang berbeda – beda, sehingga dalam menentukan sistem pengajaran ataupun dalam siswa belajar hendaknya disesuaikan dengan kemampuan dan karakteristik siswa tersebut.

(34)

commit to user

Prinsip-prinsip pembelajaran tersebut sangat penting untuk diperhatikan oleh seorang guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Pembelajaran yang didasarkan pada prinsip-prinsip belajar yang benar, maka akan diperoleh hasil belajar yang optimal.

d. Tujuan Belajar

Tujuan pembelajaran menurut Hamzah B. Uno (2008:34) merupakan salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan dalam merencanakan pembelajaran, sebab segala kegiatan pembelajaran muaranya pada tercapainya tujuan tersebut.

Berikut adalah tujuan belajar menurut Robert M. Gagne yang dikemukakan oleh J.J Hasibuan dan Moedjiono (1988:5) adalah:

1) Keterampilan intelektual (yang merupakan hasil belajar terpenting dari sistem lingkungan skolastik).

2) Strategi kognitif, mengatur “cara belajar” dan berpikir seseorang di dalam arti seluas-luasnya, termasuk kemampuan memecahkan masalah.

3) Informasi verbal, pengetahuan dalam arti informasi dan fakta.

Kemampuan ini umumnya dikenal dan tidak jarang.

4) Keterampilan motorik yang diperoleh di sekolah, antara lain keterampilan menulis, mengetik, menggunakan jangka, dan sebagainya.

5) Sikap dan nilai, berhubungan dengan arah serta intensitas emosional yang dimiliki seseorang, sebagaimana dapat disimpulkan dari kecenderunganny bertingkah laku terhadap orang, barang, atau kejadian.

Sedangkan tujuan pembelajaran menurut Benyamin S. Bloom dan D.

Krathwohl yang dikutip oleh Hamzah B. Uno (2008:35) memilah taksonomi pembelajaran dalam tiga ranah/domain/kawasan, yakni kognitif, afektif, dan psikomotor.

1) Ranah Kognitif

Ranah kognitif adalah ranah/kawasan yang membahas tujuan pem- belajaran berkenaan dengan proses mental yang berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang lebih tinggi yakni evaluasi. Kawasan kognitif terdiri atas 6 (enam) tingkatan secara hierarki berurut dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi dan dapat dijelaskan sebagai berikut:

(35)

commit to user

a) Pengetahuan (knowledge), kemampuan seseorang dalam menghafal atau mengingat kembali atau mengulang kembali pengetahuan yang pernah diterima.

b) Pemahaman (Comprehension), kemampuan seseorang dalam mengartikan, menafsirkan, menerjemahkan atau menyatakan sesuatu dengan caranya sendiri tentang pengetahuan yang pernah diterimanya.

c) Penerapan (Application), kemampuan seseorang dalam menggunakan pengetahuan dalam memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari.

d) Analisis (Analysis), kemampuan seseorang dalam menggunakan pengetahuan untuk merinci bahan menjadi komponen atau bagian agar struktur organisasinya dapat dimengerti.

e) Sintesis (Synthesis), kemampuan seseorang dalam mengkaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga berbentuk pola baru yang lebih menyeluruh.

f) Evaluasi (Evaluation), kemampuan seseorang dalam membuat perkiraan atau keputusan yang tepat berdasarkan kriteria atau pengetahuan yang dimilikinya.

2) Ranah Afektif

Ranah/kawasan afektif adalah satu domain yang berkaitan dengan sikap, nilai-nilai interest, apresiasi (penghargaan) dan penyesuaian perasaan sosial.

Tingkatan afeksi ini ada lima, dari yang sederhana ke yang kompleks adalah sebagai berikut:

a) Kemauan menerima, merupakan keinginan untuk memperhatikan suatu gejala atau rancangan tertentu.

b) Kemauan menanggapi, merupakan kegiatan yang menunjukkan pada partisipasi aktif dalam kegiatan tertentu.

c) Berkeyakinan, berkenaan dengan kemauan menerima sistem nilai tertentu pada diri individu. Seperti menunjukkan kepercayaan terhadap sesuatu, apresiasi (penghargaan) terhadap sesuatu, sikap ilmiah atau kesungguhan (komitmen) untuk melakukan suatu kehidupan sosial.

