>ob.
L
f.UJ:,
u..
KEPERCAYAAN MAGI DAN RITUAL PADA
MASYAR.AKAT NELA YAN
MELAYU
LABUHAN BATU
O leh :
YUSHAR
NIM. 015050028
. T esis Untuk MemperGleh
Gel~Magister
Sa ins
Program
Studi
Antropologi Sosial
PRQGR~M
PASCASARJANA
UNIVERSlTAS. NEGERI MEDAN
ME DAN
. 2007
I
..
TESIS
KEPERCA YAAN MAGI DAN RITUAL
PADA MASYARAKAT NELAYAN MELAYU LABUHAN BATU
Disusun dan Diajukan Oleh :
YUSHAR
NIM. 015050028
Telab Dipertabaokao di depan Panitian Ujian Tesis pada Taoggal 27 April 2007 dan Dioyatakan Telab Memenuhi
Salah Satu Syarat untuk .Memperoleh Gelar Magister Saios Program Studi Antropologi Sosial
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
ME DAN
2007
(
•
,,
TESIS
KEPERCAYAAN MAGI DAN RITUAL
PADA MASYARAKAT NELAYAN MELAYU LABUHAN BATU
Disusun dan Diajukan Oleh :
YUSHAR
NIM. 015050028
Telah Dipertahankan di depan Panitiao Ujian Tesis
pada Tanggal 27 April2007 dan Dinyatakan Telah Memenuhi
Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains Program Studi Antropologi Sosial
Medan, 27 April2007
Menyetujui Tim Pembimbing
Pembimbing I
c ruddin
u
'·""~·
"""'
Prof. Dr. B. A. Simanjuntak
Pembimbing ll
Dr. Ibrahim Gultom. M.Pd NIP. 131 571 763
Direktur rog m Pascasarjana Universit N eri Medan
PERSETUJUAN DEWAN PENGUJI
UJIAN TESIS MAGISTER SAINS
No. NAMA TANDA TANGAN
1.
Prof. Dr. Chalida Fachruddin
2.
Dr. Ibrahim Gultom, M. Pd
3. Prof.
Dr.
B. A.Simanjuntak
4.
Dr. lbnu Hajar, M.Si
...
~~r.'
... .
Motto Dan Persembahan
Motto:
Mendulang pasir di Kuala Bilah
Pasir di bawa ke Tanoh Panai
Wolaupun selesoi dengan susah payah
T ersirat di hati harus dicapai
T ok tepian keri ng kerontong
T ak berputik tanpa kumbang
T ak burung rendoh terbang
T ak Melayu takut gelombang
Persembohan :
Kupersembohkan kepado orang-orang terkasih
Ibunda Wan Masjenab
Ayahando Usman Umar
Istri tercinta Yunizar, S.Pd
···---
·---KATA PENGANTAR
Puji syukur peneliti panjatkan kcpada Allah SWT atas berkat dan kanmia yang
diberikan sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. Penelitian inl yang
berjudul ·'Kepercayaan Magi Dan Ritual Pada Masyarakat Nelayan Meiayu Labuhan
Batu" tidak akan dapat terlaksana dengan baik tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu, peneliti menghaturkan ucapan terima kasih setinggi-tingginya atas partisipasi
yang telah diberikan. Peneliti tidak dapat menyebut satu pcrsatu pihak-pihak yang
memberikan bantuan untuk penyelesaian penelitian ini. Terima kasih yang tak terhingga
peneliti sampaikan kepada :
I. Rektor Universitas Negeri Medan yang telah mernberikan kesempatan kepada
peneliti untuk mengikuti pendidikan pada Program Pascasarjana Universitas Negeri
Medan.
2. Dekan Fakultas llmu Sosial Universitas Negeri Medan yang rnemberikan
kelonggaran dalam pelaksanaan tugas-tugas rutin sehubungan dengan kegiatan
mengikuti pendidikan pada Program Pascasrujana Universitas Negeri Medan.
3. Ketua dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Sejarah yang mernberikan keringanan
dalam pelaksanaan tugas-tugas di jurusan sehubungan dengan kegiatan pendidikan
S-2 yang diikuti.
4. Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan.
5. Ketua Program Studi Antropologi Sosial Pascasarjana Universitas Negcri Medan.
6. Ibu Prof Dr. Chalida Fachruddin Dosen Pembimbing I Tesis atas koreksi yang
diberikannya untuk: penyempurnaan basil penelitian ini.
7. Bapak Dr. lbmhim Gultom, M.Pd Dosen Pembirnbing II dalam penelitian tesis ini
yang memberikan kritik saran untuk perbaikan hasil penehtian ini_
8. Para intOrman kami selama melakukan penelitian di lapangan berikut Kepala Oesa
Sei Merdeka serta Camat Panai Tengah, terima kasih dan penghargaan yang tak
terhingga peneliti sampaikan, karena tanpa bantuannya penelitian ini tidak dapat
diselesaikan dengan baik.
