• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Penerapan Bimbingan Belajar dengan

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN

B. Deskripsi Hasil dan Pembahasan

1. Proses Penerapan Bimbingan Belajar dengan

di TK Kemala Bhayangkari 04 Sumbawa

Pada observasi yang dilakukan peneliti serta hasil wawancara yang sudah peneliti lakukan pada beberapa anak dan guru di TK Kemala Bhayangkari 04 Sumbawa, menghasilkan beberapa temuan data dilokasi penelitian, diantaranya proses penerapan teknik storytelling dalam pembelajaran ternyata beberapa diantaranya memiliki kesamaan sebagaimana seperti penjelasan teori yang sudah peneliti tuliskan pada bab 1.

Dalam proses penerapan teknik storytelling ini, ada beberapa tahapan yang akan dilakukan oleh guru, diantaranya tahap persiapan sebelum melakukan storytelling, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi.

a. Tahap Persiapan

Pada tahap persiapan yakni proses yang dilakukan guru menyiapkan keperluan yang berhubungan dengan pelaksanaan teknik storytelling. Persiapan yang dilakukan oleh guru antara

36

lain yakni menyiapkan tema dan judul cerita yang sesuai dengan usia anak, guru memahami isi buku cerita, guru juga menyiapkan bahan atau media pendukung yang digunakan untuk storytelling.

Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara yang dikemukakan oleh Ibu Ira selaku guru kelas kelompok B1 TK Kemala Bhayangkari 04 Sumbawa:

“Ya kalau bentuk persiapan sebelum melaksanakan storytelling diantaranya g uru menentukan tema dan judul cerita mengacu pada RKH yang sebelumnya sudah dibuat untuk bahan ajar selama satu tahun. Selain itu, guru juga menentukan metode yang akan digunakan dalam penyapaian storytelling tersebut. Entah itu, menggunakan alat praga atau hanya menggunakan buku bergambar. Guru juga melakukan penataan posisi duduk anak, dan menyiapkan ruangan untuk storytelling yang bervariasi supaya anak tidak jenuh, kadang di perpustakaan, ditaman baca, dan di kelas.

Terus di kelas pun biasa dikarpet dan duduk di kursi.”46 Hal ini juga disampaikan oleh salah satu siswa kelompok B1 yang bernama Alisah yang mengatakan:

“Sebelum bu guru mengajar bu guru menyiapkan alat peraga yang akan digunakan saat bercerita seperti boneka tangan dan alat perga lainnya.”47

Selain Alisah ada juga Avi yang mengatakan:

“Sebelum kegiatan belajar selain bu guru menyiapkan alat peraga biasanya bu guru juga menyiapkan media gambar yang akan ditujukkin ke kami.”48

Pernyataan tersebut sejalan dengan hasil wawancara dengan kepala sekolah sebagai berikut :

46 Guru Ira, Wawancara, Sumbawa, 7 Maret 2022.

47 Alisah. Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 10 Maret 2022.

48 Avi, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 10 Maret 2022.

37

“Kalau untuk pemilihan metode, tema kemudian judul cerita itu saya memberikan otonomi kepada guru kelas selama metode yang digunakan itu bagus untuk mestimulus minat baca anak, karena yang namanya metode itu, yang jelas semua metode itu bagus namun penggunaan metode yang tepat itu yang penting diterapkan saat melihat kondisi kelas yang bagaimana, misalnya di RKH itu sudah tertulis guru menggunakan metode mendongeng, atau bernyanyi, namun di prakteknya bisa berubah melihat kondisi kelas. Yang jelas saya sebagai kepala sekolah memberikana rambu- rambu bahwasanya penggunakan metode dan pemilihan tema dan alat praga yang akan digunakan di sesuaikan dengan keutuhan dikelas masing-masing, toh walaupun sama materinya namun dikelas satu dengan lainnya bisa berbeda metode pembelajarannya, tapi memang ada panduan standarnya.”49

Sebelum mendongeng, banyak hal yang perlu diperhatikan agar mendongeng dapat berjalan dan mencapai tujuan yang diinginkan. Seperti pemilihan jenis storytelling yang akan diberikan kepada anak-anak. Guru memilih jenis storytelling yang sesuai dengan usia anak yang dapat mengundang imajinasi, inpirasi, dan kreativitas anak. Begitu juga di TK Kemala Bhayangkari, salah satu jenis storytelling yang digunakan oleh guru seperti jenis storytelling pendidikan yaitu jenis dongeng yang dapat mendidik dan mengandung nilai moral yang dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari.

