• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kronologi dan Duduk Perkara

Dalam dokumen TESIS ADI PUTRA 23 sep 2022 NEW (Halaman 112-124)

A. Kasus Posisi (Studi kasus Putusan Nomor 290/Pdt.Sus-

1. Kronologi dan Duduk Perkara

Pemohon PKPU adalah suatu badan hukum berbentuk perseroan terbatas. Suatu perseroan terbatas yang didirikan berdasarkan hukum Republik Indonesia, yang bernama PT. Duta Adhikarya Negeri. Pemohon PKPU merupakan suatu perseroan yang bergerak dalam bidang pengadaan barang dan jasa di bidang minyak dan gas bumi sesuai dengan Pasal 3 Akta Pendirian Perseroan Terbatas Anggaran Dasar PT. Duta Adhikarya Negeri No. 140 tanggal 20 Oktober 2003. Maksud dan tujuan usaha pemohon PKPU adalah untuk menjalankan usaha dalam bidang perdagangan besar mesin, peralatan, dan perlengkapan lainnya (KBLI 4659) terhadap alat teknik/mekanikal/elektrikal/mesin-mesin dan suku cadangnya, alat pertambangan dan minyak dan gas bumi serta melaksanakan aktivitas konsultasi manajemen bidang sumber daya manusia (KBLI 7020) sebagaimana tercantum dalam Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) Besar Nomor 317/24.1PB.7/31.74/-1.824.27/e/2018 yang dikeluarkan pada tanggal 19 Maret 2018.

Selama belasan tahun pemohon PKPU telah melaksanakan maksud dan tujuan serta kegiatan usaha perseroan dengan baik, namun merosotnya

harga minyak dunia sejak tahun 2015 telah membuat pemohon PKPU gagal memenuhi kewajibannya kepada para kreditornya. Meskipun harga minyak sempat membaik pada tahun 2019, mewabah nya pandemi Corona Virus Desease (COVID 19) di hampir seluruh negara di dunia tak terkecuali Indonesia sejak awal tahun 2020 kembali memberikan pukulan yang sangat serius terhadap pemohon PKPU yang menyebabkan penurunan drastis kemampuan ekonomi dari pemohon PKPU dan mengakibatkan pemohon gagal memenuhi kewajibannya kepada para kreditornya.

Pemohon sesungguhnya telah berupaya semaksimal mungkin untuk mempertahankan bisnisnya dan memenuhi seluruh kewajiban kepada para kreditornya. Namun, kondisi pandemi COVID 19 yang sampai saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir membuat usaha pemohon semakin lama tidak berjalan dengan lancar sehingga pemohon merasa tidak akan mampu memenuhi kewajiban pembayaran kepada para kreditornya yang kini telah jatuh waktu dan dapat ditagih. Tercatat sampai dengan tanggal 31 Desember 2019, pemohon telah mengalami kerugian sebesar Rp.

438.365.866.638,00 (empat ratus tiga puluh delapan miliar tiga ratus tiga enam puluh lima juta delapan ratus enam puluh enam dan enam ratus tiga puluh delapan rupiah) dibuktikan dengan laporan keuangan PT. Duta Adhikarya Negeri tertanggal 31 Desember 2019.

Sampai dengan permohonan diajukan, PT. Duta Adhikarya Negara mempunyai utang kepada para kreditornya, yaitu PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT. BRI Multifinance

Indonesia, PT Besmindotama Semesta. Selain kepada para kreditor yang telah disebutkan di atas, pemohon juga mempunyai utang kepada kreditor-kreditor lain yang sifatnya telah jatuh tempo dan dapat ditagih. Oleh karena pemohon merasa tidak mampu untuk membayar utang-utangnya kepada para kreditornya, pemohon tidak mempunyai cara lain selain mengajukan permohonan PKPU atas perseroan sendiri (volunteer).

