BAB III PEMBAHASAN
B. Analisis Hasil Penerapan Bimbingan Belajar dengan
70
terhadap kemampuan membaca pada setiap anak dengan memberikan mereka simbol stiker di buku modul mereka masing- masing. Penilaian ini dapat mendorong siswa untuk lebih giat belajar secara terus menerus. Selain itu dengan adanya penilaian dalam tahap evaluasi bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa, sehingga guru dapat mengambil keputusan mengenai perkembangan anak khususnya pada kemapuan membaca anak.
Hal ini sesuai dengan pendapat Sudirman N, dkk, yang mengatakan tujuan penilaian dalam proses pembelajaran yaitu untuk mengambil keputusan tentang hasil belajar siswa, memahami siswa dan mengetahui sampai sejauh mana dapat memberikan bantuan terhadap kekurangan siswa, serta penilaian ini juga bermaksud untuk memperbaiki dan mengembangkan program pembelajaran.116 Dengan demikian evalusi bertujuan untuk memperbaiki dan mendalami dan memperluas pelajaran, dan untuk memberitahukan atau melaporkan kepada para orang tua/wali siswa mengenai penentuan kenaikan kelas atau penentuan kelulusan siswa.
B. Analisis Hasil Penerapan Bimbingan Belajar dengan Tenik
71
dengan metode storytelling menggunakan alat peraga atau tidak menggunakan alat peraga. Terjadi perubahan sikap pada anak dan tindakan berupa motivasi yang diharapkan. Harapan TK Kemala Bhayangkari 04 Sumbawa yaitu dapat meningkatkan dan merangsang minat baca anak, meningkatkan kecerdasan verbal anak, meningkatkan perilaku prososial anak, melatih daya tangkap dan konsentrasi anak dan mengembangkan daya imajinasi anak.
Anak yang pada awalnya terlihat biasa saja, tetapi setelah mendengar storytelling anak terlihat senang, menyimak, mendengarkan bahkan anak dapat menceritakan kembali dongeng yang diceritakan oleh guru pendidik/pendongeng kepada teman dan orang disekitarnya. Anak-anak juga mulai tertarik ketika guru membawa boneka tangan ke dalam kelas. Selain itu anak-anak juga sudah mulai memperhatikan guru saat becerita. Hal tersebut ditunjukkan, anak-anak tidak bermain sendiri dan berbicara sendiri ketika guru bercerita meskipun masih terdapat satu-dua anak yang perhatiannya tidak fokus. Selain itu, anak-anak juga masuk dalam cerita yang dibacakan oleh guru. Hal tersebut terlihat ketika anak- anak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru mengenai cerita. Selain itu, anak-anak juga diberi kesempatan untuk memperagakan langsung tokoh dalam cerita dengan menggunakan boneka tangan. Anak-anak terlihat senang ketika dapat memperagakan tokoh dengan boneka tangan, terlihat ekpresi dari wajah anak. Selain itu, ekpresi wajah anak ketika guru bercerita menunjukkan bahwa anak merasa senang dengan guru bercerita.
Anak-anak tersenyum ketika guru becerita memperagakan tokoh dengan boneka tangan. Selan itu, anak juga terkadang tertawa lebar ketika guru menunjukkan ekspresi yang berbeda disetiap tokoh dalam cerita.
Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Tubss dan Moss yang dikutip oleh Noorika Retno Widuri bahwa storytelling (komunikasi dua arah) dapat dikatakan berhasil apabila
72
menimbulkan kesenangan, rasa ketertarikan serta terjadi perubahan sikap dan tindakan.117
Selain itu, melihat pelaksanaan kegiatan storytelling di TK Kemala Bhayangkari 04 Sumbawa guna memberikan pengaruh terhadap proses pembelajaran. Terjadi perubahan sikap pada anak dan tindakan berupa perilaku prososial anak, seperti berkata jujur, mau menolong teman, berbuat baik, mau berbagi, tuumbuhnya minat membaca dan bertambahnya perbendaharaan kata anak serta didukung juga dengan intensitas kehadiran anak dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar disekolah. Anak yang awalnya belum mengetahui tentang sesuatu hal maka setelah dilaksanakan storytelling mereka mendapatkan pengetahuan tentang hal-hal tertentu sesuai dengan terma atau cerita yang disampaikan dalam storytelling tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, storytelling dapat menanamkan dan menumbuhkan minat baca pada anak.
