Jumhur ulama’ berpendapat bahwa ayat-ayat yang diturunkan berdasarkan sebab khusus tetapi diungkapkan dalam bentuk lafaẓ umum, maka yang dijadikan pegangan adalah lafaẓ umum, sebagai contoh turunnya Q.S. al-Maidah (5): 38;
ُةَق ِراَّسلا َو ُق ِراَّسلا َو اوُعَطْقاَف
ٌزي ِزَع ُ َّاللَّ َو ِ َّاللَّ َنِم ًلَاَكَن اَبَسَك اَمِب ًءا َزَج اَمُهَيِدْيَأ
ulama’ menekankan pentingnya riwayat asbāb al-Nuzūl dengan memberikan contoh tentang Q.S. al-Baqarah (2): 115;
ِ َّ ِللَّ َو ٌميِلَع ٌعِسا َو َ َّاللَّ َّنِإ ِ َّاللَّ ُهْج َو َّمَثَف اوُّل َوُت اَمَنْيَأَف ُب ِرْغَمْلا َو ُق ِرْشَمْلا
Artinya: Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.
Jika hanya berpegang kepada redaksi ayat, maka hukum yang dipahami dari ayat tersebut ialah tidak wajib menghadap kiblat pada waktu
shalat
, baik dalam keadaan musafir atau tidak. Pemahaman seperti ini jelas keliru karena bertentangan dengan dalil lain dan ijma’ para ulama’. Akan tetapi dengan memperhatikan asbāb al-Nuzūl ayat tersebut, maka dapat dipahami bahwa ayat itu bukan ditujukan kepada orang-orang yang berada pada kondisi biasa atau bebas, tetapi kepada orang-orang yang karena sebab tertentu tidak dapat menentukan arah kiblat.Kaidah kedua terasa lebih kontekstual, tetapi persoalannya adalah tidak semua ayat-ayat Al-Qur’an mempunyai asbāb al-Nuzūl. Ayat-ayat yang mempunyai asbāb al- Nuzūl jumlahnya sangat terbatas. Sebagian di antaranya tidak ṣaḥīḥ, ditambah lagi satu ayat kadang-kadang mempunyai dua atau lebih riwayat asbāb al-Nuzūl.120
F. Fungsi Asbāb al-Nuzūl
Asbāb al-Nuzūl mempunyai arti penting dalam menafsirkan Al-Qur’an. Seseorang tidak akan mencapai pengertian yang baik jika tidak memahami riwayat asbāb al- Nuzūl suatu ayat. Al-Wāḥidi (W.468H/1075M), seorang ulama’
klasik dalam bidang ini mengemukakan; “Pengetahuan tentang tafsir dan ayat-ayat tidak mungkin, jika tidak dilengkapi
120 M. Qurash Shihab, et. al, Sejarah..., 89-91.
dengan pengetahuan tentang peristiwa dan penjelasan yang berkaitan dengan turunnya suatu ayat”.121 Sementara Ibn Daqīq Al-‘Id menyatakan bahwa penjelasan tentang asbāb al-Nuzūl merupakan salah satu jalan yang baik dalam rangka memahami Al-Qur’an. Pendapat senada diungkapkan oleh Ibn Taimiyah bahwa mengetahui asbāb al-Nuzūl akan menolong seseorang dalam upaya memamhami ayat, karena pengetahuan tentang sebab akan melahirkan pengetahuan tentang akibat.122
Pemahaman asbāb al-Nuzūl akan sangat membantu dalam memahami konteks turunnya ayat. Peluang terjadinya kekeliruan akan semakin besar jika mengabaikan riwayat asbāb al-Nuzūl. Muhammad Chirzin dalam bukunya: Al-Qur’an dan
‘Ulum Al-Qur’an menjelaskan, dengan ilmu asbāb al-Nuzūl.
Pertama, seseorang dapat mengetahui hikmah di balik syari’at yang diturunkan melalui sebab tertentu. Kedua, seseorang dapat mengetahui pelaku atau orang yang terlibat dalam peristiwa yang mendahului turunnya suatu ayat. Ketiga, seseoraang dapat menentukan
apakah
ayat mengandung pesan khsusus atau umum dan dalam keadaan bagaimana ayat itu mesti deterapkan. Keempat, seseorang dapat menyimpulkan bahwa Allah selalu memberi perhatian penuh pada Rasulullah dan selalu bersama para hamba-Nya.123Studi tentang asbāb al-Nuzūl akan selalu menemukan relevansinya sepanjang perjalanan peradaban manusia, mengingat asbāb al-Nuzūl menjadi tolok ukur dalam upaya kontekstualisasi teks-teks Al-Qur’an pada setiap ruang dan waktu serta psiko-sosio-historis yang menyertai derap langkah kehidupan manusia.124 Dalam kaitannya dengan kajian ilmu shari’ah dapat ditegaskan bahwa pengetahuan tentang asbāb al- Nuzūl berfungsi antara lain;
