PROSIDING
SEMINAR NASIONAL SASTRA DAN BUDAYA IV
KEARIFAN LOKAL SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER BANGSA
Tim Penyunting
Drs. I Ketut Ngurah Sulibra, M. Hum. Drs. I Wayan Teguh, M. Hum. Dr. Dra. Ni Ketut Ratna Erawati, M. Hum.
DENPASAR, 29 – 30 MARET 2019
FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR 2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan kepada Ida Sang Hyang Widhi atas berkat- Nyalah kegiatan ini dapat diselengarakan sesuai dengan harapan. Pada kesempatan ini kami menghaturkan terima kasih kepada dua pembicara kunci, yakni Bapak Prof. Dr. Djoko Saryono, M. Pd., Guru Besar Universitas Negeri Malang (UNM), dan Bapak H. Sunggono, Sekretaris Daerah Kutai Kartanegara. Selain itu, ucapan terima kasih yang tulus kepada kedua pembicara undangan, yaitu Bapak Dr. Ida Bagus Kade Gunayasa, M. Hum., dari Universitas Mataram, dan Bapak Dr. Drs. I Nyoman Wardi, M. Si. dari Prodi Arkeologi FIB Universitas Udayana yang telah bersedia menyampaikan ide-ide dan gagasannya untuk memperkuat isi SNSB IV ini. Terima kasih pula kami ucapkan kepada para pemakalah pendamping, peserta dan mahasiswa yang sudah berupaya menjadikan SNSB IV sangat berarti. Partisipasi Bapak Ibu sekalian sebagai pemakalah dan sebagai peserta sangat memotivasi bagi kami demi keberlangsungan SNSB IV ini maupun SNSB pada tahun-tahun berikutnya dan sudah tentu dengan tema dan materi yang berbeda.
Kami juga mengucapkan terima kasih atas semua fasilitas yang diberikan oleh Ibu Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M. A. selaku dekan FIB beserta staf, serta para koordinator Program Studi di lingkungan FIB, Bapak/Ibu dosen, mahasiswa dan segenap civitas Akademika FIB Unud, yang telah memperlancar SNSB IV ini. Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh panitia SNSB IV atas dukungan dan kerja samanya yang baik juga tidak kenal lelah. Harapan, tujuan, semangat, kerja sama yang dilandasi dengan komitmen baik telah menjadikan seminar ini berjalan dengan suasana akademik yang kondusif.
Akhirnya kami tidak pernah lupa dengan pepatah bahasa Jawa Kuno ―Tan Hana Wang Saswatānulus‖ yang identik dengan ―Tiada gading yang tak retak‖. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang sifatnya konstruktif sangat kami harapkan demi terlaksananya SNSB yang lebih berkualitas di masa mendatang. Kami mohon maaf jika ada hal-hal yang tidak berkenan di hati Bapak/Ibu selama acara ini berlangsung. Terima kasih.
Panitia Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Ketua,
Dr. Dra. Ni Ketut Ratna Erawati, M.Hum.
SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa karena atas asung kerta wara nugraha-Nya maka Buku Kumpulan Abstrak untuk Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV (SNSB IV) yang mengusung tema Kearifan Lokal sebagai Pembentuk Karakter Bangsa' dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Tema ini menjadi sangat penting karena kita dapat memahami hubungan yang sangat erat antara Sastra dan Budaya sehingga Sastra dan Budaya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Melalui karya sastra yang penulisnya memiliki latar belakang budaya berbeda akan mampu memperindah karya-karya sastra yang dihasilkan baik untuk kebutuhan sebagai bahan ajar maupun untuk dihayati.
Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana mengembangkan ilmu-ilmu Sastra dan Budaya. Dengan mengungkap hasil karya sastra yang berisikan kandungan budaya diharapkan dapat membangun karakter masyarakat dan bangsa Indonesia dalam menghadapi era globalisasi yang penuh tantangan dapat terwujud dengan baik. SNSB IV dilaksanakan untuk mendiskusikan dan menginterpretasikan hubungan yang begitu erat antara Sastra dan Budaya sehingga muncul pemahaman, dan apresiasi terhadap keanekaragaman dan persamaan budaya untuk mewujudkan multikulturalisme. Multikulturalisme adalah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individu maupun budaya. Perbedaan dan persamaan Sastra dan Budaya dipandang sebagai landasan dalam multikulturalisme, yaitu peradaban manusia melalui rentang waktu dan tempat.