Munculnya minat membaca buku pada anak, dilihat dari keseharian mereka yang bergatian meminta pada gurunya untuk dibacakan buku yang dibawa dari rumah mereka masing-masing ataupun yang dibawa dari pojok baca kelas.
Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukan oleh Gerald A.
Chesin “storytelling and storyreading” mengemukakan bahwa cerita akan menajadi sangat bermanfaat bagi anak-anak yang tidak siap untuk membaca atau yang memiliki rendah kemampuan membaca.118
Bedasarkan ulasan dari hasil penelitian diatas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa dengan dilaksanakannya program storytelling di sekolah dapat membantu menumbuhkan dan meningkatkan minat baca bagi anak. Hal ini menunjukkan keberhasilan dari kegiatan belajar mengajar melalui storytelling untuk meningkatkan proses pembelajaran dalam meningkatkan minat baca anak di TK Kemala Bhayangkari 04 Sumbawa.
117 Noorika Retno Widuri, “Peran Komunikasi Antara Orang Tua Dengan Anak Dalam Pembinaan Minat Baa Sejak Dini,” Media Pustakawan, Vol. 15, No. 3, Thn 2017, hlm. 26
118 Chesin Gerald A, “Storytelling and Storyreading.”
73
C. Analisis Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Penerapan Bimbingan Belajar dengan Teknik Storytelling dalam Meningkatkan Minat Baca Anak di TK Kemala Bhayangkari 04 Sumbawa
Berdasarkan hasil analisis peneliti tentang apa saja faktor yang menjadi pendukung dan penghambat dalam penerapan bimbingan belajar dengan teknik storytelling ada beberapa faktor yang peneliti temukan diantaranya sebagai berikut:
1. Faktor pengdukung
Adapun yang menjadi faktor pendukung dalam penerapan bimbingan belajar dengan teknik storytelling di TK Kemala Bhayangkari 04 Sumbawa diantaranya; semangat dan kerjasama antar guru/pendidik dalam mengembangkan metode pembelajaran; faktor media/alat peraga yang digunakan dalam mendukung pelaksanaan kegiatan storytelling. Media-media ataupun alat peraga sepeti boneka tangan, wayang, buku bergambar merupakan salah satu faktor penting yang ada dalam peross pelaksanaan storytelling. Hal ini sesuai dengan teori Asfandiyar dan MacDonald yang mengatakan alat peraga merupakan salah satu media yang dapat menarik perhatian anak untuk memperhatikan dan memahami apa yang disampaikan oleh guru.119 Selain itu, ada ruang kelas yang rapi yang dilengkapi dengan pojok baca dan koleksi-koleksi buku yang bervariasi yang membuat anak anak betah berada dikelas.
Hal yang mendukung senjutnya adalah banyaknya referensi bagi guru untuk memilih dan menyesuaikan isi storytelling dengan tema yang akan diberikan kepada peserta didik, berupa buku-buku cerita yang bergambar ataupun video yang dapat mendukung program tersebut, sehingga kegiatan pembelajaran akan menjadi lebih menarik dan lebih mudah untuk diterima oleh anak. Hal ini senada dengan teori yang disampaikan oleh Kusmiadi yang mengatakan dengan materi yang akan mudah diterima oleh anak, maka anak akan lebih
119 Ichsan Solihudin, Hypnosis For Parents: Melenjitkan Potensi Buah Hati,….
hlm. 70
74
mudah mengembangkan imajinasinya, membangun aspek kognitifnya, psikomotor, dan kemampuan afektifnya.120
2. Faktor penghambat
Melaksanakan program storytelling di Taman Kanak- Kanak berarti guru diharapkan bisa menyampaikan materi dengan menarik, sehingga materi yang disampaikan dapat diterima oleh anak didik dengan baik. Namun faktanya, di TK Kemala Bhayangkari masih minim guru yang menguasai teknik storytelling hal ini menjadi salah satu faktor penghambat dalam pelaksanaan kegiatan storytelling disetiap kelas.