Sampai dengan permohonan diajukan ke Pengadilan Niaga, PT. Duta Adhikarya Negara mempunyai utang kepada para kreditornya yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih dengan perincian sebagai berikut:

a. PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., dengan total utang sebesar Rp. 1.278.764.081.455,00 (satu triliun dua ratus tujuh puluh delapan miliar tujuh ratus enam puluh empat juta dan delapan puluh satu ribu empat ratus lima puluh lima rupiah).

b. PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk., dengan total utang sebesar Rp.812.472.820.336,00 (delapan ratus dua belas miliar empat ratus tujuh puluh dua juta delapan ratus dua puluh ribu tiga ratus tiga puluh enam rupiah).

c. PT. BRI Multifinance Indonesia, dengan total utang sebesar Rp.55.737.875.419,00 (lima puluh lima miliar tujuh ratus tiga puluh tujuh juta delapan ratus tujuh puluh lima empat ratus sembilan belas rupiah)

d. PT. Besmindotama Semesta, dengan total utang sebesar USD 1.436.40 (seribu empat ratus tiga puluh enam dan empat puluh sen dollar amerika serikat)

Pemohon sangat berkeyakinan bahwa perusahaan masih memiliki prospek yang cerah untuk menjalankan kembali kegiatan usahanya dengan lancar. Apabila pemohon diberikan kesempatan untuk menjadwalkan kembali (restrukturisasi) utang-utangnya, maka pemohon dapat menyelesaikan seluruh utang-utangnya dengan baik.

Pemohon PKPU masih beritikad baik untuk melunasi seluruh utang- utangnya apabila diberikan tenggang waktu untuk menyelesaikan kewajibannya sesuai dengan rencana perdamaian yang akan disampaikan oleh pemohon PKPU setelah adanya Putusan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

Hasil putusan dalam rapat Musyawarah Majelis Hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada hari Rabu 23 September 2020, Majelis hakim menolak Permohonan PKPU yang diajukan secara sukarela/volunter. Putusan tersebut diucapkan dalam persidangan terbuka untuk umum pada hari itu juga dan dihadiri oleh kuasa hukum pemohon PKPU.

2. Pertimbangan Hakim dalam Putusan Nomor 290/Pdt.sus- PKPU/2020/PN Niaga.Jkt.Pst.

Permohonan PKPU yang diajukan oleh perseroan sendiri (PT. Duta Adhikarya Negeri) mendalilkan bahwa ia memiliki utang yang telah jatuh

tempo dan dapat ditagih serta mempunyai kreditor lebih dari dua kreditor, dan kondisi COVID-19 belum menunjukkan akan berakhir, serta pemohon PKPU merasa tidak mampu untuk membayar utang-utangnya kepada para kreditornya dan tidak ada cara lain selain mengajukan permohonan PKPU atas perseroan sendiri (sukarela/volunter). Majelis Hakim menghimbau kepada para pihak untuk berdamai, namun para pihak memohon agar pemeriksaan perkara tetap dilanjutkan dengan membacakan Surat Permohonan Pernyataan PKPU yang isinya tetap dipertahankan oleh Pemohon.

Permohonan PKPU telah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

Permohonan PKPU telah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang yakni Pasal 222 ayat (1) dan ayat (2) yang berbunyi:

(1) Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang diajukan oleh debitor yang mempunyai lebih dari 1 (satu) kreditor atau oleh kreditor.

(2) Debitor yang tidak dapat atau memperkirakan tidak akan dapat melanjutkan membayar utang-utangnya yang sudah jatuh waktu dan dapat ditagih.

Pemohon telah membuktikan mempunyai lebih dari 1 (satu) kreditor yakni PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT. BRI Multifinance Indonesia dan PT. Besmindotama Semesta. Utang- utang kepada para kreditor tersebut telah jatuh tempo dan dapat ditagih.

Permohonan juga telah memenuhi Pasal 224 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang yang berbunyi:

(1) Permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 222 harus diajukan kepada Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, dengan ditandatangani oleh pemohon dan advokatnya

(2) Dalam hal pemohon adalah debitor, permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang harus disertai daftar yang memuat sifat, jumlah piutang, dan utang debitor berserta surat bukti secukupnya

Dalam permohonan yang diajukan oleh pemohon telah ditandatangani oleh pemohon dan advokat yang ditunjuk oleh pemohon serta telah menyertakan daftar utang beserta surat bukti.

