4.2. MORTALITAS
4.2.1. Angka Kematian Bayi (AKB)
salah satu penyebabnya adalah karena meningkatnya kualitas hidup dan kesehatan masyarakat. Angka AHH di Kabupaten Bogor selama periode 2014-2018 dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut :
TABEL. 4.1
ANGKA HARAPAN HIDUP BERDASARKAN PROYEKSI DI KABUPATEN BOGOR
TAHUN 2015 – 2019
TAHUN ANGKA HARAPAN HIDUP (TH) SUMBER
2015 70,59 BPS
2016 70,65 BPS
2017 70,70 BPS
2018 70,96 BPS
2019 71,01 BPS
70,3 70,4 70,5 70,6 70,7 70,8 70,9 71 71,1
2015 2016 2017 2018 2019
Grafik 4.1
Grafik Angka Harapan Hidup Kabupaten Bogor Tahun 2015 - 2019
AHH
Peningkatan AHH dari tahun ke tahun dapat dipakai sebagai tolok ukur keberhasilan upaya kesehatan yang telah di lakukan di Kabupaten Bogor, jika dibandingkan dengan Angka Harapan Hidup Indonesia tahun 2018 sebesar 71,20 (BPS Pusat, 2018) dan AHH Jawa Barat sebesar 72,66 (BPS Pusat, 2018) maka AHH di Kabupaten Bogor untuk tahun 2019 sebesar 71,01 masih dibawah Provinsi Jawa Barat.
Meskipun masih di bawah target, diupayakan kegiatan-kegiatan yang merupakan upaya terobosan dibidang kesehatan lainnya yang dapat meningkatkan Angka Harapan Hidup di Kabupaten Bogor masih harus dilaksanakan.
neonatal disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan kehamilan maka program-program untuk mengurangi angka kematian neonatal adalah yang bersangkutan dengan program pelayanan kesehatan Ibu hamil, misalnya program pemberian Fe dan suntikan anti tetanus.
Sedangkan Angka Kematian Post-Neonatal dan Angka Kematian Anak serta Kematian Balita dapat berguna untuk mengembangkan program imunisasi, serta program-program pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak, program penerangan tentang gizi dan pemberian makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun.
Target RPJMN untuk AKB pada tahun 2015 - 2019 sebesar 24 per 1000 kelahiran hidup. Berdasarkan data dari buku Profil Kesehatan Indonesia tahun 2015, hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 mengestimasikan AKB sebesar 32 per 1000 kelahiran hidup dan di tahun 2015 berdasarkan hasil Survey Penduduk Antar Sensus (SUPAS) mengestimasikan AKB sebesar 22,23 per 1000 kelahiran hidup. Data hasil SDKI tahun 2012 menunjukkan AKB di Provinsi Jawa Barat sebesar 30 per 1000 Kelahiran Hidup (profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat tahun 2016).
Angka Kematian Bayi di Kabupaten Bogor selama periode 5 tahun dapat dilihat pada tabel 4.2 sebagai berikut :
TABEL 4.2
ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP DI KABUPATEN BOGOR TAHUN 2015 – 2019
TAHUN AKB SUMBER
2015 41,82 BPS
2016 41,82 BPS
2017 41,82 BPS
2018 41,82 BPS
2019 41,82 BPS
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa AKB di Kabupaten Bogor dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 angka pencapaiannya tetap yaitu sebesar 41,82 per 1000 kelahiran hidup (BPS). Tahun 2019 belum ada data AKB terbaru dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Bogor sehingga masih menggunakan data tahun 2008. Apabila dibandingkan dengan AKB Provinsi, AKB di Kabupaten Bogor pada tahun 2018 masih lebih tinggi.
neonatal disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan kehamilan maka program-program untuk mengurangi angka kematian neonatal adalah yang bersangkutan dengan program pelayanan kesehatan Ibu hamil, misalnya program pemberian Fe dan suntikan anti tetanus.
Sedangkan Angka Kematian Post-Neonatal dan Angka Kematian Anak serta Kematian Balita dapat berguna untuk mengembangkan program imunisasi, serta program-program pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak, program penerangan tentang gizi dan pemberian makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun.