Storytelling adalah salah satu metode mengajar yang harus dikuasai oleh guru, maka alangkah lebih baik guru bisa menguasainya. Dalam mengatasi problematika ini, untuk mencapai tujuan dan harapan sekolah, pihak sekolah bersama ketua yayasan kemala bhanyakari akan mencoba mengadakan pelatihan khusus untuk tenaga pendidik/guru di TK Kemala Bhayangkari.
Sebuah studi oleh Blanchard, LeProvost, Tolin dan Guitierrez menunjukkan bahwa guru yang menerima pelatihan tentang penggunaan teknologi dapat memperoleh manfaat dengan meningkatkan efektivitas pengajaran mereka, karena siswa akan memiliki motivasi yang lebih kuat untuk terlibat dalam kegiatan instruksional, yang akan mengarah pada hasil pembelajaran yang lebih baik. Oleh karena itu, guru diharapkan memasukkan berbagaai jenis teknologi untuk mencapai target konten secara efektif dan menciptakan lebih banyak kesempatan belajar bagi peserta didik.121 Oleh sebab itu, perlu adanya pelatihan yang memadai, terus ditawarkan untuk membantu guru memperbarui metode-metode pembelajaran serta media/teknologi yang dapat digunakan dalam menunjang
120 Salimatul Ummah, dkk, “Storytelling melalui Daring terhadap Kemampuan Kognitif Anak Usia Dini di Kelompok Bermain (KB) Nanda Ceria Bocek Karangploso Kabupaten Malang”, Jurnal Ilmiah Pendidikan, Vol. 3, No. 1, Thn, 2021
121 Yusuf Tri Herlambang, dkk, “Peningkatan Profsionalisme Guru Melalui Pelatihan Membangun Desain Pembelajaran Online dengan Memanfaatkan Multiplatfrom: Sebuah Gerakan Literasi Digital,” Jurnal Massagi: Masyarakat Multiliterasi Pedagogi, Vol. 2 No. 1, Thn. 2021
75
keberhasilan dari program tersebut. Hal ini, sangat diharapkan mengintegrasikan teknologi secara optimal dalam aktivitas pembelajaran.
76 BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, maka peneliti dapat menyimpulkan sebagai berikut:
1. Proses penerapan bimbingan belajar dengan teknik storytelling dalam meningkatkan minat baca anak di TK Kemala Bhayangkari 04 Sumbawa yaitu melalui tiga tahapan diantaranya tahap persiapan, tahap pelaksanaan, tahap evaluasi.
2. Hasil penerapan bimbingan belajar dengan teknik storytelling dalam meningkatkan minat baca anak di TK Kemala Bhayangkari 04 Sumbawa diantaranya berupa aspek kesadaran anak dalam membaca, aspek ketertarikan anak dalam membaca, aspek rasa senang anak mengikuti kegiatan storytelling, dan aspek frekuensi anak dalam membaca buku.
3. Faktor pendukung dalam penerapan bimbingan belajar dengan teknik storytelling dalam meningkatkan minat baca anak di TK Kemala Bhayangkari 04 Sumbawa berupa semangat dan kerjasama antar guru/pendidik, media/alat peraga yang digunakan dalam melaksanakan kegiatan storytelling. Selain itu, ruang kelas yang rapi, dilengkapi dengan sarana prasarana seperti pojok baca, koleksi-koleksi buku cerita yang beragam, dan alat permainan yang lengkap. Seldangkan fakor penghambat dalam pelaksanaan kegiatan storytelling di TK Kemala Bhayangkari 04 Sumbawa yakni masih minim guru yang menguasai metode storytelling.
Tidak semua guru di TK Kemala Bhayangkari 04 Sumbawa yang bisa melakukan storytelling sehingga hal ini menjadi penghambat dalam terlaksananya kegiatan storytelling di setiap kelas.
