• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknologi Pendidikan Kesehatan

Dalam dokumen Buku Ilmu Kesehatan Masyarakat (Halaman 110-116)

Bab 6 Pendidikan Kesehatan Dengan Masyarakat

6.5 Teknologi Pendidikan Kesehatan

1. Pengertian

Yang dimaksud teknologi adalah kebutuhan penting dalam bidang apapun termasuk dalam ilmu kesehatan yang tidak hanya teori dan praktik saja namun teknologi juga mengambil peran penting dalam pelaksanaan pendidikan kesehatan. Sehingga kita dituntut untuk mengikuti perkembangan jaman dengan hadirnya informasi-informasi terbaru dan terupdate dalam bidang kesehatan. Teknologi kesehatan menurut commission on instructional technologi, USA adalah cara mendesain, menerapkan dan mengevaluasi

proses belajar secara menyeluruh untuk mencapai tujuan yang spesifik berdasarkan pada penelitian teori balajar komunikasi dan menggunakannya secara kombinasi dari beberapa sumber untuk mendapatkan pengajaran yang efektif.

Berdasarkan uraian di atas terdapat beberapa komponen dalam teknologi pendidikan yaitu:

a. Pendekatan sistem desain proses belajar mengajar.

b. Tujuan disesuaikan dengan metode dan teknik pendidikan.

c. Pelaksanaan yang efisien dan efektif.

d. Menerapkan pengetahuan ilmiah dalam proses belajar mengajar (Ali, 2010).

2. Unsur utama teknologi pendidikan kesehatan dan pengembangannya.

Ada tiga tahapan pengembangan teknologi pendidikan kesehatan menurut lewis Elton 1977 yaitu:

a. Tahap komunikasi massa

Tahap pertama dalam pengembangan teknologi pendidikan adalah komunikasi massa. Di mana skala ekonomi merupakan pertimbangan dalam penggunaan tahap ini yang artinya akan lebih banyak orang yang dapat dilatih tanpa perlu menambah jumlah pelatih sehingga akan lebih ekonomis. Misalnya penggunaan radio dan televisi bisa menjadi alternatif dalam memberikan pendidikan kesehatan masyarakat, apalagi dijaman modern ini hampir semua masyarakat memiliki gadget yang dapat dipergunakan untuk menerima informasi-informasi kesehatan melalui sosial media sehingga pemberian informasi kesehatan dapat menjangkau seluruh masyarakat.

b. Tahap belajar individual

Pembelajaran individu merupakan strategi untuk mengatur pembelajar sedemikian rupa sehingga seseorang mendapat perhatian yang lebih banyak.

Dasar teori ini pendidik memberikan stimulus kepada klien misalnya berupa pertanyaan atau meteri dan klien tersebut akan memberikan umpan balik terhadap stimulus yang diberikan kemudian pendidik Kembali memberikan umpan balik atau koreksi terhadap respon tersebut cara seperti ini disebut penguatan akan tetapi tahap belajar individu ini memiliki kekurangan yaitu

tidak dapat mengembangkan kerja kelompok seperti diskusi, keterampilan interpersonal dan sebagainya.

c. Tahap belajar secara kelompok

Teori belajar kelompok dikembangkan oleh Carl Rogers pada tahun 1960 di mana dalam teori ini dikembangkan bagaimana seseorang dapat berinteraksi dengan orang lain. Teknik yang digunakan dalam teori ini adalah dinamika kelompok yaitu di mana orang dapat berinteraksi satu sama lain melalui cara yang berbeda, misalnya simulasi, permainan dan studi kasus.

Bab 7

Penyampaian Pesan Kesehatan:

Metode dan Media

7.1 Pendahuluan

Kondisi dan situasi permasalahan kesehatan yaitu berhubungan dengan timbulnya penyakit-penyakit. Penyakit yang timbul bisa terdapat pada individual maupun penyakit yang timbul pada tingkatan komunitas. Penyakit tersebut muncul bukan hanya karena kelalaian ataupun kesalahan individu, keluarga ataupun tingkatan komunitas itu sendiri. Tingkat pengetahuan merupakan salah satu penyebab timbulnya suatu penyakit, ketidaktahuan ataupun mendapatkan informasi yang tidak relevan ataupun informasi yang salah bisa menimbulkan terjadinya suatu penyakit.

Upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan dilakukan berbagai tindakan mulai dari tindakan preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif.

