DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR RINGKASAN EKSEKUTIF DAFTAR ISI ... 1 DAFTAR SINGKATAN DAFTAR TABEL ... 2 DAFTAR GRAFIK ... 6 DAFTAR FOTO I. PENDAHULUAN ... 7II. METODOLOGI DAN LANGKAH STUDI EHRA 2014 ... 8
2.1. Penentuan Target Area Survey ... 9
2.2. Penentuan Strata Desa/Kelurahan ... 13
2.3. Penentuan RT Dan Responden Di Lokasi Survei ... 14
III. HASIL STUDI EHRA 2014 KABUPATEN KOTABARU ... 15
3.1. Informasi Responden ... 15
3.1. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga ... 15
3.2. Pembuangan Air Limbah Domestik ... 17
3.3. Drainase Lingkungan Sekitar Rumah dan Banjir ... 24
3.4. Pengelolaan Air Bersih Rumah Tangga ... 26
3.5 Perilaku Higiene ... 27
3.6 Kejadian Penyakit Diare ... 32
IV. PENUTUP ... 34
I.
PENDAHULUAN
EHRA (Environmenta Health Risk Assessment) atau Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan studi untuk memahami kondisi fasilitas sanitasi dan perilaku-perilaku yang memiliki risiko pada kesehatan warga. Studi ini digunakan untuk mendapatkan wawasan atau gambaran mengenai praktek kesehatan dan kebersihan warga masyarakat pada tingkat Kabupaten. Fasilitas sanitasi yang diteliti mencakup, sumber air minum, layanan pembuangan sampah, jamban, dan saluran pembuangan air limbah. Pada aspek perilaku, dipelajari hal-hal yang terkait dengan higinitas dan sanitasi, antara lain, cuci tangan pakai sabun, buang air besar, pembuangan kotoran anak dan pemilahan sampah. Kabupaten dipandang perlu melakukan Studi EHRA karena:
1. Pembangunan sanitasi membutuhkan pemahaman kondisi wilayah yang akurat
2. Data terkait dengan sanitasi terbatas di mana data umumnya tidak bisa dipecah sampai tingkat kelurahan/desa dan data tidak terpusat melainkan berada di berbagai kantor yang berbeda
3. EHRA adalah studi yang menghasilkan data yang representatif di tingkat kabupaten/kota dan kecamatan dan dapat dijadikan panduan dasar di tingkat kelurahan/desa.
4. EHRA menggabungkan informasi yang selama ini menjadi indikator sektor-sektor pemerintahan secara eksklusif.
5. EHRA secara tidak langsung memberi ”amunisi” bagi stakeholders dan warga di tingkat kelurahan/desa untuk melakukan kegiatan advokasi ke tingkat yang lebih tinggi maupun advokasi secara horizontal ke sesama warga atau stakeholders kelurahan/desa.
Adapun tujuan dan manfaat dari studi EHRA adalah:
1. Untuk mendapatkan gambaran kondisi fasilitas sanitasi dan perilaku yang beresiko terhadap kesehatan lingkungan.
2. Memberikan advokasi kepada masyarakat akan pentingnya layanan sanitasi.
3. Memberikan pemahaman yang sama dalam menyiapkan anggota tim survey yang handal. 4. menyediakan salah satu bahan utama penyusunan Buku Putih Sanitasi dan Strategi Sanitasi
Pelaksanaan pengumpulan data lapangan dan umpan balik hasil EHRA dipimpin dan dikelola langsung oleh Kelompok Kerja (Pokja) Sanitasi Kabupaten Kotabaru. Selanjutnya, data EHRA diharapkan menjadi bahan untuk mengembangkan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kotabaru dan juga menjadi masukan untuk mengembangkan strategi sanitasi dan program-program sanitasi di Kabupaten Kotabaru.
Pelaksanaan studi EHRA banyak melibatkan kelompok perempuan, sedangkan untuk pengumpulan data EHRA berkolaborasi antara keder kesehatan (posyandu, KB dan lai-lain dengan sanitarian yang ada di Puskesmas di bawah koordinasi Dinas Kesehatan Kab. Kotabaru. Kolaborasi dengan sanitarian dilakukan dengan sejumlah pertimbangan, yakni 1) sanitarian mempunyai pengalaman dalam melakukan survey sehingga memiliki kemampuan dalam melakukan pendekatan kepada responden; 2) Sanitarian juga lebih memahami permasalahan kesehatan lingkungan sehingga diharapkan dalam melakukan wawancara dan pengamatan mengenai kondisi lingkungan serta perilaku hidup bersih dan sehat menjadi lebih mudah. Pelaksanaan studi EHRA ini juga melibatkan pihak kecamatan sebelum melakukan studi Tim Survey terlebih dahulu berkoordinasi dengan pihak desa dan RT (Rukun Tetangga) sehingga memudahkan mencari rumah yang telah ditentukan sebelumnya dengan metoda acak. Perempuan atau ibu dipilih sebagai responden dalam survey EHRA karena mereka dianggap kelompok yang paling memahami kondisi lingkungan tempat tinggalnya.
