PELANGGARAN MASA IDDAH DI MASYARAKAT
(Studi Kasus di Dusun Gilang, Desa Tegaron, Kec. Banyubiru)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh
Gelar Sarjana dalam Hukum Islam
Oleh :
Ita Nurul Asna
NIM 21110007
JURUSAN AHWAL AL-SYAKHSHIYYAH
FAKULTAS SYARI’AH
NOTA PERSETUJUAN PEMBIMBING
Lamp : 4 (empat) eksemplar Hal : Pengajuan Naskah Skripsi
Kepada Yth.
Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Salatiga
Di Salatiga
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Disampaikan dengan hormat, setelah dilaksanakan bimbingan, arahan dan koreksi, maka naskah skripsi mahasiswa:
Nama : ITA NURUL ASNA Nim : 21110007
Jurusan : Syari’ah
Program Studi : Ahwal Al-Syakhsiyyah
Judul : PELANGGARAN MASA IDDAH DI MASYARAKAT (Studi Kasus di Dusun Gilang, Desa Tegaron, Kec. Banyubiru).
Dapat diajukan kepada Fakultas Syari’ah IAIN Salatiga untuk diujikan
dalam sidang munaqasyah.
KEMENTERIAN AGAMA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA FAKULTAS SYARI’AH
Jl. NakulaSadewa 5 No. 9 Telp. (0298) 3419400 Faks. 323433 Salatiga 50722 http://www.iainsalatiga.ac.id e-mail: [email protected]
PENGESAHAN
PELANGGARAN MASA IDDAH DI MASYARAKAT (Studi Kasus di Dusun Gilang, Desa Tegaron, Kec. Banyubiru)
OLEH
ITA NURUL ASNA NIM :21110007
Telah dipertahankan di depan Sidang Munaqosyah Skripsi Fakultas Syari’ah, Institut
Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, pada hari Rabu tanggal 18 April 2015 dan telah dinyatakan memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Hukum Islam
Dewan Sidang Munaqasyah
Ketua Penguji : Dra. Siti Zumrotun, M.Ag ______________
Sekretaris Penguji : Farkhani, S.H, S.HI,.MH ______________
Penguji I : Lutfiana Zahriani, S.H., MH ______________
Penguji II : Haryo Aji Nugroho, S.sos,. MA ______________
Salatiga, 18 April 2015 Dekan Fakultas Syari’ah
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Yang bertandatangan dibawah ini;
Nama : ITA NURUL ASNA
Nim : 21110007
Jurusan : Ahwal Al- Syakhsiyyah
Fakultas : Syari’ah
Judul Skripsi : PELANGGARAN IDDAH PADA MASYARAKAT (Studi Kasus di Dusun Gilang, Desa Tegaron, Kec. Banyubiru)
Menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah
Salatiga, 18 April 2015 Yang menyatakan
MOTTO
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati
supaya menetapi kesabaran.
PERSEMBAHAN
Segalanya hanya kupersembahkan padamu Ya Allah
Yang maha pengasih lagi maha penyayang
serta
maha adil dan bijak sana
Ayahanda MUHAMMAD AMIN
Dan
ibunda tercinta SITI IMROATUN serta keluarga tercinta
Suamiku tercinta M AULIA ROHMAN yang tak terhenti
menemaniku
Buah hatiku AQILA NADA RAHMAN
Teman dan sahabatku yang selalu memotifasi dan akan selalu ku ingat
KATA PENGANTAR
Segala Puji syukur Alhamdulillah selalu dipanjatkan kehadirat Allah SWT, yang melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua. Dialah sebaik-baik pencipta hukum, hakim Maha adil, Maha bijak dan Maha segalanya, sehingga penyusun mampu menyelesaikan sebagian tugas akademik sebagai syarat menempuh jenjang Sarjana S-1 Syari’ah ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, pemimpin orang-orang yang bertaqwa, dan penempuh jalan kebenaran, Rasulullah Muhammad SAW, para sahabatnya dan para pengikutnya yang senantiasa istiqomah dalam menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam.
Keberhasilan penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan partisipasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. H Rahmat Hariyadi, M.Pd Selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.
2. Ibu Dra. Siti Zumrotun, M.Ag selaku Dekan Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.
3. Bapak Sukron Makmun, M.Si. selaku Ketua program studi Ahwal al-Syakhshiyyah.
4. Bapak Illya Muhsin S.HI., M.Si.M.Ag. Selaku dosen pembimbing akademik. 5. Bapak Farkhani, S.H,. S.HI,. M.H. selaku dosen pembimbing skripsi
6. Bapak dan Ibu Dosen serta karyawan perpustakaan dan bagian administrasi yang telah membantu proses penyusunan skripsi.
7. Teman-Teman FAI/Syari'ah angkatan ’10 (Ulya, Via, Rita, Ari, Ulin, Leni, Risa, Fariul, Hasan, Alfin, Danang, Zainul, Coe, Umam, Kusen, Sulhi, Arya, Rizaq, Yusuf, Hanif ) kalian semua adalah sahabat yang tidak akan pernah terlupakan. 8. Teman-teman seperjuangan di Nahdlotul Fata, yang menumbuhkan kedewasaan
dalam bersikap.
Penulis juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan. Berkat bantuan, arahan, dan bimbingan dari berbagai pihak sehingga tulisan yang berjudul: ”Pelanggaran Masa Iddah Pada Masyarakat (Studi Kasus di Dusun Gilang, Desa Tegaron, Kec. Banyubiru)”, dapat diselesaikan.
Akhirnya hanya kepada Allah penulis memohon, dan penulis menyadari bahwa kesempurnaan hanyalah milik Allah, semoga tulisan sederhana ini bermanfaat dan dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan kita, sehingga kita menjadi umat yang berilmu dan dimuliakan oleh Allah SWT. Amin
Salatiga, 15 April 2015 Penulis
ABSTRAK
Asna, Ita Nurul. 2015. Pelanggaran Iddah Di Masyarakat (Studi Kasus di Dusun Gilang Desa Tegaron Kecamatan Banyubiru). Skripsi Jurusan Syariah. Program studi Ahwal Al-Syakhshiyyah. Institut Agama Islam Negri Salatiga. Pembimbing: Farkhani, S.H., S.HI., MH.
Kata kunci: masa iddah.
Penelitian ini merupakan upaya untuk mengetahui pelanggaran-pelanggaran masa iddah pada masyarakat Dusun Gilang. Pertanyaan yang paling mendasar yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah (1) Bentuk pelanggaran masa iddah yang terjadi di Dusun Gilang, Desa Tegaron, Kec.Banyubiru? (2) apa faktor-faktor yang menyebabkan tidak melaksanakan iddah?. Guna Penelitian ini berusaha memahami permasalahan iddah bagi wanita yang mengajukan cerai gugat yang terjadi di masyakat Dusun Gilang, dengan menggunakan metode penelitian wawancara mendalam untuk mendapatkan data sebanyak banyaknya dengan terjun langsung ke lapangan.
Pelanggaran masa iddah banyak dilakukan oleh perempuan yang mengajukan cerai gugat di Dusun Gilang, penelitian yang dilakukan dengan mewawancarai 9 perempuan yang pernah mengajukan cerai gugat. Kasus cerai gugat sangat menonjol di Dusun Gilang, umumnya penyebab terjadinya cerai gugat dilatarbelakangi oleh beberapa faktor yaitu, pendidikan masyarakat yang rendah, keadaan ekonomi, pertengkaran, perselingkuhan, dan kekerasan dalam rumah tangga.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...
