Bab 7 Penyampaian Pesan Kesehatan: Metode dan Media
7.3 Media Penyampaian pesan
Dalam hal ini para penyuluh berhubungan secara langsung maupun tidak langsung dengan sasaran secara perorangan, antara lain : kunjungan rumah hubungan telepon, dan lain-lain
b. Pendekatan Kelompok
Dalam pendekatan ini petugas promosi berhubungan dengan sekelompok sasaran. Beberapa metode penyuluhan yang masuk dalam ketegori ini antara lain : Pertemuan, Demostrasi, Diskusi kelompok, Pertemuan FGD, dan lain- lain
c. Pendekatan Masal
Petugas promosi kesehatan menyampaikan pesannya secara sekaligus kepada sasara yang jumlahnya banyak. Beberapa metode yang masuk dalam golongan ini adalah: Pertemuan umum, pertunjukan kesenian, Penyebaran tulisan/poster/media cetak lainnya, Pemutaran film, dan lain-lain.
3. Berdasarkan Indera Penerima
a. Metode Melihat/Memperhatikan. Dalam hal ini pesan diterima sasaran melalui indera penglihatan, seperti : Penempelan Poster, Pemasangan Gambar/Photo, Pemasangan Koran dinding, Pemutaran Film.
b. Metode Pendengaran. Dalam hal ini pesan diterima oleh sasaran melalui indera pendengar, umpamanya : Penyuluhan lewat radio, Pidato, Ceramah, dll
c. Metode “Kombinasi”. Dalam hal ini termasuk : Demonstrasi cara (dilihat, didengar, dicium,diraba dan dicoba). (Janupurwono, 2015)
tengah, perantara, atau pengantar. Secara harfiah dalam bahasa Arab, media berarti perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Media atau alat peraga dalam promosi kesehatan dapat diartika sebagai alat bantu promosi kesehatan yang dapat dilihat, didengar, diraba, dirasa atau dicium, untuk memperlancar komunikasi dan penyebarluasan informasi. Media promosi kesehatan adalah semua sarana atau upaya menampilkan pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh komunikator, baik melalui media cetak, elektronika, dan media luar ruang, sehingga pengetahuan sasaran dapat meningkat dan akhirnya dapat mengubah perilaku ke arah positif terhadap kesehatan (Soekidjo, 2010).
Media komunikasi menjadi point utama yang menarik perhatian setiap individu, khususnya dalam proses penyebaran informasi. Ada perbedaan antara media komunikasi yang digunakan oleh generasi digital saat ini dengan generasi zaman dahulu. Hal inipun menandakan adanya perbedaan dari media komunikasi yang digunakan oleh generasi tersebut (Dita P, 2018) Profesional komunikasi kesehatan hendak menyusun strategi promosi kesehatan atau penyuluhan tentang kesehatan hendaknya memahami dengan baik cara memilih media dalam komunikasi kesehatan agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai.(Ambar, 2018)
b. Tujuan Media Promosi
1. Media dapat mempermudah penyampaian informasi.
2. Media dapat menghindari kesalahan persepsi.
3. Media dapat memperjelas informasi.
4. Media dapat mempermudah pengertian.
5. Media dapat mengurangi komunikasi yang verbalistis.
6. Media dapat menampilkan objek yang tidak bisa ditangkap mata.
7. Media dapat memperlancar komunikasi c. Langkah-Langkah Penetapan Media
Langkah-langkah dalam merancang pengembangan media promosi kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Menetapkan tujuan
Tujuan harus reliastis, jelas, dan dapat diukur (apa yang diukur, siapa sasaran yang akan diukur, seberapa banyak perubahan akan diukur, berapa lama dan di
mana pengukuran dilakukan). Penetapan tujuan merupakan dasar untuk merancang media promosi dan merancang evaluasi.
2. Menetapkan segmentasi sasaran
Segmentasi sasaran adalah suatu kegiatan memilih kelompok sasaran yang tepat dan dianggap sangat menentukan keberhasilan promosi kesehatan.
