Dampak dari kesulitan finansial yang dialami oleh debitor perorangan sangalah berbeda dengan kesulitan finansial yang dialami oleh perseroan.
Oleh karena itu, hukum kepailitan modern memperlakukan ketentuan dan prosedur pembayaran utang yang berbeda bagi badan hukum dengan perorangan, walaupun prinsip dan tujuannya tetap sama yaitu untuk membantu debitor keluar dari masalah finansial yang sedang dialami (commercial exit from financial distress). Kepailitan adalah solusi dari masalah penyelesaian utang debitor yang mengalami kebangkrutan dan bukan justru kepailitan digunakan sebagai pranata hukum untuk membangkrutkan suatu usaha.88
Hukum kepailitan Indonesia yang diatur dalam UU Kepailitan dan PKPU belum sepenuhnya dapat digolongkan sebagai hukum kepailitan modern, walaupun reformasi di bidang hukum kepailitan Indonesia dipicu oleh latar belakang yang sama dengan Amerika Serikat sebagai pelopor lahirnya hukum kepailitan modern pertama di dunia. Indonesia telah mereformasi hukum kepailitan sebagai akibat terjadinya krisis moneter yang melanda Indonesia
88 Hadi Subhan. Hukum Kepailitan. Jakarta: Kencana. 2019 hlm. 189
pada pertengahan tahun 1997-1998. Namun ternyata reformasi hukum kepailitan Indonesia tidak secara signifikan mereformasi substansi dari ketentuan Failisements Verordening yang berlaku sebelumnya.
Kemudahan persyaratan untuk mempailitkan debitor yang tidak membayar lunas 1 (satu) utangnya yang sudah jatuh waktu dan dapat ditagih dalam UU Kepailitan dan PKPU yang berlaku saat ini tidak terlepas dari kebijakan hukum pemerintah dalam menuntaskan kredit-kredit macet, terutama yang menyangkut kepentingan kreditor asing yang terjadi pada masa krisis moneter tahun 1997-1998. Warisan kuno dari ketentuan failisements verordening yang mengatur bahwa keadaan insolven semata-mata ditentukan oleh suara kreditor konkuren dan tidak ada kewajiban untuk melibatkan pendapat ahli untuk menilai solvabilitas harta pailit maupun untuk menentukan status usaha debitor masih memiliki prospek untuk dilanjutkan (going concern) sangat rentan terhadap konspirasi dan perbuatan curang para kreditor yang tidak beritikad baik. Keadaan insolven harus dapat ditentukan secara objektif dan independen, hal itu hanya dapat dilakukan berdasarkan financial audit atau financial due deligence yang dilakukan oleh suatu kantor akuntan publik yang independen.89
Praktik UU Kepailitan dan PKPU yang berlaku saat ini, terdapat banyak norma yang sebenarnya hanya dapat dilakukan terhadap kepailitan orang perorangan akan tetapi tidak dapat diberlakukan terhadap kepailitan perseroan terbatas, demikian pula sebaliknya banyak terdapat norma yang sebenarnya hanya dapat diberlakukan terhadap kepailitan perseroan terbatas akan tetapi
89 Sutan Reny Sjahdeini, hlm 52
tidak dapat diberlakukan terhadap kepailitan orang perorangan. Hadi Subhan menyimpulkan seharusnya dalam Undang-Undang Kepailitan perlu dibedakan pengaturan mengenai kepailitan khusus pada orang perorangan dengan kepailitan khusus pada perseroan terbatas.90
Kebangkrutan adalah suatu keadaan perusahaan yang mengalami deteriorasi adaptasi perusahaan dengan lingkungannya yang sampai membawa akibat pada rendahnya kinerja untuk jangka waktu tertentu yang berkelanjutan yang pada akhirnya menjadikan perusahaan tersebut kehilangan sumber daya dan dana yang dimiliki sebagai akibat dari gagalnya perusahaan melakukan pertukaran yang sehat antara keluaran (output) dengan masukan (input) baru yang harus diperoleh.91 Sedangkan kata turnarround menggambarkan situasi di mana suatu perusahaan mengalami gangguan karena krisis cash-flow atau krisis laba. Meskipun demikian, definisi turnarround yang dimaksud di sini memiliki arti yang lebih luas, yakni perusahaan sering kali menunjukkan tanda-tanda atau gejala kegagalan jauh sebelum adanya krisis, mirip dengan orang yang sakit pada awalnya menunjukkan tanda-tanda akan sakit.92
Pada tataran yang lebih spesifik, suatu perusahaan juga memiliki daur hidup perusahaan (corporate life cycle), jika perusahaan dilihat sebagai organisasi yang memiliki kehidupan (living organism), maka ia tidak hanya sebagai sekedar pencetak laba tetapi perusahaan juga tidak dapat melepaskan
