ILMU JAM’
4. Pemeliharaan dan Pengumpulan Al-Qur’an Periode Khalifat Uthman bin Affan
Pada masa pemerintahan khalifah Uthman wilayah Islam semakin luas dan para qurra’pun tersebar di berbagai wilayah.
Para qurra’ mengajarkan bacaan Al-Qur’an dengan bacaan (qira’ah) yang berbeda-beda sesuai dengan yang mereka terima dari para gurunya. Pada suatu waktu, para pemeluk Islam dari berbagai wilayah bertemu dalam perang Armenia dan Azerbaijan dengan penduduk Irak, di antara orang yang menyerbu kedua tempat itu adalah Hudhayfah bin al-Yaman.
Dalam pertemuan itu mereka mengetahui adanya perbedaan bacaan Al-Qur’an. Sebagian mereka merasa heran akan adanya perbedaan bacaan itu, dan sebagian mengklaim bacaannya yang paling benar51 tetapi sebagian lainnya ada yang merasa puas karena mengetahui bahwa perbedaan-perbedaan itu disandarkan kepada Rasulullah saw. Kondisi seperti itu tidak dapat dibiarkan karena hal itu akan menimbulkan keraguan bagi generasi yang tidak bertemu langsung dengan Rasulullah saw. Jenderal Khudhayfah yang mengetahui hal itu mengajukan usul kepada khalifah Uthman r.a. agar segera mengusahakan keseragaman bacaan Al-Qur’an dengan jalan menyeragamkan penulisan Al-Qur’an.52
Usul Khudhayfah tersebut dapat diterima oleh khalifah Uthman, kemudian dibentuklah panitia yang terdiri dari empat orang, yaitu; Zayd bin Thabit, Sa’id bin Ash, Abdullah bin Zubair dan Abd ar-Rahman bin Harith bin Hisham. Panitia itu diketuai oleh Zayd bin Thabit dengan tugas menyalin muṣḥaf Al- Qur’an yang disimpan Hafsah. Ketiga orang anggota panitia itu –selain Zayd- adalah suku Quraish. Kepada tim itu khalifah Uthman berpesan bahwa jika terjadi perselisihan tentang tulisan Al-Qur’an antara Zayd dengan ketiga orang Quraish itu hendaknya ditulis dengan lughat Quraish karena Al-Qur’an diturunkan dalam lughat mereka;
51 Penduduk Himsah fanatik dengan qirā’ah mereka yang berasal-dari al-Miqdad.
Penduduk Damaskus, Kufah juga demikian. Yang mendasarkan qirā’ah-mereka pada Abdullah bin Mas’ud. Penduduk Başrah memegangi qirā’ah Abu Musa al- Ash’ariy, yang popular dengan nama muṣḥaf lubāb al-Qulūb.
52 Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an, 130.
اَمَّنِإَف ٍشْي َرُق ِناَسِلِب ُه ْوُبُتْكاَف ِنآ ْرُقْلا َنِم ٍئْيَش يِف ٍتِباَث ُنْبا ُدْي َز َو ْمُتْنَأ ْمُتْفَلَتْخااَذِإ ْمِهِناَسِلِب َل ِزُن
Taufik Adnan Amal mempertanyakan riwayat tersebut, yakni penegasan penyalinan Al-Qur’an dengan dialek Quraish.
Hal itu didasarkan pada Al-Qur’an sendiri yang menegaskan bahwa ia diwahyukan dalam “lisan Arab yang jelas”. Selain itu, ia menegaskan bahwa berdasarkan penelitian terakhir tentang bahasa Al-Qur’an diketahui bahwa ia lebih identik dengan bahasa yang digunakan dalam syair-syair pra-Islam. Bahasa ini merupakan Hochsprache atau lingua franca, lazimnya disebut
‘arabiyyah yang dipahami oleh seluruh suku di jazirah Arab, dalam arti bukan dialek suatu suku atau suku-suku tertentu.53
Berkaitan dengan hal di atas, ia mengungkapkan suatu riwayat tentang perselisihan diantara tim Zayd dalam penulisan suatu kata pada Q.S. Al-Baqarah (2):248. Zayd berpendapat bahwa kata tersebut mesti ditulis tābūhun (
هوبات
), sementara anggota komisi lain beranggapan mesti ditulis tābūt (توبات
(, maka Uthman r.a. menjelaskan bahwa bentuk tulisan terakhir, yakni dengan ت, adalah dialek Quraish asli. Menurut Taufik, pandangan tersebut kurang tepat karena kata tābūt bukanlah kata Arab asli, tetapi berasal dari bahasa Abisinia (Habshi).54Terlepas dari perdebatan di atas, selanjutnya khalifah Uthman r.a. memohon kepada sahabat Hafsah binti Umar agar berkenan menyerahkan muṣḥaf yang telah dihimpun oleh Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. itu untuk diserahkan kepadanya agar bisa dijadikan pedoman dalam penulisan Al-Qur’an. Hasil dari kerja tim Zayd diperbanyak dan dikirimkan ke beberapa daerah atau kota agar dijadikan standar dalam pembacaan Al-Qur’an.