NOTA PERSETUJUAN PEMBIMBING... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERNNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... iii
MOTTO... iv
PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... viii
ABSTRAK ... ix
Daftar isi ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar belakang ... 1
B. Rumusan masalah ... 6
C. Tujuan penelitian ... 7
D. Kegunaan penelitian ... 7
E. Penegasan istilah ... 8
F. Metode penelitian ... 9
G. Telaah pustaka ... 12
H. Sistematika penulisan ... 14 BAB II LANDASAN TEORI CERAI GUGAT ATAU KHULU’
DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM (KHI) DI
INDONESIA ... 16
A. Cerai Gugat Atau Khulu’ Dalam Hukum Islam ... 16
1. Pengertian Khulu’ ... 16
2. Dasar Khulu’ ... 17
3. Rukun Khulu’ ... 22
4. Syarat Wanita Yang Mengajukan Cerai Gugat ... 24
B. Iddah Dalam Hukum Islam ... 24
1. Pengertian Iddah ... 25
2. Berdasarkan Sebab Perceraian ... 28
3. Dasar Hukum Iddah ... 28
4. Pergantian Iddah ... 35
5. Tujuan Iddah ... 36
C. IDDAH MENURUT KHI ... 37
1. Dasar Hukum Iddah ... 37
2. Macam-macam Waktu Perhitungan dan Waktu Tunggu 38 D. HIKMAH IDDAH ... 44
BAB III HASIL PENELITIAN ... 46
A. Gambaran Umum Dusun Gilang Desa Tegaron Kec. Banyubiru ... 46
1. Kondisi Geografis ... 46
3. Kondisi ekonomi ... 48
4. Kondisi Sosial Keagamaan ... 50
5. Kondisi Pendidikan ... 53
6. Sarana Prasarana umum ... 55
B. Profil Pelaku Cerai Gugat dan Pelanggar Iddah di Dusun Gilang Desa Tegaron Kecamatan Banyubiru ... 56
BAB IV ANALISIS PELANGGARAN MASA IDDAH DI MASYARAKAT MENURUT FIKIH ... 75
A. Khulu’ Pada Kasus Perceraian di Dusun Gilang, Desa Tegaron, Kec. Banyubiru 76 ... 76
B. Iddah Pada Kasus Khulu’ di Dusun Gilang, Desa Tegaron, Kec. Banyubiru ... 79
C. Analisis terhadap pelanggaran masa iddah ... 81
D. Iwadh Pada Kasus Khulu’ di Dusun Gilang, Desa Tegaron. ... 85
BAB V PENUTUP ... 87
A. Kesimpulan ... 87
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang Masalah
Sesuai dengan prinsip perkawinan, tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Untuk itu suami istri perlu saling membantu dan saling melengkapi agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadian untuk mencapai kesejahteraan spiritual dan material. Perkawinan sangat penting dalam kehidupan manusia, perseorangan maupun kelompok. Dengan jalan perkawinan yang sah, pergaulan laki-laki dan perempuan terjadi secara terhormat sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makhluk yang berkehormatan. Pergaulan hidup berumah tangga dibina dalam suasana damai, tenteram dan rasa kasih sayang antara suami dan istri. Anak keturunan dari hasil perkawinan yang sah menghiasi kehidupan keluarga dan sekaligus merupakan kelangsungan hidup manusia secara bersih dan berkehormatan.
Penciptanya dan kebaktian kepada manusia guna melangsungkan kehidupan jenisnya.
Perkawinan dalam Islam tidak sematamata sebagai hubungan atau kontrak keperdataan biasa, akan tetapi ia mempunyai nialai ibadah. Maka amatlah tepat jika Kompilasi Hukum Islam menegaskan sebagai akad yang sangat kuat (mistaqon gholiidan). Firman Allah surat ar-Rum : 21
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dand ijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.
Syekh Al-Azhar menegaskan bahwa akad nikah apabila telah dilaksanakan dengan rukun dan syarat nikah seperti diatur dalam syariat Islam, adalah sah, dan mempunyai pengaruh hukum, seperti pergaulan suami-istri, hak saling mewarisi dan keabsahan keturunannya (Anshary, 2010: 17).
adalah yang bagaimana menjaga dan melestarikan iklim tersebut agar tetap harmonis walau saat itu dirundung oleh berbagai riak-riak kehidupan.
Tidak terkecuali dalam kehidupan berumahtangga, baik suami istri dan anak dituntut untuk menciptakan kondisi keluarga yang harmonis, sakinah, mawadah, warohmah. Untuk menciptakan kondisi yang demikian, tidak hanya berada dipundak sang istri sebagai ibu rumah tangga atau bersandar di pundak sang suami sebagai kepala rumah tangga semata, tetapi secara bersama-sama dan berkesinambungan membangun dan mempertahankan keutuhan perkawinan, karena perkawinan merupakan gerbang untuk membentuk keluarga bahagia. Hal ini telah dituangkan dalam Undang undang No 1 tahun 1974:
“ perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga ( rumah tangga ) yang bahagia, kekal berdasarkan ketuhanan yang maha esa”.
Kelangsungan yang semula menjadi tujuan hidup bersama menjadi terkoyak dan tidak mampu dipertahankan.
Ketika konflik harus berlanjut, masing masing pihak tetap bersikeras pada pendiriannya untuk berpisah dan upaya upaya perdamain selalu gagal ditempuh. Maka perceraianpun tidak dapat dihindari sebagai jalan terakhir. Dalam keadaan seperti ini Islam berpesan agar bersabar dan sanggup menahan diri dan menasehati dengan obat penawar yang dapat menghilangkan sebab-sebab timbulnya rasa kebencian.
Firman Allah : ( An-nisa’ : 19)
ُالله َمَعْجَئَّبًئْيَش إُْْ َرْكَح ٌَْا يَطَعَف ًًٍَُُّْْٕخِْْرَك ٌِْبَف,ِفُْٔرْعًَْنبِب ٍَُّْْٔ ُرِش بَعَٔ
اًرْيِثَكاًرْيَخ ِِّف
“Dan pergaulilah mereka (istri-istri) dengan baik. Jika kamu benci kepada
mereka, boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal justru disitu Allah jadikan banyak sekali kebaikan-Nya.”
dengan jalan cerai. Jika kebencian adanya pada pihak suami maka tangannya terletak talak yang merupakan haknya. Jika kebencian adanya pada pihak istri maka Islam membolehkan dirinya dengan jalan Khulu’ yaitu mengembalikan mahar kepada suaminya guna mengakhiri ikatan sebagai suami istri.
Bagi seorang istri yang putus perkawinannya berlaku baginya waktu tunggu atau masa iddah, kecuali apabila seorang istri dicerai suaminya sebelum ia berhubungan (qobla dukhul). Baik karena kematian, perceraian atau putusan pengadilan. Dalam Undang Undang No 1 Tahun 1974 dituangkan dalam pasal 11:
(1) Bagi seorang wanita yang putus perkawinannya berlaku jangka waktu tunggu.
(2) Tenggang waktu tunggu tersebut ayat (1) akan diatur dalam peraturan pemerintah selanjutnya (Rofiq, 1998: 310).
Firman Allah surat Al-Baqoroh : 228
ء ُْٔرُق َتَثَهَث ٍَِِٓطُفََْبِب ٍَْظَب َرَخَي ُجَقَّهَطًُْنأَ
“Dan perempuan yang tertalak hendaklah dia menahan diri tiga kali quru‟”
tenggang waktu tunggu dihitung sejak putusan pengadilan. Masa iddah sangatlah penting bagi perempuan selain untuk mengetahui keadaan rahim, demi menentukan hubungan nasab anak, mamberi alokasi waktu yang cukup untuk merenungkan tindakan perceraian.
Di wilayah Dusun Gilang Desa Tegaron Kecamatan Banyubiru Kabupaten semarang, ada beberapa perempuan yang mengajukan cerai gugat, disini peneliti mengambil sembilan sempel perempuan untuk di teliti. Mereka belum menyelesaikan masa iddah sudah dapat melaksanakan perkawinan dengan laki-laki lain, melihat pentingnya masa iddah bagi perempuan membuat peneliti tertarik untuk meneliti kasus tentang pelanggaran masa iddah di wilayah Kecamatan Banyubiru. Disini peneliti sangat tertarik dengan kasus yang terjadi
di wilayah Kecamatan Banyubiru tentang “PELANGGARAN MASA IDDAH
DI MASYARAKAT (Studi Kasus di Dusun Gilang, Desa Tegaron, Kecamatan Banyubiru).
B. Rumusan Masalah
Problem studi penelitian ini adalah:
1. Bentuk pelanggaran masa iddah apa sajakah yang dilakukan oleh perempuan di Dusun Gilang, Desa Tegaron, Kec. Banyubiru?
C. Tujuan Penelitian
Setiap kegiatan penelitian tentu mempunyai arah dan tujuan tertentu, demikian pula halnya dalam menyusun skripsi ini berdasarkan pada rumusan masalah diatas, maka tujuan yang hendak dicapai penulis diantaranya adalah:
1. Menmgetahui bentuk pelanggaran masa iddah yang dilakukan oleh perempuan yang mengajukan cerai gugat di Dusun Gilang.
2. Mengetahui faktor-faktor penyebab pelanggaran masa iddah di Dusun Gilang, Desa Tegaron, Kec. Banyubiru.
D. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini diantaranya adalah sebagi berikut:
1. Manfaat Teoritis
Diharapkan dengan adanya penelitan ini dapat pengetahuan tentang kasus pelanggaran masa iddah di masyarakat. Selain itu penelitian ini juga diharapkan sebagai bahan pustaka bagi Institut Agama Islam Negeri Salatiga (IAIN).