B. Saran
1. Bagi guru/tenaga pendidik TK Kemala Bhayangkari 04 Sumbawa, diharapkan guru/tenaga pendidik hendaknya terus mengembangkan pengetahuan dan kemapuan dengan mengikuti pelatihan-pelatihan. Hal dianjurkan agar kegiatan
77
storytelling/mendongeng di TK Kemala Bhayangkari 04 Sumbawa dapat tetap terlaksana dengan baik.
2. Bagi pihak sekolah diharapkan mempertahankan dan mengembangkan lagi kegiatan belajar mengajar dengan storytelling/mendongeng guna mencapai tujuan dan hasil yang signifikan, agar dapat membentuk generasi yang cerdas, berwawasan luas, kreatif, inovatif, adaftif, dan berakhlakul karimah.
3. Bagi peneliti selanjutnya, penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari kata sempurna. Penulis berharap peneliti selanjutnya bisa menggunakan hasil penelitian ini untuk melaksanakan penelitian lebih lanjut dengan berbagai macam metode baik kualitatif maupun kuantitatif.
78
DAFTAR PUSTAKA
Ade Irma Nursalina dan Tri Esti Budiningsih, “Hubungan Motivasi Berprestasi dengan Minat Membaca pada Anak”, Jurnal Educational Psychology, Vol. 3, No. 1, Thn 2014
Agung Widhi Kurniawan & Zarah Puspitaningtyas, Metode Penelitian Kuantiatif, (Yogyakarta: Pandiva Buku, 2016)
Agus Ds, Pintar Mendongeng Dalam 5 Menit, (Yogyakarta: Kanisius, 2010)
Amal Abdussalam Al Khalili, Mengembangkan Kresiafitasn Anak, (Jakarta Pustaka Al-Kausar, 2005)
Aulia, Revolusi Pembuat Anak Candu Membaca, (Yogyakarta: FlashBook, 2012)
Chesin Gerald A, “Storytelling and Storyreading.”
Diana Mutiah, Psikologi Bemain Anak Usia Dini, (Jakarta: Kencana, 2012)
Dina Oktaria, “Bimbingan Belajar dengan Teknik Storytelling untuk Meningkatkan Kreativitas Belajar Peserta Didik Sekolah Menengah Pertama”, (Yogyakarta: Universitas Ahmad Dahlan, 2019).
Gumono, “Profil Minat Baca Mahasiswa FKIP Universitas”, Jurnal Wacana, Vol. 14, No. 1, Thn.2017
https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/edukasi/read/2020/04/0 5/154418571/nilai-pisa-siswa-indonesia-rendah-nadiem-siapkan-5- strategi-ini diakses tanggal 9 April 2022, Pukul 16.00 WITA.
Ichsan Solihudin, Hypnosis For Parents: Melenjitkan Potensi Buah Hati, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2016)
Jumaria Binti Kassim, “Metode Stortyelling untuk Meningkatkan Minat Membaca pada Anak Usia Dini di TK An Nur Gang Modin”, (Surabaya: UIN Sunan Ampel, 2018).
79
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Indeks Aktivitas Literasi Membaca 34 Provinsi, (Jakarta: Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan , 2019)
Madjito, Pembinaan Baca (Jakarta: Universitas Terbuka, 1999)
Mahirah B, “Evaluasi Belajar Peserta Didik (Siswa),” Jurnal Idaarah, Vol. 1, No. 2, Thn. 2017
Moeong Lexy J.