Tujuannya antara lain memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya, memberikan kepuasan pada masing-masing segmen, menentukan ketersediaan jumlah dan jangkauan produk, serta menghitung jenis dan penempatan media 3. Memposisikan pesan (positioning)
Memposisikan pesan adalah proses atau upaya menempatkan suatu prosuk perusahaan, individu atau apa saja ke dalam alam pikiran sasaran atau konsumennya. Positioning membentuk citra.
4. Menentukan strategi positioning
Identifikasi para pesaing, termasuk persepsi konsumen, menentukan posisi pesaing, menganalisis preferensi khalayak sasaran, menentukan posisi merek produk sendiri, serta mengikuti perkembangan posisi.
5. Memilih media promosi Kesehatan
Pemilihan media didasarkan pada selera khalayak sasaran. Media yang dipilih harus memberikan dampak yang luas. Setiap media akan memberikan peranan yang berbeda. Penggunaan beberapa media secara seremak dan terpadu akan meningkatkan cakupan, frekuensi, dan efektivitas pesan.
d. Penggolongan Media Kesehatan
Media dapat digolongkan menjadi dua, berdasarkan bentuk umum penggunaan dan berdasarkan cara produksi.
1. Berdasarkan bentuk umum penggunaan.
a. Bahan bacaan : modul, buku rujukan/bacaan, leaflet majalah, buletin, tabloid, dan lain-lain.
b. Bahan peragaan : poster tunggal, poster seri, flip chart, transparansi, slide, film, dan lain-lain.
2. Berdasarkan cara produksi
a. Media cetak
Media cetak yaitu suatu media statis dan mengutamakan pesan-pesan visual.
Pada umumnya terdiri atas gambaran sejumlah kata, gambar, atau foto dalam tata warna. Contohnya poster, leaflet, brosur, majalah, surat kabar, lembar balik, stiker, dan pamflet. Fungsi utamanya adalah memberi informasi dan menghibur. Kelebihan yang dimiliki media cetak antara lain tahan lama, mencakup banyak orang, biaya tidak terlalu tinggi, tidak perlu energi listrik, dapat dibawa, mempermudah pemahaman, dan meningkatkan gairah belajar.
Kelemahannya tidak dapat menstimulasi efek suara dan efek gerak serta mudah terlipat.
b. Media elektronik
Media elektronik yaitu suatu media bergerak, dinamis, dapat dilihat, didengar, dan dalam menyampaikan pesannya melalui alat bantu elektronika. Contohnya televisi, radio, film, kaset, CD, VCD, DVD, slide show, CD interaktif, dan lain-lain. Kelebihan media elektronik antara lain sudah dikenal masyarakat, melibatkan semua pancaindra, lebih mudah dipahami, lebih menarik karena ada suara dan gambar, adanya tatap muka, penyajian dapat dikendalikan, jangkauan relatif lebih besar/luas, serta dapat diulang-ulang jika digunakan sebagai alat diskusi. Kelemahannya yaitu biaya lebih tinggi, sedikit rumit, memerlukan energi listrik, diperlukan alat canggih dalam proses produksi, perlu persiapan matang, peralatan yang selalu berkembang dan berubah, perlu keterampilan penyimpanan, dan perlu keterampilan dalam pengoprasian c. Media luar ruang
Media luar ruang yaitu suatu media yang penyampaian pesannya di luar ruang secara umum melalui media cetak dan elektronik secara statis. Contohnya papan reklame, spanduk, pameran, banner, TV layar lebar, dan lain-lain.
Kelebihan media luar ruang di antaranya sebagai informasi umum dan hiburan, melibatkan semua pancaindra, lebih menarik karena ada suara dan gambar, adanya tatap muka, penyajian dapat dikendalikan, jangkauan relatif lebih luas. Kelemahannya yaitu biaya lebih tinggi, sedikit rumit, ada yang memerlukan listrik atau alat canggih, perlu kesiapan yang matang, peralatan yang selalu berkembang dan berubah, perlu keterampilan penyimpanan (Soekidjo, 2010).
d. Jenis / Macam Media
Alat-alat peraga dapat dibagi dalam empat kelompok besar : 1. Benda asli.