2. Manfaat Praktis
a. Sebagai sumbangan referensi kepada para pihak yang terkait yaitu tokoh masyarakat setempat, tokoh agama dalam menanggulangi pelanggar masa iddah.
b. Penelitian ini dapat menjadi referensi berkaitan dengan masa iddah. E. Penegasan Istilah
Untuk memudahkan dalam memahami judul skripsi ini, serta untuk menghindari adanya kesalahan pemahaman dalam memahami judul. Adapun judul tersebut adalah tentang “ PELANGGARAN MASA IDDAH DI MASYARAKAT ( Studi Kasus di Dusun Gilang Desa Tegaron Kecamatan Banyubiru ). Secara umum judul ini sangat mudah untuk dipahami. Apa dan bagaimana maksud yang terkandung didalamnya, namun karena sebab-sebab tertentu dan adanya penggunaan istilah dalam judul penelitian ini, bisa saja seorang mendapatkan kesulitan dalam pemahaman yang berbeda dengan yang dimaksud oleh penulis. Maka penelitian ini perlu memberikan penegasan seperlunya terhadap penelitian ini. Penegasan ini di harapkan mampu memberikan gambaran kerangka berfikir yang dapat memudahkan pembaca dalam memahami hasil penelitian ini.
F. Metode penelitian
Dalam penelitian ini digunakan metode penelitian kualitatif yang meliputi: 1. Jenis penelitian
Penelitian ini juga termasuk dalam jenis penelitian lapangan (fieldresearch) dalam pelaksanaannya menggunakan metode pendekatan kualitatif, yang umumnya menggunakan teknik multi metode yaitu, wawancara kepada responden, pengamatan, serta menelaah dokumen antara yang satu dengan yang lain yang saling melengkapi, memperkuat, dan saling menyempurnakan (Sukmadinata, 2005:108). Dengan demikian masalah ini diteliti menggunakan jenis penelitian lapangan untuk mendapatkan data-datanya melalui teknik wawancara kepada informan dan menelaah dokumen akta cerai dari para pelaku.
2. Sumber Data a. Data primer
Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari sumbernya melalui wawancara kepada pelaku pelanggaran masa iddah, guna memperoleh data yang sebanyak-banyaknya dari pelaku pelanggar masa iddah.
b. Data sekunder
memperjelas dalam melakukan penelitian ini diantaranya tokoh masyarakat setempat, buku refrensi yang memuat lebik spesifik mengenai masalah iddah, dan data yang terdapat disitus internet yang dijadikan sebagai pendukung.
3. Prosedur Pengumpulan Data
Metode-metode yang digunakan dalam pengumpulan data yang diperlukan yaitu:
a. Metode wawancara mendalam (depth interview)
Dalam metode ini penulis menggunakan teknik interview guide yaitu, cara mengumpulkan data dengan menyampaikan secara langsung daftar pertanyaan yang disusun sebelumnya guna memperoleh jawaban langsung pula dari para responden (Koentjaraningrat, 1986: 136). Dalam metode wawancara ini yang di wawancarai langsung yaitu moden setempat dan pelaku yang melanggar iddah untuk mendapatkan data yang peneliti perlukan. b. Metode Dokumentasi
putusan dari pengadilan untuk mendapatkan data mengenai kronologi sebab cerai, tahun cerai dan tanggal cerai.
c. Metode Observasi
Metode observasi adalah metode pengumpulan data dengan jalan pengamatan dan pencatatan langsung dengan sistematis terhadap fenomena-fenomena yang diselidiki. Sedangkan teknik observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah datang langsung ke rumah pelaku pelanggaran iddah di Dusun Gilang, Desa Tegaron, Kec. Banyubiru. kegiatan pengamatan ini di gunakan untuk mendapatkan data-data yang diperlukan oleh peneliti sebagai bahan penyusunan sripsi.
4. Analisis Data
Setelah data yang terkait dan data yang dibutuhkan diperoleh, maka penulis akan menganalisa data tersebut untuk memecahkan atau menjelaskan masalah yang ditemukan. Sedangkan analisis yang digunakan penulis dalam pembahasan ini adalah data kualitatif dengan menggunakan metode berfikir induksi dan deduksi.
a. Induksi yaitu, analisa dari data-data yang bersifat khusus, kemudian ditarik konklusinya yang dapat digeneralisasikan menjadi kesimpulan yang bersifat umum.
5. Pengecekan Keabsahan Data
Dalam menguji keabsahan data peneliti menggunakan teknik trianggulasi, yaitu memeriksa keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut, dan teknik trianggulasi yang paling banyak digunakan adalah dengan pemeriksaan melalui sumber yang lain (Moloeng, 2007: 330). Menurut Denzin (dalam moloeng, 2007: 330), membedakan empat macam trianggulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber data, metode, penyidik, dan teori. Trianggulasi dilakukan melalui wawancara, observasi langsung dan observasi tidak langsung ini dimaksudkan dalam bentuk pengamatan atas beberapa kelakuan dan kejadian yang kemudian diambil kesimpulannya yang menghubungkan diantara keduanya.
G. Telaah Pustaka
Dalam penelitian ini, penulis mengacu pada penelitian yang mendekati dengan penelitian yang pernah dilakukan terlebih dahulu, dimaksud untuk memudahkan pembaca untuk membandingkan hasil kesimpulan oleh penulis dengan peneliti lain.
Fahmi dengan Judul Skripsinya Penentuan Awal masa iddah menurut Fiqh munakahat dan KHI. Penelitian ini meneliti tentang konsep iddah menurut Fiqh
Munakahat dan KHI, penelitian ini mengkhususkan pada permasalahan penetapan penentuan awal masa iddah. Dalam permasalahan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan landasan berfikir yuridis empiris. Pengumpulan datanya dengan metode dokumentasi dengan mencari literature-literatur tentang masa iddah dan metode observasi dengan wawancara kepada hakim Pengadilan Agama dan Ketua KUA. Dari hasil penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa awal masa iddah dimulai sejak jatuhnya kata talak ini menurut Fiqh, sedangkan menurut KHI setelah penetapan perceraian oleh Hakim Pengadilan Agama, sedangkan oleh KUA menurut tanggal akta cerai.
Mardiono1 dalam penelitiannya dengan judul Tanggal Menjadi Janda. Penelitian ini menggunakan tiga pendekatan, pertama aspek gramatikal adalah pengkajian permasalahan dengan cara menganlisis tatabahasa, jenis dan susunan kalimat yang digunakan dalam akta cerai. Yang kedua aspek format kata yaitu penelaahan permasalahan dengan cara menganalisa bentuk dan format kata.
Dengan pendekatan ini akan diketahui kedudukan beberapa tanggal yang tercantum dalam berbgi bagian akta yang ketiga aspek yuridis formal adalah menganalisis suatu masalah dengan cara merujuk kembali kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pada kesimpulan diterangkan bahwa iddah dihitung sejak tanggal keluarnya akta.
1
Perbedaan kedua penelitian diatas dengan riset ini adalah, peneliti menitikberatkan pada pelaksanaan iddah cerai gugat yang dilakukan sebagian perempuan diwilayah Dusun Gilang yang pada kenyataannya terjadi pelanggaran masa iddah.
H. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pemahaman isi penelitian ini, maka sistematika pembahasan dibagi menjadi lima bab, diantaranya :
Bab I: Pendahuluan memuat: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan, kegunaan penelitian, penegasan istilah, telaah pustaka, metode penelitian, sistematika penulisan.
Bab II: Landasan Teori Cerai Gugat atau khulu‟ dan Masa Iddah Perspektif Hukum Islam dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) di Indonesia. Memuat: pengertian khulu‟, dasar Hukum khulu‟, rukun khulu‟, syarat
khulu‟. pengertian iddah, sebab iddah, dasar hukum iddah, pergantian
iddah, tujuan iddah dan hikmah iddah.
Bab III: Memuat tentang laporan penelitian meliputi letak geografis, kondisi sosial keagamaan, gambaran penduduk Dusun gilang Desa Tegaron Kecamatan Banyubiru, kehidupan beragama, profil perempuan yang tidak menerapkan iddah.