Selain dari dipenuhinya ketentuan Pasal 224 ayat (1) tersebut di atas, karena permohonan diajukan secara volunter, maka syarat yang harus juga dipenuhi adalah pengajuan PKPU harus mendapat persetujuan dari para pemegang saham sebagaimana tertuang dalam Akta Pernyataan Keputusan para Pemegang Saham PT. Duta Adhikarya Negeri tertanggal 11 September 2020.

Permohonan PKPU telah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

Permohonan PKPU telah sesuai dengan Pasal 104 ayat (1) jo Pasal 91 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang berbunyi:

Pasal 104 ayat (1)

“Direksi tidak berwenang mengajukan permohonan pailit atas perseroan sendiri kepada Pengadilan Niaga sebelum memperoleh

persetujuan RUPS, dengan tidak mengurangi ketentuan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang”.

Pasal 91

“Pemegang saham dapat juga mengambil keputusan yang mengikat di luar RUPS dengan syarat semua pemegang saham dengan hak suara menyetujui secara tertulis dengan menandatangani usul yang bersangkutan”.

Berdasarkan fakta-fakta dan bukti-bukti yang telah diuraikan oleh pemohon dan telah memenuhi seluruh syarat-syarat pengajuan permohonan PKPU secara formal. Sesuai dengan Pasal 225 ayat (2) Undang-Undang Kepailitan dan PKPU, maka permohonan PKPU atas pemohon PKPU (PT.

Duta Adhikarya Negeri) harus dikabulkan oleh Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan mengangkat seorang Hakim Pengawas dari Hakim Pengadilan Negeri serta 1 (satu) atau lebih pengurus yang bersama dengan debitor mengurus harta debitor (pemohon). Dengan demikian maka PKPU sementara diberikan kepada pemohon selama 45 (empat puluh lima) hari kalender terhitung sejak tanggal Putusan Permohonan PKPU.

Selanjutnya Majelis Hakim akan mempertimbangkan apakah permohonan PKPU memenuhi syarat material sebagaimana ditentukan dalam Pasal 222 ayat (1) dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Adapun berdasarkan Pasal 1 angka 6 Undang-Undang Kepailitan dan PKPU yang dimaksud dengan utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang, baik mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun tidak langsung yang akan timbul di kemudian hari atau Kontinjen, yang timbul karena perjanjian atau undang-

undang dan wajib dipenuhi oleh debitor, bila tidak dipenuhi, memberi hak kepada kreditor untuk mendapatkan pemenuhannya dari harta kekayaan debitor.

Pemohon PKPU untuk membuktikan dalil-dalil permohonannya di persidangan telah mengajukan bukti surat berupa:

2. Akta Pendirian Perseroan Terbatas Anggaran Dasar PT. Duta Adhikarya Negeri No. 140 tanggal 20 Oktober 2003 yang dibuat Dradjat Darmadji, S.H., Notaris di Jakarta Pusat (Bukti P-1)

3. Keputusan Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. C-26009.HT.01.01.TH.2003 tentang pengesahan Akta Pendirian Perseroan Terbatas tanggal 31 Oktober 2003 (Bukti P-2)

4. Akta Risalah Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Duta Adhikarya Negeri No. 104 tanggal 31 Juli 2008 yang dibuat oleh dan di hadapan Achmad Bajumi, S.H. Notaris di Jakarta (Bukti P-3) 5. Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor: AHU-

70121.AH.01.02.Tahun 2008 tentang persetujuan Akta Perubahan Anggaran Dasar Perseroan tanggal 26 September 2008 (Bukti P-4) 6. Akta Risalah Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Perseroan

Terbatas PT Duta Adhikarya Negeri No. 83 tanggal 26 Maret 2018 yang dibuat oleh Setiawan, S.H., Notaris di Jakarta (Bukti P-5) 7. Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik

Indonesia No. AHU-AH.01.03-0138334 tentang Penerimaan

Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan PT Duta Adhikarya Negeri tanggal 9 April 2018 (Bukti P-6)

8. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) Besar Nomor:

317/24.1PB.7/31.74/-1.824.27/e/2018 yang dikeluarkan pada tanggal 19 Maret 2018 (Bukti P-7)

