BAB III KEGIATAN P3K BK
B. Analisis dan Refleksi Analisis
Berikut ini masalah-masalah yang dialami praktikan di lapangan pada saat pelaksanaan P3K BK di SMPN 35 Bandung dan cara-cara mengatasinya.
a. Peserta didik menganggap mata pelajaran BK kurang penting karena tidak ada hubungannya dengan nilai rapor. Contohnya ketika praktikan menyebar angket asesmen melalui google form, banyak peserta didik yang belum mengisi. Sehingga praktikan menghubungi satu per satu peserta didik yang belum mengisi. Hal ini diharapkan memberi penyadaran bahwa BK merupakan komponen penting dalam pendidikan dan bagi peserta didik.
b. Mata pelajaran yang masuk sebelum BK seringkali melewati waktu yang sudah ditetapkan dalam jadwal. Sehingga kelas menjadi terundur karena peserta didik belum muncul di kelas dengan alasan mereka belum mendapatkan jam istirahat. Dalam hal ini praktikan mengikuti alur saja, tetap disiplin masuk ke kelas tepat waktu.
c. Waktu untuk memberi layanan BK terbatas, sehingga pemberian layanan kurang optimal.
Perlu adanya prioritas untuk beberapa tahapan layanan yang dianggap sangat penting, agar tujuan layanan tetap tersampaikan pada peserta didik dalam waktu yang terbatas tersebut.
d. Masih adanya pandangan kurang baik pada peserta didk terhadap bimbingan dan konseling di sekolah. Sehingga, tidak jarang peserta didik ragu untuk masuk ke ruang BK dan melakukan konsultasi dengan guru BK.
Refleksi
Pelaksanaan kegiatan P3K BK secara keseluruhan berjalan dengan lancar walaupun terdapat beberapa hambatan yang praktikan rasakan. Hal ini dikarenakan merupakan sebuah pengalaman pertama praktikan untuk langsung memberikan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. Berikut merupakan table refleksi konselor bagi praktikan selama melaksanakan P3K BK di sekolah.
Tabel
Refleksi Kompetensi Konselor bagi Praktikan
No Kompetensi Sudah
Dikuasai
Belum Dikuasai 1 Memperkuat dan mempertajam
penguasaan kompetensi akademik sebagai calon sarjana pendidikan dalam bidang bimbingan dan konseling 2 Mengembangkan sikap dan orientasi
profesi serta untuk memberikan
pengalaman awal dalam menggunakan keterampilan dasar (basic skill)
bimbingan dan konseling dengan supervise yang efektif
3 Mengenal sekolah secara
komprehensif sebagai lingkungan perkembangan peserta didik
4 Melakukan atau memanfaatkan hasil asesmen perkembangan dan
lingkungan peserta didik untuk tujuan pelayanan bimbingan dan konseling 5 Menyusun suatu rencana program
bimbingan dan konseling
perkembangan (komprehensif) untuk satu kelas binaan berbasis data peserta didik
6 Menyusun rancangan dan
melaksanakan bimbingan klasikal dalam rangka layanan dasar dengan topic-topik tentang belajar, pribadi, sosial, dan karir.
7 Menyusun rancangan dan
melaksanakan bimbingan/ konseling kelompok dengan menggunakan berbagai teknik kelompok 8 Melakukan proses studi kasus
individual dengan menggunakan suatu kerangka teori tertentu
9 Mengadakan konseling generilk (generic counseling) / konseling individual dengan menggunakan teknik dan keterampilan dasar (basic skill) kepada peserta didik tertentu dengan superivisi yang efektif oleh dosen pembimbing dan atau pamong 10 Manata sarana dan prasarana
bimbingan dan konseling serta mengembangkan media bimbingan 11 Melakukan konsultasi dan kolaborasi
dengan guru BK (konselor), guru mata pelajaran, wali kelas, dan orang tua peserta didik serta organisasni profesi 12 Berpartisipasi dalam kegiatan
ekstrakurikuler dan program sekolah lainnya
13 Mengevaluasi program bimbingan dan konseling pada kelas binaanya
14 Mengidentifikasi masalah-masalah penelitian bimbingan dan konseling dalam rangka penyesuaian skripsi sebagai calon sarjanan bimbingan dan konseling
15 Mengikuti sesi supervise kelompok di kampus/ kelas pada waktu-waktu tertentu dalam rangka refleksi dan mendapatkan balikan
16 Melaporkan proses dan hasil P3K secara tertulis dan mengikuti seminar dalam rangka ujian
Dari tabel tersebut, ada beberapa kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh praktikan.