Tim panitia itu membuat beberapa muṣḥaf. Riwayat tentang jumlah muṣḥaf yang berhasil diselesaikan oleh tim
53 Ibid., 142-146.
54 Ibid.
panitia sangat beragam. Ada yang mengatakan empat, dengan keterangan bahwa tiga dikirim ke Kufah, Baṣrah, dan Damaskus, sedang satunya disimpan di Madinah. Al-Suy ṭī mengatakan ada lima, yaitu empat kota yang telah disebut di atas dan ditambah kota Makkah. Menurut al-Zarqānī sebanyak enam (6) muṣḥaf, yakni lima yang telah disebutkan dan ditambah muṣḥaf induk/al-Imam). Berbeda dengan ketiga pendapat di atas, Abu Hatim al-Sijistani mengemukakan pendapatnya bahwa muṣḥaf yang berhasil diselesaikan adalah 7 eksemplar dengan menambah dua (2) kota, yaitu Yaman dan Bahrain ke dalam jajaran lima kota penerima salinan muṣḥaf.55
Setelah penyebaran muṣḥaf Uthmani ke berbagai wilayah, maka khalifah Uthman memerintahkan untuk memusnahkan berbagai muṣḥaf atau fragmen Al-Qur’an lainnya. Berdasarkan berbagai riwayat yang ada, Schwally berpendapat bahwa pemusnahan terhadap muṣḥaf non-Uthmani dan Fragmen Al- Qur’an itu hanya terbatas pada kota-kota yang telah disebutkan di atas, bahkan terbatas pada daerah Irak dan Siria. Selain itu pelaksanaan terhadap perintah khalifah yang diamanahkan kepada para penguasa hanya sebatas pada pemilikan umum, tidak termasuk pemilikan pribadi.
Pemusnahan muṣḥaf dan fragmen non-Uthmani, menurut sebagian riwayat di atas, dilakukan dengan merobeknya (
قرخ
).Namun mayoritas muslim menginformasikan bahwa pemusnahan dilakukan dengan cara membakarnya (
قرح
). Dari penjelasan singkat tentang sejarah pengumpulan Al-Qur’an di atas dapat diketahui bahwa ada perbedaan latarbelakang pengumpulan Al-Qur’an pada masa khalifah Abu Bakar al- Shiddiq r.a. dengan Uthman bin Affan r.a. Latar belakang pengumpulan Al-Qur’an pada masa Abu Bakar r.a. adalah kekhawatiran akan hilangnya Al-Qur’an dikarenakan banyaknya para huffaẓ yang gugur dalam medan peperangan55 Subḥī, Mabāḥith fi ‘Ulūm Al-Qur’ān (Beirut: Dar al-Ilmi li al-Malayin,1972), 84.
melawan orang-orang murtad dan orang-orang yang ingkar membayar zakat, yang biasa dikenal dengan perang Yamamah.
Pengumpulan Al-Qur’an pada masa ini adalah memindahkan Al-Qur’an dan menuliskannya dari catatan- catatan para sahabat di pelepah kurma, kulit-kulit binatang dan batu-batu tipis ke dalam satu mushaf dengan tertib ayat yang diajarkan oleh Rasul saw. (tawqīfī). Sedang pengumpulan pada masa khalifah Uthman r.a. dilatarbelakangi adanya fenomena perbedaan bacaan Al-Qur’an yang dapat mengakibatkan perpecahan umat Islam. Kegiatan pengumpulannya berupa usaha menyalin muṣḥaf Abu Bakar menjadi beberapa naskah sebagaimana yang telah dijelaskan.