Dokumen ini adalah Laporan EHRA Kabupaten Kotabaru yang kegiatan pengumpulan datanya dimulai tanggal 29 Desember 2014. Penyusunan laporan difasilitasi oleh Tim penyusunan EHRA, didampingi Provincial Fasilitator dan City Fasilitator dengan mengakomodasi masukan dari berbagai pihak, khususnya anggota Pokja PPSP Kabupaten Kotabaru sebagai pengendali utama kegiatan, Supervisor lapangan, Enumerator Survey dan aparat Desa di Kabupaten Kotabaru.
II. METODOLOGI DAN LANGKAH STUDI EHRA
EHRA adalah studi yang relatif pendek (sekitar 2 bulan) yang menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menerapkan 2 (dua) teknik pengumpulan data, yakni 1) wawancara (interview) dan 2) pengamatan (observation). Pewawancara dan pelaku pengamatan dalam EHRA adalah Enumerator yang dipilih dari kader Puskesmas, Sementara sanitarian yang dipilih secara kolaboratif oleh Pokja PPSP dan Dinas Kesehatan Kabupaten Kotabaru bertugas sebagai Supervisor selama pelaksanaan survey. Sebelum turun ke lapangan, para sanitarian dan enumerator diwajibkan mengikuti pelatihan enumerator selama 2 (dua) hari berturut-turut. Materi pelatihan mencakup dasar-dasar wawancara dan pengamatan; pemahaman tentang instrumen EHRA; latar belakang konseptual dan praktis tentang indikator-indikator; uji coba lapangan; dan diskusi perbaikan instrumen.
Unit sampling utama (Primary Sampling) adalah Rumah Tangga. Unit sampling ini dipilih secara proporsional dan random berdasarkan Desa di 20 Kecamatan di Kabupaten Kotabaru di setiap Desa/Kelurahan yang telah ditentukan menjadi area survey. Jumlah sampel per Desa adalah 40 Responden dan dibagi berdasarkan jumlah RT di Desa terpilih.
Panduan wawancara dan pengamatan dibuat terstruktur dan dirancang untuk dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 30-45 menit. Panduan diuji kembali dalam hari kedua pelatihan enumerator dengan try out ke lapangan. Untuk mengikuti standar etika, informed consent wajib dibacakan oleh sanitarian sehingga responden memahami betul hak-haknya dan memutuskan keikutsertaan dengan sukarela dan sadar.
Yang menjadi unit analisis dalam EHRA adalah rumah tangga. Sementara, yang menjadi unit responden adalah ibu rumah tangga. Ibu dipilih dengan asumsi bahwa mereka relatif lebih memahami kondisi lingkungan berkaitan dengan isu sanitasi serta mereka relatif lebih mudah ditemui dibandingkan bapak-bapak. Ibu dalam EHRA didefinisikan sebagai perempuan berusia 15 - 65 tahun yang telah atau pernah menikah. Untuk memilih Ibu di setiap rumah, enumerator menggunakan matriks prioritas yang mengurutkan prioritas Ibu di dalam rumah.
Pekerjaan entri data dikoordinir oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kotabaru (Pokja PPSP Kab. Kotabaru). Sebelum melakukan entri data, tim data entri terlebih dahulu mengikuti pelatihan singkat data entry EHRA yang difasilitasi oleh Tim Fasilitator yang telah terlatih terdiri dari Pokja PPSP. Selama pelatihan itu, tim data entri dikenalkan pada struktur kuesioner dan perangkat lunak yang digunakan serta langkah-langkah untuk uji konsistensi yakni program SPSS versi 17
Untuk quality control, supervisor melakukan spot check dengan mendatangi 5% rumah yang telah disurvei. Tim supervisor secara individual melakukan wawancara singkat dengan kuesioner yang telah disediakan dan kemudian menyimpulkan apakah wawancara benar-benar terjadi dengan standar yang ditentukan. Quality control juga dilakukan di tahap data entri. Hasil entri dire-check kembali oleh tim Pokja PPSP. Sejumlah 5% entri kuesioner diperiksa kembali.
Kegiatan Studi EHRA memerlukan keterlibatan berbagai pihak dan tidak hanya bisa dilaksanakan oleh Pokja Kabupaten/Kota semata. Agar efektif, Pokja Sanitasi Kabupaten/Kota diharapkan bisa mengorganisir pelaksanaan secara menyeluruh
2.1.
PENENTUAN TARGET AREA SURVEY
Metoda penentuan target area survey dilakukan secara geografi dan demografi melalui proses yang dinamakan Strataing. Hasil strataing ini juga sekaligus bisa digunakan sebagai indikasi awal lingkungan berisiko. Proses pengambilan sampel dilakukan secara random sehingga memenuhi kaidah ”Probability Sampling” dimana semua anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk menjadi sampel. Sementara metoda sampling yang digunakan adalah “Strata Random Sampling”. Teknik ini sangat cocok digunakan di Kabupaten Kotabaru mengingat area sumber data yang akan diteliti sangat luas. Pengambilan sampel didasarkan pada daerah populasi yang telah ditetapkan.
Penetapan Strata dilakukan berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan oleh Program PPSP sebagai berikut:
1. Kepadatan penduduk yaitu jumlah penduduk per luas wilayah. Pada umumnya tiap Kabupaten Kotabaru telah mempunyai data kepadatan penduduk sampai dengan tingkat kecamatan dan kelurahan/ desa.
