• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penerapan Bimbingan Belajar dengan Teknik

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN

B. Deskripsi Hasil dan Pembahasan

2. Hasil Penerapan Bimbingan Belajar dengan Teknik

49

melihat daya serap anak ketika mendengar cerita dan mengecek daya ingat siswa mengenai cerita yang disampaikan oleh gurunya.

2. Hasil Penerapan Bimbingan Belajar dengan Teknik

50

senang ketika anak-anak melihat buku cerita yang miliki gambar, sehingga anak menjadi tertarik untuk membaca.”76 Berdasarkan paparan guru-guru kelompok B1 diatas, dapat disimpulkan bawah untuk menentukan berhasil atau berpengaruh program storytelling yakni dengan melihat perbandingan sebelum dilakasanakan program storytelling dan setelah dilaksanakan program storytelling dengan mengacu kepada beberapa indikator atau aspek diantaranya:

a. Aspek kesadaran

Aspek kesadaran merupakan salah satu aspek untuk mengukur minat baca anak dilihat dari seberapa jauh anak menyadari dan mengetahui akan manfaat membaca buku.

Aspek kesadaran ini, dimana anak memiliki inisiatif dalam membaca buku dengan sendirinya.

Hal ini sesuai dengan hasil wawancara peneliti dengan Ibu Ira yang mengatakan:

“Yah, untuk kesadaran dan inisiatif anak dalam membaca sebelum adanya program storytelling masih kurang. Contoh kecilnya saja, kalau guru tidak menyuruh mereka mengambil buku bacaan mereka tidak mengambilnya. Akan tetapi setelah dilaksanakan kegiatan storytelling kesadaran dan inisiatif anak mulai tumbuh, karena didalam kegiatan storytelling ini, kami guru tidak hanya sekedar bercerita namun disana kami juga memasukkan nilai-nilai moral yang dapat menstimulasi anak.”77

Hal ini juga disampaikan pula oleh siswa kelompok B1 yang bernama Milka yang mengatakan:

“Kak, kalau setelah Milka selesai mengerjakan tugas yang dikasih sama bu guru, biasanya Milka pergi main

76 Ibu Iin, Guru Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 15 Maret 2022.

77 Ibu Ira, Guru Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 12 Maret 2022.

51

ke dipojok baca. Disana banyak buku cerita yang ada gambarnya.”78

Siswa yang bernama Avi juga menuturkan:

“Setelah bu guru selesai bercerita Avi biasanya pergi ke perpustkaan atau pojok baca buat milih-milih buku cerita yang bagus, lalu Avi meminta bu guru untuk membacanya.”79

Selain Milka dan Avi ada juga siswa yang bernama Dhavin yang mengatakan:

“Kalau pulang sekolah Avin minta ke mama buat dibelikan buku cerita yang banyaj gambarnya.”80

Alisah siswa kelompk B1 juga menuturkan:

“Alisah suka membaca buku soalnya bu guru bilang kalau orang yang suka membaca buku bisa menjadi orang sukses kalau sudah besar. Dan Alisah pengen jadi dokter.”81

Pernyataan diatas juga diperkuat dengan hasil wawancara peneliti dengan Ibu Iin wali kelas kelompok B1 yang menuturkan:

“Setelah adanya program atau kegiatan belajar dengan teknik storytelling ini, aspek kesadaran dan inisiatif anak mulai tumbuh seperti ketika mereka mendengar bel keluar bermain berbunyi mereka biasanya kebanyakan bermain di dalam kelas terutama di pojok baca dikelas karena disana terdapat buku-buku dengan berbagai gambar yang menarik perhatian anak, tidak hanya itu dekorasi pojok baca yang didominasi gambar-

78 Milka, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 9 Maret 2022.

79 Avi, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 10 Maret 2022.

80 Dhavin, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 12 Maret 2022.

81 Alisah, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 10 MAret 2022.

52

gambar yang unik sehingga membuat anak tertarik untuk bermain disana.”82

Dari paparan data diatas dapat simpulkan bahwa dalam melihat minat baca anak dapat diukur dari beberapa aspek salah satunya yakni aspek kesadaran anak akan membaca buku.

Sebelum adanya kegiatan storytelling kesadaran anak-anak kelompok B1 masih kurang, hal ini dilihat dari sikap anak yang dimana ketika anak tidak memiliki inisiatif untuk mengambil dan membaca bukunya jika tidak disuruh oleh ibu guru. Namun setelah dilaksanakan kegiatan storytelling dikelas, anak mulai memiliki kesadaran akan membaca dan memperhatikan buku dan ada siswa yang meminta orang tuanya untuk dibelikan buku cerita. Hal ini dilihat dari perubahan sikap anak yang dimana ketika mereka menyelesaikan tugas yang berikan oleh gurunya, beberapa dari mereka memilih bermain di pojok bacaan dan perpustakaan sekolah. Selain itu, pojok bacaan yang ada disetiap kelas dengan dekorasi yang beragam dan unik membuat anak tertarik dan betah untuk bermain dan melihat buku cerita yang sudah disediakan disana.

b. Aspek perhatian

Aspek perhatian merupakan salah satu aspek dalam mengukur minat baca anak yang dimana anak memiliki perhatian terhadap buku dan merasa tertarik dalam membaca buku dengan sendirinya.

