Konsep diartikan sebagai kata yang menyatakan abstrak yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus, yang disebut dengan definisi operasional.23 Pentingnya definisi operasional adalah untuk menghindarkan perbedaan pengertian penafsiran mendua dari suatu istilah yang dipakai, selain itu juga untuk memberikan arah pada proses penelitian ini. Bagian landasan konsepsional ini akan menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan konsep yang digunakan oleh peneliti dalam penulisan ini. Kegunaan konsep dalam penelitian adalah untuk menghubungkan teori dan observasi, antara abstraksi dan realitas. Dalam penelitian ini terdapat beberapa variabel antara lain:
1. Kepailitan
23 Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Raja Grafindo Presada, 1986), hlm.
34
Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitor pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator dibawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam undang-undang ini (Pasal 1 angka (1) UUK-PKPU).
Istilah “kepailitan” merupakan kata benda yang berakar dari kata
“pailit”. Sementara itu, kata “pailit” berasal dari kata failit dalam bahasa Belanda. Dari istilah failit muncul istilah faillissement yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Kepailitan”.24
Adapun yang dapat dinyatakan pailit adalah seorang debitor (berutang) yang sudah dinyatakan tidak mampu membayar utang-utangnya lagi. Pailit dapat dinyatakan atas:25
a. Permohonan debitor sendiri.
b. Permohonan satu atau lebih kreditornya. (Menurut Pasal 8 sebelum diputuskan pengadilan wajib memanggil debitornya).
c. Pailit harus dengan putusan pengadilan (Pasal 2 ayat 1).
d. Pailit bisa atas permintaan kejaksaan untuk kepentingan umum (Pasal 2 ayat 2), pengadilan wajib memanggil debitor (Pasal 8).
e. Bila debitornya bank, permohonan pailit hanya dapat diajukan oleh Bank Indonesia.
f. Bila debitornya perusahaan efek, bursa efek, lembaga kliring dan penjaminan, lembaga penyimpanan dan penyelesaian, permohonan pailit hanya dapat diajukan oleh badan pengawas
24 Sutan Remy Sjahdeini, hlm 2
25 Abdul R Saliman. Hukum Bisnis Untuk Perusahaan ; Teori Dan ContohKasus. Jakarta:
Kencana, 2014, hlm 120
pasar modal (Bapepam).
g. Dalam hal debitornya perusahaan asuransi, perusahaan reasuransi, dana pensiun, atau Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang kepentingan publik, permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Menteri Keuangan.
Sumber-sumber hukum kepailitan di Indonesia ialah KUH Perdata khususnya Pasal 1131, Pasal 1132, Pasal 1133, dan Pasal 1134; UU No.37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (selanjutnya disingkat UUK-PKPU); dan UU No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, khususnya Pasal 104 dan Pasal 142.26
Pasal 1132 KUH Perdata menentukan
Segala harta kekayaan Debitor menjadi jaminan bersama-sama bagi semua Kreditor-nya; pendapatan penjualan segala harta kekayaan Debitor dibagi- bagi menurut keseimbangan, yaitu menurut besar kecilnya piutang Kreditor, kecuali apabila di antara para Kreditor ada alasan-alasan yang sah menurut hukum untuk didahulukan.
Dalam istilah perbankan, yang dimaksudkan dengan “menurut keseimbangan, yaitu menurut besar kecilnya piutang Kreditor” adalah dibagi secara pro rata (Inggris: in proportion) menurut perbandingan besarnya piutang masing-masing Kreditor. Pro rata adalah kata dalam bahasa Latin yang berarti secara proporsional. Dengan demikian, harta kekayaan debitor pailit apabila dilikuidasi dalam rangka tindakan-tindakan pemberesan oleh
26 Op. Cit , hm 10
Kurator, maka hasil penjualan harta kekayaan debitor itu akan dibagi kepada semua kreditor menurut perbandingan besar kecilnya piutang masing-masing kreditor. Untuk menghindari para kreditor berebutan saling mendahului untuk menguasai dan menjual harta kekayaan (aset) debitor sehingga timbul ketidakadilan mengenai keseimbangan pembagian harta kekayaan (aset) debitor, maka hukum membuat Undang-Undang Kepailitan.27
2. Perseroan Terbatas
Perseroan Terbatas adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini dan peraturan pelaksananya (Pasal 1 angka (1) UU PT).
Dari Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, dapat diketahui bahwa unsur-unsur suatu Perseroan adalah:28
a. Badan Hukum
PT memenuhi unsur-unsur badan hukum yaitu (i) memiliki harta kekayaan sendiri yang terpisah dari ketentuan anggota atau kekayaan pengurus; (ii) memiliki tujuan sendiri yang terpisah dari tujuan para
27 Ibid., hlm 5
28 H. Man S. Sastrawidjaja dan Rai Mantili, Perseroan Terbatas Menurut Tiga Undang- Undang, Cet.Ke-2, (Bandung: PT.Alumni, 2010), hal.14-17.
anggota atau pengurus; (iii) memiliki kepentingan sendiri; (iv) memiliki organisasi yang teratur (organ).
b. Persekutuan Modal
Persekutuan modal adalah persekutuan yang mengutamakan terkumoulny amodal sebanyak-banyaknya dengan cara menjual saham.
c. Didirikan berdasarkan perjanjian
PT didirikan berdasarkan perjanjian menunjukkan bahwa dasar hukum PT adalah Persekutuan Perdata (maatschap). Menurut Pasal 1618 Burgelijk Wetboek (BW) Persekutuan Perdata adalah suatu perjanjian antara dua orang atau lebih yang masing-masing memasukkan inbreng dengan tujuan untuk membagi keuntungan yang diperoleh.
d. Melakukan kegiatan usaha
PT menjalankan perusahaan yang berarti melakukan perbuatan hukum secara tetap, dengan pihak ketiga (terang-terangan), memiliki kualitas (dalam hal ini kualitas sebagai PT), dengan tujuan utama memiliki laba.
e. Modal atas dasar bagi saham
Modal suatu PT sebagai perseroan modal terdiri atas 3 macam yaitu modal dasar, modal yang ditempatkan dan modal yang disetorkan.
