Bab 9 Kebersihan dan Kesehatan Pribadi
10.2 Penilaian Patologi Lingkungan
10.2.1 Analisis Paparan dan Dosis Respon
Penilaian patologi lingkungan terhadap efek faktor lingkungan sering berhubungkan dengan faktor yang sangat spesifik dan dapat diukur secara kuantitatif. Oleh karena itu konsep paparan dan dosis penting dalam analisis patologi lingkungan.
Pemaparan memiliki dua dimensi, yaitu: kadar dan durasi. Untuk faktor lingkungan yang menyebabkan efek akut kurang lebih segera setelah mulai terpapar, kadar paparan saat ini menentukan apakah efek terjadi atau tidak (misalnya, kematian karena penyakit paru-paru dan jantung akibat "epidemi asap London".). Namun, banyak faktor lingkungan menghasilkan efek hanya setelah paparan jangka panjang. Hal ini terjadi akibat bahan kimia yang terakumulasi dalam tubuh (misalnya, kadmium) dan materi berbahaya yang memiliki efek kumulatif (misalnya, radiasi atau kebisingan). Untuk bahaya ini,
kadar paparan masa lalu dan durasi paparan lebih penting daripada kadar paparan saat ini. Total paparan (atau dosis eksternal) harus diperkirakan. Hal ini sering diperkirakan sebagai hasil dari durasi paparan dan kadar paparan(Baker and Fidler, 2006).
Dalam kajian patologi lingkungan, semua jenis perkiraan paparan dan dosis digunakan untuk mengukur hubungan antara faktor lingkungan dan status kesehatan suatu populasi. Sebagai contoh, paparan dinyatakan dalam kadar paparan saja (jumlah rokok yang dihisap per hari). Dosis eksternal juga dapat dinyatakan sebagai suatu ukuran gabungan, misalnya jumlah bungkus pertahun untuk merokok atau serat pertahun (atau partikel pertahun) untuk paparan asbes di tempat kerja. Kadang-kadang digunakan ukuran untuk mewakili paparan, seperti arus lalu lintas per jam di tempat tertentu atau konsumsi bensin per tahun sebagai indikator dari paparan polusi udara.
Variabel ini juga bisa dianggap sebagai indikator "tekanan" dalam hirarki kausal. Contoh lain misalnya umlah penggunaan pestisida di suatu daerah atau jumlah anak yang tinggal di rumah-rumah yang dicat dengan cat yang mengandung timah.
Jika faktor lingkungan yang diteliti adalah bahan kimia, maka kadar dan dosis paparan kadang-kadang dapat diperkirakan dengan mengukur konsentrasi dalam cairan tubuh atau jaringan. Pendekatan ini disebut pemantauan biologis. Darah dan urin adalah yang paling sering digunakan untuk pemantauan biologis, tetapi untuk bahan kimia tertentu jaringan dan cairan tubuh lainnya mungkin merupakan perhatian khusus,misalnya: rambut berguna untuk penelitian paparan methylmercury dari ikan; kliping kuku digunakan untuk mempelajari paparan arsen; analisis tinja dapat memberikan perkiraan paparan baru untuk logam melalui makanan (terutama timbal dan kadmium), ASI adalah bahan yang baik untuk memeriksa paparan pestisida organoklorin dan hidrokarbon terklorinasi lainnya seperti polychlorinated biphenyls dan dioxin; biopsi lemak, tulang, paru-paru, hati dan ginjal digunakan pada penelitian terhadap pasien yang dicurigai keracunan.
Interpretasi terhadap data pemantauan biologis memerlukan pengetahuan rinci tentang kinetika dan metabolisme bahan kimia, yang meliputi data tentang penyerapan, akumulasi transportasi, dan ekskresi. Karena adanya ekskresi cepat bahan kimia tertentu, hanya paparan yang paling baru saja yang dapat diukur. Kadang-kadang satu jaringan atau cairan tubuh mengindikasikan paparan terakhir dan yang lainnya menunjukkan dosis total. Karena bahan kimia harus diserap untuk mencapai materi indikator biologis, dosis yang
diukur dengan cara ini disebut dosis serap atau dosis internal, sebagai lawan dosis eksternal yang diperkirakan dari pengukuran lingkungan.