Hal ini sesuai dengan hasil wawancara peneliti dengan Ibu Ira yang selaku pendongeng yang mengatakan:

“Yah, untuk aspek perhatian terhadap membaca sebagian anak masih belum memilikinya. misalnya, ketika anak diminta untuk memperhatikan dan mendengarkan ketika guru membaca buku cerita didepan kelas namun anak masih belum bisa memperhatikannya. Ketika salah satu dari anak diminta untuk membaca didepan anak masih terlihat bingung

82 Ibu Iin, Guru Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 11 Maret 2022.

53

hanya diam saja. Hal ini dikarenakan pada saat pembelajaran membaca anak tidak menggunakan media buku cerita yang bergambar atau alat peraga lainnya hanya menggunakan buku cerita yang tida terdapat gambar yang berwarna warni. Sehingga anak merasa tidak tertarik karena media yang digunakan sebelumnya tidak bervariasi. Namun setelah kami mengubah metode pembelajaran dengan teknik storytelling serta menggunakan media gambar dan beberapa alat peraga didukung juga dengan pojok yang semakin menarik membuat anak menjadi tertarik untuk melihat dan membaca buku yang ada pojok baca. Tidak hanya itu, ketika saya bercerita terutama menggunakan boneka tangan membuat anak semakin antusias untuk mendengar dan memperhatikan cerita yang saya sampaikan.”83

Hal ini juga disampaikan pula oleh siswa yang bernama dhavin yang mengatakan:

“Dhavin suka lihat bu guru bercerita dengan boneka tangan kak, terus suara bu guru berubah jadi suara anak.”84

Siswa lain yang bernama Alisah juga menuturkan:

“Saya suka mendengar bu guru jika mendongeng di pojok baca kelas, karena saya suka melihat gambar tembok pojok baca, ada pohonnya terus ada gambar anak-anak yang lagi baca buku. Jadi alisah sering juga main disana.”85

Avi siswa kelompok B1 juga mengatakan:

“Avi senang membaca cerita karena bu guru suka bercerita dikelas.”86

83 Ibu Ira, Guru Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 12 Maret 2022.

84 Dhavin, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 14 Maret 2022.

85 Alisah, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 15 Maret 2022.

86 Avi, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa 12 Maret 2022.

54

Selain itu ada Milka juga yang suka jika bu guru mengajar menggunakan media, Milka mengatakan:

“Saat bu guru cerita biasanya selain menggunakan alat peraga bu guru juga menggunakan laptop (audio visual) buat bercerita kak.”87

Pernyataan diatas diperkuat juga dengan hasil observasi peneliti dimana ketika pembelajaran membaca berlangsung untuk menarik perhatian anak guru-guru di TK Kemala Bhayangkari menggunakan beberapa media seperti audio visual, buku cerita bergambar dan boneka tangan. Dengan menggunakan media membuat suasana belajar tidak menoton dan tidak membuat anak menjadi pasif. Anak-anak menjadi berantusias untuk menunggu gurunya menceritakan buku-buku cerita yang ada dipojok kelas.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa aspek perhatian anak sebelum menggunakan storytelling dengan media kondisi anak masih kurang dalam memperhatikan dan mendengarkan guru bercerita. Sehingga ketika anak diminta untuk menceritakan kembali cerita tersebut didepan kelas, kadang mereka diam dan bingung untuk menjawab ibu gurunya. Namun setelah metode dan bimbingan belajar diubah dengan menggunakan storytelling didukung pula dengan media seperti boneka tangan dan buku cerita yang memiliki beragam gambar yang berwarna membuat anak menjadi tertarik untuk memperhatikan dan mendengar cerita yang disampaikan oleh ibu guru.

c. Aspek rasa senang

Aspek rasa senang merupakan salah satu aspek untuk mengukur minat baca anak, yang dapat dilihat dari perubahan mimik muka yang merasa senang ketika melihat buku dan perasaan senang ketika membaca buku.

Adapun perubahan yang dirasakan oleh siswa kelompok B1 yakni setelah mengikuti kegiatan storytelling yang pertama terlihat perubahan pada ekpresi wajah. Bila sebelum mengikuti

87 Milka, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 12 Maret 2022.

55

kegiatan storytelling, ketika belajar anak sering mengantuk, tidak memiliki semangat, lesu dan tidah bergairah, dan pasif.