(36)

commit to user

d) Penerapan karya, berkenaan dengan penerimaan terhadap berbagia sistem nilai yang berbeda-beda berdasarkan pada suatu sistem nilai yang lebih tinggi.

e) Ketekunan dan ketelitian, merupakan tingkatan afeksi tertinggi. Individu sudah memiliki sistem nilai yang selalu menyelaraskan perilakunya sesuai dengan sistem nilai yang dipegangnya.

Sedangkan ranah afektif menurut Oemar Hamalik (2003:122) terbagi menjadi:

a) Penerimaan (receiving), menunjukkan pada kesadaran siswa memper- hatikan gejala atau stimuli tertentu. Dari segi pengajaran ranah ini berkenaan dengan membangkitkan, mengikat, dan mengarahkan perhatian siswa. Hasil belajar berada kesadaran yang sederhana sampai keperhatianan yang bersifat selektif pada diri siswa, merupakan hasil tingkat terendah dalam ranah afektif.

b) Merespon (responding) menunjukkan pada partisipasi aktif oleh siswa.

Siswa bukan hanya memperhatikan, akan tetapi juga memberikan reaksi terhadap gejala tertentu dengan cara tertentu. Hasil belajar ini ditekankan pada kesediaan merespon, kemauan merespons, dan kepuasan dalam merespons. Tingkat yang lebih tinggi adalah minat, yakni mencari dan menyenangi kegiatan-kegiatan tertentu.

c) Menghargai (valuing), berkenaan dengan pemberian nilai terhadap suatu gejala, objek, atau tingkah laku tertentu.

3) Ranah Psikomotor

Ranah/kawasan psikomotor mencakup tujuan yang berkaitan dengan keterampilan (skill) yang bersifat manual atau motorik. Urutan tingkatan dari yang paling sederhana sampai paling kompleks adalah:

a) Persepsi, berkenaan dengan penggunaan indra dalam melakukan kegiatan.

b) Kesiapan, berkenaan dengan kegiatan melakukan sesuatu kegiatan (set).

Termasuk di dalamnya mental set (kesiapan mental), physical set (kesiapan fisik), atau emotional set (kesiapan emosi perasaan) untuk melakukan suatu tindakan.

(37)

commit to user

c) Mekanisme, berkenaan dengan penampilan respons yang sudah dipelajari dan menjadi kebiasaan, sehingga gerakan yang ditampilkan menunjukkan kepada suatu kemahiran.

d) Respons terbimbing, seperti meniru (imitasi) atau mengikuti, mengulangi perbuatan yang diperintahkan atau ditunjukkan oleh orang lain,melakukan kegiatan coba-coba (trial and error)

e) Kemahiran, adalah penampilan gerakan motorik dengan keterampilan penuh. Kemahiran yang dipertunjukkan biasanya cepat, dengan hasil yang baik, namun menggunakan sedikit tenaga.

f) Adaptasi, berkenaan dengan keterampilan yang sudah berkembang pada diri individu sehingga yang bersangkutan mampu memodifikasi (membuat perubahan) pada pola gerakan yang sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu.

g) Organsasi, menunjukkan pola gerakan baru untuk disesuaikan dengan situasi atau masalah tertentu. Biasanya hal ini dapat dilakukan oleh orang yang sudah memiliki keterampilan tinggi.

e. Hasil Belajar

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006), hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Menurut Nana Sudjana (2005:23) dalam pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi Taksonomi Benyamin S. Bloom, ketiga ranah yang telah diklasifikasikan tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Sehingga hasil belajar terdiri dari ranah kognitif, afektif dan psikomotor.

Menurut Abin Syamsyuddin yang dikutip dalam A. Tabrani Rusyan (1989 : 22) beberapa indikator dan kemungkinan cara pengungkapan dari hasil belajar dijabarkan dalam tabel berikut:

(38)

commit to user

Tabel 1. Penjabaran Sitematika Hasil Belajar Siswa

Jenis Hasil Belajar Indikator Cara Pengungkapan a. Kognitif

- Pengamatan/

perceptual

Dapat menunjukan, membandingkan , menghubungkan.