90 Hadi Subhan. Hlm. 33
91 Suwarsono Muhammad. Strategi Penyehatan perusahaan: generik dan kontekstual.
Yogyakarta: Ekonisia. 2001, hlm. 5
92 Michael Teng. Corporate Turn Around: Nursing a sick company back to health, terjemahan: Barlian Muhammad, jakarta: Prenhallindo. 2002, hlm 3
diri dengan apa yang disebut sebagai fenomena daur kehidupan (life cycles).
Dengan demikian, suatu perusahaan dalam hal ini perseroan terbatas sebagai subjek hukum akan analog dengan subjek hukum manusia, yakni mengalami proses kelahiran, pertumbuhan, kedewasaan, dan pada akhirnya mengalami kematian.93
Adizes sebagaimana disitir oleh Suwarno Muhammad mengemukakan dua model tentang daur hidup perusahaan, yakni model sederhana dan model kompleks. Pada model sederhana daur hidup perusahaan terbagi dalam dua tahap, yakni pertumbuhan dan tahap penuaan. Perusahaan dalam tahap pertumbuhan jika perusahaan tersebut memiliki fleksibilitas dan pengendalian yang tinggi, dan ini tidak tergantung pada umur kuantitatif dari perusahaan tersebut. Bisa saja terjadi perusahaan yang memiliki skala ekonomi yang besar dan saat yang sama telah berumur panjang termasuk dalam tahap pertumbuhan sepanjang perusahaan tersebut memiliki tingkat fleksibilitas dan pengendalian yang tinggi. Demikian pula sebaliknya, perusahaan yang baru saja berdiri dan berskala kecil akan tetapi tingkat fleksibilitas dan pengendaliannya rendah untuk menerima perubahan, maka perusahaan tersebut tidak lagi dapat dikategorikan sebagai perusahaan yang berada pada tahap pertumbuhan.94
Pada model kompleks, daur hidup perusahaan akan terdiri dari tahap sinkronisasi ide, balita, liar, remaja, punca, stabil, aristokrasi, birokrasi awal, birokrasi akhir, dan tahap mati. Pada mulanya perusahaan didirikan dengan
93 Hadi Subhan. Hukum Kepailtan. Jakarta: kencana. 2019, hlm 51 94 Suwarno Muhammad. Op. Cit., hlm. 112-113
terlebih dahulu mengembangkan dan mengkristalkan ide. Pada tahapan berikutnya, ide yang sudah relatif kristal mendapatkan ujian untuk diimplementasikan. Jika ide pendiri perusahaan gagal melewati ini, maka perusahaan tidak jadi berdiri. Tahap selanjutnya perusahaan memasuki usia balita (infant). Jika perusahaan gagal berkembang lebih jauh, perusahaan mati pada usia balita (infan mortality). Tetapi bisa terjadi sebaliknya, perusahaan akan semakin membesar dan cenderung terus berusaha mendapatkan peluang bisnis yang sebesar-besarnya dan risiko bisnis kurang diperhatikan. Inilah memasuki tahap liar di mana peran pendiri menjadi tidak terkendali. Pada tahap berikutnya, perusahaan memasuki usia remaja (adolescemce).