BAB
II
LANDASAN TEORI CERAI GUGAT ATAU KHULU’ DAN MASA IDDAH
PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM (KHI) DI INDONESIA
A. Cerai Gugat/ Khulu’ Dalam Hukum Islam 1. Pengertian khulu’
Pengertian khulu‟menurut bahasa, kata khulu‟ dibaca dhammah huruf kha yang bertitik dan sukun lam dari kata khila‟ dengan dibaca fathah artinya naza‟(mencabut), karena masing-masing dari suami istri mencabut pakaiannya yang lain seperti firman Allah dalam Al-Quran surat al-Baqoroh (2): 187.
dari perbuatan yang jahat yang dibenci, sebagaimana pakaian menutup aurat. Pakaian dalam arti yang pertama menutupi secara materi, sedangkan makna kedua secara maknawi.
Istilah Khulu‟ itu berasal dari kata “ khala‟a tsauba” yang artinya menanggalkan/ melepaskan pakaian. Sedang menurut istilah Fiqih, khulu’ ialah tuntutan cerai yang diajukan oleh seorang istri dengan pembayaran ganti rugi dari padanya. Atau dengan kata lain “ istri memisahkan diri dari
suaminya dengan ganti rugi kepadanya”.
Khulu’ dinamakan juga tebusan. Karena istri menebus dirinya dari suaminya dengan cara mengembalikan apa yang pernah diterima atau mahar kepada istrinya.
Pengertian khulu‟ menurut syara’ adalah sebagai mana yang ditemukan Asy-Sarbini dan Al-Khatib adalah “pemisahan antara suami istri dengan penggantian yang dimaksud (iwadh) yang kembali kearah suami dengan lafal talak atau khulu‟ ( Azzam, 2009: 297).
2. Dasar khulu’
Jika tidak ada sebab yang menuntut khulu‟ maka terlarang hukumnya. Dalam al-Quran Allah berfirman surat al-Baqarah (2): 229.
“ Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya”.
Abu Bakar bin Abdullah Seorang Tabi’i menduga bahwa ayat diatas di
nasakh dengan firman Allah Surat an-Nisa (4): 20.
banyak, Maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun”.Maksudnya adalah menceraikan isteri yang tidak disenangi dan kawin
Dasar hukum dari Hadist, sebagaimana yang dikemukakan oleh
al-Shon’ani, bahwa istri Tsabit bin Qais bin Syam mengadukan kepada dirinya
sehubungan dengan suaminya, sebagai berikut:
َبث ِّههن ا َل ُْٕض َرَبي
قُهُخ ىَف ِّْيَهَع ُبيِع َأ بي صْيَق ٍِْب ُجِب
ىِف َرْفُكْنا َُِرْك أ ٍِْكنَٔ ٍَْيِد َلأَ
ِوَلاْض ِء ْلاا
“Ya Rasulallah, terhadap Tsabit bin Qois saya tidak mencela
tentang budi pekertinya dan Agamanya, namun saya membenci kekufuran (terhadap suami) dalam Islam”.
Terhadap pengaduan Jamilah ini Rasulullah bersabda kepadanya:
َُّخَقْي ِدَح ِّْيَهَع ٍَْي ِد َرُح َأ
“Bersedialah engkau mengembalikan kepadanya (Tsabit) kebunya?” jamilah menjawab: ya (bersedia)”.
Lalu Rasulullah memanggil Tsabit, bersabda kepadanya:
ًتَقْيِهْطَح َبْٓقِهَط َٔ ُتَقْي ِدَحْنَا ِمَبْقِأ
“Terimalah kebun itu dan ceraikanlah dia (istrimu) dengan satutalaq”.
Firman Allah dan Hadist Rasulullah tersebut menjadi disyariatkan
khulu‟dan syahnya terjadi khulu‟ antara suami istri (Departemen Agama,
1983: 252).
kepada Rasulallah supaya diceraikan oleh Tsabit. Nama istrinya itu adalah Jamilah binti Abi Salul. Khulu‟dibolehkan jika ada sebab syar’i.
Para fuqoha berselesih pendapat tentang apakah untuk sahnya khulu‟ istri harus nuyus atau tidak, menurut Zahir hadist, demikian pula golongan Zahiria dan penadapat Ibnu Mundzir, bahwa untuk sahnya khulu‟ haruslah istri nusyus.
Menurut pendapat Al-Syafi’i, Abu Hanifah dan kebanyakan ahli ilmu fikih berpendapat bahwa khulu‟ itu sah dilakukan meski istri tidak dalam keadaan nusyus, dan khulu‟ itu sah dengan saling kerelaan antara suami dan istri (Ghozali, 2003: 223).
Menurut Khattabi, khulu‟, adalah fasakh, bukan talak, dengan alasan jika talak, tentu terkehendak pada syarat-syarat talak, yakni perceraian datang dari pihak suami tanpa memandang istri rela atau tidak, dan jatuhnya talak dalam keadaan suci, sedang khulu‟ boleh dilakukan di sembarang waktu. Iddah khulu‟ hanya satu kali haid, sedangkan iddah talak tiga kali haid. Bila khulu‟ itu talak, tentu ada talak empat kali. Pendapat ini sesuai
dengan madzhab Syafi’i yang mengatakan bahwa khulu‟ adalah fasakh
bukan talak. Khulu‟ tidak boleh dirujuk, sebab perceraiannya sudah ba’in (putus). Jika suami akan menikahi bekas istrinya maka suami harus mengembalikan iwadh yang diberikan oleh istri kepada suami dan memperbarui akad nikah baru dengan rukun dan sarat sebagai lazimnya akad
khulu’ telah diatur dalam KHI dalam pasal 124 KHI dinyatakan bahwa khulu‟ harus berdasarkan atas alasan perceraian sesuai ketentuan pasal 116 yaitu:
a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2(dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya;
c. Salah satu pihak mendapat hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain;
e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri;
f. Antara suami dan istri terus menrus teradi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
g. Suami melanggar taklik-talak;
3. Rukun Khulu’
Rukun khulu‟ ada lima, yaitu: a. Suami sah talaknya
Syarat suami sah talaknya yaitu baligh, berakal, dan pilihan sendiri sebagaimana keterangan dalam talak. Khulu‟ tidak sah dari seorang suami yang masih kecil, suami gila, dan terpaksa.
b. Akad pernikahan.
Akad pernikahan adalah perikatan hubungan perkawinan antara mempelai laki-laki dan mempelai perempuan yang dilakukan di depan dua orang saksi laki-laki dengan menggunakan kata-kata ijab qobul (Azhar, 1999: 25).
c. Keharusan menerima iwadh.
Agar khulu‟ dari istri sah, syarat pertama khulu’ haruslah orang yang sah mentasarufkan harta secara mutlak karena menerima khulu’, berari keharusan menerima harta. Oleh karena itu harus balig, berakal sehat, dan tidak terhalang mentasarufkan harta. Barang yang dapat dijadikan ganti
rugi menurut golongan Syafi’i adalah semua maharnya atau sebagian dari
“maka tidaklah salah bagi mereka berdua (suami istri) tentang apa yang
dijadikan tebusan”.
”Aku khulu‟padamu” tidak perlu niat karena ia berulang kali dikandung
syara’ berarti hendak berpisah. Kedua, menggunakan lafal tebusan,
seperti “Aku tebus engkau dengan (barang apa yang digunakan untuk
iwad). Ketiga, menggunakan lafal fasakh (merusak) seperti“Aku fasakh
nikah ini “(Azzam, 2009: 300).
khulu‟ engkau dengan tebusan tersebut. Redaksi ini merupakan redaksi
yang dipandang paling baik dikalangan seluruh mazhab(Mughniyah, 1991: 190).
4. Syarat wanita yang mengajukan cerai gugat/ khulu’.
para ulama mazhab sepakat bahwa istri yang mengajukan khulu‟
kepada suaminya wajib sudah baligh, dan berakal sehat. Syafi’i dan Hambali
mengatakan, khulu‟ yang diajukan oleh wanita gila dan safih (idiot) sama
sekali tidak sah, baik dengan izin dari walinya, Syafi’i hanya memberikan
satu pengecualian, yaitu bila walinya khawatir suaminya akan menguasai hartanya.
Imamiyah menetukan syarat bagi wanita yang mengajukan khulu‟, hal-hal yang mereka persyaratkan dalam talak, misalnya wanita dalam keadaan suci dan tidak dicampuri menjelang khulu‟ manakala dia sudah dicampuri dan bukan wanita yang sedang memasuki masa menopaus dan hamil atau berusia dibawah Sembilan tahun. Mereka juga mesyaratkan agar ada dua saksi laki-laki yang adil (Mughniyah, 1991: 188).
B. Iddah Dalam Hukum Islam
perintah Allah yang dibebankan oleh bekas istri yang telah dicerai. Untuk memudahkan pembahasan kita mengenai iddah, maka akan di paparkan sebagai berikut.