9_ Para pengajar di Program Pascasarjana 'Universitas Negeri Medan yang tdah memberikan pencerahan berupa sumbang saran, pikiran, gagasan, dan 1dc sdama peneliti mengikuti pcndidikan di Program
~ascasarjana
Universitas Negen Medan 10. Segenap rekan juang di Pimpinan Daerah Pemuda Panca Marga (PPM) SumateraUtara di bawah pimpinan bung Drs. Juliestar Kemit.
1 L lstri dan
anak~anak
yang telah rela '"terkurangi" perhatian ayahanda tcrhadap mereka karena kesibukan selama mengil'Uti pendidikan.12. Ternan-ternan di Prodi Antropologi Sosial Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan dan rekan-rek.an dosen di Jurusan Pendidikan Sejarah FIS Universitas Negeri Medan yang telah memberikan dukungan bagi selesainya program pendidikan di Pascasarjana Universitas Negcri Medan.
13. Segenap keluarga, beserta para kolega yang mernberikan perbatian selama mcngikuti
pendidikan.
14. Spesial buat rental Arwandacom, dengan personit Bulan, S_Pd dan nahkoda Drs. Abdul Rahman Dasopang yang telah memberikan bantuan dan kemudahan untuk
penyusunan basil penelitian ini. Terima kasih atas kemudahan yang diberikan.
Penehtian ini merupakan kajian awal yang dapat ditindaklanjuti terutama yang berkaitan dengan pembahasan etnografi khususnya masyarakat nelayan Melayu. Hasil pcnelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang signifikan bagi penelitian
lanjutan.
Penelitian ini sepcnuhnya menjadi tanggung jawah peneliti. Demikianlah semoga basil penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pelestarian
nilai-nilai budaya lokal.
":Matlfieaar ;4.fam Su{tan Panai, :Marnum 7Vfana yatlfi metlfi!Janti/iJln.
U'ataupun tuan swfafifafi parufai, 'l(flfau 6erjafan #gpafa tetapfafi d'ituruful<.lism
"
Medan, April 2007
Y u s h a r
. ;
•• ~· o fft1"'~~ v · - • • • · · -~~-v···
ABSTIL'\K
YlJSUAR, NIM: Qt5050028.1(El'ERCAYAAN MAGI DAN IUTllM. FADA MAS\' ARAKA T NELA \'AN M.ELA YU LABURAN BA TU .
Thesis int membahas tentang saiab satu kegiatan religi
pad>
masyarakat nclayan Melayu yang difokuskanpad>
kepercayaan magi dan ritual berikut pamangannya dalam kegiaJ.aR menangkap ikan di \aut serla aplikasinya bagi pelestarian \ingkungan hid up.Penelitian ini adalab penelitian emografi dengan mempergunakan roetode wawancara pada pilllll<-pihak yang ditengarai menguasai kemampuan magi dan ritual
bcrikul pantangannya pada kegiatan menang\<ap ikan di \aut Tujuan penelitian im adalah unruk mengiventarisasi dan mendokumentasikon bcrbagoi tr.-lisi
\okal
yangbcrkaitan dengon kepercayaan magi,
ritual.
dan pantangannya yang dapat diaplikasikaJ>untuk pelestarian \ingkuogan hidup. penemuan dalam penelitian ini roenunjukkan
bah""
kepe.:ayaan magi dan ritualbcrikut pantangonnya pada masyarakat nelayan Mclay" adaiah mcrupakan suaiU bcntuk religi yang dipraktikkan para netayan sejak membuat sampan. membuka perkarang:tn, dan membuka iapangan dilakukan dengan mantra. doa, dan wifiq (ajimal) yang dipercayai dapat mempermudah rezekt (d<>l:agh). Kegiatan ini dulu memukai jasa orang pintar atau pawang yang menguasai roantta. magi, dan willq, sebab pam nelayan tidak seluruhnya mempunyai keterampilan yang bcrl<aitan dengan
magi,
ritual serta pantaflbr.lMY" Bentuk kepercayaan magi dan rirual beril<Ut pantangannya inisecata
intlisit
dapat
dijadikan sebagai sarana pe\estarian linpgan hidup.Dewasa ini kegiatan
de~gan
mempergunakan jasa m:ang pintar jarang dilakui:JLn olehpara
masyarakat nelayan Melayu Labuhan Batu kareM orang yang roenguasai keterampilan ini satu persa!U meninggal dunia, sedangkan penggruttinya tidak ada. sehingga tradisi ini dapal dikatakan hampir punah. Responden yang menguasai keterampilan magi dalampenelitian
inipun sebagian bcsar meningb>al dunia setelahABSTRACT
YllSRAR, NIM : 015050028. MAGIC AND RITUAL BELIEFS lN MALAY
COMMUNITY
01'nSHERMEN OF
LABUHAN BA TU.This thesis deals with one of the religious practices
by
Malay Community of Fishermen tocused on magical and ritual beliefs the taboo in fishing on sea and event the application for preservation of natural environment.The present study is an ethnographical one using in interview \\ith lhe mediated parties \vho have magical and ritual powers with taboo in fishing on sea_ The goal of such study is to invent and document various local traditions related to tbe ma&.-ical and the ritual beliefs \\-'ith the taboo that can be applied for preservation
of
natural environment.The discovery of the research shows that ritual, magic belief and also the taboo of Malay Fishermen Society are a form of religious practiced by the fishermen since making the boat, opening the landscaping and field by saviors, prays, and wifiq believed to get the prosperity (dokagh). The event is absolute to be done in long time ago through
the witch by saying saviors, magic, and wifiq, because not aU of the fishermen have skill related with magic, ritual and taboo. The form of magic, ritual and also the taboo can be regarded as an equipment of natural environment implicitly.