Muammar, Membaca Permulaan di Sekolah Dasar, (Mataram: Sanabil, 2020)
Muhammad Hasbi, dkk, Menumbuhkan Minat Anak Sejak Dini, (Jakarta:
Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, 2020)
Mukhtar Latif, Zulkhairina dkk, Orientasi Anak Usia Dini Teori dan Aplikasi, (Jakarta: Kencana, 2013)
Musfiroh Takdkiroatun, Memilih, Menyusun, dan menyajikan Cerita untuk Anak USia Dini, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 200)
Ni Putu Sri Nonik Andayan, dkk, “Penerapan Layanan Bimbingan Belajar untuk Meningkatkan Prestasi Belajar bagi Siswa yang Mengalami Kesulitan Belajar Siswa Kelas X4 SMA Negeri 1 Sukasada”
Jurnal Undiksa, Vol. 2, No. 1 Thn 2017
Noorika Retno Widuri, “Peran Komunikasi Antara Orang Tua Dengan Anak Dalam Pembinaan Minat Baa Sejak Dini,” Media Pustakawan, Vol. 15, No. 3, Thn 2017, hlm. 26
Nurhati, dkk, Pembelajaran Membaca, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2009)
Salimatul Ummah, dkk, “Storytelling melalui Daring terhadap Kemampuan Kognitif Anak Usia Dini di Kelompok Bermain (KB) Nanda Ceria Bocek Karangploso Kabupaten Malang”, Jurnal Ilmiah Pendidikan, Vol. 3, No. 1, Thn, 2021
Sandu Siyoyo dan M. Ali Sodik, Dasar Metodologi Penelitian, (Yogyakarta: Literasi Media Publishing, 2015)
80
Sedarmayanti, Syarifudin Hidayat, Metode Penelitian, (Bandung: Mandar Maju, 2011)
Sedarmayanti, Syarifudin Hidayat, Metode Penelitian, (Bandung: Mandar Maju, 2011)
Suryani, Hendriani, Metode Riset Kuantitatif: Teori Dan Aplikasi Pada Manajemen Dan Ekonomi Islam (Jakarta: Predana Media Grup, 2015)
Sya’adatun Niswah, “Pengaruh Metode Storytelling terhadap Pengembangan Minat Baca dan Bahasa Anak Kelompok B di TK Tunas Bangsa Pati Tahun Ajaran 2012/2013”, Skripsi, (Surakarta:
Fakultas Kependidikan dan Ilmu Pendidikan UMS, 2013)
Urip Widodo, Menulis dan Storytelling Jakata Bahasa Inggris, (Tasikmalaya: Edu Publisher, 2021), cet. 1.
Vennesa Ichwan, “Penerapan Metode Storytelling oleh Guru untuk Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Anak Autis (Studi Kasus di SLB Negeri Surakarta)”, (Surakarta: Universitas Sebelas Maret, 2020).
Yusuf Tri Herlambang, dkk, “Peningkatan Profsionalisme Guru Melalui Pelatihan Membangun Desain Pembelajaran Online dengan Memanfaatkan Multiplatfrom: Sebuah Gerakan Literasi Digital,”
Jurnal Massagi: Masyarakat Multiliterasi Pedagogi, Vol. 2 No. 1, Thn. 2021
81
LAMPIRAN-LAMPIRAN
82
Lampiran 1. Dokumentasi Kegiatan Bimbingan Belajar dengan Teknik Storytelling dan Wawancara
Kegiatan Storytelling di TK Kemala Bhayangkari 04 Sumbawa menggunakan boneka tangan
83
Kegiatan Storytelling menggunakan buku cerita/modul bhayangkari
Kegiatan Storytelling menggunakan audio visual/laptop
Kegiatan Storytelling menggunakan media gambar
84
Kegiatan anak bercerita dengan boneka tangan Kegiatan membaca dan mewarnai
85
Kegiatan upacara bendera dan kegiatan imtaq
Wawancara dengan Kepala Sekolah TK Kemala Byangkari dan Guru Kelompok B1
86
Wawancara dengan siswa-siswi Kelompok B1
Perpustakaan Pojok baca kelompok B1 Taman bermain
87
Lampiran 2. Pedoman Wawancara dan Observasi
GUIDE WAWANCARA BIMBINGAN BELAJAR DENGAN TEKNIK STORYTELLING DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA ANAK
USIA DINI DI TK KEMALA BHAYANGKARI 04 SUMBAWA Lembar Wawancara Guru
No. Aspek yang diteliti
Indikator Pertanyaan
1. Minat baca a. Kondisi minat baca anak kelompok B1
Bagaimana kondisi minat baca anak kelompok B1?
Program apa saja yang digunakan untuk
menumbuhkan minat baca anak?
Mengapa memilih program storytelling dalam
menumbuhkan minat baca anak disini?
2.. Tahap awal persiapan
b. Ketercapaian dan pelaksanaan dalam tahap persiapan yang dilakukan
Bagaimana bentuk persiapan storytelling yang dilakukan?