Target RPJMN untuk AKB pada tahun 2015 - 2019 sebesar 24 per 1000 kelahiran hidup. Berdasarkan data dari buku Profil Kesehatan Indonesia tahun 2015, hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 mengestimasikan AKB sebesar 32 per 1000 kelahiran hidup dan di tahun 2015 berdasarkan hasil Survey Penduduk Antar Sensus (SUPAS) mengestimasikan AKB sebesar 22,23 per 1000 kelahiran hidup. Data hasil SDKI tahun 2012 menunjukkan AKB di Provinsi Jawa Barat sebesar 30 per 1000 Kelahiran Hidup (profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat tahun 2016).
Angka Kematian Bayi di Kabupaten Bogor selama periode 5 tahun dapat dilihat pada tabel 4.2 sebagai berikut :
TABEL 4.2
ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP DI KABUPATEN BOGOR TAHUN 2015 – 2019
TAHUN AKB SUMBER
2015 41,82 BPS
2016 41,82 BPS
2017 41,82 BPS
2018 41,82 BPS
2019 41,82 BPS
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa AKB di Kabupaten Bogor dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 angka pencapaiannya tetap yaitu sebesar 41,82 per 1000 kelahiran hidup (BPS). Tahun 2019 belum ada data AKB terbaru dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Bogor sehingga masih menggunakan data tahun 2008. Apabila dibandingkan dengan AKB Provinsi, AKB di Kabupaten Bogor pada tahun 2018 masih lebih tinggi.
Perhitungan lain untuk mengetahui AKB bisa dilakukan secara matematis, hal ini sesuai dengan rumus AKB. Perhitungan AKB secara matematis ini merupakan perhitungan AKB kasar yaitu jumlah kematian bayi yang dilaporkan puskesmas ditambah dengan jumlah kematian bayi di rumah sakit di Kabupaten Bogor dan digunakan sebagai perbandingan kinerja tahunan program KIA. Kelemahan AKB matematis ini tidak menggambarkan kematian murni di Kabupaten Bogor karena bayi yang meninggal di rumah sakit di Kabupaten Bogor tidak semuanya penduduk asli Kabupaten Bogor.
Kelemahan lain adalah sebagian yang terlaporkan dari puskesmas kemungkinan sudah tercatat dalam laporan kematian di rumah sakit. Hasil perhitungan AKB secara matematis dapat dilihat pada grafik di bawah ini.
GRAFIK 4.2
ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP DI KABUPATEN BOGOR TAHUN 2015 – 2019 (MATEMATIS)
5,40
5,01
5,20
5,58 5,62
5 5 5 5 5 5 5 5 6 6 6
2015 2016 2017 2018 2019
AKB (KAB. BOGOR)
Berdasarkan grafik 4.2 diatas di ketahui berdasarkan perhitungan secara matematis AKB di Kabupaten Bogor dari tahun 2015 – 2016 turun dari 5,40 per 1000 KH menjadi 5,01 per 1000 KH, kemudian tahun 2017 meningkat menjadi 5,20 sampai dengan tahun 2019 meningkat menjadi sebesar 5,62. Walaupun berbeda secara metologi dengan perhitungan survei / BPS, hasil AKB perhitungan matematis masih bisa digunakan untuk melihat capaian kinerja / evaluasi tahunan program KIA.
GRAFIK 4.3
JUMLAH KEMATIAN BAYI PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP DI KABUPATEN BOGOR TAHUN 2015 – 2019
199
142
105 109 104
0 50 100 150 200 250
2015 2016 2017 2018 2019
Data kematian bayi di Kabupaten Bogor berdasarkan laporan puskesmas selama kurun waktu 5 tahun dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 dapat dilihat pada grafik 4.3 diatas. Tahun 2015 sampai dengan tahun 2017 jumlah kematian bayi terus mengalami penurunan dari 199 jiwa menjadi 105 jiwa, namun di tahun 2018 jumlah kematian bayi sedikit meningkat menjadi 109 jiwa dan kembali menurun menjadi 104 jiwa.
Angka kematian neonatal berdasarkan SDKI 2012 yaitu sebesar 19 per 1.000 kelahiran hidup, sedangkan target nasional (2014): 15 per 1.000 kelahiran hidup (RPJMN 2010 - 2014). Data kematian neonatal, bayi dan balita di Kabupaten Bogor tahun 2019 bersumber dari data dasar kesehatan anak yang tercatat dan dilaporkan oleh puskesmas yaitu jumlah lahir mati sebanyak 167 kasus, jumlah kematian neonatal umur (0-28 hari) sebanyak 91 kasus (neonatal 0-6 hari 83 kasus, neonatal 7-28 hari 8 kasus).
