• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Proses Penerapan Bimbingan Belajar dengan

BAB III PEMBAHASAN

A. Analisis Proses Penerapan Bimbingan Belajar dengan

66 BAB III

67 64

meningkat. Karena kegiatan storytelling ini penting bagi anak, maka kegiatan tersebut harus dikemas sedemikian rupa supaya menarik.

Menumbuhkan minat baca anak itu

sangat penting untuk dilakukan dari anak usia dini, karena membaca merupakan suatu kunci dasar pengetahuan, tidak akan ada pengetahuan tanpa membaca dan juga suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis seseorang.

Dari hasil pengamatan dan hasil wawancara peneliti dengan beberapa siswa dan guru di TK Kemala Bhayangkari 04 Sumbawa, peneliti menganalisis proses penerapan bimbingan belajar dengan teknik storytelling dalam meningkatkan minat baca anak yakni ada tiga tahapan diantaranya:

1. Tahap Persiapan

Berdasarkan hasil penelitian, persiapan guru sebelum melaksanakan metode storytelling yakni persiapan program, guru memilih cerita yang disesuaikan dengan tema. Menentukan waktu yang tepat untuk melaksanakan metode storytelling yakni seminggu tiga kali di hari senin, rabu, dan kamis. Kegiatan ini dilakukan pada jam belajar membaca yang dilaksanakan secara konsisten. Hal ini diharapkan dengan stimulasi yang konsisten menggunakan storytelling, akan menumbuhkan dan miningkatkan minat baca anak. Sedangkan pesiapan mengajar yakni guru memahami isi buku cerita dengan membacanya terlebih dahulu sebelum diceritakan kepada anak. Memilih buku cerita yang sesuai dengan tema dan usia anak meliputi dongeng Si Kancil dan buaya, Kura-Kura dan Monyet, lalu menyiapkan setting ruangan untuk metode storytelling yakni menyiapkan alas duduk, merapikan ruangan, mengatur posisi duduk anak menyiapkan alat peraga seperti boneka tangan, wayang dan sebagainya. Susunan persiapan storytelling tesebut sesuai dengan pendapat Buantana yang perpendapat bahwa pada tahap persiapan bimbingan belajar dengan teknik storytelling yaitu memilih cerita yang sesuai dengan usia anak dan tema dalam rencana kegiatan harian (RKH), menyiapkan alat peraga untuk menunjang penampilan dan kostum dalam mendongeng agar anak dapat memperhatikan

68

dan mendengar guru saat menyampaikan cerita.113 Memilih jenis storytelling yang sesuai dengan usia anak merupakan salah satu bagian penting dalam tahap ini, karena jenis storytelling yang digunakan akan memberi pengaruh kepada pendengar.

2. Tahap Pelaksanaan

Berdasarkan hasil penelitian, langkah-langkah pelaksanan teknik storytelling yang ada di TK Kemala Bhayangkari 04 Sumbawa yakni guru menyiapkan posisi duduk anak membentuk dua baris, huruf “O”, dan huruf “U”, hal tersebut dilakukan guru supaya anak-anak dapat memperhatikan guru saat bercerita dengan jelas. Selain itu, guru juga menyiapkan alat peraga berupa buku cerita bergambar dan alat peraga seperti boneka tangan yang akan digunakan dalam pelaksanaan kegiatan storytelling.

Penggunaan media atau alat peraga tersebut sesuai dengan pendapat Asfandiyar dan MacDonald yang menyatakan salah satu penunjang berlangsungnya proses storytelling agar menjadi menarik untuk disimak yakni perlu adanya alat peraga seperti misalnya boneka tangan kecil yang dipakai di tangan untuk mewakili tokoh yang menjadi materi dongeng.114

Guru mengisi kegiatan pembuka pertama dengan mengajak anak membaca judul cerita dan recalling yakni dengan tanya jawab tentang cerita yang pernah diceritakan, lalu mengaitkan cerita yang akan dibacakan dengan kehidupan yang pernah dialami anak, saat menceritakan isi cerita guru mengembangkan cerita dengan ekspresi mimik wajah berupa ekpresi sedih, senang, gembira, suara meliputi suara anak kecil, perempuan, laki-laki, bapak atau ibu, dan ekspresi gerakan meliputi gerakan tokoh yang lemah lembut dan lincah juga dibedakan, guru menyelipkan humor untuk menggembirakan anak, berolah suara, mimik dan pantomimik sehingga membangkitkan minat dan semangat anak untuk terus menyimak.