Berkaitan dengan hal ini, perlu diperhatikan hubungan Sastra dan Budaya untuk pendidikan multikulturalisme yang terdiri atas:
1. Menginterpretasikan perbedaan Sastra dan budaya berdasarkan persamaan; 2. Membuat hubungan dan perbandingan secara lintas budaya (cross Cultural
Connections and Comparisons); 3. Menunjukkan konteksnya; dan
4. Menyeimbangkan antara konteks (ecology) dan komparasi (cross-culture) dalam Sastra dan Budaya.
Melalui kesempatan ini, kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. Para Koordinator Program Studi di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya,
Universitas Udayana atas kerjasama yang baik sehingga SNSB IV bisa dilaksanakan secara berkesinambungan.
2. Bapak Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., dari Universitas Negeri Malang sebagai pembicara kunci, pemakalah utama yakni Bapak Dr. Drs. I.B. Kade Gunayasa, M.Hum. dari Universitas Mataram, dan Bapak Dr. I Nyoman Wardi, M.Si. dari Fakultas Ilmu Budaya Unud, serta para pemakalah pendamping lainnya yang terdiri atas dosen bahasa, pengamat sastra, budayawan, dll. 3. Peserta SNSB IV, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana yang terdiri
atas, peneliti dan/atau dosen bahasa, sastra, dan budaya, guru, mahasiswa, pekerja dan pengamat media, sastra dan budaya, yang terlalu panjang bila disebutkan semuanya.
4. Panitia SNSB IV Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana yang telah bekerja keras mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan penyelenggaraan seminar ini dengan sebaik-baiknya.
Semoga SNSB IV yang diselenggarakan atas kerjasama semua Program Studi di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana dapat memberikan pencerahan tentang hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara Sastra dan Budaya, dan diharapkan bermuara pada penyatuan Visi Fakultas Ilmu Budaya, Unud yaitu memiliki keunggulan dan kemandirian dalam bidang pendidikan,
penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dengan aplikasi keilmuan yang berlandaskan kebudayaan.
Melalui kesempatan ini sekali lagi kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran pelaksanaan SNSB IV, dengan harapan semoga Tuhan YME memberikan imbalan yang setimpal dengan pengorbanan Bapak/Ibu sekalian. Kami juga tidak lupa mohon maaf apabila ada hal-hal yang kurang berkenan dan semoga Buku ini bermanfaat untuk kita semua.
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Dekan,
Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A.
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ... i KATA PENGANTAR ... ii SAMBUTAN ... iii DAFTAR ISI ... v PEMAKALAH KUNCI MEMUDAKAN KEARIFAN LOKAL, MEMPERKUAT KARAKTER BANGSA: Kearifan dan Karakter sebagai Kompas Kehidupan Zaman Disrupsi Djoko Saryono ... 1
PEMAKALAH UTAMA REVITALISASI NILAI DALAM CERITA RAKYAT SASAK LOQ SESEKEQ SEBAGAI PENGUATAN POLA ASUH ANAK DAN PENDIDIKAN KARAKTER Ida Bagus Kade Gunayasa ... 15
RITUAL AIR DALAM SIKLUS PURNAMA KAPAT PADA KAWASAN CAGAR BUDAYA BATUKARU DI BALI : KEARIFAN KONSERVASI LINGKUNGAN SEBAGAI IDENTITAS DAN KARAKTER MASYARAKAT BALI I Nyoman Wardi ... 25
PEMAKALAH PENDAMPING ANALISIS PUISI “SAJAK HOAX” KARYA SOSIAWAN LEAK MENGGUNAKAN TEORI SEMIOTIKA RIFFATERRE Ahmad Habib, Robbi Gunawan, Mamluqil Farihah ... 37