Maka setelah dilaksanakan kegiatan storytelling anak menjadi senang, lebih semangat dalam mendengarkan cerita yang disampaikan oleh guru, anak menjadi aktif untuk menanyakan cerita yang disampaikan.

Paparan data ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Ibu Ira selaku guru kelompok B1 yang melakukan storytelling.

“Ketika anak datang sekolah, biasanya ada bebarapa diantara mereka yang kelihatan lesu dan mengantuk.

Sehingga sebelum kegiatan belajar dimulai, setelah berdoa biasanya saya mengajak anak-anak bernyanyi dulu agar anak dapat kembali semangat. Untuk membuat anak semangat dan tidak mengantuk saat proses pembelajaran membaca, saya menggunakan teknik storytelling. Setelah saya membacakan buku yang bergambar dan kadang-kadang juga menggunakan boneka tangan, anak-anak menjadi senang dan berantusias untuk mendengarkan cerita lagi. Tujuan saya menggunakan media ini, agar anak tidak merasa bosan dan mengantuk ketika saya melakukan storytelling.”88

Hal ini juga disampaikan pula oleh siswa yang bernama Alisah yang mengatakan:

“Bu guru sering mengajak kami bernyanyi sebelum belajar. Bu guru bilang biar semangat belajarnya kita nyanyi dulu iya, begitu kak.”89

Hal ini juga sejalan dengan yang disampaikan oleh Ibu Iin dimana beliau mengatakan:

“Setelah anak mengikuti storytelling, yang tadinya anak tidak suka membaca menjadi suka. sekarang mereka sudah mulai aktif bermain di pojok baca atau

88 Ibu Ira, Guru Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 21 Maret 2022.

89 Alisah, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 12 Maret 2022.

56

perpustakaan disekolah dan melihat koleksi-koleksi buku cerita yanga ada disana.”90

Adapun siswa yang bernama Avi juga menyampaikan:

“Saya senang melihat banyak buku cerita diperpustakaan, disana ada buku cerita tentang Landak yang Kesepian dan banyak buku cerita yang lainnya.”91 Selain Avi ada juga Milka yang mengatakan:

“Milka senang sekali kalau bemain di pojok baca dikelas Milka, disana banyak sekali mainan dan koleksi buku cerita bergambar yang bisa Milka warnai bersama teman-teman.”92

Ada Dhavin juga mengatakan:

“Avin juga senang kalau baca buku dipojok baca, buku yang Avin suka baca itu buku modul bhayangkari, soalnya banyak gambar dan Avin bisa warnai gambarnya.”93

Pernyataan diatas diperkuat dengan hasil observasi peneliti dimana anak-anak setelah dilakukan storytelling, mereka menjadi senang membaca, anak-anak dengan sendirinya megambil buku di pojok baca yang sudah disediakan tanpa diminta oleh guru.

Dari paparan data diatas dapat disimpulkan bahwa, minat baca anak kelompok B1, mulai tumbuh yang dapat dilihat dari segi aspek rasa senang anak dalam melihat buku dan membaca buku. Anak-anak merasa senang ketika guru melaksanakan kegiatan storytelling dikelas terutama ketika guru membacakan cerita dengan alat peraga ataupun dengan menggunakan buku cerita yang bergambar. Terlihat dari ekpresi yang mereka perlihatkan seperti ketika gurunya membawa cerita dengan boneka tangan yang lucu mereka

90 Ibu Iin, Guru Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 22 Maret 2022.

91 Avi, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 12 Maret 2022.

92 Milka, Siswa elompok B1, Wawancara, Sumbawa, 10 Maret 2022.

93 Dhavin, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 10 Maret 2022.

57

merasa senang dan meminta kepada guru agar mereka juga bisa ikut memperaktekannya.

d. Aspek frekuensi

Aspek frekuensi merupakan aspek dalam mengukur minat baca anak yang dimana dilihat dari seberapa banyak atau sering anak dalam membaca buku. Sebelum adanya kegiatan storytelling frekuensi membaca anak masih rendah. Hal ini dilihat dari data-data kunjungan siswa diperpustakaan. Selain itu, koleksi buku bacaan siswa yang ada dirumahnya masih minim. Namun setelah kegiatan storytelling dilaksanakan di kelas anak mulai terlihat perubahannya yakni anak mulai sering mengunjungi perpustakaan disaat jam keluar main, anak juga sering bemain di pojok baca yang berada di setiap kelas.