Jenis storytelling yang digunakan apakah sesuai usia?
Buku/cerita apa saja yang
88
diberikan?
Apakah sudah sesuai dengan usia?
Media yang digunakan dalam pelaksanaan storytelling apa saja?
3. Proses penerapan teknik storytelling
c. Ketertarikan siswa dalam mengikuti kegiatan
storytelling dari awal sampai akhir
Apakah anak- anak menyukai teknik
storytelling (bercerita) menggunakan media?
Apakah anak- anak tertarik membaca buku setelah
diceritakan?
d. Suasana dalam kelas saat pelaksaan storytelling
Bagaimana suasana pada saat
dilaksanakan teknik storytelling?
Apakah ada syarat suasana pelaksanaan storytelling?
Bagaimana reaksi anak saat kegiatan
storytelling?
e. Jenis-jenis storytelling
Jenis
storytelling apa saja yang digunakan
89
dalam
meningkatkan minat baca siswa di kelas?
f. Waktu kegiatan storytelling
Berapa lama kegiatan storytelling berlangsung di kelas?
4. Hasil
Pelaksanaan Storytelling
g. Hasil pelaksanaan Apakah jenis bacaan
mempengaruhi kecepatan perubahan/tingk at perubahan pada minat baca dengan
storytelling?
Secara keseluruhan apakah hasil pelaksanaan sudah sesuai dengan apa yang menjadi harapan dan tujuan pelaksanaan storytelling?
h. Hasil teknik storytelling dalam meningkatkan minat baca anak usia dini di TK Bhayangkari 04 Sumbawa
Bagaimana perbandingan minat baca anak sebelum dan sesudah di terapkan storytelling dalam proses pembelajaran di kelas?
Apa
indikator/aspek
90
yang menjadi acuan minat baca anak naik/meningkat kan?
5. Evaluasi dan tindak lanjut
i. Keberlasungan dan tindak lanjut storytelling dalam meningkatkan minat baca
Bagaimana tindak lanjut yang dilakukan terhadap keberlangsunga n proses dan hasil
pelaksanaan storytelling?
6. Faktor penghambat penerapan kegiatan belajar
dengan teknik storytelling dalam
meningkatkan minat baca anak usia dini
j. Faktor
penghambat pada saat penerapan teknik storytelling
Apa saja faktor penghambat yang dialami pada saat kegiatan storytelling dilaksanakan?
Bagaimana upaya guru dalam mengatasi kesulitan yang ditemui pada saat proses pembelajaran berlangsung?
91
GUIDE WAWANCARA BIMBINGAN BELAJAR DENGAN TEKNIK STORYTELLING DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA ANAK
USIA DINI DI TK KEMALA BHAYANGKARI 04 SUMBAWA Lembar Wawancara Anak
No. Aspek yang diteliti
Indikator Pertanyaan
1. Tahap awal persiapan
a. Ketercapaian dan pelaksanaan dalam tahap persiapan yang dilakukan
Apakah ibu guru sering mendongeng di kelas?
Dongeng apa saja yang sering ibu guru
bacakan?
Apakah ibu guru
mendongeng menggunakan boneka tangan?
2. Proses penerapan teknik storytelling
b. Ketertarikan siswa dalam mengikuti kegiatan
storytelling dari awal sampai akhir
Apakah adik- adik suka jika ibu guru
mendongeng di kelas?
Apakah adik- adik suka jika ibu guru mendongeng menggunakan boneka tangan?
Apakah adik- adik suka dengan buku cerita yang bergambar?
c. Waktu kegiatan storytelling
Kapan biasanya ibu guru
membacakan
92
dongeng?
3. Hasil
Pelaksanaan Storytelling
d. Aspek Kesadaran Apakah adik- adik suka melihat buku cerita?
Apakah adik- adik suka membaca buku?
Buku apa saja yang sering adik-adik baca?
e. Aspek Perhatian Kalau ibu guru mendongeng apakah adik- adik
memperhatikan bu guru?
Apakah adik- adik suka mengantuk jika ibu guru
mendongeng?
f. Aspek Rasa Senang
Apakah adik senang jika setiap hari ibu guru
mendongeng di kelas?