Selanjutnya perusahaan memasuki masa puncak kejayaan (prime). Setelah masa puncak kejayaan, perusahaan berada pada tahapan stabil (stable), tahapan yang tidak lagi dipusingkan dengan persoalan peluang bisnis dan kebutuhan investasi. Tahapan ini adalah tahapan untuk memanen hasil.
Perusahaan memiliki peluang untuk tergelincir pada masa penurunan kejayaan, dimulai dengan munculnya tahapan aristokrasi, birokrasi awal, birokrasi akhir, dan akhirnya perusahaan mengalami kematian (die).95
Dengan demikian, kegagalan suatu perusahaan yang pada akhirnya menuju pada kebangkrutan bukanlah sesuatu yang luar biasa dan jarang terjadi, akan tetapi merupakan hal yang bisa dan sering terjadi dalam lingkungan dunia usaha. Suatu perusahaan yang pada mulanya merupakan perusahaan yang sehat, namun pada akhirnya menjadi bangkrut adalah
95 Ibid, hlm. 115-132
fenomena yang banyak terjadi baik perusahaan yang tergolong kecil maupun perusahaan yang tergolong besar.96
Kebangkrutan adalah kesulitan keuangan yang sangat parah sehingga perusahaan tidak mampu untuk menjalankan operasi perusahaan dengan baik.
Sedangkan kesulitan keuangan (financial distress) adalah kesulitan keuangan atau likuiditas yang mungkin sebagai awal kebangkrutan.97
Kesulitan keuangan suatu perusahaan bisa terjadi bermacam tipe. Dalam kategori keuangan perusahaan yang lazim dikebal pada manajemen keuangan membedakan kesulitan keuangan perusahaan menjadi:98
a. Economic failure, yang berarti bahwa pendapatan perusahaan tidak dapat menutupi biaya total, termasuk biaya modal. Usaha yang mengalami ecnomic failure dapat meneruskan operasinya sepanjang kreditir berkeinginan untuk menyediakan tambahan modal dan pemilik dapat menerima tingkat pengembalian (return) di bawah tingkat bunga pasar.
b. Business failure, istilah ini digunakan oleh Dun & Bradstreet yang merupakan penyusun utama Failure Satistic, untuk mendefinisikan usaha yang menghentikan operasinya dengan akibat kerugian bagi kreditor.
c. Technical insolvency, sebuah perusahaan dapat dinilai bangkrut apabila tidak memenuhi kewajibannya yang telah jatuh tempo.
Technical insolvency ini mungkin menunjukkan kekurangan likuiditas yang sifatnya sementara di mana suatu pada suatu waktu perusahaan dapat mengumpulkan uang untuk memenuhi kewajibannya dan tetap hidup.
d. Insolvency Bankruptcy, sebuah perusahaan dikatakan insolvency bankruptcy bilamana nilai buku dari total kewajiban melebihi nilai pasar dan aset perusahaan. Hal ini merupakan suatu keadaan yang lebih serius bila dibandingkan dengan technical insolvency, sebab
96 Hadi Subhan. Op. Cit., hlm. 53-54 97 Ibid. Hlm. 54
98 Bank Indonesia. Penerapan Z-score untuk memprediksi kesulitan keuangan dan kebangkrutan perbankan indonesia. Jakarta: BI. 1999, dikutip dari Hadi Subhan. Hukum Kepailitan. 2019, hlm 54-55
pada umunya hal ini merupakan pertanda dari economic failure yang mengarah ke likuidasi suatu usaha.
e. Legal Bankruptcy, kepailitan ini adalah putusan kepailitan yang dijatuhkan oleh pengadilan sesuai dengan undang-undang karena mengalami tahapan-tahapan kesulitan keuangan tersebut di atas.
