• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akibat hukum kepailitan

Dalam dokumen TESIS ADI PUTRA 23 sep 2022 NEW (Halaman 60-75)

b. Panitera menyampaikan permohonan pernyataan pailit kepada ketua pengadilan paling lambat 2 (dua) hari setelah tanggal permohonan didaftarkan. Dalam jangka waktu 3 (tiga) hari setelah permohonan didaftarkan, pengadilan menetapkan hari sidang.

c. Pengadilan mempelajari permohonan dan menetapkan hari sidang.

Sidang pemeriksaan atas permohonan pernyataan pailit diselenggarakan dalam jangka waktu paling lama 20 (dua puluh) hari setelah tanggal permohonan didaftarkan. (Pasal 6)

d. Pengadilan wajib memanggil debitur jika permohonan pailit diajukan oleh kreditur, Kejaksaan, Bank Indonesia, Badan Pengawas Pasar Modal/ Otoritas Jasa Keuangan, atau Menteri Keuangan. (Pasal 8)

e. Pengadilan dapat memanggil kreditur jika pernyataan pailit diajukan oleh debitur dan terdapat keraguan bahwa persyaratan pailit telah dipenuhi. (Pasal8)

f. Pemanggilan tersebut dilakukan oleh juru sita dengan surat kilat tercatat paling lama 7 (tujuh) hari sebelum persidangan pertama diselenggarakan. (Pasal 8 ayat 2)

g. Putusan pengadilan atas permohonan pailit harus dikabulkan apabila terdapat fakta terbukti bahwa persyaratan pailit telah terpenuhi dan putusan tersebut harus diucapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah didaftarkan. (Pasal 8)

h. Putusan atas permohonan pailit tersebut harus memuat secara lengkap pertimbangan hukum yang mendasari putusan tersebut berikut pendapat dari majelis hakim dan dapat dilaksanakan terlebih dahulu, sekalipun terhadap putusan tersebut ada upaya hukum. (Pasal 8 ayat 7)

Ketentuan Pasal 21 UUK-PKPU menyatakan bahwa yang pailit adalah seluruh kekayaan debitor, bukan pribadinya. Karena itu menurut Pasal 24 UUK-PKPU dengan dinyatakannya pailit debitor demi hukum kehilangan haknya untuk berbuat bebas terhadap kekayaannya yang termasuk dalam kepailitan, begitu pula haknya untuk mengurus, sejak tanggal putusan pailit diucapkan.

Perspektif UU Kepailitan dan PKPU, peristiwa kepailitan tidak dikaitkan dengan perilaku maupun pribadi baik atau buruk dari debitor, akan tetapi semata-mata hanya pada kemampuan manajerial (ability to manage) debitor dalam mengurus dan mengelola harta maupun usahanya setelah dirinya dinyatakan pailit.72

Pasal 23 UU Kepailitan dan PKPU disebutkan bahwa debitor pailit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 22 meliputi istri atau suami debitor pailit yang menikah dalam persatuan harta.

(1) Perkawinan Persatuan Harta

UU Kepailitan dan PKPU mengatur secara khusus akibat kepailitan terhadap debitor perorangan yang terikat dalam suatu perkawinan dengan persatuan harta perkawinan, maupun perkawinan dengan perjanjian kawin.73 Pasal 64 UUK-PKPU menyebutkan bahwa kepailitan suami atau istri yang kawin dalam suatu persatuan harta, diberlakukan sebagai kepailitan persatuan harta tersebut. Dengan demikian, kepailitan suami adalah kepailitan bagi istri

72 Ginting Elyta Ras. Hukum Kepailitan- Teori Kepailitan. (Jakarta: Sinar Grafika, 2018) hlm 141

73 Ginting Elyta Ras, loc. cit

juga dan vice versa jika debitor terikat perkawinan dengan persatuan harta bersama.

(2) Perkawinan Perjanjian Kawin

Ketentuan Pasal 23 jo Pasal 63 ayat (1) UUK-PKPU hanya berlaku bagi suami dan istri yang terikat perkawinan yang sah dalam persatuan harta.