DAFTAR lSI
ABSTRAK ... .
KA TA PENGANT AR
DAFTAR lSI ..
BAB I PENDAHULUAN ...
1. Latar Belakang Penelitian ....
2. Identifikasi Masalah ... 3. F okus Masalah .
4. Pertanyaan Penelitian .. . ···
5. Tujuan Penclitian .
6. Manfaat Penelitian ..
BAB II KERANGKA TEORI
A Tinjauan Teoritis .
1. Kepercayaan .... 2. Agama dan Magi ... 3. Ritual ... .
4. Tabu
5. Kerangka Konsepsual
B. Metode Penelitian ....
1. Lokasi Penelitian .
2. Teknik Pengumpulan Data 2.1. Metode Pengamatan .
2.2. Metode Wawancara Terbuka Dan Mendalam.
3. Teknik Analisa Data ... 4. Populasi dan Sampel .
BAB III PROFIL MELA YU LABUHAN BA TU
1. ldentitas Melayu Labuhan Batu
2. Sejarah Panai ...
3. Desa Sei Merdeka Dan Sejarahnya ..
4_ Kehidupan Sosial Keagamaan Dcsa Sei Mcrdeka ... .
BAB IV KEPERCAYAAN MAGI DALAMMASYARAKAT
NELA Y AN MELA YU .
41
48
55
65
A Jenis-Jenis Kepercayaan Magi . . . 68
l. Magi Membuat Sampan _ . 68
1. Magi Membuka Pekarangan 74 3. Magi Membuka Lapangan . . 77
B. Ritus Magi Sebagai Wujud Kepercayaan Nelayan Melayu . ... 83
l. Ritual Membuat Sampan . 83
2. Ritual Membuka Pekarangan __ . 87 3. Ritual Membuka Lapangan ____ 90
BAB V PANTANGAN AT AU TABU MENANGKAP lKANDl LAUT
DAN KA!TANNYA DENGAN PELESTARlAN SUMBER
DAYAALAM.
1. Pantangan Atau Tabu Menangkap Ikan Oi Laut
2. Pantangan Dan Kaitannya Dengan Pelcstarian
Sumber Daya A lam .
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ..
A Kesimpulan .
B. Saran ...
BABI
PENDAHULUAN
/MilfK I'ERPUST AKJ;.
II"''
Ul\iiMEi'
1. Latar Belakang Penelitian
Masyarakat nelayan Melayu memandang alam khususnya !aut adalah suatu
wilayah yang harus dihorrnati, dibujuk karena !aut merupakan sumber penghidupan
untuk memenuhi keperluan sehari-hari. Selain kebutuhan primer \aut adalah suatu
yang sakral dan menempati posisi yang sangat penting sepanjang kehidupan mereka.
Dalam hal ini masyarakat nelayan Melayu mempercayai bahwa dengan magi dan
ritual mereka dapat menjinakkan !aut. Sebagai komunitas yang beragama Islam
nelayan Melayu menilai aktivitas tersebut tidak menyalahi ajaran agama. Lagi pula
praktik kepercayaan magi dan ritual tidak dimaksudkan memohon pertolongan pada
mambang yang ada di taut tetapi kepada Tuhan sebagai penguasa alam. Nelayan
Melayu sangat menghormati alam sekitamya (Fachruddin, 1996:43). Penghormatan
terhadap alam sekitamya adalah perwujudan dari budaya spritual yang hidup dalam
masyarakat Indonesia umumnya dan Melayu khususnya. Budaya spritual sudah
menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Salah satu wujud budaya
• spritual ini adalah mempercayai adanya supernatural (Gultom, 2002:3) .
Pandangan nelayan Melayu terhadap laut belakangan ini mulai mengalami
pergeseran. Dengan perkembangan teknologi dan tingginya tingkat pendidikan
2
mengakibatkan beberapa tindakan budaya yang lazim dilakukan berkenaan dengan
proses pemenuhan kebutuhan hidup melalui !aut sudah hampir tidak diamalkan lagi.
Simanjuntak ( 1986: 177) rnenyatakan bahwa hakekat alam menurut orang Melayu
harus dibujuk agar mau memberi rezeki bagi mereka. Ada juga pandangan yang
mengatakan bahwa alam itu harus dilawan, agar jangan mencelakakan manusia.