2. Angka kemiskinan dengan indikator yang datanya mudah diperoleh tapi cukup representatif menunjukkan kondisi sosial ekonomi setiap kecamatan dan/atau kelurahan/ desa. Sebagai contoh ukuran angka kemiskinan bisa dihitung berdasarkan proporsi jumlah Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera 1 dengan formula sebagai berikut:
(∑ Pra-KS + ∑ KS-1)
Angka kemiskinan = --- X 100% ∑ KK
3. Daerah/wilayah yang dialiri sungai/kali/saluran drainase/saluran irigasi dengan potensi digunakan sebagai MCK dan pembuangan sampah oleh masyarakat setempat.
ketinggian air, luas daerah banjir/genangan, lamanya surut.
Berdasarkan kriteria di atas Kabupaten Kotabaru menghasilkan katagori strata sebagaimana dipelihatkan pada Tabel 1. Wilayah (kecamatan atau Desa) yang terdapat pada strata tertentu dianggap memiliki karakteristik yang identik dalam hal tingkat risiko kesehatannya. Dengan demikian, kecamatan/kelurahan yang menjadi area survey pada suatu strata akan mewakili kecamatan/kelurahan lainnya yang bukan merupakan area survey pada strata yang sama. Berdasarkan asumsi ini maka hasil studi EHRA ini bisa memberikan peta area berisiko Kabupaten Kotabaru.
TABEL 2.1 KATAGORI STRATA BERDASARKAN KRITERIA INDIKASI LINGKUNGAN BERISIKO Katagori
Kriteria Strata
Strata 0 Wilayah kelurahan yang tidak memenuhi sama sekali kriteria indikasi lingkungan berisiko.
Strata 1 Wilayah kelurahan yang memenuhi minimal 1 kriteria indikasi lingkungan berisiko.
Strata 2 Wilayah kelurahan yang memenuhi minimal 2 kriteria indikasi lingkungan berisiko
Strata 3 Wilayah kelurahan yang memenuhi minimal 3 kriteria indikasi lingkungan berisiko
Strata 4 Wilayah kelurahan yang memenuhi minimal 4 kriteria indikasi lingkungan berisiko
Strata wilayah di Kabupaten Kotabaru menghasilkan katagori Strata sebagaimana dipelihatkan pada Tabel 2. Wilayah (kecamatan atau kelurahan) yang terdapat pada strata tertentu dianggap memiliki karakteristik yang identik/homogen dalam hal tingkat risiko kesehatannya
TABEL 2.2 HASIL STRATA DESA/ KELURAHAN DI KABUPATEN KOTABARU
No. STRATA JUMLAH KECAMATAN NAMA DESA
1 STRATA 4 1 KEL. PULAU LAUT UTARA DIRGAHAYU
2 STRATA 3 5 KEL. PULAU LAUT BARAT LONTAR UTARA
3 PULAU LAUT KEPULAUAN PULAU KERASIAN
4 KELUMPANG HULU SUNGAI KUPANG
5 KELUMPANG TENGAH SUNGAI PUNGGAWA
6 KELUMPANG BARAT SIAYUH
7 STRATA 2 8 KEL. PULAU SEMBILAN TENGAH
8 PULAU LAUT SELATAN TG. SELOKA
9 PULAU SEBUKU RAMPA
10 KELUMPANG SELATAN SUKAMAJU (PANTAI)
11 PULAU LAUT TENGAH PANTAI BARU
12 KELUMPANG HILIR SERONGGA
13 HAMPANG HAMPANG
14 SUNGAI DURIAN MANUNGGAL LAMA
15 STARATA 1 5 KEL. KELUMPANG UTARA PUDI
16 PAMUKAN SELATAN TALUSI
17 SAMPANAHAN SUKAMAJU
18 PAMUKAN UTARA SEKAYU BARU
19 PAMUKAN BARAT MANGKA
20 STRATA 0 1 KEL. PULAU LAUT TIMUR LANGKANG LAMA
Hasil Strata wilayah Desa di Kabupaten Kotabaru yang terdiri atas 20 Kescamatan menghasilkan distribusi sebegai berikut:
1) Strata 0 sebanyak 5 %. 2) Strata 1 sebanyak 25%. 3) Strata 2 sebanyak 40%. 4) Strata 3 sebanyak 25%. 5) Strata 4 sebanyak 5 %.
III. HASIL STUDI EHRA
3.1. INFORMASI RESPONDENBagian ini memaparkan sejumlah variabel sosial-demografis dan hal-hal yang terkait dengan status rumah di Kabupaten Kotabaru. Variabel-variabel yang dimaksud mencakup status responden, jumlah anggota rumah tangga, usia anak termuda, status kepemilikan rumah, dan lahannya. Variabel-variabel sosial-demografis perlu dipelajari karena keterkaitan yang cukup erat dengan masalah sanitasi. Jumlah anggota rumah tangga berhubungan dengan kebutuhan kapasitas fasilitas sanitasi. Semakin banyak jumlah anggota rumah tangga, maka semakin besar pula kapasitas yang dibutuhkan. Usia anak termuda menggambarkan besaran populasi yang memiliki risiko paling tinggi atau yang kerap dikenal dengan istilah population at risk. Secara umum diketahui bahwa balita merupakan segmen populasi yang paling rentan terhadap penyakit-penyakit yang berhubungan dengan air (water borne diseases), kebersihan diri dan lingkungan. Dengan demikian, rumah tangga yang memiliki balita akan memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap masalah sanitasi dibandingkan rumah tangga yang tidak memiliki balita.