TRADISI KULINER TRADISIONAL MASYARAKAT LUMAJANG REPRESENTASI IDENTITAS BUDAYA PENDALUNGAN Aliffiati, AA Ayu Murniasih ... 43
PERANAN MADE ADA DALAM PERUBAHAN EKONOMI DI DUSUN PAKUDUI TEGALALANG GIANYAR (1984-2018) Anak Agung Inten Asmariati ... 54
RIAK GELOMBANGRESILIENSI KELUARGA ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA (ODGJ) DALAM BALUTAN ASPEK BUDAYA BALI Bambang Dharwiyanto Putro ... 59
MOTIFEME-MIGRASI-AKULTURASI BUDAYA DALAM CERITA RAKYAT JAKA TARUB DAN CERITA SERUPA DI ASIA (STRUKTUR NARATIF ALAN DUNDES)
Dewi Ayuningtyas ... 69 PERAN MISIONARIS DALAM TERBENTUKNYA MASYARAKAT
MULTIBUDAYA DI BALI
Fransiska Dewi Setiowati Sunaryo ... 75 REVITALISASI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL TRI HITA KARANA DAN SAD KERTIH DALAM PENGEMBANGAN DESA WISATA SANGKAN GUNUNG
Gede Ginaya, I.A. Kade Werdika Damayanti, Ni Wayan Wahyu Astuti,
I Wayan Nurjaya ... 82 ANALISIS ‗UNTUK KITA RENUNGKAN‘
I Gusti Ayu Gde Sosiowati ... 88 METAFORA DI MEDIA CETAK: SEBUAH PENELITIAN PENDAHULUAN I Gusti Ngurah Parthama ... 95 PEMBERDAYAAN SASTRA DAN BUDAYA DALAM MEMBANGUN
KARAKTER BANGSA YANG SEHAT
I Ketut Darma Laksana ... 102 MEMILIH DAN MEMILAH SATUA DI DUNIA PENDIDIKAN UNTUK
MEMBANGUN KARAKTER YANG TEPAT
I Ketut Jirnaya ... 107 RATU SAKTI PANCERING JAGAT DI DESA TRUNYAN
I Ketut Setiawan ... 112 KAKAWIN SIWARATRIKALPA: ALUR DAN TEMA CERITA
I Made Suastika ... 117 TRANSFORMASI SOSIAL DAN ETIKA BUDAYA RELIGIUS
MASYARAKAT BALI ERA MODERN
I Nyoman Duana Sutika ... 123 HIPONIMI KATA‖SEKAR‖ DALAM BAHASA JAWA KUNA
I Nyoman Sukartha, Komang Paramartha ... 130 DINAMIKA SAPAAN DALAM BAHASA MELAYU BALI
I Nyoman Suparwa ... 136
DARI ISLAM KAMPUNG SAMPAI ISLAM BALI : PERANAN NILAI-NILAI TRADISIONAL DALAM KEBERTAHANAN MASYARAKAT ISLAM DI BALI
I Putu Gede Suwitha... 143 BENANG MERAH SASTRA LISAN NUSANTARA: STUDI KASUS CERITA RAKYAT CORO ILA DAN I BELOG MANTU
I Wayan Cika ... 153 MASYARAKAT MULTIKULTUR PADA ZAMAN BALI KUNO ABAD IX- XIV M BERDASARKAN REKAMAN ARKEOLOGI
I Wayan Srijaya ... 159 BUDAYA KRITIK DALAM TEKS SASTRA TRADISI: REPLEKSI TEKS GEGURITAN I KETUT BUNGKLING DAN GEGURITAN I KETUT BAGUS I Wayan Suardiana ... 166 KEBERTERIMAAN KOMUNITAS HINDU DALAM PLURALITAS AGAMA DI LAMPUNG SUMATRA SELATAN
I Wayan Tagel Eddy, Anak Agung Ayu Rai Wahyuni ... 173 KEPRIBADIAN NASIONAL DAN BAHASA INDONESIA: SUATU
TINJAUAN SINGKAT
I Wayan Teguh ... 178 KATA KETERANGAN ASPEK FREKUENTATIF DALAM BAHASA SASAK Ida Ayu Putu Aridawati ... 185 KEARIFAN LOKAL DALAM KEBIJAKAN RAJA-RAJA PADA MASA
KERAJAAN BALI KUNO
Ida Ayu Putu Mahyuni ... 193 DESA-DESA DI BALI, DALAM LINTASAN SEJARAH
Ida Ayu Wirasmini Sidemen ... 197 WACANA TRADISI TARI WALI BARIS SUMBU DALAM UPACARA
NEDUH DI PURA DESA, DESA ADAT SEMANIK DESA PLAGA-BADUNG Ida Bagus Rai Putra ... 205 KEARIFAN LOKAL SINKRETISME HINDU-BUDHA PADA RELIEF CANDI PENATARAN SEBAGAI JATI DIRI BANGSA
Ida Bagus Sapta Jaya ... 210 KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ADAT KAWASAN GUNUNG MUTIS DALAM PELESTARIAN HUTAN DI TIMOR TENGAH SELATAN, NUSA TENGGARA TIMUR
Industri Ginting Suka ... 216 vii
ORIENTASI NILAI BUDAYA PETANI SAYUR: STUDI KASUS DI DESA ARGOSARI, KECAMATAN SENDURO, KABUPATEN LUMAJANG, PROVINSI JAWA TIMUR