Namun gencrasi muda yang berpendidikan mempunyai pandangan yang lebih
progresif, karena itu secara umum masyarakat Melayu dalam pandangannya
rnengenai hakekat alam telah bersikap peralihan atau sudah bergerak kepandangan
yang progresif (Simanjuntak, 1986:194 ).
Pergeseran orientasi nilai budaya Melayu umwnnya juga dialami oleh nelayan
yang merupakan bagian yang terinteb'Tasi dengan masyarakat Melayu khususnya.
Fenomena yang berkaitan dengan menyakralkan !aut oleh nelayan Melayu
belakangan ini hampir hilang sehingga kita jarang menemukan bentuk-bentuk
kepercayaan magi dan ritual yang eksis dalam masyarakat nelayan Melayu dalam
praktik budaya misalnya kegiatanjamu laut.
Kajian kepercayaan magi dan ritual pada masyarakat nelayan Melayu perlu
dilakukan untuk mendapatkan nilai budaya yang menjadi identitas Melayu sehari-hari
agar diperoleh konstruksi masyarakat nelayan Melayu dengan lebih baik, paling tidak
untuk masyarakat nelayan Melayu Labuhan Batu. Prilaku beragama masyarakat
nelayan Melayu tidak jarang bercampuraduk dengan tradisi. Idiom Melayu sama
3
berkaitan dengan aktivitas menangkap ikan di \aut Harmonisasi tradisi dengan ajaran
agama sangat kental dengan kehidupan orang Melayu, adat dan agama seiring sejalan.
Laut yang serba tidak pasti memaksa masyarakoii nelayan mempersiapkan diri
secara lahir dan bathin agar dapat mengendalikannya dan sekaligus memberikan
penghidupan bagi mereka. Menghadapi dunia yang sakral ini harus dilakukan dengan
berbagai cara antara lain dengan kekuatan supernatural yang merupakan suatu
kepercayaan yang harus dimiliki oleh masyarakat nelayan yang penghidupannya
sangat tergantung kepada kemurahan alam. Kepercayaan pada hal-hal yang gaib dan
dapat membantu atau bahkan menghambat aktivitas di \aut haruslah diketahui,
kepercayaan magi merupakan bcntuk perwujudan dari usaha manusia dalam
menundukkan alam. Untuk dapat menundukkan ini selalu dibarengi dengan
ritual-ritual dalam upaya berhubungan dengan penguasa laut. Kajian ini berusaha untuk
mendokumentasikan dan menginventarisasi praktik-praktik budaya religi pada masa
lalu sebagai kearifan tradisional.
Secara umum orang-orang Melayu mendiami pantai Timur pulau Sumatera
dan Semenanjung Melayu serta pulau-pulau yang terletak antara Sumatera dan
Kalimantan. Pemukiman etnik Melayu di pantai Timur Sumatera adalah menjulur
dari daerah Utara ke Tenggara mulai kabupaten Aceh Timur, Aceh Tarniang,
Langkat, Deli Serdang, Asahan, terus ke Labuhan Batu sepanjang 280 km
(Simanjuntak, 1986:13). Etnik Melayu yang bermukim di sepanjang pesisir Timur
Swnatera Utara ini tidak terbagi dalam sub etnik bangsa walaupun secara geografis
4
interaksinya dengan berbagai etnik yang berbeda, misalnya di Langkat dan Deli
dengan etnik Karo, Serdang dan Batubara dengan etnik Simalungun dan Minang, di
Asahan de"flgan etnik Toba, Labuhan Batu dengan etnik Mandailing I Padang Bolak.
Jadi, akibat interaksi ini teijadi akulturasi sehingga terlihatlah perbedaan antar sesama
etnik Melayu. Perbedaan yang utama kelihatan hanyalah dalam bidang bahasa, yakni
dalam cara pengucapan (Hasry, 1982:5)
Adapun Melayu Labuhan Batu adalah komunitas yang bermukim di Labuhan
Batu dengan wilayah penyebarannya di daerah yang pada prakemerdekaan dikenal
sebagai kerajaan Panai, kerajaan Bilah, kerajaan Kualuh dan kerajaan Kota Pinang.
Khusus dalam penelitian ini kajian difokuskan pada rnasyarakat nelayan Melayu
Panai di kabupaten Labuhan Batu sekarang.