Adapun yang dibagi atas saham adalah modal dasar yaitu modal yang disebutkan dalam anggaran dasar.
3. Financial Distress
Financial distress yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai
“kesulitan keuangan” menurut Andrade dan Kaplan adalah situasi ketika perusahaan tidak dapat memenuhi kewajiban pembayaran kepada pihak ketiga.16Kesulitan keuangan suatu perusahaan bisa terjadi akibat berbagai macam tipe. Dalam teori keuangan perusahaan yang lazim dikenal pada manajemen keuangan membedakan kesulitan keuangan perusahaan menjadi:29
a. Economic Failure, yang berarti bahwa pendapatan perusahaan tidak dapat menutup biaya total, termasuk biaya modal. Usaha yang mengalami economic failure dapat meneruskan operasinya sepanjang kreditor berkeinginan untuk menyediakan tambahan modal dan pemilik dapat menerima tingkat pengembalian (return) di bawah tingkat bunga pasar.
b. Bussiness Failure. Istilah ini digunakan oleh Dun & Bradstreet yang merupakan penyusun utama failure statistic, untuk mendefinisikan usaha yang menghentikan operasinya dengan akibat kerugian bagi kreditor. Dengan demikian, suatu usaha dapat diklasifikasikan sebagai gagal meskipun tidak melalui kebangkrutan secara normal. Juga suatu usaha dapat menghentikan/ menutup usahanya tetapi tidak dianggap sebagai gagal.
c. Technical insolvency. Sebuah perusahaan dapat dinilai bangkrut apabila tidak memenuhi kewajibannya yang jatuh tempo.
Technical insolvency ini mungkin menunjukkan kekurangan likuiditas yang sifatnya sementara di mana pada suatu waktu perusahaan dapat mengumpulkan uang untuk memenuhi kewajibannya dan tetap hidup. Di lain pihak, apabila technical insolvency ini merupakan gejala awal economic failure, maka hal ini merupakan tanda ke arah bencana keuangan (financial disaster).
d. Insolvency in bankruptcy. Sebuah perusahaan dikatakan insolvency bankruptcy bilamana nilai buku dari total kewajiban melebihi nilai pasar dari aset perusahaan. Hal ini merupakan suatu keadaan yang lebih serius bila dibandingkan dengan technical insolvency, sebab pada umumnya hal ini merupakan pertanda dari economic failure yang mengarah ke likuidasi suatu usaha.
e. Legal bankruptcy. Kepailitan ini adalah putusan kepailitan yang dijatuhkan oleh pengadilan sesuai dengan undang-undang karena
29 M. Hadi Shubhan, Op.Cit.,hal. 54.
mengalami tahapan-tahapan kesulitan keuangan tersebut di atas.
4. Prinsip Commercial Exit From Financial Distress
Prinsip Commercial Exit From Financial Distress merupakan prinsip yang ditemukan dalam kepailitan perseroan terbatas. Secara teoritis, kepailitan perseroan terbatas harus dibedakan dengan kebangkrutan perseroan terbatas, pembubaran perseroan terbatas, dan likuidasi perseroan terbatas.
Prinsip commercial exit from financial distress merupakan prinsip yang ditemukan dalam kepailitan perseroan terbatas. Prinsip ini memberikan makna bahwa kepailitan adalah merupakan solusi dari masalah penyelesaian utang debitor yang sedang mengalami kebangkrutan dan bukan sebaliknya bahwa kepailitan justru digunakan sebagai pranata hukum untuk membangkrutkan suatu usaha. Kemudahan untuk mempailitkan suatu debitor sebenarnya tidak bertentangan dengan prinsip ini sepanjang kemudahan untuk mempailitkan adalah dalam konteks penyelesaian utang karena adanya kesulitan finansial dari usaha debitor.30
Prinsip ini sejalan dengan asas keseimbangan, asas kelangsungan usaha, asas keadilan, dan asas integrasi yang merupakan asas-asas yang menjadi dasar dari Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban dan Pembayaran Utang.31 Asas-asas tersebut memperlihatkan dimensi keadilan dari proses kepailitan yang melindungi kepentingan dari kedua belah pihak baik kreditor pailit maupun debitor pailit. Karena pada prinsipnya, terdapat banyak aspek-aspek hukum
30 M Hadi Shubhan. Op. Cit ., hlm 54 31 Ibid. Hlm 64
yang jua memperhatikan kepentingan-kepentingan debitor yang pada akhirnya untuk meminimalisasi kerugian terhadap kekayaan debitor. Hal ini dapat dibuktikan antara lain dalam ketentuan masa tunggu (stay), ketentuan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), ketentuan rehabilitasi dan lain sebagainya.
Hukum kepailitan bukan mengatur kepailitan debitor yang tidak membayar kewajibannya kepada salah satu kreditor saja tetapi debitor harus dalam keadaan insolven. Debitor dalam keadaan insolven yaitu apabila debitur tidak mampu secara finansial untuk membayar utang-utangnya kepada beberapa kreditornya. Oleh karena itu yang menjadi pertimbangan Pengadilan Niaga untuk menyatakan debitor pailit bukan sekedar karena ketidakmampuan debitor untuk melunasi utang-utangnya tetapi juga termasuk ketidakmauan debitor untuk melunasi uang-utang yang telah diperjanjikan.32