Pengukuran Individu Versus Kelompok(Baker and Fidler, 2006) 1. Variasi dalam waktu
Pengukuran paparan individu bervariasi berdasarkan waktu. Oleh karena itu frekuensi pengukuran dan metode yang digunakan untuk memperkirakan paparan atau dosis dalam penelitian epidemiologi memerlukan pertimbangan cermat. Perkiraan yang digunakan harus valid, dan pengukuran harus disertai dengan prosedur jaminan kualitas yang mengonfirmasi akurasi pengukuran.
2. Variasi dalam paparan
Ada juga variasi dalam paparan atau dosis antar individu. Bahkan orang-orang bekerja secara berdampingan di pabrik memiliki kadar paparan yang berbeda karena kebiasaan kerja yang berbeda atau perbedaan dalam distribusi polutan lokal. Sebagai contoh, suatu mesin dapat mengalami kebocoran asap sementara yang lain mungkin tidak. Jika paparan atau dosis diukur dengan pemantauan biologis, maka dibutuhkan sumber tambahan yaitu variasi perbedaan tingkat penyerapan dan ekskresi individu untuk bahan kimia tersebut. Bahkan orang-orang dengan dosis eksternal yang sama mungkin memiliki dosis internal yang berbeda.
3. Isu distribusi
Salah satu cara menyajikan variasi individu adalah melalui kurva distribusi.
Distribusi dosis bahan kimia lingkungan pada individu lebih condong berbentuk miring dan sesuai dengan frekuensi distribusi log-normal daripada distribusi normal. Idealnya, bentuk distribusi dosis harus diuji dalam setiap penelitian epidemiologi di mana pengukuran dosis dilakukan secara kuantitatif.
Jika distribusi yang ditemukan adalah log-normal, maka perbandingan kelompok harus dilakukan dengan geometris bukan aritmatika dan deviasi standar.
Cara lain adalah dengan menggunakan kuantil atau persentil, Misalnya, jika dipertimbangkan menilai dosis timbal pada kelompok anak-anak, hasil rata- rata yang didapatkan mungkin kurang menguntungkan dibanding dari proporsi dosis individu di atas ambang tertentu. Jika tingkat timbal dalam darah 100μg/l adalah ambang efek timbal pada otak, maka informasi tentang tingkat rata-rata dalam suatu kelompok (misalnya 70 μg/l) tidak memberikan indikasi berapa banyak anak-anak bisa terpengaruh. Mungkin lebih informatif bahwa 25% dari anak-anak memiliki tingkat timbal dalam darah di atas 100μg/l .
4. Pengukuran terhadap efek
Pertimbangan yang sama untuk penyajian sarana atau persentil penting untuk pengukuran terhadap efek. Terdapat peningkatan kekhawatiran akan efek bahan kimia lingkungan pada perkembangan intelektual dan perilaku anak- anak. Dalam beberapa penelitian, intelligence quotient (IQ) diukur. Perbedaan rata-rata IQ antar kelompok seringkali sangat kecil dan subkelompok yang mendapat perhatian khusus terdiri dari anak-anak dengan IQ sangat rendah.
Namun, penurunan kecil pada nilai pertengahan skala IQ penuh 107-102 dalam penelitian klasik oleh Needleman dkk. seperti yang ditunjukkan pada Tabel 9.4, dapat menghasilkan peningkatan besar dalam proporsi anak-anak dengan IQ di bawah 70 (dari 0,6% sampai 2%), yang merupakan suatu ambang batas untuk keterbelakangan mental pada anak-anak.
5. Dosis populasi
Dalam penelitian epidemiologi kanker yang disebabkan oleh faktor lingkungan atau pekerjaan, kadang- kadang digunakan cara lain untuk menyajikan dosis kelompok. Ini adalah dose commitment= dosis komitmen atau dosis populasi, yang dihitung sebagai jumlah dari dosis individu. Untuk radiasi, dosis komitmen 50 Sievert (Sv) diperkirakan akan menyebabkan satu kanker yang fatal.
Apakah dosis komitmen mengacu pada 100 orang masing-masing dengan dosis 0.5Sv atau 10.000 orang masing-masing dengan dosis 5mSv, hasilnya adalah satu kasus kanker fatal. Perhitungan ini didasarkan pada asumsi dasar bahwa tidak ada ambang dosis individu di bawah risiko kanker nol dan bahwa risiko kanker meningkat secara linear dengan dosis. Namun, mungkin terdapat variasi dosis yang besar dalam kelompok, dan orang-orang dengan dosis tertinggi jelas memiliki risiko kanker individual yang lebih tinggi karena paparan lingkungan tersebut.