Selain itu, terkadang guru juga menggunakan jenis storytelling fabel yaitu jenis dongeng tentang kehidupan binatang yang menggambarkan dapat bicara seperti manusia. Cerita fabel sangat luwes digunakan untuk menyindir perilaku manusia tanpa membuat manusia tersinggung. Seperti, dongeng monyet dan kura-kura, kancil dan buaya, landak yamg kesepian, burung onta dan kasuari dan sebagainya.

49 Magdalena, Kepala Sekolah, Wawancara, Sumbawa, 9 Maret 2022.

38

Hal tesebut sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan Ibu Ira selaku guru kelompok B1 yang mengatakan:

“Untuk membuat anak gemar dalam membaca, biasanya guru menggunakan jenis bacaan yang mengandung banyak pesan moral untuk anak-anak seperti menggunakan dongeng ibu dan anak, kemudian dongeng binatang yang bertujuan untuk membuka imajinasi anak-anak. Seperti dongeng monyet dan kura- kura yang menceritakan tentang keserakan seekor monyet yang memakan semua pisang kura-kura. Selain itu biasanya kami juga memakai buku modul bhayangkari yang memiliki banyak bentuk gambar dengan kata-kata yang sederhana dan singkat sehingga anak mudah memahami isi bacaan dari buku modul tersebut.”50

Hal ini juga disampaikan pula oleh salah satu siswa yang bernama Milka dikelompok B1 tentang persiapan yang dilakukan oleh ibu guru nya dalam melakukan storytelling:

“Setelah kami membaca doa belajar, ibu guru langsung meminta kami mengambil buku modul bhayangkari di pojok baca kak. Terus biasanya ibu guru juga membagikan kami kertas lembaran yang bergambar sebelum ibu guru memulai cerita.”51

Siswa yang bernama Dhavin juga menuturkan:

“Sebelum belajar bu guru meminta kami untuk menurunkan kursi kami masing-masing dan mengatur posisi kami.”52

Pernyataan tersebut diperkuat dengan hasil wawancara dengan Ibu Iin selaku guru kelompok B1 juga mengatakan:

“Sebelum memberikan bimbingan belajar kepada anak- anak disini, terlebih dahulu guru akan menyiapkan

50 Ibu Ira, Guru Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 7 Maret 2022.

51 Milka, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 9 Maret 2022.

52 Dhavin, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 9 Maret 2022.

39

bahan bacaan yang dominan bergambar, karena menyesuaikan dengan usia anak usia dini yang dimana anak-anak lebih menyukai animasi. Tidak hanya itu, untuk membuat anak mandiri biasanya kami melibatkan mereka dalam tahap ini, seperti meminta mereka mengambil buku modul mereka masing-masing dipojok baca kelas, meminta tolong kepada mereka untuk menurunkan kursi dari meja sebelum kegiatan belajar dimulai.”53

Dari paparan diatas peneliti dapat menyimpulkan bahwa pada tahap persiapan sebelum melalukan storytelling guru menyiapkan beberapa bahan dan media yang akan nantinya digunakan dalam kegiatan storytelling. Seperti menentukan tema dan judul cerita yang akan disampaikan kepada anak-anak, lalu menyiapkan media pendukung seperti buku cerita bergambar, modul bhayangkari dan boneka tangan, kemudian guru juga mengatur posisi anak agar pada saat bercerita anak-anak dapat melihat dan mendengar apa yang disampaikan oleh guru dengan baik dan jelas. Selain itu, jenis storytelling atau cerita juga dapat mempengaruhi kegiatan storytelling, yang dimana jenis cerita dipakai oleh guru harus sesuai dengan usia anak dikarenakan jika jenis cerita yang dibacakan adalah cerita untuk orang dewasa, maka anak-anak susah dalam mencerna alur dari cerita tersebut. Guru juga melibatkan peserta didik dalam tahap persiapan ini, seperti meminta tolong kepada mereka untuk menyiapkan buku bacaan, buku tulis, dan alat tulis mereka sendiri dengan tujuan guru ingin membuat anak-anak menjadi mandiri.

b. Tahap pelaksanaan

Dalam pelaksanaan storytelling terdapat berbagai macam metode yang dapat digunakan seperti dengan menggunakan alat peraga dan tidak menggunakan alat peraga.