Tugas, tes, observasi.

- Hafalan / ingatan Dapat menyebutkan dan menunjukan lagi

Pertanyaan, tugas tes - Pengertian/

pemahaman

Dapat menjelaskan dan mengidentifikasikan dengan kalimat sendiri

Pertanyaan

- Aplikasi/

penggunaan

Dapat memberikan contoh, menggunakan dengan tepat,

memecahkan masalah

Soal, tes tugas

- Analisis Dapat menguraikan, dan mengklasifikasikan

Tugas, persoalan, tes - Sitesis Dapat menghubungkan,

dan menyimpulkan, mengeneralisasikan

Tugas, persoalan, tes

- Evaluasi Dapat

menginterprestasikan, memberikan kritik, memberikan

pertimbangan penilaian

Tugas, persoalan, tes

b. Afektif

- Penerimaan Bersikap menerima, menyetujui, atau

sebaliknya

Pertanyaan, tes skala sikap

- Sambutan Bersedia terlibat,

berpartisipasi, memanfaatkan, atau sebaliknya

Tugas, observasi dan tes

- Penghargaan/

Apresiasi

Memandang penting, bernilai, berfaedah indah, harmonis, kagum, atau sebaliknya.

Skala penilaian, tugas, dan observasi.

- Internalisasi/

Pendalaman

Mengakui, mempercayaai, meyakinkan, atau sebaliknya

Skala sikap, tugas ekspresif, pro efektif

- Karakterisasi/

Penghayatan

Melembagakan, membinasakan, menjelmakan dalam

observasi

(39)

commit to user pribadi dan perlakuanya sehari – hari

c. Psikomotorik - Keterampilan

bergerak/ bertindak

Koordinasi mata, tangan, dan kaki

Tugas, observasi, tindakan

- Keterampilan ekspresi verbal dan non verbal

Gerak, mimic, ucapan Tugas, observasi, tindakan

Salah satu tugas pokok seorang guru adalah mengevalusai taraf keberhasilan rencana pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar. Untuk dapat melihat sejauh mana taraf keberhasilan mengajar guru dan belajar siswa secara tepat dan dapat dipercaya maka diperlukan sebuah informasi yang didukung oleh data yang objektif dan memadahi tentang indikator perubahan perilaku dan pribadi siswa.

Hasil belajar digunakan oleh guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan. Hal ini dapat tercapai apabila siswa sudah memahami belajar dengan diiringi oleh perubahan tingkah laku yang lebih baik.

3. Pembelajaran Pendidikan Jasmani

a. Pengertian Pendidikan Jasmani

Pendidikan jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif, dan kecerdasan emosi. Menurut Soegito, Bambang Wijanarko, dan Ismaryati ( 1994 : 5 ) bahwa “ Pendidikan jasmani adalah metode pendidikan melalui aktivitas jasmani yang dipilih dan terus dilakukan dengan sepenuhnya memperhatikan nilai-nilai di dalam pertumbuhan, perkembangan dan kelakuan manusia”.

Pengalaman belajar yang disajikan akan membantu siswa untuk memahami mengapa manusia bergerak dan bagaimana cara melakukan gerakan secara aman, efisiean dan afektif. Pengalaman tersebut dilaksanankan secara terencana, bertahap, dan berkelanjutan agar dapat meningkatkan siakp positif bagi

(40)

commit to user

diri sendiri sebagai pelaku, dan menghargai manfaat aktifitas jasmani bagi peningkatan kualitas hidup seseorang, sehingga akan terbentuk jiwa sportif dan gaya hidup aktif.