Ketut Darmana ... 221 CERITA SI LUTUNG DAN SIKEKUWE DALAM SEBUAH
PERBANDINGAN
Komang Paramartha, I Nyoman Sukartha ... 227 KISAH CINTA DAN PENGORBANAN DI BALIK TRADISI PASOLA DI SUMBA (KONSEP AWAL PENULISAN SKENARIO FILM PASOLA SUMBA) Maria Matildis Banda ... 234 KAJIAN SEMIOTIKA PEIRCE PADA PUISI IA TAK PERNAH JANJI LANGIT SELALU BIRU DALAM ANTOLOGI PUISI DI KOTA TUHAN AKU ADALAH DAGING YANG KAU PECAH-PECAH KARYA STEBBY JULIONATAN Moh. Yusril Hermansya ... 240 PERAN EKOLOGI SASTRA PUISI TERHADAP PELESTARIAN
LINGKUNGAN HIDUP
Mursalim ... 247 PROBLEMATIKA KURIKULUM GENERIK PELAJARAN BAHASA BALI Nengah Arnawa ... 252 DIVERSIFIKASI PEMAKNAAN ISTILAH BUDAYA BALI DI MEDIA
ONLINE
Ni Ketut Alit Ida Setianingsih, I Gusti Ngurah Parthama ... 258 PRASASTI SEBAGAI BUKTI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT BALI KUNO
Ni Ketut Puji Astiti Laksmi ... 265 “ARDHANARESWARI”; REPRESENTASI NILAI KEARIFAN LOKAL BALI DALAM MEWUJUDKAN KESETARAAN GENDER
Ni Luh Arjani ... 270 PERSPEKTIF GENDER TUTURAN PERINTAH BAHASA JEPANG: STUDI PENDAHULUAN
Ni Luh Kade Yuliani Giri ... 275 REDUPLIKASI ADJEKTIF SECARA MORFEMIS DALAM BAHASA BALI Ni Luh Komang Candrawati... 280 GEGURITAN SIWARATRI KALPA (LUBDAKA): ANALISIS ALUR CERITA DAN PENOKOHAN
Luh Putu Puspawati ... 287 viii
EKSPLOITASI BURUH YANG DIGAMBARKAN KOBAYASHI TAKIJI DALAM CERPEN HOKKAIDO NO „SHUNKAN‟
Ni Luh Putu Ari Sulatri, Silvia Damayanti ... 292 MANFAAT DAUN DEDAP ‗Erythrina variegate‘
KESANTUNAN BERBAHASA YANG TERCERMIN DALAM AIMAI HYŌGEN
Ni Made Andry Anita Dewi, Ni Putu Luhur Wedayanti... 310 REPRESENTASI IDENTITAS DALAM GAYA HIDUP PEREMPUAN BALI MASA KINI
Ni Made Wiasti, Ni Luh Arjani ... 318 PEMILIHAN PEDOMAN PENULISAN AKSARA JAWA DI RUANG
PUBLIK
Rahmat, Tya Resta Fitriana ... 326 NILAI PENDIDIKAN DALAM ANTOLOGI PUISI SENDJA DJIWA PAK BUDI
Sri Jumadiah ... 330 KEARIFAN LOKAL UPACARA RITUAL ERPANGIR KU LAUSEBAGAI PROYEKSI JATI DIRI MASYARAKAT KARO
Vanesia Amelia Sebayang, Asmyta Surbakti ... 337 KEARIFAN LOKAL DI BUMI MAJAPAHIT KECAMATAN TROWULAN- KABUPATEN MOJOKERTO
Zuraidah ... 344
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ADAT KAWASAN GUNUNG MUTIS DALAM PELESTARIAN HUTAN
DI TIMOR TENGAH SELATAN, NUSA TENGGARA TIMUR
Industri Ginting Suka
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana [email protected]
ABSTRAK
Kearifan lokal(local wisdom) yaitu keseluruhan bentuk pengetahuan, kepercayaan, pemahaman, atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas masyarakat adat. Masyarakat adat adalah kelompok masyarakat yang secara turun-temurun bermukim di wilayah geografis tertentu, karena ada ikatan pada asal usul leluhur, adanya hubungan kuat dengan lingkungan hidup, ada sistem nilai yang menentukan pranata ekonomi, politik, sosial, dan hukum. Masyarakat adat kawasan Gunung Mutis yang telah lama bermukim memiliiki kearifan local yang sampai saat kini bertahan dari serangan kebudayaan modern, hal ini terlihat dari tetap lestarinya kawasan hutan gunung Mutis. Permasalahannya ialah bagaimana wujud kearifan lokal masyarakat gunung Mutis sehingga mampu mempertahankan kelestarian kawasan hutan. Tulisan ini ingin mendeskripsikan kearifan local dari masyarakat adat kawasan gunung Mutis yang memiliki kepedulian pada