1. Pengertian Iddah. a. Secara Etimologi
Jika dikaji secara etimologi, kata iddah berasal dari kata kerja
„adda-ya‟ uddu yang artinya menghitung sesuatu ( ihsha‟u asy-syay‟i).
Adapun kata iddah memiliki arti seperti kata al-„adad yaitu ukuran sesuatu yang dihitung atau jumlahnya. Jika kata iddah tersebut dihubungkan dengan kata al-mar‟ah (perempuan) maka artinya hari-hari haid/ sucinya, atau hari-hari-hari-hari ihdadnya terhadap pasangannya atau hari-hari menahan diri dari memakai perhiasan baik berdasarkan bulan, haid/ suci, atau melahirkan.
Wahbah Zuhaili mengemukakan, iddah secara bahasa adalah menahan, terambil dari kata Adad (bilangan) karena mencakup atas bilangan dari beberapa quru‟ dan beberapa bulan menurut kebiasaan (Syarifudin, 2006: 303).
Dari beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli fiqih tersebut dapat dipahami bahwa pengertian iddah dari segi bahasa berasal dari kata „adda yang artinya bilangan, menghitung, dan menahan. Maksudnya perempuan menghitung hari-harinya dan masa bersihnya setelah cerai dari suaminya.
b. Secara Terminologi
Dari sisi terminologi, para ahli fiqih telah merumuskan definisi iddah dengan berbagai ungkapan. Meskipun dalam redaksinya yang
berbeda, berbagai ungkapan tersebut memiliki kesamaan secara garis besarnya. Menurut al-Jaziri, „iddah secara syar’i memiliki makna yang lebih luas daripada makna bahasa, yaitu masa tunggu perempuan yang tidak hanya didasarkan pada bulan atau ditandai dengan melahirkan dan selama masa tersebut seorang perempuan dilarang untuk menikah dengan laki-laki lain (Wahyudi, 2009: 74).
Iddah merupakan sebuah nama bagi masa lamanya perempuan
(istri) menunggu tidak boleh kawin setelah kematian suaminya atau setelah berpisah dengan suaminya (Sabiq, 1980: 150).
Ashon’ani memberikan definisi iddah adalah sebagai berikut:
Iddah ialah suatu nama bagi suatu masa tunggu yang wajib dilakukan oleh wanita untuk tidak melakukan perkawinan setelah kematian suaminya itu, baik dengan melahirkan anaknya , atau beberapa kali suci / haid, atau beberapa bulan tertentu (Departemen Agama, 1983: 274).
Abu Yahya Zakaria al-Ansari memberikan definisi Iddah sebagai masa tunggu perempuan untuk mengetahui kesucian rahim untuk beribadah (ta‟abud), atau untuk berkabung (tafajju‟) atas kematian suaminya. Definisi yang dikemukakan oleh Abu Yahya Zakaria al-Ansari lebih mengutamakan tujuan iddah (Wahyudi, 2009: 10).
Menurut Sayuti Thalib, pengertian kata iddah dapat dilihat dari dua sudut pandang:
Pertama, dilihat dari segi kemungkinan keutuhan perkawinan yang telah ada, suami dapat rujuk kepada istri. Dengan demikian, kata iddah dimaksudkan sebagai suatu istilah hukum yang mempunyai arti tenggang waktu sesudah jatuah talak, dalam waktu mana pihak suami dapat rujuk kepada istrinya.
Kedua, masa iddah itu adalah suatu tenggang waktu dalam waktu mana istri belum dapat melangsungkan perkawinan dengan pihak laki-laki lain (Nurudin, 2004: 241).
Dari beberapa definisi iddah yang dipaparkan oleh para ulama tersebut dapat disimpulkan bahwa iddah menurut syariat Islam ialah masa tunggu bagi seorang perempuan yang pada masa tersebut dilarang kawin dengan laki-laki lain. Masa tunggu ini dijalani karena ada sebab, yaitu istri yang ditalak oleh suaminya atau istri yang ditinggal mati suaminya.
2. Berdasarkan Sebab Perceraian
Jika ditinjau dari sebab perceraian maka perceraian dapat dibedakan menjadi dua: cerai hidup yaitu cerai karena talak suami, karena khulu‟,
fasakh dan li‟an dan cerai karena suami meninggal dunia/ cerai mati. Oleh
karena itu, terdapat dua kategori perempuan yang ber iddah (al-mu‟tadah). Perempuan yang ditingal mati oleh suaminya (al-mutawaffa‟anha zaujuha) ,dan perempuan yang ber iddah bukan karena ditinggal mati oleh suaminya
(ghair al-mutawaffa „anha zaujaha).
3. Dasar Hukum Iddah
Kewajiban menjalankan Iddah bagi seorang perempuan setelah berpisah dengan suaminya baik karena talak ataupun kematian suaminya, didasarkan pada al-Quran, hadis, maupun ijma’.
1) iddah perempuan karena talak
Istri yang bercerai dari suaminya padahal ia termasuk wanita yang masih berhaidh ( masih bisa datang bulan atau menstruasi ), maka iddahnya ialah tiga kali quru‟, yakni tiga kali haidh. Ketetapan ini bersadarkan Qur’an surat al-baqarah (2): 228 adalah sebagai
“wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri( menunggu) tiga kali quru‟.
Terdapat perbedaan diantara ulama tentang maksud dari tiga quru’, apakah tiga kali suci atau tiga kali haid. Ulama Hanafiyah
dan Imam ahmad berpendapat bahwa lafadz quru‟ berarti haidh.
2). iddah wanita yang ditinggal mati suaminya
meninggalka istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (ber iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian jika habis iddahnya tiada dosa bgimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
Ayat ini secara tegas dan umum mengatakan keharusan istri yang ditinggal mati suaminya atau cerai karena mati wajib menjalani iddah selama empat bulan sepuluh hari.
3). Iddah wanita yang belum dicampuri suaminya.
“Hai orang orang yang beriman apabila kamu menikahi perempuan perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya, maka sekali kali tidak wajib bagi mereka iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka mut‟ah dan lepaskan mereka itu dengan cara sebaik –baiknya”
Para ulama mazhab sepakat bahwa wanita yang ditalak sebelum dan sesudah berkhalwat, tidak ber-iddah. Namun terdapat perbedaan pendapat pada wanita yang telah berkhalwat yang belum dicampuri, sebagian mengatakan wajib ber-iddah dan sebagian lagi mengatakan tidak wajib untuk ber-iddah.
Hanafi, Maliki dan Hambali berpendapat, apabila suami telah berkhalwat dengannya tetapi tidak sampai dicampuri kemudian ditalak, maka istritersebut wajib ber-iddah. Iddah nya sama dengan istri yang telah dicampuri.
Imamiyah dan Syafi’i berpendapat,khalwat tidak
mengakibatkan apapun. Oleh karena itu perempuan yang telah berkhalwat namun belum dicampuri tidak memiliki iddah (Mughniyah, 1991: 191).
4). Iddah wanita hamil
sesudah melahirkan. berdasarkan firman Allah (QS. at-Talaq (65):
Artinya: dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.
Jumhur ulama berpendapat bahwa perempuan tersebut menjalani masa idah sampai melahirkan anak yang dikandungnya, meski dia juga dalam keadaan iddah cerai mati. Pendapat lain dikemukakan Ibnu Abas dan diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib yang berpendapat bahwa iddah wanita hamil dalam keadaan cerai mati adalah masa terpanjang antara melahirkan dan empat bulan sepuluh hari.
5). Iddah wanita khulu‟
Dalam sunnah dijelaskan bahwa iddah wanita ter-khulu‟ adalah satu kali haidh. Dalam kisah Tsabit bahwa Nabi bersabda kepadanya “ ambilah sesuatu yang ada bagi wanita atasmu dan
lepaskan jalannya.” Ia menjawab: “ya”. Kemudian Rasulullah
kepada ahlinya (HR. An-nasa’i dengan isnad yang shahih).
(Azzam dan Aziz, 2009: 314).
Ibnu umar berkata: “Ustman telah memilihkan dan
memberitahu kepada kita”. Dan dinukil dari Abi Ja’far An-nuhas
dalam kitab An-Nasikh wa Al-Mansukh bahwa ini adalah Ijma dari sahabat. Sedangkan iddah wanita khulu‟ masa iddahnya adalah tiga kali haidh jika ia masih haidh.
b. Adapun diantara hadis Nabi Muhammad Saw. Yang menjadi dasar hukum iddah adalah sebai berikut:
ضيح دلاثب دخعح ٌأ ةريرب ىهضٔ ّيهع الله ىهط يبُناا
Artinya: Nabi saw. Menyuruh baurairah untuk beriddah selama tiga kali haid.