Mehhat areal pemukiman etnik Melayu di Sumatera Utara yang terdapat di
sepanjang pantai Timur, maka penghidupan mereka pada umumnya adalah sektor
pertanianlladang dan perikanan!nelayan. Sebagai petani ladang orang Melayu telah
lama memiliki tradisi pertanian yang menghasilkan komoditi ekspor seperti pala,
!ada, pinang, asarn glugur, padi serta palawija (Anderson, 1924). Untuk bidang
okuvasi di atas orang Melayu tidak dapat dipungkiri lagi eksistensinya, mereka
adalah pedagang yang piawai dalam rnelakukan bisnisnya walaupun harus
mengarungi lautan untuk rnencapai berbagai belahan dunia, jauh sebelum orang Barat
mencapai wilayah Melayu. Setelah bangsa Barat Masuk, etos niaga yang dimiliki
orang Melayu manjadi surut yang berakibat hancumya struktur ekonomi rnasyarakat
5
dari perikanan. Umumnya mereka bermukim di pinggir-pinggir sungai besar seperti
sungai Barumun, sungai Kualuh, sungai Asahan, sungai Belawan, sungai Wampu dan
tidak ada jauh dari pinggir \aut, penghidupan mereka adalah sebagai nelayan
menangkap ikan di !aut Berdasarkan data statistik pada tahun 1989 tercatat 100.752
KK nelayan, pada tahun 1997 terdapat 116.589 KK nelayan atau 4,8% dari jumlah
KK penduduk Sumatera Utara (Marbun, 2002:25).
Mata pencaharian orang Melayu yang variatif di atas telah menampilkan
wajah Melayu yang serbaneka pula dalam pola kehidupannya. Tetapi secara umum
berdasarkan tinjauan geografis maka sebagai nelayan adalah merupakan pilihan
okuvasi yang cenderung digeluti. Telaah kehidupan nelayan dari sudut ekonomi acap
kah dilakukan para ilmuwan, misalnya Mubyarto ( 1984), Marbun (2002). Khusus
untuk pcnelitian ini, fokus lebih tcrarah pada kehidupan kepercayaan magi dan ritual
para nelayan dalam upaya mereka untuk mendapatkan hasi I yang maksimal dari
penghidupan mereka di laut. Orang Melayu yang penghidupannya nelayan tidak
hanya memandang !aut sebagai sumber penghidupan akan tetapi !aut dipandang juga
sebagai wahana mendekatkan diri kepada Kuasa Supernatural, tempat bersemayamnya penguasa yang memberi lebih dari sekedar penghidupan. Laut selain
sebagai profan juga dipandang sebagai yang sakral dalam kehidupan orang Melayu.
Sebagai yang prohm laut adalah tempat yang lazim dipergunakan untuk
kegiatan-kegiatan sehari-hari seperti transportasi, mencan nafkah. Sebagai yang sakral taut
diperlakukan sebagai jembatan dan sekaligus tempat untuk berintekrasi dan
6
diwariskan secara turun-temurun. Perwujudan dari sakral ini dapat kita tunjukkan
dalarn aktivitas jamu !aut yang berkaitan dengan usaha untuk mendapatkan berkah
dari !aut. Dalam upaya mendapatkan berkah dari !aut inilah diternukan kepercayaan
magi dan ritual yang dipraktikkan oleh orang Melayu.
Terkait dengan mata pencaharian sebagai nelayan, orang Melayu memandang
taut sebagai lapangan mata pencaharian tidak hanya dengan pandangan mata kasat.
Ada nilai-nilai yang terkandung pada taut dan harus didekati dengan berbagai cara
untuk mendapatkan kemudahan dan berkat yang terkandung di dalamnya. Laut yang
serba tidak pasti memaksa masyarakat nelayan mempersiapkan diri secara lahir dan
bathin agar dapat mengendalikannya dan sekalibrus memberi penghidupan bagi
mereka.
Menghadapi dunia laut yang sakral ini harus dilakukan dengan berbagai cara
antara lain dengan menampilkan kekuatan supernatural. Magi ini adalah suatu ilmu
pengetahuan yang diperuntukkan bagi pengendalian kekuatan yang berada di luar diri
manusia. Kepercayaan atas kekuatan yang berada di luar diri manusia diperuntukkan
bagi mempermudah pencapaian tujuan dalam setiap aktivitas di laut.
Kepercayaan pada hal-hal yang gaib dapat membantu atau bahkan
menghanibat aktivitas di \aut harus diketahui. Kepercayaan magi rnerupakan bentuk
perwujudan dari usaha masyarakat nelayan dalam menundukkan alam. Untuk dapat
menundukkan alam ini selalu dibarengi dengan magi dan ritual dalam rangka
berhubungan dengan sakral di laut. Kedudukan magi dan ritual yang dikategorikan
7
diperlukan pendekatan lain yang lebih aplikatif Magi mengurusi masalah-rnasalah
yang diabaikan sains atau yang tentangnya sains tidak dapat dipergunakan (Paz,
1997:62).
Magi taut dilakukan sebagai upaya untuk mendekati yang sakral agar mcnjadi
profan. Magi !aut adalah bagian yang mutlak dalam upaya mendapatkan basil
tangkapan. Magi ini dilakukan dari tahapan yang paling awal mulai dari membuat alat
tangkap, pembuatan sampan, pemilihan bahan-bahan pembuatan sampan, waktu
pembuatan, orang yang mernbuat. Memilih tempat yang layak untuk melakukan
kegiatan penangkapan, doa-doa yang dipergunakan dalam kegiatan penangkapan,
yang memimpin kegiatan, benda-benda yang dipergunakan, penetapan waktu melaut
dan menetapkan kapan kembalinya. Rangkaian kegiatan di atas menggamharkan
betapa usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup dari !aut tidak dilakukan
sembarangan. Tata cara yang dilakukan memberi pelajaran bahwa ]aut adalah mitra
dalam kehidupan, !aut sebagai sumber penghidupan harus dihonnati dan dijaga
eksistensinya sebagai yang sakral.