Sementara variabel yang terkait dengan status rumah, seperti kepemilikan dan juga ketersediaan kamar yang disewakan diperlukan untuk memperkirakan potensi partisipasi warga dalam pengembangan program sanitasi. Mereka yang menempati rumah atau lahan yang tidak dimilikinya diduga kuat memiliki rasa memiliki (sense of ownership) yang rendah. Mereka cenderung tidak peduli dengan lingkungan sekitar termasuk pemeliharaan fasilitas sanitasi ataupun kebersihan lingkungan. Sebaliknya, mereka yang menempati rumah atau lahan yang dimilikinya sendiri akan cenderung memiliki rasa memiliki yang lebih tinggi. Secara mendasar, perbedaan-perbedaan karakteristik ini akan menuntut pendekatan program yang berbeda.
Seperti dipaparkan dalam bagian metodologi, responden dalam studi EHRA diutamakan adalah ibu atau perempuan yang telah menikah atau cerai atau janda yang berusia 16 – 65 tahun. Batas usia, khususnya batas atas diperlakukan secara fleksibel. Penilaian kader kesehatan sebagai enumerator banyak menentukan yang didampingi oleh sanitarian (supervisor). Bila usia calon responden sedikit melebihi batas atas (65 tahun), namun responden terlihat dan terdengar masih cakap untuk merespon pertanyaan-pertanyaan dari pewawancara, maka calon responden itu dipertimbangkan masuk dalam daftar prioritas responden. Sebaliknya,
meskipun usia responden belum mencapai 65 tahun, namun bila performa komunikasinya kurang memadai, maka ibu itu dapat dikeluarkan dari daftar calon responden.
Grafik 3.1: Usia Responden
Dari sisi aspek usia, kebanyakan adalah penduduk yang berusia antara > 45 tahun, sekitar 23% (182 Org) dari total responden. Sekitar 15% (124 Org) berada di usia 41 – 45 tahun. Sementara, mereka yang berada di rentang 36 -40 tahun mencakup sekitar 18% (141 Org) dari total responden. Umur 31 – 35 sekitar 16% (127 Org), Umur 26 – 30 sekitar 16 % (128 Org), Umur 21- 25 tahun sekitar 10% (81 Org). Proporsi yang paling kecil adalah yang berusia paling muda, yakni kurang 20 tahun. Proporsi mereka hanya mencakup sekitar 2% (17 Org) dari total responden yang terpilih.
<= 20 tahun 2% 21 - 25 tahun 10% 26 - 30 tahun 16% 31 - 35 tahun 16% 36 - 40 tahun 18% 41 - 45 tahun 15% > 45 tahun 23%
Usia Responden
<= 20 tahun 21 - 25 tahun 26 - 30 tahun 31 - 35 tahun 36 - 40 tahun 41 - 45 tahun > 45 tahunGrafik 3.2: Jumlah Anak Lelaki dalam rumah tangga
Dari sisi jumlah anak laki-laki dalam Rumah Tangga, seperti dapat disimak pada diagram di atas, proporsi terbesar adalah yang memiliki anak laki-laki 1 orang, yakni sekitar 39,88%. Terbesar kedua adalah rumah tangga dengan tanpa anak laki-laki, yakni 32%. Yang ketiga, adalah rumah tangga yang memiliki anak laki-laki 2 orang yakni sekitar 19,13%. Selanjutnya dengan 3 orang anak laki-laki 6%, anak laki-laki 4 orang 2,13%, yang memiliki 5 anak laki-laki 0,63% dan yang memiliki 6 anak laki-laki 0.25%.
Grafik 3.3: Jumlah Anak Perempuan dalam rumah tangga
Dari sisi jumlah anak Perempuan dalam Rumah Tangga, seperti dapat disimak pada diagram di atas, proporsi terbesar adalah yang memiliki anak perempuan 1 orang, yakni sekitar 40,63%. Terbesar kedua adalah rumah tangga dengan tanpa anak perempuan, yakni 36,88%. Yang ketiga, adalah rumah tangga yang memiliki anak perempuan 2 orang yakni sekitar 17,63%. Selanjutnya dengan 3 orang anak perempuan 2,88%, anak perempuan 4 orang 1,38%, 5 anak
32 39.88 19.13 6 2.13 0.63 0.25 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 0 1 2 3 4 5 6
Persentase Jumlah Anak Laki-laki Dalam Rumah Tangga
36.88 40.63 17.63 2.88 1.38 0.25 0.25 0.13 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 0 1 2 3 4 5 6 7
Perempuan 0,25%, yang memiliki 6 anak perempuan 0,25% dan yang memiliki 7 anak perempuan 0,13%.
Terkait dengan status rumah yang ditempati responden, survei EHRA menjumpai mayoritas atau sekitar 77,48% dari total populasi menyatakan bahwa rumah yang ditempati adalah rumah yang dimiliki sendiri. Sisanya berada di rumah dinas dan sewaan.