pelestarian lingkungan, khususnya dalam ekosistem kawasan hutan. Pendekatan yang dipakai dalam tulisan ini adalah pendekatan antropologi ekologi dengan memakai konsep adaptasi manusia terhadap lingkungan. Masyarakat di kawasan gunung Mutis memanfaatkan hutan untuk energi, membuat rumah, mengambil madu hutan danberternak, namun hutannya terjaga kelestariannya. Hal ini disebabkan ada kearifan local yang tercermin dalam nilai aturan adat yang melarang melakukan eksploitasi yang berlebihan. Kearifan local itu terdapat pada filosofi mansion muit nasi na bua, yang artinya ada kesatuan antara manusia, hewan ternak dan hutan.
Kata kunci: kearifan local, masyarakat adat, mansion muit nasi na bua.
I. Pendahuluan
Rusaknya kawasan hutan telah menjadi ancaman yang berdampak luas seperti kekeringan, banjir dan hilangnya sumberdaya genetik. Situs dan hutan keramat telah menjadi bagian dari banyak komunitas lokal di Indonesia. Mengacu pada pengetahuan dan kepercayaan tradisional, pola pengamatan
Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV 216
Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV Denpasar, 29 - 30 Maret 2019
217
menjadi langkah yang strategis dalam membangun sistem produksi sumber daya hutan lokal dan pemanfaatannya untuk kepentingan spiritual. Upaya konservasi yang berasal dari kesadaran masyarakat lokal berdasarkan akal sehat dan kepercayaanakan lebih efektif dalam menjaga kelestarian hutan dibandingkan dengan pengelolaan oleh pemerintah dengan sistem birokrasinya yang rumit.
Permasalahannya ialah: bagaimanakah wujud kearifan lokal masyarakat gunung Mutis sehingga mampu mempertahankan kelestarian kawasan hutan. Tujuan tulisan ini ingin mendeskripsikan kearifan lokal masyarakat adat kawasan gunung Mutis yang memiliki kepedulian pada pelestarian lingkungan, khususnya dalam ekosistem kawasan hutan. Pendekatan atau metode yang dipakai dalam tulisan ini adalah deskriptifkualitatif, serta didukung dengan studi perpustakaan (literature).
1.1. Wujud Kearifan Lingkungan Masyarakat Kawasan Gunung Mutis
Kearifan lokal merupakan bagian dari masyarakat untuk bertahan hidup sesuai dengan kondisi lingkungan, sesuai dengan kebutuhan, dan kepercayaan yang telah berakar dan sulit untuk dihilangkan. Pendapat lain mengatakan bahwa kearifan lokal merupakan pengetahuan lokal yang digunakan oleh masyarakat untuk bertahan hidup dalam suatu lingkungan yang menyatu dengan sistem kepercayaan, norma, budaya dan diekspresikan dalam tradisi dan mitos yang dianut dalam jangka waktu yang lama. Fungsi kearifan lokal adalah sebagai berikut. Pertama, sebagai penanda identitas sebuah komunitas. Kedua, sebagai elemen perekat (aspek kohesif) lintas warga, lintas agama dan kepercayaan. Ketiga, kearifan local memberikan warna kebersamaan bagi sebuah komunitas. Keempat, mengubah pola pikir dan hubungan timbal balik individu dan kelompok dengan meletakkannya di atas nilai-nilai kebudayaan yang dimiliki. Kelima, mendorong terbangunnya kebersamaan, apresiasi sekaligus sebagai sebuah mekanisme bersama untuk menepis berbagai kemungkinan yang meredusir, bahkan merusak, solidaritas komunal, yang dipercayai berasal dan tumbuh di atas kesadaran bersama, dari sebuah komunitas terintegrasi (Sumarmi dan Amirudin, 2014).
