• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Pendukung dan Penghambat dalam

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN

B. Deskripsi Hasil dan Pembahasan

3. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam

60

“Pengaruh yang nampak terlihat setelah diberikan

61

kegiatan bimbingan belajar dengan teknik storytelling di TK Kemala Bhayangkari 04 Sumbawa diantaranya; semangat dan kerjasama antar pendidik untuk terus belajar dan mengembang pembelajaran.

Hal ini senada dengan hasil wawancara peneliti dengan Ibu Ira guru kelompok B1 mengatakan:

“Salah satu faktor pendukung terpenting dalam program storytelling yakni kerjasama antar guru atau pendidik disini. Kerjasama dalam mengembang program belajar sangat penting dilakukan, karena untuk mendapatkan hasil belajar yang baik metode pembelajaran harus terus dikembangkan agar anak-anak tidak merasa bosan dikarenakan metode yang digunakan metode-metode itu saja.”102

Hal ini juga diperkuat dengan hasil wawancara peneliti dengan kepala sekolah TK Kemala Bhayangkari yang menuturkan:

“Setiap minggu kami tetap mengadakan rapat dengan guru-guru disini, rapat ini diadakan satu kali dalam seminggu untuk melihat bagaimana hasil belajar siswa dan mengevaluasi program-program belajar yang diterapkan di TK Kemala Bhayangkari.”103

Selain faktor semangat dan kerjasama antar pedidik, media belajar juga merupakan salah satu faktor pendukung untuk mendukung pelaksanaan kegiatan storytelling agar anak menjadi tertarik untuk mendengarkan dan memperhatikan gurunya ketika menyampaikan sebuah cerita seperti alat peraga berupa boneka tangan, wayang dan buku cerita yang bergambar.

102 Ibu Ira, Guru Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 14 Maret 2022.

103 Magdalena, Kepala Sekolah, Wawancara, Sumbawa, 10 Maret 2022.

62

Hal ini senada dengan hasil wawancara peneliti dengan Ibu Ira selaku guru kelompok B1 mengatakan:

“Yah, untuk menarik perhatian anak agar fokus mendengarkan dan memperhatikan guru ketika kegiatan storytelling yakni kami biasanya menggunakan media buku cerita yang bergambar, kemudian ada boneka tangan yang kami gunakan dalam menyampaikan cerita kepada anak.”104

Hal ini juga disampaikan pula oleh siswa kelompok B1 yang bernama Alisah yang mengatakan:

“Iya, ketika ibu mendongeng dikelas biasanya ibu menggunakan buku cerita yang ada gambarnya, setelah itu bu guru membagikan kami satu persatu untuk dibaca dan diwarnai.”105

Adapun siswa lain yang benama Avi juga mengatakan:

“Ketika ibu bercerita didepan biasanya ibu menggunakan boneka tangan dan ibu guru menggunakan suara anak kecil. Jadinya lucu teman- teman Avi pada ketawa kalau bu guru memainkan boneka tangan itu.”106

Kelas yang luas, rapi dan memiliki pojok baca yang didesain dengan tema yang sesuai dengan usia anak juga menjadi faktor pendukung dalam kegiatan storytelling. Dengan ruangan kelas yang rapi dan dilengkapi dengan adanya pojok baca sekaligus dengan berbagai mainan dan koleksi buku bacaan yang bervariasi membuat anak betah berada didalam kelas.

Hal ini senada dengan hasil wawancara Ibu Iin selaku wali kelas Kelompok B1 yang mengatakan:

104 Ibu Ira, Guru Kelompok B1, Wawamcra, Sumbawa, 15 Maret 2022.

105 Alisah, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 12 Maret 2022.

106 Avi, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 12 Maret 2022.

63

“Ruangan kelas yang bersih dan rapi dilengkapi juga dengan berbagai alat mainan serta adanya pojok baca dengan desain yang sangat menarik perhatian anak membuat anak menjadi betah berada dikelas.”107

Hal ini juga disampaikan oleh siswa yang bernama Dhavin yang mengatakan:

“Di dalam kelas saya, ada pojok baca yang sangat bagus sekali, ada gambar binatang dan anak-anak juga.

Banyak buku cerita juga kak, jad saya senang kalau pergi sekolah.”108

Siswa yang bernama Milka juga mengatakan:

“Di kelas banyak buku cerita yang ada dipojok baca, dan Milka jadi semangat buat belajar.”109

Pernyataan diatas diperkuat juga dengan hasil observasi peneliti, yang dimana disetiap kelas di TK kemala Bhanyangkari memiliki pojok baca dengan beragam tema gambar yang dilukis di dinding kelas sehingga membuat anak menajdi senang dan betah kalau berada di sekolah.