Kegiatan belajar mengajar dalam pelajaran pendidikan jasmani amat berbeda pelaksanaannya dari pembelajaran mata pelajaran lain. Dengan berpartisipasi dalam aktivitas fisik, siswa dapat menguasai ketrampilan dan pengetahuan, mengembangkan apresiasi estetis, mengembangkan ketrampilan generik serta nilai dan sikap positif, dan memperbaiki kondisi fisik untuk mencapai tujuan pendidikan jasmani. Satu kekhasan pembelajaran pendidikan jasmani disbanding pembelajaran lain yaitu, dalam mengembangkan wilayah psikomotor, yang biasanya dikaitkan dengan tujuan mengembangkan kebugaran jasmani siswa dan pencapaian geraknya.

b. Tujuan Pendidikan Jasmani

Pendidikan jasmani mempunyai peranan penting untuk mendukung pencapaian tujuan pendidikan secara keseluruhan. Adapun tujuan pendidikan jasmani menurut Soegito, Bambang Wijanarko dan Ismaryati ( 1994 : 5 ) dapat dirumuskan sebagai berikut :

1) Meningkatkan perkembangan dan pertumbuhan badan.

2) Meningkatkan kesegaran jasmani.

3) Meningkatkan kehidupan yang sehat.

4) Meningkatkan ketangkasan/keterampilan.

5) Meningkatkan pengetahuan dan kecerdasan.

6) Menampilkan rasa sosial, kehidupan yang kreatif dan rekreatif.

7) Meningkatkan budi pekerti luhur.

Menurut Aip Syarifuddin dan Muhadi (1992:5) ”tujuan umum pendidikan jasmani adalah memacu kepada pertumbuhan dan perkembangan jasmani, mental, emosional, dan sosial yang selaras dalam upaya membentuk dan mengembangkan kemampuan gerak dasar, menanamkan nilai, sikap dan membiasakan hidup sehat”.

Tujuan yang ingin dicapai melalui pendidikan jasmani mencakup pengembangan individu secara menyeluruh. Artinya, cakupan pendidikan jasmani tidak hanya pada aspek jasmani saja tetapi juga aspek kognitif, afektif, dan

(41)

commit to user

psikomotor. Selain itu pendidikan jasmani juga mencakup aspek mental, emosional, sosial, dan spiritual. Dengan demikian tujuan pendidikan jasmani berkaitan dengan pengembangan aktivitas fisik maupun jiwa, sehingga nantinya mempersiapkan siswa untuk dapat terjun dalam masyarakat secara maksimal

c. Hakekat Pendidikan Jasmani

Pendidikan jasmani pada hakekatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional. Pendidikan jasmani memberlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, makhluk total dari pada hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya. Secara ilmiah pelaksanaan pendidikan jasmani mendapat dukungan dari berbagai dukungan ilmu, dimana dari pandangan-pandangan dari setiap disiplin tersebut dapat dijadikan sebagai landasan bagi berlangsungnya program penjas di sekolah-sekolah. Di sini peneliti akan menguraikan landasan ilmiah yaitu dari sudut pandang psikologis, sudut pandang biologis, dan yang terakhir sudut pandang sosiologis.

1) Landasan psikologis pendidikan jasmani

Pendidikan jasmani melibatkan interaksi antara guru dengan anak, serta anak dengan anak. Di dalam adegan pembelajaran yang melibatkan interaksi tersebut, terletak suatu keharusan untuk saling mengakui dan menghargai keunikan masing-masing, termasuk kelebihan dan kelemahannya. Dan ini bukan hanya kelainan pada fisik, tetapi juga dalam kaitanya dengan perbedaan psikologis seperti kepribadian, karakter, pola fikir, serta tak kalah pentingnya dalam hal pengetahuan dan kepercayaan.

Program pendidikan jasmani yang baik tentu harus dilandasi oleh pemahaman guru terhadap karakteristik psikologis anak, dan yang paling penting adalah sumbangan apa yang dapat diberikan oleh program pendidikan jasmani terhadap perkembangan mental dan psikologis anak.

2) Landasan biologis pendidikan jasmani

(42)

commit to user

Pendidikan jasmani adalah disiplin yang berorientasi pada tubuh, disamping berorientasi pada disiplin mental dan sosial. Dalam hal ini guru pendidikan jasmani harus memiliki penguasaan yang kokoh terhadap fungsi fiskal dari tubuh untuk memahami secara lebih baik pemanfaatannya dalam kegiatan pendidikan jasmani.

