RPL LAPORAN DAN VERBATIM KONSELING INDIVIDU
B. Konseptualisasi
Menurut Ellis, Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) mengakui aspek kognisi, emosi, dan perilaku saling berinteraksi dan mempengaruhi (Bond
& Dryden, 1996) dalam (Habsy, 2018). Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) merupakan salah satu bagian dari cognitive behavior therapy (CBT) (Habsy, 2018). Pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) menurut Ellis dalam (Habsy, 2018), dapat dilakukan dengan proses:
Activiting event (A): kejadian, perilaku atau sikap orang lain, serta keberadaan fakta, Belief (B): pandangan nilai atau verbalisasi diri terhadap peristiwa. Keyakinan (beliefs) dapat berupa keyakinan/cara berpikir/sistem keyakinan yang rasional (tepat, masuk akal, bijaksana, lebih produktif) dan irasional (salah, tidak masuk akal, emosional, tidak produktif), Consequence (C): perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan Activiting event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari Activiting event (A) tetapi disebabkan oleh bentuk keyakinan (B), Disputing (D): tindakan menjadikan irasional menuju rasional, pada 3 tahap (detecting irrational beliefs, discriminating irrational beliefs, dan debating irrational beliefs), Effect (E): efek dari behavior, kognitif, emotif. Apabila proses Activiting event (A) - Disputing
(D) berlangsung dalam cara berpikir yang rasional dan logis yang menghasilkan perilaku positif.
Konsep Pokok Teknik Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT) Asumsi Dasar
Menurut Ellis,(dalam Komalasari,dkk. 2011: 207), asumsi dasar teknik Rational
Emotive Behaviour Therapy dapat dikategorikan pada beberapa postulat, yaitu:
1. Pikiran, perasaan dan tingkah laku secara berkesinanmbungan saling interaksi dan
mempengaruhi satu sama lain
2. Gangguan emosional disebabkan oleh faktor biologi dan lingkungan 3. Manusia dipengaruhi oleh orang lain dan lingkungan sekitar dan
individu juga secara sengaja mempengaruhi orang lain di sekitarnya.
4. Manusia menyakiti diri sendiri secara koginitif, emosional, dan tingkah laku
5. Individu cenderung menciptakan keyakinan yang irasional saat hal yang tidak menyenangkan terjadi gangguan kepribadian individu disebabkan oleh keyakinan irasional.
6. Sebagian besar manusia memiliki kecenderungan yang besar untuk membuat dan mempertahankan gangguan emosionalnya.
Konseling teknik Rational Emotive Behaviour Therapy ada bermacam- macam, tujuan
utama konseling Rasional emotif behavior adalah untuk membantu individu menyadari
bahwa mereka dapat hidup dengan lebih rasional dan produktif (Komalasari, dkk. 2011: 213). Menurut Ellis dan Bernard dalam (Setiawan, 2015), tujuan dari pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) agar seseorang memiliki: minat diri (self interest), minat sosial (social interest), pengarahan diri (self direction), toleransi (tolerence), fleksibel (flexibility), penerimaan (acceptance), menerima ketidakpastian (acceptance of incertainty), menerima diri sendiri (self acceptance), mengambil resiko (risk taking), harapan yang realistis (realistic expectation), serta toleransi terhadap frustasi tinggi (high frustration tolerance).
Pada prosesnya, konseling teknik Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT) ini
cocok untuk mengubah pemikiran irrasional menjadi pemikiran yang rasional. Pada saat konseling berlangsung, konselor akan mengajak klien untuk berinteraksi dalam merubah pemikiran dan perasaan yang irrasional menjadi rasional. Konseling teknik Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT) mengajak klien untuk mengidentifikasi permasalahan secara bersama-sama, sehingga klien dapat memberikan umpan balik yang diperlukan untuk mengatasi permasalahan klien itu sendiri.
Tahap-Tahap Konseling Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT) Menurut George & Cristiani (dalam komalasari,dkk.2011:215) dalam proses konseling
dengan pendekatan rasional emotif behavior terdapat beberapa tahap yang dikerjakan oleh konselor dan konseli, yaitu:
Tahap 1
Proses dimana konseli diperlihatkan dan didasarkan bahwa mereka tidak logis dan
irasional. Proses ini membantu konseli memahami bagaimana dan mengapa dapat menjadi irasional. Pada tahap ini konseli diajarkan bahwa mereka memiliki potensi untuk mengubah hal tersebut.