Grafik 3.4: Status Rumah
Kepemilikan rumah dan lahan dapat dikaitkan dengan potensi rasa memiliki (sense of ownership) pada lingkungan rumahnya. Mereka yang memiliki rumah yang dihuninya cenderung memiliki rasa memiliki yang lebih besar. Karenanya, secara hipotetif untuk Kabupaten Kotabaru dapat disimpulkan kebanyakan rumah tangga cenderung memiliki potensi rasa memiliki terhadap lingkungannya yang cukup besar. Hal ini terlihat dari fakta bahwa rumah yang dimiliki oleh penghuninya jauh lebih besar relatif dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki rumah yang ditempatinya. 77.48 3.69 1.27 2.67 1.65 7.38 5.85 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
Milik sendiri Rumah dinas Berbagi
dengan keluarga lain
Sewa Kontrak Milik orang
tua
Lainnya
3.2. PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA
Dalam masalah persampahan, EHRA mempelajari sejumlah hal pokok, yakni: 1) cara pembuangan sampah yang utama, 2) frekuensi dan pendapat tentang ketepatan pengangkutan sampah bagi rumah tangga yang menerima layanan pengangkutan sampah, 3) praktik pemilahan sampah, dan 4) penggunaan wadah sampah sementara di rumah.
Cara utama pembuangan sampah di tingkat rumah tangga diidentifikasi melalui jawaban verbal yang disampaikan responden. Dalam kuesioner tersedia 22 (dua puluh dua) opsi jawaban. Dua puluh dua opsi itu dapat dikategorikan dalam 4 (empat) kelompok besar, yakni 1) Dikumpulkan di rumah lalu diangkut keluar oleh pihak lain, 2) Dikumpulkan di luar rumah/di tempat bersama lalu diangkut oleh pihak lain, 3) Dibuang di halaman/pekarangan rumah, dan 4) Dibuang ke luar halaman/pekarangan rumah. Di antara empat kelompok itu, cara-cara yang berada di bawah kategori 1 dan 2 atau yang mendapat layanan pengangkutan merupakan cara-cara yang memiliki risiko kesehatan paling rendah. Beberapa literatur menyebutkan bahwa cara-cara pembuangan sampah di lobang sampah khusus, baik di halaman atau di luar rumah, merupakan cara yang aman pula. Namun, dalam konteks wilayah perkotaan, di mana kebanyakan rumah tangga memiliki keterbatasan ruang dan lahan, penerapan cara-cara itu dinilai dapat mendatangkan risiko kesehatan yang cukup besar.
Dibanyak kota di Indonesia, penanganan sampah merupakan masalah yang memprihatinkan. Dalam banyak kasus, beban sampah yang diproduksi rumah tangga ternyata tidak bisa ditangani oleh sistem persampahan yang ada. Untuk mengurangi beban di tingkat kota, banyak pihak mulai melihat pentingnya pengelolaan/pengolahan di tingkat rumah tangga, yakni dengan pemilahan sampah dan pemanfaatan atau penggunaan ulang sampah, misalnya sebagai bahan untuk kompos. Dengan latar belakang semacam ini, EHRA kemudian memasukkan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan kegiatan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga serta melakukan pengamatan yang tertuju pada kegiatan-kegiatan pengomposan.
Terakhir, emunerator studi EHRA mengamati wadah penyimpanan sampah di rumah tangga. Wadah yang mengandung risiko kecil adalah wadah yang permanen atau setidaknya terlindungi dari capaian binatang seperti ayam atau anjing. Bak permanen atau keranjang yang tertutup dapat dikategorikan sebagai wadah yang relatif terlindungi dibandingkan dengan kantong plastik yang mudah sobek.
Secara rinci tabel di bawah menggambarkan cara-cara utama membuang sampah rumah tangga di Kabupaten Kotabaru. Dalam tabel di bawah terlihat bahwa yang paling banyak
0.3 8.0 55.6 0.5 4.1 21.9 0.3 5.7 1.1 2.5 0 10 20 30 40 50 60
Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
dijumpai adalah rumah tangga yang mengelola sampahnya dengan cara langsung dibakar yaitu sebanyak 55,3%.
Kelompok kedua yang cukup besar adalah mereka yang membuang sampah ke sungai/laut/kali/laut/danau yaitu sebanyak 22%. kelompok ketiga adalah yang membuang sampahnya ke TPS yaitu sebanyak 8.1%. Sementara, mereka yang membuang ke lahan kosong/kebun/hutan dan dibiarkan membusuk sekitar 5%, rumah tangga yang mengelola sampahnya dengan cara dibuang ke lubang terbuka yaitu sebanyak 4% dan sisanya terdiri dari mereka yang membuang ke lubang tertutup, dibiarkan saja membusuk dan diberikan kekolektor sampah untuk didaur ulang adalah sebanyak 2.1%.
Grafik 3.6: Pemilahan Sampah Rumah Tangga
Hanya 2,2% yang melakukan pemilahan pada sampah, 8,8% langsung membuang Ke TPS setempat dan sisanya 90,9% memperlakukan sampah dengan tidak benar yaitu membakar langsung, membuang ke Lahan Kosong, membuang ke Laut/sungai/danau. Di bawah ini merupakan grafik tentang kondisi sampah di rumah tangga.