Hadist lain yang berkaitan dengan iddah ini dapat dilihat dalam sabda Nabi Muhammad SAW yang suaminya mauquf, yaitu:
عبرا ضب رح د ٕقفًنا ةا ريا يف ُّع الله يضر رًع ٍع ٔ
ارشعٔ رٓشا تعبرا دخعح ىث ٍيُض
kemudian hendaklah ia beridah empat bulan sepuluh hari. (hadist riwayat Malik)
Hadist diatas mengisahkan seorang istri yang kehilangan suaminya. Dalam kisah tersebut dinyatakan bahwa suamiya hilang disembunyikan jin selama empat tahun. Setelah siistri mengetahui suamiya hilang, dia pergi menghadap Umar bin Khattab dan Umar menyuruh perempuan itu menunggu selama empat tahun, sesudah berlalu empat tahun, Umar memanggil wali si suami dan memerintahkan untuk menceraikan perempuan itu sebagai wali dari suaminya. Kepada perempuan itu Umar memerintahkan agar ber-iddah empat bulan sepuluh hari.
c. Dasar hukum dari Ijmak
perceraian selama tidak ada larangan syara’( Wahyudi, 2009: 81).
4. Pergantian Iddah
Berdasarkan kondisi seorang perempuan yang kadang mengalami haid, tidak mengalami haid, hamil, menyusui, ataupun karena kematian suaminya ketika dalam masa iddah, maka terjadi pergantian iddah yang harus dijalani seorang perempuan. Masalah pergantian iddah ini juga dibahas dalam berbagai kitab fikih yaitu:
a. Pergantian iddah berdasarkan haid menjadi iddah berdasarkan hitungan bulan, yaitu laki-laki yang menceraikan istrinya, sementara istri masih mengalami haid, kemudian laki-laki itu meninggal sementara istri dalam masa iddah. Jika perceraian tersebut merupakan talak raj‟i, maka istri harus mengganti dengan iddah wafat yaitu empat bulan sepuluh hari. Akan tetapi jika yang terjadi adalah talak ba‟in, maka perempuan itu cukup menyempurnakan iddah talak berdasarkan haid dan tidak iddahnya tidak berubah menjadi iddah wafat.
b. Pergantian iddah berdasarkan hitungan bulan menjadi iddah berdasarkan haid, jika perempuan yang menjalankan iddah berdasarkan bulan karena belum mengalami haid, kemudian mengalami haid. Jika ini terjadi, perempuan itu wajib berganti kepada iddah berdasarkan haid. Akan tetapi jika iddah berdasarkan bulan telah selesai, kemudian perempuan itu mengalami haid, tidak wajib baginya berganti iddah berdasarkan haid.
c. Iddah berdasarkan haid atau bulan berubah menjadi iddah melahirkan, jika perempuan itu yang pada awalnya menjalankan iddah berdasarkan bulan atau haid, kemudian tampak ada tanda
kehamilan, maka iddahnya berubah menjadi sampai melahirkan (Wahyudi, 2009: 101)
5. Tujuan Iddah
Setiap perintah Allah pasti memiliki tujuan, begitu juga dengan iddah. Adapun tujuan diadakannya iddah sebagai berikut:
b. Untuk mewujudkan betapa pentingnya masalah perkawinan dalam kehidupan manusia dan merupakan jalan yang sah untuk memenuhi hasrat naluri hidup serta dalam waktu sama merupakan salah satu macam beribadah kepada Allah itu jangan sampai mudah untuk diputuskan. Oleh karenanya, perkawinan merupakan peristiwa dalam hidup manusia yang harus dilaksanakan dengan cara dewasa, dipikirkan sebelum dilaksanakan dan dipikirkan masak-masak pula apabila terpaksa harus bercerai.
c. Peristiwa perkawinan yang demikian penting dalam hidup manusia itu harus diuasahakan agar kekal. Dalam hal terpaksa terjadi perceraianpun, kekekalan perkawinan masih diinginkan. Iddah diadakan untuk member kesempatan suami istri untuk kembali lagi hidup berumah tangga, tanpa akad nikah baru. d. Dalam perceraian ditinggal mati, iddah diadakan untuk
menunjukkan rasa berkabungatas kematian suami bersama-sama dengan keluarga suami (Basyir, 1999: 95).
C. Iddah Menurut KHI
tentang dasar hukum dan macam-macam serta perhitungan waktu tunggu menurut KHI.
1. Dasar hukum iddah
Bagi seorang istri yang putus perkawinan dari suaminya, berlaku baginya waktu tunggu (masa iddah), kecuali apabila seorang istri dicerai suaminya sebelum berhubungan ( qobla al-dukhul ), baik karena kematian, perceraian, atau atas putusan pengadilan. Dalam Kompilasi Hukum Islam dijelaskan pada pasal 153, 154, 155 ( Rofiq, 2013: 2013).
Pasal 153 yang berbunyi:
(1) kompilasi Hukum Islam menyatakan : Bagi seorang istri yang putus perkawinannya berlaku waktu tunggu atau iddah. Kecuali qabla al-dukhul dan perkawinannya putus bukan karena kematian suami.
(2) Waktu tunggu bagi seorang janda ditentukan sebagai berikut: a. Apabila perkawinan putus karena kematian walaupun qobla
al-dhukhul, waktu tungu ditetapkan 130 (seratus tigapuluh
hari).
c. Apabila perkawinan putus sedang janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai mealahirkan.
d. Apabila perkawinan putus karena kematian, sedang janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan.
(3) Tidak ada waktu tunggu bagi yang putus perkawinan karena perceraian sedang antara janda tersebut dengan bekas suaminya qobla al-dhukhul.
(4) Bagi perkawinan yang putus karena perceraian, tenggang waktu tunggu dihitung sejak jatuhnya putusan Pengadilan Agama yang mempunyai kekuatan hukum tetap, sedangkan bagi perkawinan yang putus karena kematian, tenggang waktu ihitung sejak kematian suami;
(5) Waktu tunggu bagi istri yang pernah haid sedang pada waktu menjalani iddah tidak haid karena menyusui, maka iddahnya tiga kali waktu suci;
Dasarnya, firman Allah surat Al-Ahzab ayat 49: perempuan- perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya Maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka 'iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka mut'ah dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik- baiknya.
Pada pasal 154 Kompilasi Hukim Islam menyatakan: “ apabila istri
tertalak roj‟i kemudian dalam waktu iddah sebagai dimaksud ayat (2)
pasal huru b, ayat (5) dan (6) pasal 153, ditinggal mati oleh suaminya
maka iddahnya berubah menjadi empat bulan sepuluh hari, terhitung saat
bekas suaminya.
Pasal 155 Kompilasi Hukum Islam menyatakan: “iddah bagi janda yang putus perkawinannya karena khulu‟, fasakh dan li‟an berlaku iddah
talak (Nurudin, 2004: 254).
Adapun macam- macam masa iddah dijelaskan pada pasal 153 ayat (2) KHI huruf a, yang berbunyi: “Apabila perkawinan putus karena kematian berlaku waktu tunggu atau iddah, kecuali qobla al
dhukhul waktu tunggu ditetapkan seratus tiga puluh hari”.
Dan perkawinan putus karena kematian suami. Waktu tunggu ditetapkan 130 hari. Berdasarkan pada firman Allah al-Baqarah ayat 234 meninggalkan isteri-isteri (hendaklah Para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari”.
Ketentuan ini berlaku bagi istri yang ditinggal mati suaminya dalam keadaan tidak hamil. Apabila istri dalam keadaan hamil, maka waktu tunggunya sampai melahirkan”.
Ketentuan ini tertera pada pasal 153 ayat (2) huruf d KHI yang bunyinya: “Apabila perkawinan putus karena kematian, sedangkan janda tersebut dalam keadaan hamil, maka waktu tunggu ditetapkan
sampai melahirkan”.
antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan yang tidak haid. dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”.b. Putus perkawinan karena perceraian
Seorang istri yang diceraikan oleh suaminya, maka memungkinkan mempunyai beberapa waktu tunggu, yaitu sebagai berikut.