Apakah adik merasa senang ketika bu guru memainkan wayang dan boneka tangan?
g. Aspek Frekuensi Apakah adik pernah bermain di pojok baca
93
kelas dan perpustakaan?
Apakah adik setiap hari bermain di pojok baca dan perpustakaan?
Apakah adik suka melihat koleksi buku cerita yang ada di sana?
Buku apa saja yang sering adik baca di sana?
4. Evaluasi dan tindak lanjut
h. Keberlasungan dan tindak lanjut storytelling dalam meningkatkan minat baca
Apakah ibu guru
mempersilahka n adik untuk maju ke depan kelas untuk membaca buku?
Apakah ibu guru
memberikan pertanyaan kepada adik setelah
mendongeng?
94 5. Faktor
pendukung dan
penghambat penerapan kegiatan belajar
dengan teknik storytelling dalam
meningkatkan minat baca anak usia dini
i. Faktor pendukung Ketika ibu guru mendongeng apakah bu guru selalu
menggunakan boneka tangan dan wayang?
Apakah di kelas adik memiliki banyak koleksi buku cerita?
95
GUIDE OBSERVASI BIMBINGAN BELAJAR DENGAN TEKNIK STORYTELLING DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA ANAK
USIA DINI DI TK KEMALA BHAYANGKARI 04 SUMBAWA Lembar Observasi Guru
No. Langkah-langkah pembelajaran Ya/
Tidak
Keterangan 1. Guru
memili h ceerita sesuai dengan materi pelajar an.
Isi cerita sesuai dengan SK dan KD.
Guru
menggunakan kosakata yang mudah
dimengerti siswa 2. Guru
dapat mengk ondisik an kegiata n belajar mengaj ar.
Guru menata tempat duduk siswa sebelum bercerita
Guru
mempersiapkan media
pembelajaran sesuai dengan materi cerita dalam storytelling.
Guru
mempersiapkan bahan ajar sesuai materi cerita dalam storytelling.
Guru memotivasi siswa untuk belajar membaca
96
Guru melakukan apersepsi
pembelajaran terkait dengan materi cerita dalam storytelling.
Guru melakukan peneguran saat siswa bicara sendiri/mondar mandir.
3. Guru memba wakan cerita dengan baik dan menari k
Guru
menyampaikan cerita dengan lafal yang jelas.
Guru
menampilkan mimic wajah berubah-ubah saat
memerankan beberapa tokoh sesuai cerita dalam storytelling.
Guru
menggunakan suara yang berbeda pada setiap tokoh sesuai cerita dalam storytelling.
Guru
memperhatikan intonasi suara saat bercerita.
4. Guru melibat
Guru
membawakan
97 kan
siswa dalam kegiata n bercerit a
cerita secara komukatif.
Guru memberi kesempatan kepada anak untuk
mempersiapkan dan
memperagakan tokoh dalam bercerita.
5. Guru mengaj ukan pertany aan menge nai isi cerita dan mengai tkan dengan materi pelajar an kepada anak
Guru mengaitkan cerita dengan mata pelajaran lain.
Guru
memberikan kesemptan anak untuk
menanyakan hal-hal yang terkait dengan isi cerita.
Guru
memberikan kesempatan siswa untuk menanggapi cerita yang disampaikan guru.
Guru
mengajukan pertanyaan pada siswa terkait isi cerita.
Sumbawa, …..,…..2022 Observer
98
Lembar Observasi Siswa Variabe
l
Indikator Butir Pernyataan Ya/
Tida k
Keteranga n
Minat Belajar
Kesadara n
Ketika bermain anak lebih suka membaca di pojok buku
Ketika diberikan sebagai macam mainan anak lebih suka memilih buku Perhatian Siswa tidak
berbicara sendiri ketika guru mendongeng
Siswa tidak mengantuk ketika guru mendongeng
Siswa suka dengan
boneka/wayangy ang digunakan guru
Siswa tidak bermain sendiri ketika guru mendongeng
Memperhatikan buku cerita
Membuka-buka buku kemudian membaca buku cerita bergambar tersebut
Rasa Senang
Siswa merasa senang ketika