Grafik 3.7 :Kondisi Sampah di Rumah Tangga
2, 2%
8, 8%
90, 90%
Pemilahan Sampah Rumah Tangga
Melakukan Pemilahan Tidak Melakukan Pemilihan dan Membuang Ke TPS Lain-Lain 44.3 24.1 19.8 34 7.1 8.1 3.4 10.4 16.6 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
76.50% 10.80% 2.30% 13.40% 4.30% 0.10% 1.30% 1.60% 0.60% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90%
Kepemilikan Jamban
3.3. PEMBUANGAN AIR LIMBAH DOMESTIK
Kebiasaan BAB (buang air besar) di tempat yang tidak memadai adalah salah satu faktor risiko menurunnya status kesehatan masyarakat. Selain mencemari tanah (field), praktik semacam itu dapat mencemari sumber air minum warga. Yang dimaksud dengan tempat yang tidak memadai bukan hanya tempat BAB di ruang terbuka, seperti di sungai/kali/got/kebun, tetapi juga penggunaan sarana Jamban rumah yang mungkin dianggap nyaman, namun sarana penampungan dan pengolahan tinjanya tidak memadai, misalnya yang tidak kedap air dan berjarak terlalu dekat dengan sumber air minum.
a. Kepemilikan Jamban
Praktik buang air besar dapat menjadi salah satu faktor risiko bagi tecemarnya lingkungan termasuk sumber air, khususnya bila praktik BAB itu dilakukan di tempat yang tidak memadai. Tempat yang tidak memadai bukan hanya tempat BAB di ruang terbuka saja seperti di sungai/ kali/ got/ kebun, tetapi termasuk sarana jamban yang nyaman di rumah. Berikut grafik persentase keluarga yang memiliki jamban.
Dari grafik diatas, keluarga yang memiliki jamban pribadi sebesar 76.50%. Meskipun demikian masih ditemukan responden yang berperilaku BAB di MCK/WC umum yaitu sebesar 10,8%, 2,3% menggunakan WC helicopter, 13,4% masih BAB kesungai, 5,70% BAB dikebun dan lubang galian.
b. Saluran Akhir Pembuangan Tinja
Tinja merupakan bahan buangan yang timbul karena adanya kehidupan manusia sebagai mahluk individu maupun mahluk sosial. Tinja juga merupakan bahan buangan yang sangat dihindari oleh manusia karena dapat mengakibatkan bau yang sangat menyengat dan sangat menarik perhatian serangga, khususnya lalat, dan berbagai hewan lain seperti anjing, ayam, dan tikus. Apabila pembuangan tinja tidak ditangani sebagaimana mestinya,maka dapat mengakibatkan terjadinya pencemaran permukaan tanah serta air tanah, yang berpotensi menjadi penyebab timbulnya penularan berbagai macam penyakit saluran pencemaan. Tangki Septik adalah bak kedap air yang terbuat dari beton, fbreglass, PVC atau plastik, untuk penampungan dan pengolahan black water dan grey water. Merupakan tangki pengendapan dan proses anaerobik untuk mengurangi padatan dan material organik. Pada grafik dibawah menunjukkan saluran akhir pembuangan tinja.
Grafik 3.9 Kepemilikan Saluran Akhir Pembuangan Tinja.
Dari grafik diatas dari rumah tangga yang memiliki jamban terdapat 42,6% rumah tangga yang memiliki saluran akhir pembuangan isi tinja berupa tangki septic, sedangkan 21,1% rumah tangga membuang ke Cubluk/Lobang tanah, rumah tangga yang membuang tinja ke sungai adalah sebanyak 21,1% dan 7,4% rumah tangga membuang tinja ke sungai/danau/pantai.
c. Kualitas Tangki Septic
42.6 0.6 21.1 1 7.4 0.1 27.1 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
Grafik 3.10 Kapan Tangki Septic di buat
Dari Grafik diatas terlihat kebanyakan septic tank dibangun 1-5 tahun yang lalu yaitu 29,6%, lebih dari 10 tahun sebanyak 26,1% dan 5-10 tahun sebanyak 20,2%. d. Kualitas Tangki Septic.
Grafik 3.11 Kapan Tangki Septic di Kosongkan
Pada grafik diatas menunjukan bahwa 84,5%, rumah tangga yang memiliki tangki septic tidak pernah mengosongkan tangki septic, 2,6% rumah tangga mengosongkan tangki septic 1-5 tahun yang lalu, sedangkan 9,7% rumah tanggga tidak tahu kapan waktu mengosongkan tangki septic.
7.6 29.6 20.2 26.1 16.4 0 5 10 15 20 25 30 35 0-12 bulan yang lalu 1-5 tahun yang lalu Lebih dari 5-10 tahun yang lalu
Lebih dari 10 tahun
Tidak tahu
Pembuatan Tangki Septic
1.8 2.6 1.2 0.3 84.5 9.7 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 0-12 bulan yang lalu 1-5 tahun yang lalu Lebih dari 5-10 tahun yang lalu
Lebih dari 10 tahun
Tidak pernah Tidak tahu
e. Jumlah Rumah Tangga yang memiliki saluran pengelolaan Air Limbah selain pembuangan Tinja.