121 Al-Wāḥidi, Asbāb al-Nuzūl (Kairo: T.On, 1968), 4.
122 Al-Ṣābuni, Al-Tibyān..., 25.
123 Muhammad Chirzin, Al-Qur’an..., 35.
124 Ibid.
1. Mengetahui hikmah dan rahasia diundangkannya suatu hukum dan perhatian shara’ terhadap kepentingan umum, tanpa membedakan etnik, jenis kelamin dan agama. Jika dianalisa secara cermat, proses penetapan hukum berlangsung secara humanis, seperti pelarangan minuman keras, misalnya ayat-ayat Al-Qur’an turun dalam empat kali tahapan yaitu; Q.S. al-Nahl (16): 67, Q.S.al-Baqarah (2): 219, Q.S. Al-Nisa’ (4):43, dan Q.S. al-Maidah (5): 90-91.
2. Mengetahui asbāb al-Nuzūl membantu memberikan kejelasan terhadap beberapa ayat. Misalnya Urwah Ibn Zubair mengalami kesulitan dalam memahami hukum farḍu Sa’i antara Ṣafā dan Marwah, Q.S. al-Baqarah (2):158. Urwah ibn Zubair kesulitan memahami “tidak ada dosa” di dalam ayat ini. Ia lalu menanyakan kepada ‘Aishah perihal ayat tersebut, lalu ‘Aishah menjelaskan bahwa peniadaan dosa di situ bukan peniadaan hukum fardhu. Peniadaan di situ dimaksudkan sebagai penolakan terhadap keyakinan yang telah mengakar di hati muslimin ketika itu, bahwa melakukan Sa’i antara Ṣafa dan Marwah termasuk perbuatan jahiliyah. Keyakinan ini didasarkan atas pandangan bahwa pada masa pra Islam di bukit Ṣafa terdapat sebuah patung yang disebut Isaf dan di bukit Marwah ada sebuah patung yang disebut Na’ilah. Jika melakukan Sa’i dianatara dua bukit itu orang-orang jahiliyah sebelumnya mengusap kedua patung tersebut.
Ketika Islam datang, patung-patung tersebut dihancurkan, dan sebagian umat Islam enggan melakukan Sa’i di tempat itu, maka turunlah ayat ini.
3. Pengetahuan asbāb al-Nuzūl dapat mengkhususkan (takhsish) hukum terbatas pada sebab, terutama ulama’ yang menganut kaidah (khusīs al-sabab) “sebab khusus”. Sebagai contoh turunnya ayat-ayat ẓihār pada permulaan Surah al- Mujādalah, yaitu dalam kasus Aus Ibn Al-Ṣamit yang menẓihār istrinya, Khaulah binti Ḥakam Ibn Tha’labah.
Hukum yang terkandung di dalam ayat-ayat ini khusus bagi keduanya dan tidak berlaku bagi orang lain.
4. Asbāb al-Nuzūl dapat membantu memahami apakah suatu ayat berlaku umum atau berlaku khusus, selanjutnya dalam hal apa ayat itu diterapkan.125
5. Pengetahuan tentang asbāb al-Nuzūl akan mempermudah orang menghafal ayat-ayat Al-Qur’an serta memperkuat keberadaan wahyu dalam ingatan orang yang mendengarnya jika mengetahui sebab turunnya. Sebab, pertalian antara sebab dan musabab (akibat), hukum dan peristiwanya, peristiwa dan pelaku, masa dan tempatnya, semua ini merupakan faktor-faktor yang menyebabkan mantapnya dan terlukisnya dalam ingatan.126
RANGKUMAN
1. Secara etimologi asbāb al-Nuzūl terdiri dari dua kata asbāb (bentuk plural dari kata sabab), yang mempunyai arti latar belakang, alasan atau sebab atau ’illat, sedang kata al-Nuzūl berasal dari kata nazala yang berarti turun. Adapun secara terminologi, asbāb al-Nuzūl adalah kejadian yang melatar belakangi suatu ayat atau beberapa ayat Al-Qur’an turun.
2. Ayat-ayat Al-Qur’an turun dengan dua cara. Pertama, ayat-ayat yang diturunkan oleh Allah tanpa suatu sebab atau peristiwa tertentu yang melatarbelakangi. Kedua, ayat-ayat yang diturunkan karena dilatarbelakangi oleh peristiwa tertentu.
3. Cara mengetahui riwayat asbāb al-nuzūl adalah melalui periwayatan (pentransmisian) yang benar (naql al-Ṣaḥiḥ) dari orang-orang yang menyaksikan dan mendengar langsung turunnya ayat Al-Qur’an, serta tidak mungkin dapat diketahui dengan jalur ra’yi atau pikiran manusia.
125 M. Quraish Shihab, Sejarah...,79-80.
126 Ahmad Syazali dan Ahmad Rofi’i, ‘Ulum Al-Qur’an...,132.