53 Ibu Iin, Guru Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 10 Maret 2022.

40

Anak usia dini menyukai berbagai macam teknik atau metode yang ditawarkan dalam memberikan alternatif kegiatan storytelling. Misalnya storytelling dengan menggunakan buku, storytelling dengan peraga (boneka, origami, papan flannel, wayang), storytelling melalui audio visual, dan storytelling yang tidak menggunakan alat peraga yaitu storytelling menggunakan ekpresi dan berbagai macam suara.

Hal tersebut senada dengan hasil wawancara peneliti dengan Ibu Ira yang mengatakan:

“Ketika guru memberikan bimbingan belajar dengan storytelling, kami biasanya menggunakan media seperti buku bergambar, audio visual, alat peraga (boneka tangan) yang bertujuan untuk menarik perhatian anak.

Namun media yang sering kami gunakan yakni buku bergambar dan boneka tangan. Karena lebih praktis dibandingkan media lainnya.”54

Hal tersebut disampaikan juga oleh siswa kelompok B1 yang bernama Dhavin, yang mengatakan:

“Ibu guru ketika bercerita memakai boneka tangan, terus juga ibu guru menggunakan buku yang ada gambarnya. jadi Avin sama teman-teman suka ketawa karena bu guru lucu.”55

Selain Dhavin, siswa yang bernama Milka juga menuturkan:

“Saat bu guru bercerita bu guru terkadang tidak menggunakan alat peraga, dan terkadang juga memakai alat peraga kak.”56

Pernyataan tersebut senada dengan hasil observasi peneliti 12 Maret 2022 dalam melakukan storytelling guru menggunakan buku bergambar, audio visual dan alat peraga seperti boneka tangan yang dijadikan sebagai salah satu faktor

54 Ibu Ira, Guru Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 12 Maret 2022.

55 Dhavin, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 10 Maret 2022.

56 Milka, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 10 Maret 2022.

41

pendukung pelaksanaan storytelling yang dilakukan oleh guru pendidik.

Selain itu, teknik storytelling atau mendongeng yang digunakan oleh guru pendidik dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yaitu dengan menanyakan kepada anak tentang hal-hal yang akan dimunculkan dalam dongeng.

Misalnya anak diajak menyanyikan lagu yang sesuai dengan tema yang akan di ceritakan, menirukan suara binatang sebagai tokoh utama dalam cerita, menanyakan tentang setting tempatnya dan tokoh ceritanya yang kedua melalui gambar, menanyakan judulnya dan sebagainya. Dari beberapa hal yang ditanyakan oleh pendongeng tersebut akan dapat membawa anak-anak pada dongeng yang akan disampaikannya.

Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara dengan Ibu Ira guru kelompok B1:

“Sebelum memulai kegiatan storytelling, biasanya guru melakukan kegiatan pembukaan cerita yakni mengantarkan hal-hal yang dekat dengan kehidupan anak kemudian dihubungkan dengan cerita yang akan diceritakan seperti dongeng kancil dan kura-kura.”57 Hal ini juga disampaikan oleh siswa yang bernama Dhavin yang menuturkan:

“Sebelum bu guru mulai bercerita bu guru biasanya menanyakan kami tentang cerita yang sudah disampaikan diminggu lalu seperti menanyakan kami tentang judul cerita kemaren, tadi malam Dhavin belajar membaca tidak? seperti itu kak.”58

Pernyataan tersebut senada dengan hasil observasi peneliti 12 Maret 2022 guru mengawali cerita dengan kata-kata yang membuat anak semakin antusias seperti kata “hei/hello”

yang merupakan kata unggulan yang dijadikan guru untuk

57 Ibu Ira, Guru Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 12 Maret 2022.

58 Dhavin, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 9 Maret 2022.

42

membuka cerita supaya anak lebih berdebar-debar dengan isi cerita didalamnya. Selanjutnya guru memperkenalkan tokoh- tokoh yang ada dalam cerita dengan meminta anak menebak dan menunjuk gambar yang ada di buku tersebut.