Sebagai langkah awal dan yang sering dilakukan dalam mengatasi hal tersebut yaitu dengan preventif dan promotif. Melakukan pencegahan dan memberikan promosi mengenai sesuatu hal untuk mengatasi suatu penyakit dapat dilakukan dengan memberikan penyampaian pesan kesehatan baik secara indvidual ataupun komunitas.

Penyampaian pesan kesehatan ini merupakan bagian dari komunikasi kesehatan. Komunikasi kesehatan suatu tindakan menyampaian pesan ataupun pemindahan informasi dari satu orang merupakan salah satu fungsi dari komunikasi kesehatan dan merupakan bagian dari proses pendidikan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, merubah sikap dan perilaku individu, keluarga ataupun masyarakat terutama dalam hal kesehatan.

Pendidikan kesehatan yang bertujuan merubah perilaku individu, kelompok dan masyarakat, ternyata tidak cukup untuk meningkatkan derajat kesehatan, karena diluar itu masih banyak faktor atau determinan yang memengaruhi kesehatan dan berada diluar wilayah kesehatan. Determinan kesehatan tersebut tidak bisa diintervensi dengan pendidikan kesehatan, tapi harus lewat regulasi dan legislasi, melalui upaya mediasi dan advokasi. Upaya advokasi, dukungan sosial dan pemberdayaan inilah yang merupakan misi dan strategi utama dalam promosi kesehatan.

Promosi Kesehatan merupakan proses perubahan perilaku/proses belajar secara terencana pada diri individu, kelompok atau masyarakat dalam meningkatkan kemampuan (pengetahuan-sikap dan ketrampilan) untuk mencapai derajat hidup sehat yang optimal. (Dwi S, 2016) Tujuan Promosi Kesehatan secara umum adalah merubah perilaku di bidang kesehatan dan secara khusus membuat klien/masyarakat menyadari nilai kesehatan, mandiri mencapai hidup sehat dan memanfaatkan pelayanan kesehatan secara tepat guna. Secara operasional ditunjukan untuk membuat masyarakat dapat mengerti, bertanggung jawab, melakukan langkah-langkah positif untuk kesehatannya sendiri, sesuai tujuan intervensi perilaku dalam promosi kesehatan. (Dwi S, 2016).

Dalam mewujudkan tujuan promosi kesehatan yaitu membuat masyarakat mengerti dan bertanggung jawab melakukan langkah-langkah positif untuk kesehatannya, maka pesan kesehatan perlu disampaikan menggunakan media dan metode. Media dan metode dalam penyampaian pesan (Promosi Kesehatan) sebagai penguat untuk lebih membuat individu, keluarga ataupun masyarakat lebih memahami.

7.2 Metode Penyampaian pesan

Promosi ataupun Pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha menyampaikan pesan kesehatan kepada individu, keluarga dan masyarakat. Dengan adanya penyampaian pesan tersebut, maka individu, keluarga dan masyarakat dapat memperoleh pengetahuan kesehatan yang lebih baik.

a. Pengertian

Pendidikan / promosi kesehatan suatu proses di mana proses tersebut mempunyai input dan output. Faktor yang memengaruhi suatu proses pendidikan disamping faktor input nya itu sendiri juga faktor metode, faktor materi atau pesannya, faktir pendidik atau petugas serta media atau alat bantu penyampaian pesan.

Pengertian Metode dalam Promosi Kesehatan Metode (method), secara harfiah berarti cara. Selain itu metode atau metodik berasal dari bahasa Greeka, metha, (melalui atau melewati), dan hodos (jalan atau cara), jadi metode bisa berarti “ jalan atau cara yang harus di lalui untuk mencapai tujuan tertentu” Metode adalah cara teratur/sistematis yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai tujuan sesuai dengan yang dikehendaki (Janupurwono, 2015). Metode penyampian pesan kesehatan ini merupakan cara atau prosedur yang ditempuh untuk mencapai tujuan kesehatan. Hal ini berarti bahwa untuk input (sasaran pendidikan / promosi ) tertentu harus menggunakan cara tertentu pula. Misalnya untuk sasaran kelompok maka metodenya harus berbeda dengan sasaran massa ataupun individu (Soekidjo,2010).

b. Jenis Metode Promosi Kesehatan

Beberapa metode promosi kesehatan adalah metode individual, metode kelompok dan metode massa(publik).

1. Metode Individual (Perorangan)

Metode individual dalam pendidikan kesehatan digunakan untuk membantu perilaku baru atau membina seseorang yang telah mulai tertarik kepada suatu perubahan perilaku atau inovasi.