Jika dalam perkawinan tersebut terdapat perjanjian kawin pisah harta, maka kepailitan debitor tidak mempengaruhi status hukum pasangan maritalnya.74 Ketentuan Pasal 62 ayat (1) UUK-PKPU menyebutkan apabila suami atau istri dinyatakan pailit, istri atau suaminya berhak mengambil kembali semua benda bergerak dan tidak bergerak yang merupakan harta bawaan dari istri atau suami dan harta yang diperoleh sebagai hadiah atau warisan.

b) Terhadap Debitor Persekutuan Perdata (1) Persekutuan

M Yahya Harahap menegaskan bahwa persekutuan (maatschap, partnership) sebagai bentuk kerja sama di bidang perdata, bukan badan hukum (rechtpersoon, legal person) yang tidak secara tegas dinyatakan oleh undang-undang, namun dapat disimpulkan dari struktur dan bentuk kerja sama antar sekutu.75 Pendapat yang sama dikemukakan oleh Jono menyatakan bahwa Firma maupun CV merupakan suatu persekutuan yang tidak berbadan hukum, dalam arti Firma maupun CV bukanlah suatu subjek hukum.76 Apabila persekutuan dinyatakan pailit sehubungan dengan utang persekutuan

74 Ibid., hlm 143

75 Harahap M. Yahya. Hukum Perseroan Terbatas. (Jakarta: Sinar Grafika, 2009) hlm 3-4 76 Jono. Hukum Pailit. (Jakarta: Sinar Grafika, 2010) hlm. 31

maka seluruh sekutu bertanggungjawab membayar utang persekutuan dan persekutuan dinyatakan bubar sesuai dengan ketentuan Pasal 1646 KUH Perdata.

(2) Perkumpulan

Status hukum perkumpulan ada diatur dalam Pasal 8 dari Staatsblaad 1870 No. 64 tentang Persoonlijkheid van Verenigingen yang menyebutkan bahwa perkumpulan-perkumpulan yang tidak didirikan sebagai badan hukum menurut peraturan umum atau tidak diakui menurut peraturan ini , dengan demikian tidak dapat melakukan tindakan-tindakan perdata. Selain itu, hakikat perkumpulan juga diatur dalam KUH Perdata dalam Pasal 1653 sampai pada Pasal 1665 KUH Perdata.77 Ketentuan yang diatur dalam Pasal 1665 KUH Perdata mewajibkan seluruh anggota perkumpulan untuk melunasi seluruh utang perkumpulan dengan memanggil kreditor yang diketahui, selanjutnya utang perkumpulan dibayar dari hasil penjualan harta perkumpulan.

(3) Firma dan Komanditer (CV)

M. Yahya Harahap mendefinisikan Firma sebagai suatu perusahaan yang diusahakan bersama oleh para anggota perseroannya, dimana tiap persero berwenang untuk berbuat dan bertindak keluar atas nama Firma dan bertanggungjawab secara renteng atas perbuatan persero lainnya.78 Adapun Pasal 19 KUH Dagang merumuskan Komanditer (commanditair venootschap) sebagai persekutuan yang diadakan antara sekutu yang

77 Ginting Elyta Ras. Op. Cit., hlm 149 78 Harahap M. Yahya. Op. Cit., hlm 9

menjalankan komanditer secara aktif dengan sekutu lainnya yang memberi modal kepada komanditer. Sekutu yang menjalankan komanditer bertanggungjawab secara pribadi kepada sekutu pemberi modal.

Jika suatu firma hendak mengajukan pailit atas dirinya sendiri (voluntary bankruptcy petition), maka yang bertindak di pengadilan niaga adalah seluruh persero atau pengurusnya untuk kepentingan seluruh persero yang terikat secara tanggung renteng atas seluruh utang Firma. Apabila sekutu aktif dari suatu komanditer hendak mengajukan kepailitan atas nama komanditer, sekutu aktif dapat bertindak sendiri di pengadilan niaga dengan izin tertulis dari sekutu pasif.79

c) Terhadap Kreditor

Pasal 1 angka (2) UUK-PKPU mendefinisikan kreditor adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau Undang-undang yang dapat ditagih di muka pengadilan. Seluruh kreditor dari debitor pailit, menanggung resiko akibat dari kepailitan debitor, karena kepailitan debitor tidak hanya berakibat pada satu kreditor yang piutangnya telah jatuh tempo dan dapat ditagih (due and payable), akan tetapi berlaku juga bagi kreditor yang piutangnya belum jatuh tempo.