Grafik 3.12 : Pengelolaan Air Limbah Selain Pembuangan Tinja
Persentase rumah tangga yang memiliki saluran air limbah selain pembuangan tinja adalah 44,7% dan yang tidak memiliki saluran pembuangan air limbah yaitu 55,3%.
3.4. DRAINASE LINGKUNGAN SEKITAR RUMAH DAN BANJIR
a. Lokasi Genangan
Grafik 3.13:Persentase Lokasi Genangan Air
Pada grafik diatas dapat dilihat lokasi genangan tertinggi adalah di halaman rumah yaitu sebesar 49%, di dekat dapur 31%, di dekat kamar mandi 29% dan 16% lokasi genangan berada di dekat bak penampungan.
44.7
55.3
Memiliki Pengelolaan Air Limbah Selain Tinja
Ya TIDAK 49 31 29 16 12 0 10 20 30 40 50 60 A. Dihalaman rumah B. Di dekat dapur C. Di dekat kamar mandi D. Di dekat bak penampungan E. Lainnya
b. Sumber Genangan
Grafik 3.14 : Persentase Sumber Genangan
Pada grafik diatas dapat dilihat sumber genangan tertinggi adalah dari air hujan yaitu sebesar 47,4%, Sumber genangan berasal dari air limbah dapur yaitu 36,4%, dari Air limbah kamar mandi 26%, sisanya berasal dari limbah lainnya yaitu 12,3%.
3.5. PENGELOLAAN AIR BERSIH RUMAH TANGGA
a. Pemakaian Air Bersih Rumah Tangga
Grafik 3.15: Pengelolaan Air Rumah Tangga
26 36.4 47.4 12.3 3.2 0 10 20 30 40 50
A. Air limbah kamar mandi B. Air limbah dapur C. Hujan D. Air limbah lainnya E. Tidak tahu
Sumber Genangan
11 36.8 21.1 1.6 1 6.6 18.4 0.9 16.3 23 1.9 1.1 7.4 21.8 0 10 20 30 40A. Air botol kemasan B. Air isi ulang C. Air Ledeng dari PDAM D. Air hidran umum - PDAM E. Air kran umum -PDAM/PROYEK F. Air sumur pompa tangan G. Air sumur gali terlindungi
Pengelolaan Air Rumah Tangga
MEMASAK MINUM
b. Tata Cara Penanganan Air bersih
Grafik 3.16 Cara Pengolahan Air.
Grafik diatas dapat dilihat pengolahan Air dengan cara direbus yaitu sebanyak 96.9% hal ini sudah memenuhi syarat kesehatan.
3.6. PRILAKU HIGINE
Menurut data United Nations Children's Fund (UNICEF) dan World Health Organization (WHO) pada 2009, diare merupakan penyebab kematian nomor 2 pada balita di dunia, nomor 3 pada bayi, dan nomor 5 bagi segala umur. Data UNICEF memberitakan bahwa 1,5 juta anak meninggal dunia setiap tahunnya karena diare.
Karena penyebaran penyakit diare pada dasarnya adalah fecal-oral (dari kotoran ke mulut), salah satu pencegahan yang paling sederhana dan murah adalah dengan mencuci tangan dengan sabun pada saat kritis, seperti sebelum menangani makanan dan setelah buang air besar atau mengganti popok. Jalur pencemaran yang diketahui sehingga cemaran dapat sampai ke mulut manusia, termasuk balita, adalah melalui 4F (Wagner & Lanoix, 1958) yakni fluids (air), fields (tanah), flies (lalat), dan fingers (jari/tangan). Cuci tangan pakai sabun adalah prevensi cemaran yang sangat efektif dan efisien khususnya untuk memblok transmisi melalui jalur fingers.
a. Tempat Anggota Keluarga Biasanya Mencuci Tangan
Untuk menelusuri perilaku-perilaku cuci tangan yang dilakukan ibu sehari-harinya,
96.9 0.4 0.1 2.1 0.4 0 20 40 60 80 100 120 Direbus Ditambahkan kaporit Menggunakan filter keramik
Lainnya Tidak tahu
EHRA terlebih dahulu memastikan penggunaan sabun di rumah tangga dengan pertanyaan dimana saja anggota keluarga biasanya mencuci tangan, sebesar 35,8% mencuci tangan di dapur dan prosentasi terkecil di dekat jamban sebesar 0,98 %.
Grafik 3.17: Tempat Anggota Keluarga Biasanya Mencuci Tangan
b. Tempat Anggota Keluarga Biasanya Mencuci Tangan
Grafik 3.18: Tempat Anggota Keluarga Biasanya Cuci Tangan
c. Pemakaian Sabun di Rumah Tangga
Studi EHRA menemukan hampir semua rumah tangga di Kotabaru memiliki akses pada sabun. Rumah tangga yang melaporkan menggunakan sabun pada hari diwawancara. Hanya kurang dari 0,25 % saja yang melaporkan tidak menggunakan sabun pada hari saat
0 5 10 15 20 25 30
A. Di kamar mandi B. Di dekat kamar mandi C. Di jamban D. Di dekat jamban E. Di sumur F. Di sekitar penampungan G. Di tempat cuci piring H. Di dapur I. Lainnya J. Tidak tahu 25.12 6.84 3.49 0.98 4.88 4.26 24.21 27.77 1.74 0.70
Tempat Anggota Keluarga Biasanya Mencuci Tangan
99.75% 0.25 %
Penggunaan Sabun Ibu Rumah Tangga
Menggunakan Sabun Tidak Menggunakan Sabun
diwawancara atau sehari sebelumnya.