Bentuk pendekatan pada metode individual antara lain:

a. Bimbingan dan penyuluhan

Dengan cara ini kontak antara klien dengan petugas kesehatan lebih intensif .Setiap masalah yang dihadapi oleh klien dapat dikorek dan dibantu penyelesaiannya. Akhirnya klien akan dengan sukarela, berdasarkan kesadaran dan penuh pengertian akan menerima perilaku tersebut.

b. Interview (wawancara)

Interview atau wawancara sebenarnya merupakan bagian dari bimbingan dan penyuluhan. Wawancara petugas kesehatan dengan klien ditujukan untuk menggali informasi mengapa individu tidak atau belum menerima perubahan, individu tertarik atau belum menerima perubahan, untuk memengaruhi apakah perilaku yang sudah atau yang akan diadopsi itu mempunyai dasar pengertian dan kesadaran yang kuat. Apabila belum maka perlu penyuluhan yang lebih mendalam.

2. Metode Kelompok

Memilih metode kelompok harus mengingat besarnya kelompok sasaran serta tingkat pendidikan formal dari sasaran.

a. Kelompok Besar

Kelompok besar adalah apabila peserta penyuluhan lebih dari 15 orang.

Metode yang baik untuk kelompok besar antara lain ceramah dan seminar.

1. Ceramah

Metode ini baik untuk sasaran yang berpendidikan tinggi maupun rendah.

2. Seminar

Metode ini hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan pendidikan menengah ke atas. Seminar adalah suatu penyajian dari seorang ahli atau beberapa orang ahli tentang suatu topik yang dianggap penting dan dianggap hangat di masyarakat.

b. Kelompok Kecil

Bila peserta kegiatan kurang dari 15 orang biasanya kita sebut kelompok kecil.

Metode metode yang cocok untuk kelompok kecil adalah:

1. Diskusi Kelompok

Semua anggota kelompok dalam diskusi kelompok dapat bebas berpartisipasi dalam diskusi, maka formasi duduk para peserta diatur sedemikian rupa sehingga mereka dapat berhadap-hadapan atau saling memandang satu sama lain.

2. Curah Pendapat (brain storming)

Metode ini merupakan modifikasi metode diskusi kelompok. Prinsipnya sama dengan metode diskusi kelompok. Bedanya pada permulaan pemimpin kelompok memancing dengan satu masalah dan kemudian tiap peserta memberikan jawaban atau tanggapan (curah pendapat). Tanggapan atau jawaban-jawaban tersebut ditampung dan ditulis dalam flipchart atau papan tulis. Sebelum semua peserta mencurahkan pendapatnya tidak boleh dikomentari oleh siapapun. Baru setelah semua anggota mengeluarkan pendapatnya tiap anggota dapat mengomentari dan akhirnya terjadi diskusi.

3. Bola salju (snow Bolling)

Kelompok dibagi dalam pasangan-pasangan (1 pasang 2 orang) dan kemudian dilontarkan suatu pertanyaan atau masalah. Setelah lebih kurang 5 menit maka tiap 2 pasang bergabung menjadi satu. Mereka tetap mendiskusikan masalah tersebut dan mencari kesimpulannya. Kemudian tiap 2 pasang yang sudah beranggotakan 4 orang bergabung lagi dengan pasangan lainnya dan demikian seterusnya sehingga akhirnya akan terjadi diskusi seluruh anggota kelompok 4. Kelompok-kelompok kecil (Buzz Group)

Kelompok langsung dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil (buzz group) yang kemudian diberi suatu permasalahan yang sama atau tidak sama dengan kelompok lain. Masing-masing kelompok mendiskusikan masalah tersebut.

Selanjutnya hasil dari tiap kelompok didiskusikan kembali dan dicari kesimpulannya.

5. Bermain peran (Role Play)

Metode ini terdiri beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai pemegang peran tertentu untuk memainkan peranan, misalnya sebagai perawat atau bidan sedangkan anggota lainnya sebagai pasien atau anggota m atau anggota

masyarakat. Mereka memperagakan misalnya bagaimana interaksi atau berkomunikasi sehari-hari dalam melaksanakan tugas.

6. Permainan simulasi (Simulation Game)

Metode ini merupakan gabungan antara role play dengan diskusi kelompok pesan-pesan akan kesehatan disajikan dalam beberapa bentuk permainan seperti permainan monopoli.

3. Metode Massa (publik)

Metode pendidikan kesehatan massa dipakai untuk mengomunikasikan pesan- pesan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat yang sifatnya massa atau public. Dengan demikian, cara yang paling tepat adalah pendekatan massa.