Keadaan pailit mewajibkan kreditor untuk mendaftarkan tagihannya kepada kurator untuk dicocokkan agar dapat dibayar dari harta pailit.

Kewajiban untuk mendaftarkan piutang untuk dicocokkan diberlakukan kepada seluruh kreditor tanpa terkecuali, karena ini adalah perintah dari UU Kepailitan dan PKPU yang secara tegas diatur dalam Pasal 25 dan Pasal 27.

Kreditor pemegang hak jaminan juga wajib mendaftarkan piutangnya kepada

79 Ginting Elyta Ras. Op.cit., hlm 152

kurator, meskipun Pasal 55 ayat (1) UU Kepailitan dan PKPU mengecualikan kreditor separatis berada diluar kepailitan debitornya.80

d) Terhadap Badan Hukum

Perseroan Terbatas sebagai suatu persekutuan modal berstatus badan hukum (rechtperson, legal entity) untuk melakukan kegiatan usaha, secara tegas diatur dalam Pasal 1 ayat (1) UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang berbunyi:81

“Perseroan terbatas yang selanjutnya disebut Perseroan, adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, yang didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini serta peraturan pelaksananya”

Status perseroan sebagai badan hukum (legal entity) mulai berlaku terhitung sejak surat Keputusan Menteri yang mengesahkan akta pendirian perseroan terbatas tersebut diterbitkan. (Pasal 7 ayat (4) UUPT). Kelahiran perseroan sebagai badan hukum wajib didaftarkan daftar perseroan dan diumumkan dalam Tambahan Berita Negara Republik Indonesia dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal diterbitkannya keputusan pengesahan status badan hukum perseroan. (Pasal 29 dan Pasal 30 UUPT).

Sebagai subjek hukum bukan orang atau artificial person, perseroan mempunyai harta kekayaan yang terpisah dengan harta kekayaan pendirinya,

80 Ibid., hlm 172-173 81 Ibid., hlm 211

pengurus dan para pemegang saham. Perseroan selaku subjek hukum dapat melakukan perbuatan hukum berdasarkan organ theory, yaitu dilaksanakan oleh perorangan yang disebut sebagai organ perseroan yang terdiri dari direksi, komisaris, dan rapat umum pemegang saham (RUPS).82

(1) Akibat Kepailitan terhadap Harta dan Perikatan Perseroan

Pernyataan pailit atas debitor perorangan juga berlaku secara mutatis mutandis bagi badan hukum perseroan. Namun demikian, ada beberapa akibat kepailitan debitor perorangan yang tidak dapat diterapkan dalam kepailitan perseroan secara mutatis mutandis, terutama yang berkaitan dengan jalannya pengurusan perseroan lainnya seperti RUPS dan kewenangan Komisaris.

Adapun akibat kepailitan terhadap harta dan perikatan perseroan adalah sebagai berikut:83

(a) Seluruh harta perseroan yang ada atau yang akan ada dikemudian hari berada dalam sita umum dan menjadi harta pailit.

(b) Segala tuntutan hukum maupun pelaksanaan hak atas perseroan dibekukan untuk waktu tertentu paling lama 90 (sembilan puluh) hari atau hingga harta pailit perseroan pailit telah berstatus insolven.

(c) Perseroan yang telah dinyatakan pailit tidak kehilangan status badan hukumnya hingga pemberesan selesai dilaksanakan dan kepailitan berakhir dengan mengikatnya Daftar Pembagian Penutup.

(d) Jika harta pailit telah berstatus insolven, maka perseroan pailit menjadi bubar demi hukum.