9. Laporan Keuangan PT Duta Adhikarya Negeri tertanggal 31 Desember 2019 (In House) untuk periode Januari-Desember 2019 (Bukti P-8)

10. Salinan Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham PT Duta Adhikarya Negeri No. 4 tanggal 11 September 2020 yang dibuat di hadapan Cicilia Julyani Tondy, S.H., S.E., M.Kn., M.H., Notaris di Kabupaten Tangerang (Bukti P-9)

11. Surat Persetujuan Kredit No. KPS/2.3/086/R tanggal 06 Juni 2011 (Bukti P-10);

12. Surat Persetujuan Perpanjangan, Review, dan Tambahan atas Fasilitas Kredit No. LMC1/3.2/041/R tanggal 14 Juni 2012 (Bukti P- 11);

13. Surat Persetujuan Perpanjangan, Review, dan Tambahan atas Fasilitas Kredit No. LMC1/3.2/091/R tanggal 26 Juli 2013 (Bukti P- 12);

14. Surat Persetujuan Perpanjangan atas Fasilitas Kredit No. LMC 1/3.2/107.R tanggal 4 September 2013 (Bukti P-13);

15. Surat Persetujuan Penambahan dan Review atas Fasilitas Kredit No.

LMC 1/3.2/028/R tanggal 26 Februari 2014 (Bukti P-14);

16. Surat Perubahan Syarat dan Ketentuan Fasilitas Kredit No.

LMC1/3.2/171/R tanggal 14 Oktober 2014 (Bukti P-15);

17. Surat Persetujuan Restrukturisasi, Reconditioning, dan Reschedulling Fasilitas Kredit No. RRC/2/0590/R tanggal 29 Desember 2015 (Bukti P- 16);

18. Surat Persetujuan Perpanjangan Kredit No. RRC/2/0371/R tanggal 27 Juli 2016 (Bukti P-17);

19. Surat Penawaran Pemberian Kredit No. CBC.JIS/SPPK/0867/2013 tanggal 06 Mei 2013 (Bukti P-18);

20. Surat Penawaran Restrukturisasi Fasilitas Kredit No.

CBC.JIS/SPPK/1798/2015 tanggal 16 September 2015 (Bukti P-19);

21. Surat Penawaran Restrukturisasi Fasilitas Kredit No.

DSB.R05/CBC.JIS/SPPK/1474/2016 tanggal 21 Juni 2016 (Bukti P- 20);

22. Perjanjian Induk Sewa Guna Usaha No. SH 14-021 tertanggal 22 April 2014 (Bukti P-21);

23. Perubahan Keempat Perjanjian Penjadwalan Kembali Hutang Sewa Pembiayaan No. 066/Resch-LGL/III/2020 tanggal 26 Maret 2020 (Bukti P- 22);

24. Perubahan Keempat Perjanjian Penjadwalan Kembali Hutang Sewa Pembiayaan No. 067/Resch-LGL/III/2020 tanggal 26 Maret 2020 (Bukti P-23);

25. Perubahan Keempat Perjanjian Penjadwalan Kembali Hutang Sewa Pembiayaan No. 068/Resch-LGL/III/2020 tanggal 26 Maret 2020 (Bukti P- 24);

26. Service Agreement (Perjanjian Borongan) No. SA-393/Ikhlas#03- BTS/VII/2012 tanggal 27 Juli 2012 (Bukti P-25);

27. Surat Bukti Perpanjangan dan Pendaftaran Kurator dan Pengurus No. AHU-250 AH.04.03-2017 tanggal 18 Desember 2017 a.n Sdri.

Sandra Nangoy, S.H., M.H (Bukti P-26);

28. Surat Bukti Perpanjangan dan Pendaftaran Kurator dan Pengurus No. AHU-293 AH.04.03-2018 tanggal 01 Oktober 2018 a.n Sdr.