Promosi kesehatan tidak membedakan umur, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial ekonomi, tingkat pendidikan dan sebagainya maka pesan-pesan kesehatan yang akan disampaikan harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat ditangkap oleh massa tersebut (Soekidjo, 2010).

c. Metode Promosi Kesehatan dapat digolongkan berdasarkan Teknik Komunikasi, Sasaran yang dicapai dan Indera penerima dari sasaran promosi.

1. Berdasarkan Teknik Komunikasi a. Metode penyuluhan langsung.

Dalam hal ini para penyuluh langsung berhadapan atau bertatap muka dengan sasaran. Termasuk di sini antara lain : kunjungan rumah, pertemuan diskusi (FGD), pertemuan di balai desa, pertemuan di Posyandu, dll.

b. Metode yang tidak langsung.

Dalam hal ini para penyuluh tidak langsung berhadapan secara tatap muka dengan sasaran, tetapi ia menyampaikan pesannya dengan perantara (media).

Umpamanya publikasi dalam bentuk media cetak, melalui pertunjukan film, dan sebagainya.

2. Berdasarkan Jumlah Sasaran Yang Dicapai a. Pendekatan Perorangan

Dalam hal ini para penyuluh berhubungan secara langsung maupun tidak langsung dengan sasaran secara perorangan, antara lain : kunjungan rumah hubungan telepon, dan lain-lain

b. Pendekatan Kelompok

Dalam pendekatan ini petugas promosi berhubungan dengan sekelompok sasaran. Beberapa metode penyuluhan yang masuk dalam ketegori ini antara lain : Pertemuan, Demostrasi, Diskusi kelompok, Pertemuan FGD, dan lain- lain

c. Pendekatan Masal

Petugas promosi kesehatan menyampaikan pesannya secara sekaligus kepada sasara yang jumlahnya banyak. Beberapa metode yang masuk dalam golongan ini adalah: Pertemuan umum, pertunjukan kesenian, Penyebaran tulisan/poster/media cetak lainnya, Pemutaran film, dan lain-lain.

3. Berdasarkan Indera Penerima

a. Metode Melihat/Memperhatikan. Dalam hal ini pesan diterima sasaran melalui indera penglihatan, seperti : Penempelan Poster, Pemasangan Gambar/Photo, Pemasangan Koran dinding, Pemutaran Film.

b. Metode Pendengaran. Dalam hal ini pesan diterima oleh sasaran melalui indera pendengar, umpamanya : Penyuluhan lewat radio, Pidato, Ceramah, dll

c. Metode “Kombinasi”. Dalam hal ini termasuk : Demonstrasi cara (dilihat, didengar, dicium,diraba dan dicoba). (Janupurwono, 2015)

7.3 Media Penyampaian pesan

a. Pengertian Media

Media pendidikan kesehatan atau promosi kesehatan adalah semua sarana atau upaya untuk menampilkan pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh komunikator. Kata media berasal dari bahasa latin “medius” yang berarti

tengah, perantara, atau pengantar. Secara harfiah dalam bahasa Arab, media berarti perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Media atau alat peraga dalam promosi kesehatan dapat diartika sebagai alat bantu promosi kesehatan yang dapat dilihat, didengar, diraba, dirasa atau dicium, untuk memperlancar komunikasi dan penyebarluasan informasi. Media promosi kesehatan adalah semua sarana atau upaya menampilkan pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh komunikator, baik melalui media cetak, elektronika, dan media luar ruang, sehingga pengetahuan sasaran dapat meningkat dan akhirnya dapat mengubah perilaku ke arah positif terhadap kesehatan (Soekidjo, 2010).

Media komunikasi menjadi point utama yang menarik perhatian setiap individu, khususnya dalam proses penyebaran informasi. Ada perbedaan antara media komunikasi yang digunakan oleh generasi digital saat ini dengan generasi zaman dahulu. Hal inipun menandakan adanya perbedaan dari media komunikasi yang digunakan oleh generasi tersebut (Dita P, 2018) Profesional komunikasi kesehatan hendak menyusun strategi promosi kesehatan atau penyuluhan tentang kesehatan hendaknya memahami dengan baik cara memilih media dalam komunikasi kesehatan agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai.(Ambar, 2018)

b. Tujuan Media Promosi

1. Media dapat mempermudah penyampaian informasi.

2. Media dapat menghindari kesalahan persepsi.

3. Media dapat memperjelas informasi.

4. Media dapat mempermudah pengertian.

5. Media dapat mengurangi komunikasi yang verbalistis.

6. Media dapat menampilkan objek yang tidak bisa ditangkap mata.

7. Media dapat memperlancar komunikasi c. Langkah-Langkah Penetapan Media

Langkah-langkah dalam merancang pengembangan media promosi kesehatan adalah sebagai berikut :