(e) Jika suatu induk perusahaan (holding company) dinyatakan pailit, maka saham-saham yang dimiliki induk perusahaan pada anak perusahaan (subsidiary) merupakan harta pailit dan berada

82 Pasal 1 ayat (2) jo. Ayat (4), (5), dan (6) UU Perseroan Terbatas.

83 Ginting Elyta Ras. Hukum Kepailitan-seri 1. (Jakarta: Sinar Grafika, 2018) hlm 250

dibawah sita umum untuk keperluan pembayaran utang dari holding company yang telah dinyatakan pailit.

(f) Pernyataan pailit atas perseroan tidak menempatkan direksi berada di bawah pengampuan kurator. Direksi masih berkewajiban untuk mengurus perseroan berdasarkan fiduciary duty dan duty of care sepanjang tidak menyangkut pengurusan dan pemberesan harta perseroan pailit.’

(g) Setelah perseroan dinyatakan pailit, komisaris dan RUPS tetap dapat melaksanakan hak dan kewenangannya atas jalannya pengurusan perseroan pailit yang pelaksanaannya di koordinasikan dengan kurator jika menyangkut pada pengurusan dan pemberesan harta perseroan pailit.

(h) Semua perikatan yang dilakukan oleh perseroan yang terbit setelah tanggal putusan pailit dijatuhkan tidak dapat direalisasikan pembayarannya dari harta pailit. Jika perseroan masih membuat utang padahal telah dinyatakan pailit, maka utang yang timbul menjadi tanggung jawab pribadi direksi perseroan

(i) Segala tuntutan hak atas harta perseroan harus diajukan atau didaftarkan kepada kurator untuk diverifikasi dalam rapat pencocokan piutang.

(j) Gugatan perdata yang diajukan oleh perseroan yang sedang berjalan pemeriksaannya di pengadilan harus ditangguhkan dan hanya dapat diteruskan oleh kurator atau perkara dapat digugurkan atas permintaan pihak lawan.

(k) Gugatan yang diajukan terhadap perseroan yang sedang berjalan pemeriksaannya yang berisi tuntutan atas harta perseroan menjadi gugur demi hukum terhitung sejak tanggal putusan pailit dijatuhkan.

(l) Segala perikatan atau pembayaran yang telah dilakukan oleh perseroan yang telah merugikan hart pailit dapat diajukan pembatalannya oleh kurator melalui gugatan actio pauliana ke pengadilan niaga.

(m)Segala sita dan eksekusi atas harta perseroan pailit yang telah diletakkan sebelum perseroan dinyatakan pailit tidak dapat dilaksanakan penyitaan menjadi hapus.

(n) Pelaksanaan perjanjian pengalihan hak atau pembebanan atas harta perseroan yang dibuat sebelum dinyatakan pailit tidak dapat dilaksanakan.

(o) Segala perjanjian timbal balik yang dilakukan oleh perseroan sebelum dinyatakan pailit yang belum dilaksanakan dinyatakan berakhir demi hukum dan hanya dapat diteruskan oleh kurator atas izin dari hakim pengawas jika perikatan timbal balik tersebut menguntungkan perseroan.

(p) Perjanjian sewa menyewa dapat dihentikan atau diakhiri dengan pemberitahuan dalam jangka waktu 90 (sembilan puluh) hari.

(q) Perseroan dapat melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap para karyawan dan buruh yang bekerja di perusahaan tersebut dengan suatu pemberitahuan terlebih dahulu paling singkat 45 (empat puluh lima) hari.

(r) Upah buruh atau karyawan perseroan yang terutang sebelum atau sejak putusan pailit menjadi utang harta pailit.

(s) Pengurusan perseroan (direksi maupun komisaris) dapat dikenakan tindakan gijzeling manakala syarat-syarat untuk dikenakan penahanan atas dirinya terpenuhi. Misalnya pengurus tidak hadir ketika diperintahkan menghadap dalam rapat kreditor oleh hakim pengawas atau direksi dan komisaris tidak kooperatif memberi informasi yang dibutuhkan oleh kurator untuk melaksanakan tugas pengurusan dan pemberesan harta perseroan pailit.

(t) Selama kepailitan berlangsung direksi dan komisaris perseroan dilarang meninggalkan domisili kediamannya tanpa izin dari hakim pengawas.