Benda asli adalah benda yang sesungguhnya, baik hidup maupun mati. Jenis ini merupakan alat peraga yang paling baik karena mudah dan cepat dikenal serta mempunyai bentuk atau ukuran yang tepat. Kelemahan alat peraga ini tidak selalu mudah dibawa kemana-mana sebagai alat bantu mengajar.
Termasuk dalam alat peraga, antara lain benda sesungguhnya (tinja dikebun, lalat di atas tinja, dan lain-lain), spesimen (benda yang telah diawetkan seperti cacing dalam botol pengawet, dan lain-lain), sampel (contoh benda sesungguhnya untuk diperdagangkan seperti oralit, dan lain-lain).
2. Benda tiruan
Benda tiruan memiliki ukuran yang berbeda dengan benda sesungguhnya.
Benda tiruan bisa digunakan sebagai media atau alat peraga dalam promosi kesehatan karena benda asli mungkin digunakan (misal, ukuran benda asli yang terlalu besar, terlalu berat, dan lain-lain). Benda tiruan dapat dibuat dari bermacam-macam bahan seperti tanah, kayu, semen, plastik, dan lain-lain.
3. Gambar atau media grafis
Grafis secara umum diartikan sebagai gambar. Media grafis adalah penyajian visual (menekankan persepsi indra penglihatan) dengan penyajian dua dimensi. Media grafis tidak termasuk media elektronik. Termasuk dalam media grafis antara lain, poster, leaflet, reklame, billboard, spanduk, gambar karikatur, lukisan, dan lain-lain ( Soekidjo, 2010).
Alat peraga digunakan secara kombinasi, misalnya menggunakan papan tulis dengan foto dan sebagainya. Tetapi dalam menggunakan alat peraga, baik secara kombinasi maupun tunggal, ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu alat peraga harus mudah dimengerti oleh masyarakat sasaran dan ide atau gagasan yang terkandung didalamnya harus dapat diterima oleh sasaran. Alat peraga yang digunakan secara baik memberikan keuntungan-keuntungan, antara lain :
1. Dapat menghindari kesalahan pengertian/pemahaman atau salah tafsir.
2. Dapat memperjelas apa yang diterangkan dan dapat lebih mudah ditangkap.
3. Apa yang diterangkan akan lebih lama diingat, terutama hal-hal yang mengesankan.
4. Dapat menarik serta memusatkan perhatian.
5. Dapat memberi dorongan yang kuat untuk melakukan apa yang dianjurkan (Anda Putri, 2012).
e. Pesan Dalam Media
Pesan adalah terjemahan dari tujuan komunikasi ke dalam ungkapan atau kata yang sesuai untuk sasaran. Pesan dalam suatu media harus efektif dan kreatif.
Oleh karena itu, pesan harus memenuhi hal-hal sebagai berikut : 1. Memfokuskan perhatian pada pesan (command attention)
Ide atau pesan pokok yang merefleksikan strategi desain suatu pesan dikembangkan. Bila terlalu banyak ide, hal tersebut akan membingungkan sasaran dan mereka akan mudah melupakan pesan tersebut.
2. Mengklarifikasi pesan (clarify the message)
Pesan haruslah mudah, sederhana dan jelas. Pesan yang efektif harus memberikan informasi yang relevan dan baru bagi sasaran. Kalau pesan dalam media diremehkan oleh sasaran, secara otomatis pesan tersebut gagal.
3. Menciptakan kepercayaan (Create trust)
Pesan harus dapat dipercaya, tidak bohong, dan terjangkau. Misalnya, masyarakat percaya cuci tangan pakai sabun dapat mencegah penyakit diare dan untuk itu harus dibarengi bahwa harga sabun terjangkau atau mudah didapat di dekat tempat tinggalnya.
4. Mengomunikasikan keuntungan (communicate a benefit)
Hasil pesan diharapkan akan memberikan keuntungan. Misalnya sasaran termotivasi membuat jamban karena mereka akan memperoleh keuntungan di mana anaknya tidak akan terkena penyakit diare.
5. Memastikan konsistensi (consistency)
Pesan harus konsisten, artinya bahwa makna pesan akan tetap sama walaupun disampaikan melalui media yang berbeda secara berulang; misal di poster, stiker, dan lain-lain.