Secara biologis, manusia dirancang untuk menjadi makhluk yang aktif.

Meskipun perubahan zaman dan peradaban telah menyebabkan penurunan dalam jumlah aktivitas yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas-tugas dasar yang berkaitan dengan kehidupan. Sebenarnya tubuh manusia tidak berubah, karenanya manusia harus tetap menyadari bahwa dalam hal kesehatan tubuhnya, dasar biologisnya menuntut dan mengakui pentingnya aktifitas fisik yang keras dalam hidupnya. Dalam hal inilah pendidikan jasmani yang baik disekolah dan dimasa- masa berikut dalam hidupnya dipandang amat penting dalam menjaga kemampuan biologis manusia.

3) Landasan sosiologis dalam pendidikan jasmani

Pendidikan jasmani adalah sebuah wahana yang sangat baik untuk proses sosialisasi. Perkembangan sosial jelas penting, dan aktivitas pendidikan jasmani mempunyai potensi untuk menuntaskan tujuan-tujuan tersebut. Seperangkat kualitas dari perkembangan sosial yang dapat dikembangkan dan dipengaruhi dalam proses penjas diantaranya adalah kepemimpinan, karakter, moral, dan daya juang.

Sosiologi berkepentingan dengan upaya mempelajari manusia dan aktivitasnya dalam kaitanya dengan atau interaksi antar satu manusia dengan manusia lainya. Seorang guru penjas sesunguhnya seorang sosiologis yang perlu mengetahui prinsip-prinsip sosiologi agar mampu memanfaatkan proses pembelajarannya untuk menanamkan nilai-nilai yang dapat dikembangkan melalui penjas.

d. Program Pembelajaran Lempar di SLTP

Untuk pembelajaran teknik lempar pada siswa SLTP akan lebih mudah dibandingkan dengan pembelajaran pada anak SD. Untuk siswa SLTP, kehati-

(43)

commit to user

hatian dalam pelaksanaan pembelajaran tetap menjadi bahan pertimbangan.

Dalam pembelajaran teknik lempar, guru dapat dimulai dari pengenalan alat.

Selanjutnya, guru menggunakan alat ganti yang aman dan ringan pada siswa.

Langkah ini perlu dilakukan, terutama dalam upaya pembentukkan teknik yang baik dan benar dalam melempar. Apabila siswa sejak awal dengan memakai alat yang sesungguhnya, pembentukan sikap gerak akan terganggu karena siswa masih sulit menggunakan alat tersebut.

Penggunaan alat bantu dalam tahap pengenalan pembelajaran teknik lempar ini, dapat dilaksanakan melalui beberapa langkah perbaikan ketrampilan siswa. Setelah siswa menguasai secara teknis dasar-dasar pelaksanaan teknik lempar, guru bisa mengajari mereka dengan alat yang sesungguhnya. Apabila guru memulai pelajaran, langsung mengunakan alat yang sebenarnya, maka dibutuhkan pengawasan dan bimbingan.

Dalam pembelajaran teknik lempar, guru bisa memulainya dari yang termudah yaitu lempar lembing, tolak peluru, lempar cakram, dan lempar martil.

Tahap ini perlu dipahami agar siswa tidak dihadapkan dengan tugas yang sulit terlebih dahulu. Apabila keliru dalam menentukan pentahapan dalam pembelajaran berpotensi dikhawatirkan akan berdampak pada kesalahan gerak yang selanjutnya menimbulkan cidera yang tidak diinginkan.

4. Alat Bantu Pembelajaran

a. Pengertian Alat Bantu Pembelajaran

Alat bantu adalah alat-alat yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan bahan pendidikan/pengajaran. Alat bantu ini lebih sering disebut alat peraga karena berfungsi untuk membantu dan meragakan sesuatu dalam proses pendidikan pengajaran. Alat bantu ini disusun berdasarkan prinsip bahwa pengetahuan yang ada pada setiap manusia itu diterima atau ditangkap melalui panca indera. Semakin banyak indera yang digunakan untuk menerima sesuatu maka semakin banyak dan semakin jelas pula pengertian/pengetahuan yang diperoleh. Dengan perkataan lain, alat peraga ini dimaksudkan untuk

(44)

commit to user

mengerahkan indera sebanyak mungkin kepada suatu objek sehingga mempermudah persepsi.