Dari paparan data diatas dapat disimpulkan bahwa faktor pendukung dalam kegiatan storytelling diantaranya semangat dan kerjasama antar pendidik dalam mengembangkan program storytelling ini. Kerjasama antar pendidik sangat penting dalam menentukan hasil akhir dari pembelajaran yang diberikan kepada anak-anak. Jika metode pembelajaran yang digunakan metode yang menoton tanpa adanya kreatifitas pendidik dalam menyusun RKH (rencana kegiatan harian) maka hasil yang akan didapatkan akan tidak seusai dengan tujuan pembelajan tersebut. Selain itu, faktor media yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan storytelling seperti buku cerita bergambar, alat peraga berupa boneka tangan atau wayang juga

107 Ibu Iin, Guru Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 14 Maret 2022.

108 Dhavin, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 11 Maret 2022.

109 Milka, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 15 Maret 2022.

64

mempengaruhi tingkat keberhasilan dari program ini. Sehingga ketika pelaksanaan kegiatan storytelling di TK Kemala Bhayangkari guru tetap menggunakan media agar anak mau memperhatikan dan mendengarkan gurunya disaat menyampaikan cerita. Tidak hanya itu, ruangan kelas yang rapi dan dilengkapi dengan masing-masing pojok baca dengan koleksi buku cerita yang beragam juga menjadi faktor pendukung dalam pelaksanaan kegiatan storytelling guna dalam meningkatkan minat baca anak di TK Kemala Bhayangkari.

b. Faktor penghambat

Adapun faktor penghambat dalam pelaksanaan kegiatan storytelling di TK Kemala Bhayangkari Sumbawa diantaranya masih minimnya para pelaku dongeng (pendongeng) yang benar-benar menguasai ilmunya. Artinya, banyak di antara mereka yang hanya sekedar “bisa” mendongeng, sehingga hasilnya mendongeng malah menjadi sesuatu yang membosankan bagi anak di kemudian hari. Kemudian kurangnya pemahaman masyarakat akan begitu banyaknya manfaat dari dongeng terutama dalam penumbuhan minat baca anak.

Sebagaimana yang dituturkan oleh Ibu Ira selaku guru yang memberikan storytelling, beliau menuturkan:

“Hambatan yang sering kami temuin ketika melakukan storytelling yakni disini masih minim guru yang benar- benar bisa melakukan storytelling, tidak semua guru disini bisa melaksanakan storytelling dikelas. Tidak hanya itu, anak-anak yang belum terbiasa mendengar dongeng juga menjadi hambatan kami, anak-anak yang susah diatur membuat pelaksanaan kegiatan storytelling menjadi kurang efektif.”110

110 Ibu Ira, Guru Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 16 Maret 2022.

65

Pernyataan diatas diperkuat juga dengan hasil wawancara peneliti dengan kepala sekolah:

“yah, disini masih minim guru yang benar-benar bisa melakukan storytelling, karena kegiatan storytelling ini tidka hanya sekedar mendongeng saja, namun juga harus bisa menguasai teknik mendongeng dengan baik agar pendengar mau mendengar dongeng yang disampaikan oleh guru. Oleh karena itu, kami bersama ketua Yayasan Kemala Bhayangkari lagi merancang sebuah pelatihan tentang storytelling untuk tenaga pendidik disini sehingga guru-guru disini dapat melakukan kegiatan storytelling dengan baik.”111

Dari pemaparan diatas dapat peneliti simpulkan bahwa hambatan yang ditemuin oleh guru pada saat melakukan storytelling yang dimana masih kurangnya guru yang bisa menguasai teknik storytelling dengan baik. Tidak hanya itu, terkadang kegiatan storytelling tida berjalan secara efektif dikarenakan anak-anak susah diatur kemudian ada beberapa anak yang mengantuk ketika menengar dongeng karena anak tidak terbiasa mendengar dongeng. Hal ini, disebabkan karena kurangnya perhatian orang tua dalam mengajarkan anak.

Kepala sekolah bersama dengan ketua yayasan kemala bhayangkari masih merancang sebuah pelatihan tentang storytelling dengan tujuan agar tenaga pendidik atau guru-guru di TK Kemala Bhayangkari bisa melakukan kegiatan storyteliling dengan baik di kelas.

111 Magdalena, Kepala Sekolah, Wawancara, Sumbawa, 14 Maret 2022.

66 BAB III