6. Cater to heart and head
Pesan dalam suatu media harus bisa menyentuh akal dan rasa. Komunikasi yang efektif tidak hanya sekadar memberi alasan teknis semata, tetapi juga harus menyentuh nilai-nilai emosi dan membangkitkan kebutuhan nyata.
7. Call to action
Pesan dalam suatu media harus dapat mendorong sasaran untuk bertindak sesuatu bisa dalam bentuk motivasi ke arah suatu tujuan. Contohnya, “Ayo, buang air besar di jamban agar anak tetap sehat” (Gomawoyo,2012).
Bab 8
Faktor-faktor yang
Memengaruhi Kesehatan
8.1 Pendahuluan
Status kesehatan seseorang merupakan faktor utama dan sangat menentukan dalam menilai kualitas hidup, dalam hal ini diartikan sebagai kesehatan pribadi. Perhatian terhadap kesehatan diri adalah utama, karena sangat memengaruhi seluruh aktivitas keseharian kita, apakah dapat berjalan sesuai rencana atau ternyata harus ditunda akibat kondisi fisik melemah. Kondisi fisik yang tidak stabil banyak dipengaruhi karena terjadi proses kemunduran fungsi tubuh dari keadaan normal menjadi lebih buruk atau dikenal dengan istilah penyakit degeneratif. Jenis penyakit degeneratif sangat bervariasi yang umumnya timbul seiring dengan proses penuaan seseorang (Marnah. Husaini dan Bahrul, 2016)
Kondisi tubuh menua tidak dapat dihindari, namun timbulnya penyakit degeneratif dapat dihindari atau diminimalkan, tergantung fisik dan status gizi yang diperoleh dari asupan makanan harian kita yang seimbang dan menu yang berkualitas. Merujuk pada definisi sehat menurut WHO, menyatakan bahwa ada tiga kondisi yang harus diraih untuk mendapatkan status sehat, kondisi tersebut adalah seseorang berada dalam keadaan sejahtera jasmani,
rohani dan sosial ekonomi, ketiganya saling memengaruhi satu terhadap yang lain. Sehat jasmani atau fisik tidak berarti sehat jiwa dan sebaliknya, sehingga untuk mendapatkan kedua hal tersebut, maka jembatannya adalah dukungan kesejahteraan sosial dan ekonomi (Kurniasih et al., 2010)
Menurut Kusumawati, (2019), seseorang pada kondisi tertentu membutuhkan terapi khusus yang disebut medical tourism. Jenis pemeriksaan kesehan ini dibutuhkan untuk menciptakan kondisi keseimbangan emosi untuk menjaga performa dan keinginan menuju pada suatu keadaan yang lebih baik.
Keseimbangan emosi sangat penting dan ada pada setiap individu. Emosi tidak selalu dipandang sesuatu keadaan yang negatif karena dianggap dalam keadaan tidak stabil dan tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya. Dalam keseharian kita, mengenal emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif timbul ketika kita mengejar dan berusaha untuk meraih impian atau keinginan sedangkan emosi negatif muncul saat seseorang tidak puas dengan suatu hasil atau suatu keadaan di mana kita merasa tidak puas pada suatu kondisi baik yang berhubungan dengan suatu objek disekitar maupun kaitannya dengan orang lain atau lingkungan.
Seringkali kita membandingkan antara satu orang dengan orang lain dalam hal kondisi kesehatan dan gejala penyakit degeneratif yang tampak. Si A misalnya dengan usia 78 tahun, namun kondisi fisik tetap bugar, tanda-tanda adanya penyakit degeneratif seolah tidak terlihat. Si A dapat membaca korang dengan tanpa menggunakan alat bantu kacamata, gigi berderet putih nyaris tanpa ada yang copot, kalimat-kalimat yang dilontarkan senantiasa terarah dan hebatnya lagi Si A senantiasa dalam kondisi fit. Ketika kita membandingkan dengan diri kita sendiri yang dalam usia 40 tahunan misalnya, kadang kita terasuki rasa cemburu terhadap Si A, betapa tidak karena kita merasakan kondisi dan kualitas penglihatan kita menurun masif, gigi sering terasa ngilu, daya ingat melemah dan pelupa, pendek kata gejala penyakit degeneratif mulai bermunculan. Hampir semua keluhan ini disebabkan karena tidak hadirnya keseimbangan emosi dalam diri kita yang masif memengaruhi jasmani kita yang mungkin saja disebabkan karena kita gagal dalam menciptakan kondisi sosial dan ekonomi dalam kehidupan kita (Suwita, dkk, 2019).