Terdapat banyak faktor yang menjelaskan mengenai penyebab dari kesulitan keuangan. Faktor yang dapat menyebabkan kesulitan keuangan secara umum adalah faktor internal dan eksternal. Faktor internal kesulitan keuangan merupakan faktor dan kondisi yang timbul dari dalam perusahaan yang bersifat mikro ekonomi. Faktor-faktor tersebut adalah:99
a. Kesulitan arus kas
Hal ini disebabkan karena tidak seimbangnya antara aliran penerimaan uang yang bersumber dari penjualan dengan pengeluaran uang untuk pembelanjaan dan terjadinya kesalahan pengolahan arus kas (cash flow) oleh manajemen dalam membiayai operasional perusahaan sehingga arus kas perusahaan berada pada kondisi defisit.
b. Besarnya jumlah utang
Perusahaan yang mampu mengatasi kesulitan keuangan melalui pinjaman bank, sementara waktu kondisi defisit arus kas dapat teratasi.
Namun, pada masa selanjutnya akan menimbulkan masalah baru yang berkaitan dengan pembayaran pokok dan bunga pinjaman, sekiranya sumber arus kas dari operasional perusahaan tidak dapat menutupi kewajiban pada pihak bank.
99 Sastriana, Dian ,dan Fuad (2013). Pengaruh Corporate Governance dan Firm Size Terhadap Perusahaan yang Mengalami Kesulitan Keuangan (financial
distress). Undergraduate thesis, Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Hlm 24-26
c. Kerugian dalam kegiatan operasional perusahaan selama beberapa tahun. Hal ini merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan perusahaan mengalami kesulitan keuangan (financial distress). Situasi ini perlu mendapat perhatian manajemen dengan lebih seksama dan terarah.
Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor-faktor di luar perusahaan yang bersifat makro ekonomi yang mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap kesulitan keuangan perusahaan. Faktor- faktor tersebut adalah:
a. Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Pemerintah dalam rangka meningkatkan penerimaan negara atau mengurangi subsidi bahan bakar minyak, menerbitkan kebijakan pemerintah yang dapat membebani dunia usaha dan masyarakat.
Pengurangan subsidi tersebut berdampak pada kenaikan harga bahan pokok dan memicu kenaikan biaya operasional perusahaan dan dapat menimbulkan kerugian perusahaan.
b. Kenaikan tingkat bunga pinjaman
Sumber pendanaan yang berasal dari pinjaman lembaga keuangan bank atau non bank, merupakan solusi yang harus ditempuh oleh manajemen agar proses produksi dan investasi dapat berjalan lancar.
Konsekuensi dari pinjaman, jika terjadi kenaikan tingkat bunga pinjaman bagi para pelaku bisnis merupakan suatu resiko dan ancaman bagi kelangsungan usaha. Karena akan berakibat pada
kenaikan harga pokok produksi dan terganggunya perencanaan arus kas (cash flow) perusahaan. Akibat selanjutnya produk tidak dapat bersaing di pasaran karena harga jual tinggi dan manajemen mengalami kesulitan untuk membayar cicilan pokok dan bunga pinjaman. Hal ini merupakan tanda awal bahwa perusahaan mengalami kesulitan keuangan.
Terjadinya kondisi financial distress pada suatu perusahaan juga dapat terjadi dari keadaan-keadaan yang tidak menguntungkan bagi perusahaan.
Keadaan-keadaan yang menyebabkan perusahaan mengalami financial distress yang dapat menyebabkan kebangkrutan antara lain adalah (Suciati, 2008):
a. Manajemen (pengelolaan) perusahaan yang tidak profesional, hal ini dapat mengakibatkan dilakukannya pengambilan keputusan untuk melakukan ekspansi secara tidak bijaksana.
b. Faktor ekonomi termasuk industry weakness, seperti lokasi perusahaan yang tidak tepat atau persaingan usaha yang ketat dan ketidakpastian kondisi perekonomian suatu negara.