1. Menetapkan tujuan

Tujuan harus reliastis, jelas, dan dapat diukur (apa yang diukur, siapa sasaran yang akan diukur, seberapa banyak perubahan akan diukur, berapa lama dan di

mana pengukuran dilakukan). Penetapan tujuan merupakan dasar untuk merancang media promosi dan merancang evaluasi.

2. Menetapkan segmentasi sasaran

Segmentasi sasaran adalah suatu kegiatan memilih kelompok sasaran yang tepat dan dianggap sangat menentukan keberhasilan promosi kesehatan.

Tujuannya antara lain memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya, memberikan kepuasan pada masing-masing segmen, menentukan ketersediaan jumlah dan jangkauan produk, serta menghitung jenis dan penempatan media 3. Memposisikan pesan (positioning)

Memposisikan pesan adalah proses atau upaya menempatkan suatu prosuk perusahaan, individu atau apa saja ke dalam alam pikiran sasaran atau konsumennya. Positioning membentuk citra.

4. Menentukan strategi positioning

Identifikasi para pesaing, termasuk persepsi konsumen, menentukan posisi pesaing, menganalisis preferensi khalayak sasaran, menentukan posisi merek produk sendiri, serta mengikuti perkembangan posisi.

5. Memilih media promosi Kesehatan

Pemilihan media didasarkan pada selera khalayak sasaran. Media yang dipilih harus memberikan dampak yang luas. Setiap media akan memberikan peranan yang berbeda. Penggunaan beberapa media secara seremak dan terpadu akan meningkatkan cakupan, frekuensi, dan efektivitas pesan.

d. Penggolongan Media Kesehatan

Media dapat digolongkan menjadi dua, berdasarkan bentuk umum penggunaan dan berdasarkan cara produksi.

1. Berdasarkan bentuk umum penggunaan.

a. Bahan bacaan : modul, buku rujukan/bacaan, leaflet majalah, buletin, tabloid, dan lain-lain.

b. Bahan peragaan : poster tunggal, poster seri, flip chart, transparansi, slide, film, dan lain-lain.

2. Berdasarkan cara produksi

a. Media cetak

Media cetak yaitu suatu media statis dan mengutamakan pesan-pesan visual.

Pada umumnya terdiri atas gambaran sejumlah kata, gambar, atau foto dalam tata warna. Contohnya poster, leaflet, brosur, majalah, surat kabar, lembar balik, stiker, dan pamflet. Fungsi utamanya adalah memberi informasi dan menghibur. Kelebihan yang dimiliki media cetak antara lain tahan lama, mencakup banyak orang, biaya tidak terlalu tinggi, tidak perlu energi listrik, dapat dibawa, mempermudah pemahaman, dan meningkatkan gairah belajar.

Kelemahannya tidak dapat menstimulasi efek suara dan efek gerak serta mudah terlipat.

b. Media elektronik

Media elektronik yaitu suatu media bergerak, dinamis, dapat dilihat, didengar, dan dalam menyampaikan pesannya melalui alat bantu elektronika. Contohnya televisi, radio, film, kaset, CD, VCD, DVD, slide show, CD interaktif, dan lain-lain. Kelebihan media elektronik antara lain sudah dikenal masyarakat, melibatkan semua pancaindra, lebih mudah dipahami, lebih menarik karena ada suara dan gambar, adanya tatap muka, penyajian dapat dikendalikan, jangkauan relatif lebih besar/luas, serta dapat diulang-ulang jika digunakan sebagai alat diskusi. Kelemahannya yaitu biaya lebih tinggi, sedikit rumit, memerlukan energi listrik, diperlukan alat canggih dalam proses produksi, perlu persiapan matang, peralatan yang selalu berkembang dan berubah, perlu keterampilan penyimpanan, dan perlu keterampilan dalam pengoprasian c. Media luar ruang

Media luar ruang yaitu suatu media yang penyampaian pesannya di luar ruang secara umum melalui media cetak dan elektronik secara statis. Contohnya papan reklame, spanduk, pameran, banner, TV layar lebar, dan lain-lain.