1) Dalam keadaan hamil
Apabila seorang istri diceraikan oleh suaminya dalam keadaan hamil maka iddah nya sampai ia melahirkan kandungannya (Zainudin, 2006: 89)
2) Dalam keadaan tidak hamil
b. Apabila seorang istri diceraikan oleh suaminya setelah terjadi hubungan kelamin (dhukhul):
i. Bagi seorang istri yang masih datang bulan (haid), waktu tunggunya berlaku ketentuan 3 (tiga) kali suci dengan sekurang-kurangnya 90 hari.
ii. Bagi seorang istri yang tidak datang bulan (tidak haid ) masa iddah nya tiga bulan atau 90 hari.
iii. Bagi seorang istri yang pernah haid. Namun, ketika menjalani masa iddah ia tidak haid karena menyusui, maka iddah nya tiga kali waktu suci.
iv. Dalam keadaan yang disebut pada ayat (5) KHI bukan karena menyusui, maka iddah nya selama satu tahun, akan tetapi bila dalam waktu satu tahun dimaksud ia berhaid kembali, maka iddah nya menjadi tiga kali suci.
3) Putus Perkawinan karena Khulu‟, Fasakh, dan Li’an
Masa iddah bagi janda yang putus perkawinannya karena
Khulu‟ (cerai gugat atas dasar tebusan atau iwad dari istri),
fasakh ( putus ikatan perkawinan karena salah satu diantara
4) Istri ditalak Raj’I kemudian Ditinggal Mati Suami
Apabila seorang istri tertalak raj‟I kemudian didalam menjalani masa iddah sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (2) huruf b, ayat (5), dan ayat (6) pasal 153 KHI ditinggal mati oleh suaminya, maka iddah nya berubah menjadi empat bulan sepuluh hari atau 130 hari yang mualai perhitungannya pada saat matinya bekas suaminya. Adapun masa iddah yang telah dilalui pada saat suami masih hidup tidak dihitung, tetapi dihitung dari saat kematian. Sebab, keberadaan istri yang dicerai selama menjalani masa iddah, dianggap masih terikat dalam perkawinan karena sang suami masih berhak merujukinya,selama dalam masa iddah (Al-baqarah: 228) (Zainudin, 2006: 90).
D. HIKMAH IDDAH
Ditetapkkannya iddah bagi istri yang putus perkawinannya mengandung hikmah, antara lain sebagai berikut:
1. Mengetahui kebebasan rahim dari percampuran nasab.
2. Memberikan kesempatan kepada suami agar dapat intropeksi diri dan kembali kepada istri yang tercerai.
4. Mengagungkan perkawinan, karena tidak sempurna kecuali dengan terkumpulnya kaum laki-laki dan tidak melepas kecuali dengan penantian yang lama (Azam, 2009: 320).
BAB III
HASIL PENELITAN
A. Gambara Umum Dusun Gilang Desa Tegaron Kecamatan Banyubiru 1. Kondisi Geografis
Dusun Gilang Desa Tegaron Kecamatan Banyubiru merupakan salah satu dusun yang berada di wilayah Kabupaten Semarang. Wilayah tersebut berada pada jarak 6 Km dari Kecamatan Banyubiru, terletak 30 Km dari pusat Kabupaten. Mata pencaharian penduduk setempat adalah berkebun dan bertani. Perekonomian di dusun Gilang ini tidak ada yang mencolok, karena pekerjaan sebagian besar penduduknya adalah petani biasa. Di dusun ini ada satu Sekolah Dasar Negeri dan satu Sekolah Menengah Pertama Swasta, meskipun di dusun ini ada sekolah SD dan SMP namun para penduduk dusun ini kurang berminat sekolah yang tersedia di dusun, mereka memilih untuk sekolah di luar dusun. Dalam Agama penduduk dusun Gilang sangat kental dengan suasana agamisnya, terbukti dari setiap RT yang ada di dusun Gilang ada musola untuk beribadah dan menimba ilmu Agama. Rasa sosial di dusun Gilang seperti halnya masyarakat dusun lainnya, kegotong royongan di Dusun ini masih terjaga dengan baik.
Ha. Iklim dusun Gilang termasuk iklim yang tropis dengan curah hujan rata-rata 2500 mm pertahun, dusun Gilang termasuk tergolong dusun yang sejuk dengan suhu udara rata-rata 250-270 C, sedangkan topografi dusun Gilang termasuk kedalam kategori dataran tinggi karena letaknya diperbukitan (wawancara kepada kepala dusun tanggal 8 januari 2015).
Adapun batas-batas wilayah dusun Gilang adalah:
a. Sebelah utara berbatasan dengan Dusun Sukadana Desa Kebumen.
b. Sebelah selatan berbatasan dengan Dusun Tigorejo Desa Tegaron.
c. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Tegaron wetan.
d. Sebelah barat berbatasan dengan Dusun Krajan I Desa tegaron.
2. Kondisi penduduk
Pemerintahan dusun Gilang dipimpin oleh kepala Dusun yang dibantu oleh para ketua RT. Jumlah RT yang ada di dusun Gilang adalah 8 RT dengan jumlah penduduk 320 kepala keluarga, 1111 jiwa yang terdiri dari 541 perempuan dan 570 laki-laki. Untuk lebih jelas dan lebih rinci diklarifikasi jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin dan berdasarkan umur dengan tabel berikut:
Penduduk Dusun Gilang Kecamatan Banyubiru berdasarkan jenis kelamin
No Jenis kelamin Jumlah
1 Laki-laki 570
2 Perempuan 541
Jumlah 1111
Tabel 3. 2.
Jumlah penduduk berdasarkan umur
No Umur (tahun) Jumlah
1 00-01 43
2 01-05 66
3 05-07 167
4 07-18 205
5 18-56 396
6 Usia 56 keatas 234
Jumlah 1111
Sumber: Data monografi kependudukan Dusun Gilang Desa Tegaron Kecamatan Banyubiru, November 2014.
3. Kondisi ekonomi
menggantungkan kehidupannya pada hasil bumi dan hasil ternak seperti padi, jagung, ketela dan sayur-sayuran. Selain bekerja sebagai petani sebagian ada yang bekerja sebagai karyawan pabrik, buruh dan wiraswata.
Adapun jumlah penduduk menurut mata pencaharian dapat dilihat pada table dibawah ini.
Tabel 3. 3
Jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian
No Jenis Pekerjaan Jumlah
1 PNS 8
2 TNI 2
3 Polri -
4 Pegawai swasta 198
5 Pensiunan 11
6 Pengusaha 2
7 Buruh tani dan industry 200
8 Petani 370
9 Nelayan 2
10 Pedagang 93
11 Peternak 1
13 Pengrajin 1
14 Lain-lain
Jumlah 888
Dari tabel di atas penduduk Dusun Gilang yang belum atau tidak bekerja sejumlah 223 yang terdiri dari balita, anak-anak dan sisanya usia lansia.
4. Kondisi Sosial Keagamaan Dusun Gilang Desa Tegaron Kecamatan Banyubiru
Masyarakat Dusun Gilang Desa Tegaron Kecamatan Banyubiru seluruhnya beragama Islam. Hal ini terbukti dari jumlah penganut Agama Islam yang terdapat pada tabel data pemeluk Agama di Dusun Gilang adalah sebagai berikut
Tabel 3. 4
Jumlah penduduk berdasarkan pemeluk agama.
No Agama Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Islam 570 541 1111
2 Kristen - - -
3 Katolik - - -
4 Hindu - - -
5 Budha - - -
6 Konghucu - - -
Jumlah keseluruhan 1111
Dari tabel diatas terlihat bahwa seluruh masyarakat Dusun Gilang adalah Islam, dan Agama satu-satunya yang dianut oleh masyarakat. Kehidupan beragama masyarakat Dusun Gilang sangat baik, masyarakat memperhatikan dan menjalankan perintah Agama dengan sebaik-baiknya dalam segala aspek kehidupan. Dalam kehidupan sehari-hari mereka sangat menekankan pada etika Agama, seperti dalam bergaul dan dalam berpakaian.
Pengaruh tokoh agama / kiai sangat kuat sekali dalam mengatur Dusun Gilang, bahkan melebihi pengaruh kepala Dusun, jika ada masalah maka penyelesaiannya lewat kiai, bagi masyarakat Dusun gilang keputusan seorang kiai lebih berbobot daripada seorang kepala Dusun.
Dalam berbagai kegiatan baik bersifat Agama maupun sosial, masyarakat lebih suka mempercayakan kepada kiai. Bagi mereka kiai adalah pembimbing dalam segala hal, sedang kepala dusun hanya sebagai simbol pelengkap pemerintahan saja.