Kondisi kesulitan keuangan (financial distress) merupakan kondisi yang tidak diinginkan oleh berbagai pihak. Jika terjadi financial distress, maka investor dan kreditor akan cenderung berhati-hati dalam melakukan investasi atau memberikan pinjaman pada perusahaan tersebut. Stakeholder cenderung bereaksi negatif terhadap kondisi ini. Oleh karena itu, manajemen perusahaan
harus segera mengambil tindakan untuk mengatasi masalah financial distress dan mencegah kebangkrutan.100
Perusahaan dapat mencegah agar perusahaannya tidak mengalami kesulitan keuangan, adapun cara-caranya adalah sebagai berikut:101
a. Memantau keuangan dengan baik, perusahaan perlu memantau keuangan bisnisnya secara rutin agar ketika diketahui ada masalah bisa langsung segera bertindak,
b. Mengambil keputusan dengan cepat, setelah di ketahui ada masalah dalam keuangan, perusahaan jangan sampai lama berpikir untuk mencari solusi. Pengambilan keputusan yang cepat untuk mencegahnya akan menjadi tindakan preventif yang bagus.
Kondisi keuangan perusahaan yang sudah terlanjur buruk dan tidak mungkin lagi untuk melakukan tindakan preventif, maka perusahaan harus mencari jalan keluar lain untuk mengatasi dampak financial distress agar perusahaan tidak sampai mengalami kebangkrutan. Tindakan yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah sebagai berikut:102
a. Menjual aset, apabila keadaan benar-benar gawat, perusahaan bisa menjual asetnya supaya bisa menutupi utang-utang yang membebani perusahaan. Aset-aset ini bisa berupa tanah, gedung, alat-alat penunjang, dan lain sebagainya.
100 Patricia Febrina. Penyebab, Dampak, dan Prediksi Dari Financial Distress serta Solusi Untuk Mengatasi Financial Distress. Jurnal Akuntansi Kontemporer, Vol. 2 No. 2 tahun 2010. Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
101 https://www.modalrakyat.id/blog/financial-distress, diakses pada 21 Juni 2022, Pukul 20.39 WIB
102 https://www.modalrakyat.id/blog/financial-distress, diakses pada 21 Juni 2022, pukul 20.48
b. Mencari investor, ini adalah cara yang cukup menyenangkan tetapi memang cukup sulit karena biasanya investor tidak ingin berurusan dengan perusahaan yang sedang terkena masalah keuangan. Namun, apabila perusahaan bisa meyakinkan bahwa perusahaan dapat menjadi lebih baik, investor bisa saja bersedia menyertakan modalnya pada perusahaan.
c. Menerbitkan obligasi, perusahaan dapat mengatasi keuangannya dengan menerbitkan obligasi yang ditawarkan pada publik untuk memperoleh dana dalam waktu singkat. Namun, perlu diketahui adalah perusahaan harus membayar kredit plus kupon sesuai dengan janinya.
d. Restrukturisasi kredit, ketika perusahaan punya pinjaman di bank dan kesulitan untuk membayar karena kondisi kesulitan keuangan, perusahaan dapat melakukan restrukturisasi atau meminta keringanan kepada pihak kreditor bank. Bank biasanya akan memberikan keringanan apabila perusahaan dapat membuktikan bahwa perusahaan memang sedang dalam kesulitan.
e. Melakukan merger, cara mengatasi kesulitan keuangan yang lain adalah melakukan merger dengan perusahaan lain yang bersedia membeli aset. Dengan demikian keuangan perusahaan bisa menjadi pulih.
Hadhi Subhan memandang kepailitan sebagai suatu jalan keluar dari
persoalan uang piutang yang menghimpit seorang debitor, di mana debitor tersebut sudah tidak mempunyai kemampuan lagi untuk membayar utang- utang tersebut kepada para kreditornya.103 Pada dasarnya Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang telah mengaur 2 (dua) cara pembayaran utang yang dapat ditempuh manakala debitor memiliki banyak kreditor tidak lagi mampu membayar satu dari utang-utangnya yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih. Langkah hukum yang dapat ditempuh oleh perusahaan sebagai debitor dalam kondisi kesulitan keuangan yaitu dengan pengajuan permohonan PKPU ke Pengadilan Niaga dan permohonan pailit atas diri sendiri. Pengajuan permohonan PKPU bertujuan untuk menawarkan perdamaian dengan para kreditor agar debitor diberikan kelonggaran dalam melunasi utang-utangnya seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya.