PENDAHULUAN
Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril selama kurang lebih 22 tahun 2 bulan 22 hari. Malaikat Jibril memasukkan wahyu ke dalam hati Nabi. Dalam hal ini, Nabi tidak melihat sesuatu apapun, hanya merasa bahwa wahyu itu sudah berada di dalam kalbunya. Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Kehadirannya adalah sebagai petunjuk bagi manusia dan merupakan prinsip-prinsip dasar untuk semua masalah kehidupan. Al-Qur’an juga berfungsi sebagai panduan hidup di dunia dan akhirat.
Pada bab ini akan diuraikan secara lebih rinci, apa itu pengertian wahyu Al-Qur’an, bagaimana wahyu Al-Qur’an itu turun, berapa lama wahyu Al-Qur’an itu turun, serta apa hikmah dibalik wahyu Al-Qur’an itu turun kepada nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur.
Tujuan pembelajaran dari bab ini adalah 1. Mahasiswa memahamai pengertian wahyu Al-Qur’an, proses pewahyuan Al- Qur’an, tahap-tahap pewahyuan Al-Qur’an, priodesasi pewahyuan
2
Al-Qur’an, dan hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur- angsur 2. Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian wahyu Al- Qur’an, proses pewahyuan Al-Qur’an, tahap-tahap pewahyuan Al- Qur’an, periodesasi pewahyuan Al-Qur’an, dan hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur.
URAIAN MATERI
A. Hakikat Wahyu Al-Qur’an 1. Pengertian Wahyu
Menurut M. Yasir ‘wahyu’ adalah mashdar dari kata kerja; waha-yahii-wahyan, yang berarti: memberi isyarat, mengirim utusan, berbisik-bisik, berbicara pada tempat tersembunyi, yang tidak diketahui orang lain, mencampakkan ilham ke dalam hati, menuliskan, menyembelih dengan cepat atau buru-buru.19 Sementara itu menurut Muhammad Fuad 'Abd al-Baqi, di dalam Al- Mu'jam al-Mufahras li Alfaz al-Qur'an al-Karim dijelaskan bahwa kata ‘al-Wahyu’ (wahyu) adalah kata masdar (infinitif). Dia menunjuk pada dua pengertian dasar, yaitu, tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu, dikatakan, “Wahyu ialah informasi secara tersembunyi dan cepat yang khusus ditujukan kepada orang tertentu tanpa diketahui orang lain.
Namun, terkadang juga bermaksud al-muḥā, yaitu pengertian isim maf’ul, maknanya yang diwahyukan, dalam Al-Qur’an wahyu diulang sebanyak 78 kali, yaitu dalam bentuk kata benda (isim) sebanyak 6 kali, dan dalam bentuk kaya kerja (fi’il) sebanyak 72 kali.20
Menurut Manna Khalil al-Qaṭṭān secara bahasa kata Wahyu memiliki beberapa maknaya itu;21
19 M. Yasir, dan Ade Jamaluddin, Studi Al-Qur’an (Riau: Asa Riau, 2016). 12.
20 Muhammad Fuad 'Abd al-Baqi, Al-Mu'jam al-Mufahras li Alfaz al-Qur'an al-Karim (Beirut: Dar al-Fikr, 1981). 468-469
21 Manna Khalil al-Qaṭṭān, Mabāḥith Fī ‘Ulūm al-Qur’ān, Vol. I (t.tp: Maktabah al- Ma’ārif li al-Nashr Wa a-Tawzī’, 2000), 32.
a. Ilham yang berarti bawaan dasar manusia/ potensi dasar manusia, sebagaimana pernyataan “wahyu terhadap ibu Nabi Musa”. Kata wahyu tersebut bermakna ilham, sebagaimana terdapat dalam Q.S. al-Qassas (28), ayat 7;
Artinya : Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa;
"Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya. Kami akan mengembalikan- nya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul”.
b. Ilham yang berarti naluri pada binatang/instink, seperti pernyataan “wahyu kepada lebah”. Sebagaimana dalam Q.S. al-Nahl 16):68;
Artinya : “Dan Tuhanmu mewahyukan/ meng- ilhamkan kepada lebah: "Buatlah sarang- sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia".
c. Isyarat yang cepat melalui rumus dan kode, seperti isyarat Zakaria yang tercantum dalam Q.S. Maryam (19):11.
Artinya : “Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang”.
d. Bisikan dan tipu daya setan untuk menjadikan yang buruk kelihatan indah dalam diri manusia, sebagaimana dalam Q.S. al-An’am (6):121;
Artinya : “Dan janganlah kamu memakan binatang-
binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”.
e. Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikat-Nya berupa suatu perintah untuk dikerjakan, sebagaimana dalam Q.S.al-Anfal (8):12;
Artinya : “(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman". kelak akan aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka”.