Alat peraga dalam mengajar memegang peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar-mengajar yang efektif. Setiap proses belajar dan mengajar ditandai dengan adanya beberapa unsur antara lain tujuan, bahan, metode dan alat, serta evaluasi. Unsur metode dan alat merupakan unsur yang tidak bisa dipisahkan dari unsur yang lain yng berfungsi sebagai cara atau teknik mengantarkan bahan pelajaran agar sampai kepada tujuan. Dalam pencapaian tujuan tersebut, peranan alat bantu atau alat peraga memegang peranan yang penting sebab dengan adanya alat bantu ini dapat dengan mudah dipahami oleh siswa. Alat tersebut berguna agar bahan pelajaran yang disampaikan guru lebih mudah dipahami siswa. Dalam proses belajar-mengajar alat bantu dipergunakan dengan tujuan membantu guru agar proses belajar siswa lebih efektif dan efisien.

Seseorang atau masyarakat di dalam proses pendidikan dapat mem- peroleh pengalaman/pengetahuan melalui berbagai macam alat bantu pendidikan.

Tetapi masing-masing alat mempunyai intensitas yang berbeda-beda dalam membantu persepsi seseorang.

b. Fungsi dan Nilai Alat Peraga (Alat Bantu)

Menurut Nana Sudjana (2000:99) ada enam fungsi pokok dari alat peraga/alat bantu dalam proses belajar-mengajar. Keeman fungsi tersebut adalah : 1) Penggunaan alat peraga dalam proses belajar-mengajar bukan merupakan

fungsi tamabahan tetapi mempunyai fungsi sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar-mengajar yang efektif.

2) Penggunaan alat peraga atau alat bantu merupakan bagian ynag integral dari keseluruhan situasi mengajar. Ini berati bahwa alat bantu merupakan salah satu unsur yang harus dikembangkan guru.

3) Alat peraga dalam pengajaran penggunaannya integral dengan tujuan dan isi pelajaran. Fungsi ini mengandung pengertian bahwa penggunaan alat peraga harus melihat kepada tujuan dan bahan pelajaran.

(45)

commit to user

4) Penggunaan alat bantu dalam pengajaran bukan semata-mata alat hiburan, dalam arti digunakan hanya sekedar melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa.

5) Penggunaaan alat bantu dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar-mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru.

6) Penggunaan alat bantu dalam pengajaran digunakan untuk mempertinggi mutu belajar-mengajar. Dengan perkataan lain menggunakan alat bantu, hasil belajar yang dicapai akan tahan lama diingat siswa, sehingga pelajaran mempunyai nilai tinggi.

Di samping enam fungsi di atas penggunaan alat bantu dalam proses belajar-mengajar mempunyai nilai-nilai seperti dibawah ini:

1) Dengan peragaan dapat meletakkan dasar-dasar yang nyata untuk berpikir, oleh karena itu dapat mengurangi terjadinya verbalisme.

2) Dengan peragaan dapat memperbesar minat dan perhatian siswa untuk belajar.

3) Dengan peragaan dapat meletakkan dasar untuk perkembangan belajar sehingga hasil belajar bertambah mantab.

4) Memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri pada setiap siswa.

5) Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan.

6) Membantu tumbuhnya pemikiran dan membantu berkembangnya kemampuan berbahasa.

7) Memberikan pengalaman yang tak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi dan pengalaman belajar yang lebih sempurna.

c. Penerapan Alat Bantu dalam Pengajaran

Menurut Nana Sudjana (2000:99) dalam menggunakan alat bantu guru memperhatikan sejumlah prinsip tertentu agar penggunaan alat bantu tersebut dapat mencapai hasil yang baik. Prinsip-prinsip ini adalah :

(46)

commit to user

1) Menentukan jenis alat bantu dengan tepat, artinya sebaiknya guru memilih terlebih dahulu alat bantu manakah yang sesuai dengan tujuan dan bahan pelajaran yang hendak diajarkan.