Kelebihan media luar ruang di antaranya sebagai informasi umum dan hiburan, melibatkan semua pancaindra, lebih menarik karena ada suara dan gambar, adanya tatap muka, penyajian dapat dikendalikan, jangkauan relatif lebih luas. Kelemahannya yaitu biaya lebih tinggi, sedikit rumit, ada yang memerlukan listrik atau alat canggih, perlu kesiapan yang matang, peralatan yang selalu berkembang dan berubah, perlu keterampilan penyimpanan (Soekidjo, 2010).

d. Jenis / Macam Media

Alat-alat peraga dapat dibagi dalam empat kelompok besar : 1. Benda asli.

Benda asli adalah benda yang sesungguhnya, baik hidup maupun mati. Jenis ini merupakan alat peraga yang paling baik karena mudah dan cepat dikenal serta mempunyai bentuk atau ukuran yang tepat. Kelemahan alat peraga ini tidak selalu mudah dibawa kemana-mana sebagai alat bantu mengajar.

Termasuk dalam alat peraga, antara lain benda sesungguhnya (tinja dikebun, lalat di atas tinja, dan lain-lain), spesimen (benda yang telah diawetkan seperti cacing dalam botol pengawet, dan lain-lain), sampel (contoh benda sesungguhnya untuk diperdagangkan seperti oralit, dan lain-lain).

2. Benda tiruan

Benda tiruan memiliki ukuran yang berbeda dengan benda sesungguhnya.

Benda tiruan bisa digunakan sebagai media atau alat peraga dalam promosi kesehatan karena benda asli mungkin digunakan (misal, ukuran benda asli yang terlalu besar, terlalu berat, dan lain-lain). Benda tiruan dapat dibuat dari bermacam-macam bahan seperti tanah, kayu, semen, plastik, dan lain-lain.

3. Gambar atau media grafis

Grafis secara umum diartikan sebagai gambar. Media grafis adalah penyajian visual (menekankan persepsi indra penglihatan) dengan penyajian dua dimensi. Media grafis tidak termasuk media elektronik. Termasuk dalam media grafis antara lain, poster, leaflet, reklame, billboard, spanduk, gambar karikatur, lukisan, dan lain-lain ( Soekidjo, 2010).

Alat peraga digunakan secara kombinasi, misalnya menggunakan papan tulis dengan foto dan sebagainya. Tetapi dalam menggunakan alat peraga, baik secara kombinasi maupun tunggal, ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu alat peraga harus mudah dimengerti oleh masyarakat sasaran dan ide atau gagasan yang terkandung didalamnya harus dapat diterima oleh sasaran. Alat peraga yang digunakan secara baik memberikan keuntungan-keuntungan, antara lain :

1. Dapat menghindari kesalahan pengertian/pemahaman atau salah tafsir.

2. Dapat memperjelas apa yang diterangkan dan dapat lebih mudah ditangkap.

3. Apa yang diterangkan akan lebih lama diingat, terutama hal-hal yang mengesankan.

4. Dapat menarik serta memusatkan perhatian.

5. Dapat memberi dorongan yang kuat untuk melakukan apa yang dianjurkan (Anda Putri, 2012).

e. Pesan Dalam Media

Pesan adalah terjemahan dari tujuan komunikasi ke dalam ungkapan atau kata yang sesuai untuk sasaran. Pesan dalam suatu media harus efektif dan kreatif.

Oleh karena itu, pesan harus memenuhi hal-hal sebagai berikut : 1. Memfokuskan perhatian pada pesan (command attention)

Ide atau pesan pokok yang merefleksikan strategi desain suatu pesan dikembangkan. Bila terlalu banyak ide, hal tersebut akan membingungkan sasaran dan mereka akan mudah melupakan pesan tersebut.

2. Mengklarifikasi pesan (clarify the message)

Pesan haruslah mudah, sederhana dan jelas. Pesan yang efektif harus memberikan informasi yang relevan dan baru bagi sasaran. Kalau pesan dalam media diremehkan oleh sasaran, secara otomatis pesan tersebut gagal.

3. Menciptakan kepercayaan (Create trust)

Pesan harus dapat dipercaya, tidak bohong, dan terjangkau. Misalnya, masyarakat percaya cuci tangan pakai sabun dapat mencegah penyakit diare dan untuk itu harus dibarengi bahwa harga sabun terjangkau atau mudah didapat di dekat tempat tinggalnya.

Dalam dokumen Buku Ilmu Kesehatan Masyarakat (Halaman 110-116)