Hal ini sesuai dengan hasil wawancara peneliti dengan Ibu Iin yang mengatakan:

“Yah, sebelum program storytelling ada anak-anak jarang bermain atau berkunjung ke perpustakaan sekolah. Selain itu sebagian anak masih tidak memiliki buku bacaan yang bisa mereka baca ketika dirumah. Hal ini membuat anak menjadi tidak terbiasa untuk membaca. Sehingga untuk mengatasi hal ini, kami menggunakan teknik storytelling ini, guna ingin menumbuhkan minat baca anak dan memberikan motivasi kepada anak dalam hal membaca.”94

Selain Ibu Iin ada Ibu Ira yang juga menyampaikan:

“Setelah dilaksanaan storytelling dikelas anak-anak sekarang mulai aktif berkunjung ke perpustakaan ataupun ke pojok baca yang ada dikelas. Terkadang mereka sering meminjam buku yang ada dipojok baca untuk mereka baca dirumahnya. Lalu keesokannya, anak-anak akan bercerita tentang apa yang mereka baca dari buku tersebut.”95

94Ibu Iin, Guru Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 15 Maret 2022.

95 Ibu Ira, Guru Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 14 Maret 2022.

58

Hal ini juga disampaikan pula oleh siswa kelompok B1 yang bernama Alisah yang mengatakan:

“Alisah kalau keluar main alisah sering main dipojok baca ini, disini Alisah bermain terus melihat buku-buku cerita yang seru. Biasanya Alisah meminjam buku cerita disini untuk Alisah baca dirumah, buku yang sering Alisah pinjam buku dongeng-dongeng seperti si kancil dan buaya.”96

Siswa yang bernama Dhavin juga mengatakan:

“Dirumah Avin punya banyak buku cerita yang dibeliin sama mama, ada cerita tentang Si Kancil juga.”97

Selain Alisah dan Dhavin, siswa yang benama Milka juga mengatakan:

“Milka juga sering meminjamkan buku di pojok baca buat dibaca dirumah.”98

Avi juga menuturkan bahwa:

“Avi biasanya suka pinjam buku teman Avi di kelas, biasanya kita saling tukar biar bisa sama-sama baca.”99 Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa minat baca anak kelompok B1 mulai meningkat dilihat dari aspek frekuensi atau seberapa sering anak membaca buku. Setelah kegiatan storytelling dilaksanakan anak-anak kelompok B1 mulai mengunjungi perpustakaan sekolah, selain itu ketika bel keluar main mereka biasanya memilih bermain di pojok baca yang ada dikelas mereka dan membaca buku tanpa disuruh lagi oleh gurunya. Dengan berbagai koleksi buku yang beragam membuat anak penasaran untuk membacanya. Sehingga sebagian dari mereka ada yang berinisiatif untuk meminjamkan

96 Alisah, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 12 Maret 2022.

97 Dhavin, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 12 Maret 2022.

98 Milka, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 10 MAret 2022.

99 Avi, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 10 Maret 2022.

59

buku disana untuk dibaca dirumah atau untuk didongengkan lagi oleh orangtua mereka.

Selain perubahan dari segi aspek minat baca tersebut ada juga perubahan pada sikap anak setelah mengikuti kegiatan storytelling. Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara peneliti dengan guru kelompok B1 mengatakan:

“Selain perubahan rasa senang anak, adapun perbedaannya, jika sebelum storytelling mereka belum mengetahui tentang sesuatu hal, maka setelah dilaksanakannya storytelling mereka mendapatkan pengetahuan tentang hal-hal tertentu sesuai dengan tema atau cerita yang disampaikan dalam storytelling tersebut.

Lalu setelah mengetahuinya mereka mencoba untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.”100

Selain dalam menumbuhkan minat baca, program storytelling banyak memberikan pengaruh positif bagi anak sehingga akan telihat pada perubahan tingkah laku anak tersebut. Perbedaan anak sebelum dan sesudah mendapatkan kegiatan belajar dengan storytelling yaitu sebelum dilaksanakan penyampaian materi dengan storytelling anak belum mengetahui sesuatu hal, dan setelah dilaksanakannya storytelling dengan rutin dan terus menerus anak mendapatkannya pengetahuan tentang hal-hal tertentu sesuai dengan tema dari cerita yang disampaikan dalam storytelling tersebut. Lalu setelah mengetahuinya mereka mencoba untuk menerapkannya dalm kehidupan sehari-hari.

Ketertarikan seseorang dapat dilihat bagaimana ia bertindak atau bersikap, mulai dari memperhatikan, mengamati dan mendengarkan. Kegiatan tersebut dapat dilihat adanya perubahan pada anak setelah mendengarkan storytelling.

Hal ini sesuai dengan hasil wawancara peneliti dengan guru kelompok B1 mengatakan:

100Ibu Ira, Guru Kelompok B1, Wawanara, Sumbawa, 15 Maret 2022.

60

“Pengaruh yang nampak terlihat setelah diberikan