(2) Terhadap Organ Perseroan Terbatas

(a) Kewenangan mengurus perseroan pailit

Kepailitan terhadap perseroan terbatas adalah kepailitan atas segala harta perseroan yang ada dan yang akan ada di kemudian hari dan bukan kepailitan organ perseroan in person (direksi, komisaris dan RUPS). Peristiwa kepailitan tidak serta merta menghilangkan status badan hukum perseroan sebagai subjek hukum mandiri, tetapi hanya menempatkan pengurus perseroan

pailit berada dibawah pengampuan kurator yang secara khusus mengurus harta perseroan yang berada dibawah sita umum sejak putusan pailit diucapkan. Dengan demikian, peristiwa kepailitan perseroan bersifat khusus karena tidak serta merta menempatkan organ perseroan, seperti direksi perseroan selaku pengurus perseroan menjadi seorang kuratele yang tidak lagi cakap untuk mengurus daytoday business perseroan.84

(b) Batas kewenangan kurator

Berbeda dengan kepailitan perorangan, kewenangan kurator dalam kepailitan perseroan tidak bersifat mutlak, namun harus disingkronisasikan dengan anggaran dasar perseroan. Misalnya jika terbukti kepailitan perseroan dikarenakan perbuatan salah urus dari dewan direksi atau salah satu direksi, maka kurator tidak berwenang memberhentikan atau mengganti direksi terebut melainkan RUPS tetap berwenang penuh untuk memberhentikan direksi dan mengangkat direksi yang baru. Oleh karena itu, kurator disatu sisi memiliki kewenangan mutlak untuk bertindak sehubungan dengan tugas pengurusan dan pemberesan harta perseroan pailit. Namun dalam beberapa hal tertentu, kurator hanya dapat melaksanakan kewenangan mengurus harta pailit perseroan bersama-sama dengan organ perseroan.85

(3) Terhadap Status Badan Hukum Perseroan

84 Ibid., hlm 253 85 Ibid., hlm 257

Kepailitan yang terjadi atas orang perorangan tidak berakibat pada hilangnya status debitor pailit sebagai subjek hukum dan tidak mematikan hak-hak keperdataannya. Debitor pailit hanya kehilangan kewenangannya untuk mengurus dan mengelola harta bendanya.

Kepailitan atas perseroan sebagai badan hukum lebih bersifat kompleks, karena status kepailitan berimplikasi pada kewenangan organ perseroan, terutama kewenangan direksi sebagai pengurus da-to-day business perseroan. Status kepailitan juga berakibat hukum pada eksistensi atau keberadaan perseroan dan statusnya sebagai badan hukum. Berdasarkan Pasal 142 ayat (1) huruf d dan e UU Perseroan Terbatas ada dua kondisi yang mengakibatkan perseroan menjadi bubar yaitu:

(a) Harta perseroan yang telah dinyatakan pailit berada dalam keadaan insolven; atau

(b) Kepailitan perseroan telah dicabut oleh pengadilan niaga karena ternyata utang perseroan lebih besar daripada asetnya.

Bubarnya suatu perseroan tidak serta merta mengakibatkan berakhirnya status badan hukum dari perseroan tersebut. Hal ini secara tegas diatur dalam Pasal 143 ayat (1) UUPT yang menyatakan bahwa perseroan tidak kehilangan status hukumnya meskipun telah dibubarkan sampai dengan selesainya likuidasi dan pertanggungjawaban likuidator atau kurator diterima oleh RUPS atau pengadilan.

e) Terhadap Harta Pailit

Putusan pailit mengakibatkan harta kekayaan debitor sejak putusan itu dikeluarkan dimasukkan ke dalam harta pailit. Dengan kata lain, akibat putusan pailit dan sejak putusan itu, harta kekayaan debitor berubah statusnya menjadi harta pailit. Terhadap harta pailit itu berlaku sita umum dan debitur tidak berwenang untuk mengurus dan melakukan perbuatan hukum apa pun yang menyangkut hartanya itu.