Hal ini tentunya dapat menjadi sebuah acuan bagi praktikan untuk dapat menjadi konselor professional di masa depan. Kelebihan yang sudah dimiliki oleh praktikan dapat terus dipertahankan. Sedangkan, poin-poin yang belum terpenuhi dan kelemahan praktikan, dapat menjadi sebuhah pembelajaran dan motivasi untuk praktikan agar dapat terus maju. Selain itu, praktikan juga bertekad untuk terus meningkatkan kolaborasi dengan organisasi profesi bimbingan dan konseling dan juga dengan profesi lainnya agar kelak ketika memberikan layanan bimbingan dan konseling maka akan ada bantuan dan masukan dari pihak-pihak tertentu.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN a. Kesimpulan
P3K khususnya program studi Bimbingan dan konseling memberikan pengalaman bagi praktikan sebagai calon guru BK. Dalam pelaksanaannya praktikan mendapatkan banyak pengetahuan dan keterampilan baru. Dengan adanya P3K BK ini mendorong pengembangan profesionalismen calon guru BK atau konselor. Tak hanya mendapatkan ilmu tentang bimbingan dan konseling namun, praktikan mengetahui kondisi nyata pendidikan di lapangan.
Dengan adanya (P3K) dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Kegiatan P3K memberikan praktikan penguatan terkait teoretik dan praksis dari konsep bimbingan dan konseling
2. Kegiatan P3K membantu praktikan dalam mengembangkan sikap dan kompetensi profesional yang perlu dikuasai oleh praktikan.
3. Kegiatan P3K memberikan pengelaman kepada praktikan untuk mengemabngan keterampilan dasar bimbingan dan konseling seperti melaksanakan secara langsung praktik pemberian layanan bimbingan klasikal, bimbingan kelompok, konseling individual, dan konseling kelompok.
4. Kegiatan P3K memberikan praktikan kesempatan untuk melakukan evaluasi dan supervisi dari kegiatan bimbingan dan konseling.
5. Dengan adanya P3K membantu praktikan mengetahui kondisi ril pendidikan dan kondisi peserta didik sebagai bekal kelak menjadi guru BK.
B. Saran
1. Bagi Divisi Pendidikan Profesi dan Jasa Keprofesian (P2GJK)
a. Alangkah baiknya untuk menyelaraskan kebijakan P2GJK dengan program studi lainnya. Karena terdapat beberapa program studi yang kebijakannya berbeda.
b. Alangkah baiknya melakukan pemantauan secara rutin untuk
mengetahui secara pasti perkembangan kegiatan P3K di sekolah yang dituju
2. Bagi Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia
a. Program studi bimbingan dan konseling alangkah baiknya melakukan supervisi atau pemantauan secara berkala untuk mengetahui perkembangan kegiatan P3K BK di sekolah.
b. Program studi bimbingan dan konseling hendaknya memantau dosen pembimbing lapangan untuk turut serta memantau praktikan P3K BK di sekolah.
c. Program studi bimbingan dan konseling hendaknya lebih menguatkan mata kuliah yang berhubungan dengan P3K seperti mata kuliah konseling individual, bimbingan kelompok, konseling kelompok, program BK, dll. Sebagai bekal mahasiswa melaksanakan P3K.
3. Bagi BK SMPN 35 Bandung
a. Bagi SMP 35 Bandung diharapkan senantiasa mengembangkan sarana dan prasarana guna kelangsungan pemberian layanan bimbingan dan konseling.
b. Personil sekolah terus menjali komunikasi dengan guru BK dalam memahami peserta didik baik dalam mengembangkan potensi peserta didik dan peserta didik yang memiliki masalah.
4. Bagi BK SMPN 35 Bandung diharapkan bisa menambah tenaga kependidikan khususnya guru BK agar pembagian tugas proporsional.
5. Bagi Tim BK SMPN 35 Bandung
6. Tim BK SMPN 35 Bandung senantiasa terus meningkatkan kompetensi profesional agar menjadi guru BK yang lebih profesional.
DAFTAR PUSTAKA
Gifford-Smitha, M. E., & Brownell, C. A. (2003). Childhood Peer Relationship: Social Acceptence, friendships, and peer networks.
Journal of School Psychology, 41(4), 235-284.