Sejalan dengan hasil penelitian pada hari berikutnya, kegiatan pembukaan pada storytelling “monyet dan kura-kura”

guru mengawali cerita dengan recalling tanya jawab dari cerita sebelumnya sebagai berikut:

“Guru: “Anak-anak kemarin bu guru sudah becerita tentang apa saja?”

Anak-anak: “Kancil dan Kura-kura bu guru.”

Guru: “Pinter, nah kalau sifat Kancil itu gimana?”

Anak-anak: “Kancil curang dan sombong bu guru.”

(anak-anak bersahut-sahutan menjawab pertanyaan bu guru)

Guru: “Kalau sifatnya kura-kura?”

Anak-anak: “baik dan pantang menyerah bu guru”.

Guru: “Sifat curang dan sombong baik atau tidak?”

Anak-anak: “Tidak bu guru”.

Guru: “Pinter… Jadi kita tidak boleh sombong atau curang iya sama teman sendiri karena itu bukan sifat yang baik”.

Anak-anak: “Baik bu guru”.59

Setelah melakukan recalling guru masuk ke apersepsi untuk cerita selanjutnya yang berjudul “Monyet dan Kura- kura”, berikut cuplikan catatan lapangannya:

“…Guru : “Assalamualaikum wr.wb” (Sambil memperagakan boneka tangan dan ekspresi suara anak- anak)

Anak-anak : “Waalaikum salam wr.wb” (Serempak menjawab salam)

Guru : “Teman-teman kali ini bu guru akan bercerita tentang apa ya judulnya, teman-teman bisa membacanya tidak?”

Anak-anak : “Bisaaa, judulnya monyet dan kura-kura”.

(Anak-anak bersahutan-sahutan menjawabnya)

59 Ibu Ira, Guru Kempok B1, Catatan Lapangan, Sumbawa, 10 Maret 2022.

43

Guru : “Pintar, iya judulnya monyet dan kura-kura, tempuk tangan semuanya…”60

Berdasarkan catatan lapangan tersebut guru melakukan kegiatan pembukaan menggunakan alat tambahan yaitu boneka tangan sebagai penggantar ke cerita inti. Penggunaan media tambahan boneka tangan merupakan salah satu cara yang digunakan oleh guru supaya menarik perhatian anak agar mau meperhatikan guru.

Selain media dan alat peraga, bentuk ekspresi yang diperlihatkan oleh guru pada saat kegiatan storytelling berlangsung juga sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan storytelling tersebut.

Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara peneliti dengan Ibu Ira selaku guru yang melakukan storytelling:

“Saat melakukan storytelling bentuk ekspresi, suara dan intonasi saat bercerita juga sangat penting. Bentuk ekspresi, suara dan intonasi yang saya peragakan menyesuaikan dengan cerita, kalau sedang memerankan tokoh kura-kura ya lemah lembut, kalau sedang memerankan tokoh yag tertawa terbahak-bahak ya saya mencontohkan tertawa terbahak-bahak, setiap pembicaraan saya pasti memberikan ekspresi sedih, senang, menangis, takut, terkejut, dan lain-lain yang maksimal dan juga memeperagakannya bertujuan agar anak dapat masuk mengikuti alur cerita.”61

Hal tersebut juga disampaikan oleh siswa kelompok B1 yang bernama Avi yang menuturkan:

“Bu guru kalau cerita suaranya suka beda-beda, kadang suaranya seperti anak kecil kadang juga kaya suara mama Avi. Terus bu guru biasanya jika ceritanya sedih bu guru akting nangis.”62

60 Ibu Ira, Guru Kelompok B1, Catatan Lapangan, Sumbawa, 10 Maret 2022.

61 Ibu Ira, Guru Kelompo B1, Wawancara, Sumbawa, 12 Maret 2022.

62 Avi, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 14 Maret 2022.

44

Selain itu, siswa yang bernama Alisah juga menuturkan tentang ekpresi gurunya ketika bercerita:

“Bu guru kalau bercerita ekpresinya suka berubah- ubah, kadang bu guru ketawa, nangis terus kalau ceritanya tentang anak yang penakut bu guru juga ngikut berekpresi takut.”63

Pernyataan tersebut diperkuat dengan hasil observasi peneliti yang dimana ketika proses pelaksanaan storytelling berlangsung guru memperagakan bentuk-bentuk ekspresi seperti ekpresi sedih, takut, marah, dan terkejut. Kemudian suara yang digunakan juga berbeda-beda menyesuaikan dengan tokoh ceritanya.