Nasrul Sudarmono Nadeak, S.H. (Bukti P-27);

29. Surat Bukti Pendaftaran Kurator dan Pengurus No. AHU-117 AH.04.03- 2018 a.n Sdr. Yongki Martinus Siahaan, S.H., M.H.

(Bukti P-28)

30. Surat Bukti Pendaftaran Kurator dan Pengurus No. AHU-253- AH.04.03- 2019 tanggal 17 September 2019 a.n Sdr. Rahel Julian Sebastian Siahaan, S.H. (Bukti P-29);

31. Surat Pernyataan Kesediaan Sdri. Sandra Nangoy, S.H., M.H., untuk ditunjuk sebagai Pengurus PT Duta Adhikarya Negeri. (Bukti P-30);

32. Surat Pernyataan Kesediaan Sdr. Nasrul Sudarmono Nadeak, S.H., untuk ditunjuk sebagai Pengurus PT Duta Adhikarya Negeri. (Bukti P-31);

33. Surat Pernyataan Kesediaan Sdr. Yongki Martinus Siahaan, S.H., M.H. untuk ditunjuk sebagai Pengurus PT Duta Adhikarya Negeri.

(Bukti P-32);

34. Surat Pernyataan Kesediaan Sdr. Rahel Julian Sebastian Siahaan, S.H., untuk ditunjuk sebagai Pengurus PT Duta Adhikarya Negeri.

(Bukti P-33);

35. Surat Pernyataan Tidak Keberatan atas Nominasi Pengurus oleh Debitor tertanggal 14 September 2020, yang dikeluarkan PT Besmindotama Semesta (Bukti P-34);

Untuk menguatkan dalil-dalil tersebut, pemohon PKPU telah mengajukan bukti P-1 sampai dengan P-34, bukti-bukti tersebut telah diberi materai cukup dan telah dicocokkan dengan aslinya kecuali bukti P-8, P-10 sampai dengan P-25 yang tidak dapat diperlihatkan aslinya. Sehingga bukti- bukti tersebut tidak dapat dipertimbangkan oleh Majelis Hakim, dan juga pemohon PKPU tidak mengajukan bukti-bukti lain yang dapat menguatkan bukti foto copy tersebut.

Majelis Hakim menganggap pembuktian permohonan ini tidak sederhana, karena tidak adanya bukti-bukti yang dapat dipertimbangkan oleh Majelis Hakim untuk menentukan keberadaan utang-utang debitor / pemohon PKPU kepada kreditor yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih.

Sebagaimana ditentukan dalam Pasal 8 ayat (4) UU Kepailitan dan PKPU, maka permohonan PKPU harus ditolak dan bukti lain tidak perlu dipertimbangkan lagi.

B. Analisis Penerapan Prinsip Commercial Exit From Financial Distress berdasarkan Putusan Nomor 290/Pdt.Sus-PKPU/2020/PN.Niaga.JKT. PST

PT. Duta Adhikarya Negeri mengajukan Permohonan PKPU atas diri sendiri karena mengalami financial distress (kesulitan keuangan) akibat merosotnya harga minyak dunia sejak tahun 2015. Meskipun pada tahun 2019 harga minyak sempat membaik, mewabahnya pandemi COVID-19 di hampir seluruh negara tak terkecuali Indonesia kembali memberikan pukulan yang sangat serius terhadap usaha PT. Duta Adhikarya Negeri.

PT. Duta Adhikarya Negeri sebenarnya telah berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan bisnisnya dan memenuhi kewajibannya terhadap para kreditornya, namun kondisi pandemi yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir mengakibatkan kegiatan usaha perseroan semakin lama semakin tidak lancar. Untuk mengatasi kondisi yang demikian PT. Duta Adhikarya Negeri melalui keputusan RUPS sepakat untuk mengajukan Permohonan PKPU ke Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Permohonan PKPU diajukan oleh Wihyandy Nurdin selaku kapasitasnya sebagai Direktur perusahaan yang diwakilkan oleh Surya Simatupang, S.H., Elizabeth Taruli Lestari Lubis, S.H., M.Kn., James Erickson Tamba, S.H., M.H., para Advokat dari Kantor Hukum SIMS & Co Law Office melalui surat kuasa tertanggal 11 September 2020.

Permohonan PKPU diajukan oleh debitor (PT. Duta Adhikarya Negeri) dengan harapan dapat menawarkan restrukturisasi utang-utangnya terhadap para kreditornya karena debitor yakin usahanya masih memiliki prospek. Apabila tawaran restrukturisasi utang yang diajukan oleh debitor diterima oleh para kreditor maka penerapan prinsip commercial exit from financial distress berjalan sesuai dengan tujuan dari prinsip tersebut.