Menjalankan manajemen perilaku hidup yang baik merupakan jembatan untuk meraih segitiga sehat sebagaimana rekomendasi WHO, yakni sehat jasmani, rohani dan sosial ekonomi, ketiganya harus dijalankan paralel dan memiliki pola yang jelas dan teratur. (Siregar and Novalia, 2013) menyatakan bahwa mewujudkan tiga faktor utama meraih sehat adalah sedapat mungkin hindari rasa cemas yang berlebihan dalam menatap masa depan kehidupan kita.
Biarkan hidup ini mengalir bebas yang didasari pada keseimbangan dan keterjagaan emosi, menyandarkan hidup dan intervensi pada kekuatan gaib Sang Khalik serta jangan pernah timbul rasa benci terhadap sesama dan juga terhadap lingkungan sekitar.
8.2 Faktor Degeneratif
Beberapa definisi tentang penyakit degeneratif di antaranya oleh Handajani, R.
and Maryani, (2012), menyatakan bahwa penyakit degeneratif adalah suatu kondisi seseorang yang terjadi akibat memburuknya suatu jaringan atau organ seiring dengan waktu, di mana gangguan kesehatan ini dapat memengaruhi sistem saraf pusat, otak dan sumsum tulang belakang. Problematika penyakit degeneratif dipengaruhi oleh beberapa faktor selain usia juga karena gaya hidup, sehingga saat ini masalah degeneratif tidak lagi selalu identik dengan mereka yang berusia tua tetapi juga mereka yang masih mudah dan tingkat prevalensinya cukup tinggi, sehingga perlu pengetahuan dan wawasan kita terkait dengan penyakit (Widyaningsih and Isfaizah, 2013).
Prevalensi penyakit degeneratif cenderung meningkat dari tahun ke tahun dalam dua sampai tiga dasawarsa terakhir, terutama terjadi di negara-negara maju dan sebagian negara berkembang. Angka kematian akibat penyakit degeneratif juga cenderung meningkat dengan prevalensi 800 ribu (80 %) per 1 juta kematian yang disebabkan oleh berbagai jenis penyakit kategori penyakit degeneratif. Hal menarik yang dicermati dari data ini adalah pada aspek demografi di mana kasus penyakit jenis ini umumnya terjadi di negara modern dan maju yang diduga kuat akibat gaya hidup yang tidak sehat (Handajani R. and Maryani, 2012)
Di era globalisasi saat ini dengan gaya hidup modern banyak memengaruhi kebiasaan keseharian kita yang sebelumnya sistem komunikasi lebih banyak pada offline ke online diduga kuat berkontribusi pada terjadinya percepatan perubahan organ dan fungsi organ tubuh dan dengan masif berpengaruh pada pola pergerakan atau aktivitas fisik seseorang. Kemunculan penyakit degeneratif tidak terlepas karena perubahan gaya hidup yang cenderung mengabaikan istirahat atau pola istirahat yang tidak dilakukan dengan proses tidur yang cukup, nutrisi tidak seimbang, beban kerja, dan kebutuhan hidup yang menyebabkan terjadinya stres dan gangguan psikologis, di mana gangguan ini memengaruhi fungsi dan kinerja organ-organ tubuh khususnya yang bertanggungjawab pada proses metabolisme. Hal ini yang memicu
timbulnya masalah-masalah kesehatan kaitannya dengan degeneratif yang menyasar kalangan muda yang sebelumnya penyakit ini familiar dengan usia tua (Obella and Adliyani, 2015).