Berbagai aktivitas yang berkaitan dengan kegiatan menangkap ikan di !aut
kerap dibarengi dengan adanya pantangan-pantangan atau tabu. Pantangan itu antara
lain adalah yang berkaitan dengan pembuatan sampan. Nelayan Melayu mengenal
pantangan yang harus dihindari manakala akan membuat sampan yaitu dilarang atau
berpantang membuang nazis di akar pohon kayu yang akan dibuat menjadi sampan.
Juga ada pantangan bahwa tarahan {potongan) kayu yang akan dibuat sampan tidak
8
telah dihuni oleh;wnhalang atau hantu. Dernikianjuga dipercayai bahwa yang terkait dengan alatMalat menangkap ikan, tempat menangkap ikan juga mempunyat pantangan-pantangan sendiri. Dengan adanya pantangc1n-pantangan ini terkesan
bahwa kegiatan melaut sarat dengan nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai dasar
rnendorong terciptanya partisipasi rnasyarakat dalam pelestarian lingkungan.
Laut sebagai sumber penghidupan harus dapat dicennati secara seksama,
kekuatan apa yang ada di dalamnya, apa yang diarnbil darinya untuk penghidupan,
bagaimana cara mendapatkannya, dengan alat apa dan bagaimana membuat alat itu
agar mudah menaklukkan laut Bagaimana masyarakat nelayan memandang !aut,
bagairnana menjinakkannya untuk memperoleh penghidupan, dengan apa mereka
mcnaklukkan !aut, pada saat bagaimana saja mereka dapat mcnikmati keberadaan
!aut, apa saja yang harus dipersiapkan untuk mcnaklukkan !aut. Menipisnya nilai-nilai
budaya tradisional dapat mengaburkan jati diri sebagai etnik yang mandiri dan pada
gilirannya menghilangkan identitas etnik yang bersangkutan. Menggali kembali
nilai-nilai budaya lokal adalah merupakan keniscayaan terutama pada era globalisasi, yang
merobohkan sekat-sekat wilayah sebagai dampak dari perkembangan teknologi
komunikasi. Untuk itu perlu kajian tentang perwujudan kepercayaan magi dan ritual
pada ma"syarakat nelayan Melayu Labuhan Batu agar diperoleh infonnasi dan
sekaligus memberikan rekomendasi bagi usaha pelestarian budaya masyarakat
9
2. ldentifikasi Masalah
Dan uraian latar belakang di atas dapat diidentifikasi menjadi beberapa pokok
pikiran yang mcliputi :
1. Nelayan Mclayu mempraktikkan kcpercayaan magi dan ritual dalam menangkap
ikan di !aut
2. Terdapat beberapa pantangan atau tabu dalarn kegiatan yang berkaitan dengan
rnenangkap ikan di !aut.
3. Terdapat keterkaitan kepercayaan magi dan ritual dengan pelestarian sumber daya
a lam.
3. l<'okus Masalah
Fokus masalah dalam penelitian ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan
aktivitas masyarakat nelayan Melayu dalam perwujudan kepercayaan magi dan ritual
yang dilakukan sejak persiapan, saat dan selesai kegiatan melaut
4. Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimanakah pcrwujudan kepercayaan magi dan ritual masyarakat nelayan
Melayu Labuhan Batu dalam kegiatan menangkap ikan di taut.
2. Apakah ada pantangan atau tabu ditemukan dalam kegiatan menangkap ikan di
!aut.
3_ Bagaimanakah pantangan atau tabu berfungsi dalam pelestarian sumber daya
,,
10
5. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian adalah:
I. Untuk mengetahui berbagai wujud kepercayaan magi dar.· ritual masyarakat nelayan Melayu Labuhan Batu dalam kegiatan menangkap ikan di Jaut.
2. Untuk mengetahui pantangan atau tabu yang berkaitan dengan kegiatan
menangkap ikan di laut.
3. Untuk mengetahui pantangan atau tabu dalam hubungannya dengan pelestarian
sumber daya alam.
6. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat secara teoritis dan praktis :
\. Memberikan sumbangan secara teoritis tentang berbagai bentuk kepercayaan
magi dan ritual pada masyarakat nelayan.
2. Memperkuat identitas nelayan Melayu sebagai kelompok yang memiliki
perhatian terhadap pelestarian lingkungan.
3. lnventarisasi dan dokumentasi khasanah budaya lokal yang hampir punah
akibat modemisasi.
4. Mendorong terselenggaranya kegiatan penelitian yang berkaitan dengan
masyarakat nelayan Melayu dari berbagai aspek kehidupan.
5_ Sebagai bahan perbandingan dalam penehtian yang berkaitan dengan
kehidupan kepercayaan magi dan ritual beserta pantangan-pantangannya yang
dipraktikkan oleh nelayan.