Kearifan lingkungan merupakan wujud dari perilaku komunitas atau masyarakat tertentu sehingga dapat hidup berdampingan dengan alam lingkungan tanpa harus merusaknya. Kearifan lokal merupakan suatu kegiatan unggulan dalam masyarakat tertentu, keunggulan tersebut tidak selalu berwujud dan kebendaan, sering kali di dalamnya terkandung unsur kepercayaan atau agama, adat istiadat dan budaya atau nilai-nilai lain yang bermanfaat seperti untuk kesehatan, pertanian, pengairan, dan sebagainya. Berangkat dari pengertian tersebut dapat dijelaskan bahwa kearifan lokal sudah mengakar, bersifat mendasar, dan telah menjadi wujud perilaku dari suatu warga masyarakat guna mengelola dan menjaga lingkungan secara arif atau bijaksana..
Dalam persepsi masyarakat kawasan gunung Mutis dipercaya memiliki nilai-nilai filosofi yang mendalam, sehingga kawasan tersebut menjadi kawasan kramat, sebagai sumberdayakehidupan, pemasok berbagai kebutuhan pokok sekitarnya, dan merupakan tempat yang dipercaya sebagai asal usul orang Timor.
218 Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV Denpasar, 29 - 30 Maret 2019
Dalam keyakinan penduduk Timor pada umumnya Mutis bukan hanya dipandang sebagai gunung yang menjulang tinggi. Mutis bermakna sebagai sumber kehidupan, dan dalam pemahaman mereka sumber kehidupan adalah berhubungan dengan persediaan air yang berlimpah dari gunung Mutis bagidaratan Timor (Boymau, 2001)
Mutis mengandung pengertian, sesuatu yang melengkapi, artinya gunung Mutis mampu menyediakan atau melengkapi segala kebutuhan orang Timor mulai dari air, kayu, tali, madu, hewan buruan (babi hutan, burung, rusa, kuskus, kera, dan lainnya) serta berbagai hasil hutan lainnya. Dalam pengertian lain masyarakat juga menyebutkan bahwa Mutis merupakan sumber kekuatan. Awal mula kehidupan nenek moyang penduduk Timor adalah berasal dari gunung Mutis, yang menyimpan sejumlah kekuatan dan kedahsyatan tertentu. Penduduk Timor mempunyai keyakinan bahwa gunung Mutis dapat melepaskan penduduk Timor dari segala bencana yang membahayakan (Marettra W, 2001)
Secara harafiah Mutis berasal dari kata mum tis yang artinya melengkapi dan merupakan tempat raja (uwis=usif)oematan melakukan penyembahan (gunung Mutis) di wilayah Timor Tengah Selatan), sedangkan bagian atau sisi gunung Mutis yang menghadap Timor Tengah Utara merupakan tempat dari uwis kono( di Miomafo) untuk melakukan penyembahan. Sementara itu penduduk Timor di Kabupaten Belu menyebut gunung Mutis Bab-nai (bab artinya pelihara dan nai artinya kelompok suku yang ada di Timor). Penduduk Timor yang hidup di dataran Timor hidup karena tetesan gunung Mutis. Sampai sekitar tahun sekitar 1970 an puncak gunung Mutis masih dianggap tempat yang keramat dan tidak boleh dimasuki siapapun. Alasan dari larangan itu ialah karena puncak gunung Mutis merupakan tempat kramat bagi raja dan golongan usif. Selain itu puncak gunung Mutis tempat bagi golongan usif untuk melepas hewan ternak yang dikenal dengan namaluke teme pusu, yaitu ternak yang tidak bercap dan tidak dipotong telinganya. Ternak yang dipelihara antar lain kerbau, kuda, babi, kambing dan ayam. Cara pemeliharaan ternak dilepas di sekitar rumah. Salah satu fungsi penting ternak adalah untuk kepentingan adat terkait dengan upacara sekitar silus hidup kelahiran, perkawinan, kematian dan siklus hidup berladang. Ternak untuk kepentingan ekonomi (dijual) terbatas pada ternak besar seperti sapi, kuda dan kerbau. Pada waktu dulu oreintasi pemeliharaan tenak untuk dijual belum berkembang (membudaya). Khusus ternak besar seperti sapi, kuda dan kerbau dilepas agar pemilik ternak dapat mengenali dengan mudah digunakan tanda cap yang disebut malak. Setiap keluarga (suku) memiliki tanda cap ternak (malak) yang berbeda-beda. Cap ternak tidak saja diketahui oleh yang bersangkutan tetapi diketahui oleh seluruh masyarakat setempat. Selain tanda cap (malak) juga masyarakat mengenal tanda berupa potongan daun telinga hewan yang disebut (hetis) oleh masing- masing suku (marga).