Seperti halnya dalam perhitungan matematis dan manfaatnya secara program pada perhitungan angka kematian bayi, maka pada perhitungan angka kematian neonatal (AKN) perhitungan matematis tersebut juga digunakan. Sehingga secara matematis jumlah kematian neonatal di bandingan dengan jumlah lahir hidup dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 trendnya menurun dari 1,36 kematian neonatal per
GRAFIK 4.3
JUMLAH KEMATIAN BAYI PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP DI KABUPATEN BOGOR TAHUN 2015 – 2019
199
142
105 109 104
0 50 100 150 200 250
2015 2016 2017 2018 2019
Data kematian bayi di Kabupaten Bogor berdasarkan laporan puskesmas selama kurun waktu 5 tahun dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 dapat dilihat pada grafik 4.3 diatas. Tahun 2015 sampai dengan tahun 2017 jumlah kematian bayi terus mengalami penurunan dari 199 jiwa menjadi 105 jiwa, namun di tahun 2018 jumlah kematian bayi sedikit meningkat menjadi 109 jiwa dan kembali menurun menjadi 104 jiwa.
Angka kematian neonatal berdasarkan SDKI 2012 yaitu sebesar 19 per 1.000 kelahiran hidup, sedangkan target nasional (2014): 15 per 1.000 kelahiran hidup (RPJMN 2010 - 2014). Data kematian neonatal, bayi dan balita di Kabupaten Bogor tahun 2019 bersumber dari data dasar kesehatan anak yang tercatat dan dilaporkan oleh puskesmas yaitu jumlah lahir mati sebanyak 167 kasus, jumlah kematian neonatal umur (0-28 hari) sebanyak 91 kasus (neonatal 0-6 hari 83 kasus, neonatal 7-28 hari 8 kasus).
Seperti halnya dalam perhitungan matematis dan manfaatnya secara program pada perhitungan angka kematian bayi, maka pada perhitungan angka kematian neonatal (AKN) perhitungan matematis tersebut juga digunakan. Sehingga secara matematis jumlah kematian neonatal di bandingan dengan jumlah lahir hidup dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 trendnya menurun dari 1,36 kematian neonatal per
1000 kelahiran hidup tahun 2015 menjadi 0,78 kematian neonatal per 1000 kelahiran hidup tahun 2019
. Hasil perhitungan AKN secara matematis dapat tergambar pada grafik 4.4 di bawah ini.
GRAFIK 4.4
ANGKA KEMATIAN NEONATAL PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP DI KABUPATEN BOGOR TAHUN 2015 – 2019 (MATEMATIS)
1,36
1,01
0,80 0,80 0,78
0 0 0 1 1 1 1 1 2
2015 2016 2017 2018 2019
NEO (KAB. BOGOR)
Data laporan puskesmas jumlah kematian bayi umur (29 hari - 11 bulan) sebanyak 13 kasus akibat penyakit lainnya. Selain itu jumlah kematian balita (12-59 bulan) sebanyak 6 kasus yang di sebabkan penyakit lain-lainnya. Jumlah kematian bayi umur 0 hari - < 1 tahun dari rumah sakit sebanyak 551 bayi.
Penyebab kematian bayi neonatal umur 0-28 hari berdasarkan laporan puskesmas disebabkan oleh Asphyxia sebanyak 24 bayi, BBLR sebanyak 47 bayi, Infeksi/Sepsis sebanyak 2 bayi, Kelainan Bawaan 13,Tetanus Neonatorum 2 dan kematian disebabkan hal lainnya sebanyak 3 bayi.
Data kematian bayi berdasarkan laporan rumah sakit di Kabupaten Bogor berjumlah 551 bayi. Data kematian bayi tersebut tidak mencerminkan kematian langsung di Kabupaten Bogor karena sebagian besar bukan penduduk Kabupaten Bogor. Setiap kematian bayi di rumah sakit di Kabupaten Bogor akan dilaporkan ke Dinas Kesehatan.