,
..DAFTAR
PUSTAKAAbdullah., Tauftk. 1985. Sejarah l.okal Di !ndunesia. Yogyakarta Gajah Mada University Press.
Anderson, 1. 1924. Mission to East Sumatra: A Report. London: Blackwood
Azhari, Ichwan. 1992. Studi Tentang Fa/rtor-Faktor Yang menimbulkan Kemiskinan
Nelayan Desa Jaring Halus Kecamalan Secanggang Sumatera Utara. Laporan
Pcnelitian Puslit : IKIP Medan.
Bellah., Robert N. 2000. Beyond Belief t."Sei-Esei Tentang Agama Di Dunia Modern.
Penerjemah Rudy Harisyah Alam. Jakarta : Paramadina.
Betteilte. Andre. 1969. Soctal/nequality Great Britain. Penguin Modem Sociology Reading.
Danandjaja. James. 1989. Kebudayaan Petani Desa l'runyan Bali. Jakarta: Uf Press
Dahlan Abdul Aziz. 1996. Ensiklopedi Islam 2. Jakarta: PT fctiar Baru Van Hoeve
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1999. Kamu'i Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka
Dhavamony, Mariasusai. 2002. Fenomenologi Agama. Yogyakana: Kanisius.
Dhofier, Zamakhsyari. 1994.
Tradisi Pesantren
Studi Tentang PwuJangan HidupKyat. Jakarta: LP3ES.
Durkheim, Emile. 2003. Sejarah Agama. Teljemahan The Elementary Forms of the
Religious Life. Peneijemah Inyiak Ridwan Muzir. Yogyakarta: IRCisoD.
Efendi. Tenas. 1997. Bujang Tan !Jomang Sastra Lisan Masyaralrat Petalangan.
Jakarta : Balai Pustaka.
Ensiklopedia AI-Qur'an Buku /. 1992. Jakarta : Rineka Cipta.
Ensildopedi llmu ·-llmu Sosial Edisi Kedw. Jakarta: PT. Raja Grafmdo Persada.
Fachruddin, Chalida. 1996. Sosialisasi Anak Dalam !dasyarakat Ne/ayan !14elayu di
Sumatera Utara ; Dalam Alereka Yang Terpmggirkan Orang Melayu di Sumatera Utara. Selangor : [nstitut Alam dan Tammad:dun Melayu.
__ _ . 2004. Perkembangan Keagamaan Sebagai
Kesan
Penerapan Nilai-Nilai Islam Pada Adat Orang Melayu Sumatera Timur dalam Beriga.Brunei Darussalam : Dewan Bahasa Pm>taka.
Fadzil, Siddiq. 1996. Potensi Kepeloporan Melayu Abad 2 I dalam Ulumul Qur'antara
lain I/VIV1996.
Frazer, J. G. 2001. Animisme Agama. Dalam DanielL. Pals. Seven The Theories Of Religiou.r;_ Alih Bahasa Ali Noer Zaman Yogyakarta: Qalam.
Freud, S. 200l. Totem Dan Tab(){)_ Yogyakarta : Jendela Grat1ka. Terj : Kurniawan Adi Syahputro.
Fowler, James W. 1995. Tahapan-Tahapan Perkemhangan Kepercayaan. Yogyakarta : Kanisius.
Fox, J. James. 2002. Indonesian Heritage. Jakarta: Groher InternationaL Inc
Geertz,
Clifford. 2003. Kebudayaan & Agama. Yogyakarta: Kanisius.Gultom, Ibrahim. 2002. Ehi.\'fensi Budaya Spritual di Indonesia. Makalah yang Disampaikan Pada Seminar Agama dan Kebudayaan di Brastagi. Kerjasama Departemen Sosial Sumatera Utara dan NAD.
Hasry, Nurzainah. 1982. Kebudayaan Melayu Sumatera Timur. Fakultas Sastra USU :Paper.
Havilland, William A. 1993. Antropologi Edisi 2.
Jakarta:
Erlangga.Hornsby. A S. 1994. Oxford Advanced Learners Dictionary of Current Enf;lislz.
Oxford University Press.
Husni, TM Lah. 1961. Masjarakat Melaju Sumatera Timur. Medan : BP Husni
. 1975. Lintasan Sejarah Peradahan Budaya Penduduk Melayu-Pesisir Deli Sumatera Timur 1612-1950. Medan: BP. Husny
Jensen, Adolf E. 1963. lvfyth and Cull Among the Primitt\'e Peoples. Chicago (Terj).
Julismin. 1995. Faktor-Faklor Penyebah Retulahnya Pendidikan Anak di Pemukinum
Nelayan Kecamatan Medan Belawan. Laporan Penelitian Pusht- I KIP Medan.
Kecamatan Panai Tengah Dalam Angka. 2004. Koordinator Statistik BPS Kecamatan
Panai Tengah Kabupaten Labuhan Batu.