Banyak di antara kita bertanya kaitannya dengan penyakit degeneratif seperti faktor penyebab, jenis degeneratif, metode pengobatan dan penyembuhannya, tingkat kesembuhan, apakah dapat diatasi secara mandiri dengan model swamedikasi atau pengobatan tradisional, termasuk kaitannya dengan potensi pemanfaatan bahan alam dan sebagainya. Perlu dipahami bahwa penyakit degeneratif merupakan penyakit kronis, sehingga dapat diprediksi metode pengobatannya umumnya tidak singkat dan juga terdapat banyak pilihan- pilihan tindakan medis yang dapat dilakukan oleh para ahlinya.
Merujuk pada definisi degeneratif di mana perubahan fungsi organ tubuh sebagai kata kunci, maka dapat dibanyangkan bahwa penyakit banyak beririsan dengan metabolisme tubuh, sehingga jika dirunut lebih jauh berarti problemnya juga pada masalah pola makan atau keseimbangan nutrisi tubuh.
Masalah metabolisme kaitannya dengan pelemahan kondisi tubuh tentu berkaitan dengan pembelahan sel yang apabila ditelusuri lebih jauh, maka memaksa kita untuk masuk dalam pembahasan tentang gaya hidup, keseimbangan nutrisi, pola makan, olahraga, pola istirahat, sistem kerja, sehingga kembali kita akan berkutak seputar jasmani, rohani dan kesejahteraan sosial-ekonomi sebagaimana rekomendasi WHO tentang definisi sehat.
Seiring dengan perkembangan pengetahuan, jenis aktivitas keseharian kita dalam hampir satu dekade terakhir dan juga temuan-temuan baru metode pengobatan, maka pencegahan dini penyakit degeneratif dapat dilakukan dengan menerapkan manajemen gaya hidup sebagai salah satu faktor penentu menghindari dan mencegah masalah penyakit degeneratif (Sutikno, 2015).
Sekelumit permasalahan tentang penyakit degeneratif yang sulit di lakukan penelusuran ke belakang, maka wawasan atas kesehatan individu menjadi kebutuhan dasar, penataan pola hidup yang baik, berinteraksi yang wajar dengan sesama makhluk hidup lainnya termasuk terhadap lingkungan, menghindari stres, menghadirkan keseimbangan emosi adalah hal-hal yang direkomendasikan untuk diterapkan pada diri kita sejak dini.
8.3 Faktor Gaya Hidup
Gaya hidup (life style) dikategorikan sebagai bagian dari kebutuhan sekunder manusia yang relatif mengalami perubahan bergantung tuntutan zaman, tren
hidup, atau keinginan manusia karena usaha untuk mengikuti dan memenuhi keinginan hidup. Pada dasarnya mengikuti tren dan perkembangan modern dengan gaya hidup tertentu tidak selamanya negatif. Gaya hidup dapat di bedakan dalam dua golongan, yakni gaya hidup positif atau gaya hidup sehat yang dapat dicapai dengan menanamkan kebiasaan dan disiplin diri pada hal- hal yang menunjang peningkatan derajat kesehatan dan gaya hidup negatif atau gaya hidup tidak sehat yang senantiasa berorientasi pada budaya yang kurang lazim untuk dilakukan pada umumnya. Gaya hidup sesungguhnya menyangkut segala aspek kehidupan manusia, namun yang akan dinarasikan dalam bahasan ini adalah gaya hidup sehat/tidak sehat dan faktor-faktor yang berkaitan. Gaya hidup berdasarkan usia seperti gaya hidup anak dan remaja, Gaya hidup usia produktif dan gaya hidup usila (Komariah and Budimansyah, 2015).
Dewasa ini gaya hidup remaja banyak mendapat sorotan para pengamat.
Remaja dengan gaya hidup menyimpang atau melanggar norma dengan pola hidup tidak sehat, melanggar norma sosial dan norma agama. Gaya hidup remaja dapat diartikan perilaku atau adaptasi aktif remaja terhadap kondisi sosial dalam rangka memenuhi kebutuhan untuk berasosiasi dan bersosialisasi dengan orang lain. Gaya hidup sesungguhnya adalah pola atau kebiasaan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang diekspresikan dalam bentuk aktivitas, minat dan bakatnya sesuai dengan pantasi dan opini yang dimiliki seseorang dan dipengaruhi oleh kondisi keluarga, sosial-ekonomi dan situasi dalam lingkungan (Listyorini, 2012).