Kepailitan sebagai sita umum meliputi semua kekayaan debitor yang dimilikinya pada saat dinyatakan pailit atau yang akan menjadi miliknya setelah dinyatakan pailit. Menurut Pasal 21 UUK-PKPU, kepailitan meliputi seluruh kekayaan debitor baik yang sudah ada pada saat pernyataan pailit diucapkan oleh Majelis Hakim Pengadilan Niaga serta segala sesuatu yang baru akan diperoleh oleh debitor selama berlangsungnya kepailitan.

Ketentuan Pasal 21 UUK-PKPU merupakan pelaksanaan dari ketentuan Pasal 1131 KUH Perdata. Menurut ketentuan Pasal 131 KUH Perdata, seluruh kekayaan debitor, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang masih akan ada di kemudian hari, menjadi tanggungan (agunan) bagi seluruh utang debitor.

Ketentuan Pasal 1131 KUH Perdata dan Pasal 21 UUK-PKPU bukan tanpa pengecualian. Artinya, ada di antara harta kekayaan debitor, baik yang telah ada maupun yang baru akan ada di kemudian hari, yang tidak dimasukkan ke dalam harta pailit. Menurut Pasal 184 ayat (3) UUK-PKPU, debitor pailit dapat diberikan sekedar perabot rumah dan perlengkapannya,

alat-alat medis yang digunakan untuk kesehatan, atau perabot kantor yang ditentukan oleh hakim pengawas.

Pengecualian yang lain adalah yang ditentukan dalam Pasal 22 UUK- PKPU, yaitu:

(a) Benda, termasuk hewan yang benar-benar dibutuhkan oleh debitor sehubungan dengan pekerjaannya, perlengkapannya, alat-alat medis yang digunakan untuk kesehatan, tempat tidur dan perlengkapannya, yang digunakan oleh debitor dan keluarganya, dan bahan makanan untuk 30 (tiga puluh) hari bagi debitor dan keluarganya, yang terdapat di tempat itu;

(b) Segala sesuatu yang diperoleh debitor dari pekerjaannya sendiri sebagai penggajian dari suatu jabatan atau jasa, sebagai upah, pensiun, uang tunggu atau uang tunjangan, sejauh yang ditentukan oleh hakim pengawas; atau

(c) Uang yang diberikan kepada debitor untuk memenuhi suatu kewajiban memberi nafkah menurut undang-undang.

Selain harta kekayaan debitor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 UUK-PKPU di atas, mengingat hak separatis yang dimiliki oleh kreditor pemegang hak jaminan, harta kekayaan debitor yang telah dibebani dengan suatu hak jaminan, yaitu hak tanggungan, hipotek, gadai, dan fidusia dikecualikan pula dari harta pailit.86

86 Sutan Reny Sjahdeini. Sejarah, Asas, dan Teori Hukum Kepailitan. (Jakarta: Kencana, 2018) hlm 285

BAB III

PENGATURAN PRINSIP COMMERCIAL EXIT FROM FINANCIAL DISTRESS DALAM KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS Perseroan Terbatas sebagai suatu persekutuan modal berstatus badan hukum (rechtperson, legal entity) untuk melakukan kegiatan usaha, secara tegas diatur dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Untuk mendapatkan pengertian yang menyeluruh mengenai perseroan sebagai suatu persekutuan modal, maka ketentuan pada Pasal 1 ayat (1) tersebut harus disambungkan dengan pasal-pasal lainnya dalam UU Perseroan Terbatas, terutama Pasal 2, Pasal 3, Pasal 5, Pasal 6-7, Pasal 13, Pasal 15-18, Pasal 31, Pasal 75, Pasal 92, dan Pasal 108.87

Suatu Perseroan Terbatas (PT) dalam perjalanan berdirinya memerlukan bantuan pinjaman dana dari pihak luar, baik untuk pengembangan usaha maupun untuk menutupi biaya operasional dalam hal tingkat profit Perseroan sedang rendah. Dengan peminjaman dana dari pihak lain tersebut, tak jarang Perseroan yang memiliki banyak utang yang tidak sebanding dengan income tidak mampu untuk membayar utang-utangnya dan dipailitkan.