Pemohon telah mengajukan bukti surat (P1-P34) untuk membuktikan dalil-dalil permohonannya kepada Hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Jakarta Pusat. Bukti-bukti telah diberi materai cukup dan telah dicocokkan keasliannya kecuali bukti P8, P10 sampai dengan P25 karena pemohon tidak mampu menunjukkan aslinya melainkan hanya salinan. Berdasarkan ketentuan relevansi alat bukti yang diatur di dalam HIR bahwa dengan alat bukti yang diajukan, seseorang dapat membuktikan adanya satu peristiwa (Pasal 163). Dalam hal ini peristiwa yang dimaksud adalah adanya perjanjian kredit antara debitor dengan para kreditornya.

Dalam ketentuan lain surat dapat dikategorikan sebagal alat bukti riil.

Alat bukti riil adalah alat bukti yang mempunyai peranan langsung dalam membuktikan fakta yang dipersengketakan, seperti senjata, peluru, pakaian, kontrak, yang berhubungan dengan fakta yang akan dibuktikan.128 Untuk dapat diterima hakim sebagai alat bukti riil maka alat bukti yang diajukan haruslah otentik (benar-benar asli), jika berupa duplikasi maka alat bukti tersebut dikategorikan sebagai alat bukti demonstratif. Adapun alat bukti

128 Munir Fuady. Teori Hukum Pembuktian (Pidana dan Perdata). Bandung:PT. Citra Aditya Bakti, 2012. Hlm 187

demonstratif adalah alat bukti yang tidak secara langsung dapat membuktikan adanya fakta tertentu tetapi alat bukti ini dipergunakan untuk membuat fakta tersebut semakin jelas dan lebih dapat dimengerti.129 Dengan demikian walaupun bukti yang diajukan tidak otentik, sebaiknya Hakim tetap mempertimbangkan bukti yang diajukan oleh pemohon sepanjang tidak terjadi penyangkalan terhadap alat bukti tersebut maka bukti tersebut tetap relevan.

Namun pada kenyataanya, permohonan tersebut gugur akibat Majelis Hakim menolak permohonan PKPU dikarenakan debitor sendiri tidak mampu memberikan bukti otentik bahwa debitor memiliki 2 (dua) atau lebih kreditor sehingga tidak dapat dibuktikan sederhana. Penolakan atas permohonan PKPU yang diajukan debitor oleh Majelis Hakim memiliki arti penerapan prinsip commercial exit from financial distress tidak terlaksana sesuai dengan tujuan dari prinsip itu sendiri.

Setiap putusan hakim akan menimbulkan akibat hukum bagi pihak yang bersengketa. Penolakan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang yang diajukan oleh PT. Duta Adhikarya Negeri menimbulkan akibat hukum yakni tidak adanya PKPU sementara maupun PKPU tetap. Namun demikian debitor masih dapat mengajukan kembali permohonan PKPU maupun pailit ke Pengadilan Niaga, karena berdasarkan kasus yang dipilih oleh penulis penolakan permohonan PKPU hanya berakibat hukum gugurnya permohonan tanpa mengurangi hak dan kewajiban debitor perseroan sebagai subjek hukum.

129 Ibid.

Berdasarkan analisis penulis atas putusan tersebut dengan menggunakan teori penegakan hukum adalah sebagai berikut:

a. Kepastian hukum

Hukum bertugas untuk menciptakan kepastian hukum karena bertujuan untuk menciptakan ketertiban dalam masyarakat. Kepastian hukum merupakan ciri yang tidak dapat dipisahkan dari hukum terutama untuk norma hukum tertulis. Kepastian dapat dimaknai bahwa ada kejelasan dan ketegasan terhadap berlakunya hukum di dalam masyarakat tanpa menimbulkan banyaknya salah tafsir.