Dengan menggunakan media dan alat peraga dalam pelaksanaan storytelling dapat menarik perhatian anak, untuk mempermudah anak dalam membaca buku cerita seperti buku cerita bergambar sehingga membuat anak menjadi lebih tertarik dalam mendengarkan guru bercerita.

Hal ini sesuai dengan hasil wawancara peneliti dengan Milka yakni salah satu siswa yang minat baca masih kurang:

“Milka suka dengar dongeng, tapi Milka lebih suka kalau bu guru bercerita menggunakan boneka tangan”.64

Hasil wawancara peneliti dengan Dhavin:

“Kakak, Avin suka dongeng. Avin suka ketika bu guru membawa buku cerita yang punya banyak gambarnya”.65

Pernyataan tersebut diperkuat dengan hasil wawancara peneliti dengan Ibu Ira yang mengatakan:

“Anak-anak sangat antusias ketika saya melakukan storytelling dengan mengunakan media, bahkan mereka

63 Alisah, Siswa Kelompok B1, Wawancara, 14 Maret 2022.

64 Milka, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 15 Maret 2022.

65 Dhavin, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 15 Maret 2022.

45

memberikan komentar dan tanggapan disetiap saya melakukan adegan yang lucu. Ada beberapa dari mereka yang sangat antusias sampai merangkak maju- maju kedepan kelas.”66

Hal ini juga diperkuat dengan hasil observasi peneliti, pada saat guru melakukan storytelling anak-anak sangat antusias untuk mendengar cerita dan beberapa anak-anak penasaran dengan alat peraga yang digunakan oleh guru.

Terkadang anak juga ingin ikut memperagakan alat praga yang digunakan oleh guru.

Storytelling pada anak-anak tidak semudah itu, seorang guru atau storyteller harus bisa menciptakan suasana yang menyenangkan bagi anak-anak dengan tujuan supaya anak tidak cepat bosan dan merasa jenuh ketika melakukan storytelling.

Hal tesebut sesuai dengan hasil wawancara peneliti dengan guru kelompok B1 yang mengatakan:

“Saat bercerita, saya selalu menyisipkan humor pada setiap kesempatan untuk menghidupkan suasana, tidak hanya itu saya juga melakukan interaksi tanya jawab dengan anak-anak untuk menjaga anak masih memperhatikan cerita saya.”67

Pernyataan tersebut dipekuat dengan hasil observasi peneliti, salah satu cara guru untuk menghidupkan suasana ketika melakukan storytelling guru menambahkan kata-kata yang humor atau kalimat lucu yang membuat anak mejadi tertawa, selain itu guru juga melakukan interaksi dengan anak- anak dengan memberikan beberapa pertanyaan yang sesuai dengan isi cerita tersebut.

Selain itu, terkadang ketika mendongeng dengan durasi yang lama dapat membuat anak menjadi bosan dan mengantuk.

66 Ibu Ira, Guru Kempok B1, Wawancara, Sumbawa, 12 Maret 2022.

67Ibu Ira, Guru Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 12 Maret 2022.

46

Hal ini membuat anak menjadi tidak fokus memperhatikan storyteller.

Hal ini sesuai dengan hasil wawancara peneliti dengan guru kelompok B1 mengatakan:

“Hal yang membuat bosan anak dan tidak memperhatikan cerita guru salah satunya, durasi atau waktu bercerita. Durasi yang terlalu panjang dapat membuat anak bosan sehingga anak sulit menangkap apa yang disampaikan oleh guru. Ketika diawal pembelajaran, saya akan melakukan Storytelling terlbih dahulu sekitar 5-7 menit untuk mestimulus kognitif anak terhadap apa yang sudah dipelajari di minggu kemaren.”68

Metode storytelling tidak terlepas dari unsur moral yang terdapat dalam cerita. Maka dari itu, untuk menyampaikan pesan moral kepada anak-anak diperlukan komukasi dengan bahasa anak-anak dapat mengambil hikmah atau pelajaran penting untuk kehidupan anak.