Sebagai subjek hukum bukan orang atau artificial person, perseroan mempunyai harta kekayaan yang terpisah dengan harta kekayaan pendirinya, pengurusnya, dan pemegang saham. Layaknya orang perorangan yang wajib memiliki domisili, perseroan juga wajib memiliki domisili hukum atau kedudukan hukum sekaligus kantor perseroan sesuai dengan ketentuan Pasal 2 jo Pasal 17 dan Pasal 18 UU Perseroan Terbatas.

87 Elyta Ras Ginting. Teori Hukum Kepailitan. Jakarta: Sinar Grafika. 2018, hlm. 211

Perseroan selaku subjek hukum, dapat melakukan perbuatan hukum berdasarkan organ theory, yaitu dilaksanakan oleh orang perorangan yang disebut sebagai organ perseroan yang terdiri dari direksi, komisaris, dan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Organ perseroan memiliki kewenangan dan fungsi masing-masing yang terpisah satu sama lainnya sebagaimana diatur dalam anggaran dasar perseroan.

A. Perseroan Terbatas dan Hukum Kepailitan

Dampak dari kesulitan finansial yang dialami oleh debitor perorangan sangalah berbeda dengan kesulitan finansial yang dialami oleh perseroan.

Oleh karena itu, hukum kepailitan modern memperlakukan ketentuan dan prosedur pembayaran utang yang berbeda bagi badan hukum dengan perorangan, walaupun prinsip dan tujuannya tetap sama yaitu untuk membantu debitor keluar dari masalah finansial yang sedang dialami (commercial exit from financial distress). Kepailitan adalah solusi dari masalah penyelesaian utang debitor yang mengalami kebangkrutan dan bukan justru kepailitan digunakan sebagai pranata hukum untuk membangkrutkan suatu usaha.88

Hukum kepailitan Indonesia yang diatur dalam UU Kepailitan dan PKPU belum sepenuhnya dapat digolongkan sebagai hukum kepailitan modern, walaupun reformasi di bidang hukum kepailitan Indonesia dipicu oleh latar belakang yang sama dengan Amerika Serikat sebagai pelopor lahirnya hukum kepailitan modern pertama di dunia. Indonesia telah mereformasi hukum kepailitan sebagai akibat terjadinya krisis moneter yang melanda Indonesia

88 Hadi Subhan. Hukum Kepailitan. Jakarta: Kencana. 2019 hlm. 189

pada pertengahan tahun 1997-1998. Namun ternyata reformasi hukum kepailitan Indonesia tidak secara signifikan mereformasi substansi dari ketentuan Failisements Verordening yang berlaku sebelumnya.

Kemudahan persyaratan untuk mempailitkan debitor yang tidak membayar lunas 1 (satu) utangnya yang sudah jatuh waktu dan dapat ditagih dalam UU Kepailitan dan PKPU yang berlaku saat ini tidak terlepas dari kebijakan hukum pemerintah dalam menuntaskan kredit-kredit macet, terutama yang menyangkut kepentingan kreditor asing yang terjadi pada masa krisis moneter tahun 1997-1998. Warisan kuno dari ketentuan failisements verordening yang mengatur bahwa keadaan insolven semata-mata ditentukan oleh suara kreditor konkuren dan tidak ada kewajiban untuk melibatkan pendapat ahli untuk menilai solvabilitas harta pailit maupun untuk menentukan status usaha debitor masih memiliki prospek untuk dilanjutkan (going concern) sangat rentan terhadap konspirasi dan perbuatan curang para kreditor yang tidak beritikad baik. Keadaan insolven harus dapat ditentukan secara objektif dan independen, hal itu hanya dapat dilakukan berdasarkan financial audit atau financial due deligence yang dilakukan oleh suatu kantor akuntan publik yang independen.89

Praktik UU Kepailitan dan PKPU yang berlaku saat ini, terdapat banyak norma yang sebenarnya hanya dapat dilakukan terhadap kepailitan orang perorangan akan tetapi tidak dapat diberlakukan terhadap kepailitan perseroan terbatas, demikian pula sebaliknya banyak terdapat norma yang sebenarnya hanya dapat diberlakukan terhadap kepailitan perseroan terbatas akan tetapi

89 Sutan Reny Sjahdeini, hlm 52

Dalam dokumen TESIS ADI PUTRA 23 sep 2022 NEW (Halaman 60-75)