Hal tersebut beberapa teknik dan faktor penunjang yang digunakan guru kelompok B1 untuk menghidupkan suasana

113 Ichsan Solihudin, Hypnosis For Parents: Melenjitkan Potensi Buah Hati,….

hlm. 70-71

114Ibid, hlm. 71

69

cerita yang sejalan dengan pendapat Asfandiyar dan MacDonald antara lain : a) kontak mata, guru melakukan kontak mata dengan audience, b) mimik wajah, dapat menunjang hidup atau tidaknya sebuah cerita yang disampaikan, c) gerak tubuh, untuk menggambarkan jalan cerita agar cerita yang disampaikan tidak menjadi membosankan dan audience berantusias lagi mendengarkan cerita, d) suara, e) kecepatan, pendongeng harus mengatur kecepatan atau tempo pada saat storytelling, dan f) alat peraga, untuk menarik minat anak-anak dalam proses storytelling.

Guru juga menyelipkan nasehat dan motivasi yang dapat di contoh dan tidak dalam cerita dengan cara tanya-jawab bersama anak yang merupakan salah satu bentuk penanaman moral anak melalui storytelling.

Hal ini sejalan teori manfaat storytelling yang disampaikan oleh Asfandiyar yang mengatakan storytelling merupakan sarana untuk “mengatakan tanpa mengatakan”, maksudnya storytelling dapat menjadi sarana untuk mendidik anak tanpa perlu menggurui.115 Dan yang terkahir penutup cerita guru mengajukan pertanyaan pada anak perntanyaan berkaitan dengan cerita untuk mengetahui kepemahaman anak terhadap cerita.

Berdasarkan keterkaitan antara hasil dilapangan dengan teori yang menguatkan tentang prosedur pelaksanaan metode storytelling tersebut maka dapat dikatakan bahwa storytelling di TK Kemala Bhayangkari 04 Sumbawa cenderung memenuhi standar pelaksanaan metode storytelling dalam menumbuhkan dan meningkatkan minat baca anak.

3. Tahap Evaluasi

Evaluasi hasil belajar pada metode storytelling di kelompok B1 dilakukan guru dengan cara observasi. Kegiatan observasi guru meliputi guru mempersilahkan salah satu anak untuk membaca ulang cerita dari buku cerita yang telah diceritakan. Saat anak membaca buku cerita, guru mendampingi anak sambil melakukan pengamatan terrhadap kemampuan membaca pada setiap anak secara bergiliran. Langkah selanjutnya guru melakukan penilaian

115 Urip Widodo, Menulis dan Storytelling Jakata Bahasa Inggris…. Hlm. 100

70

terhadap kemampuan membaca pada setiap anak dengan memberikan mereka simbol stiker di buku modul mereka masing- masing. Penilaian ini dapat mendorong siswa untuk lebih giat belajar secara terus menerus. Selain itu dengan adanya penilaian dalam tahap evaluasi bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa, sehingga guru dapat mengambil keputusan mengenai perkembangan anak khususnya pada kemapuan membaca anak.

Hal ini sesuai dengan pendapat Sudirman N, dkk, yang mengatakan tujuan penilaian dalam proses pembelajaran yaitu untuk mengambil keputusan tentang hasil belajar siswa, memahami siswa dan mengetahui sampai sejauh mana dapat memberikan bantuan terhadap kekurangan siswa, serta penilaian ini juga bermaksud untuk memperbaiki dan mengembangkan program pembelajaran.116 Dengan demikian evalusi bertujuan untuk memperbaiki dan mendalami dan memperluas pelajaran, dan untuk memberitahukan atau melaporkan kepada para orang tua/wali siswa mengenai penentuan kenaikan kelas atau penentuan kelulusan siswa.

B. Analisis Hasil Penerapan Bimbingan Belajar dengan Tenik