III. Konsepsi masyarakat tentang hutan, tanah dan air
Konsepsi yang digunakan manusia untuk menafsirkan hidup dan menentukan sikap terhadapnya. Konsepsi mengakomodir idealisme dan harapan yang erat kaitannya dengan perilaku manusia. Sebuah konsepsi tidk mengubah wajah dunia secara langsung, melainkan melalui tindakan manusia. Tanpa tindakan, sebuah konsepsi tidak pernah akan berdaya menciptakan realitas empiris.
Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV Denpasar, 29 - 30 Maret 2019
219
Bagi masyarakat Mutis hutan memiliki arti yang sangat penting bagi kelangsungan kehidupan mereka, seperti yang diungkapkan oleh masyarakat bahwa: hutan itu seperti rambut apabila kita buang rambut kita maka rambut akan botak dan menderita karena panas. Hutan juga bermanfaat untuk melindungi air sehingga kalu hutan ditebang habis mungkin di Mutis ini tinggal beberapa puluh penduduk saja, menurut penduduk local.Masyarakat Mutis menggolongkan hutan ke dalam beberapa tipe menurut fungsi dan statusnya, antara lain hutan suku (sufma autuf), hutan larangan (nasi talas), dan hutan keramat (nasi le u) atau (nasi mnuni). (Marettra W, 2001).
IV. Konsepsi masyarakat tentang kearifan lokal Man sian muit Nasi Na bua
Kearifan lokal masyarakat adat ada dalam pengelolaan sumberdaya alam mengandung nilai-nilai kebaikan dan kebijaksanaan, selalu ada keseimbangan antara manusia dan alam sekitarnya, oleh karena itu tidak heran jika lingkungan terpelihara dengan baik. Kehidupan yang selaras dengan lingkungan alam bukan berarti masyarakat tradisional bersifat pasif, akan tetapi memanfaatkan lingkungan alam sebaik baiknya demi kelangsungan hidupnya. Hal tersebut tersirat dalam keyakinan dasar masyarakat di mana antara manusia, ternak dan lingkungannya dipandang mempunyai kaitan yang sangat erat dan merupakan bagian yang tersusun secara sederhana dan tidak terpisahkan antara satu dengan lainnya.
Hutan dan ternak mempunyai arti yang sangat penting bagi masyarakat menurut penuturan masyarakat konon dalam sejarah jaman kerajaan telah dibuat perjanjian anatar tiga raja Mutis, yaitu raja Kono, Wamatan dan Sonbai mengenai konsep segi tiga kehidupan man sian muit nasi na bua. Artinya manusia, ternak, dan hutan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan saling memiliki ketergantungan. Manusia mengambil manfaat dari ternak, ternak mencari makan di hutan dan hutan dijaga kelestariannya oleh manusia. Untuk mengukuhkan perjanjian ini dikorbankan satu ekor kerbau jantan berumur 3 tahun sebagai materai hukum adat sekaligus disebarluaskan kepada masyarakat dari ke tiga raja tersebut.