Tahap 2
Konseli dibantu untuk yakin bahwa pemikiran dan perasaan negatif tersebut dapat
ditantang dan diubah.Pada tahap ini konseli mengeksplorasi ide-ide untuk menentukan
tujuan-tujuan rasional.
Tahap 3
Konseli dibantu untuk secara teru menerus mengembangkan pikiran rasional serta
mengembangkan filosofi hidup yang rasional sehingga konseli tidak terjebak pada masalah yang disebabkan oleh pemikiran irasional.
Referensi
Nurmalia, T., Choirunnisa, D., Hanim, W., & Marjo, H. K. (2020). Self efficacy dengan menggunakan pendekatan rational emotive behavior therapy (REBT) dalam konseling kelompok pada peserta didik SMA.
Visipena, 11(2), 404-415.
Dharmayana, I. W., Sinthia, R., & Afriyati, V. (2017). Efektivitas Penerapan Konseling Rational Emotive Behavior Therpy (REBT) untuk Menghilangkan Kecemasan pada Klien. Semarak, 50, 38-46.
C. Proses Konseling
Proses konseling dilakukan dengan tahapan yang standar, yaitu (1) tahap pengembangan relasi (pembukaan), (2) tahap transisi, (3) tahap inti yang meliputi: (a) eksplorasi masalah dan penyebab serta (b) eksplorasi alternatif upaya mengatasi masalah (berupa sikap, perasaan dan perilaku baru yang perlu diputuskan dan diaktualisasikan oleh konseli dalam mengatasi masalah), tahap (4) penutupan, meliputi evaluasi keberhasilan dan tindak lanjut konseling serta menutup pertemuan konseling. Konseling dilakukan dengan 2 sesi pertemuan.
SESI PERTEMUAN 1
Hari, tanggal : Senin, 16 Oktober 2023 Jam : 10.30-11.50
Tempat : Ruangan BK
Kegiatan:
Pada sesi pertama, berfokus kepada menggali informasi dari konseli dan mengidentifikasi permasalahan yang dirasakan konseli. Pada sesi ini
ditemukan informasi pribadi dari konseli seperti latar belakang keluarga, latar belakang konseli, dan masa lalu konseli yang memicu konseli bersikap tidak dianggap oleh teman sekelas dan ingin diperhatikan oleh orang tua.
Pada sesi ini juga praktikan membantu merumuskan tujuan yang ingin dicapai oleh konseli.
Tindak lanjut:
Tindak lanjut dari sesi 1 adalah beralih menuju tahap inti konseling dikarenakan waktu pada sesi 1 yang terbatas dan konseli cenderung masih malu untuk mengungkapkan isi hatinya, sehingga diperlukan sesi 2 sebagai tindak lanjut dari sesi sebelumnya.
SESI PERTEMUAN 2
Hari, tanggal : Senin, 20 November 2023 Jam : 10.30-11.50
Tempat : Ruangan BK
Kegiatan:
Di sesi kedua ini, praktikan fokus menerapkan pendekatam REBT untuk membantu konseli mengatasi permsalahannya. Membantu konseli dalam mengubah pikiran irasional menjadi pikiran yang rasional. Praktikan membantu konseli menyusun rencana perubahan dengan menggunakan Home Assignment berupa menuliskan hal-hal yang dirasakan dan dipikirkan. Lalu membuat target untuk mulai sekolah dengan giat.
Tindak lanjut:
Tindak lanjut dari sesi kedua ini adalah mengamati perubahan sikap konseli dan bertemu kembali untuk melaksanakan konseling sesi ketiga guna melihat progress dari konseli.
D. Evaluasi diri
Dalam proses konseling ini, praktikan sudah mampu mengidentifikasi masalah yang dirasakan oleh konseli, mampu mengidentifikasi tujuan atau keinginan perubahan konseli, dan mampu memilih pendekatan yang relevan dengan permasalahan konseli. Tetapi, praktikan masih terdapat kekurangan dalam mendorong siswa untuk berubah menjadi lebih percaya diri.
E. Skrip Dialog Konseling