RANGKUMAN
1. Ada dua cara yang dilakukan oleh para sahabat dalam upaya pemeliharan Al-Qur’an dari kemusnahan, yaitu: 1.
menyimpannya ke dalam dada (menghafalnya); 2. merekamnya secara tertulis di berbagai jenis bahan untuk menulis.
2. Sahabat-sahabat Nabi yang berperan dalam pemeliharaan Al- Qur’an melalui hafalan terdiri atas sahabat laki-laki dan sahabat perempuan, demikian juga yang melalui tulisan.
3. Tidak ada keraguan atas otentisitas dan validitas Al-Qur’an, karena Al-Qur’an dijaga melalui dua cara sekaligus, yaitu;
penulisan dan hafalan yang terus menerus.
LATIHAN
1. Jelaskan perbedaan pemeliharaan Al-Qur’an yang dilakukan pada masa Abu Bakar al-Siddiq dan Usman bin Affan dari berbagai segi!
2. Bagaimana pendapat saudara tentang adanya perbedaan bacaan tentang ayat Al-Qur’an?
DAFTAR BACAAN
Amal, Taufik Adnan. Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an. Yogyakarta:
FkBA. 2001.
Qaṭṭān (al-), Mannā’ Khalil. Mabāḥith fi ‘Ulūm Al-Qur’an. t.tp.:
Mansh rāt al- Aṣr al-Hadīth. 1973.
Ṣāliḥ (al-), Subḥī. Mabāḥith fi ‘Ulūm Al-Qur’an. Beirut: Dār al- Ilmi li al-Malāyin. 1972.
PENDAHULUAN
Qira>’at merupakan salah satu cabang ilmu dalam ‘Ulu>m al- Qur’a>n. Ilmu ini tidak banyak dikaji kecuali oleh kalangan tertentu, yakni di kalangan akademik. Hal ini terjadi dikarenakan antara lain karena ilmu Qira>’at ini tidak mempelajari masalah-masalah yang berkaitan secara langsung dengan kehidupan manusia seperti masalah halal-haram atau hukum-hukum tertentu dalam kehidupan manusia.
Sungguhpun tidak banyak peminatnya, ilmu ini termasuk ilmu yang sangat berjasa dalam menggali, menjaga dan mengajarkan berbagai “cara membaca” al-Qur’a>n yang benar sesuai dengan yang telah diajarkan Rasulullah Saw. Para ahli Qira>’at telah mencurahkan segala kemampuannya demi mengembangkan ilmu ini. Ketelitian dan kehati-hatian mereka telah menjadikan al-Qur’a>n terjaga dari adanya kemungkinan penyelewengan dan masuknya unsur-unsur asing yang dapat merusak kemurnian al-Qur’a>n.
Dalam bab ini akan dipaparkan tentang apa itu Qira>’at, bagaimana sejarah perkembangan ilmu Qira>’at, siapa saja tokoh-
4
QIRA < ’AT AL-QUR’A < N
tokoh yang ahli di bidang Qira>’at, bagaimana macam-macam Qira>’at, siapa saja yang dikenal sebagai imam dalam Qira>’at, bagaimana cara menentukan Qira>’at yang dipandang sah, apa manfaat adanya Qira>’at yang berbeda-beda dan apa faidah mempelajari ilmu Qira>’at ini.
Adapun tujuan pembelajaran dari bab ini adalah 1. Mahasiwa mampu menjelaskan pengertian ilmu Qira’at dan sejarah perkembangannya; 2. Mahasiswa mampu mengidentifikasi segi-segi perbedaan dalam Qira’at dan tokoh-tokoh Ahlinya; 3. Mahasiswa mampu mengklasifikasikan macam-macam Qira’at dan syarat sahnya; 4. Mahasiswa mampu menyebutkan manfaat adanya perbedaan Qira’at dalam kajian ilmu Al-Qur’an.
URAIAN MATERI
A. Pengertian Qira’at dan Perbedaannya dengan Riwayat dan