2) Menetapkan atau memperhitungkan subjek dengan tepat, artinya perlu diperhitungkan apakah penggunaan alat bantu itu sesuai dengan tingkat kematangan/kemampuan anak didik.

3) Menyajikan alat bantu dengan tepat, artinya teknik dan metode penggunaan alat bantu pembelajaran haruslah disesuaikan dengan tujuan, bahan, metode, waktu, dan sarana yang ada.

4) Menempatkan atau memperlihatkan alat bantu pada waktu, tempat, dan situasi yang tepat. Artinya, kapan dan dalam situasi mana pada waktu mengajar alat bantu digunakan. Tentu tidak setiap saat atau selama proses mengajar terus-menerus memperlihatkan atau menjelaskan sesuatu dengan alat bantu.

Menurut penelitian para ahli indera, yang paling banyak menyalurkan pengetahuan ke dalam otak adalah mata. Kurang lebih 75% sampai 87% dari pengetahuan manusia diperoleh/disalurkan melalui mata. Sedangkan 13% sampai 25% lainnya tersalur melalui indera yang lain. Dari sini dapat disimpulkan bahwa alat-alat visual lebih mempermudah cara penyampaian dan penerimaan informasi atau bahan pendidikan. (a) Mendorong keinginan orang untuk mengetahui kemudian lebih mendalami dan akhirnya memberikan pengertian yang lebih baik.

Orang yang melihat sesuatu yang memang diperlukan akan menimbulkan perhatiaannya. Dan apa yang dilihat dengan penuh perhatian akan memberikan pengertian baru baginya yang merupakan pendorong untuk melakukan/memakai sesuatu yang baru tersebut. (b) Membantu menegakkan pengertian yang diperoleh. Di dalam menerima sesuatu yang baru, manusia mempunyai kecenderungan untuk melupakan atau lupa. Untuk mengatasi hal tersebut, alat-alat visual akan membantu menegakkan pengetahuan-pengetahuan yang telah diterima oleh manusia sehingga apa yang diterima akan lebih lama tinggal/disimpan didalam ingatan.

Gambar

Gambar 2. Sektor lempar lembing (Soenarjo Basoeki, 2003: 93)
Gambar 3. Pegangan cara Amerika (Soenarjo Basoeki, 2003: 97)  b)  Cara Finlandia
Gambar 6. Cara membawa lembing (Soenarjo Basoeki, 2003: 97)  3)  Awalan
Gambar 8 : Rangkaian gerakan lempar lembing
+7

Referensi

Dokumen terkait

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR LEMPAR LEMBING DENGAN MEMODIFIKASI ALAT BAMBU PADA SISWA KELAS VIII.. SMP NEGERI 3 PERCUT SEI

MUHAMMAD ARDIANSYAH HASIBUAN, Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Lempar Lembing Menggunakan Media Audio Visual Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 9 Padangsidimpuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar lempar lembing melalui pembelajaran yang dimodifikasi menggunakan media lembing bambu

dengan judul “ Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Lempar Lembing Melalui Pembelajaran Yang Dimodifikasi Menggunakan Bola Berekor Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Pematang

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar lempar lembing gaya langkah jingkat dengan modifikasi alat pembelajaran pada peserta didik kelas VIII D

Peningkatan sebanyak 22 siswa yang lulus atau 88% dari jumlah keseluruhan siswa menunjukkan terjadinya Kemajuan siswa dalam mengikuti pembelajaran Lempar Lembing

Peneliti membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), meyusun lembar observasi dan menyusun alat evaluasi pembelajaran. Pelaksanaan tindakan meliputi tiga tahap

Berdasarkan pengamatan peneliti pada observasi awal di SMP Negeri 32 Medan Marelan, terhadap proses pembelajaran nomor lempar lembing ternyata masih ditemui kendala-kendala seperti