Bertitik dari kearifan lokal tersebut hutan memiliki arti penting bagi masyarakat selain ekonomis, setiap marga atau suku memiliki faud kana foe
kanaf( batu nama, air nama). Di dalam hutan pada waktu tertentu seluruh anggota
keluarga berkumpul di tempat tersebut untuk melakukan upacara adat sesuai kepentingan. Faut kana foe kanaf di dalam hutan dianggap sebagai tempat pertama kali nenek moyang mereka datang dan menginjakkan kaki di desa itu. Hutan keluarga tersebut dikeramatkan oleh sukunya dan disegani oleh suku suku lain karena diyakini bahwa hutan tersebut memiliki kekuatan gaib yang dapat membawa rejeki ataupun menimbulkan malapetaka bagi manusia (Boymau, 2001). Selain fat kanaf/oe kanaf, di dalam desa juga ada nais/tala (hutan larangan umum) artinya semua kehidupan yang ada di dalam hutan dilarang untuk diambil sesuka hati baik penebangan pohon, panen hasil utan maupun berburu satwa liar. Larangan itu akan dicabut stelah menurut kreteria objektif, hasil hutan tersebut memenuhi syarat panen dan kegiatan pemanenan pada umumnya diawali dengan upacara adat. Setiap masyarakat yang melanggar aturan tersebut dapat dikenakan sangsi adat dalam bentuk denda yang besar dan jumlahnya beragam tergantung bentuk dan ukuran keslahan. Tetapi denda umumnya berupa kerbau, sapi, babi, kopi, beras dan uang perak Belanda. Penetapannais tala dilakukan oleh
220 Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV Denpasar, 29 - 30 Maret 2019
tokoh tokoh adat dengan ditandai satu ekor sapi atau kerbau dagingnya dibagikan kepada kepala keluarga. Sedangkan tanduk sapidan kerbaunya diikat pada tempat strategis sebagai pengumuman bagi masyarakat desa lain.
V. Kesimpulan
1. Pada dasarnya masyarakat di sekitar kawasan gunung Mutis Kabupaten Timor Tengah Selatan terdiri dari beberapa komunitas kecil atau suku bangsa (etnis), yang masih tetap berupaya mempertahankan dan melestarikan nilai- nilai budaya kearifan local sebagai warisan yang diterima dari nenek moyang mereka. Hal ini dapat dibuktikan dengan peninggalan benda-benda budaya material dan non material seperti upacara-upacara ritual adat yang masih tetap dilaksanakan sebagai pendukungnya.
2. Dalam menjaga hutan komunitas adat terus memegang kuat filosofi tentang alam dan merangkainya dalam wujud budaya bahwa tanah adalah daging, hutan adalah rambut, batu adalah tulang dan air adalah darah. Filosofi ini menjadi kekuatan masyarakat di Timor Tengah Selatan untuk menjaga dan melestarikan lingkungan. Pelestarian lingkungan berbasis budaya ini merupakan warisan leluhur yang sampai kini dilakukan walaupun perkembangan teknologi dan modernisasi, namun masyarakat tetap konsisten mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal.
Daftar Pustaka
1. Adrianus Lopo Anunut dan Kusmayadi, Analysis of Local Wisdom Tamkesi Indigenous Village as a tourist attraction in the North Central Timor Regency of East Nusa Tenggara, Jurnal Sains Terapan Pariwisata, Vol. 1, No. 1, Tahun 2011, pp. 100-108.
2. Ardana dalam Apriyanto, 2008. Hubungan Kearifan Lokal Masyarakat Adat dengan Pelestarian Lingkungan Hidup. Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia.
3. Boymau,Yulianti Marlina, 2001., Pola Beternak Lepas dan Pengaruhnya Terhadap Kawasan Konservasi Cagar Alam Gunung Mutis di Timor Tengah Selatan, Skripsi Jurusan Antropologi Fakultas Sastra, Universitas Udayana, Bali.
4. Keraf, 2010. Hubungan Kearifan Lokal Masyarakat Adat dengan Pelestarian Lingkungan Hidup. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.
5. MarettaW, Dida Hermandini, 2001., Konsepsi Mansian Muit Nasi Na Bua di Kawasan Gunung Mutis Timor Tengah Selatan, Skripsi Jurusan Antropologi Fakultas Sastra, Universitas Udayana, Bali.
6. Rohana Sufia, Sumarmi, Ach. Amirudin., Kearifan Lokal Dalam Melestarikan Lingkungan Hidup (Studi Kasus Masyarakat Adat Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi), Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Volume: 1 Nomor: 4 Bulan April Tahun 2016.
Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV Denpasar, 29 - 30 Maret 2019
221
350 Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV Denpasar, 29 - 30 Maret 2019