Perubahan lingkungan yang dinamis dan bervariasi, memicu peningkatan pemenuhan kebutuhan yang semakin berkualitas, volume besar, jenis dan sangat variatif, namun seringkali kebutuhan tersebut disadari atau tidak berpotensi masif menyimpang dari kondisi sehat (Manajemen et al., 2016).
Gaya hidup seseorang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang melekat pada diri, misalnya pola pertumbuhan dan perkembangan sejak masa dalam kandungan, bayi, balita, anak-anak, remaja hingga masuk masa dewasa dan akhirnya tua. Pola sikap atau perilaku, seperti pola makan, pola kerja, pola istirahat, pola pikir, olahraga dan sikap spiritual diri. Pola hidup atas pengaruh eksternal adalah kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan bukan karena kemauan diri pribadi, misalnya tempat tinggal, tempat kerja, interaksi sosial dan pergaulan serta rekreasi. Hal-hal tersebut di atas merupakan sejumlah faktor yang berkontribusi dan berpengaruh pada kesehatan.
8.3.1 Pengaruh Internal
Kesehatan pribadi merupakan bagian dari faktor internal kesehatan seseorang.
Beberapa aspek yang berkaitan dengan kesehatan pribadi di antaranya: (1) memastikan konsumsi air yang bersih, bebas dari segala jenis paparan dan kontaminan berbahaya seperti bakteri, logam berat, PAH. Artinya bahwa konsumsi air harus memenuhi syarat sebagai air bersih yang layak minum, (2) Pastikan makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari berasal dari sumber yang baik dan diproses dengan tingkat higienitas tinggi, (3) Pola istirahat yang tepat dengan tidur pada waktu yang tepat dan baik di malam hari minimal 7 jam dalam sehari, (4) Menjaga agar diri senantiasa dalam kondisi emosi yang stabil. Emosi berkaitan dengan produksi hormon tubuh, sehingga diperlukan aktivitas dan berekspresi secara wajar, (5) Memastikan udara yang dihirup setiap hari adalah udara yang bersih dan bebas dari polusi, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas udara yang kita hirup hampir pasti terkontaminasi dengan polutan yang disebabkan oleh asap kendaraan bermotor khususnya kita yang tinggal di perkotaan, (6) Melakukan aktivitas fisik yang mengeluarkan kalori dan memastikan bahwa sirkulasi kalori yang masuk seimbang dengan kalori yang keluar setiap harinya. Aktivitas fisik yang mengeluarkan kalori dengan mempertimbangkan umur, jenis kelamin, jenis aktivitas, lama bekerja, olahraga dan aktivitas lainnya (Kurniasih et al., 2010).
Usia seseorang berpengaruh besar pada pola hidup yang tampak dalam pergaulan sehari-hari. Usia anak-anak, remaja, dewasa dan tua memiliki dunianya sendiri dalam berinteraksi dan pergaulan baik terhadap orang lain, objek tertentu disekitarnya maupun terhadap lingkungan. Pengetahuan, wawasan, tingkat pendidikan, keinginan/cita-cita serta pantasi seseorang akan melahirkan opini yang beragam terhadap sesuai yang mewarnai kehidupannya.
Pantasi spiritual dan kondisi psikologis seseorang juga berkontribusi signifikan dalam pola sikap dan tindakan seseorang. Faktor ini menarik untuk dikaji lebih dalam karena dapat mengubah 180 derajat perilaku seseorang.
Status sosial dan kehidupan ekonomi seseorang memiliki peran besar terhadap kondisi kesehatan fisik dan mental. Kehidupan sosial seseorang seringkali menjadi pembatas dalam berinteraksi, sehingga terdapat banyak hal yang telah direncanakan luput diwujudkan, efeknya seseorang merasa tertekan, minder, rendah diri, sedih dan pengaruh psikologi lainnya, kondisi ini secara masif memengaruhi kesehatan baik langsung maupun tidak langsung (Siregar and Novalia, 2013). Status ekonomi seseorang atau keluarga tidak dapat diabakan dan sangat menentukan sebagai salah satu faktor yang memengaruhi