Hal ini senada dengan hasil wawancara dengan Ibu Ira, mengatakan :

“Saya memasukkan nasehat dengan cara mengambil intisari diakhir cerita kemudian mengomukasikan pada anak dengan cara tanya jawab hal-hal yang patut di contoh dan tidak dalam cerita.”69

Pernyataan tesebut diperkuat dengan hasil observasi peneliti, sebagai berikut:

“Guru: Monyet memakan semua pisang kura-kura, (sambil mempraktekkan ekpresi makan). Boleh tidak kita mengambil barang milik teman?

Anak-anak: Tidak boleh bu guru.

68Ibu Ira, Guru Kempok B1, Wawancara, Sumbawa, 12 Maret 2022.

69 Ibu Ira, Guru Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 12 Maret 2022.

47

Guru: Kalau ada yang mengambil barang temannya, itu namanya apa?

Anak-Anak: Pencuri bu guru.

Guru: Nah, jadi kita tidak boleh mengambil sesuatu atau barang yang bukan miliki kita iya, seperti yang dilakukan oleh si monyet yang mengambil semu pisang kura-kura.

Anak-anak: iya bu guru.”

Berdasarkan hasil observasi tersebut guru melakukan kegiatan penutup diisi dengan kegiatan tanya jawab yang berkaitan dengan cerita dan disisipi pesan moral yang dapat dijadikan bahan pelajaran untuk anak kemudian dilanjutkan guru menawarkan untuk membaca ulang cerita.

c. Tahap Evaluasi

Tahap evaluasi merupakan dimana guru melakukan evaluasi hasil kegiatan storytelling dengan cara mendampingi anak secara bergiliran membaca buku cerita bergambar dari cerita yang selesai diceritakan.

Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan Ibu Ira mengakan:

“Untuk melakukan evaluasi pembelajaran saya biasanya mengajak anak untuk membaca ulang cerita, jadi setelah anak membaca kalimat yang ada pada buku cerita maka saya tahu anak yang sudah bisa dan yang memerlukan dampingan lebih. Selain itu terkadang saya juga membuat kuis dengan menanyakan beberapa pertanyaan sederhana yang dapat mudah dipahami oleh anak.”70

Hal tesebut juga disampaikan pula oleh siswa yang bernama Milka yang mengatakan:

“Setelah bercerita bu guru meminta kami untuk mewarnai gambar yang diceritakan sama ibu guru, terus

70 Ibu Ira, Guru Kempok B1, Wawancara, Sumbawa, 14 Maret 2022.

48

kalau sudah selesai bu guru meminta Milka membacanya didepan teman-teman.”71

Siswa lain juga mengatakan:

“Sebelum kami pulang bu guru biasnaya memberikan kami kuis tentang cerita yang disampikan oleh bu guru, kalau yang bisa jawab baru dikasih pulang sama bu guru.”72

Dhavin juga menuturkan bahwa:

“Setelah bu guru bercerita bu guru meminta kami untuk membaca ulang didepan kelas kak.”73

Pernyataan tersebut juga diperkuat dengan hasil wawancara peneliti dengan Avi siswa kelompok B1 yang mengatakan:

“Setelah bercerita bu guru memberikan kami lembar kerja yang berisi gambar, terus bu guru meminta kami untuk menulis nama-nama gambar tersebut.”74

Dari beberapa pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa pada tahap evaluasi ini, guru mestimulasi anak untuk membaca tulisan dalam buku cerita terlebih dahulu. Jika anak merasa kesulitan dalam membaca kata yang berimbunan, maka anak diperbolehkan untuk melihat keterangan gambar untuk meminimalisir kesalahan dalam pengucapan. Jika anak masih tetap kesulitan maka guru membantunya, jika anak masih kesulitan anak diperbolehkan untuk membaca gambar dalam buku carita sambil mengingat cerita yang telah diperdengarkan dengan kalimatnya sendiri. Selan itu, guru juga membuat kuis yang sederhana mengenai cerita yang telah guru sampaikan kepada siswa biasanya kami melakukan kuis diakhir pembelajaran sebelum pulang. Tujuan dari kuis ini untuk

71 Milka, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 10 Maret 2022.

72 Alisah, Siswal Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 10 Maret 2022.

73 Dhavin, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 10 Maret 2022.

74 Avi, Siswa Kelompok B1, Wawancara, Sumbawa, 12 Maret 2022.

49

melihat daya serap anak ketika mendengar cerita dan mengecek daya ingat siswa mengenai cerita yang disampaikan oleh gurunya.

2. Hasil Penerapan Bimbingan Belajar dengan Teknik