Khaldun, fbn. 2001. Muqaddimah. Penerjemah Ahmadie Thohari. Jakarta : Pustaka Firdaus.
Kaplan, David. 1999. Teori- Teori Budaya Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Kartoprodjo, Kamil. 1985. A/iran Ketuhanan dan Kepercayaan di Indonesia. Jakarta
:Mas Agung.
Ke'vanian, Ke'ram. 2002. Sua/u Catalan Perjalanan di Laut Cina Dalam Bahasa
Armenia. Dalam Guillot, Claude. Lobutua Sejarah Awal Banes. Penerjemah
Daniel Perrit. Jakarta : Obor.
Koentjaraningrat. 1958. Metode Antropologi. Jakarta: Penerbit Universitas.
_ _ _ _ _ _ . 1980. Beberapa Po/wk Antropologi Sosial. Jakarta : PT Dian
Rakyat
_______ . 1980. Pengantar Antropologi. Jakarta: Aksara Barn.
- - - " - · . 1985. Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta : Gramedia .
. 1993. Ritus Peralihan di indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
·
-Kuper Adam & Jessica Kuper. 2000. Ensiklopedi llmu·Ilmu Sosial. (Telj. Haris Munandar Cs) Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Labulum BaJu Da/am Angka. 2003. Kantor Statistik Kabupaten Labuhan Batu.
Lubis, Nur Ahmad Fadil. 2000. Agama Sebagai Ststem Kultural. Medan: rAIN Press
Malinowski, B. 1954. Magic. Science and Religion. New York.
Marbun., Leonardo. 2002. Ma.,yarakat Pinggiran. Medan : Jala.
Marsden, William. 1999. Sejarah Sumatera. Bandung : Remaja Rosdakarya. Penerjemah A S Nasution.
Morris, Brian. 2003. Antropologi Agama Kritik Teort-Teori Agama Kontemporer.
Penerjemah Khoiri. Yogyakarta: AK Group.
Mubyarto. 1984. Nelayan dan Kemiskinan. Jakarta : Rajawah.
Muhairnin, A. G. 200 L. bi/am dalam Bingkai Budaya Lokal Potret dari Cirebon.
Jakarta : Logos Wacana Ilmu.
Nadjamuddin, Lukman. 2002. Dart Animisme ke Monoteisme Krtstenisasi di Poso
1982-19-12. YO!,ryakarta: Yayasan Untuk: Indonesia.
O'Dea, Thomas F. 1994. Sosiologi Agama, Suatu Pengenalan Awa/. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Onghokham, 1983. Merosotnya Peranan Pribumi dalam Perdagangan Komoditi.
Jakarta: Prisma No. 8/X[I.
Osman. Mohd, Thaib. 1989. Masyarakat Melayu Struktur Organisasi dan
lvfanifestasi. Kuala Lumpur : Dewan Bahasa Pustaka.
Pals, Daniel L. 200 l. Seven Theories of Religion. Yogyakarta : Penerbit Qalam. Paz., Octavio. 1997. LeVl - STRAUSS. Empu Antropulogi Struktur. Yogyak:arta :
Lk.iS.
Pelzer, Karl J. 1985. Toean Keboen dan Petani. Po/ilik Kolonial dan Perjuangan
Agraria di Sumatera Timur 1863-1947. Jakarta: Sinar Harapan.
Prisma. No.2 Februari l979NUI. Jakarta: LP3ES.
Ridyasmara, Riz:ki. 2006. Knights Tempfar Knights Of Christ Kompirasi Berbahaya
Biarawan Sion Menjelang Argamedon. Jakarta: Pustaka AI Kautsar.
Saicl Muhammad l% l. Atjeh Sepandjang A bad. Medan : Waspada
Sanderson, Stephen K. 1993. SOS!OLOG! MAKRO Sebuah Pendekatan Terhadap
Realitas Sosial. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Sinar, Luckman Tgk. 1971. Sari Sedjarah Serdang. t!t al
Sitohang, Setiajan, Marulam. 1987. Suatu llnjauan Historis Tentang Perkemhangan
Pemerintahan di Sumatera Utara. Tesis IKlP Medao.
Slametmuljana. 1968. Sriwidjaja. Ende Flores : Nusa £ndah
Soeharto. Pidato Kenegaraan Presiden Jlj di Depan Sidang DPR 16 Agustus 1976.
Strauss. Anselm & Corbin, Juliet 2003. Da8ar-Dasar Penelitian Kualitatif. Basics Of
Qualitative Research. Penerjemah Muhammad Shodiq. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar.
Suparl.an, Parsudi. 1983. Metode PengamaLan. Jakarta: Depdikbud.
Suyono, Ariyono. 1985. Kamus Antropologi. Jakarta: Akedamika Pressindo.
Taib, Abdullah. 1985. Azas-Azas Antropologi. Kuala Lumpur : Dewan Bahasa
Pustaka.
Tumin, Melvin. 1970. Reading on .)'ocial Stratification. Dalam Some Principles of
Stratification. USA: Prentice - Hall