Sebagaimana telah diuraikan pembahasnnya di atas, bahwa makna sentral wahyu adalah pemberian informasi secara rahasia. Hal itu berarti bahwa wahyu adalah sebuah hubungan komunikasi antara dua pihak yang mengandung pemberian informasi secara cepat dan rahasia. Wahyu secara istilah dapat bermakna komunikasi pesan Ilahi (kalam Allah) kepada para Nabi termasuk Muhammad saw., ia kadang berupa perintah, atau berupa doktrin yang disampaikan secara cepat dan rahasia baik secara langsung ataupun melalui perantara.
Muhammad Abduh memberikan definisi wahyu sebagai “pengetahuan yang didapat seseorang dari dalam
dirinya dengan disertai keyakinan bahwa pengetahuan tersebut datang dari Allah, baik melalui perantara ataupun tidak”.22Sementara itu al-Zarqani menjelaskan bahwa Allah SWT. mengajarkan kepada hamba-Nya yang terpilih segala macam hidayah dan ilmu yang Dia (Allah) kehendaki untuk memperlihatkan kepada hamba-Nya dengan jalan rahasia dan samar.
2. Tujuan Wahyu Diturunkan
Wahyu Al-Qur’an diturunkan dengan tujuan antara lain;
a. Untuk memberi peringatan dan kabar gembira, sebagaimana penjelasan dalam Q.S. Yunus (20): 2;
Artinya : Bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka: "Berilah peringatan kepada manusia dan gembira- kanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka".
b. Untuk memberi peringatan sebagaimana penjelasan dalam Q.S. Sad (38): 70;
Artinya : “Tidak diwahyukan kepadaku, melainkan bahwa sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata".
juga penjelasan dalam Q.S. al-An’am (6): 19;
Artinya : “Dan Al Qur'an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang- orang yang sampai Al Qur'an (kepadanya).
22 Muhammad Abduh, Risalah Tauhid (Jakarta: Bulan Bintang, 1963). 140-141.
3. Cara Wahyu Allah Turun
Cara turunnya wahyu Allah kepada para Nabi diinformasikan dalam Q.S. Al- Shura (42): 51-53;
Artinya : “Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.
Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana”.Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (al-Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”.
Ayat tersebut memberikan informasi bahwa Allah SWT. tidak mungkin berbicara (menyampaikan wahyu) secara langsung, dalam arti berhadapan, kepada manusia kecuali melalui 3 model, yaitu:
a. Wahyu dalam arti ilham atau inspirasi, atau impian yang benar, sebagaimana penjelasan Q.S. al-Zumar (39): 101-112.
b. Kalam Ilahi dari balik tabir tanpa melalui perantara, seperti yang telah dialami oleh Nabi Musa A.S.
sebagaimana penjelasan Q.S.al-Nisa’ (4): 164, Q.S. al- A’raf (7): 143-144, Q.S. al-Qaṣaṣ (28): 30, dan Q.S. al- Baqarah (2): 253.
c. Melalui perantara utusan spiritual yang dikenal dengan Jibril atau Ruḥ al-Qudus, sebagaimana penjelasan Q.S. al-Shura (42): 52, Q.S. al-Baqarah (2):
97-98, Q.S. al-Taḥrim (66): 4, Q.S.al-Naḥl (2): 102, Q.S.
al-Shu’ara’ (26): 192-194; turunnya Al-Qur’an seluruhnya melalui cara yang ketiga ini, sebagaimana tercermin dalam Q.S. al-Shu’ara’ (26): 192-193;
Artinya : Dan sesungguhnya Al-Qur'an ini benar- benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril). Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.
B. Pewahyuan Al-Qur’an (Nuzūl al-Qur’ān) 1. Pengertian Nuzūl al-Qur’ān
Kalimat Nuzūl al-Qur’ān terdiri dari dua kata, yaitu Nuzūl dan al-Qur’ān. Kata nuzūl (berbentuk masdar) fi’il madinya berupa nazala yang berarti
ٍلْفُس ىَلِا ٍوْلُع ْنِم ُط ْوُبُهْلَا
meluncur dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah).
Disamping itu, nuzul juga berarti singgah atau tiba di tempat tertentu. Dengan demikian, kata nuzul mempunyai arti lebih dari satu (kalimat mushtarak). Ahmad al-Sayyid al-Kumi dan Muhammad Ahmad Yusuf al Qasim dalam kitab yang mereka tulis bersama-sama- sebagaimana yang dikutib oleh Kamaluddin Marzuki menginventarisasi lima macam makna dari kata nuzul, yaitu; dua diantaranya yang telah disebut di atas, sedang yang ketiga lainnya adalah tertib/teratur, pertemuan, dan yang terakhir adalah turun secara berangsur-angsur dan terkadang sekaligus.23
23 Kamaluddin Marzuki, ‘Ulum Al-Qur’an (Bandung, Remaja Rosda Karya, 1994). 24.
Nuzūl al-Qur’ān menurut shekh Abd al-Wahab Abd al- Majid Ghazlan di dalam karyanya al-Bayan fi Mabahith ‘Ulum Al-Qur’an mengandung pengertian kiasan (majazi), bahwa yang turun itu bukan berbentuk fisik tetapi lafal Al-Qur’an, maka nuzul di sini berarti al-iṣāl (penyampaian) dan al- i’lām (penginformasian).24 Berdasarkan uraian ini, maka makna ‘nuzul al-Qur'an’ adalah penyampaian atau penetapan turunnya al-Qur'an. Yaitu proses penyampaian al-Qur'an, baik ke lawḥ al-maḥfūẓ, ke Bayt al-Izzah maupun kepada Rasulullah SAW.