Tabel 3.5
Jenis kegiatan yang ada di Dusun Gilang
No Jenis kegiatan Hari kegiatan 1 Yasinan setiap RT Ibu-ibu Kamis malam 2 Manakiban karang taruna Kamis malam 3 Tadarus al-Quran Ibu-ibu Jum’at malam 4 Dibak an Ibu-ibu Sabtu malam 5 Tafsir al-Quran umum Minggu malam
6 Istighosah Senin malam
7 Pengajian rutin selapan Kamis malam Sumber: wawancara kepada tokoh masyarakat.
Selain kegiatan bapak-bapak dan ibu-ibu di dusun gilang juga ada Tempat Pendidikan al-Quran sebagi sarana menimba ilmu Agama bagi anak-anak, kegiatan TPA ini dilaksanakan setiap sore hari yang berpusat di masjid besar Dusun Gilang. Kegiatan TPA ini diasuh oleh lima ustadz dan ustadhah dengan jumlah santri sekitar 50 anak, adapun kegiatan TPA adalah sebagai berikut:
Tabel 3. 6
Kegiatan TPA di Dusun Gilang
No Jenis kegiatan Hari kegiatan 1. Ngaji iqro’ dan al-Quran Senin, selasa, rabu,
3 Pasolatan Sabtu
4 Tarikh Minggu
Sumber: wawancara kepada pengasuh TPA
5. Kondisi Pendidikan
Kondisi pendidikan masyarakat Dusun Gilang ditunjukkan masih rendahnya kualitas SDM masyarakat serta cenderung masih kuatnya budaya tradisional. Meski demikian pola budaya seperti ini dapat dikembangkan sebagai kekuatan dalam pembangunan yang bersifat umum. Disamping itu masyarakat dusun Gilang yang cenderung agamis dan terbuka dapat dimanfaatkan sebagai pendorong budaya transparansi dalam setiap penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Munculnya masalah kemiskinan, ketenagakerjaan dan perburuhan menyangkut pendapatan, status, pemanfaatan lahan pada fasilitas umum menunjukkan masih rendahnya pendidikan dan tingkat kesadaran hukum yang masih kurang. Hal tersebut sebagai akibat dari tidak meratanya tingkat pendidikan yang diperoleh masyarakat.
Tabel 3.7
Jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan
No Pendidikan Jumlah
1 SD 103
2 SMP 156
3 SMA/SMK 89
4 D1 -
5 D2 -
6 D3 3
7 S1 15
8 S1 keatas 3
9 Tidak sekolah -
10 TK 47
11 Paud 25
Jumlah 441
Sumber: Data monografi kependudukan Dusun Gilang Desa Tegaron Kecamatan Banyubiru, November 2014.
Dari tabel tingkat pendidikan Penduduk di Dusun Gilang yang paling banyak adalah penduduk berpendidikan tamat SMP/Sederajad.
Tabel 3. 8
Sarana pendidikan di Dusun Gilang
No Sarana Pendidikan Jumlah (Buah)
1 Taman Kanak-Kanak 1
2 SD 1
3 SMP 1
4 Pondok Pesantren 1
Jumlah 4
Sumber: Data monografi kependudukan Dusun Gilang Desa Tegaron
Kecamatan Banyubiru, November 2014.
6. Sarana Prasarana Umum
Selain sarana prasarana pendidikan di Dusun Gilang juga terdapat sarana prasarana umum lainnya sebagai penunjang kegiatan masyarakat, seperti dalam tabel dibawah ini:
Tabel 3. 9
Sara prasarana umum yang ada di Dusun Gilang
No Jenis sarana Jumlah
1 Pasar 1
2 Puskesmas 1
3 Posyandu 1
Sumber: Data monografi kependudukan Dusun Gilang Desa Tegaron Kecamatan Banyubiru, November 2014
B. Profil Pelaku Cerai Gugat dan Pelanggar Iddah di Dusun Gilang Desa Tegaron Kecamatan Banyubiru.
Dari observasi yang dilakukan oleh penulis di Dusun Gilang ada banyak perempuan yang mengajukan cerai gugat, akan tetapi penulis hanya mengambil 9 perempuan dalam kurun waktu lima tahun dari tahun 2010-2014. Dari 9 perempuan yang mengajukan cerai gugat tersebut, ada yang melaskasnan masa iddah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh Hukum Islam dan Kompilasi Hukum Islam dan ada yang tidak melaksanakan masa iddah. Berikut data dari tahun 2010-2014 perempuan yang mengajukan cerai gugat di Dusun Gilang.
Tabel 3. 10
Data perempua yang mengajukan cerai gugat tahun 2010-2014 di Dusun Gilang
No Tahun bercerai Banyaknya
1 2010 2
2 2011 3
3 2012 2
4 2013 1
5 2014 1
Jumlah 9
Dari data diatas dapat diambil kesimpulan, bahwa dalam kurun waktu lima tahun setiap tahunnya di Dusun Gilang ada perempuan yang mengajukan cerai gugat, hal ini menunjukkan bahwa cerai gugat di Dusun Gilang bukan hal yang aneh, meskipun mereka melakukannya dengan sangat berat.
Dalam menyusun skripsi ini penulis menggunakan sembilan orang yang penulis anggap sudah mewakili perempuan yang lain. Jika dilihat dari gambaran umum Dusun Gilang dapat dilihat bahwa sebenarnya masyarakat Dusun Gilang hidup berkecukupan meskipun mereka hanya bekerja sebagai petani, buruh tani dan buruh pabrik. Namun ada beberapa faktor yang menyebabkan perempuan di dusun Gilang mengajukan cerai gugat.
Tabel 3. 11
Pelaku cerai gugat dan pelanggaran iddah
No Nama Umur Tahun bercerai
1 Dina 45 2010
2 Rukini 55 2010
3 Wati 41 2011
4 Ika 28 2011
5 Desi 36 2011
6 Umi 27 2012
7 Nita 35 2012
8 Sari 48 2013
9 Fina 18 2014
1. Dina binti Muhyidi.
Pada awalnya rumah tangga Dina berjalan dengan baik dan bahagia, akan tetapi pada tahun yang ke sepuluh perkawinannya rumah tangga mereka mulai retak karena Susanto di PHK dari tempat bekerjanya. Dina dan Susanto sering bertengkar karena masalah ekonomi. Setelah di PHK dari tempat kerjanya Susanto tidak sungguh-sungguh dalam mencari pekerjaan yang baru bahkan Susanto sering pergi tanpa tujuan untuk beberapa hari lamanya dan apabila mendapat uang Suanto hanya untuk kepentingan pribadinya seperti untuk membeli rokok dan untuk membeli kopi, bukan untuk kepentingan keluarganya, Susanto sering marah-marah tanpa sebab yang jelas bahkan menganiaya Dina. Sebagai seorang istri Dina sudah mengigatkan agar mengubah kebiasaan suaminya itu, akan tetapi usaha Dina tidak berhasil mengubah kebiasaan Susanto, justru timbul perselisihan dan pertengkaran.
memberikan mahar kepada Dina sebesar seratus tujuh puluh lima ribu rupiah dan seperangkat alat solat.
Setelah bercerai dengan Susanto, tak berapa lama Dina kawin lagi dengan laki-laki yang bernama Rohmat (nama samaran) bekerja sebagai penebas kayu. Perkawinan yang kedua ini tidak di catatkan di Kantor Urusan Agama, karena masa iddah Dina belum selesai. Dari pengakuan Dina jarak antara perceraian dengan perkawinan yang kedua hanya selapan (35 hari).
Alasan Dina segera menikah lagi sebelum masa iddahnya selesai, karena sudah terlanjur menerima lamaran dari Rohmat, dan Rohmat pun ingin segera hidup bersama dengan Dina. Alasan Dina yang ke dua masalah ekonomi, Dina tidak mau bekerja sendiri untuk menghidupi dirinya dan anaknya. Dina mengaku tidak mengerti iddah dan perhitungan iddah, suami yang ke duapun juga tidak mengetahui perhitungan iddah. Pernikahan yang kedua ini dinikahkan oleh Kiyai setempat atau pernikahan siri (wawancara kepada Dina tanggal, 2 November 2014).
2. Wawancara kepada Rukini pada tanggal 13 november 2014.
perempuan, dalam hal pendidikan Agamapun mereka sangat minim. Hal tersebut dikarenakan lingkungan dan keluarga yang kurang memperhatikan pendidikan Agama.
Rukini menikah dengan Kabul pada tahun 1982, dengan maskawin seperangkat alat solat dan uang sebesar tujuh puluh lima ribu rupiah. Setelah menikah ke duanya hidup bersama di rumah orang tua Kabul selama tiga tahun, setelah tiga tahun tinggal bersama orang tua Kabul beliau pindah di rumahnya sendiri yang tidak jauh dari rumah orang tua Kabul. Beliau dikaruniai tiga orang anak, dua orang perempuan (Rani dan Dewi) dan satu orang anak laki-laki (Miftah).