Putusan majelis hakim menolak permohonan PKPU dalam putusan yang dipilih oleh penulis sesuai dengan Pasal 8 ayat (4) dan Pasal 299 UU Kepailitan dan PKPU, yang menjelaskan bahwa apabila permohonan tidak dapat dibuktikan sederhana maka hakim pengadilan niaga wajib menolak pengajuan permohonan pailit maupun pengajuan permohonan PKPU.

b. Keadilan Hukum

Dalam putusan penolakan pengajuan permohonan PKPU oleh Majelis Hakim dapat juga dimaknai terlaksananya keadilan hukum sebagaimana penulis tidak menemukan pihak yang dirugikan oleh putusan tersebut.

c. Kemanfaatan hukum

Putusan tersebut memiliki manfaat bagi masyarakat luas, khususnya debitor sebagai pemohon PKPU. Adapun manfaat dari putusan

tersebut adalah dalam pengajuan permohonan PKPU ke Pengadilan Niaga, debitor atau pemohon harus benar-benar memperhatikan atau mempersiapkan bukti-bukti yang otentik sehingga dapat dijadikan oleh Hakim sebagai bahan pertimbangan untuk mengabulkan permohonan yang diajukan.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Istilah pailit atau kepailitan dirumuskan dalam Pasal 1 ayat (1) UU Kepailitan dan PKPU yaitu sita umum atas semua kekayaan debitor pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan hakim pengawas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.

Tujuan kepailitan Menurut Levintal dalam Sutan Reimy Syahdeni tujuan hukum kepailitan adalah:

a. Mengamankan dan membagi hasil penjualan harta milik debitor secara adil kepada semua kreditornya;

b. Mencegah agar debitor yang insolven tidak melakukan perbuatan- perbuatan yang dapat merugikan kepentingan para kreditor;

c. Memberikan perlindungan kepada debitor yang beritikad baik dari para kreditornya dengan cara memperoleh pembebasan utangnya.

Berdasarkan prinsip pari pasu tujuan dari kepailitan didesain untuk mengatur prosedur pembayaran utang debitor yang tidak mampu membayar utangnya yang dilakukan secara adil, berimbang, dan tertib serta menjamin bahwa para kreditor akan menerima pembagian yang berimbang dan layak dari aset debitor.

Namun demikian, ada beberapa akibat kepailitan debitor perorangan yang tidak dapat diterapkan dalam kepailitan perseroan secara mutatis mutandis, terutama yang berkaitan dengan jalannya pengurusan perseroan

lainnya seperti RUPS dan kewenangan Komisaris. Adapun akibat kepailitan terhadap harta dan perikatan perseroan yakni seluruh harta perseroan yang ada atau yang akan ada dikemudian hari berada dalam sita umum dan menjadi harta pailit. Jika suatu induk perusahaan (holding company) dinyatakan pailit, maka saham-saham yang dimiliki induk perusahaan pada anak perusahaan (subsidiary) merupakan harta pailit dan berada di bawah sita umum untuk keperluan pembayaran utang dari holding company yang telah dinyatakan pailit.

Direksi masih berkewajiban untuk mengurus perseroan berdasarkan fiduciary duty dan duty of care sepanjang tidak menyangkut pengurusan dan pemberesan harta perseroan pailit. Setelah perseroan dinyatakan pailit, komisaris dan RUPS tetap dapat melaksanakan hak dan kewenangannya atas jalannya pengurusan perseroan pailit yang pelaksanaannya di koordinasikan dengan kurator jika menyangkut pada pengurusan dan pemberesan harta perseroan pailit. Segala perjanjian timbal balik yang dilakukan oleh perseroan sebelum dinyatakan pailit yang belum dilaksanakan dinyatakan berakhir demi hukum dan hanya dapat diteruskan oleh kurator atas izin dari hakim pengawas jika perikatan timbal balik tersebut menguntungkan perseroan.

Prinsip commercial exit from financial distress dari kepailitan memberikan makna bahwa kepailitan adalah merupakan solusi dari masalah penyelesaian utang debitor yang sedang mengalami kebangkrutan dan bukan sebaliknya bahwa kepailitan justru digunakan sebagai pranata hukum untuk membangkrutkan suatu usaha. Kemudahan untuk mempailitkan suatu debitor

Dalam dokumen TESIS ADI PUTRA 23 sep 2022 NEW (Halaman 112-124)