2. Sumber Pewahyuan Al-Qur’an
Sumber pewahyuan Al-Qur’an adalah Allah SWT, sebagaimana penjelasan Q.S. al-Nisa’ (4): 163, Q.S.al-Najm (53): 4, Q.S. al-An’am (6): 50, 145; Q.S. al-A’raf (7): 203, Q.S.Yunus (10): 109, Q.S. al-Ahzab (33): 2, Q.S. al-Ahqaf (46):
9, Q.S.al-Zukhruf (43): 43.
Sumber Al-Qur’an sebagaimana dijelaskan oleh kitab- kitab suci sebelumnya (Taurat, Injil, Zabur) adalah dari Allah SWT. sebagaimana penjelasan Q.S. al-Burūj (85): 22, Q.S.Wāqi’ah (56): 78, Ia terpancar dari lawḥ al-maḥfūẓ yang hanya dapat disentuh oleh hamba-hamba Allah yang disucikan25. Lauh ini juga disebut sebagai Kitab maknun (tersembunyi)26 atau umm al-Kitab (Induk segala Kitab)27. Jadi, Al-Qur’an adalah benar-benar bacaan yang sempurna dan sangat mulia, ia termaktub dalam kitab yang terpelihara, sehingga ia tidak akan hilang atau mengalami pergantian dan perubahan.
24 Ibid., 24.
25 Al-Qur’an, 56: 79.
26 Al-Qur’an, 56: 78.
27 Al-Qur’an, 3: 7.
3. Proses Pewahyuan al-Qur'an
Pewahyuan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW.
tidak sekaligus, tetapi secara berangsur-angsur sebagaimana Q.S. al-Furqan (25): 32;
Artinya : Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).
Q.S. al-Isra’ (17): 106;
Artinya : Dan al-Qur'an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.
Dari penjelasan tersebut diatas, dapat ditegaskan bahwa pewahyuan Al-Qur’an diturunkan dalam 3 fase;
a. Tahap Pertama diturunkan di lawḥ al-maḥfūẓ sebagaimana dijelaskan oleh Q.S.al-Buruj (85): 21-22;
Artinya : Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur'an yang mulia. Yang (tersimpan) dalam lawḥ al-maḥfūẓ.
b. Tahap Kedua dari lawḥ al-maḥfūẓ ke Bayt al-Izzah di langit dunia sebagaimana penjelasan H.R.Hakim dari Ibn Jubair dari Ibn Abas RA.;
ُن آ ْرُقلا َل ِصُف َلَعَجَف اَيْنُدلا ِءآَمَّسلا ْنِم ِة َّزِعلا ِتْيَب ىِف َع ِض ُوَف ِرْكِ ذْلَا ْنِم
َمَّلَس َو ِهْيَلَع ُالله ىَّلَص ِيِبَّنلا ىَلَع ِهِب ُل ِ زَنُي ُلْي ِرْب ِج
Artinya: “Al-Qur’an itu telah diambil dari “al- Zikr” (Al-Qur’an yang berada di lawḥ al-maḥfūẓ / induknya) kemudian ditempatkan di Bait al-Izzah
yang berada di langit dunia, lantas Jibril A.S.
senantiasa membawa turun secara bertahap kepada Nabi Muhammad saw.
H.R.al-Nasa’i dari Ibn Abbas RA.;
ًةَلْمُج ُن آ ْرُقلا َل ِزْنُأ َد ِحا َو
َدْعَب َل ِزْنُأ مُث ِر ْدَقلا َةَلْيَل اَيْنُدلا ِءآَمَّسلا ىَلِإ ًة
ًةَنَس َنْي ِرْشِع ىِف َكِلاَذ
Artinya:“Al-Qur’an diturunkan ke langit dunia secara keseluruhan sekaligus pada malam lailah al-Qadr, kemudian setelah itu ia turun secara berangsur selama 20 tahun.
c. Tahap Ketiga dari Bayt al-Izzah di langit dunia langsung kepada Nabi Muhammad SAW, baik melalui perantaraan malaikat Jibril, ataupun secara langsung ke dalam hati sanubari, maupun dari balik tabir sebagaimana penjelasan Q.S.al-Shu’ara (26)’: 193-194;
Artinya : ”Dia dibawa turun oleh Al-Ruḥ al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan”
Proses pewahyuan telah dijelaskan oleh Q.S. al-Shura (42): 51; dan H.R. Bukhari;