Grafik 3.19 Penggunaan Sabun di Rumah Tangga
Grafik diatas menunjukan persentase pemakaian sabun terhadap aktifitas sehari-hari di Rumah tangga dimana pemakaian sabun untuk mandi sebesar 98,1%, untuk memandikan anak 34%, menceboki anak 23,8%, mencuci tangan sendiri 49.2%, memcuci tangan anak 25,8%, mencuci peralatan makan 82,2,% dan mencuci pakaian sebesar 84,1%. Selain itu dilihat juga kapan waktu CTPS pada grafik dibawah ini.
Grafik 3.20. Kapan Waktu CTPS
A. Mandi B. Memandikan anak C. Menceboki anak D. Mencuci tangan … E. Mencuci tangan anak
F. Mencuci peralatan G. Mencuci pakaian H. Lainnya I. Tidak tahu 98.1 34.0 23.8 49.2 25.8 82.2 84.1 1.9 0.9
WAKTU CTPS
0 20 40 60 80 100 A. Mandi B. Memandikan anak C. Menceboki pantat anak D. Mencuci tangan sendiri E. Mencuci tangan anak F. Mencuci peralatan G. Mencuci pakaian H. Lainnya I. Tidak tahu 98.1 34.0 23.8 49.2 25.8 82.2 84.1 1.9 0.9Pemakaian Sabun
3.7. KEJADIAN PENYAKIT DIARE
Kapan waktu paling dekat anggota keluarga ibu terkena diare. Responden sebanyak 63.4% tidak pernah keluarganya terkena penyakit diare, 8,4% lebih dari 6 bulan yang lalu terkena penyakit diare dan kejadian terkena diare ketika waktu diwawancarain (hari ini) sebanyak 1%.
Anggota keluarga yang sering terkena penyakit diare terbesar atau 33,2% adalah orang dewasa perempuan dan yang terendah terkena diare dianggota kelauarga adalah anak remaja laki-laki atau sebesar 8,7% dari responden yang diwawancarai.
0 5 10 15 20 25 30 35 Balita Anak-Anak Remaja Laki-laki Remaja Perempuan Dewasa Laki-laki Dewasa Perempuan 23.5 11.6 8.7 10.8 26.0 33.2
ANGGOTA KELUARGA YANG TERKENA DIARE
1.0 1.4 6.9 8.0 5.4 5.6 8.4 63.4 0 10 20 30 40 50 60 70 Hari ini Kemarin 1 minggu terakhir 1 bulan terakhir 3 bulan terakhir 6 bulan yang lalu Lebih dari 6 bulan yang …
3.8 INDEKS RESIKO SANITASI (IRS)
Risiko Sanitasi diartikan sebagai terjadinya penurunan kualitas hidup, kesehatan, bangunan dan atau lingkungan akibat rendahnya akses terhadap layanan sektor sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Indeks Risiko Sanitasi (IRS) diartikan sebagai ukuran atau tingkatan risiko sanitasi, dalam hal ini adalah hasil dari analisa Studi EHRA. Manfaat penghitungan Indeks Risiko Sanitasi (IRS) adalah sebagai salah satu komponen dalam menentukan area berisiko sanitasi. Berikut adalah grafik Indekas risiko Sanitasi (IRS) Kabupaten Kotabaru
Tabel 3.1 Indeks Resiko Sanitasi (IRS)
Batas Nilai Resiko Keterangan Total Indeks Resiko Max 279
Total Indeks Resiko Min 228
Interval 12
Kategori Area Beresiko Batas Bawah Batas Atas
Kurang Beresiko 228 240
Beresiko Sedang 241 253
Resiko Tinggi 254 266
Resiko Sangat Tinggi 267 279
Grafik 3.21. Indeks Resiko Sanitasi
38 69 51 42 53 79 62 60 54 59 50 97 97 46 26 -23 27 45 30 40 55 47 49 35 0 50 100 150 200 250 300 350
STRATA 0 STRATA 1 STRATA 2 STRATA 3 STRATA 4
Grafik Indeks Risiko Sanitasi Kabupaten Kotabaru
5. PERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT. 4. GENANGAN AIR.
3. PERSAMPAHAN. 2. AIR LIMBAH DOMESTIK. 1. SUMBER AIR
Tabel 3.2 Hasil Skoring Studi EHRA berdasarkan Indeks Risiko
STRATA NILAI IRS SKOR EHRA
STRATA 1 279 BERISIKO SANGAT TINGGI
Pudi Talusi Sukamaju Sekayu baru Mangka
STRATA 2 256 BERISIKO TINGGI
Desa tengah Tj. Seloka Rampa Pantai baru Sukamaju (pantai) Serongga Hampang Manunggal lama
STRATA 3 268 BERISIKO TINGGI
Lontar Utara Pulau Kerasian Sungai Kupang Sungai Punggawa Siayuh
STRATA 4 238 KURANG BERISIKO
Dirgahayu
STRATA 0 231 KURANG BERISIKO